Sungguh Woojin tak mengerti dengan sikap Seonho. Kenapa menampar Guanlin? Apa yang harus dijelaskan?
Guanlin tersenyum kecil, "Kau yang lebih berhak menjelaskan semuanya Seonho, kau yang muncul dengan pakaian ini, kau yang sudah menamparku, kau yang bisa menjelaskan semua kekacauan ini lebih gamblang."
Seonho menatap Guanlin dingin, tapi Guanlin tampak tak terganggu sama sekali. Sikapnya tetap tenang.
"Bisa kalian cepat, aku sudah penasaran setengah mati," ujar Haknyeon kesal.
"Si peneror itu, Jinyoung kan?" ujar Seonho sambil menatap Jinyoung dari bahu Guanlin.
Seketika semua orang menatap Jinyoung tak percaya, terlebih Woojin. Jinyoung? Bagaimana bisa? Tapi Jinyoung sama sekali tak membantah atau gugup. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
"Apa kau bertanya padaku?" tanya Guanlin masih dengan wajah tenang.
"Oh, maafkan karena aku menggunakan nada bertanya, harusnya aku bilang, si peneror itu adalah adikmu Guan hyung."
"Begitu? Alasan? Bukti? Kau memilikinya?"
"Pakaian ini..., diambil dari lemari kamarmu, di laci milikmu. Paman aneh, kita benar-benar bertemu lagi ya. Menghawatirkanku setelah malam kemarin?" Seonho menyeringai kecil.
Guanlin menatap Seonho datar dan itu membuat Seonho semakin percaya diri.
"Malam saat aku menghilang..."
$%^&*
.
.
.
Seonho menyingkapkan lengan baju milik laki-laki aneh itu, tubuhnya bergetar kecil dan wajahnya memucat, "Tanda ini..."Seonho menunjuk lengan bersih laki-laki itu, "Di lengan kirinya, aku melihatnya paman, tanda titik kecil itu ada di sana," ujar Seonho.
Laki-laki aneh itu mengerutkan kening, nampak tak mengerti dengan maksud ucapan Seonho.
"Aku tadi menyelidikinya, mereka pelakunya... pembunuh keluarga tuan Kim Seunjong, kedua pembantu rumah tangga itu..." Seonho bicara dengan nafas terengah sehingga ucapannya tak teratur, dia hanya mengucapkan apa yang ada di kepalanya. Cengkramannya pada lengan laki-laki itu semakin kuat.
"Mereka mengejarku...mereka melihatku," nada Seonho terdengar makin cemas. Tiba-tiba matanya membulat dan secepat kilat Seonho langsung berlari pergi.
"Tung..tunggu, kau mau kemana ?" Laki-laki itu tak mengerti dengan apa yang terjadi dan mencoba mengejar Seonho. Tapi Seonho berlari kencang hingga dalam beberapa saat ia sudah kehilangan jejaknya.
Laki-laki itu berhenti sebentar, menengok ke sana kemari tapi dia benar-benar tak mendapat petunjuk kemana Seonho menghilang. Bermacam-macam pertanyaan serabutan di otaknya, membekaskan sebuah tanda tanya besar. ADA APA DENGAN SEONHO?
Tanpa ia sadari dari jarak yang cukup jauh, di balik gelap bayangan rimbunan pepohonan, Seonho menatap laki-laki itu tajam, memperhatikan setiap gerak-geriknya. Ia bahkan hampir lupa berkedip karena terlalu serius. Sebuah pertanyaan besar meraung-raung di kepalanya, menuntut penjelasan. Sebelum otaknya mendapat asupan jawaban yang memuaskan, Seonho tak akan bisa tenang. "UNTUK APA GUANLIN MENYAMAR?"
$%^&*
.
.
.
"Sejujurnya aku belum tahu pasti kenapa kau melakukan penyamaran ini. Berpura-pura sebagai laki-laki pemabuk lalu memberiku semua informasi yang berkaitan dengan tragedi keluarga Kim. Kau melakukannya secara implisit, memancing rasa ingin tahuku untuk menyelidiki kasus itu lebih dalam," ujar Seonho datar.
Guanlin tak mengatakan apapun, tapi bibirnya sedikit melengkung ke atas seolah membenarkan ucapan Seonho.
"Itu berarti kau sudah tahu semua kebenaran dari kasus ini sejak awal kan hyung?" tanya Seonho dengan nada lebih serius.
"Kau yang lebih tahu Seonho," jawab Guanlin penuh teka-teki,"Sebaiknya jelaskan dari awal sampai akhir sesuai kronologi, singkirkan dulu identitas laki-laki aneh yang kau bicarakan itu," lanjutnya.
Guanlin dan Seonho saling bertatapan tajam, namun dengan aura yang berbeda, Seonho lebih dominan dingin, sementara Guanlin seolah sengaja membuat Seonho kesal.
"Semua kejadian ini, berawal dari rumah kosong itu. Keanehan pertama datang dari cahaya lilin di kamar Kim Eunsung. Lilin dinyalakan sekitar pukul sebelas sampai setengah satu dini hari. Orang yang malam itu kembali sekitar pukul satu malam adalah Jaehwan sunbae, tapi mungkinkah dia?"
"Lalu kejadian berikutnya teror kedua dimulai, sebelumnya Daehwi mendengar suara siulan yang indah, lalu tiba-tiba dia didorong di bibir jurang. Lagi-lagi kali ini Jaehwan sunbae juga memencar karena alasan pipis. Dari situ aku mulai berpikir yang tidak-tidak padanya. Sampai malamnya saat insiden darah dan pemukulan Euiwoong, aku masih berpikiran negatif padanya. "
" Pikiranku terlalu fokus pada Jaehwan sunbae sampai mengabaikan kemungkinan lain. Saat insiden Daehwi di dorong ke jurang, bukankah Samuel dan Jinyoung juga punya kesempatan melakukan hal itu? Tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan sebelum mereka ikut berkumpul dengan gengnya. Jika dilakukan dengan cepat, mereka punya cukup waktu untuk memakai kostum, mendorong Daehwi, lalu berkumpul lagi dengan gengnya seolah tak tahu apa-apa. Saat kau mengajakku bicara waktu itu, kau sengaja mengulur waktu untuk Jinyoung kan hyung? Kau juga mengatakan Jinyoung sedang mandi saat insiden darah itu untuk memberi Jinyoung alibi."
"Jika demikian bukankah jadi wajar juga kenapa Jaehwan sunbae bisa tertidur pulas saat kejadian geger malam itu? Esoknya, aku sempat bertanya pada Jaehwan sunbae apa dia makan atau minum sebelum tidur. Ya, dia memang minum teh dan berbicara denganmu sebentar saat akan kembali ke kamar. Itu kesempatan yang bagus untuk mencampur obat tidur ke teh nya. Saat terjadi kehebohan, Jinyoung juga datang paling terlambat, alasan mandi itu sungguh meyakinkan, bahkan bau wangimu seperti bau sabun."
"Sekarang semuanya jadi masuk akal, alasan kenapa Jaehwan sunbae terus menghilang setiap terjadi teror memang bukan kebetulan, tapi kau sengaja mengarahkan kecurigaanku padanya. Tapi kenapa? Kalian bahkan tak terlalu dekat, atau kau memang hanya bermain-main dan menjadikannya sebagai kambing hitam secara asal?"
"Dini hari, saat aku keluar penginapan untuk mencari udara segar dan bertemu si pria aneh, percakapanku dengannya seperti memberi setitik terang di pikiranku. Terutama masalah harta kekayaan tuan Kim Seunjong yang bernilai jutaan won, siapa yang memegang semua aset itu jika satu putranya telah meninggal dan satunya buronan ? Tuan Kim Taedong, dia yang memegang semua surat berharga itu, tapi anehnya tuan Taehyun yang katanya anak angkat, tak mendapat bagian apapun? Bukankah aneh. Aku jadi berpikir bisa saja tuan Taedong yang ternyata dalang dari tragedi kematian keluarga hyungnya 8 tahun yang lalu karena keserakahan."
"Tapi pria aneh itu hanya mengatakan tuan Taedong yang memegang semua surat berharga kekayaan, tapi nama pewaris di surat itu? Bisa saja di sana ada nama tuan Taehyun dan karena kondisinya maka tuan Taedonglah yang memegang suratnya. Tidak ada yang tahu pasti mengenai harta warisan yang ditinggalkan, hanya keluarga dan pengacara pribadi tuan Kim Seunjong yang tahu jelasnya, dan tak ada seorang pun yang mengungkapkan ke publik. Jadi aku perlu memastikan yang sebenarnya."
"Sengaja ku ajak tuan Taehyun membongkar koran di gudang sementara Daehwi masuk ke kamar tuan Taedong, mencari surat-surat berharga yang di simpan. Dia bergegas mefoto surat-surat itu setelah berhasil menemukannya dan melihat nama yang mengejutkan di separo total surat. Separo jumlah surat beratasnamakan Kim Hyujong, sementara separo lainnya atas nama Kim Eunsung. Pertanyaanya siapa Kim Hyujong itu? Namanya terdengar sangat asing."
"Aku lalu menyuruh Euiwoong untuk mencari data pribadi keluarga Kim Seunjong sementara aku memikirkan kemungkinan sementara siapa Kim Hyujong ini. Aku mengechek koran-koran lama mengenai kasus 8 tahun lalu yang kuambil diam-diam dari gudang. Ada artikel yang membahas mengenai Kim Jaesung sebagai direktur utama KIM Corp. di Seoul, disitu juga disebutkan bahwa tuan Kim Seunjong telah menyerahkan sepenuhnya perusahaan itu padanya. Kim Corp. Adalah aset utama keluarga, tapi kekayaan tuan Kim Seunjong di luar aset perusahaan masih banyak dan masih menjadi miliknya. Dari surat-surat yang ada di kamar tuan Taedong, ternyata aset-aset itu pada akhirnya dia wariskan pada putra keduanya, Kim Eunsung. Dia membuat surat wasiat beberapa saat setelah menyerahkan perusahaannya ke tuan Jaesung."
"Jika demikian, maka secara logika, karena separuh kekayaan sudah menjadi milik tuan Jaesung, maka bagiannya harusnya jatuh ke anaknya, tapi anaknya sudah meninggal dengan istrinya dalam tragedi itu. Jadi siapa Kim Hyujong ini? kenapa surat warisnya disimpan tuan Taedong? Awalnya kupikir Kim Hyujong ini adalah tuan Taehyun, tapi setelah mempertimbangkan fakta lain rasanya tidak mungkin."
"Fakta pertama, karakternya memiliki kemiripan dengan Kim Eunsung, di saat yang lain tampak seperti orang tak punya semangat hidup, tapi saat mencengkramku, dia seperti orang kesetanan. Setelah pergi dari kamar, dia melampiaskan kemarahannya dengan memecahkan barang. Meski tuan Taedong mengatakan bahwa dia putra angkat yang mengalami depresi, justru bagiku hal itu terasa aneh. Perubahan yang cukup drastis, lingkaran hitam di sekitar mata, dan tangan yang gemetaran setiap waktu. Tremor itu? Bagaimana kalau disebabkan oleh obat?"
"Orang bilang, kamar adalah tempat menyembunyikan rahasia yang paling umum, Setelah kamar mandi Daehwi selesai diperbaiki, dan tuan Taehyun ganti sibuk dengan kamar mandi Euiwoong, kusuruh Daehwi memeriksa kamar tuan Taehyun, dia yang paling ahli dalam hal semacam itu dan hasilnya tak mengecewakan, dia berhasil mendapatkan sesuatu."
Seonho mengeluarkan sebungkus plastik dari sakunya,"Lithium karbonat, obat ini biasa dipakai oleh penderita bipolar untuk menangani kecemasan. Bisa dibilang, mood stabillizers. Salah satu efeknya yang paling terlihat adalah tremor. Meskipun tremor tidak selalu disebabkan karena obat, tapi penderita bipolar juga memiliki kecendurungan imsonia, entah karena terlalu bersemangat ataupun karena terlalu cemas. Kantung mata dan lingkaran hitam yang tampak jelas itu, bukti bahwa dia penderita imsonia yang cukup berat."
"Tragedi 8 tahun yang lalu pasti membuat mentalnya hancur. Bagi penderita bipolar, tekanan kesedihan yang mereka rasakan berkali lipat lebih sulit dikendalikan dari pada orang normal yang mengalami kesedihan yang sama. Bahkan pada masa depresi, penderitanya seringkali timbul keinginan bunuh diri atau menyakiti diri sendiri. Luar biasa tuan Taehyun masih bisa melewati fase itu dengan selamat sampai sekarang. Bekas-bekas luka di balik bajunya, yang kulihat saat ia menyingkap ujung lengan baju saat memperbaiki kran air, menunjukkan seringnya dia menyakiti diri sendiri. Melihat fakta itu tuan Taehyun pasti juga pernah melakukan percobaan bunuh diri. Tapi tuan Taedong berhasil merawatnya dengan sangat baik dan bertindak sebagai ayah untuknya di masa-masa sulit itu. Anda luar biasa tuan," ujar Seonho sambil menatap tuan Taedong penuh simpati.
"Kepastian identitas tuan Taehyun sebagai Kim Eunsung sudah di dapat, kalau begitu tinggal Kim Hyujong. Siapa dia? Setelah mencari-cari, akhirnya Euiwoong berhasil menemukan informasi berharga. Ternyata tuan Jaesung sebenarnya memiliki putra kembar, tapi saat kejadian itu hanya satu putranya yang ikut ke Ulleungdo. Putra yang satunya berada di rumah sakit, sejak kecil ia memang sakit jantung dan terbiasa dirawat di rumah sakit. Kusimpulkan Kim Hyujong ini adalah si kembar yang masih hidup."
"Rencana keluarga Kim Jaesung hanya pergi satu hari, namun malah terjadi hal buruk pada mereka. Tapi anehnya dalam koran-koran yang heboh memberitakan kasus pembunuhan keluarga Kim, tak ada seorang pun yang membahas nasib si kembaran yang sakit. Kemungkinan hal itu karena memang keberadaan si kembaran ini tak diketahui banyak orang. Menghabiskan banyak waktu di rumah sakit pasti membuat hidup seorang anak seperti terisolisasi. "
"Tapi tanpa perlindungan seseorang, keberadaanya akan segera tercium media massa, sebagai paman, anda pasti berusaha keras menyembunyikannya dari awak media kan tuan Taedong? Berusaha melindunginya? Kabar kematian keluargannya sudah membuat kondisinya buruk, mana mungkin anda membiarkan keponakan anda lebih menderita lagi karena serbuan wartawan," Seonho berucap dengan nada respek yang sungguh-sungguh.
"Dengan begini jelas, dugaan soal keserakahan tuan Taedong itu salah, jika itu soal harta, harusnya dia juga bunuh sekalian Kim Hyujong dan membiarkan Eunsung melakukan bunuh diri. Dengan begitu dia bisa menguasai semua harta itu."
"Tapi yang mengganggu benakku lagi adalah, kemana sekarang Kim Hyujong ini? kalau dihitung usianya sekarang mungkin 17 tahun, masih SMA. Satu fakta sederhana ini tiba-tiba saja menamparku. Dengan penyakit jantungnya, Dia pasti mendapat perlakuan khusus di sekolah. Dan aku tiba-tiba teringat dengan ucapan Euiwoong soal kabar bahwa Jaehwan Sunbae pernah pindah ke Amerika saat SMP untuk berobat.
"Euiwoong berhasil mengcontact temannya yang dulu pernah satu SMP dengan Jaehwan saat kelas satu. Temannya bilang, dulu Jaehwan Sunbae tak pernah ikut pelajaran olahraga dan terkesan diam. Guru hanya mengatakan Jaehwan sunbae sakit, tapi tak pernah menjelaskan apa penyakitnya. Saat kelas dua dia pindah ke Amerika. Tak pernah ikut olahraga? Penyakitnya pasti berat. Aku langsung memikirkan kemungkinan dia mengidap penyakit jantung. Tapi kalau begitu, bukankah kondisi mereka mirip sekali dengan Kim Hyujong?"
"Aku jadi berpikir, alasan kenapa semua kecurigaan ini kau arahkan ke Jaehwan sunbae, bukan karena alasan kambing hitam, tapi agar aku semakin tertarik dengannya, semakin aku tertarik dan curiga, semakin banyak aku mencari tahu, dan semakin aku mencari tahu, semakin aku menemukan fakta-fakta baru. Melihat keadaan sekarang, kondisi Jaehwan sunbae sangat berbeda. Dia sehat, bisa berlari cepat, seorang yang aktif dan banyak bicara. Jika aku tak curiga padanya, mungkin aku tak akan sampai berpikir sejauh ini. Mungkin aku tak akan sampai pada kesimpulan bahwa Jaehwan sunbae sebenarnya adalah Kim Hyujong."
Semua orang terpana, terutama tuan Taedong dan Taehyun. "Apa kau bilang tadi?" tuan Taedong mencoba memastikan.
Seonho menatap ke arah Jaehwan yang terdiam dengan wajah datar. "Tuan Taedong tak tahu identitasmu sunbae, kenapa menyembunyikannya?"
Jaehwan terdiam, mata dinginnya menatap tuan Taedong tanpa minat,"Karena kupikir dia melindungi seorang pembunuh."
Mata tuan Taedong melebar terkejut. Jadi Jaehwan sungguh-sungguh keponakannya?
"Kemana saja kau selama ini Hyujong? Aku mencarimu kemana-mana sejak kau kabur dari rumah sakit," ujarnya dengan emosi tertahan.
"Aku mendengarmu memanggil orang yang kau telfon dengan nama Eunsung, kau menyembunyikannya paman, kau menyembunyikan pembunuh keluargaku, bagaimana aku masih bisa menganggapmu paman? Tentu saja aku pergi diam-diam saat perawat bayaranmu ke kamar mandi. Kuambil uang di dompetnya dan pergi kabur ke rumah nenek di Jellayo. Kusuruh nenek untuk menyembunyikanku dan berpura-pura khawatir saat kau menanyakan keberadaanku."
"Saat SMP kelas dua, nenek mengirimku ke Amerika pada putri temannya untuk operasi jantung. Operasi itu akhirnya berjalan baik dan hidupku tidak lagi bergantung pada rumah sakit. Aku bebas dan kembali ke korea saat SMA. Meski jantung ini terasa baru, tapi luka di sini,"Jaehwan menyentuh dada kirinya, "Luka di sini tak bisa ikut hilang," nada suaranya bergetar kecil menahan emosi yang tiba-tiba membuncah.
"Liburan kali ini aku memilih pergi ke Ulleungdo dengan sengaja, aku ingin melihatmu, aku ingin melihat bagaimana kau melindungi pembunuh itu. Selama di sini aku bertanya-tanya dimana kau menyembunyikan Eunsung atau siapa identitas Eunsung yang baru. Tapi sungguh aku tak menyangka orang itu adalah Taehyun. Jika aku mendengar ceritamu soal anak angkat kakek aku pasti langsung tahu bahwa Taehyun adalah Eunsung. Tapi sayangnya aku dibuat tidur oleh seseorang hingga melewatkan bagian penting itu."
"Kau tahu aku bukan pembunuh Hyujong, kau tahu itu sekarang," ujar Taehyun lirih.
"Ya, sekarang aku tahu, tapi kebencianku 8 tahun ini tak bisa hilang begitu saja," ujar Jaehwan dingin. "Tapi aku juga tahu kau menderita terlalu banyak, kaulah yang paling menderita dalam hal ini paman," lanjutnya sambil menatap Taehyun dengan tatapan simpati.
"Tapi bagaimana kau tahu Donghyuk pelakunya Seonho?"tanya Tuan Taedong.
"Kenyataan bahwa brankas yang dalam keadaan baik-baik saja menunjukkan bahwa pelaku perampokana adalah orang yang juga biasa di rumah itu. Melihat bahwa tuan Taedong mau menyembunyikan Eunsung, pasti dia punya alasan kuat untuk itu. Alasan pertama , karena dia tak bersalah, alasan kedua karena Eunsung adalah keluarganya.
"Aku membayangkan dalam imajinasiku, bahwa alasan pertamalah yang benar. Lalu aku melihat seorang pelayan yang menjadi kaya setelah tuannya dirampok. Mobil mahal yang mereka tumpangi saat berkunjung kemarin itu sangat mahal. Dari mana mereka bisa sesukses itu? Ternyata bisnis mereka dibantu oleh tuan Taedong dengan modal yang kata mereka dari warisan neneknya di gangwoon-do. Sungguhkah demikian? Maka kusuruh Euiwoong untuk mencari informasi itu. Setelah dilacak, keluarga mereka sebenarnya kalangan biasa saja. Bahkan cenderung di garis ekonomi bawah. Lalu warisan mana yang mereka maksud?"
"Malam saat kejadian perampokan itu, seseorang memukul kepalaku dari belakang. Waktu aku sadar aku melihat semua orang sudah mati, aku kacau dan langsung berlari ke penginapan paman. Aku menceritakan semuanya padanya dengan kalut. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan selain memohon padanya untuk menyembunyikanku," ujar tuan Taehyun sambil meninju tiang kayu di sebelahnya. Tak peduli tangannya memerah sakit.
"Dan soal Guanlin?"tanya Woojin. Rasa penasaran terbesarnya belum terjawab sejak tadi.
"Tuan Taedong dan istri tuan Donghyuk mengatakan tak ada orang seaneh yang kudiskripsikan di sekitar sini. Lagi pula jika memang ada orang aneh seperti itu sejak dulu di sini pasti sudah masuk koran lokal, orang aneh itu sendiri yang bilang hal sekecil apapun bahkan hal tak penting bisa langsung masuk koran lokal di pulau ini," jawab Seonho sambil menatap Guanlin tajam.
"Tapi kenapa orang itu muncul saat rombonganku datang? Mungkinkah laki-laki aneh itu sebenarnya salah satu dari rombongan sekolahku? Aku mulai curiga dan teringat pada sunbae klub yang sangat pandai berakting. Untuk memastikannya, aku dan Euiwoong sengaja menghilang dan Daehwi memanfaatkan kesempatan saat semua orang mencari kami untuk menggeledah tas mereka berdua. Seperti dugaanku, pakaian kumal ini ditemukan di tas Guanlin hyung. Sungguh aku tak menyangka kalian mempermainkan kami dengan cara seperti itu, jadi kami ganti mempermainkan kalian."
Guanlin tersenyum tipis, "Teori yang hebat Seonho."
"Caramu mempermainkan kami, aku tak bisa terima itu hyung," jawab Seonho dingin.
"Bukankah seru?"
Sejak tadi Euiwoong meremat tangan saking kesalnya, "SERU KAU BILANG? ADIKMU ITU MEMUKULKU."
BUGGHHHH !
Satu tinju keras mengenai pipi Guanlin hingga ia terhuyung ke belakang. Semua orang terkejut, tapi Euiwoong yang paling terkejut. Tangannya sudah hampir melayang ke wajah Guanlin, tapi seseorang mendahuluinya dengan amarah berapi-api.
"Kau brengsek Guan," ujar Haknyeon dengan amarah tertahan.
Guanlin menyentuh pipinya, lalu tersenyum tipis, "Sudah kubilang akan kupastikan kau memukul pelakunya kan."
Haknyeon semakin mengeratkan tinjunya dan hampir melayangkan tinju itu lagi jika Woojin tak menahan tangannya.
"Kau bisa melukainya Yeon."
"Dia mempermainkan kita seperti orang bodoh dan kau masih membelanya?"
"Aku tak membelanya, tapi bukan berarti aku membiarkanmu memukulnya."
"Kau membiarkan dirimu sendiri memukulku setiap kali aku berbuat ulah tapi tak ingin aku memukulnya saat dia mempermainkan kita seperti orang bodoh? Begitu?" tanya Haknyeon geram.
"Dengarkan aku..."
"Jadi begini caramu menjadi hyung?" Haknyeon berdecih pelan,sembari menatap sinis.
"Kubilang dengarkan Yeon..."
"Cih,...kau bahkan masih menyuruhku mendengarkanmu?"
"KUBILANG DENGARKAN !" bersamaan dengan teriakannya yang menggelegar, tangannya menampar pipi Guanlin dan Jinyoung bergantian.
Haknyeon sempat terpana dengan perbuatan Woojin. Woojin menampar mereka berdua? Dia benar-benar melakukannya?
"Kubilang dengarkan aku, aku tak akan membiarkanmu memukulnya. Aku yang harusnya melakukan itu ! AKU YANG HARUSNYA MEMUKULNYA KARENA AKU YANG PALING MERASA DIBODOHI DI SINI ! PUAS KAU?" teriak Woojin dengan nafas naik turun karena emosi.
Euiwoong menatap drama keluarga di depannya dengan perasaan bingung, jujur ia tak berekspektasi reaksi Woojin akan sampai seperti ini.
"Masih beranggapan semua ini seru?" tanya Seonho dengan wajah datarnya.
Guanlin mengangkat wajahnya, tapi dia sama sekali tak nampak tertekan dengan situasi ini. Dia tetap Guanlin yang tenang seolah tak melakukan kesalahan apapun. Guanlin membantu Jinyoung berdiri lalu menyentuh pipi kanan adiknya itu.
"Woojin menampar dengan serius, pasti sakit sekali, maafkan aku," ujarnya. Tapi Jinyoung tak menanggapi dan tetap diam tanpa ekspresi. Kadang Seonho sempat berpikir Jinyoung itu hampir tak ada bedanya dengan robot.
"Jadi, kurasa semua masalah sudah selesai, Aku akan menelepon polisi untuk menangkap Donghyuk dan istrinya, kalian semua bubarlah. Setengah jam lagi datanglah ke ruang santai dan kita minum teh bersama. Semua kekacauan ini pasti sangat memusingkan, aku akan menyiapkan semuanya," kata tuan Taedong. Matanya lalu mengarah pada Jaehwan sunbae yang masih berdiri membatu.
"Tolong bantu aku menyiapkan semuanya Jae," usai mengatakannya, tuan Taedong langsung masuk ke dalam.
Jaehwan terdiam beberapa saat, sepintas nampak ragu, tapi kemudian tanpa mengatakan apapun dia berjalan ikut masuk ke dalam menyusul tuan Taedong.
"Sepertinya semuanya berakhir baik," ujar Hyungseob.
Jihoon menghela nafas lega. Semua misteri ini akhirnya berhasil pada ujung penyelesaian. Ia menatap Jinyoung yang masih berdiri kaku di samping Guanlin. Bagaimana bisa anak itu terlibat dalam hal seperti ini? apa karena paksaan Guanlin? Entahlah, Jinyoung terlalu sukar dipahami. Memahami sisi luarnya saja rasanya sudah berhadapan dengan ujian sastra, serba abstrak.
"Untuk apa kau melakukan rencana gila ini hyung?" tanya Seonho.
Guanlin menatap Seonho yang ternyata berjalan ke arahnya, "Menurutmu?"
"Kau jelas-jelas sudah tahu dari awal kebenaran kasus keluarga Seunjong, lalu kenapa tidak kau ungkap sendiri ke publik."
"Salah besar kalau kau menganggap aku sudah tahu kebenarannya dari awal. Aku hanya tahu fakta-fakta mencurigakan tentang kasus kim. Selama aku memancingmu dengan petunjuk-petunjuk yang kutahu, aku juga mencari jawabannya sendiri Seonho."
"Tapi kau tetap tahu kebenarannya lebih dulu dari aku kan."
Guanlin menggeleng kecil, "Kita punya kesimpulan yang berbeda mengenai hasil akhirnya. Kupikir tuan Taedong bekerja sama dengan kedua pembantunya itu untuk melenyapkan hyungnya, tapi ternyata dugaanku meleset."
"Dugaanku tentang suatu hal juga meleset hyung."
"Soal?"
"Kupikir kau dan Jinyoung yang paling tak suka membuat masalah, nyatanya kalian bahkan lebih berbahaya." Tatapan Seonho mengarah persis ke bola mata Guanlin.
Sudut bibir kanan Guanlin sedikit tertarik ke atas, meski sedikit Seonho tahu Guanlin sedang mengejeknya, "Jangan melihatku sebperti monster yang harus dienyahkan Seonho."
"Mungkin saja kan di dalam dirimu kau memang monster,"jawab Seonho dingin namun penuh kejujuran. Setelah melayangkan tatapan sinis sekilas Seonho berbalik dan masuk ke penginapan.
"Tunggu ho...," seru Euiwoong dan langsung mengikuti Seonho masuk.
"Kau benar-benar membuatku pusing Guan," ujar Woojin.
Guanlin menoleh, "Terima saja sakit kepalamu itu dan diamlah, kalau kau terus mengomel kepalamu itu akan tambah sakit kan."
"KAU... Arrgghhhhh..." Haknyeon mengacak rambutnya kesal, dia sangat ingin memukul Guanlin tapi Woojin pasti tak akan mengijinkannya.
"Kau sudah mengambil jatah memukulmu Haknyeon hyung, tidak ada jatah memukul lagi," ujar Guanlin dengan aura mengintimidasi.
Ditatap seperti itu, mata Haknyeon sekilas berkilat merah, emosinya kembali memuncak. Kedua tangannya menggengam erat mengumpulkan kekuatan. Merasakan aura yang semakin tak enak antara Guanlin dan Haknyeon, Woojin langsung berusaha menengahi. Pertengkaran Woojin dan Haknyeon mungkin hal yang biasa, tapi antara Haknyeon dan Guanlin bukanlah hal yang lumrah terjadi. Jujur Woojin agak cemas.
Sebelum tinju Haknyeon terangkat, Woojin langsung menggengam tangan itu dan berujar, "Kalian berdua sudahlah, bubar sekarang !"perintah Woojin.
Guanlin langsung membungkuk sedikit pada Woojin sebagai tanda pamit, lalu masuk ke dalam penginapan.
Haknyeon membuang nafas keras, menyalurkan kekesalannya. "Kadang aku sangat kesal dengan sikapnya, yang seperti bos, tatapan apa itu tadi? Dia mengintimidasiku? Cih," Haknyeon berdecih.
"Kau tahu benar keluarga Lai memang seperti itu. Kau sendiri juga jangan terpancing emosi. Kau lebih tua darinya."
Haknyeon menatap Woojin kesal, "Hanya beberapa bulan, ingat itu," dengan sedikit menghentak Haknyeon langsung berjalan pergi, melewati pagar penginapan, dan berbelok ke kanan. Entah mau kemana dia.
Woojin menghela nafas keras.
"Menjadi keluarga park itu susah ya hyung," kata Samuel sambil menepuk bahu Woojin.
"Sejauh ini aku bisa mengatasi kalian semua," jawab Woojin. Ya sejauh ini," lanjutnya lemas.
"Semangat lah hyung, kau itu hyung terbaik," hibur Samuel dengan sedikit terkekeh.
"Kau mengejekku? Woojin tersenyum kecil. "Keluarga Kim memang orang yang menyenangkan, pantas saja kau bisa membuat Daehwi merasa nyaman dengan mudah."
"Karena aku seorang Kim," jawab Samuel dengan cengiran lebar.
TBC...
.
.
.
Hay readers, APA INI? WKWKWKWK ...
bagiamana? Jadi kasusnya sudah terpecahkan. Gimana pendapat kalian?
Nantikan next-next kasus ya...
Soal keluarga-keluarga mereka, ya nanti deh dijelasin di saat yang tepat.
Momen-momennya kurang? Oke, memang. Tidak perlu dipertanyakan.
Untuk next kasus (bukan next chap), butuh saran dari kalian. Sedikit curhat, author akhir2 ini lagi kesengsem sama markjin got7, tp author juga suka dongpaca.
Untuk next kasus kira2 pakek markjin atau dongpaca untuk jadi bagian cast? Silahkan kasih saran ya.
Jangan lupa Vomment ya
_Salam Author_
