Aku, Kamu dan Mereka

Hika-chan cuma minjam characternya sisanya punya pemiliknya, Matsui Yuusei -san.

Warning : OC, OOC, Shounen-ai, Typo dimana-mana.

'Apa yang harus aku pilih?' batinnya bingung.

"Nagisa jangan berpikir kami egois,kami menginginkan yang terbaik untukmu. Dan kami juga tahu bahwa nilaimu sudah cukup untuk kembali ke gedung utama, karena kami tadi sudah menemui Asano Gakuhou selaku direktur sekolahmu" sahut sang Ayah.

"Ayahmu benar Nagisa, kami mohon mengertilah. Kami ingin yang terbaik untukmu" timpal ibunya

Dengan berat hati Nagisa pun mengangguk, memberitahukan bahwa ia setuju dengan keputusan orang tuanya.

'Tapi. . . apa yang harus kukatakan pada teman-teman nantinya?' batin Nagisa.

oOo

Karma membuka pintu kelas dan melihat kursi milik Nagisa masih kosong. Tidak biasanya Nagisa datang terlambat darinya, tak lama ia berpikir di depan pintu masuk, bel pun berbunyi. Karma bergegas menuju tempat duduknya.

"Nagisa-kun?"Ucap Koro-sensei yang sedang mengabsen. Sontak aksi tembak menembak berhenti ketika mengetahui Nagisa tidak menjawab sensei guritanya tersebut.

"Ada yang tau kenapa Nagisa tidak ada?" tanya Koro-sensei

Tak lama pintu kelas bergeser. Koro-sensei bersiap untuk bersembunyi. Nampak seorang laki-laki dengan mata azurenya dan rambut pendek biru memakai seragam sekolah lengkap layaknya Isogai maupun Asano.

"Gomenne sensei aku terlambat" ucap Nagisa.

"eh?- EEEH. . . NAGISA?!" seru seluruh murid terkejut dengan perubahan Nagisa. Nagisa hanya tersenyum layaknya seorang malaikat, para siswi dikelas pun langsung blushing melihat senyumannya.

'Kawaii' batin para siswi.

"Ah ya. . tak apa Nagisa-kun, tolong jangan diulangi lagi ya" sahut koro-sensei

"Ha'i"

"jaa~ mari kita lanjutkan"

Suara peluru dan lemparan pisau anti sensei pun kembali.

"Nee~ Nagisa, kenapa kau tiba-tiba memotong rambutmu?" tanya Karma penasaran saat jam istirahat. Sebenarnya Karma lebih suka rambut Nagisa panjang.

"Ah itu . . . Ibuku menyuruhku memotongnya kemarin" jawab Nagisa sambil tersenyum.

"Aree . . bukannya Ibumu suka menyuruhmu seakan menjadi ya . . perempuan" ucap Nakamura.

"Ibuku sudah berubah" sahutnya.

Pintu kelas bergeser memperlihatkan Karasuma-sensei yang terlihat cemas.

"Nagisa segera keruang guru sekarang"

Nagisa hanya menurut saja, berjalan keluar kelas. Temannya yang masih bingung hanya bisa menatap punggung kecilnya yang sedang menuju pintu kelas.

Nagisa membuka pintu ruangan tempat para guru berada. Terlihat Irina-sensei yang sedang mengecat kukunya di meja kerjanya.

"Nagisa kemari" Karasuma-sensei memanggilnya dan mengarahkan ke ruang pertemuan orang tua.

Nagisa memasuki ruangan tersebut dan melihat Ayah dan Ibunya yang duduk dan melemparkan senyuman. Senyuman yang Nagisa rindukan sejak dulu.

Nagisa mengambil tempat diantara orang tuanya menghadap Karasuma-sensei.

"Ah berhubung dia sudah ada disini jadi kami ingin anak kami segera dipindahkan ke gedung utama,mengingat nilainya sudah cukup untuk meninggalkan kelas ini" ucap Ibu Nagisa to the point.

"Dan juga kami ingin Nagisa mulai besok sudah pindah ke gedung utama" tambah Ayahnya.

Mendengar perkataan dari mulut orang tua Nagisa membuat Karasuma-sensei bingung.

"Ah itu . . akan kami lakukan jika Nagisa mau menerima usul dari kalian" sahut Karasuma-sensei.

"Hmm.. begitu . . jaa Nagisa apa keputusanmu sayang?" tanya Ibunya.

"a . . ano . . Karasuma sensei . . aku ingin. ." ucap Nagisa terbata

"Nagisa kau harus mengucapkannya dengan jelas" sahut Ayahnya.

"Baiklah Tou-chan, Karasuma-sensei aku ingin segera di transfer ke gedung utama" ucapnya agak lirih membuat Karasuma tertegun.

'mungkin ini yang terbaik' pikir Nagisa.

"Su . . sudahkan? Apa aku bisa kembali ke kelas sekarang?" ucap Nagisa sedikit murung.

"Aa . . iya" sahut Karasuma-sensei.

Pintu kelas terbuka memperlihatkan wajah manis nan imut bersurai biru sedang menunduk melihat ke arah lantai.

"Nagisa-kun ada apa?" tanya Koro-sensei.

"Tidak ada apa-apa sensei, maaf aku terlambat masuk kelas. Tadi aku dipanggil oleh Karasuma-sensei" jawab Nagisa menuju tempat duduknya.

Nagisa merasakan kesedihan, entahlah Nagisa merasa kacau sekarang. Dia bingung dengan pilihannya tadi, apa sudah benar atau kah sebaliknya.

"Ya . . berhubung kalian sudah lengkap, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu?" usul Koro-sensei

"Tapi sensei, bukankah kita harus belajar, bukannya untuk bermain-main?" sahut Isogai.

"Sekali-kali kan tidak masalah, karena tidak harus selalu berfokus untuk belajar, kalian juga harus bersantai"

"Ah kalau begitu bagaimana kalau main truth of dare saja sensei?" usul Kayano.

"Ah baiklah kalau begiitu" Koro-sensei dengan kecepatan 20 machnya menyusun meja-meja yang ada dikelas agar mereka bisa duduk dilantai kelas dan membentuk lingkaran tak lupa botol yang akan mereka gunakan.

"Baiklah karena absen nomor 1 adalah karma, jadi karma saja yang duluan memutar botolnya"

"Baiklah sensei" Karma pun memutar botol tersebut dan berhenti pada Kayano.

"jadi kayano-chan. . pilih truth atau dare?" tanya Karma

"A. . aku pilih truth"

"Baiklah, kalau kita sedang dikepung oleh para zombie, kira-kira siapa yang akan kau korbankan agar bisa keluar dari kepungan zombie itu?" tanya Karma

"Yada mungkin, karena dia memiliki dada yang besar"

'dia dendam karena punyanya rata ya' batin mereka yang mendengarnya.

"Jaa sekarang giliranku yang memutarnya" ucap Kayano.

Dan putarannya berhenti pada Nagisa.

"Nagisa-kun pilih truth atau dare?" tanya Kayano.

"Truth" sahut Nagisa

"Eh?! Ah kalau begitu. .etto. . apa yang kau rasakan selama berada di kelas ini?" tanya Kayano.

Nagisa terdiam, dan memandangi wajah teman dan sensei guritanya.

'apa yang harus kukatakan? Ah benar itu saja. . semua akan sama saja kan jika aku kembali ke gedung utama bagaimana kalau aku melukai mereka nantinya mengingat ingatanku akan dihapus' batinnya.

"Nagisa?" ucap Karma.

"Ah. . apa yang kurasakan selama ini kah? Tentu saja tekanan. . aku lelah tertekan setiap harinya. ."

"Nagisa-kun?" ucap senseinya khawatir.

". . . semakin lama tekanan-tekanan itu membuatku seolah membenci kelas ini. Membenci semuanya yang telah terjadi"

"Na. . Nagisa. ." ucap Nakamura.

"Ya Nakamura-san?" tanya Nagisa santai.

"Kau bilang benci kelas ini? Me. . memangnya kenapa?" ucap Nakamura tak percaya.

"Tentu saja karena. . ibuku tidak menyukai aku berada disini. Dan yah mungkin juga-"

"Tunggu kau bilang kau benci kelas ini? Lalu bagaimana dengan semua kenangan yang telah kita buat selama ini? Apa kau hanya berpura-pura saja?" ucap Kayano sedikit kesal.

"Ya aku berpura-pura, lalu? Apa itu mengganggumu?" Balas Nagisa santai. Memang mudah berakting seperti ini mengingat ia dulu adalah anggota klub drama.

"Astaga, jadi kau hanya berpura-pura menikmati setiap moment yang telah terjadi? Dan kali ini kau bilang kau benci dengan kelas ini? Oh yang benar saja"

"kau ini sebenarnya kenapa Nagisa?! Kenapa seakan sifatmu berbeda semenjak kau dipanggil karasuma sensei?!" ucap karma keras.

Nagisa tertegun, menurutnya ia tak bisa menyembunyikannya dari karma.

'kalau begini jadinya aku . . .' batinnya.

Nagisa menghela nafas.

"Aku. . aku. . minta maaf. . aku tidak bermaksud menyakiti kalian. ."

"Ma. . maafkan aku. . kurasa aku tak bisa menyembunyikannya, aku akan. ."

"Akan apa?" tanya Karma.

"Akan pindah ke gedung utama besok"

"A. . apa. . kau bercanda kan Nagisa" Karma nampak tak percaya.

"Bohong kau berbohongkan?" timpal Kayano. Nagisa menggeleng pelan.

"Tidak, aku tidak berbohong" ucap Nagisa sambil menunduk dan mulai bergetar akibat menahan tangisnya

"Nagisa-kun, kau serius? Tapi kenapa?" tanya Koro-sensei.

Nagisa diam, dia bingung mau menjawab apa kepada senseinya itu.

"Nagisa-kun, ikut aku sekarang" ucap Karasuma-sensei serius dari pintu kelas.

Nagisa pun berdiri dan mengucapkan kata maaf lalu keluar dari kelas mengikuti Karasuma-sensei.

"Nagisa" ucap Karma lirih

"Nagisa, kenapa kau menyetujui dengan cepat perkataan Ibumu tadi?" tanya Karasuma-sensei serius.

"Itu. . karena aku ingin yang terbaik saja sensei" sahutnya lirih.

"Nagisa. . kau. . kau yakin dengan semua ini?"

Nagisa mengangguk, Karasuma-sensei pun terdiam karena mendapat respon cepat dari sang murid yang kini menunduk dihadapannya.

"Ba. . baiklah kalau itu yang kau inginkan. Kami akan ke rumahmu nanti malam, sesuai dengan permintaan orang tuamu" sahut Karasuma-sensei murung.

Nagisa hanya mengangguk dan menjawab dengan gumaman. Kemudian ia dipersilahkan untuk kembali ke kelas. Dilihatnya lekat-lekat pintu kelas yang kini ada didepannya.

'Sebentar lagi, sebentar lagi ingatan tentang kelas ini akan menghilang' batinnya.

*TeBeCe*

Chap 2 Up!!

Adakah yang menunggu chapter 2 ini ? :3

*KRIK. . KRIK. . KRIK. . KRIk

*GakAda :v

Oke kok jadi canggung yak?! hehe :v

Makasih untuk yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca fict buatan Hika-chan ini dan tak lupa juga, makasih yang udah Fav dan Follow fict ini. . Hika-chan sungguh Terhura~ *PLAK

Maaf maksudnya terharu, Maaf juga Kalo chapter 2 kurang menarik.

Arigatou Gozaimasu minna-san~~