Seventeen Romance

Rat : T-M

Oneshot!

Dimana kisah percintaan setiap insan manusia akan selalu berbeda

Baik itu manis, asam, pahit, asin.

Semua memiliki rasa sendiri-sendiri

Jadi...

Nikmatilah...

.

.

Happy reading

"Extra Love?"

Cast : Choi Vernon

Boo Seungkwan

Slight : Yoon Jeonghan

Genre : Drama, Angts/Hurt, Romance, Friendship, BL

.

.

.

"Extra Love"

"Kau mau berjanji padaku?"

"Apa itu?"

"Berjanjilah untuk mendapatkan cinta yang lebih baik dariku."

"Tapi aku tak bisa."

"Aku yakin kau bisa, karena akupun disana akan mencintaimu lebih dan menginginkanmu bahagia."

.

.

.

Vernon POV

"Pertahankan kesadarannya." Teriak dokter dengan terus menekan-nekan dada seungkwan yang tengah sekarat diatas ranjang sana, akupun hanya terus menggenggam bungaku dan memandang seungkwan lirih.

"Boo..."

"Seungkwan, kau dengar aku bukan? Tetaplah terjaga!" teriak jeonghan hyung sebagai dokter yang menangani seungkwan, aku hanya bisa menahan air mataku ketika rasanya aku tak tahan dengan pemandangan didepanku.

"Boo, jangan pergi..."

"Boo seungkwan..."

.

.

.

"Hei." Ucapku, seungkwanpun memandangku dan mengerucutkan mulutnya.

"Menyebalkan, kau berjanji datang tadi pagi tapi lihatlah sekarang sudah jam 2 siang." Ucapnya, akupun terkekeh dan berlutut didepannya.

"Maaf hm? Aku ada kerjaan mendadak dikantor dan aku tak bisa meninggalkannya."

"O? Apa sudah selesai? Apa aku mengganggumu?" tanyanya cemas, akupun menggeleng dan memegang pipinya.

"Tidak, aku sudah menyelesaikan semuanya." Ucapku, diapun tersenyum menggemaskan dan memelukku.

"Vernon-ie... aku lapar." Ucapnya, akupun tertawa pelan dan membalas pelukannya.

"Mau makan apa hm?" tanyaku, diapun melepaskan pelukannya dan berpikir.

"Aku mau makanan direstoran dekat rumahku yang sering kita kunjungi, apapun itu makanannya. Kau tahu, makanan rumah sakit benar-benar tak enak." Ucapnya, akupun mengelus pipinya.

"Apapun itu keinginanmu, aku akan mengabulkannya." Ucapku, diapun tersenyum lebar dan mencium pipiku.

"Kau memang suami terbaik, saranghae." Ucapnya, akupun memandangnya lirih dan berusaha tersenyum.

"Nado, nado saranghae. Jeongmal." Ucapku, kugenggam tangannya yang tersematkan cincin pernikahan kami berdua dan mengecupnya.

"Hansol-ah." Panggil seseorang, kamipun memandang kearah suara itu dan melihat jeonghan hyung memegang gagang pintu kamar rawat seungkwan.

"Hyung."

"Bisakah... kita bicara berdua?" tanyanya, diapun memandang seungkwan dan tersenyum meskipun aku tahu itu adalah senyuman pedih yang jeonghan hyung berikan padanya.

"Seungkwan, bolehkah aku meminjam suamimu sebentar?" tanyanya, seungkwanpun mengangguk semangat.

"Tentu, tapi jangan lama karena kami mau makan malam berdua." Ucapnya, jeonghan hyungpun hanya terkekeh.

"Tentu saja." Ucapnya, diapun memandangku.

"Kajja." Ucapnya, akupun berdiri dan mencium kening seungkwan sebentar sebelum pergi mengikuti jeonghan hyung yang mengajakku ke lorong sepi rumah sakit.

"Ada apa hyung? Apa ada yang salah dengan kondisi seungkwan?" tanyaku, diapun hanya menunduk.

"Hyung."

"Ini tak akan berhasil hansol-ah, dia... dia tak mungkin sembuh." Ucapnya, akupun hanya diam dan memandang jeonghan hyung yang memandangku.

"Jika terus begini, kita hanya memberikannya harapan kosong hansol."

"Aku yakin dia akan sembuh."

"Kau hanya akan terus membuat harapannya semakin tinggi, tapi ini tak mungkin hansol." Ucapnya, akupun menunduk.

"Aku tak mau kehilangannya hyung, kumohon." Ucapku, jeonghan hyungpun memelukku dan menepuk pundakku.

"Aku tahu kalian berdua menderita dengan adanya penyakit kanker ini, tapi seungkwan sudah tak akan sanggup menerima segala kemo karena tubuhnya semakin melemah hansol." Ucapnya, akupun menangis dan mencengkram jas dokter jeonghan hyung.

"Hyung, jebal." Ucapku, namun jeonghan hyung hanya mengelus kepalaku dan ini sudah memastikan jika dia tak bisa membantuku lagi.

"Aku akan berusaha, aku akan berusaha sebisaku hansol." Ucapnya, namun aku hanya terisak.

.

.

.

Seungkwan POV

Kumakan dengan lahap makanan yang baru saja sampai karea vernon memesannya, akupun memandang vernon yang hanya memandangku dan kuturunkan sendokku.

"Non-ie... waeyo? Apa kau ada masalah?" tanyaku, diapun menggeleng dan menggenggam tanganku.

"Aniyo. Aku hanya rindu mendengarkan teriakanmu dipagi hari untuk membangunkanku dan menyuruhku untuk makan sarapanmu."

"Tenang saja, sebentar lagi aku akan sembuh dan kita bisa melakukannya." Ucapku, namun aku lihat pandangan vernon menjadi sendu. Akupun hanya tersenyum karena sebenarnya aku mengetahui kebenaran kesehatanku, namun aku tak mau vernon memikirkan perasaanku yang sebenarnya.

"Non-ie." Panggilku, akupun memegang tangannya dan mengelusnya.

"Kau percaya keajaiban kan?" tanyaku, diapun memandangku.

"Dan aku berharap keajaiban itu terjadi padaku, aku tahu aku akan kembali sehat dan kembali hidup bahagia bersamamu." Ucapku, diapun menunduk.

"Seharusnya aku disini berusaha untuk menguatkanmu, tapi kenapa kau menguatkanku?" ucapnya, akupun menariknya untuk kupeluk dan kuelus kepalanya.

"Apapun yang terjadi pada kita kedepannya, aku harap kau tetap bisa bahagia."

"Bagaimana bisa aku bahagia jika itu bukan denganmu?" ucapnya, perlahan akupun menangis dan kututup mataku.

"Aku tahu kau bisa bahagia vernon, aku akan bahagia jika kau bahagia. Maka dari itu, kau harus melakukannya."

.

.

.

Akupun mengerang sakit ketika rasanya kepalaku benar-benar sakit dan ini tak tertahankan, kuusahakan untuk menekan tombol merah diatas ranjangku dan kembali mengerang. Akupun akhirnya tak bisa menahan tangisanku dan memandang kelangit.

"Tuhan, jika benar aku tak bisa bertahan lagi. Kumohon..." akupun terisak dan memejamkan mataku.

"Kumohon beri aku waktu agar aku bisa membahagiakan vernon sekali saja, hanya satu hari."

"Kumohon... hanya satu hari."

Vernon POV

Kubuka pintu kamar seungkwan dan menyerngitkan kening ketika melihat seungkwan tengah membereskan ranjangnya, akupun menutup pintu dan menghampiri seungkwan yang baru sadar akan kehadiranku.

"Kau datang."

"Boo, ada apa ini? Kenapa kau membereskan ranjangmu dan juga... pakaianmu?" tanyaku tak mengerti ketika melihat seungkwan memakai pakaian kasual.

"Tentu saja, aku sudah sembuh dan aku ingin main seharian ini bersamamu."

"Apa?"

"Aku sudah mengatakannya pada jeonghan hyung, dan dia sudah setuju."

"Apa yang kau katakan boo? Kau tak bisa pergi sekarang."

"Aigoo, aku sudah mengatakannya tadi. Jeonghan hyung bilang dia setuju itu artinya aku sudah sembuh."

"Boo, aku..."

"Ayo." Ucapnya yang langsung menarik tanganku pergi.

Jeonghan POV

Kulihat seungkwan dan juga vernon yang baru saja keluar dari kamar seungkwan, kututup mulutku menahan isakanku dan menunduk.

"Dok?"

"Aku tak bisa menolaknya, dia... dia sudah seperti ini."

.

.

.

"Aku... ingin meminta satu hari untuk keluar." Ucap seungkwan ketika aku memeriksa infusnya, aupun memandangnya.

"Apa? Untuk apa? Kwanie, kondisimu sekarang sedang tak bisa untuk diajak keluar."

"Sebentar lagi aku mati." Ucapnya, akupun terdiam dan dia memandangku.

"Aku sudah tahu semuanya hyung, aku tak mau mati dengan terus mendekam disini dan tak memberikan sesuatu pada vernon."

"Kwanie..."

"Setidaknya, biarkan aku memberikan hari terindah untuk vernon. Jebal." Ucapnya, akupun perlahan menangis dan mengangguk.

"Aku tahu kau bisa menentukan pilihanmu seungkwan, kumohon tetaplah hidup."

Vernon POV

"PANTAI!" teriak seungkwan ketika kami sampai dipantai, akupun terkekeh memandangnya yang langsung berlari kearah pantai.

"Vernon, kemarilah." Ucapnya dengan melambaikan tangannya, akupun menghampirinya dan dia memelukku ketika aku didepannya.

"Aku bahagia, benar-benar bahagia." Ucapnya, akupun membalas pelukannya.

"Hm, aku juga bahagia." Ucapku, diapun melepaskan pelukannya.

"Kau ingat? Kau melamarku disini bukan?" tanyanya, akupun terkekeh dan mengangguk.

"Iyah, tentu saja aku masih mengingatnya dengan jelas."

"Dan waktu itu seungcheol hyung benar-benar mengujimu dengan segala permintaan bodohnya, padahal dia tak punya hak melakukan itu." Ucapnya dengan mengerucutkan mulutnya, akupun tersenyum dan mengecup bibirnya cepat sampai dia memandangku kaget.

"Aku tak akan melupakan semua kenangan tentangmu, sekecil apapun itu."

"K-kau gombal lagi." Ucapnya gugup, diapun melepaskan tanganku dari pinggangnya dan berjalan duluan.

"Ya! Honey?"

"Jangan memanggilku begitu!" teriaknya, akupun terkekeh dan mengikutinya.

.

.

.

Kumasukan kayu lainnya kedalam api unggun kecil yang kami buat dipinggiran pantai, akupun melihat kearah pundakku ketika seungkwan membaringkan kepalanya dipundakku. Akupun tersenyum dan mengusap kepalanya.

"Kau lelah?"

"Aniyo, hari ini benar-benar menyenangkan. Ah benar." Ucapnya, diapun merogoh saku jaketnya dan memberikan kulit kerang padaku dan kuterima.

"Indah." Ucapku ketika melihat warna hitam namun berkilau dari kerang itu.

"Kau akan mengetahui warna lainnya ketika siang hari, ini sudah malam dan warnanya hanya hitam." Ucapnya, akupun tersenyum dan mengecup keningnya.

"Terimakasih." Ucapku.

"Kau tak akan membalasnya?" tanyanya, akupun mengangguk.

"Tentu, kau mau apa?" tanyaku, diapun berpikir.

"Bawakan bunga krisan besok pagi untukku kerumah sakit."

"Hanya itu?" tanyaku, diapun bangkit dan memandangku.

"Kau mau berjanji padaku?" tanyanya dengan wajah sendu, akupun memandangnya lekat.

"Apa itu?"

"Berjanjilah untuk mendapatkan cinta yang lebih baik dariku." Ucapnya, akupun terdiam sebentar dan menggeleng.

"Tapi aku tak bisa."

"Aku yakin kau bisa, karena akupun disana akan mencintaimu lebih dan menginginkanmu bahagia." Ucapnya dengan tersenyum, dengan segera kugenggam tangannya dan menggeleng.

"Kau tak akan kemana-mana, aku tak akan membiarkannya." Ucapku, diapun tersenyum dan menggenggam tanganku juga

"Aku tahu itu, tapi tak ada salahnya berjanji bukan?" tanyanya, diapun kembali menyandarkan kepalanya ke pundakku.

"Haaah, tenangnya." Ucapnya, namun aku hanya diam.

Seungkwan POV

"Nah, sudah sampai." Ucapku senang, namun ketika akan keluar vernon memegang tanganku dan aku memandangnya.

"Hm, ada apa?"

"Berjanjilah boo." Ucapnya, akupun memandangnya heran.

"Berjanjilah untuk bertahan, bertahan demi aku." Ucapnya, akupun tertegun sebentar dan tersenyum dengan membalas genggaman tangannya.

"Tentu saja, bukankah sekarang aku sudah melakukannya."

"Tapi aku butuh kepastian." Ucapnya takut, akupun mendekat dan mencium bibirnya. Diapun membalas ciumanku dan memegang pipiku, kulepas ciuman kami berdua dan kutatap kedua matanya.

"Saranghae, choi hansol." Ucapku, akupun tersenyum dan keluar dari mobilnya. Diapun melajukan mobilnya ketika aku memberikan isyarat untuk segera pulang. Akupun menurunkan tanganku dan memandang sendu kedepan.

"Aku berusaha, tapi aku sudah tak tahan lagi. Maafkan aku, selamat malam." Ucapku, akupun berjalan masuk kedalam rumah sakit ketika melihat jeonghan hyung ada dipintu masuk rumah sakit.

Vernon POV

Akupun keluar dari toko bunga dan menatap puas bunga krisan yang diinginkan oleh seungkwan, kuhirup bunga itu dan berjalan masuk kedalam mobilku. Kukendarai mobilku setelah meletakan bunganya disampingku, akupun bersenandung pelan dan sesekali memandang bunganya senang.

Setelah sampai rumah sakit, kubawa bunganya dan berjalan masuk ke rumah sakit menuju ruangan seungkwan. Namun aku tertegun ketika para dokter berlari kearah ruangan seungkwan termasuk jeonghan hyung diantaranya, akupun berlari kedalam ruangan itu dan melihat segala alat rumah sakit sudah tertempel ditubuh seungkwan. Jeonghan hyungpun memandangku dan dia menggeleng sedih kearahku, akupun memandang seungkwan yang tengah ditangani oleh para dokter.

"Boo..."

"Seungkwan! Kumohon bertahanlah." Teriak jeonghan hyung putus asa, diapun menempelkan kembali pengejut jantung pada dada seungkwan namun garis lurus menyebalkan dilayar itu tak juga hilang.

"Boo, jangan..." lirihku, kuremas bungaku dan berjalan mundur ketika rasanya benar-benar lemas.

"Boo seungkwan."

Hening

Kulihat jeonghan hyung menurunkan alatnya, diapun memandangku sebentar dan menunduk.

"Boo seungkwan, 25 tahun. 08.13 pagi." Ucapnya pada susternya, akupun menggeleng tak percaya dan menyingkirian semua yang mengelilingi seungkwan.

"Tidak, tidak mungkin. Boo kumohon, bangunlah." Ucapku dengan mengguncang pundak seungkwan, namun dia hanya diam.

"Seungkwan!"

"Hentikan hansol-ah." Ucap jeonghan dengan menarikku menjauh dari seungkwan.

"Tidak, seungkwanku belum mati. Dia masih hidup hyung."

"Hansol!"

"Tidak, seungkwan." Teriakku, namun para suster mencabut segala peralatan rumah sakit seungkwan dan menarik selimutnya sampai kewajahnya.

"Seungkwan... seungkwan... SEUNGKWAN!"

.

.

.

Kuhanyutkan bunga krisan kedalam air pantai yang tengah berderu ombak, akupun memandang kedepan dan melihat luasnya pantai didepanku. Kupejamkan mataku mendengarkan suara ombak dipantai ini dan memasukan tanganku kesaku namun kubuka mataku ketika merasakan sesuatu dan mengeluarkannya dari sakuku. Akupun melihat kerang yang seungkwan berikan kepadaku dan aku tersenyum ketika warna pelangi terpantul dari kerang itu, akupun mengangkat kerang itu keatas dan warnanya semakih terlihat jelas.

"Yah kau benar, warnanya semakin indah." Ucapku, kembali kuturunkan kerang itu.

"Aku tahu kau sekarang tengah bahagia, akupun akan ikut bahagia jika kau bahagia sayang." Ucapku, kulemparkan kerang itu kedalam laut dan tersenyum.

"I love you, and always love you." Ucapku dengan berbalik dan pergi.

.

.

.

Annyeong readernim...

Kali ini aku bawakan Verkwan, si pasangan yang menggemaskan hehehe

Untuk selanjutnya couple yang aku bawakan adalah

Seoksoon

Junhao

Soonhoon

...

Thanks yang sudah setia menunggu karyaku

Saranghae! (love sign)

Annyeong, jinjun imnida...