Aku, Kamu dan Mereka

Disclaimer : Matsui Yuusei

Warning : OC,OOC, Typo, Shounen-ai.

A/n : Osu! minna-san~ (・ω・)ノ gomen kalau Hika-chan lama pake banget buat ngeupdate ffn ini, ini dikarenakan Hika-chan kebanyakan tugas. Aah~ Andai tugas bisa dijual. Mungkin, kita-kita anak sekolah udap pada kaya. *CeritanyaCurhat *DilemparSendal :v

"Apa yang kau lakukan Nagisa?! dan kau Akabane Karma, lepaskan tanganmu dari tangan kekasihku!!"

Suara barithone milik Asano yang terdengar marah menyapa pendengaran Nagisa. Dengan cepat Nagisa menarik tangannya, membuat pegangan Karma pada tangannya terlepas. Sungguh, Asano sangat kesal melihat tangan kekasihnya dikecup oleh rival abadinya.

"Nagisa, ingat apa yang aku katakan tadi pagi bukan?" ucap Asano menatap tajam Nagisa. Nagisa hanya membalasnya dengan anggukan, karena dirasanya jika ia bersuara, bisa-bisa nanti malah bertambah buruk.

"Kalau kau ingat, harusnya kau menjauhi mereka." tunjuk Asano kesemua anggota kelas E.

"A.. ah maaf Asano-kun, aku tidak tau kalau mereka dari kelas E." sahut Nagisa hati-hati.

"Baiklah.. Kemari, jangan dekat-dekat dengan mereka. Apalagi orang yang baru saja mengecup tanganmu itu!"

"Hn.." Nagisa langsung mendekati Asano, dan dengan cepat pula Asano menarik Nagisa, menyembunyikannya dibelakang punggung tegapnya.

"Hei hei santai saja bung... Dia baru jadi pacarmu kau sudah seperti itu,apalagi nanti jika kau menikahinya." ucap Karma santai.

"Kalau aku menikahinya tentu saja hal pertama yang kulakukan adalah menjauhkannya dari iblis merah seperti mu!" balas Asano tajam.

"Hei .. Nagisa, kau yakin memilih dirinya? tak-"

"Maaf, Aku lebih suka Asano Gakushuu." potong Nagisa lirih, namun masih terdengar jelas. Sontak Asano tersenyum penuh kemenangan, Karma melongo, dan Kelas E berusaha mati-matian agar tidak melempari Asano dan Karma dengan barang apapun yang ada diaula.

"Asa-"

"Gakushuu, Nagisa. Panggil aku seperti itu." potong Asano.

"Hm.. baiklah.."

". . .Shuu." lanjut Nagisa tersenyum manis.

Asano yang melihat itu harus berusaha mati-matian untuk menyembunyikan rona merah yang ada dipipinya.

"A- Shuu. Wajahmu memerah. Kau sakit?" tanya Nagisa polos sembari menatap wajah kekasihnya, Melupakan keberadaan teman-teman kelas E-nya.

"Ti-Tidak!"

"Ah kukira sakit. Ne~ Kapan pertemuannya dimulai? masih lama lagi ya? dan kenapa baru mereka yang baris?" Nagisa mulai banyak tanya.

"Sebentar lagi, sayang. Memangnya kenapa? mereka kan kelas E makanya harus baris pertama sebelum kelas lain." Jelas Asano. Nagisa hanya manggut-manggut tanda mengerti.

"Aku lelah. Apa boleh jika aku tak ikut pertemuan dan istirahat di ruang kesehatan?" bisik Nagisa. Asano menatap lama wajah kekasihnya itu, nampak seperti tengah menyelidiki apa yang terjadi pada kekasihnya itu.

"Memangnya kau kenapa, Nagisa?" tanya Asano menyelidik.

Nagisa menghembuskan nafas perlahan. Ia lelah. Entahkenapa kepalanya rasanya sangat sakit, semenjak bertemu dengan Siswa kelas E, terlebih dengan orang yang baru saja mengecup punggung tangannya.

"Kepalaku.. pusing, Shuu." sahut Nagisa sembari memegang keningnya.

"Boleh saja, Tapi aku yang akan mengantarmu. Jangan menolak oke?" ucap Asano mutlak.

Nagisa hanya mengangguk pasrah, kemudian berjalan menjauh bersama Asano. Sebelum keluar dari aula, Nagisa menyempatkan dirinya untuk menatap siswa kelas E lagi. Entahkenapa wajah mereka nampak tak asing baginya. Apa Nagisa harus mencari tahu kenapa jadi memiliki perasaan seperti itu?

"Nagisa?" Suara Asano menghentikan lamunannya. Nagisa tersentak kaget, Asano yang melihat itu mengernyit heran.

"Ah.. maafkan aku, Shuu. Tadi aku melamun."ucap Nagisa cepat.

"Ya, tak apa. Ayo, kau bilang ingin keruang kesehatan bukan?"

"Hn. Ayo!" ucap Nagisa cepat diiringi dengan senyum cerahnya.

'Tak akan kubiarkan mereka mendekatimu, maupun sebaliknya. Kau hanya akan memilih bersamaku Nagisa. Hanya aku, bukan kelas E!' tekad Asano bulat.

oOo

"Kau yakin ingin ditinggal sendiri?" tanya Asano menatap Nagisa yang tengah berbaring di kasur ruang kesehatan. Beberapa saat lalu setelah mereka memasuki ruang kesehatan, Nagisa menyuruh Asano untuk kembali saja ke aula. Namun jujur, Asano tak ingin meninggalkan Nagisanya sendirian. Ya, Kalau kalian tanya kemana perawat yang ada di ruang kesehatan, tentu saja katanya karena sedang ada urusan penting diluar, perlu digaris bawahi Katanya loh ya, bukannya Asano yang tampan ini yang mengusirnya keluar.

Karena itu, sekarang mereka hanya berdua di ruang kesehatan.

"Tak apa, Shuu. Kau bisa tinggalkan aku sendiri."

"No." sahut Asano singkat.

"Oh Ayolah, Kubilang tak apa Shuu." Asano menatap lama Nagisa.

"Tidak Nagisa, kalau kubilang tidak ya tidak."

"Tapi-"

Asano membungkam mulut Nagisa dengan menciumnya. Ciuman biasa, tidak ada lumatan atau apapun.

"S..Shuu?" ucap Nagisa gugup setelah Asano melepaskan ciuman mereka.

"Sekali lagi kau menyuruhku untuk ke aula dan membuatku meninggalkanmu disini sendirian, akan kumakan kau disini sekarang juga, Nagisa." ucap Asano sembari menyeringai.

"Ma.. Makan? Ta.. Tak kusangka.. Shuu.. Kau suka makan orang." ucap Nagisa dengan wajah memucat takut.

"Haah~ Bukan itu maksudku, tapi lupakan saja. Lupakan." sahut Asano tak ingin menjelaskannya. Karena Author gak pengen entar kelewat dari Rated yang ada :v *Plak_Abaikan.

"La.. Lalu apa?"

"Bukan apa-apa sayang." ucap Asano membelai surai sewarna langit milik Nagisa.

"Tapi Sh-"

CUP

Asano kembali mencium bibir cherry milik Nagisa. Nagisa yang memang tak siap dengan apa yang terjadi sedikit memberontak dalam dekapan sang kekasih yang kini telah duduk di pinggiran ranjang ruang kesehatan. Asano melumat dan menjilat bibir cherry kekasihnya agar Ia mau membuka mulutnya. Sebelah tangannya pun kini tengah mendekap Nagisa dan sebelahnya lagi memperdalam ciuman yang ia lakukan.

"Hmph.." Nagisa yang merasa aneh saat merasakan jilatan dari bibir bawahnya dan saat itu juga tak sengaja Nagisa membuka mulutnya, kesempatan itu tak dilepaskan oleh Asano. Dengan cepat Ia melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Nagisa, mengabsen deretan gigi milik Nagisa dan kemudian mulai mengadu lidahnya dengan lidah milik sang kekasih.

Nagisa yang tadinya sedikit berontak pun kini mulai agak tenang dan mulai menikmati ciuman panas dari Asano. Tangan Nagisa yang tadinya mencoba mendorong Asano kini memeluk leher sang kekasih. Suara kecipak basah dari dua orang yang tengah berciuman dan saling melumat pun memenuhi ruangan kesehatan siang itu.

Hingga kira-kira lima menit lamanya ciuman itu berlangsung, Nagisa tak kuat. Ia butuh pasokan oksigen untuk paru-parunya. Nagisa pun memukul pelan lengan milik Asano, memberitahukannya bahwa ia membutuhkan pasokan udara. Asano pun melepaskan ciumannya walaupun sedikit tak rela. Tapi mau bagaimana lagi, daripada Nagisa kehilangan kesadaran kemudian marah-marah padanya. Oh Asano tak kuat membayangkan Nagisa marah kepadanya. Nagisa sekarang bagi Asano adalah sumber kehidupannya, well mungkin memang terdengar berlebihan. Tapi memang itu kenyataannya. Asano tak ingin jauh dari Nagisa. Catat itu baik-baik. Tak ingin jauh.

Nagisa langsung meraup oksigen rakus. Sungguh tadi rasanya ia akan pingsan kalau saja Asano tak melepaskan ciumannya.

Asano memperhatikan Nagisa intens. Nagisa yang dipandangi begitu hanya menunduk dan menetralkan nafasnya yang masih ngos-ngosan seperti orang yang baru lari sepuluh kali putaran lapangan sekolah.

"Nagisa.. tatap aku." ucap Asano tiba-tiba. Nagisa sontak mengangkat wajahnya menatap.wajah kekasihnya yang tampan. Wait, kok sekarang aku berpikir dia tampan? dan jantungku.. berdebar?" pikir Nagisa tak lupa pula rona merah dipipi Nagisa.

"Pipimu memerah.. Kau malu? atau.."

"... Gugup karena sedang menikmati ketampanan wajahku?" lanjut Asano menggoda.

"Ih apaan sih." sahut Nagisa memukul pelan lengan Asano kemudian mengerucutkan bibirnya dan tak lupa lengannya yang menyilang tanda ngambek.

Asano tak habis pikir, ternyata kekasihnya bisa ngambek juga pemirsa. Sekian lama Asano mencoba membuat Nagisa ngambek sejak Nagisa pindah hingga saat ini, baru kali ini dia melihat wajah ngambek kekasihnya. Dan itupun hanya karena godaan biasa. wow emejing pikir Asano nelangsa.

"Nagi, jangan mengerucutkan bibirmu begitu, kau mencoba menggodaku ya?" Nagisa mencoba memberikan deathglare pada Asano namun tak berpengaruh yang ada Asano malah berpikir untuk mencium Nagisa lagi, Karena melihat bibir yang mengerucut lucu itu.

"Nagi-"

"Shuu.. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Atau kau mau kupanggil dengan sebutan hentai? hmph." ucap Nagisa masih ngambek.

"Oke.. Maaf sayang. Tadi itu tidak sengaja. Aku hanya menggodamu. Ayolah maafkan aku ya?"

Nagisa menatap wajah tampan kekasihnya lagi. Kemudian sedikit mengeluarkan seringaian kecil namun tak terlihat.

"Kalau kau mau aku memaafkanmu kau harus..."

*TBC

Jajajajang~ Idenya mengalir dengan sendirinya.

Maaf kalau lama updatenya hehe.. kebanyakan tugas and banyak hal lainnya. termasuk Fict lain yang minta diupdate juga ..

Terima kasih bagi kalian yang masih mau membaca cerita buatan Hika-chan di fandom ini.. Terus tunggu kelanjutannya ya..

Jangan lupa Reviews, Fav and Follow..

See You in next chapter~ XOXO