Chapter 2
Memories
Lagi-lagi Jaejoong terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Mimpi buruk yang hampir setiap malam menghantuinya sejak dua tahun lalu. Bayangan mengenai kecelakaan itu, ia melihat darah di mana-mana. Perutnya berdarah. Bagaimana dengan bayinya?
Jaejoong selalu menangis setelah terbangun karena mimpi buruknya itu. Ia hanya bisa menangis dalam kesunyian. Ia tak memiliki siapa pun untuk berbagi kesedihannya. Tiada yang akan meminjamkan bahu untuk bersandar. Mungkin ia terlihat kuat dari luar, tetapi ia sangat rapuh di dalam.
Jaejoong selalu tersenyum setiap hari, menyembunyikan kesedihannya yang mendalam. Ia membohongi seisi dunia dengan senyumannya. Aku harus terus melanjutkan hidupku untuk memberikan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarku. Ia sudah tak memiliki keinginan pribadi. Ia tidak mengejar kesenangan pribadi. Hidupnya ia dedikasikan untuk orang-orang di sekitarnya.
Senin sampai Jumat Jaejoong mengajar di sekolah. Ia juga menjabat sebagai kepala sekolah. Ia dengan senang hati menjalaninya, semakin sibuk, semakin baik baginya. Ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai guru. Pada akhir pekan ia mengisi waktunya dengan mengajar anak-anak panti asuhan.
Jaejoong memang tidak bisa mempunyai anak, darah dagingnya sendiri, tetapi ia masih bisa menganggap murid-muridnya sebagai anak-anaknya sendiri. Seharusnya ia tidak akan pernah merasa kesepian, bukan? Setiap hari ia bisa melihat anak-anaknya.
.
.
.
Jaejoong bangun pagi-pagi sekali. Ia bersemangat untuk menyambut hari yang baru. Hari baru, semangat baru, kebahagiaan baru, menurutnya. Ya, ia bahagia. Ia selalu menanamkan pemikiran itu.
Jaejoong selalu datang ke sekolah sangat awal, sampai-sampai penjaga sekolah mengeluh karena tidak bisa berleha-leha. Hari ini ia pun pergi sangat awal. Jalanan masih sepi. Menurutnya ini bagus karena ia tidak perlu menghadapi kemacetan Kota Seoul pada jam sibuk.
"Selamat pagi, Bu Guru!" Orang-orang yang Jaejoong temui di jalan menyapanya. Wanita itu memang terkenal di lingkungan tempat tinggalnya. Selain karena ia janda cantik, ia juga sangat ramah kepada semua orang. Ketegarannya menjadi contoh bagi ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya. Ia merupakan idola semua kalangan.
Jaejoong berjalan kaki dari rumah menuju halte bis. Sambil menunggu bis, ia akan membaca buku. Saat ia hampir sampai di halte bis, tiba-tiba sebuah mobil hampir menyerempetnya. Ia terkejut bukan main. Pengemudi mobil tersebut terus menjalankan kendaraannya tanpa menyadari bahwa ia baru saja membahayakan nyawa seseorang.
Jaejoong merasa sangat syok. Ia terduduk di pinggir jalan. Lutut kirinya terluka karena bergesekan dengan aspal. Tubuhnya gemetaran dan pandangannya kosong. Nafasnya juga tidak beraturan.
Dua tahun lalu Jaejoong menjadi korban tabrak lari. Sampai sekarang pelakunya belum tertangkap. Ia selamat dari kecelakaan tersebut, tetapi ia harus kehilangan kebahagiaannya. Kejadian itu akan menghantui dirinya seumur hidup.
Jalanan masih sangat sepi. Tidak ada orang lain di sekitar halte bis. Tidak ada orang yang membantu Jaejoong untuk bangun. Ia terus terduduk sambil menatap ruang kosong di hadapannya.
"Bu Guru, apa ibu baik-baik saja?" Akhirnya ada juga orang yang melihat dan menolong Jaejoong. Ia membantu Jaejoong berdiri dan mendudukkannya di bangku halte.
Jaejoong masih terus terdiam. Rohnya seakan masih melayang. Ia mengalami syok.
"Bu Guru?" Pria itu melambai-lambaikan tangannya di depan mata Jaejoong, tetapi wanita itu diam saja. Ia mulai khawatir. Ia kemudian menepuk-nepuk pipi Jaejoong. "Bu?"
Jaejoong akhirnya tersadar. Ia kebingungan. Ia merasa sangat lemas. "Di mana aku?"
"Kita berada di halte bis, Bu," jawab pria itu.
"Mengapa aku bersamamu?" lirih Jaejoong.
"Tentu saja kita bersama. Kita kan sedang berkencan." Pria itu memang tidak tahu malu. Ia tersenyum-senyum sendiri.
Kesadaran Jaejoong kembali sepenuhnya karena ucapan pria itu. Ia menatap pria yang duduk di sampingnya itu dengan tatapan tajam. "Mengapa kau ada di sini?"
"Aku datang untuk menjemput ibu. Aku akan mengantar ibu pergi ke sekolah." Pria itu masih tersenyum lebar.
"Aku bisa pergi sendiri," ketus Jaejoong. "Bukankah kau seharusnya pergi bekerja?"
"Ini masih terlalu pagi untuk pergi ke kantor," jawab pria itu.
"Sebaiknya kau pergi ke kantor lebih awal agar tidak terjebak macet," saran Jaejoong.
"Aku akan pergi ke kantor setelah mengantar ibu ke sekolah." Pria itu bersikeras.
"Sudah kukatakan bahwa aku bisa pergi sendiri." Jaejoong mulai merasa terganggu oleh kehadiran pria itu.
"Aku tidak yakin ibu bisa menjaga diri ibu sendiri. Lihatlah kaki ibu! Ibu baru saja terjatuh, bukan? Aku akan memastikan bahwa ibu sampai di sekolah dengan selamat," balas pria itu. Ia terus saja bicara.
Jaejoong merasa telinganya sakit mendengar ocehan pria itu. "Aku lebih tua darimu, Nak! Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Jaejoong diselamatkan oleh kedatangan bis yang ditunggunya. "Ah, bisku sudah datang!" Ia bergegas menaiki bis dengan lututnya yang terasa sakit. Baru beberapa penumpang yang ada dalam bis tersebut, masih banyak kursi kosong. Ia mengambil tempat duduk di dekat jendela.
Jaejoong terkejut karena tiba-tiba pria itu duduk di sampingnya. "Hey, apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengikutiku? Bukankah seharusnya kau pergi bekerja?"
Senyuman tak pernah meninggalkan wajah pria tampan itu, membuatnya semakin terlihat tampan. "Aku akan pergi ke kantor setelah mengantarmu ke sekolah?"
Jaejoong menatap pria itu dengan serius. "Bagaimana kau akan pergi ke kantor jika kau meninggalkan mobilmu di sini?"
Pria itu menyadari kebodohannya. "Oh, sial! Benar juga." Ia langsung turun dari bis sebelum bis itu melaju.
Jaejoong menertawakan tingkah pria itu. Setidaknya ia bisa tertawa pagi ini.
Jaejoong mengira bahwa ia sudah berhasil menyingkirkan pria itu. Namun, perkiraannya salah. Ia melihat ke luar jendela. Pria itu sedang melambaikan tangannya sambil mengendarai mobil. Gila, menurutnya.
Jaejoong membuka kaca jendela bis. Ia berteriak kepada pria itu. "Hey, perhatikan jalanan di depanmu! Kau bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas jika tidak berhati-hati." Ia sangat sensitif jika menyangkut hal yang berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas. Ia tidak ingin ada orang lain yang mengalami nasib seperti dirinya.
Pria itu mematuhi perkataan Jaejoong. Ia mulai memperhatikan jalanan di depannya.
Jaejoong merasa sangat lega. Pagi ini benar-benar melelahkan. Energinya benar-benar terkuras.
Meskipun mobil pria itu sudah menghilang dari pandangannya, Jaejoong masih merasa cemas. Ia paranoid. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa mobil pria itu sudah menghilang. Namun, ia melihat mobil pria itu melaju tepat di belakang bis yang ditumpanginya. "Dasar keras kepala! Aku tak pernah menemui murid yang lebih keras kepala darimu."
Jaejoong tidak habis pikir bagaimana bisa ada muridnya yang seperti itu. Anak itu bisa membuatnya kesal dan khawatir secara bersamaan. Jangan lupakan juga bahwa anak itu bisa membuatnya tertawa setelah mengalami syok. Ia tersenyum sepanjang perjalanan ke sekolah, sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memeriksa apakah muridnya itu masih membuntutinya, ternyata masih.
.
.
.
Bis berhenti di halte yang berada tepat di seberang sekolah. Jaejoong pun turun dari bis. Sekolah masih sepi, belum terlihat para siswa datang ke sekolah.
Jaejoong harus menyeberangi jalan raya untuk bisa sampai di sekolah. Tubuhnya gemetaran. Ia baru saja terserempet mobil pagi ini. Ia merasa ragu untuk menyeberangi jalan tersebut.
"Mengapa ibu tidak menyeberang juga?" Sebuah mobil berhenti di depan Jaejoong. Pengemudinya melihat wajah wanita itu pucat. Ia mulai berpikir bahwa sepertinya Jaejoong takut untuk menyeberangi jalan raya. Aneh sekali, padahal jalanan masih sepi, tidak banyak kendaraan melintas. "Masuklah ke dalam mobilku! Aku akan mengantarkan ibu ke seberang." Ia turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobilnya untuk Jaejoong.
Jaejoong malas untuk berurusan dengan pria itu. Namun, ia juga tidak memiliki keberanian untuk menyeberang jalan saat ini. Ia pun masuk ke dalam mobil pria itu.
Pria itu menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah. "Kita sudah sampai di sekolah!" Ia berusaha menghidupkan suasana karena Jaejoong hanya terdiam sambil melamun.
"Terima kasih sudah mengantarkanku ke depan sekolah, Yunho!" Jaejoong tersenyum lemah.
Yunho merasa senang karena ibu guru tersenyum kepadanya dan tidak menolak untuk ia seberangkan. Ia balas tersenyum. Sebelum Jaejoong keluar dari mobilnya, ia menyerahkan sebuah kotak.
"Apa ini?" tanya Jaejoong.
"Itu kotak P3K. jangan lupa ibu membersihkan dan mengobati luka pada lutut ibu," ujar Yunho. "Ibu pasti akan menolak jika aku menawarkan bantuan untuk mengobati luka pada lutut ibu. Jadi, kupikir lebih baik aku berikan saja kotak P3Knya kepada ibu agar ibu mengobatinya sendiri."
"Terima kasih, Yunho!" Jaejoong merasa tidak enak karena telah merepotkan anak didiknya itu.
"Akan tetapi, izinkanlah aku untuk mengobati luka pada hatimu!" Yunho terdengar serius. "Kuharap ibu tidak menolakku."
"Sepertinya kau harus segera pergi jika kau tidak ingin terjebak macet." Jaejoong tidak ingin membicarakan hal tersebut dengan Yunho. Ia keluar dari mobil Yunho dan berjalan meninggalkan pria itu.
"Aku tidak akan meninggalkanmu seperti yang dilakukan oleh mantan suamimu!" Yunho berteriak ke arah Jaejoong.
Jaejoong menghentikan langkahnya. Dari mana pemuda itu mengetahui hal itu?
Yunho merasa sedikit lega karena Jaejoong berhenti dan mendengarkan perkataannya. "Aku akan terus bersamamu, mencintaimu, dan menjagamu dalam suka dan duka."
Jaejoong berbalik ke arah Yunho. Ia terlihat marah. "Kau tidak berhak untuk mencampuri urusan pribadiku."
"Biarkanlah aku memasuki kehidupanmu, Bu Guru!" Yunho memelas.
"Jung Yunho, ini terakhir kalinya kita membicarakan hal ini. Selamat pagi!" Jaejoong pergi meninggalkan pria itu. Ia merasa sangat kesal karena pemuda itu mengorek luka di hatinya.
.
.
.
Jaejoong memasuki ruang kerjanya di sekolah. Ia melemparkan tasnya ke atas sofa dengan emosi. Mengapa Yunho harus menyebut mantan suaminya? Ia tidak ingin mengingat-ingat pria itu lagi. Ia ingin menghapus pria itu dari dalam ingatannya. Rasanya terlalu sakit.
Jaejoong merasakan sesak di dadanya. Ia bersandar pada kursi di kantornya. Banyak hal terjadi pada pagi ini yang menguras emosinya. Kotak P3K pemberian Yunho tidak luput dari perhatiannya.
"Bu Guru, awas bola!"
Duk!
"Bu Guru, apa kau tidak apa-apa?"
"Yunho, mengapa kau melempar bola terlalu jauh? Jadinya kena bu guru, kan?"
"Bu, maafkan aku! Aku tak sengaja."
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Yunho, ini salahmu."
"Tidak, ini salahku. Aku yang berjalan di pinggir lapangan."
"Yunho, cepat bawa bu guru ke ruang kesehatan! Lututnya berdarah karena terjatuh saat terkena bola."
"Bu Guru, ayo ke ruang kesehatan bersamaku!"
"Tidak perlu. Aku bisa mengobati lukaku di ruang guru, lagipula ini hanya luka kecil."
"Apanya yang luka kecil? Lututmu sobek. Aku akan menggendongmu ke ruang kesehatan."
"Hey, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!"
Jaejoong tersenyum mengenang masa lalu. Mengapa ia sering sekali mengalami kecelakaan? Apakah ia sangat ceroboh? Ia merasa bahwa ia sudah berhati-hati.
Empat tahun lalu Yunho menggendongnya ke ruang kesehatan. Saat itu ia merasa biasa saja. Jika pemuda itu melakukan hal itu sekarang, semuanya akan terasa berbeda. Anak didiknya itu sudah dewasa. Ia tak bisa melihat Yunho sama seperti dulu lagi.
"Bu, maafkan aku! Gara-gara aku, lutut ibu sampai harus dijahit. Bagaimana ibu akan pergi ke sekolah sekarang?"
"Kau tidak perlu khawatir. Dokter mengatakan bahwa lukaku tidak terlalu parah. Aku akan segera sembuh dan bisa kembali mengajar di sekolah."
"Rasanya hampa jika ibu tidak datang ke sekolah."
"Bukankah ada guru lain yang akan menggantikanku saat aku absen?"
"Aku akan merindukan ibu."
"..."
Yunho adalah murid yang sangat perhatian. Dahulu Jaejoong berpikir bahwa perhatian Yunho kepadanya hanyalah sebatas perhatian murid kepada gurunya, ternyata anak itu memiliki perasaan lain kepadanya. Saat lututnya masih belum pilih dengan sempurna, anak itu mengantarnya pulang dengan sepeda. Keesokan paginya anak itu menjemputnya untuk pergi ke sekolah.
"Lututku sudah tidak sakit lagi. Mulai besok kau tidak perlu mengantarjemputku lagi."
"Tidak apa-apa. Aku senang melakukannya."
"Aku merasa tidak enak. Kau pulang terlambat ke rumah karena harus mengantarku terlebih dahulu dan kau harus berangkat lebih pagi karena harus menjemputku. Apa orang tuamu tidak marah?"
"Jika aku tidak melakukan ini, justru ayah akan marah. Ayah mengatakan bahwa aku harus menjadi orang yang bertanggung jawab. Akulah yang membuat lutut ibu terluka. Jadi, aku harus bertanggung jawab."
"Ini bukan sepenuhnya salahmu. Jika aku tidak berjalan di pinggir lapangan basket, ini tidak akan terjadi."
"Mungkin ini memang sudah takdir, Bu. Hehehe. Apa ibu merasa tidak nyaman menaiki sepedaku? Jika aku sudah punya SIM, aku akan mengantar jemput ibu dengan mobilku."
Jaejoong menghela nafas. Anak itu benar-benar mengantarnya ke sekolah dengan mobil.
"Baiklah, Bu. Aku akan membuktikan kepada ibu bahwa aku akan bisa menjadi seseorang yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri."
"Daripada kau banyak bicara, lebih baik kau mulai berusaha dari sekarang."
Jaejoong tertawa. Ia tak bisa meremehkan Jung Yunho. Anak didiknya yang satu itu ternyata tidak main-main dengan perkataannya. Apakah pria itu juga serius saat mengatakan bahwa pria itu tak akan menyerah untuk mengejar dirinya? Juga tidak akan pernah meninggalkannya dan akan terus menjaga dan mencintainya dalam suka dan duka? Ia tersenyum miris. Mantan suaminya juga dulu mengatakan hal itu, tetapi pada kenyataannya pria itu meninggalkannya karena ia tidak bisa memberikan keturunan. Ia tidak boleh percaya begitu saja pada janji manis lelaki.
.
.
.
Jaejoong selalu pulang terakhir dibandingkan yang lain. Ia lebih suka bekerja di kantor daripada di rumah. Ia tinggal sendiri, tidak ada yang menunggunya di rumah dan tidak ada yang ia tunggu di rumah.
Saat Jaejoong keluar dari kantornya, langit sudah gelap. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia terlalu serius bekerja. "Ah, aku lapar. Makan apa ya malam ini? Sup ikan sepertinya enak."
"Akhirnya ibu muncul juga." Tiba-tiba Yunho muncul di hadapan Jaejoong. "Aku bergegas kemari setelah selesai bekerja. Kupikir ibu pasti sudah pulang. Aku pasti terlambat untuk mengantar ibu pulang. Akan tetapi, kulihat lampu di ruang kepala sekolah masih menyala. Jadi, aku menunggu ibu."
Jaejoong berdiri mematung. Ia tidak menyangka pemuda itu akan menunggunya. "Mengapa kau menungguku?"
"Aku sudah terbiasa menunggu. Demi ibu, apa pun akan kulakukan. Aku akan rela untuk menunggu ibu selama apa pun. Aku tak akan merasa lelah," sindir Yunho. Ia menyindir Jaejoong yang tidak menunggu dirinya untuk kembali dan justru menikahi pria brengsek.
"Mungkin kau tidak merasa lelah, tetapi aku lelah menghadapimu." Jaejoong memang merasa lelah setiap kali harus menghadapi Yunho.
Raut wajah Yunho berubah sedih. "Apa ibu begitu membenciku? Apa kehadiranku membuat ibu terganggu?"
"Ya, aku merasa terganggu," ujar Jaejoong. "Namun, aku tidak membencimu. Kau adalah muridku. Aku tak mungkin bisa membencimu."
Yunho merasa sedikit lega. Ia memaksakan senyumannya. "Aku merasa bahagia karena ibu tidak membenciku. Kalau begitu, aku akan terus mengganggu ibu, sampai ibu lelah dan akhirnya menyerah dan tidak menolakku lagi. Mengapa ibu tidak menyerah saja?"
Jaejoong benar-benar merasa lelah, tetapi ia masih punya harga diri. "Jika aku mengajarimu untuk tidak mudah menyerah, bagaimana aku bisa menyerah begitu saja? Aku tak boleh kalah oleh muridku sendiri."
Yunho merasa tertantang oleh ucapan Jaejoong. "Baiklah kalau begitu. Aku juga sangat menyukai wanita yang tidak mudah menyerah. Kita lihat saja siapa di antara kita yang menyerah terlebih dahulu. Ibu pasti tahu, bukan? Suatu saat guru akan dikalahkan oleh muridnya."
Jaejoong tidak membalas perkataan Yunho. Jika ia membalas, pemuda itu akan membalasnya lagi, sehingga argumen mereka tidak akan pernah selesai. "Selamat malam! Aku harus pulang sekarang." Ia berlalu melewati Yunho. Ia menahan rasa perih di lututnya.
Yunho menyadari bahwa cara berjalan Jaejoong terlihat tidak normal. Ia berpikir bahwa itu pasti karena luka di lutut Jaejoong. "Lututmu sakit. Aku akan mengantarmu pulang," tegasnya. Tanpa peringatan, ia menggendong gurunya itu.
Jaejoong terkejut karena tiba-tiba Yunho mengangkat tubuhnya. Ini mengingatkannya kepada masa lalu. Namun, kini situasinya berbeda. Yunho bukanlah siswa SMA lagi. Ia merasa tidak nyaman.
Perasaan Yunho meledak-ledak. Ia berjalan dengan hati-hati saat menggendong ibu gurunya. Wanita itu menatapnya. Ia merasa senang dan ingin berteriak. Namun, ia harus mengendalikan dirinya. Ia harus tetap terlihat keren di hadapan Jaejoong.
Yunho mendudukkan ibu gurunya di atas jok mobilnya. "Terima kasih atas kerja sama ibu guru karena ibu tidak berteriak meronta-ronta saat kugendong."
Jaejoong merasa malu. Pasti kini Yunho berpikir bahwa ia menikmati saat-saat digendong oleh pria itu. "Aku tidak ingin menarik perhatian orang-orang di sekitar," alibinya.
.
.
.
Sepanjang perjalanan Jaejoong hanya membisu dan menatap lurus ke depan. Ia merasa tidak nyaman bersama Yunho.
"Aku merasa lapar. Apakah ibu sudah makan malam?" Yunho memecah kesunyian di antara mereka. "Ah, pasti belum."
Jaejoong tidak merespon. Ia ingin segera sampai di rumah.
"Aku ingin makan sup ikan. Rasanya pasti enak." Yunho mendengar Jaejoong saat wanita itu mengatakan bahwa ia ingin makan sup ikan.
Jaejoong juga merasa lapar. Perkataan Yunho membuatnya berimajinasi tentang sup ikan yang ia inginkan.
"Dahulu di daerah ini ada warung makan yang menjual sup ikan yang sangat enak," ujar Yunho. "Sekarang masih ada atau tidak ya? Aku dan teman-teman sering makan di sana. Harganya murah, sesuai dengan uang saku anak sekolahan. Apa ibu tidak keberatan jika aku mampir terlebih dahulu untuk makan malam?"
"Aku tak berhak untuk melarangmu untuk makan. Manusia butuh makan," ujar Jaejoong dingin.
"Dingin sekali," gumam Yunho. "Baiklah. Semoga saja warungnya masih ada."
Yunho sudah tidak terlalu ingat letak warung yang ia maksud. Ia mencari-cari warung tersebut. "Ah, itu dia!" serunya. "Ternyata masih ada. Wah, sekarang warungnya besar!"
Jaejoong mengenali warung tersebut. Itu adalah warung langganannya. Ia memang berniat untuk membeli sup ikan di sana.
"Aku akan makan sup ikan di sini. Apa ibu mau ikut denganku untuk makan atau akan menunggu di dalam mobil?" tanya Yunho.
"Silakan saja kau makan. Aku akan menunggu di sini," jawab Jaejoong.
"Memang ibu tidak lapar?" goda Yunho.
"Aku bisa makan di rumah," jawab Jaejoong.
"Yakin?" goda Yunho lagi. "Baiklah. Aku akan masuk."
Jaejoong tidak ingin masuk ke warung makan itu karena ia sudah mengenal pemiliknya. Bagaimana jika pemilik warung bertanya-tanya siapa Yunho? Mengapa mereka bersama? Ia adalah seorang janda. Jika ia terlihat bersama seorang pria, itu akan menjadi gosip.
Tentu saja Yunho tidak berniat untuk makan sendirian dan membiarkan gurunya itu kelaparan. Ia memesan dua porsi sup ikan untuknya dan Jaejoong.
"Mengapa kau makan cepat sekali? Kau tidak makan terburu-buru karena aku, bukan?" Jaejoong merasa bersalah jika Yunho tidak menikmati makan malamnya karena dirinya.
"Aku tidak suka makan sendirian. Aku membungkus sup ikannya. Aku juga membeli satu untuk ibu." Yunho kembali ke mobilnya. "Aku sudah membelinya. Kuharap ibu tidak menolaknya, sayang jika tidak dimakan."
Jaejoong tidak berniat untuk menolak sup ikan itu. "Terima kasih. Aku akan mengganti uangnya." Ia mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.
"Tidak usah, Bu," cegah Yunho. "Empat tahun kita tidak bertemu. Biarkan muridmu ini mentraktirmu, sebagai ungkapan terima kasih karena sudah mendidikku di sekolah."
"Aku bisa menerima ungkapan terima kasihmu sebagai muridku, tetapi bukan yang lain." Jaejoong mengingatkan anak didiknya itu.
"Ibu tidak perlu mengingatkanku. Aku mengerti." Yunho tersenyum getir.
"Jika kau mengerti, mengapa mau memaksa?" ujar Jaejoong. "Mengapa kau sangat keras kepala?"
"Seperti ibu tidak keras kepala saja," celetuk Yunho. "Kita punya banyak persamaan. Sepertinya kita jodoh." Ia terkekeh.
Jaejoong menatap anak didiknya itu. "Jika kau tahu bahwa aku keras kepala, lalu mengapa kau menyukaiku?"
"Apakah aku perlu alasan untuk menyukaimu?" Yunho balas bertanya.
Jaejoong terdiam. Ia tidak ingin berdebat dengan Yunho.
.
.
.
"Berhenti di sini saja!" Jaejoong tidak ingin Yunho mengantarnya sampai ke depan rumahnya. Ia khawatir tetangga akan berpikir macam-macam karena ia diantar oleh seorang pria malam-malam. Kini mereka sudah sampai di halte bis tempat ia bisa menunggu bis untuk pergi ke sekolah.
"Ibu terjatuh pagi ini di sini. Itu artinya tempat ini tidak aman untuk ibu." Yunho ingin memastikan gurunya itu sampai di rumah dengan selamat. "Lagipula lutut ibu sedang sakit. Apa ibu ingin aku menggendong ibu sampai di depan rumah?"
Wajah Jaejoong memerah. Ia merasa malu. Ia tidak ingin Yunho menggendongnya lagi, apalagi sampai depan rumahnya. "Tidak, terima kasih." Ia mulai salah tingkah.
"Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu sampai depan rumahmu!" Yunho merasa dirinya menang malam ini.
"Baiklah." Jaejoong tidak punya pilihan lain. Jika ia memaksa untuk turun di sini, ia khawatir Yunho akan melakukan hal yang tak terduga, seperti tiba-tiba menggendongnya.
.
.
.
Jaejoong merasa was-was. Ia takut ada tetangga yang melihat ia diantar pulang oleh Yunho. "Sudah sampai. Terima kasih karena sudah mengantarku pulang." Ia bergegas keluar dari mobil Yunho. Ia berharap pria itu segera pergi dan tidak mengikutinya sampai ke depan pintu.
"Bu Guru, tunggu!" Yunho berteriak. Ia mengejar gurunya itu.
Jaejoong berbalik. "Ada apa? Mengapa kau mengikutiku? Pulanglah!"
"Sup ikanmu tertinggal." Yunho mengangkat bungkusan berisi sup ikan.
"Ah!" Jaejoong ingin merutuki kecerobohannya.
Yunho mengejar Jaejoong sampai ke teras rumah Jaejoong. "Makanlah yang lahap! Ibu pasti lelah bekerja seharian."
Jaejoong mengambil bungkusan sup ikan dari tangan Yunho. "Terima kasih! Pulanglah! Sekarang sudah malam." Ia ingin pria itu segera menyingkir.
"Baiklah. Kau perlu istirahat. Aku tak ingin mengganggumu lagi." Yunho berpamitan. "Selamat beristirahat, Bu Guru! Sampai jumpa di alam mimpi!" Ia mengedipkan matanya.
Saat Yunho meninggalkan teras rumah Jaejoong, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. "Ah, hujan! Mengapa tiba-tiba turun hujan dengan deras, padahal tadi langit terlihat sangat cerah?"
Jaejoong mencemaskan Yunho yang kehujanan. Ia merasa bersalah kepada Yunho. Jika Yunho tidak mengantarnya pulang, pria itu tidak akan terjebak hujan. "Tunggu sebentar!" Ia masuk ke dalam rumah.
Yunho tidak mengerti mengapa Jaejoong menghentikannya. Bukankah wanita itu ingin ia segera pergi?
Jaejoong membawa sebuah payung di tangannya. "Bawalah ini! Hujan turun sangat deras."
Yunho tersenyum sangat lebar. "Apa ibu mengkhawatirkanku?"
Jaejoong sedikit menyesal telah mengkhawatirkan anak itu. "Semua orang tua pasti tidak ingin anaknya sakit karena kehujanan."
Yunho merasa sangat senang. Ia tidak peduli dengan alasan yang dikemukakan oleh Jaejoong. "Ibu khawatir aku tak bisa menjemput ibu besok jika aku terkena flu, bukan?"
Wajah Jaejoong memerah lagi. Apa pun yang ia katakan kepada anak ini terasa salah karena Yunho selalu menggunakan kata-katanya itu untuk menggoda dirinya.
"Selamat malam, Bu! Mimpi indah tentangku ya!"
.
.
.
"Yunho, payung siapa yang kau bawa? Coraknya lucu sekali, bergambar Hello Kitty. Mengapa kau baru pulang?" Ny. Jung melancarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada putranya yang baru pulang.
"Biasa, anak muda," jawab Yunho santai. "Payung itu milik calon menantu ibu."
"Apa? Benarkah?" Ny. Jung berteriak histeris. "Sayang, apa kau dengar apa kata anak kita?" Ia memanggil suaminya. "Yunho akan memberikan kita menantu."
"Wah, cepat sekali! Kakak belum lama pulang ke Korea, tetapi sudah mendapatkan calon istri," celetuk Jihye, adik perempuan Yunho.
Yunho tersenyum bangga di hadapan keluarganya. "Tidak ada wanita yang bisa menolak pesona Jung Yunho. Hahaha!"
"Aku penasaran gadis mana yang mau dengan pemuda pecicilan sepertimu," komentar ayah Yunho.
"Wah, ayah meremehkanku!" balas Yunho.
"Jika kau sudah berani memanggil seseorang sebagai calon istrimu, seharusnya kau bisa lebih serius lagi dalam melakukan semua hal. Kau akan menjadi pemimpin baginya." Tn. Jung menasihati putra sulungnya, harapan keluarganya.
"Tentu saja, Ayah," sahut Yunho. "Aku akan bersungguh-sungguh." Ia sangat bersemangat.
.
.
.
Yunho terus memandangi payung Hello Kitty yang digantung di dinding kamarnya. Ia merasa senang karena Bu Guru Jaejoong mengkhawatirkannya, tidak ingin ia kehujanan. Hachi! Ia mulai bersin-bersin. "Gawat! Aku tidak boleh sakit. Aku harus kuat untuk mengejar bu guru. Semangat, Jung Yunho!" Ia berteriak dengan lantang.
"Jung Yunho, ini sudah malam. Jangan berteriak-teriak!" Ny. Jung merasa terganggu oleh teriakan putranya.
Yunho terkekeh menertawakan ibunya. Ibunya itu menyuruhnya untuk tidak berteriak, padahal ibunya itu juga berteriak.
.
.
.
Jaejoong sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Apakah Yunho akan menjemputnya juga hari ini? Pemuda itu berkata akan menjemput dan mengantarnya ke sekolah. Ia melirik jam tangannya. "Mungkin ia memang tidak akan datang. Baguslah." Namun, di lubuk hatinya ia merasa cemas. Tidak mungkin pemuda itu menyerah begitu saja. Apa jangan-jangan Yunho sakit karena kehujanan? Separuh jiwanya berharap pria itu datang untuk menjemputnya karena ia tidak akan berhenti untuk khawatir jika tidak melihat pria itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Mungkin ia memang sudah menyerah. Untuk apa aku menunggunya?" Jaejoong keluar dari rumahnya.
"Selamat pagi, Bu Guru!" Seperti biasa orang-orang yang berpapasan dengan Jaejoong menyapanya.
"Selamat pagi!" balas Jaejoong. Tak lupa ia tersenyum.
"Bu Guru, siapa pria yang mengantarmu semalam?" Tetangga Jaejoong bertanya.
Inilah yang Jaejoong khawatirkan. Orang-orang akan penasaran dengan kehidupan pribadinya.
"Apakah pria itu yang datang ke rumahmu pada hari Minggu?" tanya tetangga Jaejoong lagi.
"Ah, ia adalah muridku. Sekarang ia sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Aku adalah wali kelasnya dulu. Ia datang untuk mengunjungiku. Hehehe!" Jaejoong salah tingkah. Semoga saja tetangganya tidak berpikir yang bukan-bukan.
"Oh, begitu!" seru tetangga Jaejoong. "Ternyata ia adalah muridmu. Kupikir yang lain. Hehehe! Ia tampan juga ya."
Jaejoong tersenyum kikuk. Semoga saja tidak akan ada gosip yang beredar mengenai dirinya yang diantar pulang oleh Yunho.
.
.
.
Jaejoong merasa lega karena Yunho tidak muncul di lingkungan sekitar tempat tinggalnya pagi ini. Akan tetapi, mengapa ia merasa ada yang kurang? Pagi ini terasa hambar jika dibandingkan dengan kemarin, tidak ada yang mengoceh dan mengganggu dirinya. Banyak hal yang terjadi kemarin, membuat detak jantungnya naik turun.
Jaejoong melihat kotak P3K di atas meja kerjanya. Tanpa sadar ia tersenyum. "Ini adalah hari baru. Selamat bekerja! Semangat!" Ia menghela nafas. Semoga ia bisa menjalani harinya dengan tenang tanpa ada gangguan.
.
.
.
Yunho mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia terlambat bangun karena semalam ia terus memikirkan strategi untuk menaklukkan pujaan hatinya. "Ia pasti berpikir bahwa aku sudah menyerah. Ia pasti menganggapku lemah. Ini tak boleh terjadi." Bukannya pergi ke kantornya, ia justru pergi ke sekolah.
Setelah melapor kepada guru piket, Yunho berlari menuju ruang kepala sekolah. Tanpa berpikir panjang, ia masuk ke kantor kepala sekolah. "Bu Guru, aku belum menyerah! Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta kepadaku."
Saat itu Jaejoong sedang menghukum murid-murid yang tertangkap basah sedang berkelahi. Di kantornya juga ada beberapa guru yang merupakan wali kelas siswa-siswa itu. Junsu juga ada di sana karena ialah yang melihat para siswa itu berkelahi.
Jaejoong menatap Yunho dengan marah. Perbuatan Yunho yang seenaknya masuk ke kantornya membuatnya malu di hadapan beberapa guru dan siswa.
Yunho menyadari kesalahan yang ia perbuat. Ia merasa sangat bodoh. Jaejoong pasti kini akan membencinya. Namun, ia sudah terlanjur melakukannya. Orang-orang yang berada di kantor Jaejoong sudah mendengar apa yang ia katakan. Jika ia harus mati, ia akan mati sebagai ksatria yang pantang mundur dan tak kenal kata menyerah. Sudah terlanjur basah, sekalian saja ia menceburkan diri ke kolam. Tenggelam atau tidak, itu urusan nanti.
Tak tahu malu, Yunho berjalan mendekat. "Kebetulan sekali ada beberapa orang di sini." Ia juga tidak mengerti mengapa ia berbuat nekat begini. "Mereka akan menjadi saksi cintaku kepadamu. Bu Guru Kim Jaejoong, aku mencintaimu. Terimalah cintaku dan jadilah milikku!"
.
.
.
Cutenoona: kenyataannya memang ada yang seperti itu. Saya posting di Wattpad juga, tetapi belakangan.
Miss eliteminority.1111: mohon maaf saya sudah lama menghilang. Muridmu juga nanti dewasa juga kok. Hehehe.
BaekHill: semangat!
Serenade senja: tema cerita seperti ini sudah banyak. Ini juga idenya sebenarnya campuran dari cerita-cerita saya yang sebelumnya.
Danactebh: lanjut.
PhantomYi: yang sebelumnya memang coba-coba. Saya ingin mencoba menulis sesuatu yang berbeda dari biasanya. Sekarang saya kembali lagi ke cerita dengan tema yang seperti biasanya.
Aii: terima kasih sudah membaca.
ELF japan: terima kasih. Mohon maaf saya tidak bisa update cepat.
Bornjjeje: Yunhonya dibuat kekanak-kanakan di sini. Seiring berjalannya waktu, ia akan belajar untuk menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab.
AMYKYUMINELF: update. Mohon maaf tidak bisa update cepat.
Nadhiamn: itu ibaratkan punchlinenya.
