Disebuah kafe kecil dipinggir jalan raya, terlihat beberapa orang pelayan sedang membereskan piring piring dan gelas dari atas meja.

Mereka baru saja selesai menghadapi serbuan orang orang kelaparan di jam jam makan siang tadi.

"Yumi chan! Yumi chan! Kau sudah makan siang?"

Merasa namanya dipanggil, seorang wanita berpakaian pelayan menengok. Rambut indigonya terlihat begitu berkilau dibawah sinar matahari. Penampilannya sederhana dan tidak terlalu menarik, tapi ia memiliki senyum yang sangat manis dan tulus.

Umurnya sekitar 20 tahun, namanya Yumi. Ia bekerja sebagai pelayan di kafe milik seorang pengusaha muda bernama Namikaze Naruto. Naruto menyelamatkannya ketika ia mengalami sebuah kecelakaan dan melunasi seluruh biaya pengobatan Yumi yang sangat mahal. Yumi tak punya tempat tinggal, juga tak punya keluarga. ia tak punya keahlian apapun.

Dengan semua keterbatasannya tersebut, Yumi tak punya pilihan lain selain bekerja sebagai pelayan di kafe milik Naruto untuk melunasi hutang biaya rumah sakitnya yang menggunung.

Namikaze Naruto adalah orang yang sangat baik menurut Yumi, pria itu memberikan pekerjaan dan sebuah kamar untuk tempat tinggalnya. Untuk makan, Yumi bisa mendapatkan jatah makan siang dan makan malam yang memang disediakan oleh kafe bagi para pelayan. Yumi cukup bahagia dengan semua yang ia miliki, pekerjaan, teman, hidup. Walaupun kadang ia merasa sedikit kesepian.

Tapi sayangnya, kini semua kebahagiaan kecil yang ia miliki harus berakhir.

Tidak.

Melihat dari sisi yang lebih positif, kurasa kebahagiaan Yumi hanya akan 'berpindah.'

"Tidak Ten-ten chan.. Kau makan duluan saja, aku sedang tidak berselera.." jawab Yumi lemas.

Teman Yumi, Ten-ten, yang juga seorang pelayan di kafe tersebut mengerucutkan bibirnya sebal, "Ayolah Yumi chan.. Kemana senyumanmu yang manis itu? Kemana perginya semangatmu?"

Yumi hanya menunduk murung. Tiba tiba, Ten-ten teringat sesuatu.

"Ah.. Yumi chan, apa ini karena Haruno sama memarahimu tanpa sebab lagi?" Perkataan Ten-ten sontak membuat Yumi tegang. "Uh.. umm.. bu-bukan.. i-itu.."

"Sudahlah, kau tahu kau tidak pandai berbohong bukan? Tak usah berbohong padaku.. Huh, nenek sihir itu sungguh sangat jahat! Hanya karena Namikaze sama baik padamu, jadi dia memperlakukanmu dengan tidak adil!"

Ten-ten menyikut lengan Yumi. "Katakan saja padaku apa yang sebenarnya terjadi.."

"Itu.. Ha-Haruno sama.." Jawab Yumi ragu ragu.

Ia memandangi pantulan dirinya pada gelas kaca yang berisi air mineral di mejanya.

Mata lavender, rambut indigo.

Ia selalu merasa nama Yumi tidaklah cocok dengannya.

"Haruno sama.. memindahkanku ke Tokyo, i-ia bilang.. aku.. a-akan lebih cocok bekerja disana, daripada di-disini.." Mata lavender, rambut indigo.

"Katanya Tokyo akan lebih cocok untukku dibanding Fukuoka.."

Pandangan Yumi berubah sayu, matanya dipenuhi oleh air mata yang tidak juga mau jatuh. Ia merasakan sebuah beban yang begitu berat setiap ia menyebutkan kata Tokyo.

Sayangnya..

Ia tak bisa mengingat apa apa.

.

.

.

.

Comeback To Me

Five: Memories

Characters ©Masashi Kishimoto

Story ©Pipoooy12

Warnings: AU, OOC, Typo.


.

.

.

.

"Aku memang tidak menyelesaikan kuliahku, tapi aku bukan orang yang bodoh, Orochimaru." Sasuke mengerutkan keningnya, matanya memelototi sosok disampingnya seakan ingin segera membunuhnya. Jarang sekali seorang Uchiha Sasuke memperlihatkan ekspresi sedemikian rupa.

Hanya ada 2 kemungkinan,

Pria yang dipanggilnya dengan nama Orochimaru tersebut meledek keluarganya,

Atau menghina orang yang ia sayangi.

Kepalan tangan Sasuke mengerat, "JANGAN MAIN MAIN DENGANKU!" ia menarik kerah baju Orochimaru keras. Orochimaru hanya menatap Sasuke dengan mata ularnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bibirnya masih menyunggingkan senyum meledek yang sama dengan yang ia tunjukan sebelum semua kekacauan ini terjadi.

"Aku tidak main main, Sasuke." Jawabnya santai, walau sebenarnya lehernya tercekik. "Orangtua Hinata, memang meninggal karena kecelakaan itu.."

Jantung Sasuke berhenti berdetak untuk sesaat. Cengkramannya pada kerah baju Orochimaru melemah.

Begitu menyadari hal tersebut, Orochimaru langsung menarik balik tubuhnya, membuatnya terlepas dari cengkraman Sasuke.

Dengan terengah engah, Orochimaru melanjutkan kata katanya, "Kecelakaan yang sengaja dibuat oleh ayahmu."

Pucat pasi, Sasuke membeku dalam posisi berdirinya.

Siapa yang pernah menyangka kalau seorang pria berwibawa seperti Uchiha Fugaku bisa menggunakan cara yang begitu rendah untuk mengalahkan saingan bisnisnya? Siapapun, pasti tidak akan pernah menduga. Siapapun pasti tidak akan berani menuduh seorang Uchiha melakukan perbuatan serendah itu.

Seperti diaduk aduk, perut Sasuke terasa begitu mual.

Menjijikkan.

Sungguh sangat menjijikkan

"Tidak mungkin.." Sasuke menggumam, "A-ayahku.. tidak mungkin melakukan hal seperti itu.."

.

.

.

"Hope is a mask that.. Despair has been wearing."

- Distant Sky, Inwan Youn/ Sunhee Kim

It's a webtoon. A really, recommended webtoon.

.

.

.

Kakashi masuk ke sebuah kafe dengan sedikit khawatir. Ia takut akan ada paparazzi yang mengikutinya untuk mencari berita tentang Sasuke.

Ketika sedang sibuk melihat kesana kemari, seorang pria dengan apron berwarna coklat menghampiri Kakashi, dengan senyum yang sangat ramah. "Sudah membuat reservasi?" Tanya pria itu. Kakashi langsung mengenali suara pria itu. Sedikit serak, dan santai.

"Oh." Kakashi mengangguk, "Ya, aku sudah menelfon sebelumnya."

Mantan manager, dan manager yang sedang berusaha menghindari paparazzi. Mereka sangat ahli dalam memberi isyarat.

"Boleh kutahu atas nama siapa?" Tanya pria itu.

"Hatake." Jawab Kakashi.

"Hm. Silahkan, sebelah sini." Pria itu menunjukan jalan pada Kakashi, Kakashi mengikutinya.

Mereka melewati sebuah jembatan pendek yang menghubungkan kafe dan VIP house. Jujur, Kakashi sebenarnya tidak tahu kalau mantan manager Sasuke ternyata menjalankan sebuah kafe yang begitu elegan setelah tidak lagi mengurusi aktor bocah seperti Sasuke.

Setelah melewati penjaga, mereka memasuki sebuah ruangan khusus. Didalamnya, terdapat sofa krem yang empuk, meja berkayu agony, dan jendela jendela besar. Suasana yang begitu luxurious ini membuat Kakashi sedikit merinding. Biasanya dia hanya menemani Sasuke pergi ketempat tempat seperti ini, mengingatkan Sasuke siapa saja yang akan ditemuinya dan tidak memperhatikan arsitektur bangunan. Tapi kali ini, karena ia pergi sendirian, ia mau tak mau memperhatikannya.

"Ruangan ini sangat indah, Yakushi san." Puji Kakashi.

Pria yang dipanggil Yakushi itu tertawa renyah, "Benarkah? Aku sempat meminta saran dari Sasuke sebelum membangun VIP house ini, beberapa material interior disini adalah pilihannya." Ia melepaskan apronnya, lalu menggantungnya di tempat menggantung jaket.

Kakashi tersenyum simpul, "Aku tak tahu anak itu punya selera yang sangat bagus."

"Tentu saja, ia adalah seorang Uchiha! Hahaha." Yakushi tertawa lagi sebelum mereka berdua duduk, "Kau mau memesan?" tanyanya pada Kakashi.

"Tentu." Kakashi mengangguk.

"Ah ya, kau tak perlu memanggilku Yakushi, panggil saja Kabuto."

"Baiklah, dan kupikir aku juga tidak terbiasa dengan panggilan Hatake."

Mereka berdua mengobrol ringan selama menunggu pesanan, membicarakan tentang bagaimana kafe milik Kabuto itu dibangun dan kisah kisah lucu para pelanggannya. Kakashi terlihat sangat santai dan tenang.

Yakushi Kabuto memiliki rambut abu abu, sama seperti Kakashi. Ia memakai kacamata, dan sangat ramah. Kemampuannya mengorganisir jadwal Sasuke yang padat juga nampaknya jauh lebih hebat dibandingkan dengan Kakashi. Tiba tiba, Kakashi pun merasa ada yang aneh dari pemecatan Kabuto sebagai manager Sasuke.

"Kau tidak terlihat seperti seseorang yang ceroboh atau sering melakukan kesalahan, Kabuto." Kakashi mencondongkan tubuhnya kedepan, bertumpu pada sikutnya.

Kabuto tersenyum, matanya memandangi cangkir kopi beruap didepannya, "Begitukah?"

"Mengapa kau berhenti menjadi manager Sasuke?" Tanya Kakashi to the point.

"Karena kontraknya sudah selesai, kurasa." Jawab Kabuto asal. Ia kemudian mengangkat cangkirnya dan meniupi uap kopinya pelan.

"Aku kemari bukan untuk mendengar kebohongan, Tuan Kabuto." Mata Kakashi menatap Kabuto tajam, "Apa kau tahu kemana Sasuke pergi ketika ia sedang kesal, atau sedih?"

"Kenapa? Kau tak bisa menemukannya?" Tanya Kabuto balik.

"Hm, ya. Sebut saja demikian." Kakashi menaikan bahunya.

"Kalau begitu, biar kuberi petunjuk." Kabuto tersenyum lagi, kali ini, penuh sebuah senyum yang penuh dengan teka teki, "Sasuke memiliki seorang adik.." Ia memulai teka tekinya.

"Dia.. punya adik?" Oh, Kakashi tak pernah tahu.

"Ya. Dia memiliki seorang adik perempuan bernama Hinata." Kabuto menyesap kopinya, "Nona Hinata adalah gadis manis yang sangat lemah lembut. Matanya lavender, dan rambutnya yang berwarna indigo itu sangat indah.."

.

.

.

"Aniki! Kau pulang lebih cepat hari ini.." Wajah cantik Hinata kebingungan, apron pinknya kotor.

Sang aniki, Sasuke, melepas jaketnya kemudian menghampiri Hinata. "Hn." Jawabnya singkat.

"Kau juga tak biasanya berada disini, gadis nakal." Sasuke mencubit hidung Hinata gemas. Mereka tidak nampak seperti adik kakak, mereka lebih cocok disebut pasangan suami istri baru.

"Ouch.." Hinata mengerucutkan bibirnya dan mengusap usap hidungnya yang merah akibat ulah Sasuke. "Aniki, kau sudah 1 bulan tidak kembali ke rumah, aku khawatir kau sakit karena tidak makan dengan teratur." Jelas Hinata.

Sasuke menginvasi dapur yang sedang dipakai Hinata, mencicipi sup yang dibuat gadis itu, kemudian melahap salah satu onigiri yang ada dimeja.

"Hei, Hei! Aniki, kau harusnya mandi dulu." Hinata merampas sumpit Sasuke, "Mandilah dulu, setelah itu kita makan bersama." Ia menyunggingkan senyumnya pada Sasuke, "Ayo, cepat, cepat."

Ketika Hinata sedang mendorong dorong Sasuke kearah kamar mandi, tiba tiba saja Sasuke membalikan tubuhnya, membuat Hinata menabrak dada bidangnya. Dengan cepat, Sasuke memeluk gadis itu erat. "A-ani.."

"Bagaimana jika kita mandi bersama?" Sasuke menggoda Hinata.

"Ma.."

"Ma?"

"Mana boleh!" Hinata mendorong tubuh Sasuke keras, "A-aniki mesum! Me-mesumm!" wajahnya memerah, Sasuke tertawa.

.

.

.

"Wow." Kakashi menaikan alisnya, "Aku tak tahu Sasuke bisa tertawa, kecuali saat ia sedang mabuk."

Kabuto tertawa, "Dia minum? Oh. Aku justru tak tahu."

"Eh? Kau tidak pernah melihatnya minum? Itu berarti.."

"Hm. Dulu Sasuke bukan tipe pria peminum, ia rajin dan cukup baik. Ia mengikuti seluruh jadwalnya dengan teratur, pulang ke apartmentnya tepat waktu, dan tidak terlalu banyak mengeluh." Kabuto mengingat ingat.

Hampir saja Kakashi mengumpat.

Seumur hidupnya, mana pernah ia bertemu dengan Sasuke yang seperti itu? Sasuke yang dikenalnya adalah Sasuke yang setiap hari pergi ke pub dan tak pernah serius bekerja. Sering lari dari tanggung jawabnya, dan sulit dihubungi. Sasuke yang diceritakan oleh Kabuto mungkin orang lain, bukan Sasuke.

"Bagaimana bisa seseorang berubah 180 derajat seperti itu hanya dalam beberapa bulan?" Kakashi menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Begitu aku bekerja sebagai managernya, ia sudah seperti Sasuke yang kukenal sekarang."

"Mungkin.." Kabuto mengusap dagunya, berpikir.

"Mungkin karena Nona Hinata.." ia melirik Kakashi yang masih memandanginya, "Sekitar 2 tahun yang lalu.. Nona Hinata menghilang. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi kemanapun Sasuke mencarinya, Nona Hinata tidak pernah ditemukan. Seperti hilang ditelan bumi."

"Kurasa Sasuke, didalam hatinya, masih tidak bisa merelakan Nona Hinata. Karena itulah ia menghancurkan dirinya sendiri seperti itu."

"Kau tahu, Kabuto.." Kakashi meminum kopinya, "Aku masih belum mengerti inti dari petunjukmu."

"Oh, ya." Kabuto kembali pada ceritanya lagi.

"Beberapa bulan sebelum Nona Hinata menghilang, Nyonya Mikoto meninggal dunia."

Pupil mata Kakashi melebar.

Kini ia tahu kemana perginya sang Uchiha menyusahkan itu.


.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

.