.

.

.

"Kau tak papa?"

Seonho terdiam dengan mulut setengah terbuka dan mata yang membelalak, menunjukkan betapa ia belum bisa lepas dari kekagetan. Bagaimanapun ia baru saja melihat hal yang tak wajar, mana mungkin dia baik-baik saja?

Bahkan meski tangan Guanlin sudah terulur di depan wajahnya, Seonho masih tak bergeming. Menyadari kondisi Seonho, Guanlin berjongkok, menatap penuh khawatir.

"Apa itu tadi?" gumam Seonho lirih.

"Apa yang kau lihat?"

Seonho terdiam, matanya milirik tanah yang mengotori kakinya, tampak enggan untuk mengakui apa yang ia lihat. Cukup lama, Guanlin menunggu jawabannya sampai ia menyadari angin berhembus makin kencang dan malam semakin larut. Cepat-cepat ia lepas jaket birunya, memakaikannya ke pundah Seonho dengan hati-hati.

Pikiran Seonho sedang membayangkan taring dan mata merah menyala yang siap menerkamnya, ketika ia merasakan sesuatu menyentuh bahunya. Ia mendongak, terkejut dengan perlakuan Guanlin.

"Kuantar kau pulang," ujar Guanlin.

"Kau mengenal laki-laki tadi?" tanya Seonho.

"Tidak."

"Kau berbohong, ia mengenali kau dan keluargamu," desak Seonho.

Guanlin menarik nafas keras, "Ya, aku mengenalnya, dia seniorku di SMP."

"Sungguh?"

"Ya."

"Kenapa kau bisa ada di sini?"

"Aku mengkhawatirkanmu."

"Untuk apa khawatir? Kau tahu aku akan dalam bahaya?" Seonho bertanya semakin gencar, mendesak Guanlin hingga ekspresi wajahnya perlahan berubah panik.

"Wilayah ini agak rawan Seonho."

"Ini wilayah rumahku hyung, bukan rumahmu, seharusnya aku yang lebih tahu."

"Kau tak baca berita?"

"Aku baca koran tiap pagi."

"Jadi kau pasti tahu kan akhir-akhir ini banyak orang hilang, terutama di wilayah ini."

"Tidak banyak, masih dua, juga dalam waktu tak berdekatan, menurutku masih situasi wajar dalam berita. Setiap saat, koran memberitakan orang hilang," Seonho berargumen semakin tajam, alasan Guanlin terasa kurang pas baginya. Ini bukan drama, dimana tiba-tiba seseorang berbalik arah begitu saja dan menyelamatkan seseorang yang dalam bahaya. Harus ada alasan kuat.

"Aku mengkhawatirkanmu, itu alasannya," ujar Guanlin dingin.

"Bahkan khawatir pun membutuhkan alasan."

Guanlin menarik Seonho berdiri tanpa mengindahkan argumen Seonho selanjutnya. Ia genggam pergelangan tangan Seonho untuk menuntunya ke motor.

"Diamlah di sini." Guanlin membiarkan Seonho berdiri di samping motor, lalu ia berjalan agak jauh. Awalnya Seonho bertanya-tanya kemana Guanlin mau pergi, tapi segera hal itu terjawab saat Guanlin memunguti belanjaan Seonho yang jatuh berhamburan.

Hampir saja Seonho melupakan kantung belanjaan pesanan ibunya, dan Guanlin masih mengingatnya dengan jelas setelah kejadian buruk tadi?

"Ibumu pasti akan menanyakan belanjaanya, kau mau kena omel?" Guanlin mengulurkan dua kantong plastik yang tampak penuh.

Meski masih dengan tatapan penuh selidik, Seonho menerima kantong-kantong itu sambil mengucapkan terima kasih.

Guanlin tersenyum sekilas, lalu lekas memakai helm, "Aku hanya bawa satu," ujarnya.

"Bukan masalah."

Guanlin naik ke sadel motor dan memberi isyarat agar Seonho juga naik. Karena kantong belanjaan yang banyak, Seonho tak berpegangan pada apapun, dan Guanlin tampaknya juga tak berniat untuk ngebut.

Motor melesat dengan kecepatan sedang, meninggalkan lokasi yang meninggalkan tanda tanya besar bagi Seonho. Beberapa kali Seonho melirik ke spion, sedikit terlihat wajah Guanlin di sana. Sebenarnya apa yang dia sembunyikan?

$%^&*()

.

.

.

Seonho menutup pintu kamarnya rapat-rapat, tak mau mendengarkan omelan ibunya yang menanyakan kenapa beberapa barang belanjaan ada yang rusak.

"INI KENAPA TELURNYA ADA YANG PECAH SEONHO?"

Seonho berdecak kesal, "Ya karena jatuhlah, mana mungkin telur pecah sendiri,"batinnya. Ia berjalan tergesa ke tempat tidur, membanting tubuhnya ke atas ranjang. Tubuhnya telentang menghadap langit-langit kamar.

Kilatan merah dan taring-taring mencuat kembali melintas di pikirannya. Wajah pucatnya yang sangat mirip dengan Guanlin..., Seonho mengusap wajahnya keras. Ini misteri teraneh yang pernah ia hadapi.

Daehwi..., wajah sahabatnya itu tiba-tiba terbayang begitu saja, begitu juga kisah vampir dalam novel-novel pemberiannya. Tersentak, Seonho langsung bangkit dari ranjang. Buru-buru ia setengah berlari ke rak bukunya, mengambil salah satu buku, membuka halaman-halamannya dengan kasar.

"90..90..,"gumamnya, ia ingat tokoh utama mengungkapkan ciri-ciri vampire di percakapan pada halaman 90'an. Tapi persisnya berapa ia lupa.

Mata putus asanya berbinar saat melihat halaman yang ia maksud. Segera ia membaca dengan seksama dari atas sampai bawah sekali lagi, mencoba memahaminya.

Wajah pucat, mata merah mengkilat, dan taring panjang di giginya. Seonho berhenti membaca sebentar. Ya, orang tadi juga berciri-ciri persis seperti yang digambarkan dalam buku. Dadanya bergemuruh tak karuan, mungkinkah?

Vampire tidak pernah makan, tidak bisa terluka dengan mudah, takut pada sinar matahari, dan menghisap darah manusia, Seonho tertegun. Tidak pernah makan? Tidak bisa terluka dengan mudah? Seketika pikirannya membayangkan Guanlin sekeluarga yang tak pernah pergi ke kantin, juga tangan Jinyoung yang baik-bak saja meski memegang badan panci berisi air mendidih, lalu Jinyoung yang muntah-muntah saat makan malam, dan ekspresi Woojin sunbae yang bad mood saat di meja makan, padahal sebelumnya dia tampak biasa saja.

Ini aneh, sikap Woojin sunbae saat makan malam, muntahnya Jinyong, atau kebiasaan mereka yang tak pernah ke kantin bisa jadi karena sebab yang wajar,entah apapun itu. Tapi tangan Jinyoung yang baik-baik saja? Seonho tak menemukan jawaban logis yang bisa menjelaskannya.

Vampir takut dengan matahari? Tapi Guanlin sekeluarganya bisa pergi dengan bebas, mereka tak terbakar seperti di dalam novel. Mereka juga ikut makan saat makan malam. Tidak..tidak..., mungkin pikiran Seonho hanya menghubung-hubungkan hal yang sebenarnya tak berkaitan. Iya..pasti begitu.

Seonho berusaha menenangkan pikirannya. Bukan kebiasaanya menjadi panik seperti ini. Tapi kenapa laki-laki aneh tadi bersikap seolah mengenal Guanlin? Begitu juga sebaliknya? Seonho bisa mendengar jelas ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka. Laki-laki itu mengatakan, kau dan saudaramu akan membunuhku karena aku berbuat ulah? ..., juga Guanlin yang menjawab aku akan lakukan lebih dari yang kau lakukan dulu.

Seonho memegang kepalanya, Tidak..tidak, itu terlalu jelas, ada sesuatu diantara Guanlin dan orang aneh itu. Bodoh kalau Seonho tak bisa menyadarinya, apalagi menolak fakta itu. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia harus berpikir bagaimana?

Daehwi, kembali nama sahabatnya itu melintas di benaknya, segera ia meraih handphone di saku celana, menscroll layar untuk mencari kontak Daehwi. Begitu ia menemukanya , langsung ia tekan tombol hijau. Hanya dua detik paggilannya langsung diterima. Berarti anak itu sedang seru main hp.

"Apa? Kau tak tahu aku sedang main game, gara-gara kau gameku tamat !" oceh suara di seberang sana.

"Terserah," jawab Seonho ketus.

"Ada apa? Tumben kau menelepon."

"Ada hal yang ingin kutanyakan padamu."

"Apa? Cepat, aku mau main game lagi."

Seonho menarik nafas keras, berharap keputusannya menanyakan hal ini adalah benar, "Kau percaya legenda vampir nyata?"

Terdengar tawa renyah Daehwi di seberang sana, seolah pertanyaan Seonho adalah lawakan. Seonho mencoba menahan emosi karena merasa mempermalukan diri sendiri.

"Tumben kau menanyakan hal itu?"

"JAWAB SAJA WI !" bentak Seonho,mendengar dari nada bicara Daehwi, ia tak tahan jika harus mendengar ejekan-ejekan yang akan dilontarkan anak itu padanya.

Beberapa saat tak ada jawaban dari seberang sana, nampaknya Daehwi terkejut. Seonho jadi sedikit merasa bersalah, ia tak pernah sekacau ini sampai bicara dengan nada tinggi.

"Wi..."

"Aku hanya akan mengatakan hal ini padamu," nada suara Daehwi berubah rendah dan serius.

Jangan-jangan anak ini marah, nada suaranya seperti orang yang baru tersinggung, membuat Seonho semakin was-was.

"Sebenarnya aku pernah melihatnya Seonho."

Apa ini? melihat apa maksudnya?

"Saat berumur 7 tahun aku pernah melihat seseorang dengan taring mencuat, mata berkilat merah, dan wajah yang sangat pucat, aku melihatnya meminum darah binatang."

"AP..APA? JANGAN BERCANDA?"

"AKU MENGATAKAN YANG SEBENARNYA !" Terdengar Daehwi juga emosi di seberang sana, jelas anak itu tak sedang berusaha bercanda.

Sialan, seketika itu juga ingin rasanya Seonho roboh.

$%^&*()

.

.

.

"DONGHYUN SIALAN," geram Haknyeon sambil meninju dinding hingga retak. Kemarahannya memuncak setelah mendengar cerita Guanlin tentang Donghyun yang menyerang Seonho.

"Kita harus mengawasinya atau dia akan makin membahayakan kita," tegas Woojin. Jujur emosinya juga memuncak saat ini, bercampur dengan kekhawatiran pada banyak hal. Pada rahasia mereka, pada geng Seonho, pada semua orang yang ia kenal. Rahasia identitas mereka terancam bahaya, apalagi saat mendengar Guanlin menceritakan sikap Seonho yang curiga dan mendesak. Anak itu tak bodoh untuk memahami keanehan yang terjadi.

"SUDAH KUDUGA, DIA KE SINI PASTI INGIN MENGHANCURKAN HIDUP KITA LAGI, SIALANNN!" Haknyeon benar-benar murka. Dendam nya pada Donghyun bagai api yang tersulut minyak, membara luar biasa.

"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan? Kalau identitas kita terbongkar, kita bisa tamat," ujar Samuel dengan nada sama frustasinya dengan Haknyeon.

Sejak selesai bercerita Guanlin terus duduk diam di sofa, tapi tatapannya menajam dan auranya menjadi hitam. Bahkan Woojin yang memperhatikannya enggan untuk mendekat. Jelas Guanlin sedang bergumul dengan pikiran dan emosinya.

"AKU HARUS MENGHAJ..."

PRANGGG !

Belum selesai Haknyeon bicara, suara vas yang dibanting ke dinding memaksa semua orang menoleh. Tampak Guanlin berdiri dengan sorot mata tajam dan mata berkilat merah. Suasana berubah hening dan mencekam, kemarahan Guanlin bukanlah hal yang biasa, apalagi sampai matanya berubah merah.

Tak ada seorang pun yang berani bicara, meski Guanlin sendiri juga tak mengatakan apa-apa selama beberapa menit. Jinyoung yang melihat aura monster dari kakaknya bahkan ikut bergidik. Bulu kudunya meremang setiap ia menatap wajah Guanlin yang dingin dan seolah tanpa perasaan.

Dan sejujurnya, sejak tadi pikirannya tak berhenti mengkhawatirkan seseorang. Dongyung bisa saja menyerang siapa saja tanpa pandang bulu.

"Jika dia bertindak di luar batas aku yang akan membunuhnya," ujar Guanlin. Nada bicaranya luar biasa dingin dan penuh penekanan.

Pandangan mata semua orang langsung tertuju pada Guanlin, ada rasa ngeri menelusup dalam diri masing-masing, bahkan Haknyeon yang tak kenal gentar sekalipun. Seorang Lai tak pernah main-main dengan kata-katanya meski mereka pandai berbicara. Jika ia mengatakan membunuh, berarti ia benar-benar akan melakukannya.

"Lalu bagaimana dengan Seonho? Apa yang akan kau lakukan pada anak itu?" tanya Haknyeon sedikit ragu.

"Seonho adalah masalah," Guanlin berjalan ke arah Haknyeon pelan. Seketika perasaan Haknyeon berubah was-was, namun ia segera merasa lega karena Guanlin melewatinya, menuju dinding di belakangnya.

Haknyeon memutar tubuh ke belakang, melihat Guanlin yang berhenti persis di depan dinding berhiaskan pedang-pedang yang disusun bersilang. Ia mengambil salah satunya, menatap pedang berkilat-kilat itu dari pangkal ke ujung. Dari kilatannya sudah menggambarkan seberapa tajamnya.

"Jika dia juga membahayakan sama halnya seperti Donghyun," Guanlin mengacungkan pedang itu ke udara, membuatnya semakin tampak berkilat karena tertimpa cahaya lampu. Tiba-tiba pedang itu terayun cepat. Semua orang terkejut, tapi Haknyeon jauh lebih terkejut karena pedang itu mengarah padanya. Ayunan itu terlalu tiba-tiba dan berhenti dengan ujung pedang mengacung persis di depan wajah Haknyeon. Semua orang di ruangan itu untuk sesaat menahan nafas, terlebih Haknyeon.

"Kau harus membunuhnya," ujar Guanlin dingin. Ia menarik pedang itu, berjalan ke depan beberapa langkah dan mengulurkan gagang pedang ke wajah saudaranya.

Membunuh Seonho? Guanlin serius? Ia pikir Guanlin akan melindungi anak itu, mengingat hubungan mereka yang semakin akrab. Tapi aura kelam dan tatapan dingin Guanlin membuatnya sadar laki-laki itu tak main-main. Inilah sisi monster seorang Guanlin yang ia pendam selama ratusan tahun.

"Kenapa bukan kau? Kau bisa membunuhnya sendiri."

Guanlin menyeringai kecil, seringaian itu sangat berbeda dengan biasanya, kali ini tampak lebih licik, lebih kejam, dan lebih menyeramkan.

"Kau tak sanggup?"

Haknyeon terdiam. 100% ia sanggup jika disuruh membunuh Donghyun, namun Seonho? Anak itu tak melakukan kesalahan sefatal Donghyun, tapi anak itu juga berbahaya untuk keluarganya.

"Buktikan kau seorang Joo."

Dengan ragu Haknyeon menerima uluran pedang itu. Dalam hati ia berharap semoga keputusannya ini benar. Keluarganya dalam bahaya, tak boleh ada yang menghancurkan kehidupan mereka lagi. Bahkan Seonho dan gengnya sekalipun...

$%^&*()

.

.

.

Hay readers, aku update lagi, maaf untuk chapter yang pendek ini...

Jangan lupa reviewya guys...

Makasih untuk yang sudah comment dan maaf juga karena aku gak bls satu per satu.

_Salam Author_