Mikoto membanting pintu kamarnya keras.
Tangisannya menggema diseluruh ruangan bernuansa eropa klasik tersebut, air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Cahaya redup yang berasal dari jendela menjadi satu satunya penerangan disana. Mikoto menggigit bibir bawahnya keras keras.
"Mikoto! Buka! Buka pintunya sekarang!" Suaminya, Uchiha Fugaku menggedor gedor pintu kamar Mikoto kuat kuat. "Buka pintunya sekarang!"
"Tidak!" teriak Mikoto, suaranya serak dan basah. Bergetar. "Kau bukan suamiku! Kau adalah pembunuh! Kau pembunuh, Fugaku! Kau pembunuh!" Isak tangisnya kembali pecah, Fugaku menggertakkan giginya.
"Kau merencanakan semua ini, kau merencanakan sebuah pemubunuhan yang sangat kejam!"
"Dan bagaimana dengan dirimu sendiri, Mikoto? Kau tidak pernah membantu usahaku sama sekali! Rencana ini sedikit lagi berhasil, kau hanya perlu memberitahukan dimana putri Hiashi yang baru lahir itu berada padaku, dan semuanya akan selesai! Tapi kau malah mengacaukan semuanya! Sekarang buka pintunya! Buka!" Fugaku mulai mendobrak, "Buka, atau aku.."
"Kau apa?!" tantang Mikoto. "Aku.. Aku lebih baik mati daripada membiarkan anak itu mati ditanganmu!" Kini ditangannya, ia sudah menggenggam sebuah pisau yang biasanya selalu ditaruh didekat keranjang buah.
Air mata dan keringat dingin yang bercampur diwajah Mikoto membuatnya terlihat amat sangat lelah, matanya merah, tangannya gemetar. "Seperti dirimu, aku juga tak pernah main main dengan kata kataku!" Mikoto mengeratkan genggamannya pada pisau ditangannya, menekankannya pada urat nadi pergelangan tangannya yang lain.
.
.
.
.
Comeback To Me
Six: Secret
Characters ©Masashi Kishimoto
Story ©Pipoooy12
Warnings: AU, OOC, Typo.
.
.
.
.
"SASUKE!"
Kakashi berlari menghampiri sesosok tubuh yang terkulai lemas didekat mobil sport berwarna hitam dop.
Ia baru saja tiba dikomplek pemakaman kota Konoha untuk mencari Sasuke, namun nyatanya ia malah menemukan orang yang dicarinya itu dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Walaupun keadaan disekitar parkiran mobil gelap, ia bisa mengenali jaket yang dipakai oleh Sasuke dalam sekali lihat.
Kakashi dengan cepat memeriksa detak jantung Sasuke, "Sial! Dingin sekali!" gumamnya setelah menyentuh kulit tangan Sasuke. Ia langsung melepaskan jaketnya untuk menyelimuti pria itu. "Sasuke! Bertahanlah! Sasuke, kau dengar aku? Sasuke!" Kakashi mengguncang guncang tubuh lemah Sasuke.
Clang!
"Huh?" Perhatian Kakashi beralih pada suara sebuah benda yang jatuh ketika ia mencoba membopong tubuh Sasuke. Benda itu kecil dan berkilauan diterpa sinar lampu taman.
Pelan pelan, Kakashi membopong tubuh Sasuke menuju ke mobilnya. Setelah selesai dengan Sasuke, ia kembali lagi ke tempat jatuhnya benda kecil berkilauan tersebut. "Apa ini?" ia bertanya pada dirinya sendiri. Ia memnungut benda kecil itu, kemudian mengamatinya baik baik.
"Senter LED?" alisnya naik sebelah, kebingungan. "Sejak kapan anak nakal itu membawa bawa benda konyol begini? Ini bahkan tidak ada tombol on off nya.."
Yah, siapa tahu benda konyol itu penting untuk Sasuke. Kakashi pun memasukkannya ke saku celananya, kemudian kembali ke mobil dan segera berputar balik, menuju ke rumah sakit terdekat.
Selama perjalanan, Kakashi terus saja terganggu dengan kata kata Kabuto sebelumnya.
Jika Sasuke memiliki adik, dan adiknya itu menghilang, bukankah seharusnya Fugaku juga ikut cemas dan mencarinya? Bukankah seharusnya akan sangat mudah mencari seorang Uchiha, mengingat Fugaku memiliki banyak orang yang dapat ia perintahkan diseluruh Jepang ini? Bagaimana bisa adik Sasuke yang bernama Hinata itu menghilang begitu saja?
Dan selain itu, mengapa ia bisa hilang beberapa bulan setelah kematian Mikoto? Bukankah seharusnya keluarga akan semakin protektif setelah sebuah kejadian menimpa salah satu anggotanya?
Selama ini, Kakashi bahkan tidak pernah mendengar Fugaku membicarakan sesuatu yang menyangkut soal anak perempuan ataupun adik Sasuke. Seakan akan gadis bernama Hinata itu memang tidak pernah ada sebelumnya.
Ini sungguh aneh.
Fugaku sangat khawatir pada Sasuke hanya karena anak itu menghilang 3 hari, tapi tidak menunjukkan rasa simpati sama sekali pada Hinata yang sudah menghilang hampir 2 tahun. Apa ini? Apa Kakashi sedang berada dalam sebuah sinetron atau film drama?
"Hanya ada 1 kesimpulan dari semua keanehan ini.." Kakashi melirik Sasuke yang masih terkulai lemah di jok belakang mobilnya, pucat, dingin. "Gadis bernama Hinata itu.. bukan adik kandungmu, Tuan muda."
.
.
.
"What the world really loves, is not a lover. But a love story."
– Travellers, Cornetto Cupidity Love Stories (UK)
.
.
.
Aku bisa mencium wangi lavender yang samar dari sini.
Kain kain tipis yang beterbangan kesana kemari, cahaya pagi yang menyilaukan.
Aku tahu tempat ini.
"Aniki!" Sebuah suara yang sangat kukenali menggema ditelingaku. "Aniki, aku disini!" sebuah tangan melambai lambai diantara kain kain.
Aku berlari.
Kurasakan kakiku berlari, mengejar suara itu.
"Hinata.." Bibirku memanggil namanya.
Dibalik sebuah kain putih tipis, kulihat bayangannya. "Hinata!"
Kusingkirkan kain itu, namun aku tak melihat siapapun.
"Aniki!" Suaranya mengalun indah, seperti lantunan melodi. Kusebarkan padanganku kesegala arah. Aku mencarinya kesana kemari. Ia, Hinata.
Aku menemukannya sedang bersembunyi disemak bunga ketika kami masih kecil dulu. Senyumnya, wajahnya dan tawanya. Ia bagai matahari.
Ia matahari pagi yang menyelusup dibalik celah celah jendela, selalu memberiku alasan untuk tetap hidup.
Semua orang selalu menganggap diri mereka sendiri unik, berbeda. Tapi mereka tak pernah sadar kalau semua perasaan itu adalah omong kosong.
Kita semua sama, kita semua serupa.
Kita menggantungkan harapan pada sesuatu, pada seseorang. Kita berharap bisa dicintai. Kita berharap kita dapat merasakan cinta. Kita berbohong. Kita ketakutan. Kita takut kehilangan.
Kadang kita kecewa.
Kau tahu mengapa kita bisa merasakan sebuah perasaan bernama kecewa?
Karena kita berharap seseorang bisa memberikan sebesar yang bisa kita berikan. Itulah awal dari rasa kecewa. Kita kecewa, karena ternyata, menemukan seseorang yang dapat menimbangi kita terlihat begitu mustahil. Kita kecewa, karena kita tahu tak semua orang bisa menjadi orang yang baik.
Tak semua orang berpikir seperti kita, tapi kita semua berpikir demikian.
Aku tak pernah mengenal diriku, aku tak pernah merasa berbeda. Aku tak pernah cukup, aku tak pernah penuh. Dan kurasa, semua orang juga tak pernah.
Kita punya volume kita masing masing.
Ada yang hanya memiliki separuh, dan ada yang hanya memiliki seperempat. Tapi ada juga mereka yang hampir terisi penuh.
Ketika seorang seperempat bertemu dengan sang tiga perempat, maka ia menjadi penuh. Mereka menjadi satu.
Itulah mengapa ada orang yang mencintai, dan ada pula mereka yang dicintai.
Tapi kita semua sama. Kita selalu merasa kita adalah sang seperempat, walau sebenarnya kita bukan.
Begitupula aku. Aku selalu berpikir bahwa aku adalah sang seperempat, dan Hinata memiliki tiga perempat yang kubutuhkan. Aku mencari, aku terus mencarinya.
Aku ingin membuat diriku sendiri utuh, tanpa pernah memikirkan dirinya. Kain kain indah yang beterbangan kesana kemari, yang tadinya sangat indah dimataku kini mulai nampak menjengkelkan. Rintangan kadang menyenangkan diawal, dan memuakkan diakhir.
Akupun berhenti.
Aku berhenti mencarinya, karena waktu akan terus berjalan. Tak selamanya matahari pagi ini akan ramah padaku.
Suatu saat ia bisa membakarku jika telah tiba waktunya.
Dan aku tak mau. Aku tak mau terbakar.
"Hinata.." aku memejamkan mataku, membayangkannya berdiri didepanku. "Maafkan aku.."
Maafkan aku yang tak bisa mencintaimu dengan baik, dan tak juga bisa mendapatkan cintamu.
"Aku menyesal."
Dan aku membeku. Tubuhku membeku. Berat, tak dapat bergerak.
"Aniki.." panggil suara itu lagi. Aku membuka mataku, namun bukan Hinata yang manis dan tersenyum yang menyapaku, melainkan seorang gadis bersimbah darah, dengan tatapan penuh dendamnya padaku.
Aku masih membeku.
Wangi lavender yang memenuhi penciumanku, kini berganti menjadi bau darah yang sangat amis. Tangan gadis itu menjulur, mencoba meraihku.
"Kau sudah membunuh kedua orangtuaku.." Kedua tangan dingin itu mencengkram leherku kuat kuat, "KAU SUDAH MEMBUNUH KEDUA ORANGTUAKU!"
.
.
"AAAAH!"
Brak!
"Sasuke?! Ada apa? Apa yang salah?!"
Pengelihatanku buram, nafasku terengah engah. Aku mengedipkan mataku berkali kali, mencoba melihat dengan jelas.
Tangan itu, bau darah itu. Aku masih bisa merasakannya.
"Sasuke?"
"AAH!"
Aku menepis tangan Kakashi spontan.
Semua itu hanya mimpi. Ya. Hanya mimpi. Hinata pasti masih hidup, ia pasti masih hidup. Aku harus menemukannya.
"Hei, hei. Tenanglah. Kau baru saja sadar, kau belum boleh kemana mana!" Kakashi menahanku, ia menarikku kembali ketempat tidurku. Ah, bukan.
Ini.. tempat tidur rumah sakit.
"Kakashi.." Aku menggumam pelan, "Bagaimana.. kau bisa menemukanku?"
"Insting manager."
"Heh." Aku mendengus mendengar jawabannya. Ia menyodorkan segelas air hangat kepadaku.
"Kau.." Kakashi menarik kursi lipat kesamping tempat tidurku, "Apa kau bermimpi tentang hal yang menyeramkan, atau semacamnya?" matanya menganalisaku.
Tak ada gunanya berbohong didepan seseorang seperti Kakashi.
"Hn.." jawabku singkat.
"Apa itu mengenai gadis yang.." ia berhenti ditengah tengah kalimatnya, "Lupakan saja. Mari kita bicarakan jadwalmu untuk seminggu kedepan."
"Namanya Hinata." ucapku, "Namanya Hinata, Hyuuga.. Hinata."
Aku menunduk.
"Dia dulu adalah adik angkatku."
Kepalaku serasa berputar. Aku berharap semua itu hanyalah bualan belaka. Kuharap semua ini hanya mimpi, dan ketika aku bangun, semuanya akan kembali seperti yang seharusnya.
Tapi.. bagaimana yang seharusnya itu?
Aku.. bahkan tak tahu lagi bagian mana dari hidupku yang merupakan sebuah kebenaran.
"Hyu- Hyuuga?" Mata Kakashi terbelalak.
Ekspresi yang ditunjukkannya, sama persis seperti ekspresiku ketika Orochimaru memberitahukan kebenaran ini padaku.
"Hyuuga. Perusahaan yang pernah menjadi saingan perusahaan ayahku belasan tahun lalu."
Uap hangat dari gelas kaca yang berada dalam genggamanku naik keatas, mengepul.
"Dulu aku masih terlalu naïf untuk menyadari apa tujuan sebenarnya ayah mengadopsi Hinata. Aku.. bahkan tak pernah tahu hingga kemarin." Setiap kata yang meluncur dari bibirku seakan mengambang, naik bersama uap hangat air digelasku.
"Hidupku ini, Kakashi.." Aku menatap Kakashi yang masih berpikir, "Hidupku hanyalah kebohongan sejak awal."
Hinata.
Kini kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi, walaupun hanya satu kali.
Aku.. ingin meminta maaf.
Dan melepaskanmu dengan cara yang seharusnya.
Karena seluruh kekacauan yang terjadi dalam hidupmu itu, semuanya terjadi karena aku.
Karena ayahku yang ingin menciptakan jalan hidup yang mulus untukku, sehingga ia merusak jalan hidupmu.
.
.
.
.
.
T
B
C
.
.
Hello everyone, i'm BACK!
SO LONG, MY DEAR READERS.
SO SORRY..
jadi kalau kalian semua bingung, kenapa ffn ini tiba tiba muncul lagi (untuk yang pernah baca)
itu karena authornya, setelah DUA TAHUN hiatus, akhirnya menemukan jalan kembali ke situs ffn dan bernostalgia dengan fic karangannya lagi.
setelah membaca baca dan gemas sendiri, akhirnya, AKHIRNYA, berpikir untuk melanjutkan salah satu ff nya yang ditinggalkan GANTUNG selama DUA TAHUN.
oke, maaf saya banyak berkoar. saya usahakan chapter terbarunya released secepat mungkin.
silahkan baca ulang untuk sekedang mengingat ingat ff ini sebelum chapter terbaru keluar.
so good to be here again, guys! love you so much!
