Title: BANGTAN HORROR CAMP
Cast: Yoongi, Hoseok, Taehyung, Namjoon, Jimin, Jin, Jungkook
Lenght: Chapter Part
Rating: 15+
Author: Tae-V [Twitter KTH_V95]
CHAPTER 8
.
Tak lama kemudian, Yoongi keluar dari tenda Jungkook dan Jimin, lalu menghampiri kelima bocah itu.
"Kau sudah bangun, hyeong?" tanya Jimin.
Yoongi menganggukan kepalanya. Wajahnya masih terlihat mengantuk.
"Hoseok mana? Ia masih tidur?" tanya Yoongi.
"Ia tidak ada di tendanya." sahut Namjoon.
Yoongi mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Dari tadi, kami tidak menemukan dimana Hoseok hyeong.." sahut Taehyung.
"Mwoya?" sahut Yoongi. "Maksudmu.. Hoseok menghilang?"
"Hoseok? Menghilang?" tanya Lee Joon, yang entah sejak kapan sudah berada di belakang keenam bocah itu.
Keenam bocah itu menoleh ke arah Lee Joon dan Jongsuk yang tengah berdiri di belakang mereka.
"Ne, hyeong.." sahut Jin dengan ekspresi cemas di wajahnya.
"Tadi siang ketika aku ke tenda Hoseok, ia sedang tertidur lelap sendirian, makanya aku membiarkannya tertidur..." sahut Namjoon.
"Mengapa ia sendirian? Kau dimana, Yoongi?" tanya Jongsuk sambil menatap Yoongi.
"Aku berada di tenda Jungkook dan Jimin." sahut Yoongi.
"Majjayo. Yoongi hyeong ada di tenda kami.. Ia bahkan tertidur di tenda kami.." sahut Jimin.
"Mengapa kau tertidur di tenda Jungkook dan Jimin, bukannya menjaga Hoseok di tendamu?" tanya Lee Joon.
"Hoseok mendengkur. Aku tidak bisa berkonsentrasi jika ada yang mendengkur begitu, hyeong." jawab Yoongi. "Aku tidak sengaja tertidur di tenda mereka, padahal niatku ke sana untuk membuat lagu."
Taehyung menatap Yoongi. "Kau masih bisa membuat lagu di tengah suasana setegang ini?"
Yoongi menatap balik ke arah Taehyung. "Aku bisa membuat lagu dalam situasi apapun, imma."
Taehyung mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Yoongi.
"Jadi, yang terakhir kali melihat Hoseok adalah Namjoon?" tanya Jin.
Namjoon menganggukan kepalanya sejenak, lalu ia teringat akan sesuatu.
"Ah, tidak! Bukan aku! Yoongi hyeong! Ia tadi sempat kembali ke tenda setelah aku keluar dari tenda mereka, ya kan?" sahut Namjoon sambil menatap Yoongi.
Yoongi menganggukan kepalanya. "Majjayo."
"Lalu, ketika kau ke tendamu, apa Hoseok hyeong masih ada disana?" tanya Jungkook sambil menatap Yoongi.
Yoongi menganggukan kepalanya. "Majjayo.. Ia masih tertidur lelap, makanya aku kembali ke tendamu."
"Jadi, Yoongi yang terakhir kali melihat Hoseok?" tanya Lee Joon.
"Apa ada suara aneh atau kejadian apa yang kalian dengar setelah Yoongi keluar terakhir kali dari tendanya?" tanya Jongsuk.
"Aku tertidur di tendaku, jadi aku tidak mendengar apa-apa.." sahut Taehyung.
"Aku juga kembali ke tendaku dan tertidur di sana bersama Jin hyeong.." sahut Namjoon.
"Aku, Jungkook, dan Yoongi hyeong sempat mengobrol, lalu tertidur sejenak.. Dan kami tidak mendengar apapun.." sahut Jimin.
"Lalu, kemana Hoseok?" tanya Jongsuk sambil mengernyitkan keningnya.
.
.
.
"JUNG HOSEOK! JUNG HOSEOK!"
"HOSEOK AH!"
"HOSEOK HYEONG! KAU DIMANA?"
Keenam bocah itu, bersama dengan Jongsuk dan Lee Joon, berteriak keras memanggil nama Hoseok sambil mencari keberadaan Hoseok di hutan sekitar area perkemahan.
Matahari hampir terbenam, tapi Hoseok belum juga mereka temukan.
Namjoon mulai merasa sangat panik, apalagi karena Hoseok sudah menjadi sahabat terbaiknya sejak lama.
"Dimana Hoseok? Dmana dia?" sahut Namjoon dengan bola mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tenang, Namjoon ah.. Kau harus tenang.." Jin berusaha menenangkan Namjoon.
"Bagaimana aku bisa tenang, hyeong? Hoseok sudah dekat denganku selama dua tahun dan ia menghilang di tengah situasi berbahaya seperti ini! Bagaimana aku bisa merasa tenang?" sahut Namjoon dengan nada meninggi.
Keheningan terjadi seketika.
Ini pertama kalinya, mereka semua melihat Namjoon hilang kendali.
"Hoseok ah... Kau dimana, Jung Hoseok?!" teriak Namjoon sambil berlutut di atas tanah, mengabaikan tanah yang mulai mengotori celana bagian lututnya.
"Namjoon ah..." Jin berjongkok dan memeluk Namjoon dari belakang, berusaha menenangkan Namjoon.
Sementara Namjoon pasrah berada dalam pelukan Jin. Namjoon menundukkan kepalanya dan air mata mulai menetes.
"Hyeong..." Taehyung, Jimin, dan Jungkook menatap Namjoon dengan tatapan penuh rasa iba.
"Jung Hoseok.. Dimana ia sebenarnya?" sahut Yoongi sambil memandang sekelilingnya.
.
.
.
Karena pencarian mereka tidak membuahkan hasil, mereka memutuskan segera kembali ke area perkemahan karena langit sudah semakin gelap.
"Jung Hoseok..." sahut Namjoon dengan lirih sambil terduduk di atas sebuah dahan pohon besar yang agak panjang.
Jin selalu setia berada di samping Namjoon, berusaha menenangkan Namjoon.
Sementara Jungkook, Jimin, dan Taehyung, sedang asik berbincang-bincang bertiga di dekat api unggun.
Yoongi terduduk sendirian tak jauh dari tempat Namjoon dan Jin duduk. Ia terlihat tengah berpikir.
Lee Joon dan Jongsuk tengah mempersiapkan makan malam untuk mereka santap di malam terakhir mereka di hutan itu.
"Kalau dipikir-pikir, yang terakhir kali melihat Hoseok hyeong adalah Yoongi hyeong, ya kan?" tanya Taehyung.
"Majjayo.." sahut Jimin sambil menganggukan kepalanya.
"Mengapa aku merasa ada yang aneh ya?" sahut Taehyung.
"Apa yang aneh?" tanya Jimin.
"Yoongi hyeong yang terakhir kali melihat Hoseok hyeong, dan tidak ada seorangpun yang bisa membuktikan hal itu.. Sementara Hoseok hyeong menghilang setelah Yoongi hyeong ke tendanya.. Begitu kan kejadian siang tadi?" tanya Taehyung.
Jungkook menganggukan kepalanya. "Majjayo.. Ah, kau tadi tertidur di tendamu makanya kau tidak tahu apa-apa ya?"
Taehyung menganggukan kepalanya. "Dan aku tidak mendengar ada suara apapun. Kalau ada suara aneh, aku pasti terbangun. Kupingku cukup sensitif."
Taehyung menatap Jungkook dan Jimin bergantian. "Tidakkah ini terdengar janggal?"
"Maksudmu... Yoongi hyeong? Yang menculik Hoseok hyeong hingga menghilang seperti ini?" tanya Jimin.
"Siapa lagi yang bisa melakukannya selain Yoongi hyeong? Bukankah ia yang terakhir kali menemui Hoseok hyeong di tendanya?" tanya Taehyung.
Jungkook menatap Taehyung. "Ucapanmu ada benarnya, hyeong!"
"Lalu.. Bisa jadi juga pelakunya diantara Jongsuk hyeong dan Lee Joon hyeong kan?" tanya Jimin.
"Kalau Yoongi hyeong tidak berbohong dan mengatakan ia benar-benar melihat Hoseok hyeong masih terlelap di tendanya siang tadi, berarti pelakunya diantara kedua hyeong itu.. Tapi.. Ada kemungkinan justru saat Yoongi hyeong sempat kembali ke tendanya untuk beberapa saat lamanya sebelum ia kembali ke tenda kami, saat itulah ia mengajak Hoseok hyeong pergi ke suatu tempat dan menculiknya..." sahut Jungkook.
"Dan jujur saja.. Kalau ku ingat-ingat lagi... Selama ketiga mayat teman-teman kita kemarin ditemukan, ekspresi Yoongi hyeong terlihat sangat datar... Seolah tidak terlalu terkejut.." sahut Jimin.
"Ia bahkan masih sempat terpikirkan untuk membuat lagu di tengah suasana berbahaya begini.." sahut Jungkook.
Mereka bertiga saling bertukar tatapan.
"Ada yang aneh, ya kan?" sahut Taehyung sambil mengernyitkan dahinya.
"Apa yang aneh?" tanya sebuah suara yang agak berat, yang membuat ketiga bocah itu membeku di tempat seketika.
"Yoon.. Yoongi hyeong.." sahut Jimin. Entah mengapa tiba-tiba saja detak jantungnya berdetak sangat tidak karuan.
"Apa yang aneh?" sahut Yoongi, yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang ketiga bocah itu.
"Sejak kapan.. Kau disini, hyeong?" tanya Jungkook.
"Baru saja. Waeyo?" tanya Yoongi dengan ekspresi datar dan santai seperti biasanya.
Taehyung menatap Yoongi.
"Ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Yoongi sambil menatap Taehyung.
"Apa kau mendengar apa yang kami bahas barusan?" tanya Jungkook.
Yoongi menggelengkan kepalanya. "Setibanya aku disini, aku hanya mendengar Taehyung berkata ada yang aneh. Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Apa benar ia tidak mendengar apapun?" gumam batin Taehyung.
"Hoseok hyeong.. Aneh sekali, mengapa ia bisa tiba-tiba menghilang begini.." sahut Taehyung, berusaha mengalihkan arah pembicaraan sebelum Jimin dan Jungkook kelepasan bicara.
"Adakah yang tidak aneh degan semua kejadian selama kita berada disini?" sahut Yoongi. "Semua keanehan terjadi disini.. Ada yang aneh dengan Bangtan Camp ini.."
Jimin menganggukan kepalanya. "Aku.. Menyesal mengikuti perkemahan ini..." sahut Jimin dengan nada lirih.
.
.
.
Setelah selesai makan malam, semua peserta perkemahan yang tersisa diwajibkan masuk ke dalam tenda dan jangan ada yang berkeliaran.
"Besok siang, mobil van akan segera menjemput kita! Kalian harus memastikan diri kalian masing-masing aman malam ini agar besok kita bisa kembali dengan selamat!" sahut Jongsuk.
"Jangan ada yang nekat berkeliaran kalau ingin nyawa kalian selamat, araseo?" sahut Lee Joon.
Semua peserta perkemahan yang tersisa menganggukan kepalanya.
Ah, tidak semua!
Ada satu orang yang terdiam tanpa menjawab ataupun memberikan reaksi.
Kim Namjoon.
Jongsuk dan Lee Joon kembali ke kemah mereka, begitu juga dengan semua peserta perkemahan lainnya.
Namun, baru saja Jin berjalan masuk ke dalam tendanya, Namjoon bukannya ikut berjalan masuk, ia justru berlari menjauh dari tenda itu, menuju ke tengah hutan.
"Apapun yang terjadi, aku harus menyelamatkan Hoseok! Aku yakin psikopat sialan itu baru akan beraksi tengah malam! Hoseok pasti baru ditahan di suatu tempat dan mungkin aku bisa menyelamatkan nyawanya!" teriak batin Namjoon sambil berlari kencang, menghiraukan semua teriakan yang memanggil namanya.
"NAMJOON HYEONG! BERHENTI!"
"KIM NAMJOON!"
"KIM NAMJOON, KEMBALI!"
Jin, Jungkook, Jimin, dan Taehyung terus berteriak memanggil Namjoon. Sementara Yoongi yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam tendanya tidak memberikan reaksi apapun.
Tentu saja, Namjoon mengabaikan semua panggilan itu. Hanya keselamatan Hoseok yang menjadi satu-satunya hal yang ada di benaknya.
Jongsuk dan Lee Joon yang mendengar keributan itu segera berjalan keluar tenda.
"Ada apa lagi?" tanya Jongsuk.
"Namjoon hyeong! Ia berlari sendirian ke dalam hutan!" sahut Jimin dengan nada panik.
"Yaishhhh! Bukankah sudah kubilang jangan ada yang berkeliaran sendirian lagi malam ini!" gerutu Lee Joon dengan eskpresi kesal di wajahnya.
Jongsuk menatap keempat bocah itu.
"Kembalilah ke tenda kalian masing-masing... Kalau kita ikut menyusul Namjoon, nyawa kita juga akan terancam. Lebih baik kita iklaskan kepergiannya daripada korban harus semakin bertambah..." sahut Jongsuk.
"Tapi hyeong!" Jin berusaha membantah.
"Kau ingin menyelamatkan Namjoon? Silakan pergi menyusulnya! Aku sudah lelah menangani ini semua. Aku juga ingin selamat, araseo?" sahut Lee Joon dengan ekspresi kesal.
Semua terdiam. Ucapan Lee Joon ada benarnya.
"Aku... Harus bagaimana? Namjoon ottoke?" sahut Jin dengan anda lirih.
"Aku... Juga tidak berani menyusul Namjoon hyeong..." sahut Jimin dengan nada takut.
"Nado..." sahut Jungkook sambil menundukkan kepalanya.
"Aku juga.. Ingin selamat..." sahut Taehyung pelan.
Air mata mulai menggenangi kedua bola mata indah milik Jin ketika mereka berempat memutuskan kembali ke dalam tenda.
Mereka berempat memutuskan untuk berkumpul di tenda Jungkook dan Jimin. Untung saja tenda mereka paling luas diantara tenda lainnya.
Dan ketiga bocah itu pun berusaha menenangkan Jin yang mulai menangisi Namjoon setibanya mereka di dalam tenda itu.
"Namjoon ah.. Namjoon ah..." sahut Jin dalam isak tangisnya.
"Kau... Mulai jatuh cinta pada Namjoon hyeong kah, hyeong?" tanya Jungkook.
Jujur saja, Jungkook merasa cukup aneh melihat Jin yang sebegitu histerisnya melihat kepergian Namjoon barusan.
Jin perlahan menganggukan kepalanya.
"Aigoo... Hyeong..." Tanpa sadar air mata mulai menggenang di kedua bola mata Jimin melihat Jin sesedih itu karena Jin begitu mencintai Namjoon.
Taehyung perlahan mengusap pelan kepala Jin. "Himnae, hyeong..."
Tiba-tiba, seolah baru tersadar, Jimin bertanya, "Ngomong-ngomong.. Dimana Yoongi hyeong? Mengapa ia tidak keluar ketika mendengar kita meneriakan nama Namjoon hyeong?"
Semua tatapan terarah kepada Jimin.
"Majjayo.. Yoongi hyeong! Mengapa ia tidak menahan Namjoon hyeong?" sahut Jungkook dengan ekspresi terkejut.
.
.
.
Namjoon terus berlari di tengah kegelapan di hutan itu sambil terus meneriakan nama Hoseok.
"JUNG HOSEOK! KAU DIMANA, JUNG HOSEOK?"
Beberapa ranting pohon di dalam hutan itu berduri, dan membuat pipi Namjoon tergores sehingga mengeluarkan sedikit darah.
Namun, Namjoon sama sekali tidak menyadarinya.
Bagi Namjoon, keberadaan Hoseok yang terpenting saat itu.
Ia bahkan sama sekali tidak sadar bahwa pipinya tergores dan mengeluarkan darah.
"JUNG HOSEOK!"
Namjoon terus berlari sambil meneriakan nama Hoseok di tengah kegelapan.
.
.
.
"Hhhhhhh... Hhhhhhhh..."
Sebuah rintihan desahan terdengar dari dalam sebuah rumah tua kecil di tengah hutan itu.
"Hhhhh... Hhhhh..."
Hoseok akhirnya berhasil membuka kedua matanya dan tersadar dari pingsannya.
"Aku... Dimana?" gumam batinnya sambil menatap sekelilingnya hanya dengan menggerakan kedua bola matanya.
Sekujur tubuhnya terasa sangat lemas dan nyeri. Nyaris tidak bisa digerakan.
"Aku.. Dimana..." gumamnya pelan, entah kepada siapa ia berbicara.
Hanya ada dirinya seorang dalam rumah tua yang sudah lama tidak terpakai itu.
"Aku.. Dimana?" gumamnya lagi sambil berusaha menggerakan kaki dan tangannya.
Matanya terasa perih karena darah yang sempat masuk ke dalam matanya dan kini sudah mengering.
Nyeri di kepalanya benar-benar membuatnya meringis kesakitan.
Tetesan darah yang menetes dari kepalanya dan membasahi sudut kiri wajahnya sudah mengering, namun luka bekas pukulan di kepalanya itu benar-benar masih terasa sangat menyakitkan.
Hoseok berusaha mengingat apa yang terjadi padanya, namun rasa sakit itu membuatnya tak bisa mengingat apa sebenarnya yang tengah menimpanya.
"Hhhhhh... Hhhhhhh..." Hoseok kembali merintih.
Dan tiba-tiba, samar-samar dari kejauhan terdengar sebuah suara.
"JUNG HOSEOK! KAU DIMANA, HOSEOK AH! JAWAB AKU! JEBAL!"
"Nam.. Hhhh.. Nam... Joon?" gumam Hoseok pelan.
Hoseok ingin berteriak, mengatakan ia ada di dalam sana. Namun apa daya? Ia bahkan tidak bisa bersuara dengan keras, apalagi bergerak untuk meminta pertolongan!
"JUNG HOSEOK!"
Suara teriakan Namjoon terdengar semakin mendekat ke arahnya.
"Namjoon ah... Aku.. Hhhhh... Disini..." gumam Hoseok pelan.
Dan tak lama kemudian.
GUBRAK!
Pintu rumah tua itu terbuka lebar.
Debu bertebaran ketika pintu itu terbuka secara paksa.
Dan samar-samar, Hoseok bisa melihat sosok itu.
Berjalan mendekat ke arahnya.
"Nam... Joon.. ah..." gumam Hoseok pelan.
Namjoon segera berlari menghampiri Hoseok.
"Hoseok ah! Hoseok ah! Kau kenapa? Kau masih hidup? Kau baik-baik saja?" sahut Namjoon sambil berjongkok di depan Hoseok.
"Nam.. Joon.. ah..." gumam Hoseok lagi dengan sekuat tenaga yang masih tersisa di tubuhnya.
"Darah! Kepalamu berdarah! Kau baik-baik saja, Hoseok ah?" tanya Namjoon.
Tentu saja Hoseok sangat tidak baik!
Air mata mulai menetes dari kedua bola mata Namjoon.
"Hoseok ah! Untung kau masih hidup, Hoseok ah! Aku sangat mencemaskanmu, imma! Apa kau tahu? Aku ingin mati rasanya tadi ketika aku berlari berjam-jam dan tidak juga berhasil menemukanmu!" sahut Namjoon sambil memeluk tubuh Hoseok yang terduduk lemah di hadapannya.
Hoseok menyandarkan kepalanya di pundak Namjoon. "Gumawo.. Hhhhh... Imma... Hhhh..."
Namjoon melepaskan pelukannya dan berusaha menggendong tubuh Hoseok di punggungnya.
"Ayo kita segera pergi dari sini sebelum psikopat sialan itu tiba! Aku akan berusaha menyelamatkanmu, apapun taruhannya!" sahut Namjoon.
Namun..
Baru saja Namjoon melangkah sebanyak dua langkah..
Sosok itu sudah berdiri.
Tepat di depan pintu rumah tua itu.
Dengan seringai mengerikan di wajahnya.
"Mau kemana kalian?" sahut pria itu dengan nada yang sangat mengerikan.
"Kau... Kau... Pelakunya?" sahut Namjoon sambil membelalakan kedua bola matanya.
Dan seketika itu juga, semua ingatan Hoseok kembali.
Mulai dari ketika ia berjalan keluar tenda bersama pria yang berdiri di hadapannya itu.. Sampai ketika ia pingsan akibat siksaan pria mengerikan itu.
.
-TBC-
reply for review:
Julia kie : psikopatnya bang shihyuk pdnim seru kali ya XD
Habibahjeon : /smirk/ wkwkw XD
chaeun97 : ini kelanjutannya semoga suka ya :) widihhh namjin shipper kah? :)
aliyasepti : hayolo tuh namjoonnya ketemu pelakunya hayo XD
bities : kok saya jahat? psikopatnya tuh yg jahat wkwkw XD
