Chapter 3
Guanlin menatap lama bulan purnama yang bersinar di angkasa dari jendela yang terbuka. Angin malam sama sekali tak mempengaruhi tubuhnya. Sesuatu di dalam dirinya menjalar ke jutaan sel saraf, menciptakan perasaan luar biasa. Iris matanya yang hitam kelam, berubah merah sesaat. Wajah pucatnya bersinar cerah.
"Hyung," suara itu mengalihkan perhatiannya. Ia membalikkan badan. Seseorang dengan tatapan dalam berdiri di dekat pintu. Wajahnya lebih bersinar dan rambut yang biasanya hitam legam berubah warna biru es.
"Ada sesuatu?"
Jinyoung menggeleng. "Sepertinya mereka berencana menganggu klub itu lagi."
"Kali ini apa lagi?"
Jinyoung hanya mengedikkan bahu.
"Mereka semua dimana?"
"Ruang tengah."
Guanlin berjalan melewati Jinyoung, membuka pintu hingga cahaya lampu putih masuk melalui celah pintu. Ia melangkah lalu diikuti Jinyoung ke ruang tengah.
Begitu ia sampai di ruang tengah, semua mata tertuju ke arahnya. Pemandangan yang ia lihat agak berbeda dari hari biasanya. Tentu karena ini malam bulan purnama. Penampilan mereka semua berbeda. Mata Guanlin menelisik mereka satu persatu.
Woojin duduk dengan tangan bersidekap di sofa tunggal. Rambutnya berubah merah seperti cherry, tatapannya tajam menusuk. Kelihatan jelas dia sedang tak senang dengan sesuatu.
Di sofa panjang Haknyeon duduk sambil memangku laptopnya. Ia tadi hanya menatap Guanlin sebentar lalu kembali asik dengan laptop. Kedua tangannya bergerak cepat di atas keyboard, sesekali dia membenarkan posisi kaca matanya yang longgar. Rambut coklat terangnya berubah menjadi ungu muda. Ungu muda yang terkesan pudar.
Di sebelahnya, Samuel, hanya rambutnya yang tak banyak berubah. Yang biasanya coklat tua, berubah menjadi coklat terang.
"Membuat rencana lain lagi hyung?" tanya Guanlin tenang sambil menatap Woojin.
Woojin menghela nafas keras, "Sulit percaya rencanaku digagalkan mereka."
Guanlin melangkah mendekat lalu duduk di sofa tunggal yang menghadap ke Woojin. "Kau yakin rencanamu sudah benar?"
Woojin menyipitkan matanya, kedua alisnya mengerut hampir menyatu, "Maksudmu rencanaku payah?"
"Tidak juga."
Woojin mendengus kasar. Ia kesal karena permainannya berakhir dengan cepat, bahkan ketahuan dengan cara yang baginya agak sulit dipercaya. Hanya karena sehelai sapu tangan.
"Woah... Ung ku hebat juga, menyerang lagi ha? Ckckc... tidak sabaran," tiba-tiba Haknyeon berseru heboh, namun pandangannya tak lepas dari layar laptop. Kedua tangannya semakin cepat menari-nari di atas keyboard.
"Sedang apa kau?" kening Woojin berkerut bingung, tak mengerti dengan sikap saudaranya itu.
"Biasa...,perang dengan euiwoong," jawab Haknyeon enteng.
Woojin memutar bola mata malas. "Kau suka padanya ya?"
Tapi pertanyaan Woojin sama sekali tak digubris Haknyeon. Laki-laki itu terlalu fokus dengan kegiatannya.
"Bukankah kita tak boleh suka dengan manusia hyung?" tanya Samuel.
"Memang," jawab Woojin. "Terlalu beresiko."
"OH, YESS..., Malam ini aku yang menang," teriak Haknyeon semangat. Ia menutup laptopnya, melepas kaca matanya lalu menaruh semuanya di meja. "Aku kan hanya main-main dengannya, kenapa tanggapan kalian serius?"
"Kadang-kadang sikapmu seperti orang kasmaran, membuatku curiga," jawab Woojin.
Haknyeon menyeringai kecil, "Menurutmu begitu?"
"Eh hyung, bukankah setelah ujian nanti sekolah mengadakan liburan bersama?" kali ini Samuel mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Woojin dan Haknyeon tak bisa dibiarkan berdebat terlalu lama, atau akan terjadi kekacauan. Apalagi sekarang ini kekuatan mereka sedang di puncak.
"Kemana?" tanya Jinyoung yang sudah duduk di sebelah Samuel.
"Entahlah, belum ditentukan."
Haknyeon menyandarkan kepalanya di sofa sambil kedua tangannya di belakang kepala, "Kuharap kali ini tak membosankan."
"Aku sampai lupa, sudah berapa kali kita melakukan kegiatan semacam itu,"ujar Samuel.
"Tapi kurasa kali ini tak akan membosankan,"kata Guanlin.
"Kau tahu kita akan kemana? Apa ke tempat yang sangat bagus?" tanya Woojin.
"Kemanapun tempatnya kurasa tak masalah hyung," jawab Guanlin sambil tersenyum kecil.
"Jadi..?" Woojin menatap Guanlin lekat-lekat, yang ditatap hanya menarik sudut bibirnya ke atas. Melihat itu Woojin mengerti. Sudut bibirnya ikut tertarik ke atas. "Kurasa liburan kali ini akan menarik," lanjutnya.
Jinyoung melihat tatapan keduanya yang mengisyaratkan sesuatu dan ia juga mengerti bahwa ada rencana tersembunyi dalam otak hyung-hyungnya. Ia hanya menghela nafas pelan, berpikiran untuk tak terlibat dengan apapun rencana mereka. Jinyoung bukan orang yang suka cari masalah atau suka berhubungan dengan orang lain. Itu merepotkan dan hanya buang-buang energy. Tapi ratusan tahun hidup seperti yang selalu menjadi kebiasaanya, rasanya juga membosankan.
Dan sejujurnya ia cukup terkesan dengan kejadian kemarin. Lima orang itu membuatnya takjub untuk sesaat. Terutama yang seangkatan dengannya, Yoo seonho. Sosoknya sedikit mengingatkannya dengan Guanlin, tenang tapi kecerdasannya mengagumkan. Jinyoung tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi sekarang ia justru berpikir "Sampai sejauh mana kira-kira kemampuan lima orang itu?" Tanpa sadar ia menyeringai sendiri.
Haknyeon bukannya tak mengerti dengan perubahan ekspresi Jinyoung. Sejujurnya dia senang karena bisa melihat Jinyoung menyeringai setelah bertahun-tahun terbiasa dengan wajah datarnya. Ia ingat di masa kecil, meski Jinyoung anak yang pendiam tapi ia masih sering tersenyum. Tapi semenjak... Haknyeon menghela nafas pelan, tak ingin membahas soal itu, Jinyoung berubah jadi sedatar tembok. Dan sekarang dia seperti menemukan hal menarik selain ratusan buku lama di perpustakaan pribadi mereka. Hal itu membuat Haknyeon tak tahan untuk tersenyum tulus.
"Sepertinya memang tidak akan membosankan,"gumamnya pelan.
Samuel yang mendnegar itu mengalihkan perhatiannya pada Haknyeon. Sebelumnya dia bertanya-tanya tentang apa yang Guanlin dan Woojin pikirkan, tapi sekarang pertanyaan yang lebih besar memenuhi benaknya. Haknyeon tersenyum tulus? Manisss sekali. Hyungnya itu memang murah sekali senyum, tapi yang setulus ini? Jarang-jarang Samuel melihatnya. Yang biasa ia lihat adalah senyum menyebalkan atau senyum palsu Haknyeon. Senyum palsu? tak perlu Samuel singgung tentang itu lebih dalam. Yang jelas rasanya sekarang Samuel senang sekali.
"Oh ya, dan jangan lupa untuk membawa papan catur saat liburan nanti," kata Guanlin.
"Hobby mu tak pernah berubah," kata Woojin.
"Aku hanya ingin main dengan seseorang."
"Siapa?"
"Menurutmu?"
Semua orang menatap Guanlin lekat-lekat sambil berpikir. Biasanya yang menemani Guanlin bermain catur adalah Jinyoung dan Woojin. Tapi jika Guanlin mengatakan seseorang berarti orang itu bukan diantara mereka, lalu siapa?
"Orang itu?" tanya Jinyoung.
Guanlin menatap Jinyoung sebentar lalu tersenyum lembut. "Aku jawab iya saja untuk siapapun orang yang kalian pikirkan."
"Ngomong-ngomong aku agak penasaran dengan kegiatan klub mereka, klub mereka apa namanya? Hol..holm?..." Haknyeon berusaha mengingat-ingat sambil telunjuk kanannya mengacung di udara.
"Holmes ?" sahut Samuel.
Seketika Haknyeon menjentikkan jarinya keras. "Bingo!"
"Yang aku tahu sih klub itu untuk orang-orang yang menyukai hal-hal berbau detective. Yang mendirikan kalau tidak salah si Hyungseob itu."
"Dia sunbaemu Sam," Haknyeon mendelik tajam. Agak tak suka dengan sikap adik tirinya yang terkesan kurang ajar.
"Tapi dari segi umur kan aku lebih tua hyung," ujar Samuel yang tak terima di pandangi seperti itu.
Haknyeon terdiam sebentar lalu mengangguk-angguk. "Oh ya, benar juga," ujarnya sambil nyengir lebar dan mengusap-usap kepala Samuel sebagai permintaan maaf.
"Adik-kakak sama saja," gumam Jinyoung.
"Lalu? Yang mereka lakukan apa saja?" tanya Woojin.
"Lah hyung, kan ketuanya sekelas denganmu, kenapa balik tanya?" sahut Samuel.
"Kaupikir aku mengawasi Hyungseob 24 jam? Bicara dengannya saja jarang."
"Mereka biasanya menyelidiki issu-issu yang berkembang di sekolahan dan bekerja secara diam-diam, misalnya saja kasus Hwanwoong 3 bulan yang lalu. Kenta menuduh Hwanwoong mendorongnya dari tangga, padahal nyatanya kenta yang terpeleset waktu mereka bertengkar. Semua orang tetap mengira Hwanwoong pelakunya sampai akhirnya tiba-tiba mereka berdua berdamai. Semua orang keheranan, tapi jelas sekali sesuatu sudah mengubah pendirian Kenta, siapa lagi kalau bukan mereka?" terang Haknyeon panjang lebar.
"Maksud hyung seperti tempo hari waktu mereka mengungkap semua fakta di depan kita tapi tak mengungkapnya ke publik?" tanya Samuel.
Haknyeon mengangguk.
"Wah..wah, jadi mereka menyuruh Kenta sunbae berdamai dengan Hwanwoong sunbae agar kebenarannya tak tersiar kemana-mana."
"Mereka berusaha tidak menciptakan skandal," komentar Jinyoung.
"Tergantung bagaimana sikap pelaku, kalau si pelaku tetap berbuat ulah dengan orang yang sama, mereka bisa berbuat kejam juga," Haknyeon meraih kaca matanya lalu memakainya lagi. "Seperti kasus Ha Min Ho dan Sihyun yang cupu itu. Si Min ho itu suka sekali membully Sihyun, suka berurusan dengan Euiwoong juga, aku agak kesal kalau mengingatnya," Haknyeon mendengus kesal sambil kedua tangannya bersidekap. Punggungnya kembali ia sandarkan ke sofa.
"Sihyun itu kan teman sebangku Hyungseob, jadi dia sangat care dengan Sihyun. Waktu kasus Sihyun yang gagal ikut tes olimpiade nasional karena seseorang menyekapnya lebih dulu di perjalanan hingga ia terlambat, sudah bisa ditebak kan siapa yang menyekapnya? Gara-gara itu pihak sekolah marah besar pada Sihyun. Sebenarnya bukan salahnya, tapi mau bagaimana lagi, orang-orang tua di dewan sekolah itu agak kolot. Setelah kejadian itu hampir seminggu Sihyun sama sekali tak diganggu Min ho, aneh kan, padahal biasanya dia tak pernah absen seharipun menganggu sihyun. Sudah bisa ditebak kan apa yang merubahnya, tapi seminggu kemudian dia berbuat ulah lagi dan SKAK MAT! semua kebenaran di kasus Sihyun sebelumnya serta segala kebobrokannya terbongkar dan dia dikeluarkan. Sialnya dia juga harus pindah ke luar kota karena tak satu pun sekolah di sini yang bersedia menerimanya."
"Dari mana kau tahu sampai sejauh itu?" tanya Woojin yang penasaran.
"Apapun yang berhubungan dengan Euiwoong aku pasti tahu," jawabnya santai.
"Lama-lama kau jadi seperti maniak," Woojin bergidik.
"Mereka diam-diam menghanyutkan," kata Samuel.
"Jadi kau tahu satu persatu soal mereka?" tanya Woojin.
"Tidak juga, tapi yang aku tahu mereka berlima tidak ada hubungan darah seperti kita. Aku hanya tahu beberapa hal soal mereka. Penganalisis terbaik di klub mereka ya si Yoo Seonho, yang kemarin berhasil membuatmu malu," Haknyeon melirik Woojin sambil cengegesan membuat Woojin hampir tak tahan untuk memukul kepalanya. "Kalau euiwoong itu yang biasa mencari dan mengumpulkan data informasi, Daehwi itu yang biasa mengumpulkan data lapangan, jadi gak heran kalau punya banyak muka. Anggota klub teater juga kan? Haknyeon melirik Guanlin dan Guanlin hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Si Jihoon dan Hyungseob, yang aku tahu hyungseob ketuanya dan Jihoon sekretaris di klub itu. Dibandingkan adik-adik kelasnya, spesialisasi mereka kurang begitu menonjol. Setahuku Jihoon itu kelewat rapi, dia punya skill manajerial yang sangat bagus. Kalau Hyungseob, orangnya cukup jeli dan punya bakat memimpin, dia bisa menyatukan semua kepribadian yang aneh-aneh itu. Bayangkan saja anggota mereka, Euiwoong yang galak nggak kira-kira, Seonho yang datar, Daehwi yang agak cabe, dan Jihoon. Dilihat dari segi manapun agak sulit percaya mereka bisa betah bersama-sama."
Mulut Samuel sudah menganga lebar sementara Woojin, Guanlin, dan Jinyoung menatap Haknyeon lekat-lekat. Mereka heran dengan semua yang diketahui Haknyeon soal klub Holmes, meskipun sebenarnya mungkin tak seharusnya mereka heran, karena sebenarnya posisi Haknyeon hampir sama dengan Euiwoong, si pengumpul informasi dalam keluarga mereka.
Di saat pembicaraan yang asik itu lampu mendadak mati. Tapi respon mereka semua biasa saja. Kegelapan bukan hal baru bagi mereka, jadi tak ada alasan untuk ketakutan atau berteriak-teriak tak jelas.
"Uangnya sudah kau bayarkan ke kantor listrik kan Sam?" tanya Jinyoung.
Terdengar suara jidat ditepuk keras dan seketika semua orang memutar bola mata malas. "Aku lupa," jawab Samuel.
"Siapa yang kemarin menyuruh Samuel? sudah dua kali kita begini," kata Woojin tajam. Dari tangannya muncul api kecil yang menyala.
Terlihat Haknyeon nyengir sambil garuk-garuk kepala. Jelas sudah siapa biang keroknya.
Woojin berdiri lalu mengambil lilin yang disimpan di lemari barang di pojok ruangan. Lilin-lilin itu lalu diletakkan di tempat lilin bercabang tiga yang terbuat dari kuningan, bagian tangkai dan alasnya yang berbentuk lingkaran berornamen daun-daun. Ia mendekatkan api di tangannya ke sumbu-sumbu lilin lalu satu persatu lilin itu menyala.
"Baru juga telat bayar sehari, tapi kantor listrik sudah seenaknya memadamkan listrik," omel Woojin.
"Sebenarnya sudah telat seminggu hyung," kata Jinyoung.
"SEMINGGU? Woojin mendelik. Langsung saja ia menatap Haknyeon dan Samuel tajam secara bergantian.
"Besok kalian ke kantor listrik, aku tak mau tahu," kata Woojin sambil meletakkan tempat lilin itu di meja tengah lalu kembali duduk di kursinya semula.
"Aku bisa menghidupkan listriknya lagi, tidak perlu menghidupkan lilin," kata Haknyeon.
"Kalau begitu cepat hidupkan, kau yang bertanggung jawab untuk semua ini," kata Woojin.
Haknyeon berdiri dari tempatnya, mengambil tempat lilin di atas meja lalu pergi begitu saja, tanpa mempedulikan ruang tengah yang kini gelap gulita.
"KENAPA KAU BAWA TEMPAT LILINNYA?" teriak Woojin kesal.
"LORONGNYA GELAP, AKU TAK BISA MELIHAT JELAS."
"INI BULAN PURNAMA, PENGLIHATANMU SEDANG TAK TERGANGGU MESKI DITEMPAT TERGELAP SEKALIPUN!"
"OH IYA, AKU LUPA!"
Woojin menghela nafas keras. Haknyeon sering sekali membuat emosi semua orang karena tingkahnya.
"Harusnya kemampuan matanya itu disumbangkan padaku saja," gumam Samuel. "Bagaimana bisa hyung sering lupa dengan kemampuannya itu."
Tak berapa lama kemudian, lampu kembali menyala terang dan Haknyeon kembali ke ruang tengah dengan lilin yang sudah padam.
"Ngomong-ngomong aku lapar," kata Haknyeon.
"Aku juga," timpal Samuel.
"Sepertinya sudah saatnya,"kata Jinyoung.
Guanlin mengerti, saat makan malam telah tiba.
"Persediaan kita juga sudah habis, jadi ini waktunya untuk berburu," kata Woojin. Matanya berkilat-kilat, dan dua buah taring muncul di deretan giginya.
Begitu juga dengan Haknyeon, Samuel, Jinyoung, dan Guanlin. Mata mereka semua sudah berkilat-kilat. Taring-taring setajam pisau muncul di deretan gigi-gigi mereka yang rapi.
"It's time."
TBC...
Hay readers, aku update lagi...
Untuk penjelasan soal kekuatan-kekuatan mereka, nanti ya... J
Jangan lupa untuk review ya...
Review kalian sangat berharga...
_Salam Author_
