Seventeen Romance
Rat : T-M
Oneshot!
Dimana kisah percintaan setiap insan manusia akan selalu berbeda
Baik itu manis, asam, pahit, asin.
Semua memiliki rasa sendiri-sendiri
Jadi...
Nikmatilah...
.
.
Happy reading
"Don't wanna cry"
Cast : Lee Seokmin
Hong Jisoo
Slight : Lee Chan
Genre : Romance, Friendship, Drama, Hurt/Angts, BL
Rat : T (merempet ekhem'M'ekhem)
.
.
.
Seokmin POV
Sejak aku kecil, orangtuaku selalu mengatakan padaku jika seorang pria tak boleh menangis apapun yang terjadi.
Aku melakukannya.
Tepat ketika mereka meninggal karena kecelakaan yang terjadi ketika aku dan chan akan menempati kelas yang lebih tinggi lagi, aku tak menangis. Chan memukuli dadaku karena aku hanya memasang wajah datar dan mengatakan jika aku tak sedih mereka kecelakaan.
Lucu sekali...
Aku hanya mengikuti semua perkataan orangtuaku, seperti biasa. Tapi kenapa adikku sendiri malah mengatakan aku adalah anak kejam yang tak menangisi kematian kedua orangtuanya. Jangan salahkan aku, salahkan mereka yang sudah membuat hati anaknya sendiri mati terhadap hal seperti ini. Itu tak akan berubah, tidak ketika aku bersama mereka, tidak ketika mereka meninggalkanku.
.
.
.
Sampai suatu hari, aku bertemu dengannya.
Seseorang yang hancur karena ditinggalkan, ditinggalkan oleh seseorang yang membuatnya bahagia namun akhirnya diapun hancur karena orang yang sama. Berterimakasihlah pada tuhan, karena aku langsung jatuh cinta padanya yang menangis sesenggukan ditaman malam hari. Kuhampiri dia yang nampak kegigilan dan duduk disampingnya. Melihatnya hanya menunduk, akupun menyeringai dan perlahan mencium lehernya yang menggoda. Merasa ada yang tak beres, dengan segera dia mendongak dan memandangku takut.
"K-kau... siapa kau?" ucapnya dengan berdiri, akupun ikut berdiri dan memasukan kedua tanganku kedalam celana bahanku.
"Malaikatmu? Anggap saja begitu cantik." Ucapku, namun dia hanya memeluk dirinya sendiri.
"Kau membutuhkanku."
"Tidak, siapa bilang aku membutuhkanmu hah?" bentaknya, akupun hanya tertawa dan memandangnya.
"Kekasihmu itu hanya menjadikanmu selingkuhan dan sekarang dia akan menikah dengan kekasih sebenarnya, kau bukan orang sini dan kau pergi dari rumahmu. Anggap saja aku adalah malaikatmu dan berusaha membantumu."
"Darimana kau tahu itu semua?" tanyanya pelan, akupun menarik lengannya dan mendekatkan wajahku pada telinganya.
"Sudah kubilang, anggap aku adalah malaikatmu." Ucapku, kujauhkan wajahku dan melihat wajahnya yang memerah.
"Jadi sayang, ayo pulang kerumah barumu." Ucapku, kutarik pingganya dan mendekatkan wajahku pada wajahnya.
"Dan mari bersenang-senang."
Jisoo POV
Kubangkitkan tubuhku ketika merasa mataku sudah tak mau lagi menikmati mimpi indah ataupun mimpi buruk yang baru saja aku alami, kudesahkan nafasku pelan dan melihat tubuhku yang penuh dengan bercak merah dan sungguh aku merasa jijik pada diriku sendiri sekarang.
"Kita tak bisa lagi bersama jisoo, aku akan menikah dengan orang yang aku cintai."
Kututup telingaku ketika mengingat suara itu kembali berngiang ditelingaku, kutahan suara isakanku dan menggeleng.
"Kau hanya simpananku, bisakah kau paham itu?"
"Aku ingin mati saja." Gumamku, namun kutahan nafasku ketika merasakan pelukan dipinggangku dan juga kecupan kecil dipundakku dan menjulur keleherku. Kupejamkan kedua mataku dan diam saja ketika seokmin membalikan tubuhku dan menghadapkanku padanya.
"Sudah selesai meratapi nasibmu itu, sayang?" tanyanya, akupun hanya terisak kecil.
"Kenapa menangis? Bukankah selama ini aku memberikanmu kebahagiaan? Satu bulan bukan waktu yang sebentar." Ucapnya dengan mengelus pipiku kecil.
"Lepaskan aku, kumohon seokmin." Ucapku lirih, namun dia berdecak dan menggeleng.
"Kau milikku, lalu kenapa aku harus melepaskanmu?" tanyanya yang terdengar seperti pernyataan yang memaksa.
"Cukup patuhi aku saja sayang, maka kau akan mendapatkan segalanya."
"Aku tak mau, biarkan aku pergi seokmin." Ucapku, kulihat matanya memicing tajam dan mencengkram daguku erat.
"Berhenti merengek atau aku akan membuatmu hanya berwajah satu ekspresi." Ancamnya dengan suara yang dalam, akupun kembali terisak dan diam ketika dia membanting tubuhku.
"Aku akan pergi bekerja, diam dirumah." Ucapnya final dan membawa tubuhnya kedalam kamar mandi.
Seokmin POV
"Kau keterlaluan hyung!" teriak chan, akupun hanya memandangnya santai.
"Bagaimana bisa kau tak punya hati seperti ini? Jisoo adalah manusia dan kau tak bisa seenaknya memenjara dia seperti ini, dia butuh kebebasan."
"Kebebasan? Kebebasan seperti apa yang kau maksud? Dijual oleh orangtuanya kesebuah bar? Rela tubuhnya dinikmati oleh siapa saja? Aku meringankan deritanya dengan mendekamnya dirumahku." Ucapku dengan nada angkuh.
"Hyung? Apa kau tak sadar? Kau hanya akan membunuhnya secara perlahan jika begini terus." Ucap chan, namun aku hanya berdecih.
"Omong kosong dengan semua itu, dia akan menjadi milikku dan selamanya akan menjadi milikku."
"Hyung, kenapa kau begitu berubah?" tanyanya lirih, namun aku menyeringai.
"Tanyakan pada kedua jasad orangtua kita diliang kubur sana, lee chan." Ucapku, akupun berdiri dan meninggalkannya.
.
.
.
Kubanting keras tubuh jisoo dan menulikan telingaku ketika dia berteriak untuk berhenti dan menangis terisak, kutahan tangannya yang terus berontak dan menamparnya agar dia diam.
"S-seok..."
"Berapa kali kukatakan untuk tak keluar rumah, apa kau sudah tuli hah?" bentakku, diapun semakin terisak.
"Lihatlah sekarang! Banyak sekali pria yang melihatmu dan mereka menginginkanmu!"
"Aku hanya membuang sampah seokmin! Mereka hanya memujiku bukan menggodaku!"
"Apa perlu aku membunuh mereka semua agar kau paham hah?"
"Kalau begitu bunuh saja aku, lee seokmin!" teriaknya, akupun terdiam dan melihatnya yang terisak.
"Bunuh saja aku, aku... aku begitu menderita denganmu."
"Apa kau bilang?"
"Kau tak mencintaiku! Tapi kau hanya terobsesi padaku dan juga tubuhku."
"Aku tak begitu."
"Tapi kau begitu."
"Aku bilang aku tak begitu!" bentakku, akupun melepaskan genggamanku padanya dan tersenyum miris.
"Ini adalah rasa cintaku padamu, dan ini juga yang mereka tunjukan padaku. Orangtuaku, orangtuaku selalu melakukan hal tak berguna padaku. Aku tak menyangka jika keadaanya akan begini." Ucapku lirih.
"S-seokmin."
"Kau bisa pergi." Ucapku, akupun memalingkan wajahku darinya.
"Sekarang... kau tak perlu melihatku lagi. Bahkan untuk selamanya." Ucapku, kutinggalkan dia dan kudengar dia kembali terisak dikamarnya.
Jisoo POV
Sekarang...
Tak ada lagi siapapun yang menginginkanku.
Tidak dengan orangtuaku, tidak dengannya, bahkan juga... tidak dengan seokmin.
Aku hanya sendirian, aku hanya memiliki diriku sendiri didunia ini.
Tapi untuk apa?
Aku... bahkan tak membutuhkan diriku sendiri.
.
.
.
Kuletakkan surat yang sudah kutulis dan tersenyum kecil, kulihat jendela apartmen milik seokmin yang dia belikan untukku tinggali dan dia terkadang kemari untuk menginap atau bisa kukatakan untuk meniduriku. Kulangkahkan kakiku kearah sana dan melihat tingginya lantai yang kutempati dan memandang langit.
"Seokmin..." panggilku pelan.
"Maafkan aku... maafkan aku jika aku memang tak bisa mencintaimu. Sama seperti kau mencintaiku." Ucapku, kupejamkan mataku dan membiarkan air mataku terjatuh.
"Tapi aku senang, pernah ada seseorang yang menganggapku ada dan menganggapku penting dalam kehidupannya." Ucapku lagi, akupun tersenyum.
"Selamat tinggal, seokmin-ah."
.
.
.
Omake
Seokmin POV
Kupandang dan kuputar beberapa kali surat dalam genggamanku, kulemparkan surat itu dan melangkahkan kakiku berniat pergi namun terhenti ketika kurasakan tanganku tertahan sesuatu. Kulihat kembali surat yang tergeletak itu dan mengambilnya untuk kubuka dan kubaca.
Seokmin-ah...
Maafkan aku.
Aku tahu kau mencintaiku layaknya seorang manusia, tapi kau tahu aku tak pernah pantas untuk seorang manusia sepertimu
Kau tahu aku dengan baik, aku bukanlah manusia suci.
Tapi terimakasih, terimakasih karena kau pernah menganggapku ada dan berharga dimatamu.
Aku harus pergi, seokmin.
Jangan terus pertahankan kekeras kepalaanmu, karena aku tak akan mengatakan kau tak boleh menangis. Kau boleh menangis sayang, ungkapkan perasaanmu.
Kau adalah lee seokmin yang baik, asal kau tahu.
Aku mencintaimu.
"Cih." Decihku, kuremas surat itu dan menatap nyalang nisan yang ada didepanku.
"Jika kau mencintaiku, lalu kenapa kau meninggalkanku hah?" teriakku, perlahan kurasakan air mataku mengalir dan kututup mataku.
"Aku mencintaimu, aku akan berubah seperti apa yang kau inginkan. Tapi bukan begini caranya." Isakku, akupun terduduk didepan makamnya dan meremat tanah dimakamnya.
"Jangan tinggalkan aku seperti ini, aku... aku mencintaimu jisoo." Ucapku lirih, namun hanya angin yang dapat menjawabku dan hanya kehampaan yang mulai sekarang akan menemaniku.
"Aku mencintaimu, hong jisoo..."
.
.
.
Halooooooooo...
Maafkan dakuh jika ceritanya nanggung senanggungnya.
Aku lagi bepergian tapi ngerasa gak tenang kalau gak nepatin janji.
Seperti kemarin, aku akan menuliskan cerita selanjutnya dari cast sesuai permintaan kalian.
Terimakasih lagi kalian yang sudah follow dan review.
Kalian dabest, hiks.
Annyeong!
Jinjun imnida.
