Kopi pagi ini terasa sangat hangat, uap panas yang mengepul tercium gurih. Seonho meletakkan cangkirnya sebentar lalu mencomot sebuah roti. Hari ini ia makan dengan selai strawberry. Biasanya ibunya selalu menyediakan selai coklat dan membuatkannya segelas susu, tapi kemarin ibunya lupa belanja. Jadilah kopi dan roti berlapis selai kesukaan ibunya sebagai sarapan.

Usai sarapan, Seonho langsung bergegas berangkat setelah berpamitan dengan ibunya. Ia memakai jaket coklat dan syal berwarna cream. Ini bulan Oktober akhir, suhu udara 12 derajat celcius. Daun-daun maple dan gingo berjatuhan tertiup angin. Trotoar penuh serasah dedaunan kuning dan merah. Terlihat sangat indah.

Seonho senang melihat bagaimana daun-daun maple menari-nari di udara sebelum akhirnya jatuh diantara serasah dedaunan yang sudah lebih dulu gugur. Di saat bersamaan otaknya membayangkan alunan piano Yiruma ~ Rivers flow in you. Seminggu ini ia sering mendengarkan lagu itu, entah kenapa melodinya langsung mengingatkannya dengan musim gugur. Denting piano menggema di kepalanya dan jajaran pohon-pohon maple dan gingo terus merontokkan helai-helai daun. Ah, suasana yang sangat harmonis.

Tiba-tiba suara pelan deru motor berhenti di sampingnya. Seonho menoleh dan melihat seseorang sedang berusaha melepas helm.

"Guan hyung?" panggilnya dengan kening berkerut.

"Naiklah,"jawab Guanlin.

"Tidak, terima kasih."

"Masih canggung denganku?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Jalan kaki lebih sehat, bebas polusi" jawab Seonho datar.

Guanlin tersenyum kecil, "Secara tak langsung kau mengkritikku?"

"Kau pintar hyung, kau tahu jelas maksudku."

"Lucu juga kalau aku harus jalan kaki setiap hari sejauh 3,5 km."

"Ada teknologi bernama bus hyung."

"Baiklah..baiklah, hari ini aku mau jalan kaki," Guanlin turun dari motornya dan bersiap untuk menuntun.

Seonho melayangkan tatapan curiga, dengan mata menyipit ia berkata,"Jangan bilang kau mau jalan kaki sambil menuntun motor?"

"Seperti yang kau duga, toh sekolah tinggal beberapa meter," jawab Guanlin santai.

"Kau bisa duluan hyung, tak usah mempersulit dirimu sendiri," kata Seonho masih dengan wajah datarnya.

"Kenapa kau mempersulit dirimu dengan berdebat denganku Seonho? Kalau kau tak mendebatku akan lebih cepat kita sampai ke sekolah."

Guanlin mendahului Seonho menuntun motor, sementara Seonho tetap berdiri di tempat, tak habis pikir dengan sikap konyol Guanlin.

"15 menit lagi gerbang ditutup, mau terlambat?" seru Guanlin tanpa menghentikan langkah.

Seonho mendesah pelan, mengeratkan pegangannya pada tali ransel, lalu berjalan menyusul Guanlin. "Kau tak berangkat dengan saudara-sudaramu hyung?"

"Mereka sudah berangkat naik motor sendiri-sendiri."

"Kupikir kau berangkat dengan Jinyoung."

Guanlin tersenyum kecil, "Apa setahun ini kau pernah melihatku dan Jinyoung berangkat dalam satu motor?"

Seonho menggeleng.

"Lalu kenapa masih berpikir begitu."

"Aneh saja, dia adikmu, tapi kalian tak pernah berangkat bersama. Kadang malah aku melihatnya berangkat dengan Woojin sunbae."

Guanlin tertawa kecil, "Dengan kata lain Woojin lebih pantas jadi kakaknya."

"Kau yang menyimpulkan sendiri, aku tak bicara seperti itu," jawab Seonho santai.

Guanlin tersenyum lembut, tampak deretan giginya yang putih rapi. Sejurus kemudian Ia mendongakkan kepala, menatap guguran daun-daun maple dan gingo. Langit tampak biru cerah dengan sedikit awan.

Seonho melirik Guanlin sekilas, tampak laki-laki itu masih tersenyum menatap daun maple. Ah, pantas saja Woojin sunbae sempat terpana melihatnya tersenyum, bagaimanapun juga, senyum itu memang punya magnet. Dia punya senyum yang bagus dan menyenangkan.

$%^&*()

.

.

.

"Hey..hey, kau sudah dengar soal pak Kang yang mengundurkan diri?" seru Daehwi heboh.

Seonho memasukkan sesendok nasi ke mulutnya tanpa memerhatikan ucapan Daehwi, sementara Hyungseob kelihatan agak terkejut mendengarnya.

"Kenapa mengundurkan diri ?" tanya Hyungseob.

"Kudengar sih dia mau pindah ke Jepang."

"Sayang sekali, padahal aku suka caranya mengajar, sangat mudah dicerna," kata Euiwoong.

"Oh ya, aku lupa menanyakan soal ini, saat di Ulleungdo, Kemana saja Jaehwan sunbae sampai baru kembali pukul satu malam?" tanya Daehwi.

"Pergi ke rumah kosong itu," jawab Seonho, "Sebelum masuk ke dalam bus untuk pulang, aku sempat menanyakannya, dia bilang dia memang masuk ke rumah kakekknya, mengenang kenangan pahit."

"Kalau aku sih gak akan mau disuruh masuk rumah itu sendirian malam-malam," kata Daehwi sambil bergidik.

"Memangnya siang hari kau berani?" tanya Jihoon.

"Tidak."

"Dasar penakut," cibir Euiwoong.

Daehwi tak menggubris cibiran Euiwoong dan lanjut menyumpit mie nya. Bodo amatlah.

"Eh..eh, aku kok tak pernah melihat geng Woojin di kantin ya," ujar Hyungseob.

"Paling juga semedi di perpustakaan," jawab Daehwi asal.

"Memangnya mereka nggak lapar?"

"Ya mungkin mereka bawa bekal hyung."

"Siapa yang masak?"

"Pembantu paling."

"Sok tahu...,"Hyungseob menjitak kepala Daehwi agak keras hingga yang dijitak hampir tersedak karena sedang menyeruput jusnya.

"Mungkin Woojin sunbae yang setiap hari masak, dia yang kelihatan paling mengayomi," kata Euiwoong.

"Belum tentu, Siapa tahu ternyata si koki keluarga itu Haknyeon sunbae," seru Daehwi.

Euiwoong tersenyum remeh, "Orang macam dia mana mungkin bisa masak, tahunya paling cuma komputer dan film porno."

"Cowok lihat film porno wajarlah, Jinyoung yang seperti batu pun pasti juga pernah lihat film porno," jawab Daehwi optimis.

"Sok tahu...," kali ini Euiwoong yang memukul kepala Daehwi dengan sendok.

"What the... ini kepala bukan bantal," cerocos Daehwi tak terima sambil mengelus-elus kepalanya. Masalahnya Euiwoong memukulnya cukup kuat menggunakan sendok aluminium panjang.

"Bisa jadi Jinyoung yang ternyata jago masak," duga Hyungseob.

Daehwi menggeleng, "Pasti Haknyeon sunbae, meski kelakuannya kadang mirip berandalan sekolah, tapi bukan berarti dia tak punya sisi bagus kan."

"Pasti Woojin sunbae, dia yang terlihat paling normal dan waras, jadi pasti dia,"Euiwoong tak kalah ngotot.

"Normal waras?" Jihoon mengerutkan kening.

"Kakak adik diam-diam tukang buat onar, berandalan sekolah, magnae childish, diantara mereka yang kelakuannya paling gak aneh-aneh Woojin sunbae kan?"

"Tapi aku masih yakin Jinyoung yang paling jago masak diantara mereka, " gumam Hyungseob.

Seonho meletakkan sendoknya lalu mengambil jus anggurnya, "Apa pentingnya pembahasan kalian?" ujarnya dengan sebelah alis terangkat.

"Soalnya tak ada topik pembahasan lain yang menarik," jawab Daehwi, "Eh, mau taruhan tidak?"

Seonho memutar bola mata malas, dan memilih melanjutkan kegiatan makan siangnya, membiarkan teman-temannya sibuk dengan pembahasan yang menurutnya 'sangat tidak penting.'

$%^&*()

.

.

.

Woojin menutup bukunya, lalu menatap empat saudaranya yang sedang menghadap buku masing-masing. Menghadap dalam artian sebenarnya. Haknyeon sedang mendengarkan musik dengan buku yang ia pukul-pukul seolah drum. Jinyoung seperti biasa, benar-benar membaca buku yang ia pegang. Lalu Samuel yang memutar-mutar buku tipis di telunjuknya seolah bola basket dan Guanlin yang sejak 4 menit yang lalu terus memperhatikan deretan buku-buku di rak tanpa mengambil satu buku pun.

"Kau berniat membaca atau hanya melihat-lihat?" tanya Woojin.

Guanlin menoleh, sadar bahwa pertanyaan itu untuknya, "Sebenarnya aku berpikir bagaimana kalau rak-rak ini dipinjam untuk properti panggung klub teater. Ada adegan bagus terbersit di kepalaku," jawabnya ringan.

"Kupikir mendadak kau jadi patung di situ," jawab Woojin.

"Sedikit lagi lucu hyung," ujar Samuel.

Haknyeon tertawa kecil, barusan ia melepaskan headseat dan tanpa sengaja mendengarkan celetukan adiknya.

Sekali lagi Woojin memutar bola mata ke atas, ia sudah biasa diejek mereka.

Tiba-tiba Samuel bangkit dari kursi dengan sedikit melompat, Woojin agak terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba dan bertanya-tanya mau apa anak itu karena Samuel berjalan ke arah rak. Ternyata anak itu memergoki dua gadis yang ternyata sedang mengintip mereka dari balik rak.

"Maafkan kami," ujar dua gadis itu sambil menunduk malu. Salah satunya berkaca mata berambut sebahu dan satunya berambut dikucir kuda dengan wajah manis.

"Tak papa nuna, kalian bahkan bisa duduk di sana kalau mau, ini kan tempat umum," jawab Samuel sambil tersenyum.

Dua gadis itu saling berpandangan sebentar lalu si rambut sebahu menjawab, "Sebaiknya kami pergi saja."

Ketika dua gadis itu akan pergi Samuel menahan tangan si kaca mata, membuat kedua gadis itu sontak menoleh terkejut.

"Kau menjatuhkan pulpenmu nuna,"ujar Samuel dengan senyum memikatnya.

Beberapa detik kedua gadis itu diam membatu, begitu sadar ia terlihat seperti patung tak berkedip, gadis berkucir kuda langsung menarik tangan temannya untuk pergi. Gadis berkaca mata itu tapaknya belum sepenuhnya sadar saat temannya menariknya, karena arah pandangannya masih tertuju pada Samuel hingga akhirnya dia berbelok dan pandangannya terhalang rak.

Samuel berbalik, merapikan kerah seragamnya lalu duduk ke tempatnya semula.

"Kau punya bakat perayu,"celetuk Haknyeon.

"Kau juga hyung."

"Setidaknya aku hanya menggoda satu orang."

Samuel meletakkan kedua tangannya di belakang kepala dan bersandar pada sandaran kursi, "Aku heran, kenapa tidak ada yang duduk di bagian perpustakaan yang selalu kita tempati, memangnya kita melarang mereka duduk di sini?"

"Siapa yang mau menempati tempat yang biasa di duduki tukang hack, ketua osis, sekretaris, wakil, dan anak kelas satu calon ketua klub dance?" ujar Hakyeon, "Siswa biasa mana yang mau dianggap menganggu tempat orang-orang dengan reputasi seperti itu?"

"Kalau aku sih, akan tetap duduk di manapun tempat yang ku mau, toh kita tak keberatan kalaupun ada orang lain yang duduk di sini," jawab Samuel.

"Siapa yang tahu kita tak keberatan? Masalahnya mereka tak berpikir sepertimu Sam, di mata siswa lain kita ini satu geng yang punya reputasi bagus, tapi mungkin ada juga yang menganggap kita ini geng sok berkuasa. Kau tahu kan, masalah tempat duduk bahkan bisa jadi asal penyebab pembullyan di negeri ini. Kalaupun kita tak masalah, menurutmu bagaimana pandangan siswa-siswa lain? Terutama gadis-gadis tukang gosip yang merasa paling cantik di sekolah ini, akan beredar gosip-gosip kalau mereka melihat ada orang yang duduk dengan kita di sini. Apalagi kalau orang itu perempuan," ujar Haknyeon pajang lebar.

"Well, aku tak paham dengan dunia remaja jaman sekarang."

"Sebenarnya ini tak terlalu berbeda dengan kita dulu, tak ada anak rakyat biasa yang mau duduk di tempat duduk anak bangsawan, hanya saja keadaanya sekarang tak semencolok dulu, anak populer dan siswa biasa, anak bangsawan dan rakyat biasa, bukankah hampir sama," kata Guanlin.

"Sekat-sekat semacam itu, menganggu sekali, bukankah itu jadi membuat salah satu pihak cenderung merendahkan pihak lain,"gerutu Samuel.

Jinyoung menutup bukunya lalu meletakkannya ke atas meja," "Harus ada yang direndahkan untuk merasa naik, itu sebabnya orang rendah hati tak pernah merasa tinggi," kata Jinyoung, "Beberapa manusia suka merasa naik, karena itu mereka menciptakan sistem yang bisa merendahkan orang lain."

Samuel menghela nafas pelan, "Kedua gadis tadi menatap kita sudah cukup lama."

"Sebenarnya aku juga sudah tahu sejak tadi,"kata Guanlin.

"Mereka sering melihat kita diam-diam, fangirl geng kita,"celetuk Haknyeon. "Kira-kira yang paling mereka suka siapa ya diantara kita?"

"Aku sering melihat si rambut kucir kuda tadi melihatku diam-diam," kata Guanlin.

"Woahh... fangirl Guanlin ternyata, kalau yang si rambut sebahu, siapa yang sering melihatnya mengendap-endap?" seru Haknyeon sedikit heboh.

"Nuna berambut sebahu tadi pernah memberiku sekotak pizza saat aku memenangkan salah satu lomba dance."

"Pantas saja kau lembut dengannya, ternyata fans mu," ujar Haknyeon.

"Hyung pikir aku akan marah-marah kalau yang mengintip fansmu," cibir Samuel.

Haknyeon mengedikkan bahu lalu merogoh handphonenya di saku celana. "5 menit lagi bell masuk, mau bolos?" tanyanya sambil melirik Woojin.

"Tidak akan."

$%^&*()

.

.

.

5 deru mesin motor memasuki pekarangan rumah bergantian. Kelimanya kompak berhenti di garasi.

"Kalau pulang bersamaan begini kita jadi seperti geng motor," kata Haknyeon setelah melepas helmnya.

"Kapan-kapan naik sepeda ah, ganti suasana," kata Samuel, "Aku mau naik sepeda butut, kira-kira image keren ku dicibir anak-anak tukang gosip itu tidak ya," gumamnya sambil nyengir.

Haknyeon menjentikkan jarinya, "Ide bagus, patut dicoba."

"Lebih baik dari pada berjalan 3,5 km," gumam Guanlin sambil tersenyum tipis, mengingat percakapannya dengan Seonho tadi pagi.

"Kau bilang apa hyung?" tanya Jinyoung.

"Sepeda sepertinya lebih baik dari pada bus," jawab Guanlin masih dengan senyum tipisnya.

"Kau jadi banyak tersenyum sekarang hyung."

"Kalau begitu kau kapan?"

Jinyoung terdiam.

"Sudahlah, ayo masuk," perintah Woojin.

Mereka berlima segera turun dari motor dan masuk ke dalam rumah lewat pintu depan. Haknyeon melepaskan jaketnya lalu melemparkannya ke kursi tamu sembarangan. Ia sudah hendak duduk, tapi sosok yang ia lihat duduk di kursi tunggal membuatnya terkejut. Bukan hanya Haknyeon, tapi Guanlin, Woojin, Samuel, dan Jinyoung juga sama terkejutnya. Mereka berlima sampai membeku sesaat sebelum akhirnya Haknyeon berujar geram, "Mau apa kau di sini?"

Sosok itu beangkit dari kursi dan berjalan mendekati Haknyeon, "Lama tak bertemu Joo Haknyeon."

Kedua tangan Haknyeon terkepal erat, matanya menatap tajam sosok tinggi tampan dihadapannya.

"Tuan muda," panggil Woojin, "Bagaimana bisa kau masuk ke rumah ini?"

Sosok itu menyeringai kecil, "Kau tak berubah Woojin, masih saja memanggilku tuan muda setelah peristiwa itu."

"Lee Donghyun," geram Haknyeon.

"Sepertinya kalian menikmati hidup kalian sebagai vampire."

"300 tahun waktu yang cukup untuk kami terbiasa dengan hidup sebagai makhluk malam,"ujar Guanlin, "Bagaimana dengan anda tuan muda? Bahagia dengan pencapaian anda?"

Donghyun menghela nafas pelan, "Aku ke sini hanya untuk tahu bagaimana kabar kalian, bukannya berdebat."

"Seorang Lee Donghyun peduli, cih...," sinis Haknyeon.

"Dan aku terkejut kalian semua tak banyak berubah sejak 300 tahun yang lalu, terutama kau Yeon, sikap terus terangmu masih sama seperti dulu dan sangat mirip tuan Joo."

"Hentikan basa-basi ini, katakan apa maumu," sergah Haknyeon.

Donghyun kembali duduk di kursinya semula, sambil menyilangkan kaki ia menjawab, "Sudah kubilang aku hanya ingin tahu kabar kalian, kupikir kalian berpisah sendiri-sendiri, ternyata kalian masih berkumpul sampai sekarang."

"Sebaiknya kita bicarakan ini sambil duduk," kata Woojin sambil melonggarkan dasinya, "Akan kuambilkan minuman."

"Kalian bertahan dengan darah hewan?" tanya Donghyun.

"Tentu."

"Padahal darah manusia lebih enak, kalian pernah mencicipinya? Aku yakin Haknyeon pernah, tapi aku tak yakin Jinyoung pernah mencicipinya."

"Kau...,"

"Kami tak sepertimu yang terus bergantung dengan darah manusia tuan muda," potong Woojin. Sengaja agar Haknyeon tak mengatakan hal-hal yang bisa membuat emosinya sendiri meledak.

Donghyun tersenyum kecil, "Kau punya darah rusa?"

"Agak sulit mendapatkannya, tapi kami punya persediannya."

"Ambilkan untukku Woojin."

Woojin mengangguk lalu berjalan ke dalam mengambil persediaan darah.

"Jadi...," Donghyun menurunkan kakinya lalu mempersilahkan empat orang dihadapannya untuk duduk seolah dialah tuan rumahnya,"Ceritakan pengalaman kalian selama hidup diantara manusia, sepertinya sangat menarik."

TBC...

.

.

.

Hay readers, author up lagi

Author terlambat update karena kemarin bener-bener sibuk, perjalanandan kegiatan ke tiga kota bikin author nggak ada waktu buat nulis, juga sempet drop setelah kegiatan...

Terima kasih untuk yang tetap mendukung ff ini, ini sudah masuk kasus baru...

Sudah masuk cast baru juga, si Donghyun...

Feel cerita ini bagaimana? Kurang dapet? Atau gimana ? silahkan berikan masukan kalian.

Yang tanya ini bxb? Masih dipertimbangkan. Pengennya sih momen-momen aja, tapi entahlah kebelakangnya nanti author berubah pikiran atau tidak.

Jangan lupa Review ya...

Review kalian jadi semangat author...

_Salam Author_