Sudah 4 hari sejak ujian berakhir. Karena permintaan Guanlin, kepala sekolah akhirnya menyelenggarakan ujian ulang dan hasilnya ? sangat berbeda dengan hasil ujian pertama. Meski nama Guanlin dirahasiakan, tapi kabar bahwa dialah yang mempengaruhi kepala sekolah tetap tersebar ke seluruh sekolah. Entah siapa yang menyebarkan. Akibatnya Guanlin mendapat banyak hujatan dari siswa-siswa yang kesal.
Guanlin sedang duduk tenang di kursi dekat panggung teater, tak mempedulikan tatapan tajam dari teman-teman satu klubnya. Ia sama sekali tak terlihat terbebani.
"Sama sekali tak terganggu dengan mereka sunbae?" tanya Seonho tiba-tiba dari arah belakang.
Guanlin menoleh dan tersenyum tipis. "Kau dan gengmu menerima kesepakatan waktu itu karena berharap aku terganggu dan tekanan batin karena mereka? Kejam sekali caramu seonho."
Ganti Seonho yang tersenyum tipis. "Jangan berpikiran buruk dulu sunbae, bukannya waktu itu sunbae sendiri yang mengusulkan ide ujian ulang?"
Seonho duduk di kursi yang berhadapan dengan Guanlin, mereka hanya dipisahkan oleh meja sempit. "Naskah sunbae sudah selesai?" tanyanya.
"Aku masih belum menemukan alur yang pas."
"Perlu bantuan?"
Guanlin tersenyum penuh arti. "Mungkin sedikit bantuan."
"Jika butuh bantuan katakan saja sunbae, jika aku tak sibuk pasti akan kubantu."
"Terima kasih," jawab Guanlin dengan senyum yang masih belum lepas. "Ngomong-ngomong Seonho-ya, kau bisa main catur?"
Seonho menatap Guanlin beberapa detik kemudian mengangguk pelan.
"Aku sedang bosan, bisa temani aku main catur?" Guanlin mengeluarkan papan catur kecil dari dalam tas ransel.
Seonho menatap papan catur itu sekilas lalu menatap Guanlin dengan raut heran, "Sunbae membawa papan catur ke sekolah?"
"Kau pikir belajar dari pagi sampai menjelang malam di sekolah tidak membuatku jengah? Aku punya cara sendiri untuk mengusir jenuh,"kata Guanlin sambil meletakkan papan catur itu ke atas meja.
"Sebenarnya aku juga suka main catur, jadi aku tak masalah kalau kita berduel,"jawab Seonho dengan tatapan menantang.
Guanlin hanya tersenyum tipis menanggapi tantangan tersurat Seonho. Ia tak pernah kalah bermain dengan Woojin dan Jinyoung, tapi Seonho itu lain lagi, ia sama sekali tak tahu tipikal permainan seonho atau seperti apa kepribadiannya, karena itu Guanlin penasaran apa kali ini ia akan kalah atau menang.
"Hitam atau putih?" tanya Guanlin.
"Putih."
Guanlin menyusun bidak-bidak catur hitam sesuai tempatnya, begitu juga Seonho. "Biar aku mulai duluan," kata Guanlin sambil menjalankan pion 2 langkah.
Seonho menjalankan pionnya yang berada di depan bishop satu langkah. Permainan terus berlangsung dan memakan waktu berjam-jam karena masing-masing berpikir cukup lama sebelum melangkahkan bidak.
"Apa bidak faforitmu ho?" tanya Guanlin setelah ia menjalankan bishopnya.
"Sejujurnya aku suka queen dan rook,"ujar Seonho sambil memakan pion Guanlin dengan Rook. "Bagiku dua jenis bidak itu perpaduan yang sangat bagus."
Guanlin melangkahkan quuennya lurus hingga jauh ke area Seonho, memakan salah satu pion lawan."Kurasa queen memang jadi faforit semua orang, kuasanya luar biasa."
Seonho berpikir sebentar lalu melangkahkan bishopnya. "Kalau kau apa sunbae?"
Guanlin melirik ke bidak-bidak Seonho yang sudah ia taklukkan. Kebanyakan dari bidak-bidak itu adalah pion, sisanya satu kuda dan satu bishop, hanya 2 pion Seonho yang tersisa. "Kau sepertinya tak begitu memperhatikan pion-pion mu ya?"
Seonho ganti melirik ke bidak-bidak Guanlin yang sudah ia dapatkan, 2 pion, 1 bishop dan satu rook. Pion Guanlin masih banyak.
Guanlin memakan rook Seonho dengan kudanya, tapi balasannya? Guanlin harus menghela nafas karena queen miliknya dimakan kuda milik Seonho. Kehilangan yang cukup besar.
"Ini terlalu jelas," kata Guanlin sambil memakan kuda Seonho dengan kudanya yang lain. Dengan begini kesatria Seonho hanya tinggal satu rook, satu bishop, queen, dan king. Sementara ksatria Guanlin masih dua knight, satu bishop, satu rook, dan king.
"Mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu."Guanlin bersiul kecil.
Mesi jumlah ksatria Guanlin yang tersisa lebih banyak tapi Seonho tak terlihat terintimidasi sama sekali. Justru setelahnya satu persatu pion Guanlin dimakan oleh Seonho hingga tersisa 3 saja , bahkan bishop Guanlin akhirnya juga dimakan Queen milik Seonho. Seonhoo benar-benar memanfaatkan queen miliknya dengan baik.
"SKAK," Seonho berhasil menskak king milik Guanlin dengan queen.
Guanlin melangkahkan kingnya sehingga terhalang salah satu pionnya. Guanlin masih selamat. "Jangan meremehkan sebuah pion," ujarnya.
Seonho melangkahkan rooknya, dalam strategi ini, satu langkah lagi Seonho mungkin akan berhasil meskak mat king milik Guanlin dengan kepungan Queen, Roook, dan bishop. Tapi siapa sangka Guanlin bergerak lebih cepat dari yang ia duga.
"Ngomong-ngomong soal bidak faforit...,"Guanlin menjalankan kudanya, "Bidak faforitku itu Knight."
Seonho bengong beberapa saat. King nya sudah tak bisa jalan kemana-mana karena terkepung oleh dua kuda dan dua pion Guanlin. Dengan begini permainan berakhir dan Guanlin menang. Tanpa Seonho sadari, Seonho terlalu terfokus membuat strategi untuk menskak king milik Guanlin, ia tak sadar bahwa ia justru sudah terperangkap. Pertahananya lengah.
Selama permainan catur ini Guanlin mencoba mempelajari seonho, dan dia mendapatkan beberapa kesimpulan. Seonho itu diam-diam sangat ambisius, terlihat dari caranya melangkahkan setiap bidak. Tak segan mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, menggunakan pion-pionnya bahkan kesatrianya demi mendapatkan bidak sasarannya dan berani dalam mengambil langkah. Tapi strateginya tak main-main, meski Seonho terlihat mengorbankan apa yang ia punya begitu saja. Guanlin sempat kelabakan di tengah-tengah permainan tadi hingga ia harus memutar otak keras.
Seonho memang cerdas dan terlihat tenang, tapi sifat ambisiusnya itu juga menciptakan celah pada permainanya, dan akhirnya Guanlin berhasil memanfaatkannya. Guanlin memancing Seonho untuk memusatkan perhatiannya pada king miliknya. Guanlin yang awalnya begitu menjaga pertahannya dan menjaga setiap bidaknya, akhirnya mengorbankan pion bahkan queen miliknya dengan sengaja, , memancing ambisi Seonho semakin kuat hingga dia terbawa suasana. Dan diam-diam menjalankan strateginya.
"Wah, padahal aku tinggal selangkah lagi untuk menghabisi raja milik sunbae,"kata Seonho kecewa.
Guanlin tersenyum tipis. "Itu tadi sangat seru, sampai-sampai kita tak sadar ini sudah hampir malam dan hanya tinggal kita berdua di sini."
Seonho menengok ke sekelilingnya yang ternyata sudah sepi, semua teman satu klubnya sudah meninggalkan mereka.
"Oh ya, untuk rencana tour liburan musim panas ini kau akan memilih pergi kemana Seonho?" tanya Guanlin sambil memasukkan semua bidak ke dalam papan catur.
"Entahlah,"jawab Seonho sambil memasukkan beberapa lembar kertas yang berisi catatan-catatan evaluasi rapat klub teater hari ini ke ransel.
"Bagaimana menurutmu seandainya geng mu dan saudara-saudaraku memilih tujuan yang sama?"
Seonho membeku seketika dan menatap Guanlin yang tengah menutup papan caturnya lalu memasukkannya ke dalam ransel. Setelah menutup resleting ranselnya rapat, Guanlin membalas tatapan Seonho sambil tersenyum tipis. "Bagaimana menurutmu?"
"Kurasa akan menyenangkan," jawab Seonho. Salah satu sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas, sangat sedikit hingga tak terlihat oleh Guanlin. "Tapi jika itu terjadi aku tak akan tahan dengan umpatan-umpatan euiwoong," lanjutnya.
"Sebegitu bencinya temanmu itu dengan Haknyeon."
"Sangat," jawab Seonho tanpa basa-basi.
"Kuakui Haknyeon memang menyebalkan, tapi sebenarnya dia baik."
"Justru aku akan heran kalau sunbae sebagai saudaranya mengatakan sebaliknya."
"Kau tak percaya?"
"Percaya atau tidak itu tidak penting, yang jelas aku tak punya urusan dengan Haknyeon sunbae, itu sudah cukup,"jawab Seonho sambil berdiri. Kedua tangannya memegang tali tas ranselnya.
"Baiklah, sebaiknya kita pulang sekarang, ini sudah malam,"kata Guanlin.
Setelah mengunci ruang klub, mereka lalu berjalan menyusuri koridor sekolah yang sebagian lampunya sudah dimatikan. Hanya lampu-lampu di ruang kelas saja yang masih menyala. Biasanya security yang akan mematikannya setelah jam 8 malam.
"Mau kuantar?" tanya Guanlin setelah mereka sampai di parkiran.
"Aku bisa naik bus,"jawab Seonho.
"Biar kuantar," kata Guanlin sambil memakai jaket kulit hitamnya.
"Tidak perlu sunbae."
"Naiklah."
"Tidak usah."
"Tapi aku tak membawa helm lagi, kuharap kau tak masalah, aku akan hati-hati," kata Guanlin tanpa menggubris sedikitpun ucapan Seonhoo. Ia sudah memakai helmnya yang berwarna hitam mengkilat dan duduk di sadel motor, bersiap untuk menyalakan starter.
"Aku pulang sekarang,"kata Seonho dengan wajah sedatar tembok, menyembunyikan kekesalannya karena ucapannya sama sekali tak digubris. Ia sudah berbalik dan melangkah namun kerah seragam belakangnya ditarik Guanlin.
"Kuantar jadi naiklah sekarang. Untuk masalah kecil seperti ini hanya akan buang-buang tenagamu jika kau emosi denganku."
Seonho menghela nafas keras, lalu naik ke atas motor. Berdebat tidak ada gunanya dan dia juga sudah lelah. Suara gas starter motor memecah keheningan di parkiran yang sudah hampir kosong, lalu disusul suara deru motor yang melaju pelan.
Selama diperjalanan Seonho sama sekali tak berpegangan pada Guanlin meski Guanlin memacu kecepatan hingga 80km/jam, dia justru lebih memilih berpegangan pada bagian belakang sadel motor. Rambut Seonho berterbangan tak karuan diterpa angin kencang. Berali-kali Guanlin menyelip mobil maupun sesama motor. Suasana malam jalanan kota Seoul cukup ramai, tapi Guanlin sama sekali tak berniat mengurangi kecepatan. Gedung-gedung pencakar langit di sisi-sisi jalan, toko-toko besar yang lampu-lampunya berkilauan dan dipenuhi orang-orang yang berbelanja menjadi pemandangan tersendiri bagi Seonho.
Sekitar 15 menit kemudian mereka sampai di rumah Seonho. Begitu Guanlin menghentikan motornya di depan pagar rumahnya, Seonho langsung turun.
"Terima kasih."
Guanlin melepas helmnya lalu mengangguk. "Anggap saja bayaran karena sudah menemaniku main catur."
"Bayaran yang tidak seimbang."
"Memang tak seimbang, aku hanya membayar tenaga, padahal kau sudah memeras otak dan menghabiskan tenaga karena main catur denganku."
"Bukan itu sunbae..."
"Panggil saja hyung Seonho,"potong Guanlin. "Kita sudah lama satu klub, tapi kau terus memanggilku sunbae, rasanya sangat canggung."
"Kalau begitu kenapa tidak menyuruh dari dulu?" kata Seonho asal nyeplos.
"Kau terlihat sangat kaku dan seingatku kita bicara hanya saat rapat. Bukankah aneh aku tiba-tiba mengatakan itu di saat rapat formal?"
Seonho mengangguk mengerti. "Baiklah hyung, ini sudah malam, sebaiknya segeralah pulang sebelum saudaramu khawatir."
Guanlin tersenyum tipis. "Pengusiran yang sangat halus Seonho, kau tahu jelas mereka tak akan khawatir, ini bahkan belum jam 8 malam."
"Haruskah aku mengatakan 'segeralah pergi hyung karena aku lelah, sejujurnya aku lebih tertarik dengan kasurku dari pada menghabiskan waktu mengobrol denganmu?' begitu?" jawab Seonho dengan tangan bersidekap.
"Baiklah..baiklah, aku pergi,"ujar Guanlin sambil memakai helm nya lagi. "Selamat malam,"lanjutnya sebelum menutup kaca helm dan menggas motornya meninggalkan rumah Seonho.
Seonho menatap punggung Guanlin yang menjauh hingga menghilang di belokan jalan. Kemudian dia berbalik, membuka pagar dan massuk ke dalam rumah.
.
$%$%^^&&*
.
.
"Dari mana saja?" tanya Woojin saat melihat Guanlin melewati ruang tamu. Semua orang saat ini sedang berkumpul di ruang tamu, membuat Guanlin agak heran karena mereka seperti habis membicarakan sesuatu.
"Sekolah," jawab Guanlin santai.
"Duduklah," ujar Woojin.
Guanlin menurut dan duduk di sebelah Jinyoung. "Ada apa?"
"Kita sedang membicarakan pilihan tempat liburan musim panas," jawab Woojin.
"Lalu?"
"Ada 5 pilihan tempat hasil voting terbanyak dari seluruh siswa, ada Jeju, Bonseong green tea field, Namiseom, Ulleungdo, dan Pulau Udo. Kita bisa memutuskannya bersama."
Haknyeon bersiul kecil. "Ternyata siswa-siswa sekolah kita banyak yang kaya, tempat-tempat hasil voting adalah tempat dengan budget yang lumayan, yang budgetnya paling ringan karena paling dekat hanya Namiseom," komentarnya.
"'Padahal pulau Udo dekat dengan jeju, hanya sekitar 15 menit menyebrang dengan kapal fery dari Jeju, tapi kenapa dijadikan opsi tersendiri," protes Samuel, "Harusnya ada Yang Dong Traditional Village, itu tempat bersejarah, aku ingin ke sana," lanjutnya.
"Aku agak heran Namiseom masuk daftar voting terbanyak, mereka bahkan bisa pergi ke sana sendiri-sendiri," kata Woojin.
"Itu berarti siswa sekolah kita sudah banyak yang taken, liburan bersama selama beberapa hari di Namiseom dengan suasana romantis, jarang-jarang pasangan yang melewatkan kesempatan modus seperti itu," ujar Samuel asal nyeplos tapi masih cukup masuk akal. "Tapi sayangnya kita semua jomblo," lanjutnya dengan nada yang hampir mirip gumaman.
Woojin dan Jinyoung serempak memutar bola mata malas mendengarnya.
"Sebenarnya aku ingin ke jeju," kata Haknyeon dengan nada agak sendu. Ia rindu kampung halamannya. Terakhir ia ke sana setahun yang lalu.
Samuel menggeleng. "Pilih yang lain, aku bosan dengan jeju. Bongseong?"
"Tempat itu menyegarkan, ibu kotanya teh di Korea, aku tertarik dengan rasa teh yang diseduh langsung di sana," kata Jinyoung.
"Sebenarnya aku ingin tempat yang menantang," kata Woojin.
"Ulleungdo?" usul Jinyoung.
"Kenapa?" tanya Woojin.
"Karena kudengar Euiwoong membicarakan tempat itu dengan semangat berapi-api saat di perpustakaan tadi siang bersama gengnya."
Semua mata langsung tertuju ke arah Jinyoung membuat Jinyoung sedikit risih. Mata Haknyeon berbinar-binar, Samuel nampak berpikir, Woojin sudah menunjukkan smirknya, sementara Guanlin terlihat biasa saja, bahkan terkesan kurang tertarik.
"Toh kemanapun tujuannya, bagimu akan jadi menantang kalau ada mereka kan hyung," kata Jinyoung sambil menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Fix, kita pilih Ulleungdo," kata Haknyeon memutuskan begitu saja.
"Ehm...," Woojin berdehem, "Kurasa Ulleungdo boleh juga, kudengar itu tempat yang nuansa alamnya sangat bagus, tak kalah dengan jeju," timpalnya.
"Bagaimana Lin?" tanya Woojin sambil menatap Guanlin yang sejak tadi hanya diam dan tak terlihat tertarik dengan pembahasan ini.
"Whatever."
"Ok, everyone agree with this decision right, so...let's have fun together," ujar Samuel semangat.
"Let's play," kata Woojin dengan smirk gingsulnya.
.
$%^&^*&(*& #
.
.
Bagi Daehwi hari ini sangat menyenangkan karena dia dan gengnya akan pergi liburan musim panas bersama siswa-siswa lain yang memilih destinasi sama. Beberapa hari lalu, setelah debat panas antara dia dan Euiwoong, gengnya menjatuhkan pilihan pada pulau ulleungdo, pilihan Euiwoong. Sebenarnya Daehwi ingin pergi ke pulau Jeju, tapi karena Seonho dan Hyungseob mendukung Euiwoong, otomatis ia kalah voting.
Parkiran sudah penuh dengan mobil-mobil orang tua yang mengantarkan anaknya. Banyak gadis-gadis yang heboh sendiri, barang bawaan mereka sampai bertas-tas seolah mereka akan pergi selama sebulan, padahal nyatanya hanya seminggu.
Daehwi memperhatikan segerombolan gadis-gadis yang sibuk menata rambut, memakai liptin sambil menghadap kaca kecil, membenahi bedak, atau mengobrol heboh dengan teman disebelahnya. Daehwi risih sendiri melihat pemandangan itu, padahal dia sendiri juga sibuk berkaca dari tadi.
"Sepertinya banyak yang memilih pulau Jeju," kata Jihoon saat melihat deretan bus yang di kaca depannya ditempeli kertas bertuliskan jeju island jumlahnya paling banyak.
"Sudah bisa di duga kan,"jawab Hyungseob.
"Tapi sepertinya yang memilih Ulleungdo tidak begitu banyak, yang paling sedikit malah,"kata Euiwoong.
"Eh..eh, guyss," Dehwi menepuk-nepuk bahu Euiwoong secara tiba-tiba namun tatapannya mengarah ke satu objek.
"Apa sih be?" bentak Euiwoong karena tak nyaman dengan tepukan Daehwi yang cukup keras.
"Itu Woojin sunbae jalan ke arah sini," kata Daehwi.
Kening Hyungseob berkerut, begitu juga Euiwoong dan Jihoon.
"Jangan bilang mereka...,"Daehwi membekap mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya dengan dugaanya sendiri.
Euiwoong sudah terlihat ingin mengumpat tapi ia masih menahan diri.
"Semoga hanya lewat,"kata Jihoon. Tapi nyatanya harapannya tak terkabul karena Woojin dan gengnya berhenti tepat di depan mereka.
"Ulleungdo juga?"tanya Woojin pada Hyungseob.
"Kau juga?"
Woojin menyeringai kecil. "Tak kusangka tujuan kita sama."
Hyungseob berdecih pelan sambil kedua tangannya berkacak pinggang, "Sebenarnya apa lagi yang kau rencanakan Woojin."
"Apa yang kau pikirkan? Jangan berpikiran buruk terus tentang kami karena masalah yang lalu."
"Awas saja kalau sunbae membuat masalah lagi," kata Euiwoong.
"Hai Ung,"sapa Haknyeon dengan cengiran lebar yang terlihat seperti orang idiot di mata Euiwoong.
"Dan kau, berhenti mengangguku!" bentak Euiwoong sambil menunjuk Haknyeon, seolah sama sekali tak ada sopan santun yang tersisa pada Euiwoong jika sudah berurusan dengan Haknyeon.
"Ung...," tegur Hyungseob tegas sebagai peringatan agar ia lebih menjaga sikapnya pada sunbae.
Euiwoong menghela nafas keras lalu memilih untuk mundur ke dekat Jihoon agar emosinya meredam.
Seonho menatap Guanlin yang ternyata juga tengah menatapnya. Keduanya berpandangan beberapa detik lalu dengan senyum tipis Seonho berkata,"Kebetulan sekali hyung."
Keempat orang di sekitar Guanlin dan empat orang lain di sekitar Seonho menatap Guanlin dan Seonho bergantian dengan heran. Seonho memanggil hyung? Sejak kapan mereka akrab?
"Lupakan saja kejadian yang lalu, sekarang kita hanya perlu bersenang-senang," kata Guanlin.
Belum hilang rasa heran mereka, terdengar suara yang memerintahkan semua siswa berkumpul di dekat bus tujuan masing-masing. Percakapan mereka terhenti dan semua perhatian tercurah pada wanita paruh baya yang memegang pengeras suara persis di depan pintu masuk bus. Wanita itu menjelaskan panjang lebar mengenai informasi dan aturan selama tour. Hampir 17 menit wanita itu berbicara, itu sudah termasuk mengabsen seluruh siswa dengan tujuan ulleungdo.
"Sudah saatnya," kata Guanlin saat mereka diperbolehkan masuk ke dalam bus.
"Ini akan menyenangkan,"jawab Haknyeon.
"Kuharap mereka tak merencanakan hal-hal aneh lagi,"bisik Hyungseob.
"Awas saja kalau mereka berulah, aku tak akan segan-segan memasukkan mereka ke daftar hitam catatan kedisiplinan,"bisik Euiwoong geram. Hyungseob menatap Euiwoong ngeri. Adik kelasnya ini tidak akan tanggung-tanggung kalau memberikan serangan balasan. Karena prinsipnya adalah,"Jika dipukul sekali, maka balas dua kali."
Dalam kasus Ha Min Ho sebenarnya Euiwoong juga yang menyebarkan seluruh kebobrokan laki-laki itu. SEMUANYA, TANPA TERKECUALI. Meskipun Hyungseob juga mendukung karena tak terima teman sebangkunya terus dibully, tapi ide balasan sengit itu berasal dari Euiwoong. Bahkan dengan santainya Euiwoong memasukkan nama Ha Min Ho ke daftar hitam.
Soal daftar hitam catatan kedisiplinan, nama yang tercantum di sana berarti sudah pasti tidak naik kelas meskipun semua nilai dalam raport A. Tidak bisa sembarangan memasukkan nama ke dalam daftar hitam, harus kesalahan yang sangat fatal, tapi karena kasus kemarin akan mudah saja bagi Euiwoong memasukkan nama Haknyeon,Woojin, dan Samuel. Bukankah mencuri kunci jawaban ujian semester itu sudah perbuatan fatal?
"Kalau mereka berulah tenang saja, siap-siap kulipstiki bibir mereka satu-satu dengan warna merah mawar, biar malu"oceh Dehwi.
"Apa sih wi, gak jelas,"sahut Euiwoong.
"Jangan nyahut terus kenapa sih Ung kalau aku ngomong, bosen ah!" Daehwi nyolot.
Euiwoong sudah mendelik tajam tapi Hyungseob buru-buru memisahkan mereka sebelum mereka cakar-cakaran. "Mulut mau dilakban satu-satu ha!"
Euiwoong dan Daehwi langsung membuang muka. Hyungseob mengelus dada sabar, selalu dia jadi seperti juri dalam pertandingan tinju kalau ada di tengah-tengah mereka. Punya adik kelas kok nggak beres.
Sementara Jihoon dan Seonho dari tadi adem ayem. Seonho malah asik mengunyah makanan ringan. Sesekali dia menyuapi Jihoon.
"Sebenarnya kelakuan mereka juga absurd semua,"bisik Samuel pada Haknyeon saat akan masuk ke bus.
Haknyeon tersenyum lebar, "Orang manis sih bebas mau kelakuannya absurd bahkan abnormal,"ujarnya sambil menatap Euiwong.
Dan hal itu hanya dibalas dengan helaan nafas jengah dari adik tirinya.
.
.
.
TBC...
Hay readers, update lagi, lagi semangat nulis ini...
Semoga kalian suka dengan chapter ini
Oh ya sedikit curhat, author excited banget waktu lihat kabar Seonhoo sama Hyungseob mau main web drama "Mischievous Detectives".
Temanya kebetulan agak nyrempet-nyerempet sama genre ff ini, rasanya seneng banget terlepas itu benerana tau nggak...Imajinasi author jadi makin kemana-mana
Jadi jangan lupa Review plis...
Aku GEMES SANGAT DENGAN SIDER ih...
_Salam Author_
