Jihoon bangun dengan kondisi linglung, jam wekernya berbunyi pukul 5 pagi sementara dia tidur sekitar setangah 2 dini hari, tidurnya sangat singkat. Kenapa pukul 5 pagi? Karena kemarin Jihoon dan gengnya sudah berencana untuk jalan-jalan sekitar penginapan menikmati udara pagi Ulleungdo.

Tapi sepertinya rencana itu hanya akan tinggal jadi rencana. Matanya melebar melihat Daehwi terbaring di dekat jendela. Anak itu kenapa? Buru-buru Jihoon mendekat dan mengguncang-guncangkan tubuhnya, tapi mata Daehwi tak mau membuka. Anak ini pingsan?

$%^&*()

.

.

.

Kehebohan pagi ini dimulai dengan Jihoon yang mengedor-gedor pintu kamar Hyungseob hingga woojin ikut terusik. Untungnya Hyungseob yang sudah bangun dengan sigap membukakan pintu, tak memberi kesempatan Woojin untuk marah-marah.

Hyungseob memberi minyak ke pelipis dan hidung Daehwi sementara Jihoon memijat tangannya.

"Kok bisa Daehwi pingsan?" tanya Hyungseob.

"Gak tau, bangun-bangun dia udah pingsan di dekat jendela."

"Lah ngapain dia di dekat jendela? Kordennya kebuka nggak?"

Jihoon mengangguk.

"Kamu lihat apa sih wi sampek pingsan, duh..," gumam Hyungseob sambil menepuk-nepuk pelan pipi Daehwi.

"Daehwi kenapa hyung?" tanya Euiwoong yang tiba-tiba masuk bersama Seonho tanpa disadari.

"Pingsan, kayaknya habis lihat sesuatu," jawab Hyungseob.

"Hyuung...," suara lirih Daehwi menarik mata semua orang ke arahnya. Matanya perlahan-lahan terbuka.

"Nggak usah bicara dulu, istirahat aja wi," ujar Hyungseob lembut sambil mengusap-usap rambut Daehwi. Sebagai hyung, ia berusaha membuat Daehwi nyaman. Kemarin kondisi Daehwi baik-baik saja, jadi ia pasti pingsan karena sesuatu dan sesuatu itu sangatlah mengejutkan. Menanyakan hal mengejutkan pada orang yang baru sadar bukanlah ide bagus.

Daehwi memejamkan matanya sebentar lalu mendadak kembali membuka lebar dengan ekspresi syok. Ia menarik tangan Hyungseob untuk mempermudahnya duduk. "Hyung, tadi aku lihat sesuatu," ujar Daehwi heboh.

Hampir saja Hyungseob menubruk Daehwi karena tarikan tiba-tiba anak itu. Untungnya dia bisa menahan tubuhnya. Astaga, anak ini baru sadar sudah heboh, benar-benar ciri khas seorang Daehwi.

"Lihat apa wi?" tanya Seonho.

Daehwi lalu menceritakan apa yang terjadi padanya sebelum dia pingsan dengan nada heboh. Ia mulai dari waktu mengupload foto di instagram yang mentag Sewoon dan Jaehwan sampai waktu ia melihat cahaya di salah satu kamar di rumah kosong.

"Cahaya? Kok ada cahaya di sana?" gumam Seonho heran.

"Gak tahu, takut ih," ujar Daehwi cepat-cepat memeluk lengan Hyungseob. Diantara mereka berlima, memang Daehwi yang paling takut hantu. Tak pernah menonton film horor dari umur 10 tahun sejak wajah menyeramkan wanita berambut panjang mengagetkannya di layar tv.

"Seonho jadi penasaran, lebih baik di cek untuk memastikan."

"Apa'an sih ho, gak-gak gak, gak mau Daehwi."

"Oh ya kalian tahu gak cerita rumah itu," kata Euiwoong.

"Emang kenapa?"tanya Jihoon.

Euiwoong pun menceritakan apa yang sudah ia dengar dari Haknyeon semalam mengenai rumah itu. Lengkap tanpa satu fakta pun yang tertinggal.

"Tahu dari mana?" tanya Hyungseob yang heran bagaimana Euiwoong bisa cepat mendapatkan informasi itu.

"Pokok dari suatu sumberlah, nggak usah Ung jelasin." Tentu Euiwoong tak ingin teman-temannya, tahu bahwa ia mendapatkan informasi itu dari Haknyeon. Terutama Daehwi, bisa-bisa anak itu memberondonginya pertanyaan aneh-aneh yang memancing darah tinggi di pagi hari.

"Kalau begitu sebaiknya memang kita cek," kata Jihoon.

"Loh hyung...gak mau ihhh, gak..gak..gak," Daehwi masih menolak mentah-mentah ide itu. Ia masih merinding kalau mengingat apa yang semalam ia lihat. Membayangkan cahaya itu berasal dari sesuatu yang bisa membuatnya jantungan.

"Kalau gak mau ya udah, kamu di kamar aja," ujar Hyungseob. Wajah pucat ketakutan Daehwi membuatnya tak tega untuk memaksa. Hyungseob paham benar dengan phobianya.

"Penakut banget sih, dasar bayi," cibir Euiwoong dan langsung di balas gamparan bantal dari daehwi persis di wajah.

"APA'AN SIH, BACOT AH."

"SAKIT WI,"teriak Euiwoong sambil mengusap-usap hidungnya yang merah. Daehwi menggamparnya sekuat tenaga dengan bantal yang cukup berat.

"BODO AMAT."

"SALAH, MASIH NYOLOT," karena gregetan Euiwoong melempar balik bantal itu ke wajah Daehwi.

"EH, SIALAN...SAKIT UNG, KALAU KEPALAKU PUSING LAGI GIMANA, BARU JUGA SADAR."

"BODO AMAT."

Hyungseob, Jihon dan Seonho saling pandang sambil senyum miris. Semalam mereka nempel seperti pohon dan anggrek, tapi sekarang sudah cakar-cakaran lagi.

"Semoga aku nggak cepat tua karena mereka," gumam Hyungseob sambil mengelus dada sabar.

$%^&*()

.

.

.

Bukan hal mudah bagi Euiwoong untuk memanjat tembok setinggi satu setengah meter yang membatasi penginapan dan rumah kosong di sebelahnya. Selain karena tak pernah memanjat Ia juga acrophobia, padahal untuk ukuran tembok rumah mewah, tingginya terbilang rendah. Biasanya rumah-rumah mewah bertingkat kan dikelilingi tembok menjulang.

Pas berdiri di tumpukan batu dengan Haknyeon kok gak takut? Itu karena suasananya beda, pemandangan menakjubkan yang ia lihat berhasil mengalihkan pikirannya, sementara sekarang dia harus menatap langsung ke bawah untuk terjun. Baginya itu jauh lebih menakutkan.

"Lama banget sih Ung, cepetan," desak Daehwi yang sudah mendarat di pekarangan rumah kosong. Akhirnya dia memilih ikut karena lebih takut ditinggal sendirian di kamar. Masih trauma.

Kaki Euiwoong gemetaran, tapi karena tak ada pilihan lain, dia pilih tutup mata lalu loncat. Sialnya, dia loncat sebelum Daehwi menyingkir.

"ARGGHHH...WHAT THE..."umpat Daehwi sambil meringis sakit karena punggungnya ditindih Euiwoong.

Euiwoong cepat-cepat menyingkir,"Maaf-maaf."

Hyungseob langsung sigap membantu Euiwoong berdiri sementara Deahwi dibantu Seonho, "Gak usah ribut," ujarnya tajam.

Kalimat itu membungkam mulut Daehwi yang sudah ingin mencerca lagi, apalagi melihat ekspresi Euiwoong yang sangat biasa seperti tak melakukan kesalahan, berbagai umpatan sudah ia ucapkan di dalam hati. Orang itu tidak sadar? punggungnya sakit sekali tertimpa badannya yang bantet, batin Daehwi.

"MINGGIR," bentaknya sambil menjambak rambut Euiwoong keras lalu mendorongnya menyingkir hingga menubruk Hyungseob.

"SSSHHH..., BIASA AJA DONG,"hampir saja Euiwoong tak bisa menahan umpatan.

"Jangan diladeni," Hyungseob berusaha menahan Euiwoong yang ingin mengejar. Kurang sabar apalagi Hyungseob menghadapi mereka berdua?

"Tadi katanya takut, kok jalan duluan," kata Seonho.

Mengabaikan ucapan Seonho, mereka berempat bergegas menyusul Daehwi yang sibuk menyusur rumput-rumput setinggi betis.

Begitu sampai di beranda, Daehwi langsung memutar kenop pintu yang ternyata tak dikunci. Tapi ia mempersilahkan Jihoon untuk masuk lebih dulu karena takut. Rumah ini sangat tidak terawat, debu tebal dimana-mana, perabotan-perabotan rumah seperti kursi dan lemari besar di sudut ruangan ditutupi kain putih. Di dinding yang dekat dengan kursi tamu, ada bekas tempelan benda persegi panjang yang cukup besar. Sepertinya bekas ditempeli pigura selama bertahun-tahun. Entah isi pigura itu apa.

"Aku penasaran, kira-kira dimana waktu itu posisi dibunuhnya tuan Kim," ucap Seonho sambil mengamati lantai.

"Jangan dicari ho, kalau hantunya nongol gimana," rengek Daehwi yang dari tadi tak lepas gelanyutan di lengan Jihoon.

"Gak ada hantu wi, gak ada." Jihoon risih, ingin membebaskan lengannya tapi gak tega juga karena Daehwi bener-bener ketakutan. "Anggap aja ini terapy untuk trauma hantumu," lanjutnya.

"Eh wi, kamu lihat cahaya itu di kamar mana?" tanya Seonho.

"Kamar lantai dua, nomor dua dari depan."

Seonho langsung menaiki tangga ke lantai dua dan diikuti Hyungseob dan Euiwoong. Jihoon dan daehwi? Belibet di belakang karena daehwi nahan-nahan lengan Jihoon agar tak ikut menyusul.

Senho sampai di depan kamar yang pintunya warna coklat. Ia memutar kenop pintu itu, ternyata kamanya juga tak dikunci. Perlahan ia masuk ke dalam. Kamar itu ternyata cukup luas, tapi perabotan di dalamnya tidak terlalu banyak. Hanya sebuah almari, meja nakas, ranjang berukuran besar, dan sebuah meja pajang dekat jendela. Sebuah lentera antik di atas meja menarik perhatian Seonho. Letera itu empat sisinya memanjang ke atas dengan atap penutup limas segi empat berwarna hitam. Lentera itu ia angkat dan ia perhatikan lekat-lekat, ah..ini dia cahaya yang dimaksud Daehwi.

"Kenapa ho?" tanya Hyungseob yang juga ikut masuk ke dalam diikuti Euiwoong.

"Mungkin yang dimasud Daehwi cahaya dari ini," kata Seonho sambil menunjukkan lentera yang ia pegang.

"Lah masak?" Daehwi yang baru sampai di depan kamar langsung berlari mendekati Seonho.

"Lenteranya gak begitu kelihatan karena mejanya juga lebih rendah dari bingkai jendela. Kalau diletakkan begini," Seonho meletakkan lentera itu ke tempat semula, "Dari bawah jadi cuma kelihatan cahaya dalam kaca."

"Siapa yang iseng nyalain lentera di rumah kosong begini sih," ujar Hyungseob.

"Kamu lihat jam berapa wi?" tanya Seonho.

"Terakhir lihat hp sih hampir jam tiga."

"Kelihatan jelas?"

"Sangat jelas."

Seonho membuka kaca penutup lentera dan menyentuh lelehan lilin di dalamnya, ia lalu menengok ke jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 05.20. "lilinnya masih hangat, itu artinya lilinnya baru saja padam."

Seonho membungkukkan badanya mendekatkan wajahnya ke kaca lentera, "Lilin yang biasa dipakai keluargaku itu lilin parafin yang lumrah dijual di toko-toko, kualitasnya biasa saja, diameternya sekitar 1,5 cm dengan tinggi sekitar 15 cm an dan berat 23,9 gram an, begitulah informasi yang tertera di laman perusahaan produksinya, tapi lelehan yang dihasilkan setelah lilin padam tidak sebanyak ini. Jadi kurasa tinggi atau lebarnya lebih dari ukuran lilinku di rumah."

"Apa hubungannya sih ho?" tanya Daehwi.

"Memang cepat lambatnya lilin terbakar ditentukan oleh tipe benang pembakar dan komposisi bahan lilin. Tapi setelah kuamati kurasa jenis lilin ini sama seperti lilin yang kupakai, jadi kita bisa menggunakan lilin yang biasa kupakai sebagai acuan. Ditoko-toko yang kuperhatikan sepanjang pantai kemarin, jelas bungkus dan mereknya sama persis. Di pulau kecil sederhana seperti ini, barang yang tersedia tak sebanyak seperti di Seoul, kebanyakan barang merek yang terkenal secara nasional yang bertebaran di sini."

"Lalu?" dahi Hyungseob mengerut tak mengerti.

"Lilin yang biasa kupakai di rumah itu padam dalam waktu kurang lebih 3 jam 11 menitan," Seonho mengeluarkan penggaris kecil berukuran 20 cm dari tas ranselnya.

"Sejak kapan kau bawa-bawa penggaris kecil kemana-mana?" tanya Jihoon heran.

"Sejak aku lupa menaruhnya lagi ke dalam kotak pensil," jawab Seonho singkat. Dia membungkuk, mensejajarkan penggaris itu dengan lentera, mendekatkan wajahnya ke penggaris, dan menutup sebelah matanya seperti mengamati dengan misroskop,"Jarak dasar lilin dengan bingkai jendela sekitar 10 cm, sekitar pukul setengah 3 dini hari Daehwi masih bisa melihat jelas cahayanya, berati tinggi lilin ini masih di atas 10 cm. Katakanlah ukuran lilin ini tingginya tetap 15 cm, tapi diameternya bertambah jadi 1.8 cm, kita pakai ukuran yang kutahu saja, berat massanya kalau tidak salah jadi 36,3 gram an, dengan ukuran itu butuh hampir 5 jam untuk lilin padam, mungkin 4 jam lebih 50 menit sekian, dengan begitu menurut perhitunganku sekitar jam setengah tiga, tinggi lilin sudah di bawah 10 cm, jadi tidak akan terlihat terlalu jelas."

"Lalu?" ujar Daehwi masih belum paham.

"Berarti tinggi lilin lebih dari 15 atau diamaternya lebih dari 1.8 cm, dan berarti lilin ini menyala lebih dari 5 jam an," Seonho melirik jam tangannya lagi,"Tadi pukul 05.20 an lilin masih agak hangat, berarti lilin padam beberapa saat sebelumnya, misalnya kita anggap saja lilin menyala tepat selama 5 jam, tinggal hitung mundur 5 jam sebelum pukul 05.20 untuk tahu kapan waktu maksimal pelakunya menyalakan lilin."

"Sekitar jam setengah satu dini hari," ujar Euiwoong.

"Aku tak memperhatikan jam secara spesifik jadi aku tak bisa menyebutkan pasti angkanya, tapi seingatku aku menutup tirai jendela kamar hampir pukul 11 malam, dan aku tak melihat cahaya itu, berarti pelakunya menyalakan lilin ini antara pukul 11 sampai setengah 1 dini hari."

"Woah...jadi begitu? Kuharap hipotesis ini akurat," seru Daehwi antusias.

"Oh ya kamu bilang ada yang lempar kerikil ke jendela kamar wi?" Seonho memastikan dan langsung diangguki Daehwi.

"Keadaan di luar jendela bagaimana?"

"Gelap karena tak ada lampu di luar, sepi."

"Ada dua kemungkinan sih, pertama karena lebar halaman samping penginapan tidak terlalu lebar, kurasa tidak lebih dari 3 meter, pelakunya bisa lempar dari balik tembok pagar pembatas, kedua pelakunya sembunyi di dekat kamar Daehwi, lalu melempar kerikilnya dari situ."

"Kalau begitu bisa jadi penghuni penginapan dong pelakunya," kata Euiwoong.

"Bisa jadi," jawab Seonho.

"Kuharap ini bukan ulah mereka lagi," kata Jihoon.

"Oh astaga, awas aja kalau ini kerjaan mereka," seru Euiwoong geram.

"Apa penyelidikan kita sudah cukup?" tanya Daehwi.

Seonho menggeleng, "Aku mau berkeliling melihat-lihat."

"Berkeliling lihat-lihat? dikira ini taman wisata," gumam Daehwi.

"Menurutmu siapa yang dulu menempati kamar ini ho?" tanya Jihoon.

"Mungkin putra kedua tuan Kim."

"Eh serius," pekik Daehwi. Mendengar putra kedua Kim disebut Daehwi langsung bergidik.

"Lihat berapa banyaknya bekas selotip dan sisa kertas di ujung-ujung selotip yang ada di dinding," semua orang menoleh ke dinding yang ditunjuk Seonho, dinding yang berhadapan dengan tempat tidur.

"Biasanya apa yang ditempel orang di dinding? Poster? Kertas-kertas berisi harapan, catatan, bahkan bisa jadi impian yang ingin selalu ia lihat ketika bangun tidur, bekas selotip sebanyak itu kurasa karena seringnya seseorang menyobek-nyobek kertas-kertas di dinding itu saat emosinya meledak lalu menulis dan menempelkannya ke dinding lagi setelah kembali normal. Entah apa yang dia tulis hal yang sama atau bukan. Putra tuan Kim itu bipolar kan, mood nya berubah-ubah secara drastis tanpa bisa diduga, perilakunya cocok dengan hal itu. Berarti ini kamarnya," ujar Seonho.

Semua orang yang mendengarnya mengangguk-angguk. Seonho kemudian berjalan ke luar kamar, menghampiri kamar lain yang pintunya berwarna putih. Ketika pintu di dorong, nampaklah ruang kerja besar yang perabotannya masih banyak, seperti lemari-lemari buku, meja kursi kerja, dan beberapa kursi kayu depan untuk tamu di depan meja kerja. Seonho mengitari ruangan, melihat ke sudut-sudut, mengamati lantai, hingga berhenti pada sebuah brankas yang tertanam di dalam dinding. Ada bekas persegi di sekeliling dinding, sepertinya dulunya brankas itu ditutupi lukisan dari luar.

Brankas itu berukuran sedang, menggunakan kunci kombinasi tiga roda dan tiga arah. Brankasnya terlihat baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda paksaan di buka sama sekali.

"Ho..,ayo pergi," kata Jihoon yang mendadak muncul di pintu.

Seonho menoleh dan mengangguk setuju.

"Lama banget sih ho, ayo cepet keluar dari sini," rengek Daehwi ketika Seonho sudah berkumpul kembali dengan teman-temannya di depan kamar yang mereka duga kamar anak tuan Kim.

"Apa'an sih wi," jawab Seonho.

"Nggak enak suasananya di sini, udah ah keluar yuk," kata Daehwi sambil menarik-narik lengan Seonho. Bola matanya berputar ke sana ke mari seperti merasa di awasi.

"Oke..oke," jawab Seonho yang sudah tak tahan dengan rengekannya.

Mereka berlima akhirnya keluar dari rumah itu. Saat memanjat tembok pagar untuk kembali ke penginapan, Euiwoong sudah tak setakut saat pertama kali sehingga tak perlu ada ribut-ribut semacam tadi. Tanpa sadar seseorang mengawasi mereka diam-diam dari balik jendela kamar tuan Kim, bibirnya menyeringai kecil.

TBC...

.

.

.

Hay readers, kembali lagi

Sebenarnya mau buat lebih panjang,tapi ya sudahlah ku up saja dari pada lama-lama

Bagaimana misterinya? Yang mengira-ngira siapa yang masuk ke rumah itu? siapa yang mengawasi mereka?

Silahkan diterka-terka

Terima kasih yang sudah review...

Jangan lupa untuk review ya guys...

Yang minta momen guanho, sungguh kalian harus bersabar, hehehe... maaf kan author

_Salam Author_

~ Q