Seventeen Romance

Rat : T-M

Oneshot!

Dimana kisah percintaan setiap insan manusia akan selalu berbeda

Baik itu manis, asam, pahit, asin.

Semua memiliki rasa sendiri-sendiri

Jadi...

Nikmatilah...

Happy reading

"Remember?"

Cast : Lee Seokmin

Hong Jisoo

Slight : seventeen member

Genre : Romance, Friendship, Drama, Family, BL

Rat : T

"Hyung?"

"Apa?"

"Jika suatu hari aku pergi, apa kau akan mengingatku?"

"Kenapa bertanya seperti itu? Apa kau akan pergi?"

"Jawab saja."

"Tentu saja, aku ini kekasihmu."

"Lalu... jika aku yang pergi?" tanya seorang pria yang tengah melihat kekasihnya yang dari tadi menanyakan hal tidak penting padanya, namun pria itu hanya tersenyum beberapa saat sebelum membuka mulutnya.

"Aku..."

Jisoo POV

"Joshua? What are you thinking? Why daydream?" tanya umma ketika aku hanya melamun dimeja makan, akupun memandangnya dan tersenyum.

"Nothing, mom."

"Really? But your face does not say that." Ucapnya dengan mengelus kepalaku, akupun tersenyum.

"Really mom, i'm okay." Jawabku meyakinkan, diapun mengangguk.

"Kalau begitu, don't mind spending your breakfast honey?" tanyanya, akupun mengangguk dan memakan sarapanku. Ummapun meninggalkanku dan kulihat kejendela rumahku.

"But... are you remember me, seokmin?"

.

.

.

"Joshua? Are you sure you will go back to korea after all this time choose to stay with mom? You can stay here for as long as you want?" tanya umma menghentikanku ketika aku menarik koperku dan berjalan beriringan dibandara, kuhentikan langkahku dan memandang umma.

"Mom, we have discussed this many times. Aku sudah memutuskan ini sudah lama ketika lulus bangku smu." Ucapku, ummapun mendesah pelan dan mengangguk.

"All right, i'm understand. But, if you go to korea and you do not get your happiness, come back here or mom will pull you forcibly." Ancamnya, akupun mengangguk dan memeluk umma dengan mencium pipinya.

"I will miss you so much, mom."

"Of course, me too." Kamipun melepaskan pelukan kami dan dia menunjuk pintu masuk pesawat dengan dagunya.

"Cepatlah, sebelum umma berubah pikiran dan membawamu kerumah lagi." Ucapnya, akupun tersenyum.

"Yes mom, see you."

"See you to, my son." Ucapnya dengan melambaikan tangannya ceria, namun aku tahu umma menyimpan rasa penyesalan dan juga rasa bersalah ketika aku pergi maupun 5 tahun aku berada disini.

"Dan saatnya, aku untuk mencari kebahagiaanku."

.

.

.

Kutarik koperku untuk keluar dari bagian pemeriksaan visa dan tersenyum senang ketika orang yang menjemputku sudah tiba, kulambaikan tanganku dan hansol langsung melambai kearahku.

"Hyung!" panggilnya, akupun menarik koperku dan berlari kearahnya.

"Vernon, sudah lama tak bertemu."

"Aigoo, sudah kukatakan jika kita ada dikorea panggil saja nama koreaku." Gerutunya, akupun hanya tersenyum dan melihatnya yang menarik koperku.

"Aku akan membawakan kopermu, ayo."

"Where is my boo?" tanyaku heran dengan melihat kemari.

"Dia..."

"Hyung!" panggil seseorang, kulihat kearah suara itu dan tersenyum senang ketika seungkwan berlari kearahku bersama anak kecil dipangkuannya. Diapun memelukku dan kubalas pelukannya sebelum melepaskannya dan memandang anak kecil.

"He is..."

"My son, seungkwan and me." Jawab hansol bangga dengan mengusap kepala anak itu sayang.

"Oh ayolah berhenti berbahasa planet lagi, kau ingin membuatku pusing mendengarkannya?" ucap seungkwan bosan.

"Honey, jisoo hyung sudah lama tinggal diamerika dan hanya tinggal dikorea beberapa bulan. Kau pikir akan mudah baginya untuk berbahasa korea terus menerus." Jelas hansol, akupun tersenyum dan menggendong anak itu yang memandangku lucu.

"What is him name?" tanyaku dengan mengelus pipi gembulnya.

"Boonon, dia adalah kwak boonon." Bangga seungkwan, akupun memandang hansol yang mendesah pelan.

"Sudah katakan jika nama itu terdengar konyol, you know him brother." Ucapnya, akupun terkekeh.

"Ayo, semuanya sudah menunggu kita." Ucap seungkwan, seketika wajahkupun berubah dan memandang mereka berdua.

"Apa... dia datang?" tanyaku, merekapun saling pandang dan terdiam. Akupun tersenyum ketika tahu apa jawabannya.

"Ayo, aku sudah tak sabar bertemu teman-teman kita semua."

"Hyung, are you okay? You come here for meet him but..." ucap hansol pelan, namun aku menggeleng.

"Tidak, aku kembali bukan untuk menemuinya saja. Aku menemui kalian semua." Ucapku, dan kutatap anak kecil dipangkuanku ini.

"Kalian bahkan sudah mempunyai anak, aku benar-benar iri."

"Aku yakin hyung juga akan menikah, kalian akan menikah."

"Sst, seungkwan." Tegur hansol langsung, melihat seungkwan nampak tak enak akupun tersenyum.

"Tak apa-apa, kalau begitu ayo." Ucapku, merekapun mengangguk dan pergi bersamaku.

.

.

.

"Aigoo... aigoo..." ucap jeonghan ketika aku masuk cafe dimana kami berjanji akan bertemu, diapun berlari kearahku dan memelukku.

"Jisooku... akhirnya kau kembali." Ucapnya, akupun tersenyum dan tersenyum kearah semuanya ketika jeonghan melepaskan pelukannya dan menarikku kemeja mereka.

"Jisoo-ya... woah kau benar-benar berubah sekarang, kau lebih manis sekarang." Puji seungcheol dengan mengacungkan jempolnya.

"Hyung, ingat kau sudah menikah dengan jeonghan hyung." Ucap chan dengan menyenggol lengannya, kamipun terkekeh dan kulihat seluruh teman-temanku.

"Hao-ya... wonu-ya... dimana pasangan kalian?" tanyaku ketika tidak melihat mingyu dan juga jun tak ada bersama mereka.

"A-ah... itu..."

"Mereka sedang membunjuk seokmin agar datang kemari." Ucap wonwoo karena hao nampak gugup ketika akan mengatakannya, semuanyapun hanya diam dan kuremas tanganku.

"U-untuk apa jika dia tak mau, tenang saja. Aku bahkan sudah tahu jika dia tak mau menemuiku, sebaiknya panggil pasangan kalian kemari saja." Ucapku, wonwoopun mengalihkan pandangannya dari anak yang ada dipangkuannya dan memandangku.

"Benarkah? Hyung, kami semua tahu jika kau kemari ingin sekali meminta maaf padanya bukan? Hanya dia yang tak tahu alasanmu pergi."

"Wonwoo!"

"Tidak soonyoung, biarkan wonwoo berbicara." Tahan jihoon, akupun menunduk ketika jihoon memandangku.

"Hyung, seharusnya kau mengatakan ini padanya juga. Apa alasanmu pergi, seharusnya kau mengatakannya." Ucapnya, akupun mendongak dan berusaha tersenyum.

"Tidak jihoon, jikapun aku harus mengatakannya maka akulah yang akan datang padanya."

"Lalu... bagaimana jika dia tak mau mendengarkanmu?" tanya jeonghan, akupun memandangnya dan tersenyum.

"Maka aku... akan melepaskannya dan kembali kekehidupanku." Ucapku, merekapun nampak terdiam.

Seokmin POV

"BERHENTILAH MERAJUK, LEE SEOKMIN!" bentak mingyu, akupun hanya berdecak dan mengalihkan padanganku dari pekerjaanku.

"Kim mingyu, kau tak ada kerjaan? Bisakah kau lihat jika kerjaanku sekarang menumpuk, aku tak ada waktu meluangkan hal untuk yang tak penting."

"Tak penting? Kau bilang tak penting?"

"Mingyu, hentikan!" tahan jun, diapun memandangku dan aku hanya kembali bekerja.

"Apa kau akan terus begini? Ini sudah 5 tahun berlalu seokmin-ah, dia kembali untuk menjelaskan semuanya jadi beri dia kesempatan."

"Kesempatan? Kesempatan kau bilang hyung?" tanyaku sinis, akupun memandangnya.

"Aku bahkan sudah memberikannya beribu kesempatan selama ini, tapi apa? Dia bahkan tak menggunakan kesempatan itu dengan baik." Ucapku sinis, kulihat jun mendesah pelan.

"Jadi kau akan begini terus?" tanyanya, kuacuhkan dia dan membuang muka.

"Baiklah jika itu keputusanmu, hanya saja ingatkan dirimu lagi jika hati kalian berdua masih satu sampai sekarang. Sebelum kau mendengarkan semua penjelasannya, maka aku yakin kau akan menyesal pada akhirnya jika kau sudah tahu. Kami pergi." Ucapnya dengan menarik mingyu yang masih emosi pergi, kulanjutkan pekerjaanku namun kulemparkan berkas-berkasku ketika tak bisa fokus.

"Sialan! Kenapa dia harus kembali? Kenapa dia harus datang setelah aku sedikit lagi bisa membencinya?" rutukku, kutatap ponselku dan kuputuskan untuk mengambil jasku dan membawa ponselku pergi.

.

.

.

Kuhentikan mobilku tepat disebuah cafe yang sudah berubah banyak dibandingkan 5 tahun lalu, selama itu pula aku berusaha untuk tak datang ataupun melewati cafe ini karena cafe inilah awal kisah smu menyenangkan kami ada. Kuturunkan kaca mobilku dan melihat mingyu dan jun duduk diantara beberapa teman kami yang nampak asyik bercerita. Namun pandanganku terpaku pada satu orang yang sudah lama sekali kami tak lihat, kulihat dia tertawa manis dan nampak asyik berbicara dengan anak kecil yang kutahu anak vernon. Akupun berdecih tak suka ketika dia nampak senang tanpa beban sedangkan aku disini sudah menyimpan rasa sakit selama 5 tahun.

"Cih, apa ini yang kau maksud rasa bersalah? Kau nampak baik-baik saja, bahkan ketika berhasil membuatku tak percaya pada apa yang kita lakukan selama ini." Ucapku benci, kupakai kembali kacamata hitamku dan menaikan kaca mobilku.

"Bagaimana bisa aku memaafkanmu? Brengsek!"

Jisoo POV

"Hyung, kau yakin akan berjalan-jalan sendirian. Aku bisa menemanimu." Ucap seungkwan ketika kulilitkan syal dan memakai mantelku untuk berjalan-jalan diluar sana, akupun memandangnya dan tersenyum.

"Anakmu lebih membutuhkanmu, lagipula aku hanya keluar sebentar."

"Kemana?"

"Kebeberapa tempat? Entahlah. Aku hanya ingin melihat kota kelahiranku setelah lama aku pergi dari sini."

"Jika ada apa-apa kau bisa menelponku."

"Hem, aku akan membelikan makanan untuk kalian berdua." Ucapku, diapun tersenyum dan kubuka pintu untuk keluar dari rumah mereka berdua yang kutinggali sementara aku ada disini.

Setelah lama menaiki bus, kuturunkan kakiku dihalte bus yang sudah lama tak aku datangi. Kusunggingkan senyum kecilku mengingat tempat ini dan memutuskan untuk duduk dihalte kecil dan sepi ini.

Kugoyangkan kakiku merasa bosan ketika menunggu bus akan datang, kulirik seokmin yang nampak sedang asyik menulis sesuatu ditiang halte dan memandangnya.

"Seokmin-ah? Mwonde?" tanyaku penasaran, diapun menatapku dan tersenyum lemar.

"Yeogi yeogi." Ucapnya, akupun mendekat dan melihat tulisan terukir disana.

"Hm?" gumamku heran, kudekatkan pandanganku dan membaca tulisannya.

"Seokmin... cinta jisoo." Ucapku, perlahan wajahku memerah dan menjauh darinya.

"A-apa-apaan itu? H-hapus." Ucapku tak terima.

"Hah? Hapus? Hyung, ini spidol permanen."

"Lalu untuk apa kau menulisnya?" kesalku.

"Seperti spidol ini..." ucapnya terputus dan wajahnya berubah gembira.

"Cintaku, akan selalu tertempel dan tak bisa terhapus selamanya." Ucapnya, dan aku hanya terdiam dengan hati bahagia dan wajah memerah karenanya.

"Sudah lama sekali, bukan?" gumamku, kuelus tulisan yang sudah mulai tertutup karena tiang itu mulai berkarat dan tersenyum.

"Aku tahu sekarang, seperti tulisan ini hubungan kita sudah mulai berkarat dan tak akan bisa dikembalikan seperti semula." Ucapku lirih, akupun berusaha tersenyum dan menghela nafas sebelum bangkit dan memutuskan untuk pergi dari halte ini.

.

.

.

Kuhentikan langkahku ketika berada dipinggir pantai dan memandang teduh pantai yang ada didepanku, akupun tersenyum bahagia dan melepaskan sepatuku untuk berjalan mendekat kepantai itu.

"Sudah lama tak kemari, aku merindukan pantai ini." Ucapku senang, kudesahkan nafasku dan menggoyankan lenganku meskipun tanganku masuk kedalam mantelku.

"Melarikan diri... tak kusangka aku sepengecut ini." Tawaku pada diriku sendiri, kuhentikan tawaku dan perlahan air mataku jatuh.

"Seharusnya aku minta maaf, tapi aku hanya pergi tanpa mengatakannya."

"Iyah, bahkan kau melakukannya tanpa bersalah." Ucap seseorang, akupun terdiam dan langsung berbalik ketika mengenal suara itu.

"S-seokmin?"

"Lama tak berjumpa, jisoo-ssi." Ucapnya dengan menyeringai, kuremat tanganku dan memandangnya sendu.

"Sudah puas... melarikan diri?"

.

.

.

Hai guys...

Gimana? Gimana?

Sebenarnya aku mau menuhin request review tapi aku bingung minshua itu mingyu dan joshua kah?

Pokoknya nunggu respon review baru lanjut, kalau gak yasudah...

Seperti kemarin, aku akan menuliskan cerita selanjutnya setelah ini selesai dari cast sesuai permintaan kalian.

Terimakasih lagi kalian yang sudah follow dan review.

Kalian dabest, hiks.

Annyeong!

Jinjun imnida.