"Dari mana saja anda selama ini tuan muda?" tanya Woojin setelah meletakkan gelas berisi darah ke meja lalu duduk di sofa menghadap donghyun.
"Berkelana, membosankan hanya berdiam di satu tempat," Donghyun mengambil gelas itu lalu meminumnya seteguk. Bibirnya memerah karena sisa-sisa darah yang menempel.
"Anda sepertinya sangat menikmati kehidupan anda yang yang sekarang," sindir Haknyeon sambil melipat tangan di dada. Bahunya ia sandarkan ke punggung sofa.
Donghyun menyeringai kecil, "Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan selain menikmatinya."
Woojin menghela nafas pelan, "Anda sama sekali tak berubah tuan muda."
Donghyun meletakkan gelasnya ke meja lagi, ia terdiam sambil menunduk tanpa melepaskan tangannya dari pegangan gelas, perlahan ia memejamkan mata, "Sebenarnya aku ke sini untuk sebuah tujuan," ujarnya dengan menahan nafas.
"Tujuan?" Woojin mengernyitkan dahi, penasaran dengan tujuan apa yang dimaksud Donghyun.
Donghyun membuka matanya, perlahan ia melepaskan pegangan gelas dan mengangkat kepalanya untuk menatap Woojin, "Maafkan aku," ucapnya lirih.
Semua orang di ruangan itu terkejut, APA? Woojin tak salah dengar kan? tuan mudanya meminta maaf? Untuk apa?
Donghyun tiba-tiba berdiri, sontak membuat Guanlin, Haknyeon, Samuel, dan Jinyoung ikut berdiri. Tapi Woojin yang masih belum sepenuhnya mengerti dengan maksud Donghyun tak bergeming di tempat duduk.
"Aku pergi sekarang," ujarnya.
Suara berat Donghyun menyadarkan Woojin dari keterpakuannya, ia langsung bangkit dari kursi begitu Donghyun melangkah, "Biar kuantar sampai pintu."
"Tidak perlu," jawab Donghyun datar, segera setelah itu ia keluar dari rumah.
$%^&*()
.
.
.
Ada banyak hal tak terduga yang terjadi akhir-akhir ini, tapi bagi Woojin, peristiwa beberapa menit lalu adalah yang paling mengejutkan. Woojin tak tahu bagaimana Donghyun bisa menemukan mereka atau apa maksud dari permintaan maaf Donghyun. Seumur hidupnya baru kali ini ia mendengar tuan mudanya yang angkuh dan kejam, mengucapkan hal itu.
"Kurasa aku mengerti untuk apa dia datang dan mengucapkan permintaan maaf," ujar Guanlin.
Woojin tersadar dari lamunanya dan menatap Guanlin penuh rasa ingin tahu, "Katakan."
"Matanya, kau melihatnya kan hyung?"
Woojin mengangguk kecil dan perlahan ia mengerti maksud Guanlin.
"Menurutmu 300 tahun bisa mempengaruhi orang sepertinya?" ujar Haknyeon dengan nada mencibir.
"Menurutmu 300 tahun hidup sebagai vampire tak bisa mempengaruhi seseorang?" balas Woojin.
"Cih...kau bahkan masih setia padanya setelah apa yang dia lakukan," sindir Haknyeon, "Sistem kasta keluarga sudah berakhir, dia bukan tuan muda kita lagi."
Woojin menghela nafas panjang, ia tatap satu persatu saudara-saudaranya yang sedang duduk mengitari meja. Semuanya berwajah muram, satu-satunya yang terlihat paling kesal adalah Haknyeon. Woojin memahami benar kemarahannya, dan sejujurnya dia sendiri pun memiliki perasaan kesal yang sama.
"Tapi..., jika aku bertanya padamu, apa kau menerima hidupmu yang sekarang, apa jawabanmu Yeon?"
Haknyeon terdiam, kedua tangannya mengepal erat, tapi mulutnya bungkam. Bibirnya bergetar dan sorot matanya mengisyaratkan keraguan.
"Satu-satunya hal yang menyebabkan kenangan di masa lalu terasa pahit karena kita menyaksikan kematian yang sebenarnya tak akan sanggup kita lihat," sahut Gualin, "Dari situlah kebencian tumbuh."
"Mungkin aku tak begitu paham hubungan Woojin hyung, Guanlin hyung, dan Haknyeon hyung dengan tuan muda Donghyun, tapi kalau menerima atau tidak, sulit menjawabnya. 300 tahun waktu yang panjang dan kita sudah terlalu terbiasa hidup sebagai vampire. Masih berguna mengumpati takdir?" ujar Samuel.
Haknyeon menahan nafas. Kedua tangannya makin terkepal erat, dan saat emosinya tak bisa lagi ia tahan, Haknyeon segera berdiri dan melampiaskan tinjunya pada dinding. Nafasnya kembang kempis tak karuan menahan emosi.
"Yang aku tak terima adalah apa yang sudah ia lakukan pada kita dan tuan Lee," geramnya. Ingatannya terlempar ke masa lalu, 300 tahun lalu, awal mula perubahan titik hidup mereka berlima..., tidak tapi berenam.
$%^&*()
.
.
.
"Apa yang terjadi yah?" seru Haknyeon melihat ayahnya begitu tergesa-gesa.
"Ada pemberontakan, cepat berlindunglah dengan Samuel."
"Ap...tapi..."
"Lindungi adikmu Yeon," perintah ayahnya tegas.
Haknyeon tak tahu ia harus menurut atau ngotot mengikuti ayahnya menghadapi pemberontak. Di masa itu 17 tahun sudah cukup dianggap dewasa, tak masalah kalau dia ikut berperang. Tapi masalahnya siapa yang akan menjaga Samuel kalau dia ikut pergi? Samuel bukan berasal dari keluarga Joo yang fisiknya sudah terbiasa dilatih keras. Tapi firasatnya buruk melihat ayahnya pergi sendirian, astaga apa yang harus dia lakukan?
Akhirnya Haknyeon memilih menuruti ucapan ayahnya, ia mencari Samuel dan menyuruhnya untuk berdiam diri di kamar sementara dia berjaga-jaga mengawasi sekitar rumah. Selama berjam-jam Haknyeon terus waspada, memastikan tidak ada satu pun orang asing yang masuk ke dalam rumah, seluruh pelayan rumahnya juga ia larang keluar rumah.
Tiba-tiba Haknyeon terpikirkan nasib teman-temannya. Bagaimana keadaan Woojin, Guanlin, dan Jinyoung? Apa rumah mereka diserang? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa timbul pemberontakan secara tiba-tiba? Beberapa waktu terakhir, Haknyeon sering mencuri dengar saat ayahnya bicara dengan tuan Park, tentang kemungkinan adanya pemberontakan dari para pekerja tambang di bagian barat. Lebih buruknya, sepertinya ada salah satu keluarga bangsawan yang memprovokasi mereka dengan menyebarkan isu tak benar.
Dari balik tirai jendela Haknyeon mengintip ke luar, dari kejauhan terdengar suara derap-derap langkah kaki serta teriakan yang saling bersahutan. Buru-buru Haknyeon menghampiri Samuel di dalam kamar.
"Bersembunyilah di gudang bawah tanah," seru Haknyeon sambil menarik Samuel ke gudang.
Tapi Samuel menepis pegangan Haknyeon, "Tidak mau, aku akan ikut bertarung."
"JangJANGAN KONYOL, KAU HANYA AKAN MENJADI BEBANKU SAM," bentak Haknyeon. Sungguh ia tak akan bisa bertarung jika pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran pada Samuel. Adiknya itu harus aman lebih dulu.
Samuel menunduk, bukan karena kata-kata Haknyeon menyinggungnya, tapi karena ia merasa tak bisa melakukan apapun di saat seperti ini. Tak bisa ikut melindungi orang-orang di rumah ini.
Tiba-tiba terdengar suara pintu digedor-gedor, kewaspadaanya langsung naik ke level tertinggi.
"Sembunyilah di gudang bawah tanah dengan para pelayan, cepatlah," seru Haknyeon.
Haknyeon langsung mengambil pedang yang tergantung di dinding ruang keluarga dan memerintahkan para penjaga untuk bersiap jika ada yang menyerang rumah. Haknyeon berusaha mengendalikan dirinya untuk tak panik, ia tak pernah menghadapi situasi genting seperti ini meski sudah berkali-kali ia bertarung dengan ayahnya. Tapi pertarungan itu hanya sebagai latihan, sekarang keadaanya berbeda, jika kau kalah, kau tak akan selamat.
Bukannya pergi ke gudang bawah tanah, Samuel justru mengikuti Haknyeon ke ruang depan. Ia penasaran, siapa yang datang. Terlebih lagi, ia tak bisa menyelamatkan diri sendiri sementara Haknyeon mungkin saja harus bertarung dengan para pemberontak.
Haknyeon berjalan cepat ke arah pintu dan melihat dari lubang kecil yang biasa digunakan untuk mengechek siapa tamu yang datang.
"Haknyeon, ini aku Woojin, bukakkan pintumu," seru Woojin panik.
Haknyeon bernafas lega dan langsung membukakan pintu. Ternyata Woojin datang dengan Guanlin, Jinyoung, dan tuan muda Donghyun. Ia agak terkejut karena tuan muda ikut datang ke rumahnya.
Buru-buru Haknyeon mengunci pintu lagi setelah semuanya masuk.
"Keadaan benar-benar kacau," ucap Woojin.
"Apa yang terjadi hyung?" seru Samuel.
"Bukankah sudah kusuruh kau pergi ke gudang bawah tanah," seru Haknyeon kaget.
"Para pemberontak mengepung rumah-rumah para bangsawan," jawab Woojin.
"Lalu keluarga kalian?" tanya Haknyeon khawatir.
Semua orang terdiam, Haknyeon tak mengerti maksud diamnya mereka, tapi ia terkejut melihat cipratan darah di baju serta pipi Guanlin dan Jinyoung. Ia baru menyadarinya sekarang.
Woojin menghela nafas panjang, tampak bahwa begitu berat baginya untuk mengatakannya, "keluarga Lai sudah dibantai."
Jantung Haknyeon berdenyut nyeri, ia melihat Guanlin menyeka matanya yang basah tanpa suara. Anak itu tetap berusaha terlihat tenang meski Haknyeon tahu, hatinya pasti hancur. Tatapannya beralih pada Jinyoung yang sedang dirangkul Guanlin, ekspresinya benar-benar kosong, tangannya bahkan belepotan darah. Haknyeon membuang muka mencoba mencegah sesuatu yang tiba-tiba mendesak ingin keluar dari matanya. Pikirannya memikirkan ayahnya yang kini ada di luar sana. Bisakah ia berharap ayahnya tak mengalami hal yang sama?
"Nyonya Lai berhasil menyembunyikan mereka sebelum ia dibunuh,"kata Woojin, "Mereka datang ke rumah dan memperingatkan keluargaku, ayahku menyuruh kami bertiga pergi ke rumah keluarga Joo karena katanya ayahmu membuat jalan keluar rahasia di sini?"
Haknyeon mengerutkan kening, "Jalan rahasia? Aku tak pernah tahu soal itu."
"Dimana dapurnya?" tanya Donghyun tiba-tiba.
"Di sebelah sana," tunjuk Haknyeon. Untuk apa dia menanyakan dapur di saat seperti ini?
Tak berapa lama kemudian Donghyun muncul dengan enam gelas air di atas nampan.
"Minumlah dulu, kalian harus menurunkan ketegangan agar bisa berpikir jernih, situasi seperti ini tak bisa dihadapi dengan gegabah," ujarnya.
Donghyun benar, ia butuh lebih rileks agar bisa berpikir jernih, mungkin segelas air bisa membuatnya lebih nyaman. Haknyeon megambil satu gelas dan meneguk isinya dalam sekali minum. Woojin mengikuti tindakan Haknyeon. Ia juga yang menyodorkan dua gelas pada Guanlin dan Jinyoung.
"Minumlah Guan, tenangkan dirimu," ujarnya.
Guanlin ragu-ragu, ia bahkan enggan untuk bicara, tapi akhirnya ia mengambil gelas itu dan meminumnya.
Woojin mengenggamkan gelas satunya ke tangan Jinyoung. Tangannya lemas seperti dahan sayur yang layu, Jinyoung tampak tak punya daya sama sekali. Melihat darah kering di tangan Jinyoung, Woojin membeku sesaat. Bisakah ia menganggap dirinya beruntung karena setidaknya dia tak melihat kematian mengerikan di depan matanya?
Woojin bukannya tak tahu, ia mendengar ibunya meneriakkan nama ayahnya saat ia kabur melalui pekarangan belakang. Ia sangat ingin masuk lagi ke dalam rumah dan berusaha menyelamatkan ibunya meski ia tahu tak punya kekuatan. Ia sangat ingin melakukan itu. Tapi Guanlin dan Jinyoung yang berdiri di belakangnya menyadarkannya bahwa ia punya tanggung jawab. Mereka bertiga harus selamat !
Selama berlari ia menangis tanpa suara, perasaanya hancur lebur. Kemarahan luar biasa bercampur dengan rasa sedih yang membuat dadanya sesak. Sesak...sesak sekali rasanya. Sakit sekali di dada.
Tanpa sadar sebulir air mata meluncur cepat di pipi. Woojin tersadar dari keterpakuannya dan langsung menyeka pipinya. Bukan saat yang tepat untuk menjadi lemah. Saat Woojin menyeka pipinya, matanya bertatapan dengan Jinyoung. Anak itu melihatnya menangis barusan. Woojin menghela nafas pelan dan memberi tepukan di bahu Jinyoung sambil tersenyum, "Minumlah."
Jinyoung menatap gelas di tangannya sesaat, perlahan ia mengangkat gelasnya dan meneguk isinya.
"Untuk apa kalian terlihat sedih?"
Suara Donghyun menarik perhatian mereka semua.
"Bukankah memang itu yang harus mereka lakukan, mengorbankan diri agar anaknya bisa selamat."
"Bisa-bisanya anda bicara seperti itu," sergah Haknyeon.
"Lalu kita harus mati dengan mereka? Kau mau seperti itu?" jawab Donghyun dingin.
Haknyeon tak bisa menahan emosinya mendengar ucapan tuan mudanya yang keterlaluan, tinjunya gatal ingin memukul, tapi sebelum tangannya terangkat suara tamparan keras membuatnya terbelalak.
Guanlin yang barusan menampar Donghyun hingga sudut bibirnya berdarah. Haknyeon tersentak melihat betapa marahnya Guanlin.
"Klan ibumu, bahkan lebih rendah dari para bangsawan, jaga ucapanmu tuan muda Lee," sindirnya tajam.
"APA KAU BILANG?" Donghyun mencengkram kerah baju Guanlin kuat, "KATAKAN SEKALI LAGI !"
"APA YANG KALIAN LAKUKAN, BERHENTI BERTENGKAR !" teriak Woojin.
"Orang ini harus sadar tempatnya yang sebenarnya seperti apa," ucap Guanlin. Kemarahan luar biasa terpancar dari matanya yang membelalak. "Jika bukan karena tuan Lee yang berbaik hati menikahi ibumu yang berasal dari suku liar di wilayah utara, kau tak akan mendapatkan posisimu yang sekarang."
"BRENGSEK KAU !" satu pukulan mendarat di pipi Guanlin.
"Cih..." Guanlin langsung membalas pukulan Donghyun tepat di dagu. Ia menarik kerah baju Donghyun dan memukulnya lagi sebelum Donghyun mengumpulkan tenaga untuk melawan.
"HENTIKAN!" bentak Woojin sambil berusaha menahan lengan Guanlin, sementara Haknyeon berusaha menahan bahu Donghyun yang ingin menyerang.
"BIARKAN AKU MENGHAJAR ORANG TAK TAHU DIRI ITU!" teriak Donghyun.
"KAU BRENGSEK ! KAU... !" teriak Guanlin.
Baru kali ini Haknyeon melihat Guanlin mengamuk. Matanya yang memerah karena emosi melegak-legak menandakan betapa jiwanya terguncang. Kira-kira melihat orang yang kau sayangi dibantai di depan mata, seperti apa rasanya? Haknyeon tak mau membayangkannya.
Sayup-sayup pendengaran Haknyeon menangkap suara-suara dari arah pekarangan. Suara seperti derap langkah kaki dan teriakan. Jangan-jangan...
Mendadak pintu didobrak keras. Pertengkaran Guanlin dan Donghyun langsung terhenti.
"Jinyoung, Samuel sembunyi ! cepat !"
"Ta..tapi..."
"JANGAN MEMBANTAH !"
Tapi sebelum Jinyoung dan Samuel sembunyi, pintu telah didobrak.
"Tuan Haknyeon, pergilah dengan teman-temanmu," teriak seorang penjaga yang datang bersama penjaga lainnya dari arah dalam. Mereka penjaga yang bertugas menjaga keselamatan para pelayan. "Para pelayan sudah berhasil masuk terowongan rahasia."
"Terowongan rahasia?" Bagiamana penjaga ini bisa tahu ada terowongan rahasia? Tapi pikiran itu lenyap saat Haknyeon sadar bahwa yang sedang bicara dengannya ini adalah penjaga kepercayaan ayahnya.
"Terowongannya ada di belakang rak-rak buku yang tak terpakai, di gudang bawah tanah. Cepat tuan!"
Haknyeon mengangguk mengerti, "Selamatlah," ujarnya, "Kalian berempat ikuti aku !"
Sementara para penjaga berusaha menahan para pemberontak yang menyerang, Haknyeon menggiring teman-temannya ke gudang bawah tanah.
Dua orang pemberontak berhasil mengejar mereka. Mau tak mau Haknyeon harus menghadapi mereka.
"Sam, bawa mereka ke gudang bawah tanah," seru Haknyeon sambil mengacungkan pedangnya seperti saat ia akan menghadapi ayahnya ketika latihan.
"Biar ku bantu,"kata Guanlin sambil meraih pedang hiasan di dinding.
"Pergilah dengan yang lain Guan."
"Kau pikir aku akan meninggalkanmu, sudah cukup mereka mengambil orang tuaku. Kau mati, aku juga mati," jawab Guanlin menggebu-gebu.
"Kau gila? Bagaimana Jinyoung ha?" teriak Haknyeon sambil menghindar dari serangan salah satu pemberontak. Kini ia berdiri memunggungi Guanlin.
"Berhentilah mengoceh Yeon, atau kita akan benar-benar mati," jawab Guanlin sambil mengayunkan pedangnya ke pemberontak yang satunya.
"Bodoh ! kau mengayunkannya kurang cepat !" komentar Haknyeon tanpa mengalihkan tatapan dari musuh di depannya. Wajah orang di depannya ini sangat kumal, Cih, melihatnya saja malas.
Keduanya sibuk menghadapi musuh masing-masing, Guanlin bahkan sampai harus berlari di atas meja untuk menghindar.
"Sudah cukup kalian mengobrak-abrik rumahku," gerutu Haknyeon dan dalam sekali tebas ia berhasil membuat lawannya terkapar. Di saat yang sama Guanlin berhasil menendang musuhnya dan menancapkan pedang ke perutnya. Haknyeon dan Guanlin saling berpandangan, inilah pertama kalinya mereka harus membunuh orang untuk bisa bertahan hidup.
Mereka berdua lalu bergegas menyusul Woojin, Jinyoung, dan Samuel yang sudah mencapai gudang bawah tanah.
"Bantu aku menyingkirkan rak-rak ini," seru Hanyeon. Cepat-cepat ia, Guanlin, Donghyung, dan Woojin memindahkan rak-rak kayu itu ke pinggir. Tak ada pintu atau apapun, hanya dinding berwarna kelabu.
"Pasti ada tuasnya, tapi dimana?" Haknyeon berpikir keras. Matanya menelisik di sekitar dinding, ia meraba-raba dan mengetuk-ngetuk dinding itu dan... KETEMU. Ia menekan sisi dinding dan tiba-tiba dinding di hadapannya bergeser. Akhirnya mereka menemukan jalan rahasia yang dimaksud.
"Ayo cepat masuk," perintah Haknyeon.
Donghyun mendorong Guanlin untuk menyingkir dan masuk lebih dulu. Woojin hendak melangkah masuk juga tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu dalam tubuhnya, tubuhnya mendadak terasa sangat panas.
Tampaknya tak hanya Woojin yang merasakannya karena saat ia menatap Haknyeon, tampak Haknyeon jatuh berlutut sambil memegangi dadanya. Woojin tak tahu kenapa tapi jantungnya juga terasa sakit. Guanlin, Jinyoung, dan Samuel juga merasakan hal yang sama. Samuel bahkan mengerang karena kesakitan.
"Sepertinya eksperimenku mulai bereaksi," ujar Donghyun.
"Apa maksudmu?" Bahkan hanya untuk bicara, sudah membuat rasa sakit di jantung Haknyeon bertambah.
"Aku akan melihat bagaimana hasilnya, jika berhasil luar biasa sekali."
"Apa yang kau masukkan dalam air Donghyunnnn," teriak Haknyeon, setelah itu ia terbatuk-batuk dan memuncratkan darah.
"Selamat tinggal kawan-kawan," donghyun menyeringai lalu menarik tuas pintu itu dari dalam sehingga pintu kembali bergeser dan tertutup.
"AKGHHHHHHHHHHH," Guanlin menggeliat menahan rasa sakit di tubuhnya.
Suara derap langkah-langkah kaki terdengar menuruni tangga. Akh..sialan, para pemberontak itu berhasil mengejar. Haknyeon tak bisa melawan, bahkan untuk berdiri saja rasanya ia tak mampu.
"Ini dia anak-anak bangsawan yang korup itu."
Korup? siapa yang dia maksud korup? Ingin rasanya ia menebas orang yang bicara kurang ajar itu.
Orang-orang itu menyeret mereka berlima tanpa peduli rasa sakit yang mereka rasakan. Perasaan Haknyeon rasanya seperti diinjak-injak melihat bagaimana orang-orang ini menyeret teman-temannya. Bahkan meski Samuel yang muntah darah dan Guanlin yang jatuh mengerang kesakitan, mereka tetap menariknya dengan kasar.
Mereka digiring keluar rumah. Tampak kepanikan di sepanjang jalan, mayat-mayat prajurit bergelimpangan di jalan-jalan. Haknyeon merinding, beberapa prajurit itu adalah prajurit kepercayaan ayahnya, tapi dimana ayahnya sekarang?
Mereka digiring ke kediaman keluarga Lee. Di halaman itu tampak para bangsawan dikumpulkan. Darah Haknyeon mendidih melihat ayahnya diantara para bangsawan itu dengan luka parah. Terlebih saat salah satu pemberontak itu memukul wajah ayahnya.
"AYAHHHHHHHHHHHHHHHHH.," Haknyeon meronta-ronta, tapi justru pukulan di perut yang ia dapatkan.
Mereka berlima di paksa berlutut di samping para bangsawan lain yang ketakutan. Banyak anak-anak juga yang usianya lebih muda dari Samuel.
Seorang laki-laki yang Haknyeon kenali sebagai salah seorang bangsawan, berjalan mendekati tuan Lee, ternyata orang itu yang berkhianat. Cih...
Laki-laki itu menggumamkan sesuatu di depan wajah tuan Lee kemudian ia menendangnya berkali-kali tanpa ampun. Haknyeon menahan nafas, giginya bergemeretak. Cih, Donghyun bangsat, ia tinggalkan keluarganya bahkan juga meracuni ia, Woojin, Guanlin, Jinyoung, dan Samuel hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Laki-laki itu beralih ke tuan Joo yang sudah babak belur. Apa yang mau dia lakukan?
"Dia putramu ha?" ucap laki-laki itu sambil menunjuk Haknyeon.
"Jangan sentuh dia," jawab tuan Joo dengan suara parau.
"Hey nak, kau mau melihat ayahmu mati?"
"BRENGSEK , JANGAN SENTUH AYAHKU !"
Laki-laki itu menyeringai kecil, "Apa ini? Joo yang perkasa tumbang seperti ini,"laki-laki itu menarik rambut tuan Joo hingga matanya berhadapan dengan mata laki-laki itu.
"Kau bisa bunuh aku asal biarkan dia selamat," ucap tuan Joo lirih.
Haknyeon menggeleng kuat, apa-apa'an ayahnya bicara seperti itu? Tidak...tidak ada yang boleh mati, dia saja yang menggantikan ayahnya. Tidak..tidak... Haknyeon sudah tak mampu membendung air matanya lagi. Rasa sakit di jantungnya juga semakin menjadi-jadi.
"Baiklah," laki-laki itu tersenyum licik. Ia mengambil pedang dari tangan salah satu bawahannya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" Haknyeon semakin meronta-ronta, tak peduli ia muntah darah lagi. Tak peduli rasa sakit semakin mencekamnya saat ia bicara.
Tuan Joo menatap anaknya lembut, ia tersenyum sekilas. Tidak... jangan tersenyum seperti itu..., Haknyeon tak bisa menerima senyuman itu. Air mata makin membanjiri pipinya. Tuan Joo memejamkan matanya dan setelah itu jantung Haknyeon seolah berhenti. Pedang itu mengayun tinggi lalu menebas kepala ayahnya.
Tenggorokan Haknyeon tercekat, tubuhnya membeku. Samuel menangis histeris di sebelahnya sambil memanggil-manggil ayah mereka. Sebelah tangannya menggapai-nggapai tapi salah satu pemberontak itu menahan bahunya, memaksanya untuk tetap di tempat.
"AKGHHHHHHHHHHHHHHHHHH !"Haknyeon berteriak keras menghadap langit. Inikah yang dirasakan Gualin dan Jinyoung saat melihat tuan dan nyonya Lai dibantai? Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum. Haknyeon menunduk sambil memukul-mukul dadanya, ia menangis histeris dan mencakar tanah seola ingin menghancurkannya. Rasanya sakit sekali. Sangat sakit.
Woojin, Guanlin, dan Jinyoung diam-diam sudah menangis sejak tadi. Ketika pedang itu terayun di udara, Guanlin langsung menepis kuat penjaga yang memegang tangannya dan menutup mata Jinyoung. Ia tak ingin Jinyoung melihat kematian mengerikan lagi persis seperti yang terjadi pada ayah mereka.
"Anak-anak ini begitu emosional, " ujar Laki-laki yang menebas tuan Joo tadi sambil menyeringai, "Tenang saja, setelah ini kalian akan menyusul."
Mendengar hal itu Haknyeon langsung mengangkat kepalanya, tubuhnya bergetar menahan amarah luar biasa. Ia hendak meronta, tapi tiba-tiba rasa sakit di dadanya kembali mendera. DONGHYUN SIALAN ! Semua ini karena dia. Dia tak bisa melawan karena rasa sakit dari racunnya. Seharusnya Donghyun gunakan racun yang efeknya cepat jika memang berniat ingin membunuh dia dan yang lainnya. Setidaknya dengan begitu dia tak perlu melihat hal mengerikan tadi.
Laki-laki itu mendekati Samuel, Haknyeon sudah was-was setengah mati. Tolong...jangan Samuel.
"Kita mulai dari yang termuda saja," Laki-laki itu mengayunkan pedangnya tinggi-tinggi.
"TIDAKKKKKKKKKKKKK !" jerit Haknyeon histeris. Tapi teriakannya tak menghentikan pedang itu untuk menusuk tubuh Samuel. Bagai dua bom meledak di saat berdekatan. Haknyeon tak bisa berkata apa-apa lagi saat tubuh Samuel jatuh ke tanah. Adiknya... adiknya yang mulai ia sayangi seperti adik kandungnya sendiri...
Jinyoung menangis sesenggukan di rangkulan Guanlin sementara Woojin tampak sangat syok. Ketika laki-laki itu mendekati Guanlin dan Jinyoung, Haknyeon sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Tubuhnya membeku dan tak bisa bergerak.
Guanlin melepaskan rangkulannya dan bersujud di depan orang itu, "Kumohon, bunuh saja aku tapi biarkan adikku hidup," ucapnya dengan mata berlinang. "Bi...biarkan dia hidup...,"ucapnya sambil terbatuk darah.
Jujur Haknyeon merasa bodoh, ia bahkan tak mencegah orang itu saat akan menusuk Samuel. Kakak macam apa dia? Dia tak pantas menjadi kakak dan bagian keluarga Joo. Harga diri Haknyeon terasa terinjak-injak hingga tak berbentuk lagi.
Laki-laki itu menyeringai, "Minggirlah nak, seorang Lai tidak sepatutnya bersujud di kaki orang," ucapnya sambil mendorong Guanlin, tapi Guanlin terus memeluk kaki laki-laki itu.
"Biarkan dia hidup, kumohon...," teriaknya histeris. Jinyoung yang melihat kakaknya memohon-mohon ikut terisak.
"Enyahlah," laki-laki itu menendang Guanlin hingga terpental. Ia mendekati Jinyoung yang gemetaran. Sebelum mengangkat pedangnya ia menyeringai lebar, "Ayahmu pasti senang nak melihat anaknya menyusulnya."
Selanjutnya kejadiannya begitu cepat, pedang itu sudah menyabet Jinyoung. Bahkan Guanlin tak sempat berteriak karena tercekat.
Laki-laki itu tertawa keras, tawanya terdengar sangat sumbang di telinga Haknyeon. Darahnya mendidih, kedua tangannya mengepal kuat, sementara matanya tak lepas dari wajah laki-laki itu.
Laki-laki itu mendekati Guanlin, "Sekarang giliranmu nak."
Haknyeon tak bisa lagi diam. Meski denyutan di jantungnya menyerang lagi, ia tetap berlari, merebut pedang orang yang tadi memegangi Jinyoung dan berlari menyerang laki-laki itu dengan amarah berapi-api.
"Jangan bodoh nak," ujar laki-laki itu saat berhasil menangkis pedang Haknyeon. Haknyeon menarik pedangnya dan menyerang lagi. Keduanya terlibat adu pedang yang sengit. Haknyeon benar-benar mengeluarkan semua kemampuannya.
"Ayahmu mengajarimu dengan bagus nak," laki-laki itu terkekeh.
"DIAM KAUUUUUU..."
"Tindakan gegabah," ujar laki-laki itu saat Haknyeon memajukan pedangnya. Laki-laki itu menepisnya dan dengan gerakan cepat ia menusukkan pedangnya menembus perut Haknyeon.
Haknyeon tersentak. Mulutnya memuncratkan darah ketika pedang itu ditarik dari perutnya. Tubuhnya jatuh meringkuk ke tanah. Apa setelah ini di akan menyusul keluarganya? Haruskah ia bahagia? Jika ia tetap hidup setelah ini, bukankah artinya dia harus hidup dengan menangung perasaan yang hancur. Bukankah itu jauh lebih menyiksa?
Sambil memegangi perutnya ia melihat laki-laki itu berjalan ke arah Guanlin. Guanlin tampaknya sudah pasrah. Sinar matanya meredup dan kosong. Selanjutnya yang terjadi mirip seperti yang Haknyeon lihat saat Jinyoung dibunuh.
Haknyeon memejamkan matanya, ia sudah tak sanggup lagi melihat kematian sahabatnya. Bibir Haknyeon bergetar mendengar suara teriakan Woojin sekilas, tanda bahwa ia telah juga menyusul Guanlin.
Perlahan ia membuka kelopak matanya, saat suara tapak sepatu laki-laki itu semakin mendekat. Dengan mata sayu tanpa semangat hidup ia tatap laki-laki itu. Bibirnya menyeringai seolah mengejeknya.
"Apa yang kau tertawakan nak?"Laki-laki itu menendang perut Haknyeon tanpa rasa ampun.
Darah kembali menyembur dari mulutnya, bahkan kali ini lebih banyak. Tapi senyum mengejek Haknyeon tak lepas dari bibirnya. Untuk apa dia mengumpat lagi? Sebentar lagi nafasnya akan menghilang selamanya. Ia ingin mengejek laki-laki ini sepuasnya.
"Sepertinya kau sudah tak sabar ingin menyusul teman-teman dan keluargamu," laki-laki itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Haknyeon sudah siap dengan apa yang akan terjadi, bahkan ia menantikannya. Bagus, dengan begini ia akan segera menyusul ayahnya.
Pedang itu terayun dan selanjutnya Haknyeon tak merasakan apa-apa lagi.
$%^&*()
.
.
.
Haknyeon pikir ia sudah mati, tapi saat ia bangun yang ia lihat adik dan sahabat-sahabatnya terduduk diantara mayat-mayat yang bergelimpangan. Haknyeon rasa mereka sedang ada di pinggir hutan. Ia melihat mata Guanlin berkilat-kilat merah dan di saat yang sama ia merasakan rasa haus luar biasa.
Itulah awal mula titik balik kehidupan mereka sebagai mahkluk peminum darah. Haknyeon menghentikan ingatannya. Tanpa sadar pipinya ikut basah saat tadi ingatannya memutar kejadian 300 tahun yang lalu.
Guanlin menepuk-nepuk bahu Haknyeon dengan tatapan simpati, "Aku lebih beruntung karena tak melihatmu dibunuh," ucapnya.
Haknyeon menarik napas panjang lalu buru-buru mengusap pipinya dengan tangan, "Aku ke kamar dulu."
Haknyeon pergi begitu saja, ia ingin menenangkan diri. Mungkin tidur sebentar bisa membuatnya melupakan rasa sakit.
TBC...
.
.
.
Hay readers, sudah ku up cerita masa lalu mereka. Pedih? Entahlah... mungkin sedikit mendrama.
Sejujurnya author ingin nangis waktu nulis ini. Tapi entah kalian, entah feelnya nyampek di kalian atau tidak...
Jangan lupa review ya...
_Salam Author_
