Seventeen Romance

Rat : T-M

Oneshot!

Dimana kisah percintaan setiap insan manusia akan selalu berbeda

Baik itu manis, asam, pahit, asin.

Semua memiliki rasa sendiri-sendiri

Jadi...

Nikmatilah...

.

.

Happy reading

"Happy?"

Cast : Lee Seokmin

Hong Jisoo

Slight : Seventeen member

Genre : Romance, Friendship, Drama, BL

Rat : T

.

.

.

"Hyung."

"Hm?"

"Kau tahu apa itu bahagia?"

"Bahagia? Kenapa bertanya seperti itu?"

"Jawab saja."

"Baiklah, merasa senang ketika mendapatkan apa yang menurutmu membahagiakan untukmu?"

"Salah!"

"Hah? Lalu?"

"Bahagia itu adalah... kau."

"Ya! Lee seokmin..."

.

.

.

"Happy"

Jisoo POV

"Hyung, lihatlah aku." Teriak seokmin, kulihat dia menari gila dengan seokmin yang juga tengah dipelototi oleh woozi.

"Apa mereka akan terus bertindak gila seperti itu?" tanya jeonghan, akupun hanya tertawa kecil.

"Seokmin itu... apa selalu terlihat sebahagia itu hyung?" tanya mingyu, akupun menggeleng.

"Tidak selalu."

"Kalian mungkin lebih tahu banyak dariku, kita sudah bersama lebih dari 5 tahun." Ucapku, kulihat mingyu mengangguk antusias.

"Yah, aku tahu kapan dia menangis seperti anak kecil hyung." Ucapnya, akupun tersenyum dan melihat seokmin yang terus menari bersama dengan hoshi layaknya anak kecil.

.

.

.

"Astaga..." lirihku frustasi ketika memasuki kamarku dan kulihat seokmin tengah memakan jeruk dengan hikmatnya namun kulit jeruknya berserakan dibawah kasurku, akupun hanya memandangnya tajam sampai dia memandangku.

"Apa?"

"Seokmin, bukankah sudah kukatakan berulang kali jika jangan membuang kulit jeruk itu dibawah kasurku! Carilah tong sampah dan buang disana." Gerutuku, kupunguti semua kulit jeruk itu dan akan mengambil yang lainnya didekat seokmin namun seokmin menahan tanganku.

"Apa? Jangan halangi aku." Ucapku berontak.

"Bisakah hyung paham kenapa aku lakukan ini?" tanya sedikit membentak, akupun menghela nafas dan melepaskan tangannya.

"Apalagi sekarang? Seokmin aku tak mendekati siapapun."

"Lalu kenapa kau diam saja ketika mingyu mendekatimu."

"Seokmin-ah..." kuusap tangannya dan melepaskannya.

"Bahkan kita... tidak memiliki hubungan seserius itu, lalu kenapa kau cemburu padaku?" tanyaku, diapun nampak terdiam dan aku hanya tersenyum miris.

"Happy virus heh? Bagiku kau sama sekali bukan happy virus untukku." Cetusku, kuambil sisa sampah tadi dan membawanya keluar dari kamar.

Seokmin POV

Kukepalkan tanganku dan mendesah pelan ketika jisoo hyung pergi begitu saja dari kamar kami, akupun mengacak rambutku gusar dan tertawa miris.

"Kenapa kau begitu pengecut, lee seokmin."

"Seokmin, kau sedang apa?" tanya hoshi ketika dia masuk kedalam kamarku, akupun menggeleng dan tersenyum lebar.

"Hoshi, kau mau menemaniku?" tanyaku, diapun mengangguk dan aku langsung pergi dengannya.

.

.

.

"Kau masih belum mengatakan pada jisoo hyung?" tanya hoshi ketika kami berada diruang latihan, akupun hanya tertawa.

"Untuk apa? Begini lebih baik."

"Kau yakin?" tanyanya, akupun berhenti tertawa.

"Kau lihat saja bagaimana nasibku dengan jihoon." Ucapnya, akupun memandangnya.

"Kami sama-sama memendam perasaan kami, ketika akan menyerah aku akhirnya tahu jika dia menyukaiku selama aku memendamnya 5 tahun dan itu menyiksaku. Sedangkan kau? Kalian sudah saling mengungkapkan perasaan tapi kau memilih untuk memiliki hubungan seperti ini, sungguh hubungan kalian tidak sehat."

"Aku hanya takut jika kami berpacaran maka kami akan merasakan jenuh dan berakhir dengan tak baik."

"Aku tanya padamu, kau sungguh-sungguh mencintainya atau tidak?"

"Tentu saja aku mencintainya."

"Lalu kenapa kau harus berpikiran negatif pada apa yang belum terjadi?" ucapnya, akupun termenung.

"Justru kau dan jisoo hyung akan berakhir tidak baik dan hubungan kalian di grup kitapun akan berakhir tak menyenangkan, kalian akan semakin jauh."

"Ah molla!" teriakku kesal.

"Perbaiki hubungan kalian yang tidak sehat itu, aku sungguh prihatin dengan jisoo hyung yang mencintaimu tapi kau malah menggantungkannya." Ucapnya dengan memakai jaketnya dan pergi.

Jisoo POV

Kutekan berulang kali remote tv yang ada didepanku namun tak ada satupun acara yang bagiku menarik, kuhela nafasku dan mematikan tv untuk menenggelamkan diriku disofa dan hanya diam ketika jeonghan duduk disampingku.

"Joshua, ada apa?" tanyanya.

"Entahlah, aku hanya merasa kesal pada diriku sendiri."

"Hah?"

"Jeonghan, apa aku tidak pantas mendapatkan pacar?" tanyaku pelan.

"Pasti ini tentang si kuda." Ucapnya, akupun mengangguk pelan.

"Jika begitu lupakan saja dia dan cari pacar baru, dia hanya menggantungkanmu."

"Tapi aku belum tentu bahagia jika bersama dengan yang lain."

"Apa kau juga bahagia bersama dengannya?" tanyanya, akupun terdiam.

"Joshua, kau juga berhak bahagia. Dan kurasa... jika kau terus mengharapkannya maka kau tak akan bahagia." Ucapnya, akupun duduk dan menghadap kearahnya.

"Kau... serius?" tanyaku, diapun mengangguk.

"Aku memiliki banyak teman, kau mau mencobanya?" tanya jeonghan dengan tersenyum, akupun membalas tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, jika itu yang terbaik."

.

.

.

Kukepak semua pakaianku dan memasukannya kedalam lemariku, kulirik pintu kamar yang terbuka dan kembali melanjutkan ketika seokminlah yang membukanya. Kuambil hoodieku dan juga pakaian lainnya untuk berganti pakain dan melewatinya namun dia menahan tanganku.

"Mau kemana hyung?" tanyanya, akupun menepis tangannya.

"Bukan urusanmu."

"Hyung, aku..."

"Aku akan pergi berkencan, jadi lepaskan tanganku." Ucapku dingin, diapun nampak terkejut dan mengeratkan genggamannya.

"Tidak."

"Kau tak mempunyai hak untuk melarangku."

"Tapi aku..."

"Kita tak memiliki hubungan spesial, lee seokmin." Ucapku, diapun akhirnya melepaskan tanganku.

"Kau... sudah mempunyai pasangan yang lain hyung?" tanyanya.

"Iyah, setidaknya dia membuatku merasa jelas. Aku akan bahagia dan kau juga bisa bahagia tanpaku."

"Hyung..."

"Aku pergi." Ucapku dengan berjalan kembali dan menutup pintu kamarnya.

.

.

.

Kulangkahkan kakiku dengan pandangan kosong, padahal aku sudah membuat janji dengan teman jeonghan namun entah kenapa kakiku malah berjalan tak jelas kemana dan membatalkan janjiku dengan teman jeonghan.

"Seokmin..." gumamku, akupun berhenti berjalan dan menggeleng.

"Tidak tidak, untuk apa kau memikirkannya jika kau sendiri tak ada dipikirannya." Ucapku, akupun menghela nafas dan memutuskan untuk pergi ketaman dekat dorm. Kududukan tubuhku dan menyandarkan punggungku disandaran bangku.

"Kurasa aku akan susah mendapatkan teman kencan, bahkan aku tak punya muka untuk bertemu dengannya." Gumamku, kembali kuhela nafas dan memejamkan mataku.

Seokmin POV

Kuhentikan langkahku ketika berada tepat didepannya yang tengah memejamkan matanya, akupun hanya tersenyum kecil karena senang melihat wajahnya yang polos nampak tenang dengan suasana taman ini.

"Hyung." Panggilku, diapun membuka matanya dan terkejut ketika memandangku.

"Seokmin? Sedang apa kau disini?"

"Entahlah, mengikutimu? Aku hanya takut kau tersesat."

"Apa kau pikir aku anak kecil? Aku bahkan lebih tua darimu." Kesalnya, namun kutak pedulikan gerutuannya dan berjalan kearahnya untuk berlutut didepannya.

"Seokmin, apa yang kau lakukan? Duduk dibangku saja." Protesnya dengan memegang pundakku berusaha untuk membangunkanku, kugelengkan kepalaku dan merebut tangannya untuk kukecup.

"Seokmin!"

"Sst." Desisku, kudongakan kepalaku dan tersenyum ketika melihat wajahnya memerah.

"Inilah alasanku kenapa aku tak bisa melepaskanmu hyung."

"A-apa maksudmu? Bagaimana jika ada orang yang melihat?"

"Aku tak peduli, bagiku didunia ini hanya ada kau didepan mataku dan itu sudah pernyataan yang tak bisa disangkal."

"Sikapmu ini benar-benar mengerikan, cepatlah bangun."

"Aku baru tahu jika kau itu tsundere sama dengan wonwoo dan juga jihoon hyung."

"Apa katamu?" tanyanya tak terima.

"Hyung!" panggilku, diapun hanya berdehem dan reaksi kesalnya itu sungguh menggemaskan.

"Aku mencintaimu." Ucapku, diapun terdiam dan langsung memandangku pelan.

"Tapi seokmin, kau sudah mengatakannya berulang kali. Sungguh aku sudah lelah." Ucapnya lirih, akupun menggeleng dan menangkup kedua pipinya.

"Kali ini berbeda, jadilah kekasihku hyung." Ucapku, diapun nampak terkejut dan menurunkan tanganku.

"Apa kau bercanda? Ah kau sakit?" tanyanya dengan memegang keningku, kuturunkan tangannya dan memandangnya serius.

"Aku serius hyung." Ucapku, namun dia hanya terdiam.

"Kau adalah sumber kebahagiaanku hyung, aku tak mungkin melepaskanmu jika kau juga membalas cintaku. Setidaknya aku tak akan ragu mengatakan aku mencintaimu setiap harinya, terbukti bahkan ketika kita tak memiliki hubungan tapi aku mengungkapkannya. Kau tahu apa ketakutanku hyung, tapi melebihi itu... aku takut kehilanganmu." Ucapku lirih, kembali kupegang pipi kanannya dan mengelusnya.

"Jadi biarkan aku terus berporos dikehidupanmu, dan dengarkan janjiku aku... akan selalu membuatmu bahagia hyung." Ucapku, kulihat jisoo hyung menangis terharu dan memelukku erat dengan segera kubalas pelukannya juga.

"Aku mencintaimu, dan aku mengijinkanmu untuk berporos selamanya dikehidupanku lee seokmin." Ucapnya, akupun tak bisa menahan senyumku dan mengelus kepalanya.

"Dan juga, aku akan mengatakan jika kau adalah sumber kebahagiaanku menggantikan kata aku mencintaimu."

"Terserah kau saja."

.

.

.

Omake

"Hyung!" teriaknya lagi, akupun langsung memandangnya.

"Apa?"

"Lihatlah aku!" teriaknya lagi dengan bertindak gila, dan aku hanya bisa terkekeh geli memandangnya.

"Dari mana dia dapat sumber kebahagiaannya seperti itu? Seperti dia itu bahagia setiap harinya." Ucap seungcheol, akupun memandangnya.

"Entahlah, tanyakan saja pada dia."

"Jisoo hyung! Kau adalah sumber kebahagiaanku! Aku mencintaimu." Teriaknya dengan berlari, kudengar seungkwan teriak kesal dan mereka saling kejar mengejar karena hal tak penting.

"Iyah seokmin, kau juga sumber kebahagiaanku."

.

.

.

Ige mwoyaaaaaa?

Huft...

Maafkan dakuh yang terkesan memaksakan cerita, entahlah aku butuh bantuan mengenai kekuranganku dalam ff ini.

But, terimakasih kalian yang sudah review dan follow storyku. Aku bahagia, sungguh!

Seperti kemarin lagi, aku akan menuliskan cerita selanjutnya dari cast sesuai permintaan kalian.

Kalian dabest, hiks.

Annyeong!

Jinjun imnida.