Chapter 49 – Blue Rose
Mawar biru yang berduri
Mekar dengan indah
Meski di tengah penderitaan
Layaknya ketidakmungkinan
.
Dragon Return Home Arc
.
~ Kuuto ~
.
~ Kastil Hiryuu ~
.
Setelah melaporkan apa yang terjadi di awal musim dingin lalu di daerahnya (tentu saja tanpa menyebutkan apa yang terjadi pada Leila), Soo Won memuji Kyo Ga atas penanganannya serta tindakannya yang cepat untuk informasi yang ia berikan pada mereka.
Setelah rapat berakhir, Joon Gi menoleh ke arah Tae Woo "Lily berpesan padaku, katanya dia menunggumu di tempat biasa".
"oh... terima kasih, Jenderal Joon Gi" angguk Tae Woo sambil mengelus lehernya sebelum ia menyadari tatapan mata Joo Doh, Soo Won, Keishuk serta Geun Tae yang menyeringai di balik punggungnya sehingga ia menoleh ke arah mereka "apa? kalau ada yang ingin anda sekalian katakan, katakan saja".
"ah, tidak... rasanya kalian berdua makin dekat?" ujar Soo Won tersenyum dan melambaikan tangan.
"kau tak keberatan jika putrimu diambil olehnya, Joon Gi?" tanya Geun Tae menautkan alis.
"...", Joon Gi menghela napas sebelum memalingkan wajah "ah, mungkin ini dilema seorang ayah... tak peduli betapa besar rasa sayangmu padanya, jika kau punya anak perempuan, suatu saat pada akhirnya dia akan diambil laki-laki lain".
"tolong jangan bicara dengan kesan seolah aku akan menculik atau membawa putrimu?!", Tae Woo berdecak pinggang sebelum menghela napas, bergumam dengan wajah tersipu "...tidak secepat ini jika aku saja belum tahu seperti apa perasaannya padaku".
"seharusnya kau sudah tahu apa yang ia rasakan padamu, kan? seperti apa perasaannya padamu dan apa yang ia pikirkan tentangmu, dia menganggapmu sebagai apa... bagaimana kau bisa berkata seperti itu tentang putriku sementara kalian berdua sudah melakukan 'hal itu' malam itu di Fuuga?" sahut Joon Gi tajam setelah mendengar gumaman Tae Woo.
"oh, sial!? Siapa yang memberitahunya...", Tae Woo bisa merasakan sorot mata yang terasa menusuk punggungnya dari belakang, tepatnya dari Jenderal lain sehingga ia berniat kabur dari tempat itu secepat mungkin tapi sayangnya Geun Tae menahannya.
Sama seperti yang pernah ia lakukan pada Soo Won, Geun Tae pun mendesaknya karena kata-kata Joon Gi yang bisa membuat siapapun salah paham "ayo, mengakulah, nak?! Apa yang kau lakukan dengan nona Lily!?".
"kami hanya berciuman?! Efek alkohol?! Lagipula Lily langsung kabur dari kamarku setelah kami berciuman?! Dia datang ke kamarku hanya untuk mengantarkan makan malamku?!" ujar Tae Woo membela diri dan merasa disudutkan.
"ayah, berhenti menggodanya, dan yang dikatakan Tae Woo itu benar... lagipula Tae Woo tak pernah sembarangan menjamah wanita, ia selalu berhati-hati seolah ada dinding di antara kami dan memperlakukanku dengan hati-hati, dia tak pernah bersikap kasar atau memaksaku apalagi menjamahku" sahut Lily yang muncul dari belakang Joon Gi, menjitak kepala Joon Gi sebelum mengerutkan kening "seperti katanya, hubungan kami saat ini hanya sampai ciuman".
"dari reaksinya yang polos saja ketahuan, ayah hanya ingin menggodanya sedikit" sahut Joon Gi terkekeh sebelum memunggungi mereka "ayah sedikit kesepian, karena sekarang kau selalu memikirkannya dan membicarakannya padaku dan ibumu... kurasa tinggal menunggu waktu saja sampai kau diambil olehnya, tapi ayah heran karena bisa-bisanya kalian berdua berciuman tapi kalian berdua masih mempertanyakan perasaan satu sama lain dan tak berani bertanya satu sama lain sehingga seolah kalian hanya main-main atau menyembunyikan perasaan satu sama lain sedangkan jelas-jelas kalian memiliki perasaan yang sama?".
Geun Tae terkekeh "playing hard-to-get, huh?".
"ayah?! jangan dibocorkan?!" pekik Lily dengan wajah memerah.
Tae Woo berdehem sebelum menutupi wajahnya yang tersipu merah "...bisa kita bicara?".
Lily mengangguk dengan wajah memerah "kita ke tempat biasa".
"seperti katamu, mereka berdua tinggal menunggu waktu saja... bukan begitu, bocah suku api?" ujar Geun Tae menepuk bahu Kyo Ga.
Kyo Ga terkejut dan menoleh ke arah Geun Tae "oh, maaf?! Apa yang anda katakan barusan, jenderal Geun Tae?".
Geun Tae menautkan alis "tak sepertimu saja, bengong begitu... apa yang kau pikirkan?".
Soo Won dan Joo Doh juga merasa bahwa selain saat bekerja seperti saat rapat, Kyo Ga sering melamunkan sesuatu seolah pikirannya kemana-mana, hatinya tak ada disini meski tubuhnya ada disini. Tak seperti Soo Won yang menanyakan kesehatannya atau Joo Doh yang curiga ini ada hubungannya dengan situasi di Kouka yang kembali memanas akibat berita tentang kaum nomaden dan sisa anggota kuil Sakura merah yang membentuk aliansi atau proyek rahasia yang kini tengah digarap mereka, Geun Tae justru menggoda Kyo Ga dengan mengatakan bahwa bisa jadi itu karena masalah pribadi seperti hubungannya dengan wanita.
"kalau tak salah, penari yang cantik dari Kekaisaran Kai yang membantu kita itu... Iris, kan?".
"kenapa tahu-tahu anda menyinggung Iris? Ini tak ada hubungannya dengannya" sahut Kyo Ga berhasil mengelak setelah Tae Jun datang menjemputnya karena kondisi kesehatan ibu mereka tak begitu baik dan mereka ingin mencari obat untuk ibu mereka di wilayah suku Air.
Soo Won mendoakan kesehatan ibu mereka saat Kyo Ga pamit bersama Tae Jun. Sebenarnya kondisi kesehatan ibu mereka memburuk setelah ia memulangkan Leila dan Kyo Ga tahu apa penyebabnya melamun akhir-akhir ini, seperti kata Geun Tae, ia tak bisa berhenti memikirkan Leila sejak apa yang terjadi malam itu.
Melihat Leila menangis di dekapannya, Kyo Ga memeluk dan mengecup keningnya "kenapa menangis? sakit?".
"sakit sekali... ditambah kita melakukannya saat kondisi tubuhku belum pulih benar, ini nekad namanya..." gerutu Leila menutupi dadanya dengan selimut.
"maaf, aku tak bermaksud menyakitimu. Mungkin harusnya aku menolak saat kau memintaku barusan?" ujar Kyo Ga merenggangkan pelukannya sebelum bertopang dagu.
Leila menggelengkan kepala dan menggenggam lengan Kyo Ga "bukan itu yang membuatku menangis, hanya saja aku merasa... ada sesuatu yang lepas dariku malam ini, entah apa dan itu membuatku merasa merindukan sesuatu... sesuatu yang kosong dalam diriku selama ini terasa terpenuhi, itu sebabnya aku menangis".
Sekali kau merasakan tubuh wanita, kau akan merasakan sensasi yang berbeda terutama jika kau berada di dekat wanita itu. Kyo Ga ingat betul ucapan ayahnya, Kyo Ga yang dulu bukan pria yang nekad berbuat begitu pada wanita yang belum ia nikahi. Ia memang sudah melamar Leila meski Leila menolaknya, tapi entah apa yang merasukinya malam itu, ia tak sepantasnya menjamah Leila tanpa menikahinya terlebih dahulu tapi melihat sosok Leila yang begitu indah malam itu layaknya bunga yang mekar dan terang benderang di tengah kegelapan, merasakan kehangatan tubuhnya yang sempat ia kira takkan bisa ia rasakan lagi, membuatnya tak tahan dan ia tak bisa menolak untuk tidak memeluknya malam itu. Ia merasa ibunya atau kakak Leila pasti akan berusaha membunuhnya jika mereka tahu apa yang telah ia lakukan pada Leila.
Kyo Ga menghela napas panjang sebelum akhirnya ia menatap langit biru di malam hari serta dinginnya angin yang bertiup malam ini mengingatkannya pada Leila malam itu "Leila... harus kusebut sebagai apa... getaran dan rasa kesepian dalam hatiku ini? apa ini bukti bahwa aku merindukanmu?".
Di tengah jalan, Kyo Ga merasa heran saat menyadari bahwa mereka saat ini justru tengah pergi menuju tempat yang berlawanan. Lily dan Tae Woo sudah menunggu di sana, membawa mereka menemui tamu mereka yang sesungguhnya.
"sebelum kita pergi, kak... kenapa kau melakukan itu?", Tae Jun bertanya dengan sorot mata penuh tanda tanya dan kekecewaan "bagiku kakak adalah sosok yang hebat, yang tak pernah membuat malu keluarga sepertiku... karena itu, aku tak mengerti... kenapa kakak lakukan itu?".
"oi, kita bicarakan itu nanti... sekarang, ada yang harus kalian temui lebih dulu" ujar Tae Woo mengayunkan jari telunjuknya.
.
~ Gang Belakang, Markas Ogi ~
.
Hak meninju meja yang ada di depannya sampai-sampai meja itu retak "belum ketemu juga? sudah sebulan kita mencarinya, apa sesulit itu mencari seorang wanita? aku tak meminta kalian mencari sebutir jarum di dasar laut!?".
Ogi merinding, ia sudah mengerahkan anak buahnya untuk membantu Hak mencari keberadaan Leila (dengan bayaran setimpal tentunya) tapi hasilnya nihil.
"pada nyatanya, mencari Leila memang sulit, seperti mencari jarum di tumpukan jerami sebab jika Leila menggunakan Hokuto untuk mengkamuflase keberadaannya dengan alam sekitarnya maka kekuatanku sekalipun takkan bisa mendeteksinya dengan akurat. Yang bisa kupastikan hanyalah, saat ini berniat Leila menemui kenalan lama" ujar Mulan yang kembali meramalkan keberadaan Leila setelah melihat galaksi bimasakti di cermin air dalam kuali.
Yona menepuk bahu Hak sambil menggendong Lian Hua "kita tunggu saja kabar dari Jae Ha dan Fuyu yang saat ini menemui kelompok nomaden dan mari berharap jika salah satu di antara mereka ada yang menemui Leila".
"kau tak tahu kira-kira siapa yang ia temui?" tanya Yun.
"sayangnya sejauh ini, tidak... sebab Leila belum menemuinya dan aku tak bisa mencaritahu siapa orang itu jika Leila belum menemuinya" ujar Mulan menautkan alis "oh, tapi sepertinya yang kita tunggu sudah datang".
Tak lama kemudian, pintu masuk menuju markas Ogi terbuka.
.
~ Chishin ~
.
"kau tak bisa begini terus, mana bisa kau menanggung semuanya sampai kau kehilangan rasa sakitmu, air matamu bahkan sampai tubuhmu menolak makanan?! Jika kau ingin menebus apa yang telah terjadi, tetaplah hidup meski dengan rasa ingin mati?!".
Leila membuka matanya, lagi-lagi ia memimpikan apa yang dikatakan Hak pada Yasmine saat itu, ketika Yasmine terpuruk tak lama setelah ia membunuh Karma. Di saat Leila mendekapnya untuk melindungi Yasmine layaknya perisai, Hak justru menyeret Yasmine dan membentaknya dengan kata-kata yang tajam seperti pedang, membuat Yasmine menangis di pelukan Hak. Hak sengaja membuat Yasmine menangis saat itu sehingga Yasmine kembali membuka hatinya.
Sudah sebulan sejak kehamilannya diketahui keluarganya, ibunya tepatnya. Ia yakin Kayano dan ibunya pasti sudah memberitahu Hak dan yang lain. Kini ia hanya bersama Kiri, ia hanya bisa berharap semoga kakaknya tidak nekad membunuh pria yang membuatnya hamil jika yang Maya memberitahu mereka semua tentang kehamilannya termasuk siapa ayah kandung bayi yang ada di dalam kandungannya. Leila memang sudah meninggalkan pesan agar yang lain tak mencari keberadaannya dan membiarkannya menanggung hasil atas apa yang telah ia perbuat sendiri.
Leila mendongak, menyadari sesuatu "ah, itu sebabnya aku memimpikan saat itu?".
Sama seperti Yasmine saat itu, Leila berusaha menanggung semuanya sendirian dan ia tertawa miris, kira-kira apa yang akan dikatakan kakaknya kali ini? memarahinya? Tentu. Apa yang ia lakukan adalah hal yang tak seharusnya ia lakukan sebagai wanita dan ia yakin kakaknya pasti akan mengatainya 'bodoh' seperti yang dilakukan ibunya. Kemarahan ibunya beralasan, oleh karena itu ia tak membantah ucapan ibunya tapi tetap...
Saat Kiri mengeluskan kepalanya ke kakinya, Leila tersadar dari lamunannya dan tersenyum, ia menepuk kepala Kiri "tak apa, Kiri... aku masih bisa mengurus diriku sendiri, tapi tetap saja, jika perutku sudah membesar nanti, aku perlu tempat untuk menetap... hanya ada satu tempat yang terpikir olehku, dan kau pasti tahu kita akan pergi kemana setelah ini. Itu sebabnya, kita perlu uang dan teman yang menemani kita menuju kesana, kan?".
Leila menatap kota besar yang terhampar di depannya, Chishin. Ia sengaja datang kemari untuk mengikuti festival di Chishin karena di salah satu acara festival kali ini, ada lomba menari dan ia berniat mendapatkan uang hadiahnya untuk melanjutkan perjalanan menuju kuil Kousei, ia juga sudah mengontak seseorang dari kuil Kousei untuk menjemputnya di Chishin.
Geun Tae baru saja kembali dari kastil Hiryuu ketika ia tiba di tengah kota Chishin yang ramai karena tengah diadakan festival. Di tengah jalan ia melihat seorang penari yang berambut Navy Blue bermata Blue Sapphire. Dengan rambut lurus sepinggang berwarna biru gelap serta warna mata biru berbentuk bulir air seperti laut yang dalam, membuatnya seperti langit di tepi pantai pada malam hari meski itu terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih pucat seperti salju. Ia sempat salah mengira penari itu sebagai Yasmine tapi setelah ia memperhatikan baik-baik, itu bukan Yasmine. Geun Tae bisa mengetahuinya berkat tanda bunga di dada gadis itu, yang ada di dada gadis itu bukanlah bunga melati, sayangnya Geun Tae tak tahu itu bunga apa apalagi rambut gadis itu bukan putih seperti Yasmine. Memang gadis itu agak mirip Yasmine, tapi ketimbang Yasmine, ia merasa gadis itu lebih mirip dengan wanita lain yang pernah ia temui tapi siapa?
Di akhir lomba, terjadi keributan karena penari itu membuat salah satu peserta penari lain yang ia jagokan dalam taruhannya kalah sehingga pria itu kalah taruhan. Geun Tae tak habis pikir, bisa-bisanya pria itu menyalahkan penari yang menjadi pemenang itu, ia menghela napas dan sudah berniat melerai pria itu ketika pria itu menarik lengan penari yang menjadi pemenang itu namun apa yang terjadi selanjutnya di luar prediksinya.
Penari itu tersenyum saat ia menendang pria itu tepat di bagian kemalunya, membuat para pria lain merinding sambil memegangi alat vital mereka karena mereka tahu itu pasti sakit sekali. Tidak cukup sampai disitu, sang penari menjatuhkan pria itu dengan menendangnya turun dari atas panggung.
Sang penari menyeringai sambil berdecak pinggang dan sebelah tangannya menenteng sebuah kantung berisi beberapa keping emas dan uang hadiah lomba menari yang ia menangkan "ada yang keberatan seperti pria tadi? silahkan naik ke atas panggung dan akan kuladeni dia 'menari' seperti yang kulakukan dengan pria tadi".
Tak satupun penonton yang berani sehingga sang penari menautkan alis sebelum ia tersenyum manis "tak ada? baik, kalau begitu, terima kasih banyak atas dukungan kalian".
Sebelum gadis itu turun, Geun Tae naik ke atas panggung sambil bertepuk tangan "pertunjukan yang keren, nona penari... istilah mawar berduri cocok sekali untukmu, nona~ mawar biru yang memesona meski berduri, tentunya".
"terima kasih, tuan..." ujar gadis itu menautkan alis, merasa ragu harus memanggilnya apa.
"Lee Geun Tae, jenderal suku Bumi", Geun Tae mengulurkan tangannya "kebetulan, saat ini aku memerlukan penari untuk perjamuan di kastil Chishin nanti. Bisa kau ikut denganku untuk saat ini? tentunya, akan kuberi bayaran yang sesuai dengan penampilanmu, nona...".
Penari berambut Navy Blue itu menyampirkan rambut lurusnya ke balik telinganya sebelum ia memicingkan mata Blue Sapphire-nya "Hana, panggil saja saya begitu, Jenderal".
Geun Tae menyeringai "apa namamu diambil dari bunga yang terukir di tubuhmu?".
Hana tersenyum simpul "benar, dari bunga Hanashobu (Iris Ensata)".
"hei, apa yang kau lakukan di situ?!".
Hana menoleh ke arah gadis berambut coklat yang diikat ala pony tail, rambut lurus mencapai bahunya tertiup angin.
Hana melompat dari panggung dan memeluknya "Akiko?!".
"iya, iya, sekarang bisa jelaskan apa yang terjadi selagi kita istirahat di rumahku? Aku sudah terima suratmu, tapi...".
"hei, aku tak tahu kalau kau punya kenalan seorang penari sehebat ini, Akiko".
"Jenderal Geun Tae?!".
Hana menoleh antara Geun Tae dan Akiko bolak-balik "lho? Ternyata kau dikenal juga oleh Jenderal disini?".
Akiko memiting Hana yang tertawa geli "ah, lidah tajammu itu tak berubah sama sekali?!".
"tentu saja, dia istri dari kepala tabib di kastil Chishin merangkap wakil suaminya, suami istri ini benar-benar dokter yang hebat", Geun Tae mengangguk ke arah Hana sambil melirik Akiko "jadi? Siapa dia?".
"dia teman akrabku sejak kami kecil, kami berpisah saat aku menikah dan menetap di Chishin bersama suamiku sedangkan dia ikut rombongan kakakku", Akiko melepas pitingannya pada Hana dan menoleh ke arah Geun Tae "omong-omong, anda ada keperluan apa dengannya?".
Setelah Geun Tae menjelaskan apa yang ia inginkan dan keperluannya dengan Hana, Geun Tae bahkan menawarkan Hana menginap di kastil Chishin, hanya untuk sementara waktu sampai pekerjaannya selesai dan ia kembali ke Kekaisaran Kai namun Hana menolaknya secara halus karena ia sudah berjanji untuk menginap di tempat Akiko.
Akiko melambaikan tangan sebelum menarik Hana pergi "baiklah, Jenderal, sampai besok?!".
Setelah berpisah dengan Geun Tae yang kembali ke kastil Chishin, Akiko mengajak Hana ke rumahnya. Suaminya masih bekerja dan baru pulang setelah lewat matahari terbenam. Akiko sendiri sedang libur hari ini, jadi hanya ada ia bersama anaknya yang masih bayi.
Setelah menyerahkan handuk dan baju ganti padanya, Akiko membuka pembicaraan setelah Hana selesai mandi dan berganti baju "jadi... bisa jelaskan apa yang terjadi, Hana... atau saat ini aku bisa menyebutmu Leila?".
Mohon tunggu sebentar...
Akiko menjatuhkan cangkirnya "jadi... kau sedang hamil... 3 bulan dan...".
Leila mengangguk, sehingga kepala Akiko terjatuh dari topangannya dan membentur meja, ia mendadak terkena migrain sementara Leila mengeluhkan bahwa mungkin kakaknya akan pergi mencari pria yang menghamilinya dan membunuh pria itu, itu sebabnya dia kabur.
"dua... karena aku yakin kakakku yang berdarah panas itu juga akan berusaha membunuh pria yang telah menghamilimu di luar nikah", Akiko bangkit sambil bertopang dagu dan menunjuk Leila "kak Aruma sudah menganggapmu sebagai adiknya sendiri, sama sepertiku. Aku juga menganggapmu sebagai adikku, Leila, tentu aku akan membantumu sebatas apa yang kubisa tapi sebagai adik kandung kak Aruma, aku hanya bisa bilang, kita berdoa saja kakakku takkan menghanguskan pria yang menghamilimu itu. Lagipula, aku tak merasa kita bisa meminta kak Tomoe membantumu membujuk kakakku mengingat suami istri itu sama kerasnya, jadi jangan salahkan kakakku jika terjadi sesuatu pada ayah bayi dalam kandunganmu. Sebagai sahabatmu yang sudah seperti kakakmu, aku akan membantumu pergi ke kuil Kousei tapi setelah itu, kau urus dirimu sendiri. Kakek kepala pendeta pasti bersedia menampungmu. Maaf, bukannya aku bermaksud dingin tapi seperti kau lihat, aku punya keluarga sendiri dan aku tak bisa ikut pergi denganmu, meninggalkan mereka".
"aku mengerti, kau mau membantuku saja sudah cukup".
