Cast : Lee Jihoon

Choi Seungcheol

Yoon Jeonghan

Kwon Soonyoung

Jihoon POV

"Pakai semua pakaianmu." ucapnya dengan nada datar seperti biasa setelah sebelumnya kami melakukan hubungan terlarang seperti biasa, akupun hanya menunduk dan memungut semua pakaianku yang tercecer.

"Aku akan pergi sekarang."

"Sekarang? Apa kamu mau sarapan dulu? Aku akan buatkan." ucapku, namun dia menggeleng dan memakai dasinya.

"Tidak perlu, aku akan makan bersama dengan jeonghan." ucapnya yang membuatku meremas pakaianku tanpa sadar, akupun berusaha tersenyum.

"A-ah begitu, baiklah aku..."

"Diam disini saja seperti biasa, jangan berani keluar jika tak minta ijin padaku."

"Tapi soonyoung memintaku untuk mem..."

BRAAAAKKK

Seketika mulutku tertutup ketika dia membanting guci diatas meja kearah dinding dan kutatapi dia yang memandangku marah.

"Diam kau! Kau berani sekali pergi dengan pria lain hah! Kau hanya jalang yang kuhidupi disini lee jihoon!" bentaknya yang membuat perasaanku bagai diiris, kuusahakan untuk menahan air mataku ketika melihatnya.

"Aku akan pulang malam, siapkan dirimu saja." ucapnya dengan mengambil jasnya dan pergi dari kamar apartmen yang dia beli untukku agar bisa bertemu dengannya, perlahan isakanku keluar dari kuremas pakaianku.

"Tuhan, sampai kapan aku harus begini?"

Tak tahan dengan bau yang menguar di badanku dan juga seluruh kamar ini, kupaksakan tubuhku untuk bangun dan berjalan tertatih untuk membereskan kekacauan yang semalam seungcheol lakukan padaku. Malam tadi, tiba-tiba saja dia menarikku dari perpustakaan dan membantingku kearah ranjang dengan rasa marahnya. Aku tak tahu alasannya, semalam aku hanya membantu soonyoung teman kampusku untuk mempelajari pelajaran yang dia tak paham.

"Sakit." rintihku, kulangkahkan kakiku menuju cermin dan melihat lebam-lebam diseluruh tubuhku bahkan pipiku sedikit membiru karena tamparannya semalam.

"Bagaimana cara melepasnya? Aku sangat mencintainya, tapi aku tak mau terus menerus menjadi simpanan seungcheol." isakku, mengingat sebenarnya seungcheol sudah memiliki jeonghan hyung yang akan menikah dengannya tapi seakan-akan aku terjerat dengan pria itu dan tak bisa pergi darinya.

"Sebaiknya aku mandi dan membereskan semuanya, aku sudah berjanji dengan soonyoung." ucapku dengan membersihkan air mata diwajahku dan berjalan kearah kamar mandi.

Seventeen Romance

"Kamu baik-baik saja?" tanya soonyoung ketika kami berdua sudah ada di perpustakaan kota, akupun memandangnya.

"Apa?" tanyaku, kulihat dia meraih pipiku dan mengelus pipiku yang lebam sampai aku meringis pelan.

"Kamu dipukul siapa?" tanyanya, akupun terdiam dan berusaha mengalihkan pandanganku darinya. Namun soonyoung menahan daguku dan membuatku memandang kearahnya.

"Kamu masih bersamanya? Apa ini karena dia?" tanyanya dengan memandangku dalam, akupun melepaskan tangannya.

"Apa yang kamu katakan?"

"Kamu pikir aku tak tahu? Pria yang kemarin menarikmu itu bukan yang melakukan ini padamu, kudengar dia sudah memiliki tunangan tapi kenapa kau..."

"Berhenti mencampuri urusanku kwon soounyoung!" ucapku keras, akupun membereskan barang-barangku berniat pergi namun dia menahan tanganku.

"Kamu tahu bukan jika aku menyukaimu?" tanyanya, akupun terdiam meskipun sekarang dia berdiri didepanku.

"Pergilah denganku, aku akan memberikanmu kebahagiaan bukan penderitaan seperti apa yang dia berikan padamu." ucapnya, perlahan air mataku turun dan diam saja ketika dia mengusap pipiku perlahan seakan-akan aku adalah benda yang sangat rapuh dan akan hancur jika dia tak melakukannya perlahan.

"Aku tak mau kamu terus menderita dengannya, dia hanyalah pria jahat untukmu."

"Apa... kamu serius?" tanyaku, kulihat dia tersenyum dan mengangguk.

"Aku sangat serius." ucapnya, perlahan senyumku terukir dan diam saja ketika dia menarik pipiku perlahan agar bisa mendekat kearahnya dan memejamkan mataku ketika dia menciumku lembut.

"LEE JIHOON!" teriak seseorang dengan menarikku kasar, akupun membuka mataku dan terkejut ketika seungcheol ada didepanku dengan wajah penuh amarah.

"H-hyung."

"Lepaskan dia!" ucap soonyoung dengan menarik tanganku, namun aku terkejut ketika soonyoung jatuh setelah seungcheol meninjunya.

"Jangan berani mendekati milikku, atau aku akan melakukan hal lebih dari ini."

"Hyung, jebal geumanhe!" pintaku lirih, diapun memandangku tajam.

"Kembali, sekarang!"

"T-tapi..."

"Tidak jihoon, pergilah bersamaku." ucap soonyoung tulus, akupun memandangnya dan diam ketika seungcheol mencengkram tanganku.

"Jangan berani jihoon, atau kau akan tahu akibatnya." ucapnya, akupun terisak ketika seungcheol menarik tanganku kasar kearah mobilnya.

Seventeen Romance

"Ah!" rintihku ketika dia memasukan miliknya kasar bahkan tanpa pemanasan dan membiarkanku terbiasa dia menggerakan miliknya kasar, akupun terisak dan berusaha menahan perih dibawahku dan meremas seprai ranjang ini.

"H-hyung, jebal, hiks... s-sakith..." isakku, diapun menarik rambutku kasar.

"Nikmati saja jalang, bukankah kamu suka hah!" bentaknya, akupun menggeleng.

"T-tidakh... akh... hyung... sakith." isakku, namun dia tak peduli dan terus melakukannya dengan kasar. Diapun membalikan tubuhku untuk menghadap kearahnya dan mencekik leherku.

"H-hyung..." ucapku kesakitan dan memegang tangannya yang benar-benar mencekikku, sulit sekali untuk bernafas bahkan dia tak menghentikan gerakannya dibawah sana.

"Aku sudah katakan untuk tak menemuinya, apa kau tuli hah?"

"H-hyung... a-akk..."

"Kamu dengar hah? Kau mendengarkannya hah?" teriaknya lagi, akupun berusaha bernafas namun rasanya sangat sulit.

"G-geuman..." namun seakan tuli, dia tak juga melepaskannya dan rasanya kesadaranku mulai menipis perlahan demi perlahan.

"Kamu... hanya milikku, lee jihoon." bisiknya sebelum mataku benar-benar terpejam.

Seungcheol POV

"Kamu sudah makan?" tanya jeonghan dengan mengelus kepalaku, akupun hanya tersenyum dan memegang tangannya yang berada dikepalaku.

"Sudah, aku akan ke kantor sebentar lagi." ucapku, diapun mengangguk dan melihat kembali berkasnya.

"Apa... jihoon belum ditemukan?" tanyaku, diapun menghela nafas dan mengangguk.

"Aku sudah mencarinya kemanapun, tapi dia belum juga ditemukan?" ucapnya, akupun memegang tangannya menguatkan.

"Aku yakin adikmu akan ditemukan, aku akan membantumu." ucapku, diapun tersenyum.

"Terimakasih sudah membantuku, kamu memang suami terbaik." ucapnya, akupun memeluknya dan mengelus pundaknya.

"Yah, aku tahu." ucapku, perlahan akupun menyeringai dan mengecup kepalanya.

Seventeen Romance

Kubuka pintu apartmen yang sudah lama kami tinggali dan menutupnya perlahan, kulangkahkan kakiku menuju kamar yang terlihat sangat rapih dan wangi. Yah memang setiap hari aku selalu membereskannya agar pria yang kini tengah baringan di ranjang itu nyaman.

"Baby, kamu sudah bangun?" tanyaku, kududukan badanku disampingnya dan mengelus rambut pirangnya yang membuatnya sangat lucu.

"Kamu mau makan sesuatu? Ah, kamu sudah mandi?" tanyaku, akupun mencium pipinya dan memandang matanya yang nampak kosong.

"Sayang, kamu tak merindukanku? Aku sangat merindukanmu." ucapku dengan mengelus pipinya yang sekarang nampak tirus, akupun memandangnya dan mengecupi bibir pucatnya.

"Kenapa bibirmu sangat dingin? Kamu kedinginan?" tanyaku khawatir, akupun memeluknya erat.

"Tenang sayang, aku akan menghangatkanmu. Kamu sangat kedinginan? Aku akan mematikan acnya untukmu." ucapku dengan meraih remote dan mematikan acnya. Akupun tertawa ketika melihatnya hanya diam dan kuusap kepalanya.

"Tenang sayang, aku akan disini selalu bersamamu. Lee jihoon hanya milikku seorang, tak boleh siapapun menyentuh milikku. Yah, tak seorangpun." ucapku, perlahan air mataku turun dan mengecupi bibir tipis yang kini sudah membiru.

"Lee jihoon, hanya milik seungcheol seorang."

Omake

"Ditemukan jenazah seorang pemuda disebuah apartmen elit, diduga pemuda tersebut meninggal akibat cekikan karena terdapat luka cekikan disekitar lehernya. Terduga pelaku adalah pemilik apartmen tersebut yang tak lain adalah Choi seungcheol, penguasaha muda yang sedang menarik perhatian karena jenazah yang tak lain adalah Lee jihoon yang merupakan adik iparnya sendiri. Beliau..." tampak seorang pria dengan wajah cantik itu mematikan televisi yang menampilkan berita yang tengah ramai diperbicarakan dan menghela nafas perlahan, diapun memandang pria yang ada didepannya yang memandang kedepan kosong.

"Kenapa kamu hanya diam?" tanya jeonghan, pria yang tadi mematikan televisi pada pria yang hanya memandang kedepan kosong.

"Seungcheol, jawab pertanyaanku. Apa salah adikku dan salahku? Kenapa kamu tega melakukan ini?" tanyanya lirih, dia berusaha menahan air matanya.

"Seungcheol..."

"Aku mencintainya." ucapnya memotong, terlihat sekali wajah pria itu nampak frustasi namun senyum mengerikan yang kini tengah dia tunjukan.

"Aku mencintainya, sungguh. Tapi kenapa dia malah mengatakan aku harus menikah denganmu?" ucapnya dengan memandang jeonghan putus asa, jeonghanpun menutup mulutnya menahan isakan.

"Dia tak memilihku, padahal aku sangat mencintainya."

"Seungcheol."

"Dia hanya milikku, dan tak ada satu orangpun yang bisa memilikinya." ucapnya dengan tertawa keras, jeonghanpun bangun dan memandang penjaga disana.

"Kalian bisa membawanya, pastikan dia mendapatkan perawatan yang terbaik." ucapnya pada para penjaga rumah sakit jiwa tersebut, para penjagapun mengangguk dan membiarkan jeonghan pergi.

Tanpa disadari siapapun, terlihat sesosok pria kecil tengah memandang kejadian ini pandangan sendunya. Pandangan pria itupun tertuju pada seorang pria yang terkekeh tak jelas bahkan siapapun yang memandangnya merasakan kasihan sekaligus takut jika mengetahui apa alasan pria itu terjebak disini dengan pasien yang bernasib sama.

"Hyung." lirih pria kecil itu, perlahan bayangan itupun pergi meninggalkan segala penyesalan dan kesedihan yang dia tinggalkan bersama dengan pria yang sudah memberikan kesedihan itu.

END