Semua orang terdiam setelah Seonho bicara. Otak mereka antara loading dan terkejut.
"HA? TAHU DARI MANA HO?"teriak Daehwi kaget.
"Shhh...," hampir saja Euiwoong mengumpat.
"Entahlah, tapi untuk ukuran rumah mewah seperti itu harusnya harganya bisa lebih tinggi dari yang tertera di papan, tapi nyatanya harganya lumayan murah bahkan sampai dicantumkan, biasanya kan hanya tulisan jika berminat hubungi no sekian sekian sekian. Itu tandanya kan pemiliknya sudah putus asa untuk menjual rumah itu."
"Kondisinya juga sangat tidak terawat seolah sudah sangat lama tidak dihuni, harusnya jika memang sangat berniat menjual rumah, misal karena butuh uang secepatnya, pembelinya akan melakukan apapun supaya pembeli mau tertarik, selain harga murah juga setidaknya ia harus sedikit merapikan rumah itu. Tapi nyatanya rumahnya dibiarkan seperti padang rumput ilalang. Artinya motifnya menjual rumah itu bukan karena butuh uang. Jadi apa ?"
"Harga murah, rumah mewah, di daerah pariwisata yang menakjubkan, tapi orang masih berpikir dua kali untuk mau membelinya, kenapa? Sesuatu pasti telah terjadi di rumah itu dan kejadiannya menggemparkan masyarakat di sini. Jadi kejadian apa ? ujung-ujungnya pikiranku hanya menangkap sesuatu yang berhubungan dengan kematian seseorang. Dugaanku sih pembunuhan," terang Seonho panjang lebar.
"Woahhh...,iyakah?"seru Euiwoong.
"Kalau ada korbannya sih, stigma masyarakat pasti rumah itu berhantu. Jadi wajar sih kalau orang-orang nggak mau beli rumah yang gosipnya berhantu, kecuali yang bener-bener kepepet," kata Jihoon.
"Berarti belum ada orang kepepet yang ketemu rumah itu, ah..kurang beruntung,"celetuk Daehwi.
"Masuk akal juga sih," kata Hyungseob sambil menyesap kopinya yang sudah mulai dingin.
Ketika mereka asik berbicara, Jaehwan dan Sewoon lewat. Keduanya berhenti ketika tatapan Jaehwan bertemu dengan iris mata Daehwi. Ekspresi Jaehwan seketika merengut. Sepertinya ia masih kesal.
"Lho Sewoon, udah sembuh?" tanya Hyungseob.
"Udah mendingan," jawab Sewoon sambil senyum tipis. Suaranya sangat halus dan pelan, wajahnya juga masih terlihat pucat dan lemas.
"Mau kemana?" tanya Jihoon.
"Cari makanan."
"Lah suruh Jaehwan sunbae aja hyung, kan hyung masih sakit," sahut Euiwoong. "Gimana sih Jaehwan sunbae gak inisiatif, pantesan nggak progress-progress,"lanjutnya.
Sewoon menggeleng lemah. "Ngrepotin Ung."
"Gak bakal ngrepotin kok hyung, renang 2km juga Jaehwan sunbae mau kalau hyung yang nyuruh,"sahut Daehwi tanpa melihat bahwa ekspresi Jaehwan sudah seperti ingin menampol wajahnya sekaligus mendorong Euiwoong ke jalan.
Hyungseob hanya mengelus dada sabar. Dua hobae nya ini sebenarnya kompak, kompak suka ngomong asal, nggak melihat kondisi, nggak disaring, tapi herannya kalau deket cakar-cakaran.
"Kalau ngomong jangan asal dong, sopan sedikit lah sama sunbae, kalian berdua gak ada sopan-sopannya sama sekali, Sewoon sakit kalian pikir gara-gara siapa," bentak Jaehwan emosi.
Daehwi dan Euiwoong langsung terdiam, menyadari kesalahan mereka hari ini.
"Udahlah Jae, kenapa dibahas lagi? aku aja gak protes,"kata Sewoon menenangkan.
"Jangan belain mereka won, kamu gak tahu gimana khawatirnya aku sama Kenta, Kenta bahkan sampai lupa makan seharian gara-gara kamu terus muntah-muntah. Pikirinlah perasaan orang-orang yang peduli sama kamu," kata Jaehwan.
Setelah melirik Daehwi dan Euiwoong sebentar Jaehwan langsung pergi meninggalkan Sewon dengan raut bersalahnya.
"Kata-kata Jaehwan nggak usah diambil hati ya,"kata Sewon.
Tapi Daehwi dan Euiwoong justru semakin menunduk dalam.
"Hyung sudah peringatkan kalian berkali-kali kan, jaga sikap jaga mulut, tapi nggak pernah kalian gubris," kata Hyungseob marah.
"Tapi Euiwoong yang selalu mulai pertengkaran hyung," kata Daehwi.
Euiwoong langsung mengangkat kepalanya dan menatap Daehwi tajam.
"Lalu kenapa diladeni? Kalau kau diam Ung juga gak akan meledak."
"Kenapa jadi aku yang dianggap sumber masalahnya? aku gak akan marah kalau sikap Daehwi gak menyebalkan," ujar Euiwoong gak terima.
"Kau juga, kendalikan emosimu Ung ! kalau kau tak emosian masalah kecil tak akan jadi besar, kau tahu sendiri sifat Daehwi seperti apa, harusnya kau lebih bisa mengerti."
"BEGITU? SALAHKAN TERUS HYUNG...SALAHKAN EUIWOONG ! ADIK KESAYANGAN HYUNG ITU YANG SELALU BENAR," teriak Euiwoong sambil menggebrak meja.
"EUIWOONG!" sebuah tamparan keras melayang ke pipinya. Euiwoong terdiam saking syoknya. Barusan Hyungseob menamparnya. MENAMPARNYA. Tanpa mengatakan apapun Euiwoong langsung berjalan pergi meninggalkan beranda, tapi ketika di depan pagar dia berbalik dan berteriak, "MULAI SEKARANG AKU KELUAR KLUB!" Setelah itu dia berbalik lagi dan meninggalkan penginapan.
Hyungseob memijat pelipisnya karena stres. Ini diluar dugaanya, sekarang masalahnya benar-benar serius.
"Harusnya kau tak perlu menamparnya," tegur Jihoon keras.
"Ya mau bagaimana lagi, dia keras kepala."
"Kau tahu benar sifatnya, bersikap kasar bukan pilihan bijak."
Hyungseob menarik rambutnya dengan satu tangan, ia menyesal sudah bertindak gegabah.
"Tak masalah kalau kau mengkritiknya tajam selama dia memang salah, tapi lakukan secara personal, jangan menyudutkannya di depan banyak orang, apalagi menamparnya, baginya kau mempermalukannya Seob," ujar Jihoon.
"Ung pergi dengan kondisi emosi, aku agak khawatir dengannya, biar aku menyusulnya," kata Seonho sambil berdiri.
Hyungseob dan Jihoon hanya megangguk mengiyakan. Lebih baik Seonho yang pergi menyusul Euiwoong dari pada Hyungseob ataupn Jihoon, karena Seonho salah satu orang yang paling dekat dengan Euiwoong di geng mereka.
$%^&*()
.
.
.
Euiwoong kesal setengah mati. Rasanya emosinya meluap-luap sampai ke ubun-ubun. Dia benar-benar merasa dipermalukan oleh Hyungseob, terlebih ada Sewon pula. Euiwoong tahu ia sudah berbuat salah, tapi hatinya tak bisa menerima perlakuan Hyungseob barusan.
"Shit...," umpatnya. Euiwoong ingin menangis rasanya. Perasaanya kacau balau.
Euiwoong berjalan tak tentu arah, baru ia sadari sudah berjalan jauh dan ia tak ingat jalan yang sudah ia lewati karena terlalu terbawa perasaan. Kepalanya menoleh ke segala arah tapi suasananya sangat sepi. Ketika ia mendongak matanya menangkap sosok yang tak asing berdiri di atas tumpukan bebatuan tinggi. Sosok itu dengan tiba-tiba menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
Tangan laki-laki itu melambai-lambai sebagai tanda agar Euiwoong mendekat. Dalam kondisi normal Euiwoong pasti sudah kabur, tapi malam ini sakit hatinya pada Hyungseob membuatnya lebih memilih bertemu dengan orang itu dari pada kembali dan berhadapan dengan Hyungseob.
Euiwoong berjalan ke jalan yang menanjak lalu menaiki bongkahan-bongkahan batu besar hingga sampai ke tempat Haknyeon berdiri. "Sedang apa kau?" tanyanya sinis.
"Melihat pemandangan,"jawab Haknyeon dengan cengiran lebar.
Euiwoong memutar bola mata malas. Ia menurunkan tubuhnya lalu duduk sambil menatap pemandangan sekitar. Dari tempat ini ternyata pemandangannya menyenangkan. Deretan rumah-rumah bernuansa tradisional terlihat berjejer. Pagar pembatas masing-masing rumah tak terlihat karena tertutup pepohonan. Di kejauhan samar-samar terlihat birunya laut.
"Sedang badmood?" tanya Haknyeon sambil duduk di sebelah Euiwoong.
"Gak."
"Kuperhatiakan dari sini kau kelihatan seperti menahan ledakan emosi tadi."
"Cih...,memangnya matamu setajam itu sampai bisa melihat ekspresiku dari jarak ini."
"Maksudku gerak-gerikmu, kelihatan gelisah," kata Haknyeon cepat.
Euiwoong tak menjawab, ia malah asik memperhatikan pemandangan di kejauhan. Untung Euiwoong tak berpikiran aneh-aneh. Hampir saja Haknyeon keceplosan soal kemampuannya.
"Separah itu hal yang membuatmu bad mood sampai-sampai kau mau duduk di sini denganku?"
"Diamlah, aku malas bicara."
Haknyeon menghela nafas pelan, "Apa kau bertengkar dengan Daehwi? Atau teman gengmu?"
"KUBILANG DIAMLAH, AKU TAK MAU MEMBAHAS MEREKA."
"Sudah kuduga,"kata Haknyeon. "Kali ini apa masalahnya?"
Tiba-tiba saja Euiwoong memukul kepala Haknyeon keras, sontak Haknyeon meringis kesakitan. "Kau itu tak bisa dibilangi dengan kata-kata ya."
Haknyeon mengelus kepalanya yang seolah baru digampar papan, tenaga Euiwoong rupanya tak main-main meski badannya kelihatan kecil.
"Aku salah bicara? Kau itu emosian sekali, orang susah bicara denganmu secara baik-baik kalau begini."
Euiwoong terdiam. Bayangan Hyungseob saat menamparnya tadi melintas di pikirannya, membuat jantungnya berdenyut nyeri.
"Aku memang tak tahu apa masalahmu dengan gengmu, tapi kalau sikapmu terus seperti ini jangan salahkan mereka jika bicara dengan cara yang menyakitkan. Orang sabar pun punya batas kesabaran Ung."
Euiwoong menundukkan kepalanya, kata-kata Haknyeon semakin menusuknya, menambah denyutan nyeri yang ia rasakan semakin menyakitkan.
"Ya seperti kau tadi, kau memukulku karena merasa tak bisa menyuruhku diam hanya dengan kata-kata, mungkin itu juga yang dilakukan teman segengmu."
Haknyeon menghela nafas pelan, merasa sedikit bersalah melihat raut Euiwoong yang semakin muram setelah mendengar kata-katanya. Matanya bahkan sudah merah dan berkaca-kaca. "Aku juga bukan typikal orang yang gampang dinasehati, kadang suka berbuat sesukaku sampai-sampai Woojin memukulku, itu membuatku sakit hati, tapi aku tahu hal itu membuatku sadar bahwa kesalahanku sudah keterlaluan. Ketika melihat Samuel pikiranku mengatakan dari pada mempermasalahkan tindakan kasar Woojin lebih baik aku berpikir bagaimana caranya memperbaiki kesalahan. Aku tak mau jadi hyung yang buruk di matanya."
"Menjadi hyung itu tak mudah, aku sendiri membayangkan bagaimana jika Samuel yang kelakuannya sepertiku, apa yang harus kulakukan padanya? bagaimana cara mengingatkannya? Aku tak mau menyakiti adikku tapi bagaimana jika dia benar-benar sudah tak bisa diajak bicara baik-baik? Pikiran-pikiran semacam itulah yang mungkin ditahan Woojin setiap menghadapiku."
Haknyeon memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman lalu kembali berkata, "Meski seumuran, tapi dari bulan lahir Woojin itu yang paling tua diantara kami berlima, karena itu dia yang merasa paling bertanggung jawab dengan sikap kami berempat."
Euiwoong menatap Haknyeon yang tersenyum sambil menatap kekejauhan. Ada nada getir dalam suaranya.
"Sayangnya aku masih jadi orang menyebalkan sampai sekarang, sulit merubahnya, tapi setidaknya aku berusaha agar tak ada saudaraku yang memukulku lagi, pipiku sakit sekali rasanya gara-gara tinju Woojin," ujarnya sambil nyengir lebar ke arah Euiwoong.
Euiwoong tak tahu apa ia harus tertawa, bersyukur, atau bagaimana. Ekspresi Haknyeon sangat lucu dan kata-katanya berhasil membuat perasaanya jauh lebih baik. Jika tidak bertemu Haknyeon mungkin ia sudah menangis sendiri sekarang dan terus menyalahkan Hyungseob tanpa melihat dari sudut pandang lain. "Kau benar, kau memang menyebalkan sunbae,"ucapnya sambil tersenyum.
"Sunbae?" Haknyeon nampak terkejut. Ia bahkan sampai menempelkan punggung tangannya ke kening Euiwoong dan langsung ditepis kasar.
"Kau sehat?"
"Apa-apa'an sih," bentak Euiwoong.
"Kau memanggilku sunbae, biasanya, Haknyeon sialan, kau, atau..."
"Ya ya aku tak sopan padamu, jadi sekarang aku memanggilmu sunbae," potong Euiwoong.
"Woahhh...sungguh? aku senang sekali," kata Haknyeon heboh seolah barusan ia mendapat hadiah lotre yang besar.
"Biasa aja dong," sewot Euiwoong.
"Tapi sejujurnya aku lebih suka kau memanggilku Haknyeon."
"Ha? Kok aneh sih, aku bersikap sopan malah minta sikap yang kurang ajar." Euiwoong geleng-geleng kepala, gagal paham dengan sikap Haknyeon.
"Dalam hati kau juga gak ikhlas kan manggil sunbae, blak-blakan ajalah, gak akan kuanggap kurang ajar kalau memang itu membuatmu nyaman."
"Pantesan Woojin sunbae sampai memukulmu, otakmu memang gak beres," cibir Euiwoong.
"Kalau otakku beres dan kelakuanku benar, kau marah-marah dengan siapa, bersyukurlah aku bisa jadi tempatmu meluapkan emosi."
Euiwoong menepuk jidatnya keras sementara Haknyeon hanya nyengir lebar. Sungguh Euiwoong tak paham dengan jalan pikiran kakak kelasnya itu. Haknyeon benar-benar absurd, dan dia sangat benci sikapnya itu, tapi sialnya malam ini pertama kali Euiwoong merasa tak masalah dengan segala tingkah menyebalkannya itu.
$%^&*()
.
.
.
Seonho tak ingat sudah kemana saja dia mencari Euiwoong, yang jelas dia sudah berjalan jauh. Karena merasa tak akan menemukan Euiwoong Seonho memilih kembali ke penginapan. Tapi ketika melewati rumah tak berpenghuni yang menarik perhatiannya, ia melihat seorang laki-laki dengan topi dan jaket coklat panjang yang lusuh mondar-mandir di depan gerbang rumah itu. Tangan kananya memegang botol soju, apa dia orang mabuk?
Laki-laki itu menoleh ke arah Seonho, mata sayunya membelalak dan bibirnya sedikit menganga. Wajahnya menyeramkan dengan janggut lebat dan luka di sekitar matanya. Laki-laki itu tiba-tiba berjalan sempoyongan ke arah Seonho sambil mengacungkan botol soju di udara seolah bersiap memukul Seonho.
"KAU...KAU," teriak laki-laki itu dengan suara serak.
Seonho tak tahu apa yang harus ia lakukan, tubuhnya mendadak kaku. Botol itu semakin mendekat dan...
$%^&*()
.
.
.
Euiwoong tak mengerti dengan sikap Haknyeon yang sejak tadi tersenyum lebar. Orang ini memang murah senyum atau sedang kesambet? Pikirnya.
"Oh ya Ung, kau tahu rumah besar di sebelah penginapan ?"
"Hmm..., Kenapa?"
"Kau pasti tak tahu cerita dari rumah itu."
"Ya jelas gak taulah, rumah jauh di Seoul mana tahu cerita orang-orang sini."
Haknyeon nyengir sebentar lalu wajahnya kembali serius. "Sekitar 8 tahun yang lalu aku pernah ke sini, waktu itu pas sekali dengan terjadinya kejadian berdarah di rumah itu. Peristiwa itu sangat menggemparkan sampai-sampai hampir seluruh penduduk di pulau ini tahu," kata Haknyeon.
"Peristiwa berdarah? Semacam pembunuhan?" tanya Euiwoong.
Haknyeon mengangguk.
"Berarti dugaan Seonho benar," gumam Euiwoong.
"Dugaan Seonho? Memang temanmu itu bilang apa?"
"Seonho hanya menganalisis beberapa hal dan dia menyimpulkan pernah ada pembunuhan di rumah itu."
"Wah, temanmu itu sangat cerdas,"puji Haknyeon.
"Ya sudah cepat ceritakan saja."
Haknyeon berdehem dua kali kemudian memulai ceritanya, "Dulu rumah itu milik seorang pengusaha kaya dari Seoul, aku tidak ingat namanya tapi yang jelas marganya adalah Kim. Tapi karena bisnisnya sudah ia serahkan ke anak sulungnya, akhirnya dia memilih tinggal di sini dengan istri dan putra keduanya. Putra keduanya ini memiliki gangguan bipolar parah, dimana kondisinya sangat tak menentu. Ketika kakaknya datang dari Seoul dengan istri dan anaknya, si putra kedua ini sangat cemburu. Dia belum menikah dan orang tuanya terlihat lebih menyayangi kakaknya. Terlebih setelah malam itu tercetus ungkapan bahwa ayahnya akan memberikan rumah di Ulleungdo pada cucunya suatu hari nanti. Itu membuat putra kedua sangat marah dan merasa dibuang. Ia berpikir rumah yang dimaksud adalah rumah tempat mereka tinggal, padahal nyatanya beberapa hari setelah kejadian tragis itu, diketahui dari pengacara pribadi keluarga Kim yang mengurus surat wasiat, bahwa rumah yang dimaksud adalah rumah di dekat pantai yang dibangun untuk keperluan bisnis, sementara rumah di sebelah penginapan itu akan diwariskan pada putra keduanya. Sayangnya dia salah paham dan malam itu dengan emosi meluap-luap ia membantai seluruh keluarganya," terang Haknyeon panjang lebar.
"Itu mengerikan, sama sekali tidak ada yang selamat?" tanya Euiwoong makin penasaran.
"Untungnya suami istri pembantu rumah mereka sehari sebelumnya ijin pergi mengunjungi saudaranya di Gangwoon-Do, jadi mereka selamat."
"Lalu apa yang terjadi pada orang itu?" tanya Euiwoong makin penasaran.
"Dia menghilang sambil membawa semua barang berharga di brankas ayahnya, mungkin untuk bekal melarikan diri," jawab Haknyeon.
"Tidak ada yang tahu dia masih hidup atau tidak?"
"Tidak ada yang tahu, putra kedua itu jarang ke luar rumah sehingga tak banyak orang yang mengenali wajahnya. Tapi seingatku seorang nelayan di dermaga 8 tahun yang lalu mengatakan pada kawannya bahwa putra kedua Kim itu memiliki tanda lahir di lengan kirinya, seperti bintik hitam kecil."
"Pantas saja harganya murah, tidak laku-laku pula, eh tapi siapa yang menjualnya? Yang jadi ahli waris lainnya?"
"Oh, kalau tidak salah adik tuan Kim, pemilik penginapan yang kita tempati."
"HA? SERIUS?" teriak Euiwoong kaget.
"Duuh, seriuslah."
"Wahh...aku penasaran," seru Euiwoong semangat membuat senyuman di bibir Haknyeon semakin lebar.
"Ayo balik, sudah malam," kata Euiwoong sambil melihat jarum jam di arlojinya. Cepat-cepat ia berdiri dan membersihakan bagian belakang celananya yang berdebu.
Haknyeon mengangguk setuju kemudian ikut berdiri. "Setelah ini damai dengan gengmu oke," ujarnya sambil menepuk bahu Euiwoong.
"Jangan pegang-pegang," Euiwong menepis lengan Haknyeon di bahunya yang terasa risih.
Sekali lagi Haknyeon hanya menunjukkan cengiran lebarnya. Mereka berjalan menuruni bebatuan lalu menyusuri jalan kembali ke penginapan. Karena Euiwong tak ingat jalan yang sudah ia lewati maka Haknyeon yang berjalan di depan. Ia tak mau jalan sejajar karena itu akan menimbulkan pertanyaan besar teman-temannya saat sampai di penginapan.
Sekitar 7 menit kemudian peginapan mereka sudah terlihat, Euiwoong sangat senang, dalam hati dia berniat setelah sampai ia akan langsung menemui Hyungseob dan meminta maaf. Tapi ketika melewati rumah kosong yang tadi mereka bicarakan, keduanya melihat seseorang berdiri di depan pagar rumah, menatap ke dalam rumah kosong itu lekat-lekat.
"Jaehwan hyung, ngapain di sini?" tanya Euiwoong.
TBC...
Hay readers, akhir-akhir ini aku update cepet cerita ini, takut keburu ilang idenya...
Beberapa momen udah aku up, kalo kemarin Jinseob (meski sedikit), sekarang Hakwoong)
Seonho kenapa? Ya next chap bakal tahulah...
Itu Jaehwan ngapain? Entahlah... hehe
Jangan lupa Review guysss...
Untuk semangat sekaligus ff ini supaya lebih baik ke depannya...
Minimalisirkanlah sider...
_Salam Author_
