Bag 3

.

.

.

Taehyung terlihat memijit pelipisnya gusar. Keringat masih mengalir di sela keningnya; jatuh melewati rahang dan berakhir di leher mulusnya.

Suhu tubuhnya masih terasa agak panas akibat nafsunya yang masih tersisa; belum sempat tersalurkan. Walau kejantanannya tak lagi sekeras tadi, namun tentu itu bukan alasan untuk menurunkan gejolak libidonya.

Menghembuskan nafasnya gusar kala bayangan pantat montok Jungkook kembali hinggap dalam bayangannya.

Tap

Tap

Tap

Mata setajam elangnya seketika terbuka kala mendengar suara derap langkah yang terdengar terburu; dan mendapati sosok yang sejak tadi menghinggapi fikirannya terlihat berjalan mendekat ke arahnya dengan penampilan yang sangat menggoda.

Sial!

Ia merasa akan keras lagi dalam beberapa sekon kedepan.

Fokusnya masih tertuju pada wajah memerah Jungkook; yang sialnya di matanya terlihat menggemaskan serta penuh akan aura sensual.

Melirik ke arah bawah; hanya untuk menghembuskan nafasnya putus asa karena little Tae kembali terbangun akibat si semok Jeon.

Bahkan ia masih tak bergeming sekalipun Jungkook sudah berdiri di hadapannya; bahkan netranya sama sekali tak mengedip, masih mengagumi visual menggemaskan Jeon Jungkook.

"Kim. Tae. Hyung—" intonasinya terdengar tertahan; berusaha menahan agar emosinya tak meluap begitu saja.

Namun Taehyung masih tergugu diam; terlalu larut mengagumi kesempurnaan calon tunangannya itu.

Jungkook mengernyitkan dahinya kala tak mendapati respon dari si pemilik nama. Ia menoleh hanya untuk mendapati dirinya tergugu kala menyadari jika Taehyung menatapnya terlalu intens; membuat jantungnya seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat.

Tanpa sadar pipinya merona parah; merasa malu di tatapi sedemikian rupa oleh Taehyung. Menunduk; hanya untuk mengernyitkan dahinya kala mendapati celana bagian depan Taehyung yang menggembung dengan bangsatnya.

Memproses sejenak akan apa yang terjadi sekarang; Taehyung yang terus menatapinya intens dengan celana bagian depan yang menggembung secara tak terhormat.

Wajahnya memerah kala otak lambatnya mulai menangkap apa yang terjadi di hadapannya.

"Brengsek—" umpatnya marah.

Mendongak; menatap nyalang pemuda di hadapannya yang kini malah menyeringai mesum ke arahnya. Menutup kedua matanya sejenak sembari mengepalkan kedua telapak tangannya. Emosinya berada di atas puncak.

"Tae hyung—"

Masih tak ada sahutan dari si pemilik nama. Taehyung masih saja menatapnya dengan pandangan ala om-om mesumnya.

"Kim bangsat Taehyung"

Memejamkan matanya kala Taehyung masih saja tak menyahut. Sosoknya masih diam dalam posisi awalnya.

Plak

"AWW—" Taehyung mengaduh ribut kala kepalanya mendadak terasa berdenyut; akibat Jungkook yang menghantam kepalanya dengan penuh perasaan sayang.

Jungkook hanya menatap Taehyung datar kala mendapati pemuda itu yang balas menatapnya nyalang.

"Sialan kau Jung—" desisnya tak terima; sebelah tangannya masih mengelus kepalanya yang berdenyut. Sementara yang satunya menggenggam tangan halus Jungkook; entah maksudnya apa.

"Kau yang sialan brengsek—" desis Jungkook datar. Menatap malas pada tangannya yang di genggam si pemuda mesum Taehyung. Membiarkan si pemuda dengan otak mesum itu berbuat seenaknya.

"Kenapa aku, apa salahku kali ini?"

Taehyung mengerang kesal; di bawanya tangan Jungkook yang di genggamnya ke arah celananya; menggesekannya dengan kejantanannya yang berdiri.

Jungkook tentu saja melotot; merasa kesal sekaligus malu karena secara tak langsung ia menyentuh milik si pemuda mesum yang dengan berat hati harus ia akui besar sangat.

Plak

"Dasar mesum—"

Ia kembali menghajar kepala Taehyung yang mana membuat si empunya meringis kesakitan.

"Berhentilah menyiksaku Jeon—" erang Taehyung setengah kesal, namun Jungkook tak mengindahkan perkataannya sama sekali.

Dengan kasual ia mengusap surai pirang Taehyung; membuat si pemuda Kim mengerang dengan nyaman saat tangan halus Jungkook yang mengelus surainya lembut. Sebelum—

Ctak

"Dan kau berhentilah berbuat mesum brengsek"

—kembali menghajar Taehyyung dengan menjewer telinganya secara bringas.

"A-aah- sakit, lepas" dengan acuh tak acuh ia melepaskan jewerannya; tak mengindahkan Taehyung yang semakin merengut karena kelakuan kasarnya terhadap si Kinka kampus.

Hening beberapa saat. Taehyung masih sibuk dengan telinganya, sementara Jungkook hanya terdiam; entah apa yang tengah si kelinci manis itu fikirkan.

"Ayo pulang—" Taehyung sontak mendongak hanya untuk menatap Jungkook dengan kening yang mengernyit; seakan tak percaya jika Jungkook baru saja mengajaknya pulang bersama dengan nada yang begitu lembut seperti suara seorang malaikat yang jatuh dari surga.

Seriously? Taehyung bahkan mengorek telinganya dengan telunjuk saking tak percayanya. Sementara Jungkook, hanya memandangnya dengan tatapan bosan yang kentara di wajah manisnya.

Bosan karena Taehyung itu serba salah menurutnya. Di kasari? Melunjak. Di lembuti? Malah menatapnya seakan ia iblis penghuni neraka.

Menyebalkan.

Membuat hatinya cenat-cenut tak karuan, sehingga—

—membuatnya ingin meremas kejantanan Taehyung sampai remuk tak bersisa.

Uhh.

"Kau— aku—ehem- kau mengajakku pulang bersama, tak salah?"

Inginnya Jungkook tertawa sekencang mungkin karena—seriously— kapan lagi dirinya bisa melihat raut wajah bodoh milik seorang Kim Taehyung?

Oh, seharusnya ia tadi mengabadikan gambar si pemuda mesum.

Kembali memutar bola matanya malas; lebih tepatnya malas akan kerja lamban otak Taehyung. "Tidak, aku mengajak mobilmu— tentu saja aku mengajakmu bodoh, ayo pulang aku lapar" tanpa memperdulikan Taehyung yang terdiam mematung, Jungkook masuk ke dalam mobil si pemuda Kim.

Duduk manis di sana; melewatkan seringaian mesum dari si pemilik kendaraan karena perkataan terakhir Jungkook.

Tak menyadari jika bahaya besar tengah mengintainya.

.

"Hyung, kenapa perasaanku berubah tak enak ya?" menyimpan ponselnya sejenak, Yoongi menatap langit yang sangat cerah dengan tatapan menerawang.

Entahlah, tiba-tiba ia malah teringat akan adiknya. Jeon Jungkook maksudnya.

"Memangnya apa yang kau fikirkan?" tak menoleh, Seokjin masih sibuk menscroll layar ponselnya. Decak kagum terdengar dengan jelas; kala dirinya kembali menemukan sesuatu yang menarik mata dan hatinya.

"Entahlah, tiba-tiba aku teringat dengan Jungkook—" ucapnya mengambang.

Seokjin tak langsung menjawab, matanya masih berbinar menatap gadget di genggamannya. "Sudah jangan di fikirkan, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lagipula ia akan aman bersama dengan tunangannya itu—" kembali terdengar decakan kagum Seokjin; membuat Yoongi yang duduk di hadapannya lama-lama jadi penasaran juga.

"Sebenarnya dari tadi kau sedang apa sih hyung?" tanyanya mencondongkan tubuhnya sedikit; guna melirik isi ponsel sahabatnya itu.

Seokjin mendongak; tersenyum dengan lebarnya sebelum menyerahkan ponsel di genggaman. "Oh, aku sedang melihat ini. Bagus kan?"

What the fuck?

Yoongi merasa rahangnya sebentar lagi akan terjatuh karena ulah Seokjin.

Seokjin mungkin sudah gila? Ia merapal berkali-kali.

Demi celana dalam kumamonnya—

Ia fikir Seokjin tengah menstalker akun seme favoritnya— atau pria hot dengan badan mereka yang nyaris telanjang.

Namun ini? Tebakannya justru meleset jauh.

Ternyata Seokjin tengah membuka salah satu aplikasi jual beli online.

Bukan mencari panci pink kesayangannya, namun—

—untuk melihat berbagai benda berbentuk segitiga berwarna merah muda.

Dengan renda-renda dan tali-tali tipis yang terdapat di kedua sisinya.

Yang semuanya jelas untuk seseorang bermelon besar alias para-para wanita.

"Bagus kan? Cocok untuk merangsang pria hot di atas ranjang. Mereka pasti akan bertambah ganas ketika melihatku memakai ini nanti—"

Dengan semangat dua lima; mengabaikan Yoongi yang menganga dengan tak elitnya tepat di hadapannya. Seokjin mulai memainkan ponselnya dengan senyuman kelewat lebar.

Sepertinya berniat membeli barang yang di maksud, sebelum suara Yoongi membuatnya mematung.

"Memangnya siapa yang akan kau goda dengan itu hyung, kau kan tak punya kekasih?"

Seokjin seperti di siram air dingin.

Hatinya yang sudah lama kosong seakan membeku.

Di remas-remas dengan kuatnya, lalu hancur menjadi serpihan debu seperti lagu rumor.

Sakit, uhuks.

Terkadang ia lelah memiliki teman bermulut pedas seperti Yoongi.

Namun bagaimana, ia sudah terlanjur menyayangi beruang kutub ini.

Hiks, inginnya ia mengumpati Yoongi.

Namun pasti pemuda manis itu akan mengumpatinya balik—

—tentunya dengan kata-kata yang lebih pedas.

Seokjin tak mau.

Ia tak sanggup jika harus mengalaminya.

"Ini akan ku gunakan ketika aku memiliki kekasih nanti Yun-" ucapnya setengah keki.

"-atau mungkin untuk menggoda pria hot di klub nanti" gumannya dengan senyum mesumnya.

"Kau berniat jadi jalang di klub malam hyung?"

Astaga, hati Seokjin perih. Seakan di tusuk-tusuk pisau daging cincang.

Perihnya tak terlihat namun membekas di hati.

Padahal dia sudah pelan berbicara tadi; agar Yoongi tak mendengar gumamannya. Namun ternyata semuanya malah sia-sia.

Seokjin sendiri sampai di buat bingung; telinga sahabatnya ini terbuat dari apa sih? Kok bisa tajam banget sama kayak mulutnya.

"Tak begitu juga Yun-" balasnya menatap Yoongi datar.

Mulut Yoongi sudah terbuka, hendak bertanya kembali sebelum mata sipit itu tiba-tiba membulat kala merasakan seseorang mendekapnya dari belakang.

Aroma jantan ini-

"Merindukanku, sayang?"

Suara berat penuh akan aura dominan ini.

Membuatnya seketika memutar bola matanya malas.

"Lepaskan aku bantet-" ujarnya setengah malas, namun Yoongi tak berbuat apapun untuk melepaskan dekapan pemuda di hadapannya. Masih tak bergeming; membiarkan pemuda di belakangnya mendekapnya.

"Tak mau, aku merindukanmu baby-" Yoongi menggeliat geli kala merasakan nafas hangat pemuda itu di ceruk lehernya. Bahkan ia mulai mengerang dengan lirihnya kala merasakan kecupan-kecupan basah mulai terasa di sana.

Seokjin yang melihat lovey dovey sahabatnya itu hanya mampu memutar kedua bola matanya sejenak sebelum kembali fokus pada dunianya sendiri sebelumnya sempat di kacaukan Yoongi.

"AKK-"

Plak

"-ku bilang lepaskan Park Jimin babo"

"AWW, sakit hyung-"

Dengan sayang Yoongi memukul kepala Jimin dengan kepalan tangannya yang kecil namun kekuatannya melebihi seekor kuda.

"Aku kan sudah bilang lepas tadi" ujar Yoongi enteng tanpa beban sama sekali.

Jimin cemberut. Melepaskan dekapannya dan lebih memilih duduk di samping Yoongi. Mengedarkan pandangannya kala menyadari sesuatu yang janggal untuknya.

"Tumben kelinci semok kesayangan kalian tak ada-"

Dengan tanpa dosanya menyambar gelas iced cappuchino milik Yoongi, meminumnya tanpa dosa; yang mana menghasilkan decakan sebal dari si pemilik aslinya karena minumannya di sambar begitu saja.

"Jungkook sudah pulang dengan calon tunangannya"

Seokjin terpaksa menjawab pertanyaan Jimin karena Yoongi; sahabatnya yang katanya swag itu tengah merajuk parah pada Jimin; sementara Jimin bukannya menenangkan malah mencubiti pipi montoknya.

"Tunangan? Ku kira ia pacaran dengan Taehyung" beonya. Bibirnya masih sibuk menyedot minuman di genggamannya; tangan kirinya mengelus surai pemuda di sebelahnya sayang.

Tak mengindahkan Yoongi yang merajuk parah karena minumannya terus di sedot seperti itu.

"Memang— dan sebentar lagi mereka akan tunangan karena kedua orang tua Jungkook sudah menjodohkannya dengan Taehyung"

Dan berdo'alah semoga si biang gosip Jimin tak membocorkan hal ini.

Atau kehidupan Jungkook benar-benar akan berubah seratus delapan puluh derajat.

.

.

.

Keheningan terlihat menyelimuti kedua pemuda itu. Si tampan yang wajahnya mirip dewa yunani itu memilih untuk fokus pada jalanan di hadapannya. Sementara si pemuda manis berwajah mirip kelinci itu juga memilih untuk menatap jalanan yang mereka lewati.

Keduanya tampak sibuk dengan fikiran masing-masing sebelum getaran ponsel Jungkook terdengar memecah kesunyian di antara mereka.

Eomma

Tumben? Memilih acuh, ia mulai menggeser ikon hijau.

"Aku sebentar lagi sampai eomma-"

"-tak usah pulang ke rumah Kookie"

Dahinya mengernyit kala mendengar perkataan ibunya. Jika ia tak pulang? Harus kemana dirinya?

"Kenapa?"

"Eomma harus pergi dengan appa ke busan, nenekmu sakit. Kau menginap saja di tempat Taetae hyung-"

Keningnya seketika berkedut. Bukan kesal karena di tinggalkan sendiri. Tapi kenapa harus dengan Taehyung sih?

Sementara Taehyung yang tak sengaja mendengar perkataan ibunya Jungkook; salahkan nyonya Jeon yang berbicara lumayan kencang, entah sengaja atau bagaimana- menyeringai secara diam-diam.

"Aku tak mau eomma. Aku bisa menginap di tempat Yoongi hyung atau Seok-"

"-tak boleh" dan Jungkook seketika mengernyit kala mendengar lengkingan ibunya dan suara lelaki lain yang ia curigai seperti suara ibunya Taehyung.

"-eumm, maksud eomma lebih baik kau menginap di tempat Taetae hyung saja, anggap saja sebagai pendekatan kalian satu sama lain. Sebentar lagi kan kalian akan tunangan jadi harus punya chemistry yang kuat Kook"

"-dan ku harap aku segera punya cucu"

Dan Jungkook sangat yakin jika ini merupakan bagian dari rencana ibunya dengan Kim Baekhyun; salahkan Baekhyun yang terlalu keras menyampaikan keinginannya.

"Tapi eomma-"

"-sudah turuti perkataan eomma mu ini, kau sedang bersama Taetae hyung kan? Berikan ponselmu padanya"

Dan yang bisa Jungkook lakukan hanya menuruti perintah ibunya dengan wajah yang menekuk lucu. Terlalu takut untuk membantah karena bisa di pastikan jika ia membantahnya maka ucapkan selamat tinggal pada semua album IU dan Big Bang yang ia miliki.

"Iya, eomma-"

Melirik sekilas pada wajah menekuk Jungkook, sebelum beralih ke jalanan di hadapannya dengan tangan kanannya yang memegang ponsel pemuda manis itu.

"Taetae sayang, eomma boleh minta tolong kan? Tolong jaga Kookie ya, eomma dan appa harus ke busan karena ada kepentingan mendadak. Taetae bisa kan?"

Mati-matian ia menyembunyikan seringaiannya, kepalanya sudah penuh akan kegiatan menyenangkan yang akan ia dan Jungkook lakukan di apartemen sepi miliknya.

Catatan; Taehyung tak lagi tinggal bersama kedua orang tuanya. Ia memilih untuk tinggal sendiri agar bisa lebih mandiri. Tentu saja itu hanya sebagian modus tak terbacanya.

"Tentu saja eomma, aku akan dengan senang hati menjaga uri Kookie-"

Sumpah, Jungkook tak berbohong ketika ia mengatakan jika dirinya merinding mendengar perkataan Taehyung yang penuh akan penekanan itu.

Dan ia menelan ludahnya susah payah kala melihat seringaian mesum milik si pemuda Kim.

Oh, tentu saja ia tau maksudnya apa.

Jiwanya tengah terancam kawan-ahh

—lebih tepatnya bokong sintalnya.

"-ah, kau memang menantu idaman eomma Tae. Kalau begitu selamat bersenang-senang"

Dan sambungan telfon itu terputus begitu saja.

"Ya selamat bersenang-senang"

Jungkook merasa ingin menangis sekarang juga.

"—siap untuk berpesta malam ini bunny?"

Bisakah ia kembali memutar ulang waktu?

Harusnya ia tadi tak begitu saja menuruti perkataan ibunya yang menyuruhnya pulang bersama Taehyung.

Seharusnya juga ia lebih peka akan kejanggalan sikap ibunya itu.

Seharusnya ya?

Namun kini nasi telah menjadi bubur yang siap makan.

Dan ia sungguh menyesal sekarang.

.

"Eunghh, Tae-"

Lenguhan tertahan terdengar dari belah bibir tipis yang sudah membengkak itu. Sementara pemuda yang ia panggil tengah menenggelamkan wajahnya di perpotongan lehernya; mengendus leher seputih susu itu dengan rakusnya.

Jungkook tak tau pasti bagaimana dirinya bisa berakhir dengan terbaring pasrah di ranjang milik si pemuda Kim.

Yang ia ingat hanyalah, ketika dirinya menginjakan kakinya untuk pertama kali; duduk di sofa ruang tengah sambil menonton kartun pororo kesayangannya.

Taehyung yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan dua minuman kalengan. Memberikan sebuah pada Jungkook yang di ambil dengan penuh antusias. Karena jujur saja Jungkook merasa sangat haus dan panas.

Entah mengapa duduk di samping si mesum; di tambah lagi situasi yang mendukung membuatnya merasa canggung. Hawa di sekitarnya mendadak merasa panas; Panas yang membakar sehingga membuatnya kembali membayangkan ciuman panasnya siang tadi.

Dan sejujurnya Taehyung juga merasakan hal yang sama. Melihat Jungkook yang masih sama keadaannya dengan siang tadi membuat kejantanannya berontak ingin keluar dan minta di puaskan oleh lubang sempit milik si pemuda manis.

Diam-diam Taehyung melirik Jungkook lewat ekor matanya. Bagaimana wajah pucatnya yang sedikit merona, tangannya terlihat gemetaran memegang sekaleng minuman kemasan yang ia berikan.

Uh, lihatlah keringat yang mengalir melewati leher putihnya membuatnya semakin terlihat seksi serta menggairahkan; membuat little Tae mulai terbangun di bawah sana.

Entah karena merasa canggung karena berduaan dengan Taehyung atau grogi karena di lirik terus-terusan oleh si pemuda Kim. Jungkook malah menumpahkan minumannya, sehingga menumpahi sweater yang ia kenakan.

Dan entah mengapa Taehyung malah terangsang karena hal itu.

Tanpa babibu mulai menyerang bibir merah itu; sehingga Jungkook yang kaget sontak melepaskan genggamannya pada kaleng minumannya sehingga isinya yang tinggal setengah itu jatuh membasahi karpet.

Dan Taehyung tak memperdulikan semua itu.

Ia masih sibuk mengulum bibir yang mulai menjadi candunya, mengabaikan rontaan dari pemuda yang tengah ia cumbui itu.

Tepat ketika pemuda di hadapannya mulai memukul pundaknya; barulah ia melepaskan pagutannya itu. Menilik pemuda manis itu dengan cermat. Bagaimana wajah manisnya yang memerah dengan sempurnanya di sertai keringat yang membasahi wajahnya. Bibirnya yang membengkak karena ia cumbui secara ganas.

Dan ia bisa merasakan kejantanannya yang perlahan terbangun.

"Cantik—"

Maka Jungkook tak bisa berbuat apa-apa ketika bibirnya kembali di serang Taehyung. Ia hanya bisa pasrah karena tubuhnya juga seakan menginginkan hal ini.

Maka yang bisa ia lakukan hanyalah membalas lumatan yang di berikan Taehyung dengan sebisanya.

Dan ketika kembali merasakan pasokan udaranya mulai menipis; maka ia akan memukul bahu pemuda itu. Yang mana membuatnya tersadar jika ternyata Taehyung sudah membopong tubuhnya ke kamar si pemuda mesum.

"Ugh, Tae-" sejujurnya Jungkook merasa malu jika harus merengek seperti ini. Taehyung mendongak, menatap mata bulat yang juga tengah menatapnya dengan kilat nafsu yang tak ia tutup-tutupi lagi.

"Ada apa bunny?" Ia bertanya dengan tangannya yang masih melecehkan dada berisi milik pemuda di bawahnya; yang mana membuat si submisif menggelinjang erotis kala tonjolannya di pilin dengan kerasnya.

"Ugh- akk- Tae- panas" obsidiannya terlihat berkaca-kaca membuat pemuda di atasnya berdecak kagum akan pesona menggairahkan Jeon jungkook.

"Panas? Lalu aku harus apa sayang?" Tanyanya dengan suara rendahnya yang mana membuat Jungkook merasa kepalanya mau pecah akibat rangsangan yang si mesum berikan. Tangan satunya mulai turun ke bawah, membelai paha dalam milik pemuda yang tergolek lemah di bawahnya.

"Akk- ugh, Tae- ku mohon- hiks- panas" Jungkook terisak lirih. Taehyung yang melihatnya tambah menyeringai lebar. Dengan terburu melepaskan atasan yang di kenakan Jungkook; meninggalkan pemuda itu yang kini topless di bawahnya.

Menelan ludahnya susah payah kala melihat pemandangan indah yang tersaji tepat di hadapannya. Menahan dirinya agar tak langsung menerkam pemuda yang kini pasrah di bawah kungkungannya; menghancurkannya dengan sekali kunyah.

Setidaknya Taehyung harus membuat Jungkook benar-benar jatuh untuknya.

Bukan hanya sebatas pemuas nafsunya semata.

Namun seseorang yang juga harus ia ambil raga juga hatinya.

Merasa kejantanannya semakin berkedut tak sabar.

"Bersiap-siaplah baby boy-"

Kembali mencumbu bibir itu dengan tangan yang terus memanjakan titik sensitif di seluruh bagian tubuh Jungkook yang bisa ia gapai.

.

.

.

-TBC-

.

.

Ada yang masih inget ini? Maafkeun mbem, bukannya niat hilang tanpa arah dan tak tau arah jalan pulang.

Ini masih mbem lanjut, tapi pindah lapak wattpad aja ko. Mbem ga bisa tiap saat buka lappy, di tambah lagi magang juga. Paling pegang lappy di kantor dan itupun pas lagi buat berita. Pulang ke rumah langsung tidur jadi emang ga ada waktu buat leha-leha. Waktu weekend kalo ga di pake istirahat di rumah ya di pake hangout sama temen:D

Jadinya susah nyari waktu. Lah ini ko malah curcol? Jadi intinya ini epep tetep mbem pub sini, tapi ga tau kapan. Nunggu waktu yang pas gitu. Kalo emang kalian ga sabar pengen tau lanjutannya, bisa baca di wp: kelincitembem tapi ada beberapa bagian yang mbem private.

Oke, kaya nya segitu aja.

Mbem pamit ya^^

Salam ppyong~ppyong~