Seventeen Romance
Rat : T-M
Oneshot!
Dimana kisah percintaan setiap insan manusia akan selalu berbeda
Baik itu manis, asam, pahit, asin.
Semua memiliki rasa sendiri-sendiri
Jadi...
Nikmatilah...
.
.
Happy reading
"Remember?"
(Part 2)
Cast : Lee Seokmin
Hong Jisoo
Slight : seventeen member
Genre : Romance, Friendship, Drama, Family, BL, M-Preg
Rat : T
.
.
.
Sebelumnya...
"Melarikan diri... tak kusangka aku sepengecut ini." Tawaku pada diriku sendiri, kuhentikan tawaku dan perlahan air mataku jatuh.
"Seharusnya aku minta maaf, tapi aku hanya pergi tanpa mengatakannya."
"Iyah, bahkan kau melakukannya tanpa bersalah." Ucap seseorang, akupun terdiam dan langsung berbalik ketika mengenal suara itu.
"S-seokmin?"
"Lama tak berjumpa, jisoo-ssi." Ucapnya dengan menyeringai, kuremat tanganku dan memandangnya sendu.
"Sudah puas... melarikan diri?"
.
.
.
"Remember"
Seokmin POV
Kuhentikan mobilku dan menurunkan kacamataku untuk melihat seorang pria yang baru saja turun dari bus dan duduk dihalte yang sudah mulai terlihat usang, akupun hanya berdecih ketika dia tersenyum dan mengelus tiang yang kutahu ada tulisan milikku tertulis disana. Diapun menunduk dan kulihat mengusap pipinya sebelum kembali berdiri dan berjalan kearah jalan dimana jalan ini akan menuju pantai. Kubuka pintu mobilku dan menguncinya untuk mengikutinya yang nampak sangat menikmati perjalanan kali ini.
Setelah beberapa saat kamipun sampai dipantai dan kulihat dia melepaskan sepatunya untuk berjalan lebih dekat kearah pantai, kuputuskan untuk mendekat sedikit kearahnya.
"Sudah lama tak kemari, aku merindukan pantai ini." Ucapnya senang, akupun berhenti berjalan dan melihatnya yang mendesah pelan dan menggoyankan tangannya meskipun tangannya berada didalam mantel.
"Melarikan diri... tak kusangka aku sepengecut ini." Ucapnya dengan tertawa hambar, diapun menunduk dan bisa kulihat punggungnya bergetar.
"Seharusnya aku minta maaf, tapi aku hanya pergi tanpa mengatakannya."
"Iyah, bahkan kau melakukannya tanpa bersalah." Ucapku, diapun terdiam sebentar sebelum langsung memandangku terkejut.
"S-seokmin?" kagetnya.
"Lama tak berjumpa, jisoo-ssi." Ucapku menyeringai, namun kulihat dia hanya memandangku sendu.
"Sudah puas... melarikan diri?" ucapku sarkasme, diapun langsung menunduk dan kudekati dia untuk menyentuh dagunya agar memandangku.
"Kenapa? Kenapa tak mau melihatku?" tanyaku, diapun menggeleng dan mengalihkan pandangannya.
"A-apa... apa yang kau lakukan disini?"
"Kenapa? Apa aku tak boleh pergi ke pantai yang selalu aku datangi? Oh atau aku tak boleh datang lagi?"
"B-bukan maksudku..."
"Kau yang tak berhak kemari, jisoo-ssi." Ucapku datar, diapun nampak terhenyak.
"Bahkan kurasa kau tak berhak kembali lagi ke negara ini, untuk selamanya." Ucapku, diapun nampak tersedak dan menangis.
"M-maaf... maafkan aku." Ucapnya terisak, namun aku hanya menyeringai.
"Maaf? Untuk apa? Kau melakukan kesalahan padaku?" tanyaku, diapun memandangku.
"Katakan! Kau melakukan apa padaku? Kenapa harus minta maaf?"
"A-aku... aku..."
"Kau tak akan mengatakannya?"
"Seokmin..."
"Lalu untuk apa kau kemari hah?!" bentakku, diapun nampak terkejut.
"S-seokmin..." ucapnya takut, kudekati dia namun dia hanya mundur.
"Kenapa? Kau takut padaku?"
"K-kenapa... kenapa kau berubah?"
"Aku? Berubah?" tanyaku, akupun tertawa dan memandangnya yang terkejut.
"Kau pikir, siapa yang bisa mengubah seorang seokmin yang terkenal dengan seseorang yang ceria dan hangat ini menjadi kejam dan tak berperasaan? Kau pikir siapa hah?" teriakku, diapun kembali menangis.
"Kau kembali hanya membuatku semakin benci padamu hyung, pergilah. Jangan pernah berniat untuk menemuiku lagi, jangan pernah." Ucapku dengan berbalik.
"Kau tak akan mengerti seokmin." Ucapnya menahanku, kuhentikan kakiku dan hanya memandang kedepan kosong.
"Aku... aku mengatakan itu karena ada alasannya."
"Alasan kau bilang." Ucapku sinis.
"Alasan apapun itu, aku tetap... membencimu." Ucapku final dan pergi meninggalkannya.
Jisoo POV
"Seokmin... seokmin-ah." Panggilku, namun dia hanya terus berjalan tanpa memandangku kembali.
"Seokmin!" teriakku, akupun kembali menangis dan menutup wajahku.
"Kenapa... kenapa semuanya seperti ini? Maafkan aku seokmin... maafkan aku."
.
.
.
"A-apa? Umma katakan dengan jelas?" tuntutku ketika umma menelponku.
"Sebaiknya kau segera kerumah sakit sayang, appamu membutuhkanmu."
"Tapi umma aku..."
"Umma mohon sayang." Ucap umma, akupun menatap seokmin yang tengah bercanda dengan mingyu dan junhui dan menghela nafas.
"Baiklah umma, aku akan kesana." Ucapku, kututup teleponku dan menatap seokmin lagi.
"Seokmin-ah." Panggilku, diapun menatapku.
"Yah hyung?"
"Aku harus pergi sekarang."
"Pergi? Kemana?"
"Aku tak bisa mengatakannya." Ucapku, kuambil tasku dan membereskan barangku yang lain.
"Mau aku antar?" tanyanya, akupun menggeleng dan tersenyum memegang pipinya.
"I'm okay, kau disini saja temani yang lainnya."
"Kau serius?" tanyanya, akupun mengangguk.
"Telepon aku jika ada apa-apa." Ucapnya, akupun mengangguk dan keluar cafe untuk menghentikan taksi dan mengatakan tujuanku.
Setelah sampai rumah sakit, kucari kamar appaku dan menemukan umma dan appa tengah berbicara sesuatu yang sepertinya serius meskipun keadaan appaku nampak sangat parah. Dengan segera akupun masuk dan berdiri disamping mereka.
"Waegeure? Appa? Ada apa denganmu?" tanyaku, appapun memandangku lemah.
"Joshua... kau pulang nak." Ucapnya tersenyum, akupun duduk dan memegang tangan appa.
"Iyah, joshua disini. Katakan ada apa appa?" tanyaku cemas, appapun tersenyum dan memegang pipiku.
"Kau laki-lakikan sayang?" tanyanya, akupun terdiam ketika paham kemana arah pembicaraan ini.
"Appa mohon untuk terakhir kalinya sayang, appa... appa ingin kau menikah dengan seorang wanita."
"Appa..."
"Appa mohon, ini permintaan terakhir appa sebelum pergi."
"Pergi? Eodiyo? Appa akan tetap disini, kenapa harus pergi?" ucapku tak terima.
"Jika begitu, turuti kemauan appa dan putuskan kekasihmu itu."
"Appa... aku mencintainya." Ucapku lirih dengan menangis, akupun menggeleng.
"Aku ingin bersamanya."
"Tapi aku appamu."
"Yeobo!" ucap umma tak terima, appapun mengelus kepalaku.
"Appa mohon, untuk terakhir kalinya penuhi permintaan appa untuk pergi darinya dan pergilah ke amerika bersama ummamu atau appa akan benar-benar kecewa padamu dan bisa saja appa membunuh anak itu."
"Jangan!" ucapku langsung, akupun menelan ludahku agar tak tersedak dan mengangguk.
"B-baiklah, aku... aku berpisah dengannya." Ucapku, appapun tersenyum dan aku hanya diam ketika appa mengelus kepalaku lagi.
"Kau anak kebanggaan appa, appa bangga padamu." Ucapnya, akupun hanya berusaha tersenyum meskipun air mataku tak bisa berhenti.
.
.
.
"Kita... akhiri saja semuanya." Ucapku, seokminpun berhenti menggerakan ayunannya dan memandangku.
"Apa?"
"Aku ingin putus." Ucapku dengan mengalihkan pandanganku darinya.
"Tapi kenapa? Hyung ada apa denganmu?" ucapnya tak terima, diapun berdiri didepanku.
"Hyung, ada apa? Katakan sebenarnya!" ucapnya, akupun tersenyum dan berdiri.
"Aku sudah muak padamu, aku tak lagi suka pria aku suka wanita."
"Hyung!"
"Kau pikir aku serius mengatakan jika aku gay dan ingin berpacaran denganmu? Seokmin, aku ini pria dan aku akan menyukai wanita. Kau sudah gila?" tanyaku sinis.
"Kau pasti berbohong."
"Untuk apa aku berbohong, aku serius."
"Hyung! Apa kau pikir aku menyimpang sudah dari dulu? Tidak hyung! Aku hanya mencintai satu pria dan itu hanya kau, aku begini karena kau."
"Kau menyalahkanku untuk perasaan menjijikanmu."
"Apa? Menjijikan?" tanyanya tak terima, akupun menelan ludahku dan memandangnya.
"Sudah cukup, aku... sudah benar-benar muak padamu." Ucapku, kuambil tasku dan pergi meninggalkannya.
"Hyung! Jisoo hyung! Joshua!" teriaknya.
"Kau bilang kau tak akan meninggalkanku, tapi kau malah meninggalkanku! Joshua!" teriaknya lagi, namun aku hanya berusaha meredam tangisanku dan pergi sejauh mungkin.
"Maafkan aku seokmin... maafkan aku."
"Hiks... seokmin..." isakku, kutengadahkan kepalaku dan terus menangis memandang air laut.
"Aku hanya tak ingin kau menderita karenaku dan juga appa bahagia, kumohon maafkan aku." Isakku lagi, kupeluk lututku dan menangis seharian.
"Seokmin, aku mencintaimu. Aku masih mencintaimu seokmin, aku mencintaimu."
Seokmin POV
Kubanting pintu ruanganku keras dan duduk dikursiku dengan mengacak rambutku frustasi, kuhela nafasku perlahan menerawang kelangit.
"Jika saja kau mau mengatakan alasan kenapa kau meninggalkanku hyung, aku pasti akan memaafkanmu dan memelukmu lagi." Gumamku, kukepalkan tanganku.
"Tapi kau... kau sudah membuat perasaanku benar-benar hancur dan kau hanya diam tanpa mengatakan apapun. Apa kau pikir aku tak sakit? Aku sakit hyung!" geramku, kubanting barang-barang diatas mejaku.
"Arrrggghhh!"
"Seokmin! Apa yang kau lakukan?" ucap seseorang, akupun melihat kearah pintu dan melihat wonwoo hyung memandang kaget.
"Apa yang hyung lakukan disini?" ucapku dingin, diapun menutup pintunya.
"Aku ingin mengatakan kebenarannya padamu."
"Apa maksudmu hyung?"
"Kebenaran tentang... jisoo hyung." Ucapnya, akupun hanya memandangnya datar.
Jisoo POV
"Hyung! Hentikan! Kenapa kau harus pergi?" ucap seungkwan ketika aku membereskan pakaianku, kuhentikan isakanku dan menghapus air mataku.
"Aku... aku hanya... kumohon seungkwan aku harus pergi."
"Tapi hyung, kau baru beberapa hari disini tapi kau meminta pergi. Ada apa hyung? Katakan padaku?"
"Aku tak bisa mengatakannya seungkwan, maafkan aku."
"Hyung."
"Seungkwan, kumo..." ucapku terhenti ketika merasakan tarikan dibajuku, kulihat boonon yang memandangku dengan mata bulatnya dan menarik bajuku.
"Mama... baba..." ucapnya ceria, diapun memandangku lagi dan tersenyum.
"Mama..."
"Boo..." ucapku lirih, akupun memeluknya dan terisak.
"Maafkan pamanmu yang bodoh ini, paman adalah manusia tak berguna boo."
"Hyung..." kuberikan boonon pada seungkwan dan melanjutkan gerakanku.
"Aku hanya butuh ketenangan seungkwan, jangan mencariku katakan juga pada suamimu."
"Tapi hyung..." ucapnya tertahan ketika aku sudah menarik koperku pergi.
.
.
.
Kuturunkan koperku dihalte kemarin dan memandang kelangit karena hujan sudah turun dari tadi, kudesahkan nafasku pelan dan melihat tiang itu kembali. Kurogoh tasku untuk mengambil spidol dan berjalan ketiang tadi untuk sedikit membungkuk.
"Aku harus mencoretnya." Ucapku pelan, kubuka tutup spidolnya dan berniat untuk mencoretnya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak seseorang, akupun terbelalak dan melihat ke seberang jalan sana dan kulihat seokmin tengah berada dibawah hujan.
"Seokmin?" ucapku kaget, diapun berlari kearahku dan menarik tanganku yang memegang spidol.
"Apa-apaan kau? Kenapa kau ingin mencoret tulisanku?"
"T-tapi ini... ini..." ucapku terhenti ketika dia menciumku, kubelalakan mataku terkejut bahkan sampai dia melepaskan ciumannya.
"S-seokmin... kau..."
"Bodoh, kau memang bodoh seperti dulu." Ucapnya tersenyum, namun aku hanya diam tak mengerti.
Seokmin POV
"Cepatlah bicara hyung, aku tak ada waktu."
"Jisoo hanya berusaha melindungimu." Ucapnya to the point.
"Melindungiku?" tanyaku sinis.
"Dengarkan aku sampai selesai, lee seokmin." Ucapnya datar, akupun terdiam.
"Kau sudah tahu dengan sangat jelas jika appa jisoo tak menyukai hubungan kalian dan itu membuat jisoo tertekan, appanya mengancam akan membunuhmu dan jisoo terdesak ketika appanya tengah sekarat dan meminta jisoo bersumpah untuk meninggalkanmu."
"Klasik sekali, apa kau pikir aku akan percaya?"
"Apa kau juga akan percaya setelah selama ini jisoo melakukan semuanya untukmu?" tanyanya, akupun terdiam.
"L-lee seokmin." Panggil seseorang malu-malu, akupun berbalik dan tersenyum kecil ketika jisoo hyung ada didepanku dengan menunduk.
"Ada apa hyung?" tanyaku, diapun mendongak.
"A-aku... aku... aku ingin mengatakan sesuatu."
"Hm? Apa itu?" tanyaku, diapun memberikan coklat padaku.
"Kumohon jadilah pacarku?" ucapnya dengan memejamkan matanya, akupun terkejut namun langsung tersenyum dan mencium pipinya.
"Kurasa tak buruk." Ucapku, diapun membuka matanya.
"Aku juga menyukaimu, hyung."
"Kau tak ingat semuanya? Dia bahkan yang menyatakan perasaannya padamu meskipun satu sekolah tahu jika dia sangatlah pemalu, tapi dia melakukannya hanya padamu." Ucapnya, akupun mengerjap.
"Dimana dia sekarang?"
"Seungkwan." Ucapnya, dengan segera kubawa kunci mobil dan ponselku untuk turun kebasement dan menelpon seungkwan.
"Seungkwan, dimana jisoo?"
"Ada apa?" ucapnya ketika aku masuk ke mobilku.
"Katakan saja."
"Dia, barusan pergi." Ucapnya, kututup sambungannya dan dengan segera menjalankan mobilku pergi.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan?" teriakku ketika keluar mobil meskipun hujan lebat, diapun nampak terkejut dan memandangku.
"Seokmin?" dengan segera aku berlari kearahnya dan menarik tangannya yang tengah memegang spidol.
"Apa-apaan kau? Kenapa kau ingin mencoret tulisanku?"
"T-tapi ini... ini..." ucapnya terhenti ketika aku menciumnya, diapun nampak terkejut bahkan setelah aku melepaskan ciuman kami.
"S-seokmin... kau..."
"Bodoh, kau memang bodoh seperti dulu." Ucapku tersenyum, namun dia hanya diam.
"Kenapa? Kenapa kau tak mengatakan alasan sebenarnya?"
"Kau... sudah tahu?" tanyanya, kupeluk dia dan mengeratkannya ketika dia berusaha melepaskannya.
"Aku akan berusaha mempertahankanmu disampingku hyung, aku akan berusaha meyakinkan appamu jika aku pantas untuk bersamamu, aku pantas untuk menerima cintamu, aku juga akan melindungimu apapun yang terjadi. Kenapa? Kenapa kau harus melakukannya agar aku pergi darimu?"
"Ini semua tak mudah seokmin... aku... aku hanya..."
"Sst." Tahanku dengan memegang pipinya, kulihat air mata jatuh dari matanya dan kuusap lembut pipinya.
"Itu hanya masa lalu ok? Sekarang kita harus perbaiki semuanya, semuanya."
"Tapi aku mengecewakanmu seokmin."
"Tidak hyung, asal kau mau bersamaku semua kekecewaanku akan pergi." Ucapku, diapun terisak dan kembali kupeluk dia.
"Aku mencintaimu seokmin, sangat." Isaknya, akupun tersenyum dan mencium puncak kepalanya.
"Aku juga, aku sangat mencintaimu hyung." Ucapku, kamipun melepaskan pelukan kami dan kulihat spidolnya.
"Kemarikan." Ucapku dengan menunjuk spidolnya, diapun memberikannya dan kutulis kembali sesuatu disamping tulisanku.
"Menulis apa?" tanyanya, akupun tersenyum.
"Seokmin... selamanya dengan jisoo." Ucapnya, diapun memandangku dan tersenyum.
"Kau melamarku?"
"Tentu, jadi?" tanyaku, diapun mengangguk dan menciumku. Kubalas dengan memeluknya dan membalas lumatannya.
"Iyah lee seokmin, aku akan jadi istrimu." Ucapnya, kamipun saling tersenyum dan kembali berciuman.
.
.
.
Omake
"Woah woah..." ucapku kaget ketika baru saja menabrak tong sampah rumah sakit, namun kutak pedulikan tong tadi dan kembali berlari untuk keruang operasi. Kulihat teman-teman yang lainnya sudah ada dan mingyu menatapku.
"Kenapa lama sekali?" gerutunya.
"Maaf macet, dimana istriku?" tanyaku, diapun menunjuk ruang operasi dan kulihat dokter keluar.
"Suami lee jisoo."
"Saya! Saya!" ucapku semangat, diapun tersenyum.
"Selamat, istri anda sudah melahirkan bayi yang cantik dan juga tampan seperti anda."
"Apa... apa maksudnya..."
"Iyah, anak anda kembar." Ucapnya tersenyum, akupun berteriak senang dan langsung masuk. Kulihat jisoo tengah memandang kedua anak kami dan kucium keningnya.
"Seokmin."
"Terimakasih, terimakasih sayang." Ucapku, diapun mengangguk dan memandang anak kami berdua.
"Bukankah dia lucu?" tanya jisoo, akupun mengangguk dan memandangnya.
"Sekali lagi, terimakasih sudah hadir didalam kehidupanku." Ucapku, kamipun saling tersenyum dan memandang anak kami sayang.
Karena sesakit apapun itu, jika kau mau mengingatku dan datang untukku untuk menjelaskan semuanya.
Aku...
Akan mencintaimu...
.
.
.
Hollaa...
Maafkan yang kemarin aku ketinggalan tulis partnya
Sengaja aku bikin 2 part abis kepanjangan...
Ditunggu untuk request selanjutnya, dan untuk minshua aku akan berusaha.
Seperti kemarin, aku akan menuliskan cerita selanjutnya setelah ini selesai dari cast sesuai permintaan kalian.
Terimakasih lagi kalian yang sudah follow dan review.
Kalian dabest, hiks.
Annyeong!
Jinjun imnida.
