Aku, Kamu dan Mereka

Disclaimer : Matsui Yuusei

Warning : OC, OOC, Sho-ai, Typo berserakan bagai ranjau, harap hati-hati :D

Karasuma mengetuk pintu rumah keluarga Shiota pada malam itu. Diikuti dengan anak buahnya, Ia langsung dipersilahkan Ibu Nagisa ke kamar Nagisa.

'Tok.. tok.. tok' Nagisa pun membuka pintu kamarnya.

"Ah Karasuma-sensei.. silahkan masuk." Ucapnya sembari memberi senyum palsu.

"Baik terima kasih. Tapi sebelum kami melakukan hal itu apa aku boleh menanyakan sesuatu?" Ucap Karasuma-sensei sambil berjalan masuk.

"Tentu saja sensei"

"Nagisa, kenapa kau bisa memutuskan untuk pindah ke gedung utama, kenapa?" Tanya Karasuma penasaran.

Nagisa hanya terdiam. Ia memutuskan pindah karena permintaan orang tuanya. Tapi apa boleh buat, Nagisa tak ingin membuat orang tuanya kecewa.

"Tidak apa-apa sensei" sahutnya.

"Ah sensei, besok saat jam pelajaran pertama aku.. aku akan ke kelas E sebentar. Sepertinya ada barangku yang tertinggal" tambah Nagisa.

"Baiklah sensei paham tapi.. sensei rasa kau tidak sungguh-sungguh menginginkan ini Nagisa"

"Sensei merasakannya ya?" Sahut Nagisa murung.

"Kalau kau ingin pikir-pikir dulu, kau bisa tetap hadir besok untuk mempertimbangkan perpindahanmu dan yah nanti sensei akan jelaskan pada orang tuamu soal besok itu"

"Baiklah sensei, keputusannya besok"

oOo

Nagisa duduk termenung di atas kasurnya yang empuk. Pikirannya menerawang jauh entah kemana, sampai-sampai tak menyadari sang Tou-chan yang membuka pintu kamarnya.

"Nagisa apakah kau su-"

"Tidak Tou-chan, Okaa-chan. Sensei bilang putuskan dengan baik dan Ia bilang Ia ingin melihatku untuk terakhir kalinya besok sebelum aku pindah. Jadi mereka akan melakukannya besok"

"Baiklah kalau begitu. Ah kakekmu bilang dia akan menemuimu besok" ucap Ayah nagisa

"Baiklah Tou-chan"

oOo

Nagisa hari ini diantar oleh Ibunya kesekolah. Ia pun berlari dengan tergesa saat setelah turun dari mobil milik ibunya karena bel sudah berbunyi. Ia berlari dengan sangat cepat. Dan . . .

'BRUKK'

Nagisa menabrak seseorang. Dilihat nagisa orang yang ditabraknya. Rambut sewarna strawberry dan ia pun ingat.

'Astaga aku menabrak Asano?!' batin Nagisa panik.

Asano berdiri dan menatap siapa yang berani menabraknya. Matanya pun membulat tiba-tiba.

"Shiota . . . Nagisa. . . ?" Ucapnya sembari menatap wajah manis Nagisa walaupun rambutnya sudah dipotong pendek, namun itu bukan menyurutkan kemanisannya, malah itu membuatnya tambah manis.

"H... ha'i" Sahut Nagisa takut-takut.

"Kau itu sebenarnya wanita ya?" pertanyaan itu dengan mulusnya keluar dari mulut Asano.

"Eh? EEEHHHH?! Ti.. tidak.. Aku ini laki-laki tulen, A. . Asano-kun" jawab Nagisa.

"Tapi wajahmu itu sangat manis" ucap Asano menunjuk wajah Nagisa.

"A. . Aku tidak manis! aku tampan!" ucap Nagisa rada-rada kesal.

"Oh. . astaga. . Asano-kun, Tanganmu. . berdarah. ." ucap Nagisa ketika melihat tangan kiri Asano yang tampak asing karena ada cairan berwarna merah disana.

"Oh. . mungkin karena jatuh tadi"

Nagisa membuka tasnya dan mencari sesuatu.

"Ma. . Maafkan aku Asano-kun. . tadi itu. . aku tidak sengaja. . mengingat kelas sudah akan dimulai" ucap Nagisa sembari menutup luka Asano dengan sapu tangan miliknya.

"Hn. . kau pikir akan semudah itu?"

"A.. aku akan melakukan apa pun Asano-kun" ucap Nagisa tanpa pikir panjang karena tak ingin berurusan lama-lama dengan Asano.

Asano pun menyeringai. Ia sangat suka lelaki yang berada didepannya sekarang. Jadi kenapa tidak ini bisa dijadikan kesempatan emas untuk menjadikan lelaki didepannya sebagai miliknya.

"Baiklah aku akan memaafkanmu . Tapi. . Ada syaratnya"

"Apapun itu akan kulakukan!!" Seru Nagisa.

"Kau yakin?"

Nagisa hanya mengangguk mantap. Menandakan ia sangat yakin.

"Aku ingin kau menjadi milikku. . . Milikku seorang" ucap Asano. Nagisa kaget.

'Waduh bagaimana bisa jadi begini' pikir Nagisa.

"Tapi, Asano-kun, aku ini laki-laki bukan perempuan bagaimana bisa aku-"

"Kau bisa. . Dan syarat keduanya kau harus keluar dari kelas E, secepatnya!" Ucap Asano membelai rambut Nagisa.

"Ja kalau begitu aku tunggu jawabanmu saat pulang sekolah nanti. Sayang" ucapnya sambil tersenyum. Meninggalkan Nagisa yang termenung memikirkan perkataan Asano.

'Buset dah.. kena sial nih . . Kok bisa-bisanya malah berurusan sama setan kelabang. Tanpa kau suruh keluar pun, Orang tuaku sudah menyuruhku keluar dari kelas E tau' batin Nagisa miris.

oOo

Bel pelajaran pertama sudah bebunyi beberapa saat lalu. Terdengar suara tembakan peluru dari dalam kelas. Ia pun memutuskan akan memasuki kelas saat Koro-sensei selesai mengabsen. Dan benar saja setelah Koro-sensei mengabsen muridnya yang tercinta, Nagisa pun membuka pintu kelas. Terlihat semua siswa yang lain menatap Nagisa dengan tatapan terkejut.

"Nagisa kau tidak jadi-" ucap Koro-sensei terpotong.

"Entahlah sensei" sahut Nagisa sambil memperhatikan teman-temannya. Dan saat menatap meja nya terdapat bunga Red spider lily, bunga yang melambangkan kematian di negara jepang.

'A..apa? Apa Me.. mereka sangat membenciku sekarang Karena aku memilih pindah?! Bagaimana bisa mereka.. menaruh bunga itu di.. dimejaku?!' Batin nagisa dengan mata yang membulat.

"Nagisa-kun duduklah dikursimu" ucap Koro-sensei.

Nagisa masih terdiam. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia duduk di atas meja nya yang terdapat bunga Red spider lily. Bukankah itu mengartikan seolah olah Nagisa sudah mati?.

"Nagisa" ucap Karma membuyarkan lamunannya sejak tadi.

Nagisa pun melangkah mendekati kursinya dan mendudukan dirinya. Ia masih sedikit shock atas apa yang terjadi.

"Nah berhubung kalian lengkap. Sensei ingin bertanya sesuatu. Terutama padamu Nagisa-kun" ucap Koro-sensei.

Semua yang ada dikelas menatap sendu Nagisa.

"Jadi Nagisa-kun kenapa kau memilih untuk pi-"

Pintu kelas digeser menampakkan seseorang dengan rambut biru yang sedikit memutih. Menggunakan baju pasukan pertahanan jepang yang pangkatnya lebih tinggi dari Karasuma-sensei. Semua yang ada disana habya terdiam bingung dengan apa yang terjadi.

"Nagisa apa itu di atas mejamu? Apa kau dikerjai?" Tanya orang itu. Awalnya Nagisa hanya diam.

"Nagisa jawab kakek, kenapa ada bunga itu di atas mejamu?!" Bentak kakeknya.

'KAKEK?!'batin semua murid kelas E kecuali Nagisa.

Semua yang ada dikelas pun sdikit shock atas bentakan dari Kakek Nagisa.

"Ano.. aku juga tidak tahu kakek." Ucap Nagisa lirih.

"Bagi yang merasa menaruh bunga itu saya harap anda mengerti arti dari bunga yang anda berikan, bunga Red spider lily itu adalah lambang kematian, jadi bagi yang menaruh bunga ini memaksudkan untuk kematian Nagisa begitu?!" Ucap Kakeknya tak bisa menahan amarah setelah menatap meja cucu kesayangannya yang terdapat bunga tersebut. Semuanya kini terdiam. Hening menyelimuti mereka.

"Nagisa kenapa kau memilih untuk masuk ke kelas ini hari ini?"

"Ah maaf tuan.. bisa anda beritahu kan siapa anda?"tanya Koro-sensei

"Ah.. saya Shiota Aoi, kakek Shiota Nagisa dan bekerja di pertahanan jepang"

"A..ah jadi ada apa anda datang kemari?"

"Tentu saja karena Nagisa bilang ingin per-"

"Kakek, aku sudah memutuskannya, jadi kakek tak perlu khawatir." Potong nagisa

"Nagisa.. bukankah kakek sudah bilang tidak baik memotong pembicaraan orang lain"

"Tapi aku sudah memutuskannya. Keputusanku sudah bulat kakek"

*TBC

Ide ini mengalir begitu saja. :v

Jadi, maaf kalau chap kali ini masih ada kekurangannya ya. etto. . .

terima kasih bagi yang sudah mau menyempatkan waktunya hanya untuk membaca fict ini~