Seventeen Romance

Rat : T-M

Oneshot!

Dimana kisah percintaan setiap insan manusia akan selalu berbeda

Baik itu manis, asam, pahit, asin.

Semua memiliki rasa sendiri-sendiri

Jadi...

Nikmatilah...

.

.

Happy reading

"Hallo."

Cast : Wen Junhui

Xu Minghao

Other Cast : Seventeen member

Rat : T

Genre : Friendship, Romance

.

.

.

"Hallo"

Dari awal kita hanya mengenal lewat suara

Tapi suatu hari aku berjanji

Aku akan membuatmu kenal padaku dari semuanya

Semua yang ada pada diriku

.

.

.

Junhui POV

Kugerakan jariku menuliskan beberapa bait huruf yang disusun menjadi sebuah data yang menurut mereka penting, kuarahkan tanganku satu lagi pada ponselku yang berdering dan kuangkat tanpa melihat siapa yang menelponku.

"Hallo?"

"Gege, berhentilah bekerja dan makanlah." Ucapnya, akupun tersenyum ketika tahu siapa dia dan menjauhi laptopku.

"Kenapa kau begitu tahu aku sedang apa?"

"Kau tak membalas chatku, jadi aku tahu kau pasti sedang konsentrasi dengan pekerjaanmu lagi bukan?" tanyanya, akupun terkekeh.

"Bisakah kita bertemu dan langsung menikah."

"Ah, kau membuatku semakin gemetaran jika mengingat kita akan bertemu." Ucapnya, akupun tertawa.

"Aigoo, kenapa kau begitu menggemaskan? Aku yakin wajahmu akan semenggemaskan dirimu sekarang."

"Wajahku tidak sebaik itu, dengarkan aku dan istirahatkan matamu dari paparan laptop." Ucapnya, diapun mematikan sambungannya dan aku hanya menatap laptopku senang.

"Nugu? Kau seperti dapat telepon dari presiden saja." Ucap mingyu ketika masuk, akupun memandangnya jengah.

"Apa aku harus bahagia karena dapat telepon dari presiden dulu? Akupun bisa bahagia karena hal pribadi." Ucapku, diapun mengendikan bahu dan menaruh berkas didepanku.

"Ini berkasmu, kau hanya harus tanda tangan. Aku sudah membacanya dan itu hanya berkas kemarin yang direvisi." Ucapnya, akupun mengangguk dan menandatanganinya.

"Apa tadi dari pacar virtualmu?" tanyanya, akupun tersenyum dan mengangguk.

"Kau sebaiknya bertemu dengannya sekarang sebelum kau benar-benar jatuh cinta padanya dan kau kecewa ketika bertemu dengannya."

"Waeyo? Apapun dia aku akan menerimanya dengan lapang dada."

"It's bullshit man, kau berarti dibutakan cinta jika benar-benar melakukannya."

"Bukankah aku sama sepertimu, kau juga cinta buta pada wonwoo bukan?"

"Kenapa jadi membahas wonwooku? Wonwooku sangat sempurna, dia benar-benar..."

"Hentikan ocehanmu, kekasihku akan datang besok jadi aku tak mau mendapatkan bisikan setan sepertimu."

"Ya! Apa maksudmu pria tampan sepertiku ini setan hah?"

Minghao POV

Kutarik koperku untuk keluar dari bandara dan melihat ponselku, akupun tersenyum senang dan melihat sekitar.

"Sudah lama sekali, rasanya baru kemarin aku tak kemari." Ucapku pelan, akupun kembali menelpon seseorang namun dia tak mengangkatnya.

"Apa gege sedang sibuk?" tanyaku heran, akupun melihat taksi dan menghentikannya. Supir taksipun memasukan koperku ke dalam bagasi dan aku masuk kedalam mobil.

"Mau kemana kita tuan?" tanyanya, akupun tersenyum kearah supir.

"Ke hotel dekat gangnam." Ucapku, diapun mengangguk dan melajukan mobilnya.

.

.

.

Kuletakan ponselku dan menghela nafas karena dia terus tak mengangkat teleponku, kusibakkan gorden jendela kamar hotel yang sedang aku tempati dan memandang pemandangan yang disuguhkan didepanku.

"Apa dia benar-benar sibuk? Atau dia lupa jika hari ini aku sampai di korea?" tanyaku, akupun meraba perutku dan mengerucutkan mulutku.

"Aku lapar, aku ingin makanan." Ucapku, akupun mengambil jaket dan dompetku.

"Sebaiknya aku mencari makanan dulu." Kulihat ponselku.

"Percuma saja, dia tak akan menghubungiku." Ucapku dengan meninggalkannya dan keluar, akupun masuk kedalam lift untuk kelantai bawah dan keluar ketika sampai lantai bawah untuk mencari restoran didalam hotel.

"Aku akan kembali kedalam." Ucap seseorang, akupun terdiam ketika merasa mengenal suaranya.

"Ponselku tertinggal, dia hari ini kemari." Ucapnya lagi, akupun berusaha mencari suara itu namun tak menemukannya.

"Apa aku berkhayal?" tanyaku, akupun mengendikan bahuku dan kembali melanjutkan jalanku.

Junhui POV

"Dan ini adalah lantai dimana semua pengunjung bisa mendapatkan fasilitas dari makan, olahraga dan yang lainnya." Ucap salah satu manajer hotel di gangnam ketika kami mengadakan rapat disini, akupun mengangguk dan melihat kesana kemari.

"Hotel ini cukup ternama, senang bisa kerja sama dengan kalian semua." Ucapku, merekapun tersenyum.

"Baiklah, hari ini cukup sekian." Ucapku, merekapun membungkuk dan akupun merogoh sakuku ketika mereka pergi.

"Omo! Ponselku."

"Ponselmu, kenapa?" tanya seungcheol hyung heran.

"Dimana ponselku? Aku yakin menaruhnya disaku jasku."

"Apa tertinggal di aula hotel ketika kita tadi rapat? Kau tadi menaruh disana kan?" tanya soonyoung, akupun berusaha mengingat.

"Ah benar!" ucapku ketika ingat dan memukul keningku.

"Aku akan kembali kedalam." Ucapku.

"Sekarang?" tanya mingyu kaget.

"Ponselku tertinggal, dia hari ini kemari." Ucapku, akupun langsung berlari melewati seseorang yang nampaknya mencari sesuatu namun aku tak mempedulikannya dan masuk kedalam lift. Kupercepat lariku dan masuk ke aula untuk menemukan ponselku.

"Ketemu!" ucapku senang, akupun membuka kuncinya dan banyak sekali notif panggilan masuk dan juga pesan masuk

Gege

Aku sudah sampai dikorea

Kau dimana?

"Aish." Teriakku, kumasukan ponselku dan dengan segera berlari untuk kelantai bawah.

.

.

.

"Kenapa dia tak mengangkatnya?" ucapku kesal ketika terus menelponnya sepanjang jalan menuju bandara, akupun kembali menelponnya dan turun dari mobilku ketika selesai memarkirkannya dan berjalan masuk ke bandara. Kulihat kesana kemari dan tak melihat seseorang yang nampak tak asing untukku, semuanya sangat asing.

"Aku belum pernah melihat wajahnya, ottokhe?" gumamku, akupun kembali menelpon.

"Apa dia sudah pergi?" tanyaku, akupun menghentikan petugas bandara dan dia memandangku bingung.

"Iyah tuan?"

"Apa pesawat dari china sudah tiba?"

"Apa? Ah pesawat itu sudah tiba 2 jam yang lalu tuan dan tak ada pesawat dari china lagi yang tiba sekarang."

"Begitukah, terimakasih." Ucapku, diapun membungkuk dan aku mengacak suraiku.

"Aku gagal bertemu dengannya hari ini, dia pasti kebingungan."

.

.

.

"Chukkae, kau membuat anak orang tersesat hari ini bung." Ucap wonwoo, akupun hanya memandangnya malas.

"Hyung, sudahlah. Seharusnya kita membantu jun hyung untuk mencari minhao." Ucap vernon menenangkan.

"Bagaimana caranya, bahkan wajahnya saja dia tak tahu. Mereka hanya saling kenal lewat telepon dan tak pernah saling melihat wajah kan?" ucapnya, akupun mengangguk lemas.

"Apa hyung sudah menelponnya lagi?" tanya seokmin, akupun melihat ponselku.

"Tidak aktif, kurasa ponselnya kehabisan batre." Ucapku, diapun mengangguk.

"Mungkin besok kalian akan bertemu, geokjeonghajima." Ucapnya, akupun mghela nafas.

"Semoga saja."

Minghao POV

"O?" ucapku dengan membawa ponselku.

"Aish mati, pasti jun gege menelponku dari tadi." Ucapku, akupun menchargenya dan berjalan kearah balkon.

"Kenapa sulit sekali bertemu dengan jun gege?" ucapku lemas, akupun memegang pagar dan memandang langit.

"Padahal sekarang kami berada ditanah yang sama, bertemu ditanah yang sama saja susah apalagi berbeda." Akupun menghela nafas.

"Bogoshipda."

.

.

.

Akupun keluar dari hotel dan membawa koperku dengan berjalan kaki, aku ingin berjalan-jalan hari ini sebelum kembali mencari jun gege. Kulihat ada toko kecil aksesoris dan kuputuskan untuk masuk kedalam. Kulihat didalamnya banyak sekali pernak-pernik yang bagus dan pandanganku terjatuh kearah deretan cincin-cincin disana, akupun tersenyum dan melihatnya satu persatu.

"Apa anda mencari sesuatu?" tanya seseorang, akupun melihat kearah pria yang memiliki wajah chubby namun sangat manis itu tengah tersenyum kearahku.

"Apa? Ah aku hanya melihat-lihat saja."

"Anda pendatang baru?" tanyanya, akupun mengangguk.

"Sebenarnya, aku ingin menemui kekasihku. Tapi sekarang kami belum bisa bertemu." Ucapku, diapun tersenyum.

"Cinta jarak jauh, ah aku sangat suka mendengarnya." Ucapnya, akupun terkekeh.

"Jinjjayo?" tanyaku, diapun mengangguk dan menunjukan cincin padaku.

"Anda bisa memberikan ini pada kekasih anda." Ucapnya, akupun mengambilnya dan melihat pahatan indah disekelilingnya.

"Ini indah." Ucapku.

"Cincin itu adalah cincin yang akan terus menghubungkanmu dengan kekasihmu, tak peduli seberapa jauh kalian berada tapi kalian akan terus terhubung dan kembali seakan-akan tali yang menghubungkan kalian akan terus menarik kalian agar terus mendekat." Ucapnya, akupun tersenyum.

"Aku suka cincin ini, tapi apa benar?" tanyaku, diapun menunjukkan jarinya.

"Aku sudah mencobanya, dan aku berhasil. Kekasihku sampai sekarang selalu berusaha mencariku." Ucapnya, akupun terkekeh.

"Aku akan mencobanya, ah perkenalkan namaku xu minghao." Ucapku dengan mengulurkan tanganku, diapun membalas uluran tanganku.

"Boo seungkwan, senang bertemu denganmu." Ucapnya, akupun mengangguk.

"Berapa harga cincinnya?"

"Tak perlu, anggap saja sebagai hadiah selamat datang dariku dan juga ucapan selamat untuk kalian berdua." Ucapnya.

"Apa tak apa?" tanyaku, diapun mengangguk.

"Dengan syarat kalian harus mengundangku ketika kalian menikah, arraseo?" tanyanya, akupun terkekeh dan mengangguk.

"Aku pasti tak akan melupakanmu, aku janji." Ucapku, diapun tersenyum.

.

.

.

Kini aku tengah berada ditaman dan berdiri didepan air mancur, akupun hanya tersenyum melihat betapa indahnya airnya mancur didepanku. Namun perhatianku teralihkan ketika ponselku berdering dan aku segera mengangkatnya ketika jun gege menelponku.

"Gege?"

"Eodiga? Neo eodiga?" ucapnya panik, akupun tersenyum.

"Aku masih digangnam, aku ada ditaman pusat dan berada didepan air mancur."

"Benarkah, aku juga ada ditaman."

"Jinjjayo?" ucapku, akupun melihat kesana kemari.

"Kau dimana?" tanyaku, akupun berbalik dan melihat seorang pria yang juga melihat kearahku bersamaan.

Junhui POV

Kulihat kesana kemari ketika mencari hao ketika membaca letak nomornya dan dia kini ada disekitar taman, akupun langsung menelponnya dan menunggunya mengangkat teleponku.

"Gege?"

"Eodiga? Neo eodiga?" ucapku panik.

"Aku masih digangnam, aku ada ditaman pusat dan berada didepan air mancur." Ucapnya, akupun terkejut ketika didepanku sekarang adalah air mancur juga.

"Benarkah, aku juga ada ditaman." Ucapku senang.

"Jinjjayo?" tanyanya, akupun melihat kesana kemari.

"Kau dimana?" tanyanya, akupun berbalik dan memandang pria yang juga tengah berteleponan namun memandangku secara bersamaan. Akupun mengulas senyum bahagiaku dan juga legaku ketika akhirnya aku menemukannya.

"Akhirnya." Ucapku, diapun menghadap kearahku dan aku benar-benar tersenyum lebar sekarang.

"Aku menemukanmu."

"Gege." Ucapnya, kumatikan sambunganku dan belari kearahnya. Akupun memeluknya dan dia membalas pelukanku, kulepaskan semua rasa rinduku padanya dan tersenyum bahagia.

"Aku, menemukanmu."

Meskipun aku tak pernah melihat wajahnya, tapi perasaan cintaku padanya akan bisa membuatku menemukannya

Aku mencintainya, bukan hanya suaranya

Dan semua itu berasal dari kata

Hallo

.

.

.

Annyeong readernim...

Aku sedih karena respon dari seoksoon ternyata kurang memuaskan, bahkan gak direspon sama sekali T_T

Tapi aku gak nyerah gitu aja, mungkin otak aku sedang penuh dengan sarang laba-laba jadi ceritanya agak krik krik yah... (aku ra popo)

Kali ini aku bawa happy ending ok, entah kenapa aku ngerasa pasangan ini itu pasangan yang jarang dilihat padahal aku suka banget couple ini apalagi waktu mereka bawain MY I gua ampe ngejerit saking senengnya (rea: gak nanya)

Untuk kesananya mungkin aku berhentiin sampe chapt 20 dan aku buka lagi story baru dan ada apa disana?

Jreng jreng

Rahasia

Pokoknya review review review

Jinjun sedih kalian cuman jadi silent read...

Cukup basa-basinya pokoknya mah

Saranghae!

Jinjun imnida...

.

.

.

Omake

Minhao POV

"Woah, jadi ini yang namanya minghao? Dia benar-benar manis." Ucap seungcheol ketika jun gege membawaku bertemu teman-temannya, akupun hanya tersenyum malu.

"Kau beruntung hyung." Ucap vernon, akupun terkekeh ketika jun gege nampak bangga.

"Ternyata dia tak seperti yang kukira."

"Sudah kubilang bukan jika kau ini hanya menjadi bisikan setan untukku, minghao itu terbaik." Ucap jun gege, akupun hanya menyenggol perutnya.

"Dia selalu berusaha membuatku ragu padamu."

"Wajar saja bukan, sebaik sahabat yang baik aku hanya cemas padamu." Ucap mingyu, diapun memandangku.

"Maaf sebelumnya membuatmu nampak jelek dimata jun."

"Aniyo gwaenchana, aku tak keberatan karena kau pasti memikirkan perasaan jun gege bukan?" ucapku, diapun tersenyum.

"Dia benar-benar menggemaskan seperti apa yang kau bicarakan jun." Ucapnya, kamipun terkekeh dan aku melihat tangan vernon.

"O? Vernon, cincinmu..." ucapku, diapun melihat cincinnya.

"Ah ini, ini dari kekasihku dia bilang cincin ini adalah cincin pengikat aku menerimanya karena aku mencintainya jika tidak sudah aku buang. Dia selalu mempercayai takhayul." Ucapnya, akupun terkekeh dan mengangkat cincinku juga.

"Aku juga mendapatkannya, dia memberikan juga padaku dan juga jun gege."

"Oh kau bertemu dengannya? Dimana? Kami sudah lama tak bertemu karena dia pergi begitu saja." Ucapnya.

"Dia menunggumu untuk menemukannya, maka dari itu dia memberikan cincin itu padamu." Ucapku, akupun tersenyum.

"Dia ada ditoko aksesoris gangnam." Ucapku, vernonpun berdiri.

"Aku akan mencarinya sekarang." Ucapnya, kamipun mengangguk dan aku saling memandang dengan jun gege dan tersenyum senang.

.

.

.

Kebiasaan kan hehe

END