'
'
'
Woojin membuka pintu perlahan, kepalanya melongok ke dalam dan menemukan Guanlin duduk diam di kursi kayu. Di tempat tidur, Jinyoung menselonjorkan kakinya sambil membaca buku tebal seukuran A5.
Woojin menutup pintu lalu mendekat ke kursi kayu, "Besok kita akan kembali ke Seoul, kau mau mendekam di kamar saja?"
Guanlin menoleh sekilas lalu kembali menatap hiasan dinding, "Pergilah ke ruang santai, semua orang menunggumu."
"Kau dan Jinyoung juga ditunggu."
Guanlin memejamkan matanya, "Pergilah."
"Kau tak akan mendengarkanku?"
"Aku selalu mendengarkanmu hyung," jawabnya masih dengan memejamkan mata.
"Kalau begitu ikutlah."
Guanlin membuka matanya dan menatap Woojin jengah, "Pergilah."
"Kau tak ingin berbicara baik-baik dengan Haknyeon ? kau tak ingin berdamai? Dia sangat marah."
"Karena aku hampir mencelakai Euiwoong?"
Woojin mengerutkan kening, "Maksudmu?"
"Kau tak melihat matanya? Sinar mata itu..., " Guanlin menatap Woojin lekat-lekat.
Woojin menghela nafas pelan, "Aku tak ingin memikirkan itu sekarang."
"Kau tak bisa mengabaikan itu suatu hari nanti hyung."
"Sudahlah Guan, aku hanya tak ingin kalian seperti ini," Woojin menghentikan kalimatnya sebentar, "Sejujurnya aku juga masih sangat penasaran kenapa kau melakukan semua ini?"
Guanlin membuka matanya perlahan, jari-jarinya yang panjang mencengkram pegangan kursi lebih erat, "Bermain-main," jawabnya tanpa beban, "Kalau kupikir-kupikir bisa juga untuk referensi ide naskah pementasan festival musim panas."
"Kau serius?"
Guanlin menoleh, menatap Woojin yakin, "Kau mencuri soal ujian untuk bermain-main juga kan hyung, jadi aku bermain-main dengan caraku sendiri."
"Secara tak langsung kau berkompetisi dengan Seonho untuk memecahkan kasus ini? kau sendiri yang bilang meski memberinya petunjuk tapi di saat bersamaan kau juga mencari kebenarannya."
Guanlin hanya menjawabnya dengan tersenyum kecil.
Woojin menoleh ke Jinyoung yang masih setia dengan buku bacaanya, "Dan kenapa Jinyoung mau terlibat? Kau memaksanya?"
Jinyoung mengangkat wajahnya, menaruh bukunya di paha, dan berujar dingin, "Aku hanya ingin tahu sejauh mana mereka bisa menggunakan otak mereka."
Woojin menatap Jinyoung dan Guanlin bergantian, kemudian dengan cepat ia menggelengkan kepala, "Aku tak tahu kalian bisa sekompak ini."
"Dia adik kandungku, wajar kan kalau pemikiran kami sama," ujar Guanlin santai.
Baru saja Woojin akan menjawab, seseorang membuka pintu dengan kasar, "Hyungseob mencarimu, dia sedang di ruang santai dengan yang lain,"ujar Haknyeon datar. Tangannya masih memegang kenop pintu.
Tanpa sengaja Guanlin bersitatap dengan Haknyeon. Sinar mata Haknyeon begitu dingin dan Guanlin membalas dengan sama dinginnya. Aura permusuhan diantara keduanya terasa semakin suram. Saling tatap itu tak berlangsung lama, dan Haknyeon lah yang pertama kali memutus tatapan,"Cepat pergilah dari sini jin, bicara dengan batu hanya membuang-buang waktu,"Haknyeon menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan suara berdebum.
Sekali lagi Woojin membuang nafas keras, "Aku akan pergi, kau menyusullah." Woojin berjalan pergi setelah menepuk-nepuk bahu Guanlin. Ketika dia membuka pintu, ia sedikit tersentak karena ternyata Samuel berdiri di depan pintu.
"Aku baru saja akan mengetuk," ucapnya dengan cengiran lebar.
"Guanlin dan Jinyoung di dalam jika kau ingin bicara dengannya."
"Sebenarnya aku ingin bicara dengan hyung."
Woojin mengangguk mengerti, lalu dengan isyarat dagu ia menyuruh Samuel pergi ke tempat lain dengannya. Pada akhirnya mereka berhenti di teras belakang dan duduk menghadap kebun sayur.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Soal Haknyeon dan Guanlin hyung."
Woojin sudah menduga hal ini, "Apa pendapatmu?"
"Apa hyung marah dengan Guanlin hyung?"
"Siapa yang tak merasa kesal dibodohi seperti itu, Hyungseob bahkan sampai menghajarku dan sejujurnya permainanya itu memang keterlaluan, dia sampai melukai Daehwi dan Euiwoong."
"Ya, tindakannya memang agak keterlaluan, tapi sejujurnya, aku tak pernah melihat Haknyeon hyung semarah ini setelah peristiwa 300 tahun yang lalu."
Woojin menahan nafas mengingat lagi peristiwa yang dibicarakan Samuel. Peristiwa yang mengubah seluruh hidup mereka. Menjadikan mereka mahkluk yang berbeda.
"Mungkinkah perselisihan keluarga mereka di masa lalu juga memicu kemarahannya jadi lebih besar?"
"Aku tak yakin soal itu, meski keluarga mereka berselisih tapi Guanlin dan Haknyeon punya pandangan berbeda dengan keluarganya sejak awal, buktinya kita dulu selalu main bersama kan. Bahkan Haknyeon yang mengajak Guanlin bergabung dengan kita bertiga lebih dulu. Kurasa pertengkaran kali ini lebih karena karakteristik mereka, kau tahu kan keluarga Lai terkenal agak angkuh, dan sangat menjunjung tinggi kelas bangsawan mereka, sementara keluarga Joo yang satu-satunya kelas kesatria, terkenal suka memberontak dan pengabdi yang setia."
"Lalu?"
"Dua keluarga ini keluarga yang paling keras kepala dan berharga diri tinggi, ayah Guanlin dan Haknyeon jelas-jelas saling membenci, mungkin kepala keluarga Lai tak begitu menunjukkan sikap anti-nya karena keluarga mereka memang politisi yang terkenal punya banyak muka, tapi ayah Haknyeon tipikal yang bertolak belakang, dia tipikal yang berapi-api, dan sangat terus terang saat menunjukkan ketidaksetujuannya dengan pendapat kepala keluarga Lai. Ayahku sampai harus berusaha extra untuk mendamaikan mereka."
"Sejujurnya aku masih kurang begitu paham dengan sistem keluarga yang ada waktu itu," kata Samuel, "Sejak kecil aku besar di keluarga ibu, rumah kami lokasinya terpisah dari kompleks rumah-rumah bangsawan, jadi aku jarang berinteraksi dengan keluarga lain sebelum pindah ke rumah Haknyeon hyung. Ibu tak pernah menjelaskan secara detail dan aku hanya tahu sedikit mengenai para keluarga saat berinteraksi dengan anak-anak bangsawan lain di sekolah. Setelah pindah ke rumah keluarga Joo pun, setiap akhir pekan ibu selalu mengajakku mengunjungi nenek & kakek di rumah lama, jadi aku kurang familiar dengan lingkungan keluarga ayah."
Woojin mengangguk mengerti, memang Samuel merupakan pendatang baru di keluarga Joo. Ibunya menikah dengan ayah Haknyeon saat usianya sudah 11 tahun, tapi setiap akhir pekan Samuel pergi ke keluarga ibunya, keluarga Kim.
"Kau pasti tahu kan di wilayah kita dulu ada banyak keluarga yang berkuasa, namun semua keluarga itu dipimpin keluarga Lee, ibarat negara bisa dibilang keluarga Lee itu adalah keluarga presiden. Mereka berada di kasta tertinggi, sementara itu dibawahnya ada kasta bangsawan, kasta ksatria, dan kasta rakyat biasa. Sebenarnya ada lebih dari 5 keluarga bangsawan, tapi keluarga bangsawan yang paling mendominasi di masa itu ada keluarga Lai, Park, dan Kim. Kasta bangsawan dan Ksatria berada di level yang sama, dan keluarga Joo adalah satu-satunya keluarga dari kasta ksatria."
"Kasta Ksatria di sini memiliki semacam keistimewaan, kasta ini memimpin masalah pertahanan wilayah. Berbeda dengan kasta bangsawan yang berfokus pada masalah politik dan perdagangan. Di bidang politik sendiri, meski selalu ada forum diskusi dalam setiap pengambilan keputusan, tapi keluarga Lai memang yang paling ahli dalam bidang ini. Mereka cerdas, diplomat yang hebat, dan pembangun strategi yang handal. Sementara keluargaku lebih berfokus pada urusan pembangunan wilayah," ujar Woojin menjelaskan panjang lebar.
"Aku ingat, ayahku sering bilang, mengawasi semua pekerja dan membuat rancangan pembagunan itu sulit, para pekerja itu punya masalah pribadi yang seringkali terbawa saat bekerja, ayahku bahkan sering menjadi tempat konseling mereka di luar jam kerja. Mungkin asal mula munculnya profesi konseling di masa sekarang karena ayahku dulu," ujar Woojin dengan nada bercanda.
"Bukankah keluarga hyung juga mengurus pendidikan seluruh anak-anak bangsawan?"
Woojin mengangguk, "Ayahku juga mengurus pendidikan anak-anak bangsawan, awalnya itu masuk tugas keluarga Lee, tapi tuan Lee kemudian memasrahkan tanggung jawab itu pada keluargaku."
"Tuan Park dan tuan Lee memang kelihatan dekat, aku tak heran sih," ujar Samuel.
Woojin mengedikkan bahu, "Aku tak tahu kenapa, tapi memang sejak dulu keturunan kakek terkenal dengan sikap bijaknya. Kau bisa mengecualikan itu untuk aku."
Samuel tersenyum kecil mendengar ungkapan Woojin, Jelas-jelas Woojin mewarisi sifat yang sama dengan ayah dan kakeknya, kenapa harus dikecualikan?
"Aku juga jadi ingat, waktu masih hidup ayah sering sekali pulang sambil membawa setumpuk kertas dan buku. Saat kutanya kertas apa itu, dia hanya menjawab, 'Ini hanya kertas-kertas yang akan membuatmu pusing'."
Woojn terkekeh kecil, "Tentu saja pusing, aku yakin itu buku-buku keuangan, keluargamu itu sangat kaya Sam, bahkan yang terkaya di antara para bangsawan. Kau tahu, ayahmu menyuplai barang di setiap pasar hampir sebanyak 50%."
Samuel menggaruk-nggaruk kepalanya, merasa agak aneh dengan kalimat Woojin, dia sama sekali tak berpikir begitu.
Woojin meletakkan tangan kanannya di bahu Samuel sambil tersenyum tipis, "Keluargamu, adalah keluarga yang menyenangkan, kalian punya pemikiran yang terbuka, santai, dan mudah diajak negosiasi. Saat ayahmu masih hidup, jika ayahku bertengkar dengan sahabatnya, tuan Joo, dia pasti akan pergi ke rumahmu dan minum teh dengan tuan Kim."
"Kebiasaan mereka bahkan menurun juga pada kita," ucap Samuel dan hanya diangguki oleh Woojin.
"Bagaimana rasanya saat pertama kali menjadi bagian keluarga Joo? Apa berat?"
Samuel menggeleng, "Tuan Joo orang baik, dia benar-benar pria bertanggung jawab dan Haknyeon hyung juga menerimaku. Meski awalnya Haknyeon hyung tampak menjaga jarak, tapi lama-lama dia semakin mengakrabkan diri, dia hyung yang sangat menyenangkan."
"Kau tahu, Haknyeon sempat cerita padaku, dia tak suka denganmu, sangat benci ibumu, dia tak ingin ada orang baru masuk dalam hidup keluarganya, itu perasaan biasa yang dimiliki anak-anak setelah kehilangan salah satu orang tua, tapi dia ingat tanggung jawabnya sebagai kakak, karena itu Haknyeon berusaha bersikap baik denganmu."
Samuel mengerjap-ngerjap bingung, "Kupikir dia menerimaku dari awal," ucapnya terkejut. Sungguh dia tak tahu mengenai hal itu.
"Awalnya mungkin hanya karena tanggung jawab dan rasa hormat pada ayahnya, tapi lama-lama dia bisa menerimamu sepenuhnya. Haknyeon kehilangan ibunya saat usia 10 tahun, di usia yang hampir sama denganmu saat kehilangan ayah, perasaan itu yang membuat koneksi diantara kalian lebih kuat. Pada akhirnya setelah lama tak berbicara pribadi dengannya, di suatu sore dia mengatakan dengan cengiran khas, "Rasanya sekarang aku benar-benar ingin melindunginya, dia sering berbuat ceroboh."
Samuel tersenyum lebar, ia sangat senang mendengarnya. Dalam hati ia bersyukur karena ibunya memilih tuan Joo sebagai pengganti ayahnya dulu.
"Guanlin dan Jinyoung..., aku menyukai mereka sejak pertemuan pertama di rumah keluarga Lai, meski pendiam tapi mereka cukup ramah. Sebenarnya banyak keluarga lain yang kurang menyukai sikap keluarganya, Guanlin memahami hal itu, karena itu dia bersikap sedikit berbeda dari ayahnya. Dia lebih berpikiran terbuka dan bahkan mau meminta maaf. Kau tahu..., kata maaf itu sebenarnya hampir anti keluar dari mulut keluarganya. Harga diri mereka terlalu tinggi. Paling ayahnya hanya pernah mengucap kata maaf pada tuan Lee," ucap Woojin mengingat-ingat perjumpaan pertamanya dengan Guanlin.
"Guanlin hyung tak ditegur ayahnya? Sikapnya kan agak menyimpang dengan prinsip keluarganya," ujar Samuel.
"Waktu aku berkunjung ke rumahnya, tepat setelah ia mendapat teguran, aku menanyakan hal itu, tapi Guanlin hanya menjawab santai, 'Itu sudah makananku sehari-hari hyung, aku sudah biasa kenyang dengan ceramah singkat ayah,'."
Samuel mengangguk-angguk kecil, "Kadang aku berpikir Guanlin hyung sebenarnya sangat keren, sikapnya benar-benar menunjukkan bangsawan muda berkelas yang baik."
Woojin tersenyum, "Dia dan Jinyoung memang pemuda yang berkelas, sikap itu sudah mendarah daging dalam diri mereka."
Samuel menghela nafas pelan, ia menundukkan kepala, menatap gundukan tanah berisi biji-biji sayuran, "Kita mengalami banyak hal sekali setelah peristiwa itu hyung," ujar Samuel.
Woojin mengerti peristiwa apa yang dimaksud Samuel, dalam sepersekian detik tatapannya meredup,"Ya, sangat banyak," jawab Woojin.
"Tapi kau yang membuat kita tetap bersama, kau sudah menjadi hyung yang baik selama ini."
"Terima kasih."
"Jadi hyung punya ide bagaimana membuat mereka damai lagi?" tanya Samuel.
"Itu tidak perlu," suara itu memaksa Woojin dan Samuel menoleh. Keduanya terkejut melihat Guanlin berdiri tak jauh dari mereka.
"Aku akan minta maaf padanya, tidak perlu berusaha mendamaikan."
Beberapa detik Woojin terdiam, tapi kemudian dia mengangguk mengerti, "Kurasa dia di ruang santai."
Guanlin mengangguk, ia berbalik hendak pergi, tapi sebelum melangkah dia menoleh lagi, "Kau tak ikut pergi?"
"Kami berdua akan menyusul."
Guanlin tak mengatakan apapun dan langsung melangkah pergi begitu saja. Perasaan lega memenuhi rongga dada Woojin hingga tanpa sadar dia tersenyum lebar.
"Kubilang juga apa, Guanlin hyung itu keren,"kata Samuel.
"Sebaiknya Haknyeon tak mendengar itu atau handphonemu akan di hack."
$%^&*()
.
.
.
Ketika Woojin masuk dengan Samuel ke ruang santai, tampak Haknyeon dan Guanlin sedang berbicara. Raut kemarahan di wajah Haknyeon sudah hilang tak berbekas dan Guanlin terlihat santai.
"Begini terlihat lebih baik," ucap Woojin.
"Kalau dia sampai melakukan hal seperti itu lagi, akan kubuat dia menyesalinya," ujar Haknyeon sambil melirik Guanlin.
"Sayangnya aku tak akan melakukan hal yang kusesali," jawab Guanlin tenang.
Samuel duduk di sebelah Jinyoung lalu dengan antusias dia berkata,"Ngomong-ngomong di hari terakhir ini apa yang akan kita lakukan? Kita belum sempat menikmati Ulleungdo karena kekacauan kemarin."
"Mungkin geng Hyungseob punya ide," jawab Haknyeon.
"Mereka sepertinya masih marah hyung."
"Tentu, siapa yang tak marah dipukul dengan kayu dan didorong ke jurang," jawab Haknyeon sarkas.
Guanlin yang disindir hanya menangapinya dengan tenang, sama sekali tak nampak tersinggung. Woojin hanya tersenyum menanggapinya, meski dalam hati ia mengumpat, "Shut up that shit mouth plis, you can burn situation again Joo."
"Sepertinya kau harus minta maaf lagi dengan mereka hyung," saran Samuel.
"Itu pasti, itu sudah tanggung jawabnya, memangnya mau menunggu mereka memaafkan dengan sendirinya? Kalau aku jadi mereka, jelas aku tak akan sudi," lagi-lagi Haknyeon bicara sarkas dan Woojin hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Kau tak perlu cemas soal itu," jawab Guanlin, "Seonho~ya...," di saat yang tepat, Seonho melintas di depan mereka sehingga Guanlin langsung memanggilnya.
Seonho berhenti, wajahnya menatap Guanlin datar tanpa minat. Guanlin bangkit dari kursi dan mendekat, ia membungkuk sedikit lalu berucap, "Sekali lagi aku dan Jinyoung minta maaf."
Perlahan Guanlin menegakkan tubuhnya lagi. Seonho masih dengan wajah datarnya berujar, "Untuk kesalahanmu, kau membungkuk kurang dalam hyung."
Haknyeon tertawa tertahan mendengar ucapan Seonho yang bernada merendahkan, sementara Woojin dan Samuel mengerutkan kening bersamaan. Mereka tak salah dengar kan? Jika Seonho tahu seorang Lai mau membungkuk dan meminta maaf sudah merupakan fenomena langka, apa dia masih akan menyuruh Guanlin membungkuk lebih dalam?
"Setidaknya harus 90 derajat," lanjut Seonho.
Ekspresi Guanlin sudah sedatar tembok sejak kalimat pertama, tatapannya seolah berkata, kau serius? Tapi Seonho menjawabnya dengan melipat kedua tangan.
"Membungkuk sebenarnya bukan harga yang sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan hyung, tapi aku tak punya ide apa yang harus kau lakukan agar kami benar-benar mau memaafkanmu, jadi kurasa sekarang kau hanya perlu membungkuk dalam-dalam untuk menunjukkan penyesalanmu."
Apa Seonho bilang tadi? Harga yang tak sebanding? Woojin melihat Haknyeon membuang muka sambil menggigit bibir bawah, menahan tawa. Sejujurnya Woojin juga tak tahan untuk terkekeh, tapi ia sebisa mungkin berusaha menunjukkan wajah -pandainya Guanlin bersikap tenang, tetap saja saat ini ia tak bisa menyembunyikan muak di wajahnya.
Cukup lama tak ada jawaban dari Guanlin hingga Seonho jengah, saat dia akan pergi, tiba-tiba Guanlin membungkuk 90 derajat sambil mengatakan,"Maafkan sikapku dan adikku."
Guanlin menegakkan badan agak cepat, dan mendapati Seonho mengangguk-angguk kecil.
"Baiklah, sejujurnya aku juga berterima kasih karena telah memberikan petunjuk-petunjuk padaku, aku akan membujuk yang lain untuk memaafkanmu."
Guanlin tersenyum, "Terima kasih."
"Baiklah, aku pergi."
Haknyeon tak bisa lagi menahan tawanya setelah Seonho bergabung dengan gengnya, ia terkekeh kecil sambil tangan kanannya menutupi mulut.
Guanlin kembali ke tempat duduknya semula dengan wajah tenang, Ia duduk bersandar pada sandaran kursi sambil melipat kedua tangan di dada.
"Bukankah tadi seseorang mengatakan aku tak akan melakukan hal yang kusesali," celetuk Haknyeon, "Tapi kulihat barusan dia membungkuk sebagai tanda menyesal."
Guanlin tersenyum tipis, "Aku akan selalu mengingat itu, sampai kapanpun."
$%^&*()
.
.
.
Tuan Taedong menyelenggarakan pesta barbeque di halaman depan sebagai pesta perpisahan sebelum mereka kembali ke Seoul esok pagi. Sejak tadi Euiwoong terus nyemil sana-sini. Hyungseob sampai geleng-geleng kepala, anak itu makin lama porsi makannya makin banyak,pantas saja pipinya tambah chubby. Tapi herannya berat badannya tetap stabil.
"Besok kita sudah kembali ke Seoul, aku tak sabar ingin cepat pulang,"ujar Daehwi sambil menyumpit daging ke dalam mulut.
"Apa yang mau kita lakukan setelah di Seoul? Liburan masih lama."
"Mungkin aku akan memelihara bunga," ujar Hyungseob.
Daehwi hampir tersedak, "Kau bisa membuat semua bunga itu mati sebelum kuncup hyung."
Hyungseob memukul kepala Daehwi dengan sendok, ia tadi hanya bercanda, tapi Daehwi mengatakan seolah ia tangan perusak.
Euiwoong baru selesai melahap sepiring daging, ia haus dan hendak mengambil minum, tapi baru dua langkah bahunya menabrak seseorang, sialnya orang itu bawa air minum dan airnya tumpah ke bajunya.
Euiwoong sudah mendesah pelan, sebenarnya dia tak begitu marah karena yang tumpah hanya air putih dan cuacanya tidak sedang dingin jadi dia bisa menunggu bajunya kering sendiri, tapi begitu melihat siapa yang barusan menabraknya matanya melotot.
"Kau lagi."
Haknyeon berdiri dengan cengiran lebar, "Maaf, aku bermaksud memberikan air itu padamu tadi." Cengiran itu..., jelas sekali dia sengaja.
"Ya, kau sudah memberinya padaku, lalu sekarang apa?" ujar Euiwoong sinis.
"Tidak ada, aku akan pergi sekarang," Haknyeon tersenyum mengejek, membuat Euiwoong jengkel.
Ketika Haknyeo berjalan melewatinya, Euiwoong menendang kakinya hingga Haknyeon tersungkur ke tanah. Daehwi terkekeh kecil melihat posisi jatuh Haknyeon yang memalukan.
"Selamat malam sunbae," ujar Euiwoong lalu kembali ke tempat duduknya dengan senyum licik.
Jihoon mendesah kecil melihat kelakuan Euiwoong dan Haknyeon yang selalu seperti kucing dan Jihoon bahkan berani bertaruh jika Haknyeon tiba-tiba berhenti menganggu Euiwoong, anak itu akan banyak termanggu seharian. Jihoon berdiri, niatnya ingin ke kamar kecil tapi Jihoon tak pamit pada siapapun. Di lorong menuju kamar mandi, ia melewati teras belakang dan tanpa sengaja bertemu Jinyoung yang duduk bersandar pada tiang.
"Sedang apa kau?"tanya Jihoon.
Jinyoung menatap Jihoon sebentar lalu kembali mengalihkan pandangan pada langit malam, "Melamun."
"Kenapa tak bergabung dengan yang lain?"
"Nanti saja."
Jinyoung mengurungkan niatnya ke kamar mandi dan duduk di sebelah Jinyoung, "Masih merasa tak enak karena kejadian tadi pagi?"
"Aku tak pernah melakukan hal yang kusesali."
"Sejujurnya aku juga tak mengharapkanmu menyesal sih, meski kau dan Guanlin melakukan dengan cara aneh yang keterlaluan, tapi kalian sudah membantu misteri kasus keluarga Kim terbongkar. Sakit yang dirasakan Daehwi dan Euiwoong tak ada apa-apanya dengan sakit yang dialami keluarga Kim, semua kebenaran itu sangat penting untuk mereka, jadi aku tak akan menyalahkanmu lebih lama."
"Lucu mendengarmu mengatakan itu sunbae, seolah tak apa aku membunuh adik-adikmu asal kasus keluarga Kim terbongkar."
"Aku akan membunuhmu kalau kau melakukan itu," jawab Jihoon santai.
"Kau tak akan bisa melakukannya."
"Bahkan kalau kau monster sekalipun aku akan tetap membunuhmu jika kau mencelakai adik-adikku," Jihoon masih berbicara dengan nada santai.
Jinyoung menyeringai kecil, "Bukankah kau mau ke kamar mandi, pergilah."
"Ohhhh...kau mengusirku, kurang ajar sekali."
"Pergilah sunbae, sebelum kau mengompol di sini, apa aku kurang sopan?"
Jihoon menarik sudut bibir kananya ke atas,"Aku tak tahu kalau sikapmu ternyata sangat mirip dengan Guanlin, kupikir kau tak akan bicara sebanyak ini."
"Akan jadi pertanyaan kalau sikapku mirip Woojin hyung."
Jihoon berdiri lalu mengusap kepala Jinyoung hingga rambutnya berantakan, "Ya..ya...ya, pergilah ke halaman depan dan bersenang-senanglah, Sepertinya Guanlin mencarimu."
Jinyoung menatap Jihoon yang berjalan ke kamar mandi sambil merapikan rambutnya yang berantakan, "Perusak...," gumam Jinyoung. Namun beberapa saat kemudian dia berdiri untuk menuju ke halaman depan,"Tak ada salahnya bersenang-senang," gumamnya di lorong.
$%^&*()
.
.
.
TBC...
Hay readers, i am back...
Ini sudah tak jelaskan sedikit mengenai keluarga mereka... Tapi alasan mereka bisa jadi vampire?
Akan dikasih tahu nanti...
Next kasus author putuskan pakai dongpaca...
Sedikit spoiler mungkin akan agak sedikit chessy... wkwkwkwwkwk
Oh ya, dan auhor mungkin akan update setiap hari KAMIS... diusahakan...
Semoga kalian masih bertahan baca ini ff... tidak bosan dan menikmati alurnya
Jangan lupa review ya...
_Salam Author_
