9 Orang yang berpencar mencari Euiwoong sekarang sudah berkumpul lagi dan hampir putus asa. Tak satu pun dari mereka menemukan Euiwoong. Punya petunjuk keberadaanya saja tidak.

"Bahkan aku cari ke lobang-lobang pun tidak ada, sebenarnya anak itu kemana," seru Hyungseob. Nada dan ekspresinya kental kekhawatiran.

"Jelaslah, lubang yang kau intip hanya sebesar lubang untuk bola golf soeb," timpal Woojin.

"Serius, aku sudah putus asa mencarinya," seru Hyungseob frustasi. Kedua tangannya menarik helaian-helaian rambutnya hingga acak-acakan.

Seonho juga sama putus asanya dengan Hyungseob, hanya saja pikirannya tetap bekerja keras, memikirkan kira-kira dimana kemungkinan Euiwoong berada. Semua kejadian aneh ini berawal dari cahaya lilin di rumah kosong. Ya, semuanya berawal dari rumah kosong itu.

"Aku tak berharap ini benar, tapi ..." Seonho mengantung kalimatnya sejenak memperhatikan wajah-wajah serius menyimak ucapannya, "Mungkinkah Euiwoong ada di rumah kosong itu?"

"Itu dugaan gila," seru Hyungseob.

"Melihat keadaannya kurasa kemungkinannya 50:50 hyung."

"Itu memang dugaan gila, tapi sebaiknya kita chek," kata Haknyeon.

Mereka bergegas pergi ke rumah kosong peninggalan tuan Kim. Pikiran Hyungseob sudah melayang kemana-mana, hari ini benar-benar kacau. Kejadian-kejadian aneh beruntun meneror mereka seperti dalam film-film mistery horor. Ia memang menyukai genre semacam itu, tapi mengalaminya sendiri di kehidupan nyata? Shit. Rasanya sangat menyebalkan.

Hal yang aneh melihat gembok berkarat rumah itu rusak, memang gemboknya sudah rapuh, tapi Seonho ingat jelas kemarin malam gembok itu masih baik-baik saja. Jadi bagaimana bisa rusak secara tiba-tiba?

Buru-buru semua orang merengsek masuk ke halaman, ada bekas jejak rumput di sisir, kekhawatiran Hyungseob semakin menjadi-jadi. Langkahnya semakin cepat menyisir rumput. Ia dobrak keras pintu masuk dalam sekali dorong dan berteriak-teriak memanggil Euiwoong.

Seonho berlari ke lantai dua diikuti Guanlin dan Haknyeon. Hanya ada satu tempat yang memenuhi pikirannya saat ini. Jika semua kejadian aneh ini ada hubungannya dengan cerita rumah ini, maka berarti kemungkinan Euiwoong ada di sana...

Seonho mendorong keras pintu di depannya hingga menyentuh dinding dan dugaannya 100% benar. Euiwoong ada di kamar yang ia duga kamar putra kedua tuan Kim, tergeletak di atas ranjang.

Haknyeon langsung mendorong Seonho ke samping dan berlari ke ranjang, meraih pergelangan tangan Euiwoong, merasakan denyut nadinya.

Haknyeon tak mengatakan apapun dan langsung menggendong Euwong dari ranjang. Bahkan Hyungseob yang heboh menanyakan keadaan Euiwoong pun tak digubris.

"Sudahlah, simpan saja pertanyaanmu itu untuk nanti," kata Woojin sambil menepuk bahu Hyungseob. Matanya tak lepas dari punggung Haknyeon. Sikap Haknyeon itu, persis seperti saat terjadi sesuatu dengan Samuel.

Begitu sampai di penginapan, Haknyeon buru-buru merebahkan Euiwoong di kamar. Semua orang mengikutinya di belakang. Kamar Seonho dan Euiwoong seketika terasa penuh.

"APA YANG TERJADI DENGAN EUIWOONG?" seru Daehwi tiba-tiba dari ambang pintu.

Semua mata langsung tertuju ke arahnya. Di belakangnya berdiri Kenta dan Sewoon dengan gurat cemas, beberapa detik kemudian Samuel juga muncul. Ekspresinya seperti mengatakan "maaf aku tak bisa menahannya."

Hyungseob menghambur ke ranjang, berlutut di sisi tempat tidur dan dengan tatapan penuh harap ia bertanya pada Haknyeon, "Dia bak-baik saja kan?"

"HEY ADA APA INI? EUIWOONG KENAPA?" Daehwi semakin menuntut jawaban. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi, tadi dia mendengar suara derap langkah-langkah kaki terburu-buru di lorong, ia bertanya pada Sewoon dan Kenta tapi keduanya hanya saling pandang. Karena penasaran ia langsung beranjak dari ranjang untuk mengechek sendiri. Si Samuel itu sempat menghalanginya, mencekal lengannya dan mengatakan bahwa ia yang akan mengecheknya dan Daehwi harus istirahat. Tapi mana bisa alasan semacam itu membendung rasa penasarannya?

Dalam sekali tepisan pegangan Samuel terlepas dan ia langsung berlari keluar. Terlihat Jihoon, Guanlin, Woojin, Seonho, dan beberapa orang lagi masuk ke dalam kamar Seonho. Kenapa ada Guanlin sunae dan Woojin sunbae juga? Buru-buru Daehwi berlari mendekat. Semakin mendekat perasaan Deahwi semakin tak tenang.

Dan sekarang ia melihat Euiwoong terbaring di ranjang. Hyungseob terlihat lebih kacau dibandingkan tadi siang. Raut wajah Haknyeon sunbae bahkan berubah sangat serius seperti bukan dirinya. Apa yang sedang terjadi? kenapa Euiwoong tak sadarkan diri? Kenapa semua orang berkumpul di kamar? Dan kenapa tak ada yang menjawab pertanyaanya?

Haknyeon berdiri, berbalik menghadap semua orang lalu dengan wajah datar ia berujar,"Bisakah kalian semua tak berkumpul di sini? Suasananya jadi pengap."

Minhyun dan Jonghyun yang mengerti langsung keluar dari kamar, sementara Seonho, Guanlin, dan Woojin mundur beberapa langkah.

"Tolong panggil tuan Taedong, suruh dia memanggil dokter sekarang," perintah Haknyeon pada Jihoon.

Jihoon mengangguk dan langsung pergi untuk menemui tuan Taedong. Daehwi berjalan pelan ke ranjang, ia ingin tahu lebih dekat kondisi Euiwoong, apa tubuhnya terluka? Apa lukanya ada yang berdarah seperti kepalanya tadi siang? Atau justru dia hanya pingsan biasa?

Apa ini yang dirasakan Euiwoong tadi siang saat tahu ia terperosok ke jurang? Ini yang ia rasakan melihat Daehwi pingsan? Seperti ini rasanya tergantung menunggu kepastian dokter?

Rasanya... nyeri di dada.

$%^&*()

.

.

.

Masih terngiang di kepala Seonho soal ucapan dokter yang mengatakan bahwa Euiwoong pingsan karena pukulan benda tumpul di kepala bagian belakang. Tadi siang seseorang mendorong Daehwi ke jurang, lalu sekarang Euiwoong dipukul hingga pingsan dan diletakkan di rumah kosong tuan Kim. Sebelumnya juga ada insiden darah di kamar Hyungseob hyung. Kenapa semuanya tampak tak masuk akal?

"Kejadian seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya, penginapan ini selalu aman," kata tuan Kim Taedong dengan nada cemas. Di sebelahnya berdiri pelayan laki-laki yang tadi pagi berkebun di halaman belakang. Ternyata namanya adalah Taehyun.

"Hyuuung...," ucapan lemah Euiwoong mengalihkan perhatian semua orang. Buru-buru Hyungseob menggengam tangan Euiwoong dan mengelus rambutnya pelan, "Ya, hyung di sini."

Perlahan kelopak mata Euiwoong terbuka. Ia tampak bingung kenapa ada banyak orang berkumpul di kamarnya. Kepalanya juga terasa pening dan berat.

Yang ia ingat tadi ia hendak kembali ke penginapan sambil membawa sekantong plastik penuh camilan, lalu tiba-tiba kepalanya di pukul dari belakang. Sebelum semuanya berubah gelap ia sempat melihat seseorang bertopi lebar dengan jas panjang yang lusuh. Topi bagian depannya turun ke bawah sehingga hanya sebagian wajahnya yang tampak. Itu pun Euiwoong tak bisa melihat jelas karena gelap. Tapi ia sempat melihat... Euiwoong langsung bangkit duduk, mengabaikan rasa pening di kepalanya, ia tertegun menatap Haknyeon yang berdiri persis di samping ranjang.

"Aku tadi melihat tanda titik kecil di lengannya saat lengan bajunya tersingkap, sungguh aku melihatnya," suara Euiwoong makin bergetar.

Kelopak mata Haknyeon melebar terkejut, tapi kemudian dia langsung mendekat dan memeluk Euiwoong. Yang ia lakukan ini pasti mengejutkan semua orang dan terlihat aneh, tapi masa bodo. Ia tak bisa menahan diri.

Euiwoong tak menolak saat tangan lembut Haknyeon merengkuh bahunya, membawanya pada dekapan hangat. Ia bukannya ketakutan seperti Daehwi, tapi apa yang baru saja ia alami sulit dipercaya. Ia benar-benar syok.

Orang-orang tampaknya masih belum bisa memahami arti ucapan Euiwoong hingga suara tuan Taedong memecah keheningan. "Tidak mungkin."

"Maksudmu tanda titik itu bukan ...," Seonho menggantung kalimatnya sejenak, "Bukan putra kedua tuan Kim kan?"

"Tidak mungkin," seru tuan Taedong lebih keras. "Itu tidak mungkin."

"Kenapa paman yakin sekali?" tanya Hyungseob curiga, "semua hal janggal ini jelas-jelas mengarah padanya."

"Dia sudah lama menghilang, kalian mau bilang dia sekarang kembali dan meneror kalian? Begitu? Untuk apa?" ada nada marah dalam suara lelaki berusia setengah abad lebih itu.

"Itu yang kami tidak tahu," jawab Seonho.

"OMONG KOSONG MACAM APA INI?" teriak Taehyun emosi. "JANGAN BICARA SEMBARANGAN, MANA MUNGKIN...," ia menghentikan kalimatnya sebentar, kedua tangannya terkepal erat, "MANA MUNGKIN ORANG ITU DATANG LAGI HA !"

"Tapi sampai saat ini semua bukti mengarah padanya."

"BUKTI APA HA?" Taehyun langsung menyergap bahu Seonho, mencengkramnya erat hingga Seonho terkejut.

"TAEHYUN, HENTIKAN !" Tuan Taedong menarik kedua lengan Taehyun agar melepaskan Seonho, tapi cengkraman Taehyun sangat erat.

"KATAKAN BUKTI MANA YANG KAU MAKSUD !"

Jika bisa mengumpat Seonho mungkin sudah mengumpat, ia meringis kesakitan. Jari-jari pelayan itu seperti menancap kuat di bahunya. "AKHHH...," teriaknya tak bisa menahan perih.

"LEPASKAN TAE !"teriak Tuan Taedong lebih keras.

Sumpah Hyungseob tak terima dongsaengnya diperlakukan semacam itu, mulutnya gatal ingin mengumpat macam-macam. Apa-apa'an orang ini? SANGAT KASAR ! Woojin diam-diam juga sedang menahan emosi. Nalurinya sebagai seorang hyung berontak ingin melayangkan pukulan ke pelayan itu sekarang, tapi mana bisa? Yang ada justru ia akan menambah masalah karena membuat laki-laki itu terluka.

"JANGAN BICARA SEMBARANGAN BOCAH ! BISA-BISANYA KAU BERKATA SEPERTI ITU!"

Aneh, bukan Daehwi yang dibentak, tapi ia yang ketakutan. Jantungnya berpacu lebih cepat, tubuhnya gemetaran, dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca.

Sisa-sisa rasa takut tadi pagi belumlah hilang, tapi sekarang ia malah mendengar bukti tentang kemunculan putra kedua tuan Kim. Diperparah suasana ribut-ribut ini, Pikirannya jadi kacau dan kegelisahannya kembali memuncak. Katakanlah responnya berlebihan, katakanlah Daehwi cengeng, tapi sungguh mentalnya belum cukup kuat untuk berada di suasana seperti ini setelah kejadian tadi pagi.

"HEH PAMAN KURANG AJAR, LEPASIN SEONHO !" teriak Euiwoong. Nasihat 'jaga ucapan pada yang lebih tua' dari Hyungseob menguap entah kemana. Masa bodo, pelayan itu memang kurang ajar.

"AKHHHHHHH..."teriakan Seonho semakin kencang, Taehyun semakin mempererat cengkramannya. SIALAN SIALAN SIALAN. INI MENYAKITKAN.

Hyungseob dan Woojin sudah tak tahan lagi. Keduanya sudah bergerak ingin melepaskan Seonho dari cengkraman pelayan itu, tapi tanpa di duga Guanlin mendahului mereka.

"Lepaskan dia," kata Guanlin sambil mendorong kuat Taehyun ke belakang.

Begitu lepas dari cengkraman, Seonho langsung memegangi kedua bahunya yang terasa ngilu. Buru-buru Jihoon mendekati Seonho dan menangkap tubuhnya yang hampir roboh. Nafas Seonho terengah-engah di bahu Jihoon dan kakinya mendadak terasa seperti jelly. Rasanya lemas.

"Maaf jika aku tak sopan, tapi anda sudah sangat kasar," kata Guanlin.

"KALIAN SEMUA DI SINI BAGIAN DARI DIA KAN," tunjuknya pada Seonho, "KALIAN SEMUA PASTI BERPIKIRAN SAMA DENGANYA ! TAHU APA KALIAN BOCAH !"

"Tidak semua orang di sini bocah tuan," kata Guanlin serius, kedua mata legamnya menatap langsung sepasang bola mata Taehyun, "Dengan segala hormat kuharap anda memaafkan semua ucapan yang membuat anda tersinggung," ia membungkuk sedikit sebagai permintaan maaf.

Wajah Taehyun merah padam, tampak bahwa kemarahannya masih belum mereda, tapi kemudian ia memilih berbalik dan meninggalkan kamar. Ia bahkan sempat mendorong Daehwi kasar karena Daehwi berada di depan pintu.

Dengan sigap Samuel menangkap tubuh Daehwi yang terhuyung. Matanya sempat menatap tak suka pada punggung Taehyun sebelum punggung itu melewati pintu.

Tuan Taedong membuang nafas keras. "Kau tak papa nak?" tanyanya pada Seonho.

Dengan mata terpejam Seonho mengangguk kecil.

"Maaf karena tak bertindak lebih cepat," kata Guanlin.

"Maafkan sikap Taehyun," ucap tuan Taedong. "Kalian mungkin menganggap sikapnya berlebihan, tapi dia memang sangat sensitif dengan keluarga hyungku," lanjutnya.

"Maksud tuan?" tanya Jihoon.

Tuan Taedong menghela nafas pelan,"Keluarga hyung sangat baik terhadapnya, dia tumbuh di panti asuhan di Seoul, suatu hari ia berhasil mencegah pencopet yang hendak mengambil tas istrinya. Pertemuan itu membawa kesan mendalam bagi hyung hingga akhirnya dia pun memutuskan membawa Taehyun dari panti asuhan. Tumbuh tanpa orang tua lalu tiba-tiba seseorang memberikan perhatian layaknya keluarga seperti yang didambakan semua anak di dunia ini. Bisa kalian bayangkan seberapa berhargannya hyung baginya?"

"Taehyun tumbuh dewasa dengan kedua putra hyung jadi dia mengenal jelas mereka berdua. Apalagi putra keduanya karena mereka seumuran. Yang kutahu mereka cukup dekat, dan Taehyun selalu bisa memaklumi sifatnya. Bisa dibilang mereka bertiga sudah seperti saudara. Saat hyung memutuskan untuk menetap di sini, Taehyun tetap disuruh tinggal di Seoul dan bekerja di bagian marketing sebuah perusahaan kecil bidang paket pengiriman barang sesuai keinginanya. Dan insiden berdarah itu kemudian terjadi. Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaanya? Hancur. Ia marah, kecewa, sakit. Taehyun jadi orang yang kehilangan semangat hidup, dipecat dari pekerjaanya, dan sering mabuk berat. Aku tak bisa membiarkannya hidup seperti itu. Dia masih muda, karena itu kuajak dia tinggal di sini dan bekerja sebagai pelayan bersama Yui, si juru masak. Aku dari dulu memang jarang mempekerjakan pelayan dan lebih suka menangani semuanya sendiri. Di usia tua kegiatan seperti itu sangat bermanfaat."

Tuan Taedong sekali lagi menghela nafas pelan, "Itulah kenapa dia sangat sensitif bahkan sampai melukaimu nak, perasaanya terluka dalam, kumohon maafkan dia," Tuan Taedong membungkuk sebagai permintaan maaf.

"Aku mengerti tuan," ucap Seonho masih dari pelukan Jihoon. Ia masih lemas.

Tiba-tiba terdengar suara barang pecah. Tuan Taedong membuang nafas keras lalu dengan sopan dia ijin pergi.

Hyungseob menatap dongsaengnya satu persatu bergantian, Seonho yang masih bertahan di pelukan Jihoon, Daehwi yang sesenggukan dan berusaha ditenangkan Samuel, Samuel? Ah sudahlah, masa bodo. Lalu Euiwoong yang kembali merebahkan kepala ke bantal dibantu Haknyeon. Ia mengeluh kepalanya pening lagi.

Astaga, semuanya berada dalam kondisi buruk. Hyungseob memijit pelan kepalanya, ia lelah.

"Sebaiknya setelah ini kalian semua istirahat," ucap Woojin sambil memijit pelan kepala Hyungseob. Ia agak kasihan juga melihat Hyungseob yang sepertinya sangat kelelahan.

Hungseob sempat terkejut, tapi masa bodo lah, kepalanya pusing.

"Hyung," ucap Seonho. Ia membuka mata sedikit agar bisa menatap Guanlin, "Terima kasih."

"Tentu, mana bisa aku melihatmu diperlakukan seperti tadi, istirahatlah."

TBC...

.

.

.

Hay readers, aku update lagi ini...

Yang penasaran, gimana ? gimana chap kali ini? Seruuuu?

Jangan lupa review ya...

_Salam Author_