Let's Play 23
"Lukanya tidak terlalu parah," Guanlin membalut permukaan tangan Seonho dengan perban.
"Kau berlebihan hyung, itu hanya luka ringan, tidak usah diperban," jawab Seonho, namun tetap membiarkan Guanlin membungkus tangannya.
"Kau bisa ceroboh juga ternyata," Guanlin tersenyum kecil.
"Bukan ceroboh, hanya kecelakaan kecil."
"Kakimu hampir terkena pisau dan siraman air panas, itu kecelakaan kecil?"
"Selama itu tak membuatku harus menginap di rumah sakit, itu bukan masalah besar."
"Kau benar-benar keras kepala Seonho."
"Terima kasih."
"Aku tak memujimu, kau tahu...,"
"Maksudku terima kasih untuk bantuannya."
Guanlin yang sudah selesai dengan perban Seonho tersenyum kecil, "Entah kenapa aku merasa lebih banyak tersenyum sekarang..."
Seonho mengerjap-ngerjap tak mengerti, apa hubungannya ? apa Guanlin membuka topik baru?
"Sejak keluarga ku sering bermain-main dengan gengmu," lanjutnya.
Ah, jadi itu maksudnya..., Seonho menghela nafas pelan, "Keluargamu sangat niat mencari masalah dengan gengku hyung."
"Itu karena kalian membuat semuanya bertambah seru."
"Kalau begitu lain kali geng ku tak akan menanggapi masalah yang kalian buat," ujar Seonho.
"Bagiku tak masalah,"jawab Guanlin tenang.
Sudut bibir Seonho sedikit tertarik ke atas, "Kau itu licik hyung, kurasa yang terlicik diantara semua saudaramu."
Guanlin tak tahan untuk tak terkekeh, "Kita ini sama saja Seonho, kurasa tak baik mengolok satu sama lain," bibirnya menyeringai tipis.
"Aku tak menyangka kau bisa masak hyung," ujar Seonho.
"Kau juga tak terlihat pandai memasak."
Seonho menanggapinya dengan wajah datar, ia anggap itu pujian sekaligus realita.
"Dulu aku selalu membantu ibuku memasak di dapur, makanya aku paham masalah dapur," ujar Guanlin.
"Dulu?" sebelah alis Seonho terangkat.
"Dia sudah pergi."
Seonho terdiam sesaat, "Maafkan aku," sesalnya.
Guanlin tersenyum, "Kenapa setiap orang selalu meminta maaf jika membahas orang yang sudah tidak ada?"
"Aku hanya takut kau tersinggung."
"Mana mungkin aku tersinggung karena membicarakan ibuku sendiri."
"Kau jadi sedih mengingatnya."
"Aku ingat dia setiap detik dalam hidupku, jadi aku sedih sepanjang hidup?"
Seonho menghela nafas pelan,"Terserah."
Senyum Guanlin semakin lebar, ia merasa menang.
"Kenapa kalian berlima tinggal serumah?"Seonho agak ragu menanyakan ini, tapi dia agak penasaran. Meski saudara mereka harusnya punya rumah dan keluarga masing-masing kan.
"Sejak kapan kau tertarik dengan keluargaku?"Guanlin masih dengan senyumnya.
"Aku hanya penasaran."
"Lama-lama kau akan tertarik nanti."
"Katakan saja kalau tak mau menjawabnya," ujar Seonho dingin. Entah Guanlin yang sengaja menggodanya atau memang memutar-mutar kalimat untuk menghindari jawaban.
"Kau ingin tahu? Baiklah, aku hanya akan mengatakan hal ini padamu."
Seonho benar-benar ingin tahu, ia mulai memperhatikan Guanlin dengan seksama.
"Keluarga kami masing-masing bukan tinggal di Seoul Seonho, makanya kami berlima tinggal serumah, kau tahu sendiri kan bagaimana kekhawatiran keluarga, mereka mau aku dan saudaraku saling mengawasi dan menjaga, supaya tak ada yang salah langkah."
Guanlin mengatakan hal itu dengan sangat menyakinkan hingga Seonho hanya mengangguk-angguk mengerti. Tak memikirkan hal aneh apapun.
Guanlin senang karena Seonho tak lagi banyak bertanya, ia cukup terkejut sebenarnya saat Seonho tiba-tiba menanyakan soal keluarganya, tapi ia harus memberi Seonho jawaban jika ingin anak itu tak curiga, maka terciptalah alasan logis yang barusan ia utarakan.
"Kalau begitu sekarang ganti aku yang bertanya," ujar Guanlin, "Youngmin ssaem itu bibimu? aku agak terkejut."
"Semua orang terkejut."
"Dia tampak begitu muda, dan kau..., mungkin wajahmu yang sedikit lebih boros dari usiamu," ujar Guanlin dengan nada yang Seonho yakin setengah bercanda.
"Sepertinya kau membutuhkan cermin hyung," sindir Seonho.
Guanlin tertawa kecil, "Tapi bibimu itu sungguh wanita yang cantik, kau tahu, dia punya pesona wanita muda yang menawan, dan dia tampak cerdas."
"Semua orang mengatakan hal itu."
"Kau tak ingin berpergian seperti bibimu? melihat banyak hal?"
"Aku sudah bisa melihat dunia dari buku," jawab Seonho santai.
"Rasanya pasti berbeda melihat langsung dengan hanya melihat dan membaca dari kertas."
Seonho menatap Guanlin dengan tatapan datar yang lebih dari biasanya, "Sebagai orang yang lebih suka tidur di perpustakaan dari pada jalan ke kantin, lebih baik diam saja," sindirnya.
Guanlin terkekeh kecil, "Baiklah...baiklah, kita ganti topik pembicaraan, bgaimana perasaanmu bergaul dengan mereka berempat selama ini?"
Sebelah alis Seonho terangkat dan dahinya mengernyit,"Kenapa menanyakan hal itu?"
"Aku hanya penasaran," Guanlin menjawab sama persis dengan kalimat Seonho beberapa saat yang lalu.
Seonho menghela nafas pelan, "Perasaanku baik."
"Begitu? Katakan saja kalau tak mau menjawabnya," kembali Guanlin mengulang kalimat Seonho, membuat Seonho merasa terkena bumerang sendiri.
"Terkadang mereka terlalu berisik, menjengkelkan, dan berlebihan, aku tak suka hal-hal semacam itu," Seonho menjawab dengan jujur.
"Tapi kau terlihat menikmati waktumu dengan mereka."
"Aneh kan? perasaan manusia itu memang aneh, seseorang bisa menyayangi sesuatu meski itu hal yang sangat ia benci, bagaimana bisa..." gumam Seonho.
"Kau benar, memang aneh, tapi itu yang disebut orang dengan cinta."
"Salah satu hal rumit yang bisa membuat otak manusia kacau, aku penasaran, sebenarnya bagaimana cara kerjanya."
"Kau ingin tahu? Berarti kau harus merasakannya."
"Ah..., aku tak begitu tertarik, orang-orang disekitar sudah bisa jadi sumber data yang bagus."
"Kau ini benar-benar..."
"Kau sudah pernah merasakannya hyung?"
"Iya kalau maksudmu pada keluarga."
"Selain itu?"
Guanlin terkekeh kecil, "Aku tak tahu apa maksudmu Seonho."
"Kuanggap itu tidak."
$%^&*()
.
.
.
Jinyoung berjalan tergesa ke ruang tengah, ketika ia datang, semua orang tampak terkejut sambil menatap Jihoon. Tapi... ia tak sempat memikirkan atau bertanya apa yang terjadi, ia berjalan cepat ke arah Woojin dan menyeretnya paksa diam-diam.
Tatapan Seonho tadi cukup membuat pikirannya kacau balau. Ia menyeret Woojin sampai ke teras depan, tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia menjabat tangan kanan Woojin, sebuah es runcing muncul dari telapak tangannya dan menembus telapak Woojin.
Sontak hyungnya itu mengerang dan reflek membakar tangan Jinyoung. Jinyoung menutup matanya, menahan kekuatan yang hendak melindungi telapak tangannya dari api. Bukannya melepaskan jabatan tangan, ia justru meletakkan tangan kirinya ke api. Rasanya sakit...perih...
Woojin terbelalak dan ia langsung melepaskan jabatan tangan mereka,"Kau gilaa?" serunya marah.
Darah merembes dari telapak tangan Woojin, itu tak masalah. Toh,perlahan luka ditangannya menutup dengan sendirinya. Tapi masalahnya pemulihan Jinyoung itu lambat. Yang terlambat dalam keluarganya. Jangan tanya Woojin apa sebabnya, tak ada yang tahu.
Telapak tangan Jinyoung terbakar, kulitnya merah melepuh.
"Kau gila? Apa yang kau lakukan ha?" bentak Woojin panik.
"Sudahlah hyung, lukamu sebentar lagi akan sembuh," Jinyoung meringis menahan perih.
"BUKAN AKU, TAPI KAU ! Astaga, kau kerasukan apa ," Woojin mengusap wajahnya kasar.
"Santai saja,"Jinyoung masuk lagi ke dalam rumah, tak mau peduli dengan Woojin yang masih panik di teras. Tapi saat di ruang tamu ia berpapasan dengan Youngmin yang sepertinya akan pergi ke teras.
"Daehwi bilang tanganmu terluka saat aku ke kamar mandi," ujar Youngmin khawatir, ia raih kedua tangan Jinyoung tanpa permisi, melihat lekat-lekat luka lepuh di telapak tangannya.
"Ini harus cepat diobati," Youngmin mendorong Jinyoung untuk duduk di kursi sebelum Jinyoung sempat menolak, "Tunggu disini, aku ambilkan obat."
Youngmin pergi entah kemana selama beberapa saat lalu ia kembali dengan kotak p3k. Dengan telaten ia membalutkan perban ke kedua tangan Jinyoung setelah diolesi akohol dan obat terlebih dahulu.
"Kau tak merasa perih?" tanya Youngmin saat ia mestirilkan luka Jinyoung dengan alkohol. Pasalnya muridnya itu hanya diam, tak mengaduh sakit atau mengerang.
"Lanjutkan saja," jawab Jinyoung singkat.
"Entah kau ini kuat atau apa, tapi kau benar-benar irit ekspresi Jinyoung, sikapmu itu menggemaskan sekali," ujar Youngmin kembali melanjutkan kegiatannya.
Jinyoung tak menanggapi, bukannya ia tak merasa pedih, rasanya sangat perih saat alkohol itu menyentuh kulitnya, benar-benar menyakitkan, tapi ia menahan sekuat tenaga. Mungkin pikirannya sedikit konyol, tapi Jinyoung tak ingin lagi menunjukkan ekspresi kesakitan atau kelemahan apapun di depan manusia. Ia seorang Lai, penerus keluarga Lai harus pandai menyembunyikan perasaanya, apalagi menyembunyikan kelemahan.
"Bagaimana kau bisa ceroboh begini," omel Youngmin.
Jinyoung mulai berpikir betapa bawelnya guru barunya ini dan ia malas mendengarnya. Seandainya Guanlin tak mengajaknya pergi ke sini. Mungkin sekarang ia sudah tenggelam dalam buku dengan secangkir darah di perpustakaan rumah mereka. Menikmati sunyi senyapnya malam yang menentramkan jiwa.
"Tapi tindakanmu itu sangat gentleman, itu bagus Jinyoung," puji Youngmin dengan senyum lembutnya.
Jinyoung menatapnya dan butuh lebih lama baginya untuk berkedip dari saat normal, ada jalaran hangat merayap dari jantungnya ke pipi, yang meskipun belum cukup membuat rona di pipi pucatnya kentara, tapi membuat pikirannya seolah berhenti sesaat. Dalam sesaat roda-roda otaknya seolah berhenti bekerja sebentar, ikut terpesona dengan senyum semanis gula yang jujur Jinyoung sangat sangsi mengakuinya, itu adalah senyum yang sangat indah.
"Sekarang biar kubalut lukamu dengan perban, tampaknya kau akan kesulitan mencatat kalau begini," ujar Youngmin sambil melilitkan perban ke telapak tangan Jinyoung.
Ia masih tak merespon. Mulutnya bungkam, perasaanya sudah kembali seperti biasa. Sehari tak mencatat pelajaran tak akan membuatnya ketinggalan apapun, meski teknologi manusia itu berkembang pesat tiap tahunnya, tapi pelajaran yang disampaikan dalam buku pembelajaran, ia rasa tak banyak yang berubah.
"Kau benar-benar anak pendiam ya, apa begitu menyenangkan menjadi seorang pendiam?" tanya Youngmin di sela-sela kegiatannya membalut perban, "Apa tak melelahkan menjadi pemendam?"
Jinyoung bukannya pura-pura tak mengerti, tapi menjawab pertanyaan semacam itu, perlukah? Ia tak merasa perlu untuk menjawabnya. Ia tenang dan menikmati dirinya dalam kesunyian, dia benci kebisingan dan keberisikan mulut orang-orang, terutama yang bicara omong kosong, ia tak suka buang-buang energi hanya untuk bicara pada orang lain sementara orang itu memahaminya pun tidak. Menjadi pendiam adalah jati diri yang sekarang sangat ia cintai. Tapi ditanya soal lelah? Apa jawabannya? Bimbang...ragu, pertanyaan yang satu ini bahkan masih menjadi gaung pertanyaan dalam kepalanya. Jadi bagaimana ia menjawabnya?
"Sudah selesai," ujar Youngmin. Ia meletakkan plester ke dalam kotak p3k, membereskan semua peralatan lalu menutupnya. Kembali ia meraih kedua tangan Jinyoung, bibirnya mengukir senyum tulus dan mata indahnya memancarkan sinar lembut meneduhkan yang hanya dimiliki seorang wanita. Bisikan lembutnya selanjutnya menghantarkan getar lembut yang menelusup merambat ke pembuluh darah Jinyoung. Desir lembut yang terasa aneh baginya, berhasil menimbulkan rona di pipi pucatnya dan mengubah binar matanya yang dingin seolah tanpa perasaan, menampakkan sedikit gairah. Apa-apa'an ini? Hei...hei.
"Cepatlah sembuh," satu kalimat sederhana itu seolah seperti mantra yang membekukan waktu sesaat. Hei...hei, kenapa sulit bagi Jinyoung untuk memahami apa yang sedang terjadi?
"Aku harus kembali ke dapur, tunggulah dengan yang lain di ruang tengah, ok," Youngmin mengusap lembut rambut coklatnya. Bagus, sentuhan itu membuat Jinyoung merasa bertambah bodoh.
Youngmin meletakkan kembali kotak p3k itu ke tempatnya dan pergi lagi ke dapur, melanjutkan acara memasak makan malam yang tertunda.
Aneh, apa itu tadi? Kenapa rasanya aneh sekali? Jinyoung menghela nafas pelan dan seketika wajah datar pucatnya kembali. Terserahlah, apapun itu tadi, terserah. Sebaiknya ia tak perlu mempedulikannya, tapi bisakah? bisakah jika setiap pikirannya menampilkan senyum indah nan teduh itu jantungnya yang selalu setenang dan sedamai semilir angin pagi, tiba-tiba ribut seperti gumulan ombak pantai. Untuk pertama kalinya sejak ia berubah menjadi makhluk malam, jantungnya...seperti dipompa cepat.
$%^&*()
.
.
.
Jhoon menyesal ! ia menyesal sudah membiarkan hal aneh keluar dari mulutnya. Pasalnya semua orang kini menatapnya. Ia merasa seperti tersangka di pengadilan.
"Kau barusan mengatakan apa hyung?" tanya Euiwoong dengan raut yang masih tak percaya.
"Ah, lupakan saja, aku hanya bercanda," jawab Jihoon. Tidak...tidak, dia tak akan melanjutkan ide gilanya. Tidak karena ia tahu itu hanya akan menambah masalah dan sulit dipercaya.
"Kupikir kau benar-benar sudah tak waras hyung tadi," ujar Euiwoong setengah lega.
"Harusnya itu tadi sungguhan, pasti akan seru," komentar Samuel.
Kesal ! Hyungseob melemparkan bantal di sebelahnya pada Samuel hingga membuat handphone laki-laki itu hampir jatuh. Otomatis ia dihadiahi bibir mengerucut dan alis berkerut.
"Woah..., kau menggemaskan sekali sih," seru Daehwi yang tiba-tiba muncul, tak ada yang menyadari kedatangannya dari arah dapur."Seperti bayi," tambahnya.
"Sialan, siapa yang kau panggil bayi ha !"Samuel setengah membentak. Dahinya semakin terlipat dan bibirnya tambah mengerucut.
"Tuh kan, bayi gampang marah kalau diganggu," jawab Daehwi santai sambil menghempaskan pantatnya ke sofa, tepat di samping Hyungseob.
Kesal mendengarnya, Samuel lempar lagi bantal yang tadi dilempar Hyungseob padanya dan mengenai wajha Daehwi.
"Eh, biasa aja dong ! bayi gak usah bandel !" bantal itu Daehwi lemparkan lagi pada Samuel dengan lebih keras.
Samuel yang sudah marah membalas lagi lemparan Daehwi dengan bantal yang sama hingga akhirnya terjadilah perang lempar bantal disertai umpatan dan teriakan kesal satu sama lain. Hyungseob tak habis pikir, ini kenapa Daehwi dan Samuel yang jadi ribut? Astaga di rumah orang pula.
"HEH , STOP !"teriak Hyungseob sambil menahan Daehwi yang bersiap melempar bantal lagi.
"Dasar rambut mangkok !" olok Samuel.
"Heh , bayi bilang apa kau !" Daehwi hampir saja berdiri menghampiri Samuel tapi tangannya ditarik Hyungseob lebih keras hingga ia kembali terduduk.
"Diem wi, jangan bikin ulah di rumah orang ah," omel Euiwoong yang ikut-ikutan menepukkan bantal ke wajah Ddaehwi.
"Gak usah ikut-ikutan !" tangan Daehwi melewati Hyungseob dan mendorong keras bahu Euiwoong hingga Euiwoong terhempas ke pegangan sofa.
"BACOT AH ! Bentak Euiwoong yang karena tak terima, merengsek dan menarik ujung rambut pirang teman tengkarnya itu.
"WHAT THE ..." Daehwi meringis merasakan sakit di kulit kepalanya, Euiwoong benar-benar menjengkelkan, kepalanya rasanya sampai pening.
Hyungseob yang berada diantara mereka agak kesulitan memisahkan keduanya yang sekarang sudah terlibat saling tarik menarik dan dorong. Persis seperti pertengkaran anak kecil.
Jihoon yang melihatnya jadi pusing sendiri. Apalagi saat Hyungseob mulai ikut jadi korban keberingasan adik-adiknya. Astaga, ini rumah orang dan mereka membuat kekacauan memalukan seperti ini? bagaimana kesan mereka di mata bibi Seonho sebagai teman keponakannya ? dan sebagai murid di mata sang pendidik?
"AWW..., HOON, BANTUIN... HEH KALIAN BERDUA, BERHENTI !"seru Hyungseob yang kesulitan menahan sebelah tangan Daehwi dan bahu Euiwoong.
Tak tahan dengan pertengkaran kekanakan di depannya, Jihoon bangkit dari kursinya dan menarik kuat bahu Euiwoong, menjauhkan tangannya yang mencengkram rambut Daehwi tanpa peduli Daehwi memukul-mukul lengannya sambil mengumpat-umpat minta dilepas.
Woojin yang baru kembali dari teras depan, seketika pikiran penuh kekhawatirannya pada Jinyoung mendadak pecah buyar karena pertengkaran heboh di depan matanya. Astaga, demi apapun ia baru meninggalkan mereka sebentar dalam situasi mencegangkan dan sekarang sudah berubah menjadi brutal.
Disisi lain Haknyeon dan Samuel yang melihat pertengkaran itu hanya saling berpandangan karena tak tahu apa yang harus mereka lakukan.
"Bukannya awalnya ini masalahku dengan Daehwi ya hyung," bisik Samuel.
"Mungkin mode tak waras mereka sedang kambuh," jawab Haknyeon dengan berbisik pula.
TBC
.
.
.
Hay readers, akhirnya aku update lagi
Maaf untuk keterlambatan update
And hoshi stand... yuhuuuu, soonhoon is here, wkwkwkwk
Author ada ff soonhoon sih, kalau berminat bisa mampir sebentar.
Jangan lupa review ya...
_Salam Author_
