Chapter 51 – Honey Trap

Jebakan yang manis layaknya madu

Jangan sampai membuatmu tersengat racun lebah


.

Dragon Return Home Arc

.

~ Kekaisaran Kai ~

.

Amitha dan Aruma sudah memberitahu mereka tentang apa yang terjadi di kerajaan Kouka musim dingin lalu pada Leila dalam laporan terakhir mereka, tapi mereka tak menyangka jika situasinya akan berkembang menjadi serumit ini.

Yohime mengelus kepala anaknya yang ada di gendongannya, sorot matanya terlihat cemas saat ia menatap suaminya "apa yang harus kita lakukan, Hakuya?".

"mengingat posisimu sebagai Kaisar, kau harus berhati-hati", Dal bersandar di pilar, ia hanya bisa memberi saran karena pada akhirnya keputusan ada di tangan Hakuya selaku Kaisar Kai saat ini "jangan sampai kau mengambil keputusan yang salah karena terbawa perasaan, sebab nasib rakyatmu juga dipertaruhkan".

"tapi ayahanda, apa harus kita biarkan Leila dihukum mati? Aku tak mau begitu?!" protes Fuyu yang ditahan oleh Jae Ha.

Jae Ha menepuk bahu Fuyu dan menggelengkan kepala "bukan hanya kau yang berpikir begitu".

"apa ini juga yang kau rasakan saat kau terjepit antara posisimu sebagai raja dan perasaanmu yang hancur karena kehilangan keluargamu, pak tua?".

"hanya satu hal yang bisa kuberitahu sebagai saran dariku berdasarkan pengalamanku, anak muda", Dal menyeringai "jangan sampai kau salah memilih antara apa yang kau inginkan dan apa yang berharga bagimu, sebab jika sekali saja apa yang berharga bagimu hilang, yang bisa kau lakukan hanya menyesalinya".


.

~ Kerajaan Gujarat ~

.

Mendengar pesan yang disampaikan penjaga gerbang istana padanya, Tara menutup bukunya dan mengerutkan kening "kakakku yang hilang? Siapa yang meminta bertemu denganku dan menyampaikan berita itu?".

"...pria yang dikenal sebagai Peddler terkuat, 'kepala' perkumpulan Peddler, Bihan".

Tara meletakkan buku yang ada di tangannya ke dalam rak, prajurit yang melihat ekspresinya menjadi tajam seketika merinding dibuatnya "panggil suamiku dan kedua adikku, lalu minta Bihan dan Petra untuk menghadap ke ruang singgasana".

Setelah Veer, Nagine dan Nadine yang menunggu di ruang singgasana bersama Tara melihat Bihan dan Petra memasuki ruangan, Tara meminta seluruh pelayan dan dayang lain keluar dari ruang singgasana untuk sementara waktu sampai pembicaraan penting ini selesai.

Tara duduk di kursi singgasana, bertopang dagu "jelaskan apa yang kau dapatkan tentang kak Yatalia di kerajaan Kouka? Apa ada hubungannya dengan Karma dan Gin Oni?".

"informasi ini akan menjadi cerita yang sangat panjang, apa anda tak keberatan, yang mulia?" ujar Bihan mendongak.

Tara mengangguk "katakan yang sejujurnya".

Ini benar-benar menjadi kisah yang panjang mengingat Bihan menceritakan perseteruan yang terjadi sejak dua generasi lalu, mulai dari ambisi Jafar yang tega menggunakan kedua anak kandungnya sendiri sebagai kelinci percobaan, tentang apa yang terjadi pada si kembar Maya dan Azurite serta anak-anak mereka hingga yang tersisa kini hanyalah lima orang anak dalam generasi ketiga dimana salah satunya memegang tonggak kepemimpinan Kerajaan Gujarat saat ini, yang tak lain adalah Tara. Selain Tara, pada akhirnya yang berhasil bertahan hidup saat ini hanyalah Tara, si kembar Nagine dan Nadine serta si kembar Hak dan Leila. Yasmine yang mereka kenal sebagai Yatalia sudah meninggal pada awal musim dingin dua tahun lalu. Setelah mengetahui apa yang selama ini terjadi pada Yasmine, si kembar Nagine dan Nadine hanya bisa menangis histeris sambil berpelukan. Veer kehilangan kata-kata untuk menghibur Tara yang menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya meski terlihat jelas linangan air mata yang jatuh menelusuri pipinya.

Tara menyeka air matanya, menatap tajam Bihan "dan kau sembunyikan itu semua selama ini dari kami, Bihan?".

"berita ini juga baru diberitahukan dalam surat yang saya terima dari kerajaan Kouka", Bihan mengerutkan kening "dan ada yang lebih penting".

Setelah Bihan memberitahu apa yang terjadi baru-baru ini di kerajaan Kouka pada Leila, Tara beranjak dari singgasananya "siapkan kapal, kita pergi ke Kerajaan Xing".


.

~ Kerajaan Kouka ~

.

Di rapat darurat kelima suku yang dilaksanakan secara tiba-tiba pasca apa yang terjadi pada malam perjamuan di kastil Chishin, Kyo Ga bungkam seribu bahasa di saat Jenderal lain terus saja menyerangnya bersama kepala penasehat istana (hanya Jenderal Suku Langit, Joo Doh dan kepala penasehat istana, Keishuk pada nyatanya).

Teringat saat Leila berkata bahwa ia tak sendirian dan tersenyum sambil memegangi perutnya sebelum ia kembali muntah darah dan tak sadarkan diri, Kyo Ga mengepalkan tangannya yang gemetar. Tak ada yang paling menyebalkan baginya saat ini selain tak dapat berada di sisi Leila yang belum juga sadarkan diri pasca kritis akibat melindunginya malam itu, ditambah lagi ia harus berhadapan dengan sang Raja dan Jenderal lain. Sempurna.

"Jenderal Kan Kyo Ga, bagaimana anda bertanggungjawab atas semua kekacauan ini?" tanya Keishuk yang mulai muak pada sikap Kyo Ga yang bungkam seribu bahasa.

Terserah. Ia tak peduli apapun yang dikatakan orang lain, yang jelas ia berharap urusan rapat kali ini segera diselesaikan. Kyo Ga yakin, Tae Woo berpendapat sama dengannya jika melihat bagaimana sikap Jenderal suku Angin yang jelas-jelas terlihat bosan dengan rapat kali ini. Lain halnya dengan calon ayah mertua Tae Woo, Joon Gi dan Geun Tae (yang bersikap tak seperti biasanya, ia terlihat sangat tenang dan entah kenapa sikap diamnya kali ini terasa menakutkan) terlihat seperti mengetahui sesuatu namun mereka masih ingin melihat apa yang kira-kira akan terjadi sehingga mereka memutuskan untuk diam saja. Joo Doh dan Keishuk jelas ada di pihak Soo Won, tentu saja mereka berdua yang membombardirnya dan memojokkannya dengan Leila.

Tapi yang Kyo Ga tak mengerti dan membuatnya merasa harus waspada adalah Soo Won. Ia tak tahu apa yang ada di pikiran Raja yang satu ini. Bahkan setelah apa yang terjadi malam itu di kastil Chishin, anehnya ia terlihat sangat tenang. Diam seperti ini juga bukan berarti dia akan dibebaskan, sepertinya tak ada pilihan lain.

Kyo Ga yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa dan bertopang dagu, berhenti mengetuk-ngetuk meja dengan jari tangannya, membuka sebelah matanya yang menatap tajam Keishuk "kekacauan? Kekacauan yang mana, perdana menteri Keishuk? Jika yang kau maksud kekacauan adalah pandangan bangsawan lain dan para rakyat yang menjadi saksi atas apa yang terjadi malam itu ketika Leila memberitahu kebenaran tentang apa yang terjadi malam itu pada putri Yona dan apa yang dilakukan oleh Son Hak demi melindungi putri Yona, aku tak melihat hal itu sebagai kekacauan. Bukankah bagus jika pada akhirnya kebenaran tentang kematian mendiang Raja Il mulai menunjukkan titik terang?".

"lalu bagaimana kau menjelaskan apa yang telah dilakukan oleh istrimu yang mengayunkan senjatanya pada yang mulia Soo Won?" sahut Joo Doh.

"aku takkan menyangkal, tapi yang bisa kukatakan adalah Leila bukan wanita yang bodoh, dia takkan melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang. Aku hanya bisa menyarankan agar kita menanyainya tentang apa yang terjadi dan apa yang membuatnya melakukan hal itu", Kyo Ga mendelik pada Joo Doh "terserah apapun yang orang lain katakan tentang Leila, bagi kalian mungkin dia hanya wanita yang digunakan seseorang sebagai boneka mereka untuk membunuh yang mulia Soo Won, tapi dia istriku".

Joo Doh memukul meja dengan telapak tangannya "apa kau pantas menyandang gelar sebagai Jenderal suku Api jika kau lebih mementingkan seorang perempuan ketimbang kehormatan klanmu!? Apa kau memang berniat mengikuti jejak ayahmu dan melakukan pemberontakan!?".

"yang ingin kukatakan adalah aku mengerti perasaan Son Hak yang lebih memilih untuk melindungi putri Yona ketimbang mempertahankan nama baiknya sendiri meskipun ia harus meninggalkan klannya?! ketimbang menyalahkan Leila yang belum tentu bersalah, kenapa tak cari tahu kebenaran yang diberitahu oleh Leila adalah benar atau salah?!", Kyo Ga berdiri dan membanting meja seperti yang dilakukan Joo Doh "aku takkan menyangkal apa yang dilakukan oleh istriku tapi jangan samakan aku dengan ayahku?! aku takkan membuang keluargaku sendiri hanya karena ambisi pribadi konyol yang akan membahayakan kerajaan ini dan klanku sendiri seperti yang dilakukan mendiang ayahku?!".

"tapi tindakan istrimu jelas-jelas telah menempatkan klanmu dan posisimu sebagai Jenderal suku Api dalam bahaya" ujar Keishuk tajam.

Kyo Ga menutup mata sesaat sebelum menghela napas "seperti yang kukatakan, aku takkan menyangkal apa yang dilakukan oleh istriku. Jika Leila memang bersalah, maka biarlah aku yang menanggung kesalahannya. Kesalahan seorang istri juga ditanggung oleh suami. Setelah dia sadar nanti, kemungkinan besar Leila akan berusaha menanggung apa yang telah ia perbuat seorang diri, aku takkan membiarkannya menanggung semuanya seorang diri di bahunya yang kecil itu kali ini, meskipun itu berarti aku harus mempercayakan jabatan sebagai ketua klan pada adikku, meski itu berarti aku harus menyerahkan kepalaku tapi satu hal yang kuminta sebagai gantinya, tolong jangan lakukan apapun pada Leila".

"itu bukan keputusan yang bijak, jenderal Kan Kyo Ga... dan aku tak menyangka kalau ternyata kau bisa terbawa perasaan juga, sepertinya kau memang benar-benar sangat mencintai istrimu dan kau tipe yang sama dengan Hak. Kalian berdua sama-sama keras kepala, tegas dan jujur, meski orang-orang di sekeliling kalian sering salah sangka karena ucapan yang selalu ketus dan sikap yang keras terlebih jika melihat wajah kalian yang selalu cemberut itu, tapi kalian tipe yang tak bisa mengkhianati ataupun meninggalkan wanita yang kalian cintai..." ujar Soo Won yang sejak tadi diam, tersenyum getir "sekarang kau terlihat begitu hidup dengan sorot mata yang terbakar bara api, tak seperti saat kau baru saja mengambil alih posisi ayahmu pasca mendiang ayahmu meninggal... aku ingin tahu, apa itu karena istrimu yang telah membakar es dalam hatimu sehingga kau bisa kembali memiliki semangat hidup seperti ini?".

"...yang mulia?" ujar Kyo Ga mengerutkan kening saat melihat senyuman Soo Won yang getir, entah kenapa ia teringat ucapan ibunya yang menyindirnya bahwa kelembutan dan kehangatan Leila akan merubahnya.

"Jenderal?!", Akiko membuka pintu ruang rapat sekeras mungkin "maaf mengganggu, tapi... Leila...".

Mendengar apa yang terjadi pada Leila, Kyo Ga yang paling pertama bergegas meninggalkan ruang rapat disusul Soo Won dan yang lain.

"lepaskan dia!?" teriak Lily dari dalam.

Begitu mereka membuka pintu, mereka terkejut saat menemukan Leila yang tengah disandera oleh seorang wanita berbaju hitam dengan kain transparan seperti wanita dari distrik merah.

"Lily, mundur?!", Tae Woo segera membentengi Lily dan mengacungkan tombaknya ke arah wanita itu "aku ingat betul aura menyebalkan ini... kau dari kuil Sakura merah, kan?!".

"ya, benar sekali~ dan jika kalian masih ingat pria bernama Agito yang tewas saat memimpin misi di referendum Kekaisaran Kai, dia adalah suamiku. Aku adalah istri sekaligus wakilnya, Aki".

Di luar dugaan, Aki berterima kasih pada Kyo Ga karena Kyo Ga secara tak langsung telah membantu separuh rencana mereka dan menyelamatkan nyawa Leila "rencananya kami ingin menangkapnya hidup-hidup meski terjadi hal di luar rencana, hampir saja kami kehilangan calon 'Bunga' terbaik ini akibat ulah dua pria bodoh dari nomaden pihak oposisi yang malah berusaha membunuhnya awal musim dingin lalu karena tergiur permata air mata ikan paus yang didapat oleh Leila dari putri Maya... untungnya kau menyelamatkannya saat itu, tapi kami tak menyangka kalau ternyata kau membantu separuh rencana kami sebab dia sudah hamil duluan sebelum kami menyuntikkan serum berisi sperma dicampur DNA hewan atau tumbuhan yang kami miliki untuk calon 'Bunga'... yang perlu kami lakukan setelah ada bayi dalam kandungannya hanyalah menyuntikkan serum berisi DNA hewan atau tumbuhan ke dalam tubuhnya, meski ternyata efek samping serum yang kami suntikkan muncul lebih cepat dari yang kami perkirakan. Efek samping serum itu akan membuat sisi gelapnya membuncah sehingga pada perjamuan di Chishin pada malam itu, ia tak bisa lagi menahan kebencian dan amarahnya. Andai kau tak menahannya saat ia berusaha membunuh raja Soo Won, sekali tepuk dua lalat bagi kami jika raja itu mati di tangan Leila".

Kyo Ga mengepalkan kedua tangannya "jadi memang kalian yang memperalat Leila?!".

"kenapa marah? perlu kau ketahui, wanita yang kau nikahi ini adalah mata-mata merangkap pembunuh terkuat dan terlihai di kelompok nomaden yang dijuluki Yuki Onna (wanita salju). Meskipun sasaran pembunuhannya adalah para pria yang kebanyakan pejabat pemerintah yang korup atau pria jahat, dia juga menerima permintaan dari klien di luar kaum nomaden. Dia wanita yang biasa menggunakan kecantikan dan kecerdasannya untuk memanipulasi dan membunuh orang meski memang, ia hanya membunuh orang-orang jahat dan korup, ia tak pernah menerima permintaan membunuh jika orang itu adalah wanita, anak-anak, serta orang yang telah berkeluarga dan memiliki anak-anak... bisa dibilang, tipe pembunuh yang lembek tapi dia tipe wanita cerdas yang tahu kapan ia harus diam dan kapan ia harus bergerak, seperti menggerakkan bidak catur, jika saatnya ia merasa ia harus ikut bertarung maka saat itu ia bisa jadi sangat mengerikan. Itulah sebabnya kami memilihnya sebagai calon 'Bunga' dan kami hanya membantunya mengeluarkan amarah dan kebenciannya yang terpendam. Apa kau akan tetap mencintainya meski kau tahu bahwa wanita yang kau nikahi ini bukan manusia?".

"diam kau?! Aku menyelamatkannya saat itu bukan untuk melihatnya mati di depan mataku dan membiarkan kalian menggunakannya sebagai boneka kalian?! Jika yang kau maksud soal Leila bukan manusia, mengenai fakta bahwa ia adalah Hybrid, keturunan dari Oni dan Miko, aku sudah lama tahu hal itu dan aku sudah melihat sosoknya yang lain... Lantas memangnya kenapa dengan hal itu? Bagiku Leila tetap Leila! Sekarang lepaskan dia dan kembalikan Leila padaku?!".

"tidak semudah itu, Jenderal~ kami tak bisa menyerahkannya pada kalian jika kalian hanya akan membunuhnya, terlebih bayi dalam kandungannya adalah 'bibit' yang kami nanti... Jika cuci otak padanya berhasil, tak hanya bayinya yang akan kami ambil, ibunya juga akan kami bawa kembali ke Kekaisaran Kai ketimbang dia kami biarkan mati dieksekusi di Kouka" ujar Aki mengelus wajah Leila, ia mengacungkan pisau ke perut Leila saat Kyo Ga dan yang lain berusaha mendekat "eits, jangan harap anaknya selamat jika kalian menghalangi kami... kami masih bisa membuatnya mengandung lagi meski ia kehilangan bayinya kali ini".

Kyo Ga mengepalkan tangannya dan menundukkan kepala "apa yang kau lakukan? Kenapa kau diam saja kali ini?".

Aki memiringkan kepalanya "bicara dengan siapa kau, Jenderal?".

Kyo Ga mendongak dan menggenggam pedangnya "aku tahu kau masih ada di dalam situ?! Jika kau tak ingin kehilangan wanita yang kita cintai, bantu aku dan selamatkan dia seperti apa yang kita lakukan musim dingin lalu, Hokuto?! Bangun, Setsuko?!".

Tepat saat Hokuto yang muncul di belakang Aki menjatuhkan Aki dan anak buahnya, Kyo Ga mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Leila yang dilindungi oleh kekkai salju yang dibuat Yuki Onna. Setelah Aki dan anak buahnya dibekuk, Yuki Onna dan Hokuto mengubah wujud mereka menjadi wujud manusia mereka, tak lain adalah mendiang Setsuko dan mendiang Takahiro.

"sudah lama juga kita tak muncul dengan wujud manusia~ tapi tak kusangka ada juga yang bisa memerintahkan dan membuat kita keluar selain Leila" ujar Setsuko tersenyum lebar.

Takahiro mengerutkan kening "aku tak ingin mengakui ini, tapi bisa jadi itu karena pengaruh 'benang merah' yang ada di jari kelingking mereka berdua. Karena keduanya berhubungan, itu sebabnya dia juga bisa memberi perintah pada kita".

Setsuko tertawa lepas, menepuk bahu Takahiro "jangan cemburu begitu, dong".

"kalian ini, bikin jantungan saja... kenapa tak segera muncul?!" protes Kyo Ga.

"susah tahu, ini kan bukan musim dingin" jawab Setsuko.

"belum lagi kondisi Leila masih sangat lemah, ia mati-matian mempertahankan bayinya dan ia berusaha agar ia dan bayinya tak terbawa ke alam sana sampai-sampai spiritnya berkurang sebanyak itu... kalau bukan karena kau yang berteriak memohon pertolongan, mungkin kami tak bisa keluar sama sekali".

"mungkin kau tak sadar, tapi keinginanmu melindunginya serta harapanmu bahwa Leila tetap bisa bertahan hidup, kekuatan hatimu yang membuat spiritmu terkirim pada kami sehingga kami bisa keluar seperti sekarang", Setsuko mengecup kening Leila dan tersenyum "ingatlah, tak peduli sebesar apapun kekuatan yang dimiliki oleh mereka yang dipercayai memegang kekuatan dewa atau iblis seperti ksatria naga atau Leila, pada akhirnya yang terkuat tetaplah manusia".

"sangat mudah bagiku mengakhiri semuanya dan menyeretnya bersamaku ke alam sana, tapi aku hanya ingin dia tetap hidup... aku ingin dia berhenti bertempur dan terluka saat dirinya berjalan di tengah pertempuran dan menapaki jalan yang dipenuhi pertumpahan darah ini, dia berhak mendapatkan kebahagiaannya layaknya wanita lain", Takahiro mengelus kepala Leila sebelum ia mengecup kening Leila, menatap Kyo Ga dengan sorot mata penuh keyakinan "kau pasti mengerti apa maksudku jika kau memang mencintainya... masih ada ujian terakhir yang harus kalian lewati... Jika kalian gagal, kami para arwah yang sudah mati ini hanya akan kembali ke tempat seharusnya kami berada tapi tak menutup kemungkinan... kalian takkan bisa bertemu lagi".

Sebelum mereka yang ada di ruangan itu menanyakan apa maksud ucapan Takahiro barusan, Takahiro dan Setsuko kembali ke wujud hewan gaib sebelum masuk kembali ke dalam tubuh Leila. Setelah Kyo Ga meletakkan kembali Leila ke ranjang, Leila membuka matanya.

Lily yang ada di sampingnya tersenyum lega "Leila, akhirnya kau sadar! Syukurlah?!".

"Lily...", Leila menoleh ke arah Lily, menanyakan hal pertama yang terlintas di pikirannya "bayiku?".

Lily menyeka air matanya, terharu "tenang saja, kau memang sempat kritis tapi untungnya kau dan bayimu selamat. Istirahatlah, dokter bilang sebisa mungkin kau harus bed-rest total dan tak boleh terlalu banyak bergerak atau kau akan keguguran".

Sambil memegangi perutnya, Leila menghela napas lega dan tersenyum "begitu?".

"bagaimana kondisimu?".

Leila menoleh ke sampingnya, teringat apa yang terjadi pada mereka terakhir kali, tak heran Leila bertanya "...Kyo, kau tak terluka?".

Kyo Ga bertopang dagu, mengerutkan keningnya "bisa pikirkan kondisimu sendiri sekali saja sebelum memikirkan kondisi orang lain?".

"terlepas dari fakta bahwa aku tak bisa bergerak bebas sekarang, selain itu aku tak baik-baik... Kenapa mukamu ditekuk begitu? Marah lagi?".

Melihat sosoknya yang terbaring lemas di hadapannya membuatnya ingin memeluk Leila erat, tentu saja ia ingin memarahi Leila atas tindakan cerobohnya yang menggunakan tubuhnya malam itu untuk melindunginya meski ia sedang hamil "marah? Tentu saja aku marah karena ketidakberdayaanku membuatmu terluka... Apanya yang baik-baik saja? punggungmu... kau sekarat, tak sadarkan diri selama beberapa hari dan hampir keguguran... jika kau bahkan tak bisa menggerakkan tubuhmu secara bebas sekarang, berarti kau tak sedang baik-baik saja, dasar bodoh?!".

"keningmu berkerut, tuh... benar-benar marah padaku, rupanya?".

"tentu saja, bodoh?!".

"aku baru sadar dan kau langsung mengomeliku? lama sejak terakhir kali aku tak mendengar omelanmu dan perlu kau ingat, meski tubuhku tak bisa bergerak bukan berarti mulutku tak bisa berbicara jadi aku masih bisa meladeni omelanmu, tapi yang paling penting sekarang...", Leila menatap tajam Soo Won, Keishuk dan Jenderal lain yang berdiri di belakang Kyo Ga "kalian semua, keluar".

Joo Doh mengerutkan kening dan protes "apa hakmu untuk mengusir...".

"KUBILANG KELUAR?!", potong Leila yang mengangkat sebelah tangannya "cepat keluar sebelum kuperintahkan hewan gaibku untuk mengusir kalian?! Atau kalian lebih senang jika kupanggil Yuki Onna untuk membekukan kalian, hah?!".

Geun Tae mengajak yang lain keluar ruangan dan menuruti Leila "sudahlah, tak ada gunanya membantah seorang istri yang siap bertengkar dengan suaminya itu".

"benar, kalau bisa teriak begitu, berarti sudah lumayan sehat, kan?" ujar Tae Woo mengajak Lily ikut keluar.

Setelah mereka semua keluar dari ruangan itu, mereka menunggu di luar kamar. Tepat setelah pintu kamar ditutup, mereka mendengar pertengkaran suami istri di dalam kamar dimulai.

Lily sempat khawatir mengingat dokter memberitahu mereka agar membiarkan Leila istirahat dan tak boleh banyak pikiran "apa tak apa-apa membiarkan mereka ribut begitu? bagaimana kalau kandungannya kenapa-kenapa lagi?".

"yang namanya wanita hamil itu emosinya naik turun, susah diprediksi apa maunya... nanti kau juga akan mengalaminya sendiri saat kau menikah dengan Tae Woo", Geun Tae tertawa kecil dan mengayunkan tangannya "untungnya istriku tak terlalu menyusahkan saat hamil".

Sementara itu, di dalam kamar...

Setelah pintu ditutup, Kyo Ga menatap Leila "kenapa kau sama sekali tidak memberitahuku soal anak dalam kandunganmu?".

Leila mengerutkan kening, setelah memalingkan wajahnya sejak tadi, akhirnya ia menoleh ke arahnya dan menatap matanya "aku tak ingin menyusahkanmu, Kyo?! Ini tubuhku sendiri?!".

"tapi dia bukan 'anak'mu saja, kan!?".

"aku tahu, tapi apa kata orang jika mereka tahu kalau kau...", hening sesaat sebelum Leila kembali bicara "ingat posisimu sebagai Jenderal suku Api?! Aku tak ingin bersikap egois jadi kenapa kau malah mengacuhkan keputusanku!? aku masih bisa mengurus diriku sendiri?!".

"lihat dirimu sekarang, kau bahkan tak bisa bergerak bebas dan hampir kehilangan nyawamu karena tindakanmu yang ceroboh?! Begini kau bilang kalau kau masih bisa mengurus dirimu sendiri?", Kyo Ga memukul lantai dengan telapak tangannya "aku mengerti jika kau sengaja menutupi semuanya dariku karena memikirkan posisiku sebagai ketua klan?! aku tak peduli dengan statusmu atau apapun itu dan aku tak peduli jika kau menyebutku egois, tapi aku tak ingin kau menuduhku mengabaikan perasaan orang?!".

"aku tak mau jika kau menikahiku hanya karena tanggung jawab dan kewajiban?!".

"-tapi aku hanya menginginkanmu?! Aku mencintaimu dan aku tak menginginkan wanita lain di sisiku?! Aku tak butuh siapapun di sampingku selain kau sebagai pendamping hidupku?! Tak peduli meski aku harus kehilangan nyawaku!? apa yang harus kulakukan agar kau bisa percaya bahwa aku mencintaimu?".

"aku tak meragukan perasaanmu?! Aku juga mencintaimu tapi aku tak ingin kehilanganmu?! Seperti yang kualami saat bersama Takahiro?!".

Hening sesaat sebelum Kyo Ga mengecup tangan Leila.

"biarkan aku bertanggungjawab atas dirimu dan anak yang kau kandung, berikan kesempatan padaku untuk menjadi suami yang layak untukmu dan ayah anak ini, Leila..." ujar Kyo Ga menggenggam erat tangan Leila.

Leila menahan napas saat Kyo Ga mengecup tangannya dan melamarnya, menatapnya sambil menggenggam erat tangannya seolah ia berkata padanya bahwa ia takkan melepaskannya kali ini, apapun yang terjadi.

Teringat apa yang terjadi terakhir kali, Leila mengalihkan pandangannya "...lalu bagaimana dengan hukuman yang akan diberikan padaku atas apa yang kulakukan di malam perjamuan? Kau takkan bisa menikahiku... Kau takkan sempat menjadi ayah anak ini dan suamiku jika aku terlanjur dihukum mati, kan?".

"tidak ada jalan lain... aku akan memohon pada yang mulia Soo Won untuk melepaskanmu", Kyo Ga melepaskan tangan Leila dan beranjak "kali ini aku takkan menyerah sampai kau dibebaskan, meski harus dibayar dengan jabatanku... atau bahkan nyawaku".

"hentikan, Kyo?!", Leila menahan Kyo Ga dan menggenggam lengan baju Kyo Ga meski ia meringis kesakitan karena bergerak mendadak saat berusaha bangun dari tempat tidur.

"sudah dibilang, jangan bangun dulu, kan? istirahatlah", Kyo Ga membaringkannya kembali ke ranjang, ia mengecup kening Leila dan mengelus dahinya setelah sebelum beranjak "kau pikirkan saja jawaban atas lamaranku selama aku membujuk yang mulia Soo Won".

.

"tidak bisa", Soo Won tak menoleh ke belakang saat Kyo Ga berlutut di belakangnya "mohon maaf, Jenderal Kan Kyo Ga, tapi aku tak bisa memenuhi permintaanmu... apapun yang terjadi, hukum tetap hukum dan gadis itu akan dihukum mati".

"tapi kenapa..." ujar Kyo Ga berdiri.

"untuk menangkap ratu lebah, kita memerlukan madu yang manis, bukan?", Keishuk muncul dari balik pilar "tentu saja, andai dia tak terlanjur hamil dan pastinya dia lebih memilih untuk menikah denganmu, Jenderal Kan Kyo Ga, bisa saja kami meminta gadis itu menikah dengan yang mulia Soo Won, sebab gadis itu tetap putri Kerajaan Gujarat".

"setidaknya kita bisa menggunakan 'istri'mu untuk memancing keluar musuh yang selama ini terus bersembunyi di balik layar", Soo Won menutup dokumen di tangannya yang ia berikan pada Keishuk sebelum menjelaskan bahwa ia ingin memancing musuh mereka keluar dengan menggunakan Leila sebagai umpan "melihat tindakan Aki hari ini, kelompok yang selama ini bersembunyi pasti akan bergerak menyelamatkan Leila karena mereka membutuhkan Leila... tak masalah jika kau ingin berada di sampingnya, Jenderal Kyo Ga".

Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang bersembunyi di luar ruang singgasana, mendengar semua percakapan mereka.

Lily menutup mulutnya, ia bergegas meninggalkan tempat itu dan mencari Tae Woo "celaka!? Yona, Hak, jangan kemari?! Ini jebakan?!".

Lily bisa membaca rencana busuk Keishuk, tak hanya kelompok gabungan nomaden pihak oposisi dan sisa anggota kuil Sakura Merah yang ingin mereka pancing keluar tapi juga Yona dan teman-temannya.


.

~ Kerajaan Xing ~

.

Kou Ren menyambut kedatangan Yona dan Hak yang ditemani oleh Yun, Kija, Shina dan Zeno bersama Tao "mana anak kalian?".

"dititipkan ke tempat kakeknya bersama ibuku" jawab Hak.

"yah, padahal aku ingin menggendong Lian Hua~" ujar Tao menautkan jarinya.

Kou Ren mengundang mereka semua masuk ke ruang singgasana dimana Lima Bintang telah menunggu kehadiran mereka.

Setelah Yona menjelaskan situasi apa yang terjadi pada Leila, Kou Ren dan Tao bertukar pandangan sebelum akhirnya Kou Ren angkat bicara "ini jebakan".

"benar, tapi...", Yona menggenggam erat tangan Hak sambil menatapnya "aku tak ingin jika aku harus kehilangan keluargaku lagi...".

"kita tak bisa membiarkan anggota keluarga kita mati terbunuh, kan?" ujar Hak menatap Kou Ren "sudah saatnya kami bergerak".

"seperti kata mereka berdua" ujar Maya yang muncul mendadak sambil menggendong Lian Hua bersama Kyouka yang melakukan teleport ke tempat itu "kita tak bisa membiarkannya saja jika kita tahu akan ada anggota keluarga kita yang mati terbunuh".

"HUWA?!" teriak mereka semua yang ada di ruangan itu terkejut.

"ibu!? Kenapa malah muncul tiba-tiba begitu?!" protes Hak.

"maaf, aku merasa jika ini perlu kulakukan", Maya tertawa kecil sebelum menyodorkan Lian Hua pada Yona, Maya menoleh ke arah Kou Ren "jadi... Bisa kau keluarkan tamu yang sudah susah payah datang dari jauh itu?".

"ketahuan, toh... Pasti ini kerjaan Mizuki" ujar Bihan keluar dari persembunyiannya sebelum ia menoleh ke balik sekat "Petra, yang mulia, tuan putri, keluar saja".

Setelah Petra muncul sambil menjitak Bihan dan memarahinya untuk bersikap lebih sopan, Veer dan Tara, raja dan ratu kerajaan Gujarat bersama si kembar Nagine dan Nadine, putri kerajaan Gujarat keluar dari balik sekat, berhadapan dengan perwakilan dari kerajaan Xing dan kerajaan Kouka.

"jadi Anda putri Maya, ibu kandung kak Yatalia... maksudku, kak Yasmine?" ujar Tara yang menghampiri Maya dengan mata terbelalak, terkejut melihat betapa miripnya Maya dengan Yasmine. Wajar saja, sebab Yasmine adalah putri kandungnya.