"Dia masih belum bisa dihubungi?"

Uchiha Fugaku, ayah dari Uchiha Sasuke mengurut pelan dahinya yang sudah mulai dipenuhi oleh kerutan.

Hari ini seharusnya menjadi hari perdana Sasuke memperkenalkan diri pada seluruh jajaran direksi diperusahaannya, namun anak itu malah kabur. Ia kesal sekali setelah mengetahui kalau Sasuke sudah 3 hari tidak kembali ke apartment nya. Bahkan, Hatake Kakashi, sang manager Sasuke pun tak tahu dimana anak nakal itu berada. Alasan apa yang harus ia katakan pada seluruh direksinya? Sasuke sakit? Tidak. Jika mereka bertanya tentang penyakit dan rumah sakit, ini akan menjadi kebohongan yang besar. Fugaku tidak mau mengambil resiko.

"Lacak ponselnya." Perintah Fugaku pada Kakashi.

Kakashi menunduk meminta maaf, "Aku sudah melakukannya, Tuan. Tapi.. nampaknya ponselnya sedang tidak aktif." Jawabnya.

"Aku tidak peduli, Hatake. Aku mengijinkannya untuk menjadi aktor karena dengan begitu, aku akan lebih mudah mengetahui kabarnya. Dia sudah begitu terkenal sekarang, tapi kenapa kau masih tidak bisa menemukannya juga?" Alis Fugaku bertaut. "Apa susahnya mencari seorang aktor yang sudah dikenali semua orang, hm?"

Ini bukan pertanda yang baik bagi Kakashi.

"A-aku akan segera menemukannya, Tuan. K-kau bisa mempercayakannya padaku." Kakashi mulai gugup.

Ia keluar dari ruangan Fugaku terburu buru, menghubungi seseorang melalui ponselnya. Sasuke tidak dapat dihubungi, rekan kerja dan teman temannya juga tak ada yang tahu kemana perginya dia. Sungguh merepotkan, sungguh kekanakan. Entah apa yang harus dilakukan Kakashi agar Sasuke bisa merubah semua tingkah lakunya itu.

Wartawan juga selalu saja mencari cari kelemahan seorang bintang besar seperti Sasuke, mulai dari kuliahnya yang berhenti ditengah jalan, hingga keretakan keluarga yang dikabarkan membuat Sasuke menjadi sosok yang temperamental. Semuanya dibuat menjadi besar oleh para wartawan yang dengan semena mena mengarang cerita.

Memang, tidak semua wartawan seperti itu.

Jika dingat ingat, sepertinya Kakashi tahu kemana seharusnya Sasuke pergi. Biasanya, jika ada masalah atau sedang kesal, Sasuke selalu pergi ke bar atau pub malam dan menghabiskan seluruh malamnya disana. Mungkin Kakashi harus mencari di pub milik salah satu teman Sasuke setelah ini. Oh ya, mungkin Sasuke kabur untuk berlibur di pulau milik keluarganya. Begitu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan Kakashi hanya karena seorang aktor berusia 25 tahun bernama Uchiha Sasuke menghilang.

Sehari, saja. Kakashi ingin istirahat, cukup sehari. Tak bisakah?

"Halo?"

Suara seorang pria terdengar, "Halo," jawab Kakashi. "Maaf mengganggumu. Aku Hatake Kakashi, manager Uchiha Sasuke yang baru. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Apa yang bisa diketahui seorang mantan manager seperti diriku ini, tuan Hatake?" pria ditelfon itu tertawa. Suaranya serak, dan santai. Kakashi masih berjalan menuju ke parkiran mobil, ia selalu merasa kantor pusat Uchiha corp ini terlalu luas sejak pertama kali ia datang kesini. Lihatlah, butuh waktu kira kira 20 menit hanya untuk keluar dari bangunan.

"Yah, kau tahu.. ini mengenai Sasuke." Jawab Kakashi, "Ia sudah menghilang selama 3 hari, dan tidak bisa dihubungi. Aku juga mempunyai banyak pertanyaan yang tidak bisa kutanyakan lewat telepon. Apa kau punya sedikit waktu untuk minum kopi atau makan siang bersama?"

Pria ditelfon berpikir sejenak, "Ah, ya.."

"Kurasa bisa." Tambahnya.

.

.

.

.

Comeback To Me

Four: Grave

Characters ©Masashi Kishimoto

Story ©Pipoooy12

Warnings: AU, OOC, Typo.


.

.

.

.

"First love last forever."

.

.

.

.

Aku menatap senter LED ditanganku sekali lagi, entah untuk yang keberapa kalinya.

Bentuknya yang kecil dan bulat, dengan ring gantungan serbaguna diujungnya. Aku tersenyum getir. Aku tidak sendirian, namun aku kesepian. Begitu kesepian hingga kadang aku merasa tak seharusnya aku ada didunia.

Semua orang meninggalkanku, semua orang. Aku menutup mataku, berlutut didepan nisan ditengah hujan. Kurasakan rintik air menghujami kulitku, seperti sengaja ingin melukaiku. Apa bedanya aku dengan anak anak di panti asuhan itu sekarang? Malah boleh kukatakan, mereka mungkin saja memiliki takdir yang lebih baik daripada aku.

"Ibu.." Kata itu meluncur dari bibirku, pikiranku kosong.

Kegelapan menenggelamkanku.

"Ibu," Sekali lagi, aku memanggilnya. Berharap ia bisa mendengarku ditengah derasnya hujan. "Aku menyesal.."

Aku menyesal.

Aku menyesal.

"Ibu, jika mungkin.."

Jika. Selalu ada jika disetiap hidup seseorang. Begitu pula aku.

Aku, dan emosi bodohku ini.

"Jika saja waktu bisa berputar kembali.."

Mataku terasa panas. Tubuhku bergetar karena menahan sesuatu yang seharusnya meledak dalam diriku.

Dingin. Air hujan yang membasahi seluruh tubuhku membuatku menggigil. Gigiku gemertak. Begitu dingin, hingga rasanya aku bisa mati kapan saja.

"Oh. Disini kau rupanya." Suara seorang pria terdengar samar diantara derasnya hujan.

Aku menengadah, seseorang memayungiku dari belakang. Tangannya pucat dan sedikit kurus.

"Ochimaru." Panggilku, "Bagaimana.. kau.."

Matanya mirip sekali dengan mata ular, menatapku tanpa kata. Senyumnya memojokanku. Aku masih ingat dimana aku bertemu dengannya untuk yang pertama kalinya dalam hidupku. Aku masih ingat mengapa.

Rambut Orochimaru lurus dan cukup panjang untuk ukuran seorang pria, tubuhnya kurus sekurus lidahnya. Kulitnya yang pucat membuatnya nampak lebih mengerikan lagi; karena itulah ia selalu memakai baju berlengan panjang kemanapun ia pergi.

Waktu itu juga turun hujan.

.

Tepat ketika peringatan 1 tahun kematian ibuku.

.

.

"Siapa.. kau?"

Tanyaku pada sosok kurus bermata ular yang memayungiku. Aku yang gemetar dan basah kuyup karena hujan melangkah mundur. Ayah tidak ikut karena masih ada pekerjaan yang menunggunya dikantor, dan waktu itu Hinata sudah pergi entah kemana. Aku sendirian.

Ia hanya tersenyum, senyum yang mengejek.

"Siapa kau?" tanyaku lagi, "Mengapa kau bisa berada dimakam ibuku?"

"Aku Orochimaru, teman lama ibumu." Tangannya yang pucat, jemarinya yang tajam. Aku tak pernah tahu ibuku memiliki teman seperti dia. Rambut lurusnya ia ikat kebelakang, membuat wajahnya tak terlihat terlalu tirus.

"Dan kau pasti Sasuke, bukan?"

Aku masih menatapnya curiga, "Ya, aku Sasuke."

"Ho." Katanya, "Wajahmu cukup sering muncul dilayar televisi, kau mirip sekali dengan ibumu."

"Aku tak pernah tahu ibuku memiliki teman sepertimu."

"Yah.. Ibumu punya banyak teman yang tak pernah kau kenal, Sasuke. Hidupnya tidaklah semudah yang kau bayangkan." Ia menatap nisan ibuku dengan pandangan sayu. Tapi tetap saja, mata ularnya yang seram itu tak pernah sesuai untuk menunjukan empati.

"Tahu apa kau tentang hidup ibuku?"

"Yang pasti lebih banyak dari yang kau tahu." Ia menunjukan senyum mengejek itu lagi.

Hari itu, aku bicara banyak padanya. Tentang ibuku, tentang hidupku. Setiap ia tersenyum, aku merasa ia sedang meledekku. Dan lama kelamaan, akupun mulai terbiasa dengan senyumnya. Ia juga bercerita banyak padaku, tentang masa kecilnya.

Ia sudah mengenal ibuku sejak ia masih duduk dibangku sekolah dasar.

Menurutnya, walaupun berasal dari keluarga yang kaya raya, ibuku tak pernah memandang seseorang hanya dari uang dan penampilannya saja. Ibuku adalah wanita yang baik.

Ibuku dan pria bernama Orochimaru itu tidak satu sekolah, tapi mereka selalu melewati jalan yang sama setiap pulang sekolah. Orochimaru selalu melihat ibuku yang berada dikursi penumpang sebuah mobil mewah. Hari berganti bulan, dan bulanpun berganti tahun.

Disuatu sore yang panas, ia kembali bertemu dengan ibuku. Kali ini, bukan menaiki sebuah mobil mewah, melainkan berjalan kaki. Mereka berpapasan, kemudian saling bertukar senyum.

Dari sanalah, Orochimaru berteman dengan ibuku.

"Ibumu tak pernah memilih milih teman, ia baik pada semua orang, dan menghargai semua orang." Orochimaru melanjutkan ceritanya.

"Hn." Jawabku.

Aku hanya bisa mendengarkan. Ia terdengar seperti sedang menyindirku walau sebenarnya tidak. Jika ada satu hal dari ibuku yang tidak menurun padaku, maka mungkin, itu adalah sifat baik hati dan penyayangnya.

Untuk sesaat, aku malu pada diriku sendiri.

Sebuah jeda yang sangat lama menciptakan keheningan ditaman dekat makam ibuku sore itu. Aroma tanah basah sehabis hujan membuat gejolak kesedihanku mereda. Aku memandangi langit yang tak lagi gelap, bersama seorang pria aneh yang mengaku sebagai teman ibuku. Waktu terasa melambat.

Aku bahkan tak tahu dia adalah orang yang baik atau tidak, apakah dia berbohong atau tidak. Dan mungkin sampai kapanpun, aku takkan pernah tahu pasti. Hanya ada satu hal yang pasti.

Ia, Orochimaru, selalu berada disana ketika aku datang kesana.

Sebuah kebetulan yang aneh, sebuah takdir yang tak mungkin.

Mengapa hidupku tak pernah berjalan seperti apa yang kurencanakan? Mengapa semua orang selalu menunjukan wajah empati palsu mereka padaku? Kata kata penyemangat itu, air mata palsu itu. Aku sangat membenci mereka.

Kuharap tak ada seorangpun yang menemukanku. Kuharap aku bisa berada didalam keheningan ini untuk selamanya. Kuharap semua orang memiliki ekspresi sejujur Orochimaru.

"Sasuke.." Panggilnya, "Apa kau tahu mengapa ibumu mengadopsi Hinata?"

Jantungku seakan berhenti berdetak ketika ia menyebutkan nama itu. Lidahku kelu, aku tak bisa mengucapkan sepatah katapun.

Harus kujawab apa? Apakah iya? Atau tidak? Atau mengapa ia bisa tahu tentang Hinata? Tidak. Ia adalah teman ibuku, ibu pasti sudah memberitahukan tentang Hinata padanya. Apa aku harus menjawab dengan nada penasaran, atau nada tidak peduli?

Ia menatapku sedikit bosan, mungkin karena aku tidak bergeming sedari tadi. "Kau tidak tahu?" tanyanya, menaikan sebelah alisnya.

Aku masih diam, tanpa suara.

.

.

"Hei, Orochimaru.."

Ia menghentikan langkahnya, payung yang sedari tadi melindungi kami berdua dari rintik hujan kini tak lagi melindungiku. Bukan masalah, aku memang sudah basah kuyup sejak awal.

"Ada apa Sasuke?" jawabnya, "Jangan melamun di pemakaman." Ia mengejekku.

Aku menggenggam erat senter LED ditanganku.

"Apa saja.. yang kau ketahui tentang Hinata?"

.

.


.

.

.

T

B

C

.

.

.