Ulleungdo island merupakan daratan yang terletak di sebelah timur semenanjung korea, cukup jauh jaraknya dari Seoul. Untuk mencapainya selain perjalanan darat yang jauh rombongan masih harus menyebrang menggunakan kapal fery.
Tapi perjalanan yang jauh dan melelahkan ini tidak menjemukan sama sekali bagi yang kebetulan satu bus dengan geng Seonho. Jelas tidak menjemukan karena sepanjang jalan disuguhi pertengkaran antara Daehwi dan Euiwoong. Hyungseob sudah tak mau jadi wasit, jadi dia memilih duduk dengan Jihoon dan Seonho. Seonho dekat jendela, ia ditengah, dan Jihoon di pinggir. Telinganya ia sumpal dengan headseat lalu memutar musik keras-keras. Indah sudah perjalanan Hyungseob.
Herannya, ada saja yang Daehwi dan Euiwoong ributkan, Pertengkaran pertama dipicu karena barang bawaan Dehwi yang membuat tempat duduk sesak, tapi Dehwi justru membalas mengatai Euiwoong bantet.
"Eh sialan, ini barang buang aja kenapa wi," bentak Euiwoong. Padahal bus masih belum ada lima menit jalan.
"Eh, masalahnya bukan di barang bawaanku, tapi tempat duduknya gak muat gara-gara badanmu BANTET," Daehwi mengeraskan kata terakhir.
"SIAPA YANG BANTET HA? NGACA ! DIMANA-MANA CABE ITU BODYNYA BAGUS WI, GAK KURUS KAYAK KAYU KERING."
Jihoon sampek harus menutup telinga karena teriakan Euiwoong yang persis ada di sebelahnya. Posisi duduk Euiwoong dan Jihoon hanya dipisahkan jalur untuk melintas penumpang.
Tiba-tiba Sewon menyembulkan kepalanya dari kursi depan Seonho dan berkata,"Seob, Hoon, anak-anakmu dikondisikan dong." Meski terlihat kesal tapi nada bicaranya tetap halus dan kalem.
Jihoon menghela nafas jengah, ia tak biasa berteriak-teriak. Biasanya Hyungseob yang selalu melerai mereka. Tapi Hyungseob malah pura-pura budeg dan asik sendiri.
"Pusing kepalaku denger mereka, pengen tidur,"kata Sewoon lagi. Jihoon tambah gak tega lihat wajah Sewoon yang memelas. Sewoon memang dalam kondisi tak begitu sehat sehingga rentan mabuk darat. Ia harus tidur jika ingin menghindari mual.
"Bilangin gih hyung,"kata Seonho.
Jihoon menghela nafas keras, sepertinya tidak ada pilihan lain. Jihoon berdehem untuk membasahi tenggorokannya lalu dengan sekali tarikan nafas Jihoon berteriak,"WI..UNG, DIEM ATAU HYUNG LEMPAR DARI BUS, DIKIRA INI BUS ISINYA CUMA KALIAN. KASIHAN SEWOON MAU TIDUR!"
Seketika pertengkaran Daehwi dan Euiwong berhenti. Tatapan mereka terpaku pada Jihoon yang menampakkan wajah horor. Daehwi meneguk ludah, buru-buru dia duduk anteng sambil menghadap ke luar jendela sementara Euiwoong langsung mengambil air mineral di ransel dan meminumnya. Pandangannya mengedar kemana-mana asal tidak pada Jihoon.
"Kau sudah bisa tidur won,"kata Jihoon.
Sewoon tersenyum kalem. "Makasih hoon,"ujarnya lalu kembali duduk dengan benar.
Untung Jaehwan tidak satu bus dengan Sewoon. Kalau iya, habis sudah Daehwi dan Euiwoong. Jaehwan itu meski juga kalem, tapi kalau berurusan dengan hal yang menganggu Sewoon, dia berubah horor. Memang status mereka berdua apa? teman kok, teman baik.
Itu hanya satu cerita saja. Nyatanya, selanjutnya masih ada serentetan cerita keributan mereka yang membuat Sewoon tak bisa tidur hingga berakhir tepar karena mabuk darat. Wanita paruh baya yang memandu mereka sebelum berangkat sudah mendelik berkali-kali sebagai peringatan, tapi efeknya hanya sebentar.
Jihoon sudah jengah, jadi dari pada membuang-buang tenaga, dia pilih ikut-ikutan memasang headseat seperti Hyungseob. Seonho? Dia tidur pulas sejak 30 menit perjalanan awal. Anak itu memang ajaib. Hanya dia di Bus yang bisa tidur tanpa menyumpal telinga dengan headseat.
$%%^%&
.
.
.
Sekarang mereka sudah sampai di Ulleungdo island. Pulau ini dijuluki pulau misterius karena pemandangannya menakjubkan, dan hal itu sekarang memang terbukti di depan mata. Ulleungdo merupakan pulau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik, sama seperti Jeju sehingga memiliki formasi tanah dan jalur hiking yang menakjubkan.
Ketika turun dari kapal fery Seonho berdecak kagum karena pemandangan pantai yang mengagumkan. Birunya laut berpadu dengan tebing-tebing, pepohonan, dan bebatuan yang tertata secara alami. Sayangnya Sewoon tak bisa menikmatinya karena tubuhnya sangat lemas. Sepanjang perjalanan dia muntah lebih dari 3 kali. Kenta yang duduk disebelahnya sampai kelabakan mengurus Sewoon. Dan semua itu gara-gara dua orang tak tahu diri. TAK TAHU DIRI!
"HYUNGSEOBBB!" teriakan melengking keras menyapa indra pendengaran Hyungseob ketika di dermaga.
Hyungseob, Jihoon, Euiwoong, Daehwi, dan Seonho sontak menoleh ke sumber suara. Di belakang mereka Sewoon sedang dipapah Kenta dan Jaehwan. JAEHWAN? Hyungseob langsung meneguk ludah. Aura laki-laki itu sangat tidak enak saat menatap mereka berlima.
"Kau dan anak-anakmu,"ujarnya sambil menatap Euiwoong dan Daehwi tajam, "Kalian harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa'an sih? Dikira hamilin anak orang," sewot Hyungseob.
"Gara-gara dua bocah ini kondisi Sewoon jadi gak karu-karuan."
"Udahlah Jae, biarin aja, aku udah capek banget," ujar Sewoon melerai.
Mendengar suara lembut Sewoon Jaehwan langsung adem, seolah ia lupa dengan orang-orang yang barusan membuat kemarahannya hampir meledak. Dengan wajah khawatir dan suara lembut ia berkata,"Ya sudahlah, aku nyusup ke bis kamu ya, biar bisa jagain. Gak papalah duduk samping supir."
Sewoon menggeleng tapi sepertinya Jaehwan tak berniat menurut.
Hyungseob dan Jihoon hanya saling pandang lalu keduanya serempak memperhatikan Jaehwan, Sewoon, dan Kenta yang berjalan lebih dulu.
"Untung masih Selamat," gumam Hyungseob.
$%^*&*&*(*)
.
.
.
Begitu sampai di penginapan mereka langsung menuju kamar masing-masing. Para siswa terpecah ke dua penginapan. Hal ini karena di penginapan yang disewa, tidak ada cukup kamar untuk seluruh peserta tour.
Penginapan mereka terletak di bagian pinggiran kota Dodong, wilayah pusat administrasi di Ulleungdo. Hal ini karena hampir semua kamar penginapan di pusat kota sudah di booking. Hanya tersisa dua sampai empat kamar kosong di tiap-tiap penginapan. Jika tetap mengambil penginapan di pusat kota, maka para siswa bisa terpecah ke lebih dari 4 penginapan yang jaraknya juga beda-beda, itu lebih merepotkan.
Hyungseob merebahkan diri di kasur. Syaraf-syaraf punggungnya seketika rasanya seperti mengendur.
"Aku capek sekali," kata Jihoon sambil meletakkan tasnya di lantai begitu saja. Ia lalu ikutan Hyungseob merebahkan diri di kasur.
"Daehwi juga mau rebahan." Seketika Daehwi mendusel diantara Jihoon dan Hyungseob.
Jadi mereka bertiga sekamar sementara Seonho dan Euiwoong di kamar lain. Peraturan sebenarnya satu kamar hanya boleh diisi dua orang, Hyungseob awalnya juga sudah mau mengalah, tapi karena cerocosan Daehwi yang menolak keras hal itu, maka jadilah mereka diizinkan tidur bertiga.
Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk, membuat ketiganya sontak bangun dari ranjang. Melihat raut malas dari Hyungseob dan Daehwi, Jihoon mengalah saja, ia langsung bangkit untuk membukakan pintu.
Ketika pintu dibuka ternyata tamunya adalah wanita paruh baya yang memandu tour mereka. Ia tersenyum lalu dengan sopan berkata,"Kamar ini diisi 3 orang kan ya, maaf tapi salah satu dari kalian harus pindah ke kamar lain karena ada siswa yang tidak dapat teman sekamar."
Mendengar hal itu Daehwi langsung berlari ke arah pintu dan berteriak dengan nada melengking,"TIDAK BISA! TIDAK BOLEH ADA YANG PINDAH KAMAR!"
Wanita itu tetap berusaha tersenyum ramah meski ia sempat memegang telinganya yang tampaknya berdenging sakit.
"Ada satu orang yang tersisa dan dia di kamar sendirian. Peraturannya sekamar maksimal adalah dua orang, jadi mau tak mau salah satu dari kalian harus pindah."
"TIDAK BISAAA! DAEHWI NGGAK MAU PISAH SAMA HYUNG-HYUNG! SEBELUMNYA KITA SUDAH DAPAT IJIN SEKAMAR BERTIGA!" ekspresi Daehwi sudah seperti orang yang mau mewek sehingga mbaknya jadi merasa tak enak sendiri.
"Udah ah gak usah drama, biar aku yang pindah, kamu sama Jihoon," kata Hyungseob. Ia langsung berbalik mengambil kopernya dan menyeretnya ke pintu. "Langsung tunjukkan kamarnya aja mbak,"lanjutnya.
"Kamarnya ada di ujung lorong ini kok, ayo." Wanita itu berjalan mendahului Hyungseob menuju ke kamar yang dimaksud dan langsung diikuti oleh Hyungseob.
"HYUNGGGGG..." teriak Daehwi tapi tak digubris sama sekali oleh hyungseob. "MBAK JAHATTTT, DAEHWI NGGAK MAU PISAHHH SAMA HYUNGGG." Pipi Daehwi kini bahkan sudah basah karena buliran bening meluncur cepat dari kelopak matanya.
"Stop ah, malu-maluin, aktingmu gak bakal mempan sama Hyungsoeb," kata Jihoon sambil memukul kepala Daehwi dengan buku.
"Ya kali siapa tahu mbaknya luluh, wajahnya aja tadi udah ngerasa bersalah, Hyungseob hyung sih, nurut gitu aja," cerocos Daehwi sambil mengelap air matanya. Setelah adegan drama yang berlebihan barusan ternyata itu hanya akting. Tapi hebatnya air matanya asli.
"Udah ah, capek aku, mau tidur," kata Jihoon mengabaikan Daehwi yang masih manyun karena aktingnya tak membuahkan hasil. Jarang-jarang ini terjadi.
$%^&**()
.
.
.
Bagaimana Hyungseob mengatakannya ya? Sekarang perasaanya tak karuan. Tadi ia benar-benar muak dengan akting Daehwi yang lebay, tapi sekarang ia justru menyesal setengah mati karena tak mengikuti skenario Daehwi. Hyungseob masih berdiri di depan pintu meski wanita yang mengantarnya tadi sudah pergi. Matanya tak lepas dari sosok yang kini rebahan di ranjang.
"Mau di situ sampai kapan?" tanya orang itu.
"Kau...," ucapan Hyungseob terhenti, tangannya meremas kuat pegangan yang biasa untuk menyeret koper. "Jadi kau yang tak dapat teman sekamar," lanjutnya.
"Sudah jelas kan jawabannya."
Hyungseob menarik kopernya dengan ragu ke dalam kamar. Kenapa orang itu harus Park Woojin? Kenapa? Ia ingin mengumpat.
Woojin bangun dari ranjangnya dan tiba-tiba saja membuka kaos merah yang ia pakai dengan santai. Kelopak mata Hyungseob sontak melebar karena kaget.
"HEH, BILANG-BILANG KENAPA KALAU MAU GANTI BAJU,"teriak Hyungseob sambil memalingkan wajahnya.
Woojin hanya melirik cuek Hyungseob sebentar, lalu lanjut mengambil kaos warna hitam dari dalam koper.
"Kita kan sama, biasa ajalah,"ujarnya.
Masalahnya Hyungseob agak terkejut. Tubuh Woojin itu sangat bagus. Otot-otot perutnya membentuk sixpack, bisep trisepnya terlihat kekar, dan kulitnya yanga agak coklat memberikan kesan yang lebih menawan. Berbanding terbalik dengan Hyungseob yang perutnya datar. Ia jadi merasa malu sekaligus rendah diri. Kalau begini Hyungseob jadi ingin rajin ke Gym kan supaya badannya juga bagus, padahal Hyungseob tak suka olahraga. Dalam hati ia mengumpati Woojin yang membuat harga dirinya terintimidasi,"Woojin bangsat."
Begitu Woojin selesai memakai kaosnya, Hyungseob baru berani menatapnya lagi. Tapi lagi-lagi jantungnya harus melompat kaget karena Woojin sudah bersiap menurunkan celana panjangnya.
"HEH MAU APA KAU?"
"Ganti celana lah."
"Ke kamar mandi sana."
"Maleslah, tinggal copot disini juga bisa."
"GAK LIHAT DISINI ADA ORANG? TAHU MALU DIKIT LAH."
"Jangan teriak-teriak kayak perempuan yang gak pernah lihat aset laki-laki dong, bikin budeg," ujar Woojin kesal.
"JIJIK HIH LIHAT ASETMU, KE KAMAR MANDI SANA."
Woojin tak menggubris ucapan Hyungseob dan langsung menurunkan celananya begitu saja. UNTUNGNYA Woojin masih memakai boxer hitam sehingga Hyungseob tidak jadi menjerit.
Hyungseob pribadi tak merasa sikapnya ini lebay meski bagi laki-laki umumnya sikapnya itu seperti perempuan. Meski dengan sesama laki-laki Hyungseob itu pemalu. Melihat sesama laki-laki topless, oke mungkin masih biasa, tapi kalau sudah ganti celana, sejak kecil Hyungseob selalu ganti di kamar mandi. SELALU !
Woojin kembali berbaring di kasur dan menutup matanya dengan lengan, "Aku mau tidur, jadi jangan berisik," ucapnya.
Hyungseob berdecih pelan. Ternyata Woojin lebih menyebalkan dari yang ia kira. "Dasar...,"gumamnya lirih.
$^%&^*&*&()
.
.
.
Udara malam di Ulleungdo ternyata cukup dingin. Seonho merapatkan jaketnya berkali-kali karena terpaan semilir angin. Saat ini ia dan gengnnya sedang duduk-duduk di beranda penginapan sambil minum kopi hangat. Suara gemerisik dedaunan yang saling bergesekan karena angin berpadu dengan suara sayup-sayup debur ombak di kejauhan membuat suasana terasa lebih tenang.
Daehwi hampir tersedak kopi saat Hyungseob mengatakan bahwa teman sekamarnya adalah Woojin sementara Euiwoong malah sampai nyembur ke wajah Seonho. Melihat Seonho yang mendesis tajam Euiwoong hanya nyengir lebar.
"KOK BISA SIH?" teriak Daehwi.
"Kalau aku tahu pasti udah nolak dari awal," jawab Hyungseob.
"Geng mereka kan ganjil juga, jadi pasti ada yang dipindah salah satu," kata Jihoon.
"Ya tapi kenapa harus Park Woojin," keluh Hyungseob.
"Lhah emang hyung pengennya siapa? Guanlin sunbae? Atau Haknyeon sunbae? Pantes sih, mereka berdua kan lebih ganteng," kata Daehwi.
Hyungseob mendelik tajam tapi Deahwi tak sadar sama sekali. Ia justru asik menyeduh kopi lagi.
"Kalian kan teman sekelas, ya gak papa lah Seob," kata Jihoon.
"Tapi kita kan jarang ngobrol."
"Ya diakrabin gih," kata Seonho.
"Masih mending ngomong sama tembok dari pada sama orang itu, serius, orangnya nyebelin parah,"kata Hyungseob.
"Oh ya ngomong-ngomong, aku masih agak ragu kalau keberadaan mereka di sini Cuma kebetulan," kata Jihoon.
"Paling juga niat mau buat masalah lagi dengan kita,"sahut Euiwoong.
"Siapa tahu memang hanya kebetulan," kata Seonho tenang.
Semua orang menatap Seonho beberapa detik sebelum pandangan Hyungseob teralihkan pada objek lain. "Eh itu rumahnya bagus, tapi kelihatannya gak berpenghuni."
Tatapan semua orang teralih mengikuti ke arah Jihoon memandang. Tampak sebuah rumah bertingkat dua yang cukup besar dengan sentuhan modern.
"Rumah itu lebih mirip rumah mewah di Seoul," tambah Jihoon.
"Mungkin yang punya hanya memakainya untuk liburan,"kata Daehwi.
"Kurasa tidak,"kata Seonho. "Sepertinya rumah itu... pernah terjadi pembunuhan disana."
.TBC...
.
.
.
Jangan lupa Review plis...
_Salam Author_
