Seventeen Romance
Rat : T-M
Oneshot!
Dimana kisah percintaan setiap insan manusia akan selalu berbeda
Baik itu manis, asam, pahit, asin.
Semua memiliki rasa sendiri-sendiri
Jadi...
Nikmatilah...
.
.
Happy reading
"Heaven"
Cast : Kim Mingyu
Hong Jisoo
Slight : Lee Seokmin
Genre : Romance, Friendship, Drama, Family, BL, Fantasy
Rat : T
.
.
.
Mingyu POV
"Ya! Kim mingyu! Perhatikan jika gurumu menerangkan!"
"Jeoseonghamnida saengnim." Ucapku menunduk, namun aku tak berani memandang kedepan dan tetap memperhatikan catatanku.
"Kau... aish sudahlah." Ucapnya lelah dengan kembali mengajar, kulirik sedikit kearah saengnim dan kembali menunduk ketika sadar ada sese... ah tidak! Sesosok makhluk menatapku dengan wajah pucat dan darah yang terlihat masih segar dikeningnya.
"Aish, pergilah hantu brengsek!" pikirku kesal, kualihkan pandanganku pada hansol yang menyenggol lenganku pelan.
"Waeyo?" tanyanya heran, akupun menggeleng dan memilih menuliskan kembali apa yang dijelaskan oleh saengnim.
Kalian pasti sudah mengerti bukan apa yang terjadi padaku? Yah aku adalah seorang anak yang memiliki kemampuan lebih atau kalian sering menyebut kami dengan anak indigo. Terkadang aku bersyukur memiliki kemampuan ini, tapi sungguh banyak sekali yang kusesalkan dari kemampuan ini karena banyak hantu yang mengunjungiku bahkan dengan wajahnya yang mengerikan.
Sampai suatu hari...
.
.
.
"Aigoo... aigoo..." keluhku dengan memegang pundakku yang terasa pegal luar biasa setelah berlatih sepak bola disekolahku, kuputar sedikit lenganku dan mendesah lega ketika sampai dilantai apartmenku berada. Namun ketika aku akan berjalan kearah apartmen milikku, kukernyitkan keningku heran ketika melihat seorang pria tengah berjongkok didepan apartmenku. Akupun menghampirinya dan memandangnya heran karena aku merasa aku belum pernah melihatnya namun dia memakai seragam yang sama denganku.
"C-chogiyo?" tanyaku, diapun langsung mendongak dan sejak detik itu aku menyesal menyapanya.
"Astaga! Kau benar-benar bisa melihatku? Ternyata paman dibawah tak berbohong." Ucapnya senang dengan berdiri dan mungkin bisa lebih tepatnya melayang.
"A-apa yang kau lakukan disini?" tanyaku gugup, diapun melihat kesana kemari.
"Kita bicara saja diapartmenmu, aku takut ada yang melihatmu dan citramu makin jatuh." Ucapnya, akupun berdecih dan membukakan pintu apartmenku.
"Masuklah." Ucapku, namun dia malah menebus dinding dan sungguh itu membuatku merinding.
"Jangan pernah menebus dinding itu didepanku sial!" teriakku kesal.
Jisoo POV
Kulihat dia terus bolak-balik didepanku dengan melakukan aktivitas tak berguna, sungguh aku merasa dia tengah berusaha menghindari aku untuk membuka pembicaraan agar aku menjelaskan tujuanku kemari.
"Kim mingyu-ssi!" panggilku kesal, diapun akhirnya berhenti berjalan dan memandangku.
"Apa hah? Apa?"
"Kumohon bantu aku."
"Kenapa harus aku?" ucapnya frustasi.
"Karena hanya kau yang bisa aku minta untuk menolongku, jebal." Ucapku memelas, diapun mendesah keras dan duduk didepanku.
"Sebenarnya bagaimana bisa kau mengenalku? Bahkan aku tak tahu siapa kau?"
"Jinja? Kau tak mengenalku? Ya! Bahkan apartmen kita itu saling berhadapan. Berhadapan!"
"Kau tetanggaku?" tanyanya heran, kini giliranku berdecak.
"Aku tahu kau tak pernah bergaul dengan siapapun disini, tapi aku tak tahu kau sekuper ini."
"Lupakan saja, jadi bagaimana? Aku janji aku akan menghilang dari hadapanmu jika kau sudah memenuhi 1 permintaanku ini."
"Apa untungnya bagiku?"
"Anggap saja ini jasa untuk membantu tetanggamu yang mati 1 minggu kemarin, eo? Ayolah..." ucapku memelas, diapun menghela nafas pelan.
"Baiklah, tapi kau mati kenapa?"
"Aku? Ah aku tak tahu jelasnya, ada sebagian ingatanku yang aku lupakan." Ucapku, akupun tersenyum.
"Tapi aku ingat apa yang dapat menahanku didunia ini, jadi aku harus menyelesaikannya sebelum aku pergi agar aku tenang."
"Apa itu?" ucapnya heran.
"Mengatakan pada seseorang... tentang perasaanku." Ucapku, diapun menyerngit heran.
"Perasaan? Seseorang? Hanya itu."
"Kau bilang hanya? Itulah janji seseorang yang dapat membuatku tidak tenang." Ucapku kesal.
"Baiklah baiklah, siapa orangnya?"
"Itulah masalahnya." Ucapku, kugaruk kepalaku.
"Aku... tak ingat siapa nama jelasnya."
"Apa kau sudah gila? Lalu bagaimana bisa aku membantumu?"
"Ayo kita lakukan perlahan, perlahan saja. Bagaimana? Please..." ucapku kembali memohon, diapun mengangguk ragu.
"Baiklah, tapi siapa namamu?"
"Hong jisoo, panggil aku jisoo..."
"Jisoo? Rasanya aku pernah mendengar namamu?"
"Tentu saja, kita bertetangga."
"Seragammu juga, kenapa seragammu sama denganku?" ucapnya dengan menunjuk seragam yang kupakai.
"O? Kau benar juga? Entahlah, aku memakai ini ketika aku keluar dari tubuhku."
"Itu benar-benar menyeramkan."
"Itulah hantu." Ucapku, diapun menggeleng.
"Lalu petunjuknya, kita dapat dari mana?"
"Apartmenku."
"Kuncinya?"
"Ada ditempat abuku, bundang."
"Ah aku mengerti, besok saja kita berangkat ok?" ucapnya, akupun mengangguk semangat dan pergi dari hadapannya.
Mingyu POV
Setelah lama perjalanan, akhirnya kami sampai di bundang dan kulihat beberapa abu kremasi yang banyak disimpan disini. Kulirik jisoo yang berada dibelakangku.
"Ah benar." Ucapnya dengan berjalan duluan, diapun menunjuk salah satu almari kaca dan kulihat fotonya yang tengah tersenyum cerah dengan memegang bucket bunga lengkap dengan seragam yang sama dia pakai.
"Itu..." ucapku terhenti, akupun menggeleng dan memandangnya.
"Mana kuncinya?"
"Oh dia menaruhnya disana." Ucapnya dengan menunjuk vas bunga, kubuka lemari itu dan menggeser vas bunga itu. Kuambil kunci disana dan memandangnya heran.
"Siapa yang menaruhnya disini?"
"Pria itu."
"Kekasihmu?" tanyaku, diapun menggeleng.
"Mungkin bisa dibilang... calon." Ucapnya, diapun terkekeh dan menghilang dari pandanganku.
"Hantu gila."
.
.
.
Kubuka pintu apartmennya dan bersiul ketika merasa apartmen ini sangatlah bersih dan masih wangi, ini tak seperti apartmen yang baru saja ditinggal mati pemiliknya.
"Pria itu selalu kemari setiap hari dan membersihkannya, tapi akhir-akhir ini tak kemari." Ucap jisoo yang tiba-tiba saja muncul didinding sebelahku.
"Astaga! Bukankah sudah kubilang jangan muncul menebus dinding! Itu mengerikan, sungguh!"
"O, mian." Ucapnya, diapun keluar sepenuhnya dari dinding dan kulihat semakin dalam apartmen ini.
"Sepertinya dia benar-benar menyayangimu." Ucapku puas melihat apartmen ini.
"Benarkah? Ah aku senang mendengarnya." Ucapnya dengan melayang kearah ruang tengah dan duduk disofanya, akupun duduk disebelahnya dan melihat kesana kemari.
"Apa yang harus aku cari?"
"Molla? Tapi aku yakin disini ada petunjuk tentang pria itu."
"Kau yakin dia tak akan kemari hari ini?"
"Tidak, tenang saja." Ucapnya tersenyum, akupun mengangguk.
"Aku akan mencari terlebih dulu dikamarmu." Ucapku, diapun hanya memberikan jempolnya dan kulangkahkan kakiku kearah kamarnya. Setelah terbuka, bisa kulihat kamar dengan nuansa warna ungu ini nampak mencolok mata namun tetap terasa tenang.
"Bagaimana bisa pria menyukai warna kamar seperti ini?"
"Menurutku ini lucu koq." Ucap jisoo dibelakangku, akupun menggeleng.
"Tentu saja, kau pemiliknya." Ucapku heran, akupun masuk kedalam kamarnya dan berjalan kearah nakasnya.
"Kau tak punya foto?"
"Tidak, aku memilikinya. Hanya saja pria itu mengambil semuanya dan nakasku jadi kosong, aku tak melihatnya menaruh dimana." Ucapnya santai.
"Dia tak mencuri?"
"Tidak, tentu saja. Dia meletakan semua barang berhargaku dilemariku, mau melihatnya?"
"Tidak, aku tak mau disangka mencuri." Ucapku, akupun berdehem.
"Sebaiknya aku kembali besok lagi, akan mencurigakan jika aku disini lama-lama."
"Aku mengerti."
.
.
.
"Mencari pria itu benar-benar menyusahkan." Ucapku, jisoopun memandangku dan mengangguk.
"Aku benar-benar tak ingat namanya, aku hanya tahu wajahnya."
"Itu benar-benar bukan hal mudah." Ucapku, diapun mengangguk.
"Semenjak pacarnya meninggal, lee seokmin seperti seorang mayat dan dia sakit-sakitan." Ucap beberapa gadis yang melewatiku, akupun memandang mereka.
"Mau bagaimana lagi? Jika aku kehilangan seseorang yang aku cintaipun aku akan sama sepertinya."
"He'em, bagaimana bisa pencuri itu menusuknya begitu?"
"Kejam sekali..."
"Pembunuhan? Hiii aku ngeri membayangkannya." Ucap jisoo.
"Kau juga sudah mati, apa mungkin kau dibunuh?"
"Hem? Sepertinya? Aku mati di apartmenku sendiri tapi kepalaku sama sekali tak terluka, lihatlah! Lihatlah!" ucapnya dengan memperlihatkan kepalanya.
"Aku tahu, aku sudah melihat betapa mengerikannya kecelakaan yang melibatkan kepala dan darah." Ucapku, diapun memandangku.
"Pasti susah mendapatkan mata seperti itu."
"Iyah, tapi aku menikmatinya." Ucapku, akupun memandang kelangit.
"Bagaimanapun tuhan pasti memberikan sesuatu dengan beribu alasan untuk kehidupanku." Ucapku, diapun terkekeh.
"Kau benar-benar dewasa." Ucapnya, akupun ikut tersenyum.
.
.
.
"Kau yakin akan menemukan sesuatu dikamarmu?" tanyaku dengan membuka kunci apartmennya.
"Tentu saja, dikamarku pasti ada satu bukti untuk membawaku padanya."
"Kau ini." Ucapku, kamipun memandang kedepan dan terhenti ketika ada seorang pria yang nampak terkejut memandangku.
"K-kau..."
"Lee... seokmin?"
"Bagaimana bisa kau masuk kemari!" teriaknya, akupun hanya memandangnya kaget.
Jisoo POV
Kupandang bergantian pria yang kini tengah bertatap-tatapan semenjak 1 jam yang lalu, kugigit bibirku dan memandang mingyu.
"Mingyu, dia pria yang kubicarakan selama ini."
"Jinja?" teriaknya kaget, akupun meringis ketika pria yang kutahu bernama seokmin itu memandang mingyu kaget.
"Bicara pada siapa?" ucap seokmin kaget.
"A-ah itu..."
"Bicarakan saja aku, dia harus tahu."
"Tapi..."
"Kumohon."
"Mingyu, kau membuatku takut." Ucap seokmin, kamipun memandang kearahnya dan aku sedikit terperangah ketika dia nampak pucat dan kurus.
"Seokmin, aku yakin kau akan tak percaya dan juga merasa takut padaku jika aku mengatakannya. Tapi... aku adalah orang yang bisa melihat pemandangan astral seperti... yah hantu." Ucap mingyu, kudengar seokmin tertawa.
"Kau bercanda?"
"Lihatlah, pasti reaksimu begini."
"Bagaimana bisa aku percaya hal mengerikan itu hah?"
"Kau butuh bukti?" tanya mingyu menantang, diapun memandangku.
"Kau lihat sendiri, aku bisa masuk kemari dan mendapatkan kunci apartmen ini. Ini semua berkat arwah yang menuntunku untuk pergi ke bundang dan mengambil kuncinya."
"Bagaimana bisa kau tahu kunci ini kuletakan di bundang?"
"Maka dari itu aku sudah katakan." Ucap mingyu frustasi, diapun menghela nafas.
"Ada sesosok arwah meminta bantuan padaku untuk membantunya mengatakan sesuatu pada seseorang, maka dari itu aku datang kemari."
"Arwah? Arwah siapa yang kau maksud sampai kau harus datang kemari?"
"Kau yakin ingin mengetahuinya?"
"Katakan saja!" ucap seokmin dengan nada tinggi.
"Hong jisoo." Ucap mingyu, terlihat wajah terkejut dari seokmin dan beberapa detik kemudian dia nampak lemas.
"Jisoo..."
"Sebenarnya ada hubungan apa kalian?" tanya mingyu heran, seokminpun memandangku.
"Dia mengatakan sesuatu tentangku?"
"Tidak, dia melupakan ingatannya."
"Kau bercanda? Bagaimana bisa dia lupa padaku? Kau tak bertemu dengannya bukan?"
"Kau tak percaya padaku setelah aku mengatakan semuanya, bahkan dia ada disini."
"Dimana? Dimana dia!" bentaknya nampak frustasi, kamipun nampak terkejut ketika melihatnya sefrustasi ini.
"Dimana dia... kumohon katakan... dimana dia?" ucapnya putus asa, akupun tertegun beberapa saat ketika memandangnya.
.
.
.
"Seokmin-ah!" panggilku, diapun berhenti membaca bukunya dan tersenyum menatapku.
"Ada apa hyung?" tanyanya, akupun duduk dilantai dekat sofa dan memeluk lengannya.
"Disekolah kita harus tak bertemu karena aku belajar untuk ujian, jadi berhentilah membaca buku ketika aku mempunyai waktu senggang diapartmenku sendiri." Ucapku merajuk, kudengar dia terkekeh pelan dan menggusak kepalaku.
"Aku mengerti, baiklah aku letakan buku-buku ini dulu." Ucapnya dengan membawa bukunya dikamarku, akupun tersenyum ketika dia kembali dan duduk disampingku.
"Jadi apa yang diinginkan kucing manisku ini?"
"Menonton film seharian dengan memelukku? Otte?" tanyaku, diapun kembali terkekeh dan memelukku.
"Arraseo."
.
.
Kumasukan gelang yang kubuat untuk kuberikan kepada seokmin esok hari untuk memberikan jawaban padanya mengenai perasaanku padanya dikotak milikku dan tersenyum, kuelus kotak itu dan meletakkannya didalam lemariku dan keluar dari kamarku meskipun kini aku masih memakai seragam. Namun ketika akan berjalan kedapur, langkahku terhenti ketika mendengar suara didekat pintu. Kutajamkan pandanganku karena lampu apartmen sengaja aku matikan sebelum tidur dan dengan perlahan kulangkahkan kakiku kearah saklar.
"Seokmin? Apa itu kau?" tanyaku, kunyalakan lampu dan terkejut ketika melihat pria asing didepanku.
"Siapa kau? PENCU..." teriakku terhenti ketika pria itu membekap mulutku dan menusukan sesuatu ke perutku, kubelalakan mataku ketika rasa sakit diperutku benar-benar tak tertahankan dan perlahan kulihat perutku.
"Jisoo, aku pu..." ucap seokmin terhenti ketika melihat kami, pria didepan kamipun melepaskan pisaunya dari perutku dan kututup segera lukaku dengan berjalan mundur.
"A-apa... apa yang kau lakukan? APA YANG KAU LAKUKAN PADA JISOO?" teriak seokmin, diapun berniat mengejar pria itu namun kupanggil seokmin.
"S-seokmin." Panggilku lirih, diapun memandangku dan berlari kearahku.
"Jisoo... gwenchana. Aku disini, aku disini." Ucapnya dengan memangku kepalaku.
"Aku akan memanggil polisi, tunggu aku. Aku..." ucapnya terhenti ketika aku menahan tangannya, akupun tersenyum dan menggeleng.
"T-tidak... seokmin." Ucapku, diapun menangis.
"Aku... a-aku... tak bisa menahannya."
"Tidak aku mohon, bertahanlah jisoo."
"Seokmin..." ucapku, akupun terbatuk dan mengerang ketika rasanya kesadaranku benar-benar tipis.
"A-aku..."
"Jangan banyak bicara, aku akan kembali. Aku bersumpah, aku akan kembali." Ucapnya, diapun membaringkanku disofa dan pergi.
"Seokmin..." panggilku, akupun menangis dan tak bisa mempertahankan kesadaranku.
"Aku mencintaimu."
.
.
.
Kupandang nanar seokmin yang tengah menangis, kutatap mingyu dan tersenyum ketika rasanya aku sudah tujuanku sebenarnya.
"Mingyu." Panggilku, diapun memandangku.
"Apa?" tanyanya, kutatap seokmin sebentar dan tersenyum.
"Bisakah... kau ambil kotakku dilemariku?"
"Bukankah sudah kukatakan aku tak mau disebut pencuri."
"Jebal. Tujuanku ada didalam sana." Ucapku, diapun terdiam dan akhirnya berdiri. Beberapa menit kemudian, diapun datang dan meletakan kotak itu didepanku.
"Kotak apa itu?" tanya seokmin ketika sadar, akupun menatap mingyu dan tersenyum untuk membukanya. Diapun membukanya dan kulihat gelang buatanku masih ada disana dan seokmin mengambilnya.
"Ini..."
"Katakan padanya, itu... gelang buatanku." Ucapku, mingyupun mengangguk.
"Itu adalah gelang buatan jisoo."
"Dan aku membuatnya untuknya."
"Dan jisoo membuatnya untukmu." Ucap mingyu, seokminpun memandang mingyu.
"Dia berkata itu padamu?" tanya seokmin dengan menangis, mingyupun mengangguk.
"Katakan, aku membuat gelang itu dihari dimana dia mengatakan jika dia ingin aku menjadi pacarnya."
"Dia membuat gelang itu tepat dihari ketika kau mengatakan ingin menjadi pacarnya."
"Jisoo..." isaknya, akupun akhirnya menangis dan menggeleng.
"Maafkan aku."
"Dia minta maaf."
"Aku tak bisa mengatakan padamu jika aku benar-benar ingin menyampaikan perasaanku padamu."
"Dia tak bisa mengatakan padamu jika dia benar-benar ingin menyampaikan perasaannya padamu."
"Bahwa aku..."
"Bahwa dia..."
"Mencintaimu." Ucapku, merekapun nampak tersentak dan memandang kearahku. Akupun tersenyum ketika sadar mereka bisa memandangku meskipun aku tahu ini adalah kesempatan terakhirku.
"J-jisoo..." ucap seokmin terkejut, diapun berniat menghampiriku namun aku menggeleng.
"Tidak seokmin, kau tak bisa memelukku lagi sekarang." Ucapku, kamipun terisak namun aku hanya berusaha tersenyum.
"Maafkan aku, maafkan aku karena tak bisa mengatakan perasaanku kepadamu. Maafkan aku tak bisa bertahan untuk menunggumu meskipun hanya sebentar, maafkan aku."
"Jisoo-ya..."
"Aku mencintaimu." Ucapku, akupun tak bisa menahan isakanku.
"Aku mencintaimu." Ucapku ulang, perlahan tubuhku bercahaya dan perlahan kakiku mulai menghilang dan tangisan seokmin semakin mengeras.
"Jisoo..."
"Aku mencintaimu." Ucapku ulang, akupun tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum tubuhku benar-benar menghilang.
"Selamat tinggal dan terimakasih banyak sudah membantuku, kim mingyu."
.
.
.
Omake
Mingyu POV
Kuletakkan bunga divas bunga milik jisoo dan tersenyum ketika melihat fotonya.
"Aku tak tahu jika seharusnya aku memanggilmu hyung, kau nampak seperti anak kecil hyung." Ucapku, kuusap fotonya dan menutup lemarinya.
"Kau tahu hyung, kau adalah hantu termanis yang pernah kutemui. Jika kau hidup mungkin saja aku bisa jatuh cinta padamu dan merebutmu dari seokmin." Candaku, akupun menghela nafas dan kembali tersenyum.
"Bahagialah disana, seokmin sekarang bisa hidup bahagia karena pengakuanmu saat itu dan dia bisa merelakanmu." Ucapku, akupun menunduk.
"Hiduplah bahagia, hong jisoo." Ucapku lagi, kubalikan tubuhku dan terhenti sekali lagi untuk melihatnya.
"Disurga nanti, aku harap bisa bertemu denganmu lagi." Ucapku tersenyum sebelum benar-benar pergi meninggalkan wajah tersenyum dibalik lemari itu.
.
.
.
Hutangku satu lunas!
Maafkan jika gak puas, aku gak tahu feel minshua itu kayak gimana jadi ada selingan dari seokmin.
Untuk jeongcheol ditunggu yah, aku pasti post koq.
Senang ada yang suka dengan storyku, muaacch lah pokoknya.
Seperti kemarin, aku akan menuliskan cerita selanjutnya setelah ini selesai dari cast sesuai permintaan kalian.
Semakin banyak request semakin semangat nulis.
Terimakasih lagi kalian yang sudah follow dan review.
Kalian dabest, hiks.
Annyeong!
Jinjun imnida.
