Meet the Muggle-born: Justin Finch-Fletchley
Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.
.
.
Aroma udara malam Hogwarts memenuhi hidungnya. Untuk sesaat Justin merasa bernostalgia dan itu mulai membuatnya sedih, namun tak ada waktu untuk bersedih. Ia sudah kembali ke Hogwarts dan bertekad membantu sebisanya. Lagipula ia sudah pernah melumpuhkan dua Pelahap Maut dewasa.
Ia mengendap-endap memeriksa situasi. Begitu aman, ia langsung berlari cepat. Hogwarts dari kejauhan tampak menyedihkan. Suara-suara bercampur baur dan banyak api di sana-sini. Tiang-tiang gawang di lapangan Quidditch roboh dan tribunnya terbakar.
Justin hati-hati sekali dengan langkahnya. Salah-salah ia bisa berhadapan dengan Pelahap Maut dan sepertinya bukan pertanda baik. Lamat-lamat ia mendengar nama Harry Potter disebut-sebut oleh sekawanan Pelahap Maut. Dari kejauhan ia melihat rumah kaca diserbu Profesor Sprout dan kawanan murid. Tanpa mengurangi kewaspadaan, ia berlari cepat menuju mereka.
"Oh, Justin!" teriak Profesor Sprout kaget ketika mereka berpapasan di pintu. Hampir saja ia menjatuhkan pot Mandrake yang dibawanya. "Cepat pakai penutup telinga dan bawa satu pot Mandrake!"
Justin melakukan apa yang diperintahkan. Bersama-sama mereka berlari melintasi lapangan. Mereka bersembunyi di balik dinding sementara segerombolan Pelahap Maut mulai memasuki Hogwarts. Dengan aba-aba Profesor Sprout, mereka menarik Mandrake dari potnya dan melemparkan mereka ke arah Pelahap Maut. Selagi para Pelahap Maut berhadapan dengan tangisan Mandrake yang memecah gendang telinga, Justin dan rombongannya masuk ke dalam kastil sambil melempar mantra. Di dalam mereka tetap bersama Profesor Sprout, mencoba mengatasi siapa saja Pelahap Maut yang mereka jumpai.
Di dalam kastil ia bertemu lebih banyak orang dewasa dan para murid. Disana ia bertemu murid-murid kelahiran-Muggle lain: kakak-beradik Creevey dan pelarian juga seperti dirinya, Dean Thomas.
"Bagaimana ibumu? Kalian pergi ke mana?" tanya Dean.
"Kami pergi ke Georgia," jawab Justin, melepas penutup telinganya dan menggantungnya di leher.
"Brilian!" seru Dean.
Pada saat itu Seamus Finnigan bergabung bersama mereka. "Justin! Darimana saja kau? Aku tak melihatmu di Ruang Kebutuhan tadi."
"Aku barusan datang dari Georgia. Aku mengungsi ke sana bersama ibuku."
"Oh, bagus," tiba-tiba Seamus terdengar agak sinis. "Pasti kau hidup enak ya di sana? Yang lain sudah di sini lebih awal."
"Jelas saja, mereka sudah ada di sekolah dari awal!" timpal Justin jengkel, tak mengerti dengan sikap Seamus. Mungkin ia sedang kalut karena suasana perang.
"Dean juga dalam pelarian, tapi dia toh tetap kemari," ujar Seamus. Ia mengamati penampilan Justin dalam jaket Mugglenya.
"Sebut aku Hufflepuff pengecut, aku tidak peduli," kata Justin akhirnya.
Seamus masih tampak tak berkenan, tapi kemudian Dean maju membelanya. "Justin sudah berani dengan caranya sendiri. Ia sendirian melindungi ibunya, melarikan diri menghindari Pelahap Maut yang mengejarnya sampai luar negeri."
Seamus agak mati kutu dan itu mencegah Justin bicara lebih banyak lagi. Profesor Sprout mengingatkan mereka agar tak bertengkar di situasi sekarang. Mereka bisa ngobrol lebih banyak nanti.
Sepanjang sisa malam Justin berusaha menemui siapapun teman yang bisa ia temui. Bisa ditebak bahwa teman-temannya di Hufflepuff macam Ernie, Susan, dan Hannah sangat senang bisa melihatnya kembali. Mereka bicara banyak di sela-sela pertempuran, namun tetap waspada dan tidak mau lengah. Namun di sisi lain Justin tak ingin mengingat banyak kejadian malam ini. Di samping perang bukanlah kenangan yang menyenangkan, diam-diam ia ingin menuruti ibunya. Sudah berbulan-bulan ia mempertimbangkan ini: ia akan meninggalkan dunia sihir.
Diam-diam Justin berurai air mata, namun segera dihapusnya. Ia tak ingin dilihat teman-temannya dan air mata mengganggu penglihatannya. Ia mengerahkan usaha terbaiknya untuk membantu memenangkan perang.
Pada akhirnya ketika perang dimenangkan dan Voldemort serta kroni-kroninya dikalahkan, Justin jatuh terduduk lesu. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia akan sangat merindukan Hogwarts. Kalau ingin, ia mau tidur di asrama Hufflepuff untuk terakhir kali. Setelah itu ia bisa pergi tanpa memberi tahu siapa pun. Namun ini sudah menjelang pagi dan ibunya pasti mencarinya.
Setelah makan ala kadarnya, ia mencari-cari tiga sahabatnya, tapi tak menemukan mereka. Baguslah, batin Justin. Namun di sisi lain ia ingin melihat mereka untuk terakhir kalinya.
Matanya menangkap sosok Harry Potter di sisi lain aula. Justin bangkit dan memberi ucapan selamat padanya, juga pada Ron Weasley dan Hermione Granger. Ia juga mengucap selamat tinggal yang dibalas ala kadarnya karena mereka sendiri kecapekan. Mereka sama sekali tak tahu jika ucapan itu benar-benar diniatkan untuk selamat tinggal yang sesungguhnya.
Justin berjalan tertatih keluar kastil. Kakinya nyeri dan ia terluka di beberapa tempat. Di dekat pintu keluar ia bertemu tiga orang yang tadi dicarinya.
"Justin! Mau kemana kau?" tanya Susan. Rambut merahnya tampak panjang sebelah. Serangan telah memotong rambutnya dengan potongan tidak simetris.
"Aku mau pulang," jawabnya.
"Ke Georgia?" Hannah maju mendekat. Justin mengangguk. "Apa tidak terlalu cepat? Kau masih tampak lemah."
"Aku baik-baik saja. Aku… selamat tinggal."
Ernie buru-buru maju memeluknya, menepuk punggungnya beberapa kali. "Kirim surat. Kabari kami kalau kau dan ibumu baik-baik saja."
"Benar," giliran Susan. "Kami mungkin akan main ke rumahmu setelah kau kembali ke Inggris. Iya, kan?"
Ernie dan Hannah mengangguk. Tapi tak ada satupun dari mereka bertiga yang menyangka niat Justin yang sesungguhnya.
Justin menyeka air matanya yang keluar lagi. Ia tidak menoleh ke belakang. Seperti kata ibunya, ia tidak boleh menengok ke belakang. Di jembatan, Justin berhenti sejenak. Ia mengambil koin LD dari sakunya. Menatapnya untuk yang terakhir kali, Justin lalu membuangnya ke dasar jurang. Mungkin setelah ini ia akan membakar buku-buku pelajarannya, ia tak tahu. Tapi yang pasti, ia akan tetap menyimpan tongkat sihirnya.
Kemudian Justin berjalan terpincang lagi tanpa menoleh ke belakang.
.
xxx
Hari sudah benar-benar pagi ketika Justin tiba di rumah Irakli. Ia langsung mendapati wajah ibunya yang sangat cemas. Ketika melihat anaknya, sang ibu langsung mengomel. Betapa ia sudah memperingatkan Justin agar tidak kembali ke dunia sihir Inggris dan betapa cerobohnya dia.
"Ibumu sangat marah padaku tadi," kata Irakli.
"Maafkan aku, Mama. Tapi sekarang aku kembali, kan? Aku tidak apa-apa, kan?" Justin meyakinkan ibunya.
"Tidak apa-apa apanya? Kau terluka, Nak!" kata ibunya terguncang.
"Cuma luka biasa. Anak laki-laki bukan anak laki-laki kalau tidak pernah terluka."
"Kau bicara omong kosong!"
Seperti keinginan ibunya, mereka berdua akan kembali ke Inggris dan hidup normal sebagai Muggle. Di malam perpisahan, Irakli membuat pesta kecil-kecilan dengan mengundang tetangga. Para tetangga ikut berbahagia karena akhirnya tidak ada lagi teror di dunia sihir.
Justin dan ibunya akan terus mengenang jasa Irakli walau setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi.
Justin dan ibunya meninggalkan Georgia dalam damai dan memasuki Inggris dengan sukacita. Sang ibu sudah benar-benar merancang masa depan sang anak, yang tentu saja jauh dari bayang-bayang sihir.
"Kau bisa datang ke Kementerian Sihir dan meminta mereka membuatkan surat kelulusan dengan ijazah sekolah Muggle. Memang bukan dari Eton, tapi setidaknya kau bisa mencoba masuk universitas yang bagus," ucap ibunya. "Dan lihatlah, pramugari itu cantik sekali. Mama tak keberatan punya menantu seperti itu."
Justin melempar tatapan tajam pada ibunya, yang dibalas cekikikan. Namun Justin lega. Setidaknya sang ibu sudah ceria kembali setelah sekian lama berada dalam kesuraman.
Setelah itu Justin pergi ke Kementerian Sihir dengan sembunyi-sembunyi. Ia segera pulang karena tidak ingin bertemu siapapun yang dikenalnya. Untung Kementerian tidak mengendus sesuatu yang mencurigakan darinya. Justin bilang ia hanya ingin menuntut ilmu Muggle. Ia senang belajar.
Pada akhirnya Justin dan ibunya pindah rumah. Ibunya membuka usaha dari sisa-sisa uang mereka dan memulai kehidupan dari awal. Selagi kuliah, Justin berusaha bekerja paruh waktu agar tak merepotkan ibunya.
Pada akhirnya Justin lulus dan mendapat pekerjaan yang bagus. Dan ibunya kembali menyinggungnya tentang mencari istri.
.
xxx
"Apa kenangan terburukmu, Justin?" ucap gadis bernama Helena itu. Mereka bertemu kembali sepulang kerja.
"Kenangan terburuk?" Justin heran.
Helena tertawa. "Aku sudah tahu kenangan terbaikmu. Sekarang aku ingin tahu kenangan terburukmu."
Justin berpikir, lalu mengatakan hal yang baru kemarin ia pikirkan. "Kenangan burukku adalah ketika aku berada dalam ketakutan dan terpaksa meninggalkan dunia yang kucintai."
Helena mengernyit, namun kemudian tidak berkata apa-apa lagi. Seperti sebelumnya, ia tidak berani menginvasi perasaan terdalam Justin kalau bukan Justin sendiri yang cerita. Ia harus berhati-hati atau Justin tak akan tertarik padanya lagi. Ia sudah mendapat wanti-wanti ini dari ibu Justin.
Justin pulang dalam keadaan capek. Hari sudah memasuki malam ketika ia membuka pintu rumah dan mencium aroma masakan ibunya. Jujur saja Justin galau beberapa hari ini. Bukan hanya karena soal jodoh. Helena membuka kembali ingatannya dengan bertanya apa kenangan terbaiknya. Ia tidak ingin kembali ke memori yang baru diingatnya kembali kemarin, tapi pikiran itu berkali-kali menyita pikirannya.
"Bagaimana Helena?" tanya ibunya sambil duduk di meja makan, bergabung dengan anaknya.
"Baik," ucap Justin seadanya. Sang ibu menangkap firasat bahwa sang anak masih tidak berminat pada Helena. Ia menghela napas berat.
Justin tidak memerhatikan ekspresi ibunya. Tatapannya kosong ke depan, dan tersentak ketika pintu geser di hadapannya bergeser dengan sendirinya. Tak hanya Justin, ibunya juga ikut-ikutan kaget.
"Pasti kena angin," kata ibunya berusaha berpikir logis. Namun siapapun pasti tahu pintu itu terbuka secara tak wajar. Tak ada angin yang begitu kuat di luar. Memberanikan diri, ibunya menutup kembali pintu geser yang memisahkan dapur dengan taman belakang itu.
Di masa lalu ibu Justin agak paranoid dengan yang namanya hantu. Ada kejadian aneh sedikit langsung dikaitkan dengan hantu. Namun kelamaan ia tahu siapa 'biang keroknya'. Bukan hantu, melainkan anaknya sendiri. Mereka sekeluarga akhirnya tahu kenapa di saat tertentu piring menggeser sendiri atau saluran TV berpindah sendiri.
Dan di saat aneh seperti tadi, ibunya berusaha berpikir itu ulah hantu. Sebenarnya agak aneh berpikir seperti ini, mengingat ia sendiri sudah sangat lama tidak berpikir seperti itu. Ia memandang takut-takut ke arah Justin, yang segera menangkap maksud ibunya.
"Aku lapar. Aku ingin makan," kata Justin segera. Mereka lalu makan dalam diam. Masing-masing dari mereka memikirkan hal yang sama. Mengapa setelah begitu lama Justin menampakkan kembali sihir tanpa tongkat, seperti ketika ia kecil dulu. Tapi itu dulu waktu Justin masih terlalu muda untuk mengerti dan mengontrol. Namun setelah Justin memutuskan untuk mengabaikan sihir, nyatanya pemuda itu bisa melakukannya kembali. Setelah begitu lama, kemampuan itu muncul lagi…
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Nak?" tanya ibunya hati-hati.
"Tidak ada," kata Justin, masih menatap makanannya.
"Dengar," kata ibunya segera. "Kalau kau tidak ingin lanjut dengan Helena, kau bisa berhenti."
Justin mengangkat wajahnya. Ia merasa aneh. "Lalu mencarikanku perempuan lain?"
"Tidak kalau kau memang tidak ingin."
Entah Justin harus bersyukur atau tidak, tapi ia mengiyakan. Sehabis makan ia berjalan bagai robot yang nyaris kehabisan sumber energi ke kamarnya. Ia merasa hampa. Perasaan aneh itu juga masih ada. Pintu geser tadi, kenapa membuka sendiri? Orang waras mana pun pasti sadar ada yang tidak wajar. Mungkinkah hantu?
Atau mungkin itu memang ulah dirinya sendiri?
Justin ingin menyangkal, tapi mau tak mau tuduhan itu tetap harus dialamatkan padanya. Ia tadi memandangi pintu itu lama. Memang pikirannya sedang tidak fokus, tapi begitulah yang kadang terjadi padanya di masa lalu, khususnya ketika ia belum masuk Hogwarts. Ketika sedang risau, bahkan ketika bahagia pun, ia bisa membuat berbagai hal aneh terjadi.
Tapi sudah lama sekali sejak ia terakhir menggunakan sihir. Sejak perang berakhir. Ia berhasil hidup bertahun-tahun sebagai Muggle biasa.
"Aku bukan penyihir." Tanpa sadar Justin mengulang kalimat itu. Kalimat yang ia sering ucapkan di awal-awal kehidupan barunya sebagai Muggle dulu. Kalimat afirmasi yang berhasil mengubah dirinya.
"Aku bukan penyihir," katanya lagi. Ia katakan itu berulang-ulang. Ia meyakini bahwa seorang Muggle tetap seorang Muggle. Penyihir tidak akan terlahir di keluarga Muggle. Mungkin benar kata orang-orang darah-murni pembenci Muggle: kelahiran-Muggle bukanlah penyihir. Mereka hanya mencuri sihir dari penyihir lain. Atau kalau tidak, leluhur mereka pastilah yang mencurinya, lalu kemampuan itu baru menurun di beberapa generasi setelahnya.
.
xxx
Justin terbangun pada pagi harinya dengan heran. Bagaimana bisa ia tidur masih dengan memakai pakaian kerjanya? Dan bagaimana bisa ia tidak mandi dulu? Dan bagaimana bisa kamarnya berantakan?
Justin buru-buru bangkit dan langsung mengecek apakah ada yang hilang. Apa semalam ada perampok? Ia lalu mengecek keberadaan ibunya, yang syukurlah, baik-baik saja dan baru keluar dari kamarnya.
"Justin, Nak, ada apa?" tanya ibunya. Ia heran dengan keadaan anaknya.
Justin bernapas lega. "Tidak apa-apa." Ia memutuskan tidak menceritakan tentang kamarnya yang berantakan. Itu pasti ulah sihirnya lagi yang tidak bisa dikontrolnya.
"Kau tampak berantakan," kata ibunya prihatin. Diletakkannya tangannya di dahi Justin, dan segera terlonjak merasakan kening anaknya yang panas. Ibunya segera menyiapkan air hangat untuk mandi dan menyuruh Justin tidak masuk kerja.
Justin kembali ke kamar. Ia bahkan tidak sadar kalau dirinya demam. Ia menatap sekelilingnya. Berantakan. Tidak mungkin ia membuat kamar berantakan dalam keadaan tidur. Ia berusaha mengingat kejadian semalam. Pikirannya terlalu kalut dan ia kecapekan. Mungkin saat itulah ia membuat kamarnya berantakan tanpa ia sadari.
Justin duduk di tepi ranjang, masih mengamati kamarnya. Ibunya sudah turun ke bawah untuk menyiapkan air hangat. Setidaknya di sela waktu sebelum mandi ia harus merapikan kamarnya.
Namun ia merasa letih dan lemah untuk merapikannya. Ia masih duduk di situ sampai ibunya memanggil dari bawah. Tak kunjung dapat jawaban, langkah sang ibu terdengar menaiki tangga. Justin panik. Dan di tengah kepanikan itu, ia berkonsentrasi memandangi kamarnya dan dengan menahan napas, Justin menyaksikan sendiri bagamana kamarnya merapikan diri sendiri. Tepat ketika ibunya sampai di pintu, kamar Justin rapi kembali.
"Kau kenapa, Nak?" tanya ibunya mendapati Justin hanya bengong saja. Ibunya memandang berkeliling kamar dengan khawatir, dan entah kenapa, gagasan sihir Justin yang kembali muncul mengusik pikirannya lagi.
.
xxx
Tidak banyak yang bisa dilakukan orang sakit. Hanya makan dan istirahat. Ia terlalu pening untuk membaca koran atau nonton TV. Ibunya sengaja tinggal di rumah untuk menjaga Justin. Untunglah setelah sore hari keadaan Justin jauh membaik. Kebosanan, ia minta izin untuk pergi ke luar mencari angin.
"Angin kok dicari, nanti sakit lagi, lho," gurau ibunya, tapi akhirnya ia mengizinkan. Justin ke kamarnya untuk siap-siap. Tanpa ibunya tahu, diam-diam Justin menyelipkan tongkat sihir ke jaketnya. Tongkat sihir yang lama sekali tidak disentuhnya. Tadi ia diam-diam mengambilnya dari gudang, di koper Hogwarts lamanya. Tertimbun di antara seragam dan alat-alat sekolahnya yang lain. Ia juga memakai mengambil sweter, syal, dan dasi Hufflepuffnya. Justin menumpuk kausnya dengan sweternya yang sekarang terasa agak sempit, memakai jaket, lalu menyelipkan syalnya ke balik jaket yang kemudian ia tutup ritsletingnya sampai atas.
Justin sendiri tidak mengerti apa tujuannya mengambil sweter, dasi, syal, dan tongkat sihirnya dulu. Tadinya ia hanya ingin sedikit nostalgia, tapi ia rasa itu akan melawan afirmasinya sendiri kalau ia bukan penyihir. Seharusnya dulu ia membuang tongkatnya seperti ia membuang koin LD-nya. Lalu ia membakar buku-buku pelajaran dan alat-alat sekolahnya. Selesai. Lalu ia bisa melanjutkan hidup sebagai Muggle dengan tenang.
Tapi benarkah begitu?
Di luar rumah, Justin membuka ritsleting jaketnya sampai bawah hingga menampakkan sweter dan syal Hufflepuffnya. Setidaknya ibunya tidak akan tahu. Ia lalu masuk ke kafe terdekat, memesan susu dan pai.
Justin memilih duduk di belakang kaca yang menghadap ke luar kafe. Ia suka duduk dalam posisi begitu. Dengan begitu ia bisa melihat keadaan di luar.
Baru diasadarinya pai yang dimakannya mengingatkannya pada pai yang biasa dimakannya di Hogwarts. Memang tidak mirip betul, tapi tiba-tiba saja ia merasa teringat kembali.
Jangan disini, batin Justin, ketika merasakan hidungnya nyeri. Ia tidak ingin menangis, setidaknya tidak di tempat umum.
Justin mengangkat wajahnya, dan saat itu pula, melalui pantulan kaca, ia menangkap pandangan seorang wanita yang langsung membuang muka. Bukannya tak tahu, hanya saja dari tadi ia sudah mengamati tingkah laku si wanita. Justin hanya berpikir mungkin saja wanita itu terpana melihat ketampanannya. Ia sudah biasa melihat perempuan yang seperti itu. Tapi lama kelamaan, entah kenapa Justin merasa ada yang tidak beres. Apalagi wanita itu memakai syal yang nyaris menyembunyikan bibirnya, memakai topi yang tampaknya kebesaran, rambut yang dikucir ke belakang, dan memakai kacamata semi gelap.
Justin buru-buru menghabiskan pai dan susunya. Rasanya seperti tertarik kembali di masa ketika ia dan ibunya menghindari Pelahap Maut di Georgia dulu.
Tidak mungkin wanita itu Pelahap Maut, pikir Justin. Ia bernapas lega karena wanita itu tidak mengikutinya keluar, namun begitu membuka pintu kafe, ia tidak sengaja menabrak seorang pemuda yang mabuk.
"Kaupikir siapa kau?" bentak pemuda itu, membuat orang-orang di dalam kafe menoleh.
"Aku bukan siapa-siapa. Selamat malam!"
Justin berjalan cepat-cepat meninggalkan kafe, tapi pemuda itu masih emosi padanya. Jantung Justin berdegup. Walau sudah pernah terlibat dalam perang sihir dan melawan Pelahap Maut, tapi ia belum pernah berhadapan dengan orang mabuk.
Pemuda itu mengejarnya, dan sesaat sebelum pemuda itu menyerangnya dari belakang, Justin langsung menghindar ke samping. Itu membuat si pemuda terhuyung dan ia makin marah. Justin kaget ketika pemuda itu mengeluarkan sesuatu yang tajam dan berkilau. Pisau.
Saat itulah Justin menyesal kenapa ia tidak pernah belajar bela diri. Di tengah kekalutannya, Justin memutuskan untuk berlari. Namun pemuda itu punya tenaga ekstra yang tidak dikira Justin. Keringat dinginnya mulai bercucuran. Kepalanya pening lagi. Sebelum pisau itu mengenainya, tangan Justin meraba saku dalam jaketnya.
"Expelliarmus!"
Terdengar suara benda terbanting. Pemuda itu tak lagi memegang pisaunya. Walau mabuk dan kurang fokus, tapi pemuda itu tampak bengong akan kejadian yang menimpanya. Ia memandangi Justin dan tongkat sihirnya bergantian, lalu tiba-tiba menjerit dan berlari hendak menyerangnya.
"Stupefy!"
Pemuda itu terlempar dan tak sadarkan diri. Seketika Justin merasakan takut. Bagaimana kalau pemuda itu mati? Ia tak menyangka ia masih menggunakan sihirnya dengan baik menggunakan tongkat. Setelah memastikan sekitar aman, ia menghampiri pemuda itu.
Bagus, masih bernapas. Tapi Justin hanya merasakan lega sebentar saja, sebab ia mendengar suara gemeresak dari semak-semak di dekatnya.
Tak lama kemudian muncul seseorang dari balik semak-semak. Wanita di kafe tadi. Ia setengah berlari ke arah Justin dan itu membuat Justin spontan mengangkat tongkat sihirnya lagi.
"Expelliarmus!"
Justin tersentak ketika tongkat di tangannya terlepas. Dia telah dilucuti. Oleh wanita di depannya.
"Sungguh ceroboh, memakai sihir di wilayah Muggle," ucap wanita itu, jelas dari mulutnya yang tertutup syal. Segera wanita itu mengingatkannya pada Irakli.
"Betapa cerobohnya kau menggunakan sihir di daerah Muggle!" bisik Irakli, penuh dengan nada teguran. "Untungnya tak ada Muggle yang melihatmu."
"Siapa kau?" tanya Justin waspada. Wanita itu tak menjawab. Ia berdiri di depan pemuda yang pingsan itu lalu merapalkan mantra yang dikenal Justin. Obliviate.
"Hati-hati dengan tindakanmu. Menggunakan sihir pada Muggle akan menghadapkanmu pada Kementerian Sihir. Kau bisa disidang."
"Kau juga kalau begitu," kata Justin. "Siapa kau?" Ia sudah mengambil kembali tongkatnya dan mengacungkannya pada si wanita.
"Aku mengenalmu. Kau Justin Finch-Fletchley. Hufflepuff."
Justin bosan dengan kemisteriusan wanita itu, tapi lama-kelamaan ia seperti mengenali suara wanita itu. Hannah? Susan? Bukan, bukan. Tapi siapapun dia, itu membuat Justin berdebar. Artinya ia telah menggunakan sihir terlalu jauh.
"Mari pergi dari sini sebelum orang-orang memergoki kita dengan orang yang pingsan itu." Hati-hati Justin mengikutinya dari belakang. "Kau boleh mengikutiku dengan tongkat terangkat seperti itu, kalau kau ingin waspada. Tapi aku bukan orang jahat. Dan saranku, simpanlah tongkat itu. Kau tak ingin ada Muggle yang melihat."
Mereka berjalan sampai memasuki kawasan ramai Muggle. Justin dengan hati-hati menyimpan kembali tongkatnya. Wanita itu dengan baik hati membelikan Justin susu hangat di suatu food truck.
"Mungkin kau tadi sudah minum susu, tapi kau tampak kepayahan. Minumlah susu lagi," kata wanita itu, tangannya memberi susu pada Justin. Tak mungkin wanita itu ingin meracuninya. Wanita itu langsung memberikan gelas susu itu begitu menerimanya dari si penjual.
Justin mengawasi wanita itu membayar susunya. Ia memakai uang Muggle dan tampak luwes melakukan transaksi. Siapa sebenarnya dia?
Wanita itu mengajaknya duduk di meja yang disediakan pemilik food truck. Tanpa berlama-lama, wanita itu melepas topinya, kacamata, kuncir rambutnya, dan menurunkan syalnya. Rambut cokelat mengembang terlihat dan ketika ia tersenyum, tampak gigi depannya yang agak besar-besar.
"Hermione Granger," gumam Justin setelah terdiam beberapa saat. Wanita di depannya menatapnya prihatin.
"Ternyata kau di sini, Justin. Semua orang mencarimu."
"Tidak ada yang mencariku. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan kau atau Harry Potter."
"Kau pikir siapa itu Ernie, Hannah, dan Susan?" sedikit ada nada terguncang dalam suara Hermione. "Mereka kehabisan akal mencari keberadaanmu!"
"Bagaimana bisa kau menemukanku?" ucap Justin gusar.
"Aku melihatmu bersama seorang wanita kemarin sore," jawab Hermione. "Mungkin kau tidak sadar, tapi aku membuntutimu. Kebetulan rumah orang tuaku tidak jauh dari sini."
Justin menghela napas berat dan menyenderkan punggungnya di kursi. "Astaga!"
"Kau tidak berharap ditemukan siapa pun, kan?" tanya Hermione. "Kenapa? Ada apa denganmu? Dan apakah kau memang bekerja di kantor Muggle?"
Akhirnya Justin menceritakan semuanya.
"Berarti salam perpisahanmu dengan Harry, Ron, dan aku itu… Memang benar-benar salam perpisahaan?" kata Hermione lambat-lambat.
Justin juga bercerita tentang perasaannya yang tidak menentu akhir-akhir ini, juga tentang sihirnya yang mendadak muncul lagi.
"Kautahu, Justin, sihirmu itu mendesak keluar karena kau sengaja menahannya terlalu lama," jelas Hermione. "Kau akhirnya tak bisa mengontrolnya lagi. Kau kembali seperti waktu kecil dulu."
Justin tak menjawab. Ia hanya menatap Hermione bingung.
"Justin, jangan seperti ini. Kau tak akan bisa menahan sihirmu untuk tidak keluar selamanya. Percayalah. Apalagi aku juga kelahiran-Muggle sepertimu. Aku tahu kekhawatiran orang tuamu waktu kau membeku karena Basilisk. Percayalah, orang tuaku juga begitu. Aku juga anak tunggal sama sepertimu. Tapi kau tak bisa meninggalkan dunia sihir, Justin. Kau tak bisa mengabaikan kemampuan dirimu sendiri. Sekuat apapun kau menolaknya, kau tak akan bisa menyangkal fakta kalau kau penyihir."
Mereka bicara sepelan yang mereka bisa agar tak ada yang mendengar, tapi penjelasan Hermione begitu jelas dipahaminya.
"Apa kau tahu kenapa kau memakai kembali sweter, syal, dan tongkat sihirmu? Sebenarnya itu sudah menjelaskan segalanya."
Tanpa bisa dikontrol, air mata Justin keluar dengan sendirinya. Hermione mengurut pundak Justin maklum, membiarkan pemuda itu menumpahkan perasaannya.
Justin pulang agak larut dan itu membuat ibunya khawatir bukan main. Tapi ibunya sama sekali tak menyangka ada Hermione bersamanya. Justin permisi untuk langsung tidur, tapi ia tahu Hermione tak segera pulang. Hermione berbicara lama pada ibunya di bawah.
Tak berapa lama, dari jendela kamarnya yang terbuka, menyusup masuk selembar surat. Tanpa mengambilnya, Justin sudah tahu surat apa itu dari tulisan di amplopnya. Itu untuknya. Dari Kementerian Sihir.
.
xxx
Sudah seminggu berlalu sejak pertemuannya dengan Hermione kala itu. Dan hari ini, mereka bertemu untuk kesekian kalinya. Mereka, bertiga dengan ibu Justin, akan pergi ke Kementerian Sihir. Mereka akan menjalani sidang karena pemakaian sihir pada Muggle.
Memang bukan reuni yang bagus dengan dunia sihir. Justin merasa langkahnya berat, tapi seketika ia merasa seperti terlahir kembali ketika mendekati ruang sidang. Ia melihat wajah-wajah lama di sana.
"Para hadirin, Justin Finch-Fletchley!" seru Hermione bagaikan seorang MC.
Beberapa orang langsung menyerbunya, berebut memeluknya. Mata Justin dalam sekejap menjadi buram, tapi ia tahu siapa saja yang berbicara padanya.
"Kau jahat, Justin!" itu suara Susan.
"Kau kabur ke mana saja?" tanya Ernie.
"Hei, mate, kau menghilang seperti hantu," giliran Seamus berbicara.
"Ke mana kau saat hari bahagiaku? Aku tak bisa mengontakmu," terdengar suara Hannah.
"Aku akan menjaga Hannah, tentu saja," kata sebuah suara. Justin menoleh pada suara itu. Astaga, itu Neville Longbottom!
"Jangan kaget begitu!" Hannah memberi tamparan kecil di wajahnya.
Justin tak bisa berkata-kata. Semua ini terasa tiba-tiba dan seperti mimpi baginya. Justin mencari-cari ke arah lain dan menemukan ibunya sedang duduk dikelilingi trio Gryffindor yang mengobrol dengannya dengan ramah. Syukurlah sang ibu luluh hatinya. Dan itu artinya ia akan kembali lagi ke dunia sihir selamanya.
.
.
END
.
Note: Terima kasih pada siapapun yang mau baca apalagi review (tapi bukan flame ya). Coba mengangkat tokoh Justin yang jarang banget (atau malah nggak ada?) muncul jadi tokoh penting di fandom harpot Indonesia. Apalagi tokoh kelahiran-Muggle yang sering diangkat siapa lagi kalau bukan Hermione Granger, dan itu sudah terlalu mainstream XD
