Apa itu cinta?

.

.

Apakah itu cinta, ketika kau merasa kasihan pada seseorang?

Ataukah ketika kau menggantungkan dirimu sepenuhnya pada seseorang?

Apakah itu cinta?

Ketika kau tak bisa hidup tanpanya?

Aku tidak butuh cinta jika memang cinta membuatku begitu lemah.

Aku, gadis dengan mata lavender dan rambut keunguan ini, aku sudah cukup lemah. Bisakah kau bayangkan bagaimana lemahnya aku jika aku harus mencintai seseorang?

Mungkin saking lemahnya, aku takkan bisa lagi bangkit dari tempat tidurku sendiri.

Suatu hari nanti, kuharap aku bisa menemukan makna dari cinta yang sesungguhnya. Kuharap diduniaku yang baru, aku tak lagi mengecewakan orang lain. Kuharap aku bisa dicintai, dan juga mencintai.

Musim dingin sebentar lagi akan tiba.

Dirumahku dulu, kami merayakan tahun baru dengan berkumpul dan menikmati makan malam bersama. Walaupun beberapa tahun belakangan ini ayah selalu melewatkannya, aku dan kakakku selalu meluangkan waktu untuk makan malam itu.

Ia suka sekali pada fruit cakes buatanku.

Sebenarnya, ia selalu makan apapun yang kubuatkan untuknya. Ketika ia bersamaku, ia tak pernah menjadi seorang pemilih.

Aku masih ingat betapa marahnya dia ketika ia tahu kalau aku ternyata menerima coklat dari teman kuliahku. Tatapannya, caranya memaksaku.

Aku masih ingat bagaimana ia mengusirku.

Tapi.. Yah, mungkin inilah caraku memperoleh kebebasanku, dengan berkelana seorang diri. Mencari pekerjaan dan tempat tinggal agar bisa tetap hidup, sama seperti orang lain. Memakai pakaian biasa, dan naik kendaraan umum kesana kemari. Aku suka begini.

Sejak awal aku tahu aku tak pernah cocok dengan gaya hidup borjuis keluarga angkatku. Aku selalu ingin berkelana dengan kereta, dan mengitari kota dengan bis. Aku ingin melakukan semua hal yang bisa dilakukan oleh orang biasa.

Dan kebebasanku untuk menjalani hidup yang kuinginkan itu, kuperoleh dengan cara yang paling dramatis.

Semoga perjalanan hidupmu lebih baik daripada perjalananku.

Hanya satu pesanku padamu, siapapun yang menemukan suratku ini, dan membacanya..

Jangan pernah takut untuk mengutarakan perasaanmu, karena bukanlah sebuah kesalahan untuk menjadi orang yang jujur.

Apalagi jujur pada dirimu sendiri.

.

.

.

.

Comeback To Me

Three: Rain

Characters ©Masashi Kishimoto

Story ©Pipoooy12

Warning : OOC, typo, AU.

enjoy!


.

.

.

.

Orang tampan bebas melakukan apa saja.

Itulah aturannya.

Begitu pula aktor muda kita, Uchiha Sasuke. Dengan ketampanan dan kekayaan yang ia miliki, ia hampir bebas melakukan segala hal yang ia inginkan didunia ini.

Penampilan?

Tak mandi 3 hari atau bahkan seminggu pun rasanya bukan masalah.

Ia duduk disebuah sofa diruang ganti sebuah studio foto, dengan gadget ditangannya, ia asik didalam dunianya sendiri. Jika kau mengintipnya lebih dekat, kau bisa lihat kalau ia sedang memainkan permainan tembak menembak disana.

Rambutnya berantakan, tak terurus. Kaos yang ia kenakanpun sama dengan yang kemarin ia pakai untuk tidur.

Urakan, ketus, dan pemarah. Itulah Uchiha Sasuke yang kini menjadi salah satu aktor layar lebar dengan bayaran paling mahal di Jepang. Diluar ruang ganti tersebut, seorang wanita muda dan seorang pria dengan rambut berwarna terang mengintip dengan wajah pucat kebingungan.

Mereka adalah hairstylist dan makeup artist yang bertugas menangani Sasuke untuk pemotretan hari ini, namun sayangnya sang makeup artist melakukan suatu kesalahan yang membuat Sasuke tiba tiba saja marah. Sasuke marah dan mengusir mereka berdua. Malang sekali. Kini mereka hanya bisa mengintip dari jendela kaca didekat pintu, tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan.

"Ehem." Seorang pria paruh baya berdiri dibelakang sang makeup artist dan hairstylist yang kebingungan. Mereka berdua menengok kearah sang pria paruh baya tersebut horror. "Apa yang kalian lakukan disini?"

"Ha- Hatake san!" Seru mereka setelah tahu kalau sang pria paruh baya tadi ternyata adalah manager Sasuke, Hatake Kakashi. Kakashi menatap kedua orang didepannya aneh, lalu ia memperhatikan sang makeup artist berambut hitam sepunggung didepannya lagi agak lama. "Apa yang kalian lakukan disini? Bukankah seharusnya kalian berada didalam dan mempersiapkan Sasuke?"

Sang hairstylist menggaruk kepalanya, "Itu dia.. Hatake san.."

"I-ini semua salahku.. karena aku terlalu gugup jadi aku tidak sadar kalau aku belum memakaikan pelembap diwajah tuan Sasuke.. Dia pa-pasti marah padaku karena hal itu.." Sang makeup artist menunduk dalam dalam.

"Sudahlah, sudah. Biar aku yang bicara pada Sasuke. Kalian tunggu disini." Kakashi memutuskan untuk masuk dan menemui Sasuke sendiri.

Sudah satu tahun ia menjadi manager Sasuke, dan menurutnya, diantara semua aktris, aktor, maupun model model lain, bintang yang ia tangani sekarang inilah yang paling menghabiskan banyak tenaga.

Si pangeran keras kepala bernama Uchiha Sasuke.

"Sasuke." Panggil Kakashi setegas mungkin. "Fotografer sudah menunggu diluar, kenapa kau masih belum siap juga?"

Sasuke hanya memiringkan kepalanya sedikit, kemudian kembali pada gadgetnya. "Makeup artist itu, aku tidak mau disentuh olehnya." Jawab Sasuke dingin.

Kakashi naik pitam, "Kau pikir berapa umurmu hah? Apa kau ini anak anak atau apa? Kenapa sikapmu kekanakan sekali?!"

"Hn."

"Sasuke!"

"Ganti saja makeup artistnya dan aku akan melakukan pemotretannya dengan cepat."

"Kenapa? Apa kesalahannya hingga kau tidak mau disentuh olehnya sama sekali?" Tanya Kakashi heran.

Onyx Sasuke memandang Kakashi, berkilat. "Jika kau tidak mau, maka aku akan pergi sekarang." Ia bangkit dari sofa.

"Baiklah, baiklah. Aku akan minta pihak majalah untuk mengganti makeup artistnya." Jawab Kakashi cepat, ia tak mau perjuangannya membangunkan Sasuke pagi ini dan mengantarnya ke studio foto menjadi sia sia hanya karena masalah sepele begini. "Tapi bisakah kau beritahu aku alasannya?"

"Apa itu penting?"

"Tentu, aku sudah mengikuti selama satu tahun dan aku masih tidak mengerti mengapa kau selalu menghindari semua pekerjaan yang mengharuskanmu bekerja sama dengan wanita berambut hitam sepunggung. Dan apa kau tahu berapa banyak tawaran main film yang harus kutolak karena phobia anehmu itu? BANYAK. Dan kurasa paling tidak aku harus tahu mengapa." Kakashi memberi penekanan yang sempurna diakhir kalimatnya.

Sasuke mendecih, "Wanita wanita itu mengingatkanku pada seseorang."

Masih terdiam, Kakashi berharap Sasuke memiliki alasan lain yang lebih kuat. Tapi setelah hampir 2 menit Sasuke tidak mengatakan apa apa lagi, Kakashi terpaksa harus membuka lebar kedua tangannya dan menaikan bahu, "Hanya itu?" tanyanya frontal, "Hanya karena kau teringat pada seseorang setiap kau melihat wanita berambut hitam sepunggung, jadi kau tidak pernah mau bekerja sama dengan mereka, huh?"

"Ini bukan masalah yang sepele, Kakashi." Sasuke mengambil jaket kulitnya yang tadinya ia taruh di gantungan dekat lampu hias. "Dan kupikir aku tak bisa lagi melakukan ini."

"Apa maksudmu?"

"Aku berhenti. Aku tak mau lagi menjadi seorang aktor."

Sudah hampir 2 tahun berlalu sejak Hinata, adik angkatnya, menghilang tanpa jejak. Hinata memiliki rambut sepunggung. Walaupun warnanya bukan hitam, namun wanita berambut hitam sepunggung tetap saja membuatnya teringat pada Hinata. Rasa kehilangan dan kesdihannya sebenarnya belum sembuh total.

Malah jika boleh dikatakan, belum sembuh sama sekali.

Ditengah kesibukannya, pikiran tentang gadis itu bisa tiba tiba muncul dan membuatnya merasa lumpuh untuk sesaat. Ketika ia sedang berakting, ketika ia sedang dalam sesi pemotretan. Hinata selalu muncul dipikirannya, apapun yang ia lakukan.

Cinta pertama tak pernah berakhir, kau harus mengakui itu. Ada kalanya kau mengira bahwa cinta pertama adalah cinta yang sama seperti cinta yang lain, namun cinta pertama itu berbeda, jauh.

Orang yang membuatmu merasa begitu nyaman untuk yang pertama kalinya, orang yang membuatmu bisa mengenali dirimu sendiri, yang membuatmu bisa merasakan, dan melakukan sesuatu yang tak pernah kau pikirkan sebelumnya. Dialah pendaki pertama yang mencoba memanjat tebing perasaanmu. Dialah pelaut pertama yang mengarungi liarnya lautan hatimu.

Dialah cinta pertamamu.

Dalam kasus ini, cinta pertama Sasuke adalah Hinata.

Dan di lubuk hati Sasuke yang paling dalam, ia masih belum menyerah pada cintanya itu.

Hanya saja, cinta selalu bermain.

Terutama dengan mereka yang tak menyadarinya.

Sasuke mencari Hinata, ia mencari kemana mana. Mulai dari teman sekolah HInata, tempat kuliahnya, teman kuliahnya, panti asuhan tempat Hinata dulu dibesarkan, tempat bermain, bahkan Sasuke juga melacak ponsel gadis itu.

Semua sia sia, tak ada satupun usahanya yang membuahkan hasil. Sasuke seakan berjuang untuk mencari sesuatu yang sebenarnya tak pernah ada sebelumnya.

Ia benci, marah pada dirinya yang begitu mudah terhasut untuk melukai Hinata. Gadis yang ia sayangi, yang ia cintai dan yang ia perlakukan lebih dari sekedar adik selama bertahun tahun lamanya.

"Kau.."

Ditengah hujan yang deras, ditengah kerumunan manusia yang berlalu lalang dengan payung mereka masing masing. Sebuah suara serak nenek tua menghentikan langkah Sasuke. Ia yakin betul orang yang dipanggil oleh nenek itu adalah dirinya.

Ia menengok kebelakang, dan disana, ia menemukan nenek tua yang wajahnya tertutup payung merah. Derasnya hujan juga tidak mendukung Sasuke untuk melihat dengan jelas rupa nenek tersebut. Dinginnya angin tidak terlihat menyentuh si nenek.

"Kau memanggilku?" Tanya Sasuke, sedikit ragu.

"Ya.. tentu saja. Kau pikir siapa lagi?" Si Nenek berpayung memasukan tangannya kedalam kantong jaket wolnya, "Kau masih muda, tapi kau begitu gelap.. Kau membuat orang yang berada dibelakangmu menjadi sulit melihat kedepan!" ia memarahi Sasuke.

Mengira nenek itu adalah orang gila, Sasuke berbalik lagi, bermaksud untuk melanjutkan lagi perjalanannya menuju ke tempat penitipan mobil.

"Tunggu dulu!" Suara si nenek meninggi satu oktaf.

Sasuke memandangi payung merah si Nenek gusar, "Aku tahu aku gelap. Jadi apa yang bisa aku lakukan? Sementara aku sendiri tidak tahu mengapa pikiranku begitu gelap!"

Langit kelabu hari itu tidak berniat memutih. Semuanya nampak kehilangan warna dibawah naungan kelabu pekat.

Kecuali payung si nenek.

"Ambilah ini." Sebuah tangan penuh kerutan namun tampak sangat cerah terulur, mencoba menyerahkan sesuatu pada Sasuke. "Ketika kau tenggelam, kau butuh pelampung. Dan ketika kau tersesat dalam kegelapan, kau butuh cahaya."

Sebuah gantungan senter LED kecil.

Sasuke merasa tertipu.

Mungkin nenek itu memang sedikit gila. "Hei nenek, jika kau hanya mau menawarkan barang seperti ini padaku, maka.." Sasuke terdiam, ia mengedipkan matanya beberapa kali.

"Maka.."

Tak ada payung merah.

Tak ada nenek tua.

Sekali lagi, Sasuke merasakan angin hujan dingin dikulitnya.

Sasuke, dia hanya sendirian, diam, berdiri tak bergerak diantara manusia yang berlalu lalang.

"Cahaya, huh?" ia menatap senter LED kecil ditangannya dengan seksama, "Aku butuh cahaya."

Ah, betapa ia rindu menatap mata lavender Hinata yang terang.

.

.

T

B

C

.

.