.
.
Kakakku sangat rajin. pintar, dan perhatian. Ia selalu meluangkan waktunya unutk mengajariku setiap malam semasa sekolahku. Waktu aku masuk ke sekolah menengah pertama, aku pernah bertanya padanya secara tidak sengaja, mengapa ia selalu meluangkan waktunya untukku ditengah semua kesibukannya sebagai anak sekolah tinggi dan aktor. Tapi ia tidak menjawabku.
Sebenarnya aku mulai menyadari jawabannya saat itu, walaupun ia tak pernah mengatakannya. Namun aku memilih untuk diam. Aku mendoktrin diriku sendiri bahwa aku adalah adiknya, adik kesayangannya.
Hanya itu yang harus ada didalam pikiranku.
Aku adalah adiknya.
Dan aku akan selamanya menjadi adiknya.
Kau tahu, anak lelaki tumbuh sangat sepat. Ada suatu hari dimana kau melihatnya masih sama tinggi dengan dirimu, lalu kemudian secara ajaib mereka tumbuh satu kepala lebih tinggi dari pada dirimu, dan terus bertumbuh.
Kakakku juga mengalaminya. Masih ditahun yang sama, ia telah bertumbuh lebih dari 20 sentimeter. Ia terlihat begitu dewasa, dan tampan. Dan ia tak pernah bisa melepaskan pandangannya dariku.
Bukan, aku bukan terlalu percaya diri atau mengidap narsisme, namun memang itulah yang terjadi.
Ia mulai dengan selalu mengantar dan menjemputku setiap hari, lalu marah ketika aku tidak menjawab pesan singkatnya. Mengingatnya lagi sekarang membuatku merasa bodoh. Sangat bodoh.
Kau boleh mentertawakanku, aku memang bodoh dalam hal seperti itu. Harusnya aku menolaknya dengan benar saat itu, saat perasaannya belum berubah menjadi sebuah tumor yang terus membesar dan mematikan. Seharusnya aku menghentikannya sebelum ia tak bisa menghentikan dirinya sendiri.
Suatu hari, ia menjemputku.
Seperti biasa. Ia dan mobil sportnya yang berwarna hitam. Ketika ia membelinya, aku meledeknya Mr. BatMan karena warna dop hitam itu. Ia mengajakku mendatangi taman hiburan dan menemaniku bermain disana hingga aku tak tahu lagi apa yang harus aku mainkan. Ia memberiku sebuah kecupan di dahiku, seperti sebuah kecupan selamat malam yang selalu diberikan ayah ketika usiaku masih 10 tahun.
Sayangnya kakakku tidak memberikannya di malam hari, melainkan di sore hari, ditengah jalan setapak panjang yang menghubungkan kedai es krim dan gerbang masuk ke wahana gondola.
Aku menyesal.
Aku menyesal karena aku tidak menamparnya saat itu.
Aku menyesal karena telah membiarkannya terbenam dalam perasaannya.
Karena setelah ia terbenam,
Ia tak pernah lagi kembali menjadi kakakku yang dahulu.
Ia berubah menjadi seseorang yang tidak pernah kukenali sama sekali setelah ia keluar dari gondola, sore itu.
Katanya aku adalah miliknya, apapun yang terjadi. Apapun yang kukatakan, sebagaimanapun aku menolaknya. Katanya aku hanya boleh melihatnya, aku hanya boleh mengarahkan pandanganku padanya.
Posesif.
Dan semua sikap posesif itu bertambah parah ketika ibu menghembuskan nafas terakhirnya dirumah sakit, di sebuah musim salju yang dingin dan membekukan.
Ibu adalah matahari kami, dan semua takkan pernah berjalan dengan baik dan benar tanpa adanya cahaya penerang.
Ayah yang larut dalam kesedihannya, menenggelamkan diri pada pekerjaannya. Hingga disaat terakhir aku berada dirumahpun aku tidak punya kesempatan untuk berpamitan padanya.
Kakak juga pasti sangat sedih waktu itu, karena itulah aku memutuskan untuk selalu berada disisinya hingga ia merasa kuat lagi.
Dan..
Aku tak seharusnya melakukan itu.
.
.
.
.
Comeback To Me
Two: Nightfall
Characters ©Masashi Kishimoto
Story ©Pipoooy12
Warning : OOC, typo, AU.
enjoy!
.
.
.
.
"Hinata.. tidak kembali ke rumah?" Shizune menaikan kedua alisnya, terkejut atas penjelasan Sasuke.
Sasuke hanya mengangguk, kemudian kembali menenggelamkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya, "Ini semua salahku, akulah yang sudah mengusirnya.."
"Perasaanku kacau saat itu, kau tahu.. dan.. aku tidak dapat berpikir dengan jernih." Shizune dapat mendengar penyesalan yang amat dalam disetiap kata kata Sasuke. Mata hitam itu, Shizune juga dapat melihat kerinduan dan kecemasan yang bercampur aduk disana.
"Tapi ia tidak datang kesini, Uchiha san. Ini sudah satu tahun sejak terakhir kali aku melihatnya." Jawab Shizune. Sasuke menghembuskan nafasnya, menatap cangkir berisi teh hangat di meja dengan pandangan putus asa.
"Aku.." Shizune memulai kata katanya lagi, kali ini dengan hati hati. "Aku sudah melihat keinginan yang terpancar dimatamu itu sejak dulu, Uchiha san. Dan itu masih belum berubah sampai sekarang."
Sasuke mendengarkan, dalam diam.
"Kurasa.. Hinata hanya belum mengenali perasaannya saja, berikan dia waktu untuk berpikir."
"KAU TIDAK MENGERTI! HINATA, IA PERGI TANPA MEMBAWA UANG SEPESERPUN! KAU PIKIR IA HANYA BUTUH WAKTU? INI SUDAH 3 BULAN SEJAK IA PERGI, DAN IA TIDAK MEMBERI KABAR SAMA SEKALI PADA SIAPAPUN!"
Shizune terdiam, terpaku.
Sasuke berdiri disebrangnya, didepan meja kayu pendek, terengah engah dan gusar.
Kesal karena tak dapat menemukan Hinata dimanapun.
Kesal karena mungkin, apa yang dikatakan Shizune memang benar adanya.
Kesal, mengingat bagaimana gadis yang menjadi cinta pertamanya menolak cintanya mentah mentah.
Teh yang tadinya berada didalam cangkir, tenang dan beruap, kini membasahi meja dan mulai mengalir untuk menetes ke lantai.
"Aku mencintaimu, Hinata." Sasuke masih dapat merasakan rasa manis coklat yang tersisa dimulutnya ketika ia mengatakan itu. Ia masih ingat sederas apa air mata Hinata yang mengalir dari mata lavendernya.
"A-aniki.." suara lirih gadis itu, masih terekam jelas di otak Sasuke, "Aku.. aku tidak bisa.."
"Aku tidak bisa.." Hinata meronta, meronta dalam isakan yang sangat memilukan.
"Kau bisa! Dan kau akan. Sejak awal kau adalah milikku, dan akan selalu begitu sampai kapanpun!" Sasuke mencengkram keras pergelangan tangan Hinata, tak membiarkan gadis itu meronta lagi.
"Aniki.. hmph!" Lagi, Sasuke merangkum bibir ranum Hinata dalam sebuah ciuman yang memaksa.
Dengan sangat kuat, Hinata mendorong tubuh Sasuke jauh jauh. Membuat pria itu geram. "Kumohon Aniki.." ia berlutut, "Kumohon.. hentikan semua ini.. a-aku.. aku selalu menyayangimu sebagai seorang adik, dan bukan memandangmu sebagai seorang pria.. aku.."
"Fuh.." Sasuke mendengus mendengar kalimat gemetar yang keluar dari mulut gadis cantik dihadapannya, "Begitukah?" tanpa ia sadari, tangannya terkepal keras. Menahan semua emosi yang membanjirinya.
Ia telah tenggelam terlalu dalam, dan ia tak bisa kembali lagi kepermukaan.
"Aniki.. kumohon.. " air mata itu, betapa Sasuke membencinya. "Kita.. Ki-kita masih bisa.. kembali.."
"Pergilah." Untuk yang pertama kalinya seumur hidup Sasuke, rasanya ia muak melihat wajah Hinata.
Ia berpaling, "Pergilah, mulai sekarang kau bukan lagi seorang Uchiha."
Hinata pasti sedang tertunduk gemetaran dan menangis, mungkin lebih dari yang bisa Sasuke bayangkan.
Tapi dengan amarah dan rasa kecewa sedang menelimuti hatinya waktu itu, ia tak dapat mendengar apapun kecuali bisikan jahat yang memaksanya menyakiti Hinata sedalam mungkin. Panas didadanya seakan membakar setiap bagian dirinya yang dulu menyentuh Hinata dengan lembut dan penuh kasih.
"Pergilah. Kau membuatku mual, dasar anak yatim piatu."
Kata kata kasar itu meluncur begitu saja, tanpa hambatan sedikitpun.
Hinata menghapus airmatanya, kemudian berdiri perlahan. Matanya merah dan penampilannya berantakan, tapi ia masih mencoba tersenyum dengan bibirnya yang gemetar.
"Maaf.." suaranya serak, dan kecil. "Maaf kalau anak yatim piatu yang kotor ini sudah merepotkanmu selama bertahun tahun, Tuan muda."
Sebuah pertanyaan mencuat dipikiran Sasuke, setelah Hinata meninggalkan ruangannya malam itu.
Langit malam yang gelap, lampu lampu yang menerangi kota Tokyo.
Entah mengapa, kesepian perlahan memenuhi hatinya, setelah ia melihat bayangannya sendiri dikaca jendela.
Apa itu cinta?
.
.
.
T
B
C
.
.
.
