.

Summary : Athrun Zala meyakini tunangannya, Lacus, telah meninggal dan ia mengira kematian Lacus disebabkan Keluarga Hibiki. Demi membalas dendam, Athrun menyusun rencana dengan menikahi Cagalli, putri tunggal di Keluarga Hibiki, berniat memperlakukannya dengan buruk.

Seiring berjalannya waktu, Athrun menyadari Cagalli bukanlah wanita biasa, wanita itu memesona dengan sifatnya yang keras kepala dan pantang mengalah. Hari demi hari Athrun dilingkupi perasaan kontradiksi. Ia benci pada Cagalli, tetapi juga cinta pada wanita itu.


Kontradiksi oleh Ang

Gundam Seed/SD punya Bandai, Sunrise

AU. OOC. AsuCaga. Typo.

A/N : Sementara Athrun akan saya buat jadi tokoh kejam di sini. Masih terpikir ingin membacanya?


Bab 1: Kepercayaan Diri Bodoh


"Nona Cagalli, saya pikir sebaiknya Anda tidak pergi."

Gadis yang dipanggil Cagalli itu menahan diri agar tidak memutar kedua bola mata. Ia bertanya-tanya di dalam hati mengapa pelayannya, Meyrin, melarang dirinya bersenang-senang. Padahal menurutnya tak ada yang salah dengan keputusannya. Ia hanya akan pergi selama dua jam bersama seorang pria terhormat, makan malam di salah satu restoran mewah di Orb.

Ya, Cagalli cukup yakin Athrun Zala pria terhormat, ia mengetahui Athrun adalah putra dari seorang mahajutawan pemilik perusahaan Teknologi Informasi terbesar di PLANT. Tentunya laki-laki itu tidak perlu repot-repot mencemarkan reputasinya dengan berlagak menjadi pria amoral saat di depan Cagalli, karena menurutnya akan ada banyak orang yang memerhatikan mereka nanti.

"Athrun bukan orang sembarangan, aku tahu itu," kata Cagalli dengan yakin. Ia memerhatikan pantulan dirinya di cermin dan mendapati dress tosca selutut yang dikenakannya tak bercela.

"Tapi, Nona," Meyrin menghentikan sejenak aktivitas menyisir rambut pirang Cagalli. Ia menatap serius wajah majikannya itu. "Anda baru mengenalnya kemarin sore, tetapi langsung menerima ajakan kencan darinya. Bukankah Anda memercayainya terlalu cepat?"

Cagalli menatap sebal wajah Meyrin yang terpantul di cermin. Sebelum ini pelayan itu selalu antusias mendukung jika ada laki-laki yang mendekati Cagalli. Tapi entah mengapa kali ini Meyrin seperti tidak senang ia hendak pergi dengan Athrun. "Ada apa sih, Mey?" tanya Cagalli. "Biasanya kau bersemangat mendukungku."

Meyrin menunduk muram, kemudian kembali melanjutkan merapihkan rambut halus Cagalli. "Saya senang jika laki-laki yang mendekati Anda adalah orang-orang yang sudah dekat dengan keluarga Anda, yang sudah familier," jawabnya. "Saya hanya khawatir pada Anda jika laki-laki itu baru dikenal."

Cagalli menghela napas sejenak. "Aku bukan anak kecil lagi, Meyrin, aku sudah delapan belas tahun. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Ia berdiri bangkit dari kursi lalu memutar tubuh menghadap Meyrin, memegang kedua tangan pelayannya itu. "Lagipula, kau juga sepakat 'kan kalau Athrun sangat tampan?" Ia tersenyum.

Meyrin mengangguk pelan, terpaksa menyetujui ucapan Cagalli. Selama tiga tahun belakangan ini ia telah menemani Cagalli, dan ia paham betul majikannya itu punya sifat keras kepala. Ia tidak dapat membantah jika Cagalli sudah bertekad.

Athrun Zala. Meyrin telah bertemu dengan laki-laki itu kemarin sore saat tengah mendampingi Cagalli mengunjungi toko buku. Kesan pertama Meyrin terhadap laki-laki itu kurang baik. Ia berani bersumpah yang dilihatnya kemarin adalah Athrun sengaja mendekati Cagalli, dengan cara menabrak tubuh Cagalli lalu bersikap seolah-olah dirinya yang ditabrak—membuat Cagalli meminta maaf lebih dulu. Akhirnya Athrun dan Cagalli saling berkenalan lalu bertukar nomor telepon. Meyrin berspekulasi Athrun bisa saja memiliki niat kurang baik mendekati Cagalli.

"Baiklah, sekarang sudah jam delapan. Saatnya aku berangkat." Cagalli melepaskan pegangan tangannya dari tangan Meyrin, lalu menghampiri tempat tidurnya untuk mengambil ponsel. "Nah, lihat, dia sudah menungguku di depan gerbang." Cagalli menunjukkan ponselnya pada Meyrin. Di layarnya tertera pesan singkat dari Athrun.

"Nona, kalau terjadi sesuatu kau dapat menghubungiku—"

"Tidak perlu khawatir," potong Cagalli dengan santai. "Dan kalau mereka menanyakan diriku, tolong katakan aku pergi bersama Miriallia. Aku tidak ingin mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari mereka saat aku pulang nanti."

Lagi-lagi Meyrin mengangguk patuh. Mereka yang dimaksud Cagalli adalah Kira beserta pasangan suami-istri Hibiki, Ulen dan Via. Ketiganya kebetulan sedang tidak ada di rumah. Kira pergi ke rumah temannya, Tolle. Sedangkan Tuan dan Nyonya Hibiki sedang mengunjungi kerabat jauh di Onogoro.

"Terimakasih, Meyrin."

Saat Meyrin hendak membalas ia keburu melihat punggung Cagalli perlahan menghilang ke balik pintu. Meyrin hanya dapat berdoa di dalam hati semoga tidak terjadi hal yang buruk pada Cagalli.

Semoga saja.

...

Bodoh. Hanya satu kata itu yang terlintas di pikiran Cagalli jika mengingat betapa yakin dirinya menganggap Athrun bukan orang sembarangan. Ia telah keliru, dan itu kini berbuah fatal. Awalnya Athrun memang memperlakukannya dengan lembut. Athrun menjemputnya di depan gerbang, membukakan pintu depan mobil untuknya, terus memberikan senyum memesona kepadanya. Cagalli bahkan sempat tertawa ketika Athrun berkata akan menculiknya, menyangka itu hanya candaan. Sampai ia tersadar mobil yang dikemudikan Athrun melaju terlalu cepat dan semakin menjauhi kota. Sadar kalau laki-laki itu tidak membawanya ke restoran mewah di tengah kota. Sadar laki-laki itu telah membohonginya.

"Kau tidak dapat menculikku," tegas Cagalli. Ia berusaha mempertahankan sikap tenang, walaupun di dalam dirinya menuntut untuk panik. "Kau bisa membawaku kemana pun, tetapi aku tetap akan lolos darimu."

"Benarkah?" tanya Athrun sembari tersenyum santai. Senyuman yang awalnya Cagalli anggap memesona tetapi sekarang terasa mengesalkan. "Kita sudah berkilo-kilometer dari kota, sayang."

Cagalli memerhatikan sekeliling, hanya ada deretan pepohonan dan jalanan yang mulai berkerikil yang tersorot lampu depan mobil. Selebihnya... yang dapat dilihatnya di luar hanyalah kegelapan malam. "Aku selalu punya rencana," ucapnya marah.

"Tidak jika aku terus mengawasimu," kata Athrun tajam. Tiba-tiba saja senyum di wajahnya memudar, digantikan dengan raut dingin. "Tetapi jika kau sengaja mencoba rencanamu untuk kabur, aku tidak punya pilihan selain terpaksa mendorongmu ke jurang terdekat. Jadi jangan coba-coba."

"Kau tidak dapat memperlakukanku seperti ini!" kata Cagalli dengan kesal.

"Itulah kesalahanmu," balas Athrun. "Kau tahu dirimu terancam, tetapi kau mengelak untuk memercayainya."

Cagalli merasakan tangannya sedikit gemetar ketika menyadari Athrun menghentikan laju mobil, sontak sekaligus mematikan lampu sorot depan mobil. Tidak ada kehidupan apa pun yang dapat dilihatnya di luar sekarang. Yang bisa pandangannya jangkau hanyalah secuil cahaya di dalam mobil.

"Apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Cagalli.

Athrun tidak menggubris jawaban itu, belum. Laki-laki itu keluar dari mobil lalu membuka pintu di samping tubuh Cagalli, menarik Cagalli keluar kemudian memasukkannya paksa ke kursi belakang. Athrun pun mengikuti masuk, ia mendorong kasar tubuh Cagalli hingga gadis itu telentang di kursi. Athrun memposisikan diri di atas tubuh Cagalli, menempatkan kedua tangannya di sisi kursi di samping kanan dan kiri kepala gadis itu—memerangkap tubuhnya.

"Kau ingin tahu apa yang akan kulakukan padamu?" Athrun mencengkeram kedua pergelangan tangan Cagalli. "Akan kuberitahu sekarang juga."

Hal terakhir yang diinginkan Cagalli adalah dapat lolos dari Athrun. Ia sempat tergugah untuk berontak, mengambil ponselnya yang tertinggal di dasbor depan mobil, lalu menghubungi siapa pun untuk meminta tolong. Tapi sepersekian detik selanjutnya Cagalli menyadari hal itu percuma. Tangannya tidak akan bisa mencapai ponsel di dasbor dari kursi belakang, ia tidak dapat lolos dari situasi ini.

Cagalli ingin histeris ketika Athrun mulai menurunkan tubuh dan menyingkirkan segala jarak di antara bibir mereka, tapi tidak sempat karena Athrun keburu menciumnya. Awalnya ciuman itu biasa, tetapi seiring detik berlalu ciuman itu menjadi menuntut dan kasar. Athrun menggigit bibir bawah Cagalli, memaksanya untuk membuka mulut, dan akhirnya Cagalli menyerah.

Tidak ada pilihan lain bagi Cagalli sekarang. Situasi ini merupakan konsekuensi untuknya karena diawal ia terlalu percaya pada Athrun. Cagalli tidak berteriak dan tidak juga melawan, karena ia berpikir hal buruk itu pasti akan tetap terjadi, jadi ia berusaha untuk mengikuti suasana.

Hingga Athrun menyingkap dress Cagalli dan melakukan perbuatan lebih jauh... saat itu juga gadis itu terbelalak dan ingin menangis. Ia pernah diberitahu temannya saat di SMA dulu kalau pengalaman pertama pastilah sakit. Tapi ia tidak pernah menyangka akan mengalami rasa kesakitan itu sekarang, dengan laki-laki tampan berhati kejam. Ya, sekarang Cagalli dapat menyimpulkan Athrun merupakan laki-laki kejam. Tidak hanya menculiknya, laki-laki itu kini memerkosanya! Kasar dan tanpa perasaan. Hanya tekad tidak ingin terlihat lemah yang menguatkan Cagalli hingga ia tidak menangis sekarang.

Cagalli tidak bisa mengelak, hanya dapat menerima perlakuan kasar Athrun, karena kedua pergelangan tangannya dicengkeram kelewat erat dan mulutnya dibungkam hingga bibirnya sedikit bengkak dan berdarah oleh Athrun.

Detik, menit, hingga hitungan jam demi jam pun berlalu. Selama waktu yang telah terlewat itu yang dapat telinga Cagalli dengar hanyalah bunyi aktivitas tubuh mereka. Tak ada percakapan apa pun yang tercipta selama kegiatan intim itu berlangsung.

Cagalli benar-benar sudah pasrah. Ia sudah tidak peduli sekalipun harus pingsan karena kelelahan, karena Athrun tidak pernah melepaskan cengkeraman tangannya barang sedetik pun. Hingga cahaya matahari pagi mulai tampak dan masuk menembus kaca mobil... akhirnya laki-laki itu menghentikan segalanya. Athrun mengangkat tubuhnya, melepaskan diri dari tubuh Cagalli.

Cagalli melihat Athrun merapihkan pakaian mereka sekadarnya, lalu menarik tangannya hingga ia terduduk paksa. Karena masih merasakan ngilu hampir di seluruh tubuhnya, Cagalli tidak dapat memberontak ketika Athrun menariknya keluar dari mobil dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke jalanan tanah berkerikil. Rasanya benar-benar sakit ketika siku dan lututnya membentur batu-batu kecil, sehingga ia melenguh pelan. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan, Cagalli mendongak untuk melihat wajah Athrun. Hanya ekspresi dingin dan tatapan tajam yang dapat dilihatnya di sana.

"Kenapa?" tanya Cagalli. "Kenapa kau melakukan ini padaku?"

Cagalli mendapati Athrun tidak mengacuhkan pertanyaannya. Laki-laki itu malah masuk ke mobil lalu kembali keluar sembari melempar sebuah benda ke tanah di depan tubuh Cagalli. Benda itu adalah ponsel Cagalli.

"Sinyal ponsel masih dapat dijangkau di sini," kata Athrun datar. "Kau dapat menghubungi orang untuk menjemputmu." Dan seakan tanpa beban sedikit pun, dengan santai Athrun kembali masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesinnya, lalu melajukannya. Meninggalkan Cagalli sendirian di tengah-tengah jalanan tanah berkerikil, yang di kedua sisi jalannya dipenuhi pepohonan.

"Aku membencimu." Tiba-tiba saja Cagalli berkata lirih. Setetes air mata jatuh dari mata kirinya, dan perlahan membasahi pipi. "Aku membencimu." Ia mengulanginya sembari mengepalkan sebelah tangan. "AKU MEMBENCIMU ATHRUN ZALAAA!" Akhirnya ia berteriak.

...

Yang menjemputnya saat itu adalah Kisaka. Cagalli menelepon pengawal keluarganya itu tak lama setelah Athrun pergi meninggalkannya. Kisaka benar-benar terkaget ketika melihat keadaan Cagalli saat itu, sehingga bertekad mencari siapa pun bajingan yang telah menyakiti majikannya, mengancam akan membunuhnya. Cagalli cepat-cepat mengambil inisiatif berbohong saat itu juga. Ia meyakinkan Kisaka bahwa tak ada hal buruk apa pun yang terjadi padanya, bahwa ia hanya tersesat saat ingin mengunjungi rumah teman. Walaupun tahu alasan itu tak masuk akal, Cagalli tetap meminta Kisaka untuk melupakan saja kejadian di hari itu.

Tetapi bagi dirinya sendiri kejadian itu tidaklah mudah dilupakan. Walau kini dua minggu telah berlalu... perasaan gelisah itu senantiasa mengikuti Cagalli. Pertama-tama adalah karena masa menstruasinya yang tidak datang tepat waktu, lalu ditambah dua hari belakangan ini ia terus kelelahan dan merasakan mual di pagi hari. Puncak kegelisahannya adalah tadi siang, ketika ia nekat mendatangi rumah sakit di tengah kota untuk memastikan apa yang terjadi pada tubuhnya.

Sang dokter yang telah memeriksanya tadi siang, Talia Gladys, mengatakan rasa mual dan kelelahan yang dialami tubuhnya disebabkan ia tengah hamil.

Saat mendengar pernyataan sang dokter Cagalli langsung shock, tentu saja. Awalnya ia tidak memercayainya. Sampai akhirnya ia memberanikan diri membaca tulisan yang tertera pada selembar kertas yang diberikan sang dokter kepadanya... ternyata, ya, di dalam surat pemberitahuan itu tertulis kalau ia positif hamil. Setelah itu Cagalli tidak dapat menyangkalnya.

Sekarang, terduduk di kasur di dalam kamarnya, dengan tangan gemetar Cagalli menggenggam kertas dari dokter Talia. Ia tengah memikirkan langkah apa yang akan diambilnya setelah ini.

Sudah pasti... anak yang dikandungnya adalah anak Athrun. Dan Cagalli benci pada kenyataan itu.

Cagalli sempat berpikiran untuk menggugurkan kandungannya, karena ia membenci Athrun dan tidak ingin di tubuhnya terdapat sesuatu yang ada kaitannya dengan laki-laki kejam itu.

Tapi... menggugurkan berarti membunuh. Seketika Cagalli menyingkirkan ide menggugurkan. Ia bukan Athrun, dan tak ingin menjadi seperti laki-laki itu sampai harus kejam membunuh anaknya sendiri. Cagalli dapat berspekulasi mungkin saja laki-laki itu akan menawarkan ide itu kepadanya jika tahu dirinya hamil.

Mungkin sebaiknya aku pergi ke kota lain bila nanti perutku sudah terlihat membesar, Cagalli membatin. Aku akan melahirkan di sana, dan menitipkan anak ini ke panti asuhan. Baru setelah itu aku kembali ke sini, bersikap biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa—

"Nona, gawat! Ini gawat!"

Cagalli tersadar ke realitas. Semua ide yang sedari tadi terpikirkan di otaknya seketika buyar. Hanya karena mendengar suara seseorang dari arah luar kamarnya. Yaitu suara Meyrin.

Cagalli bergegas bangkit dari kasur, lalu berjalan menuju pintu. Ketika ia membuka pintu kamarnya, saat itu juga ia langsung dikejutkan dengan sikap Meyrin yang langsung memeluknya.

"Nona Cagalli, maafkan aku!" Meyrin berkata sambil terisak. "Seharusnya saat itu aku berusaha lebih keras meyakinkanmu agar tidak pergi."

Cagalli mengernyitkan kening. Bingung. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja Meyrin bersikap semelodramatis ini. Sebelumnya Meyrin tidak pernah menangis di hadapannya. "Apa ada sebenarnya, Meyrin?"

"Laki-laki itu," Meyrin melanjutkan ucapannya. "Dia ada di bawah, di ruang keluarga. Dia sedang meyakinkan Tuan Ulen untuk menikahi Anda."

"Dia? Dia siapa?" tanya Cagalli. Tiba-tiba saja ia merasakan firasatnya tidak enak.

"Athrun Zala," jawab Meyrin. "Dia bilang dia harus bertanggungjawab karena telah menghamili Anda."

Cagalli langsung membelalakkan kedua matanya sesaat setelah mendengar jawaban Meyrin. Sejenak ia membeku di tempatnya berdiri, lalu seakan tak mau berlama-lama terdiam, ia segera melepaskan diri dari pelukan Meyrin dan berlari keluar kamar, menuju ke tempat di mana laki-laki kejam itu berada.

Bagaimana? Bagaimana? batin Cagalli bertanya-tanya. Ia nyaris tersandung ketika berlari menuruni tangga, dan tidak memedulikannya. Bagaimana bisa dia tahu aku hamil?

Cagalli menghentikan langkah ketika telah sampai di depan pintu ganda ruang keluarga Hibiki. Walau pintunya kini tertutup rapat, secara samar-samar ia masih dapat mendengar suara percakapan dari dalam.

"Bagaimana aku memercayaimu?"

"Paman, hari ini Cagalli mendatangi rumah sakit di tengah kota Orb dan berkonsultasi dengan seorang dokter bernama Talia Gladys. Aku mengetahuinya karena dokter Talia adalah sahabat Ibuku dari PLANT. Dokter Talia bercerita kepadaku kalau ada gadis remaja yang hamil, dan itu adalah Cagalli. Aku merasa perlu bertanggungjawab karena hanya akulah satu-satunya laki-laki yang dekat dengannya—"

Cagalli memberanikan diri membuka pintu ganda karena tidak tahan mendengar dirinya dibicarakan. Seketika tindakannya itu membuat semua orang yang ada di dalam ruang keluarga menolehkan kepala mengarah ke arahnya. Bahkan membuat seseorang yang baru saja berbicara itu menghentikan ucapannya.

"Cagalli," Ulen berkata dari sofa di tengah ruangan. Ekspresi wajahnya keras, seperti sedang menahan amarah. "Benarkah yang dikatakan laki-laki ini? Bahwa kau hamil?"

Laki-laki yang dimaksud ayahnya adalah Athrun. Dan jawaban dari pertanyaan Ulen adalah benar. Tetapi entah mengapa Cagalli tidak mampu mengungkapkan jawaban itu. Ia malah menunduk memandang ke arah salah satu tangannya, terkejut mendapati kertas dari dokter Talia masih terpegang di sana. Ketika Cagalli menengadah kembali tiba-tiba saja ia melihat ayahnya telah berdiri di hadapannya, seketika mengambil paksa kertas itu dari tangannya. Cagalli langsung panik.

"Ayah, tidak, jangan baca kertas itu—"

Terlambat. Ayahnya membacanya.

Dalam jangka waktu kurang dari semenit ekspresi di wajah Ulen berubah drastis menjadi murka. Dengan keras Ulen menampar pipi sebelah kiri Cagalli, membuatnya jatuh tersungkur ke lantai di dekat pintu. Cagalli terduduk, terdiam memegangi pipi kirinya. Ia sekuat tenaga menahan diri agar tidak menangis.

"Dasar anak tidak tahu diri!" maki Ulen. "Aku sudah mendaftarkanmu ke universitas paling terbaik di kota ini! Tapi kau malah mengecewakanku seperti ini!"

Cagalli melihat Ayahnya mengangkat sebelah tangan berniat memukulnya lagi, tapi tergagal karena dengan cepat Via, ibunya, berlari dari sofa lalu menahannya.

"Hentikan, sayang!" kata Via dengan menangis. "Jangan pukul anak kita!"

"Dia sudah tidak memiliki harapan lagi, Via!" teriak Ulen. "Masa depannya telah suram!"

Sakit. Perasaan itulah yang menerpa Cagalli ketika melihat ibunya menangis. Dan, yah, ayahnya benar. Dengan keadaannya sekarang... sudah dapat dipastikan bahwa masa depannya suram.

"Paman, tolong jangan hanya salahkan Cagalli. Kami melakukannya bersama-sama. Jadi ini adalah kesalahan kami berdua."

Cagalli menoleh perlahan ke arah asal suara itu. Suara seseorang yang baru saja berbicara. Seharusnya ia menyadari kehadiran laki-laki itu sedari tadi. Tetapi karena terlarut dalam kemarahan ayahnya, ia sempat lupa.

Sekarang Cagalli melihat laki-laki itu, Athrun, berjalan menghampirinya. Athrun berhenti di hadapannya, menurunkan tubuh, mensejajarkan tubuh dengan tubuhnya. Yang membuat Cagalli geram adalah ketika melihat ekspresi wajah laki-laki itu. Athrun tersenyum sekarang. Dan karena posisi tubuh depan Athrun menghadap tubuhnya, kedua orangtuanya jadi tidak dapat melihat wajah Athrun.

"Masa depan Cagalli tidak akan suram, Paman," kata Athrun. "Dia akan baik-baik saja tinggal bersamaku di PLANT. Tidak akan kekurangan apa pun. Aku berani menjamin. Jadi kuharap Paman setuju aku menikahinya."

"Baiklah," setuju Ulen akhirnya. Nada suaranya terdengar sedikit pasrah. "Tetapi aku minta secepatnya. Aku tidak mau orang-orang lebih dulu tahu putriku hamil."

"Ya," balas Athrun. "Setelah aku memberitahu kedua orangtuaku, kita akan melangsungkan pernikahan secepatnya. Lusa. Di PLANT. Hanya kalangan keluarga saja."

Cagalli mengepal erat sebelah tangannya. Ia benar-benar tidak tahan ingin segera menolaknya. Ia sungguh tidak ingin menikah dengan Athrun. Tetapi ketika melihat raut wajah frustasi ayahnya dan ekspresi sedih ibunya... hati Cagalli serasa menciut, ia tidak dapat membantah. Ia tidak tahu apakah ini memang satu-satunya jalan terbaik untuknya, yaitu menikah dengan laki-laki itu.

"Kau akan baik-baik saja, Cagalli." Cagalli tidak sempat mengantisipasi ketika secara tiba-tiba Athrun memajukan tubuh mendekatinya, sehingga ia terpaksa menerima pelukan laki-laki itu. "Kau pasti bertanya-tanya 'kan mengapa aku mengetahuinya?" Athrun berbisik di telinga Cagalli. "Tentu saja, aku telah mengawasimu selama seminggu ini."

Ada banyak kata-kata yang ingin diungkapkan Cagalli pada laki-laki itu, tetapi hanya satu kata yang terlintas di kepalanya dan berhasil diucapkannya, yaitu; "Kenapa?"

"Karena aku membencimu," jawab Athrun dengan sengaja memperkuat pelukannya, membuat Cagalli meringis kesakitan. "Sekarang menangislah. Menangis meratapi awal penderitaanmu. Dengan senang hati aku akan mengusap punggungmu."

Tidak! tegas Cagalli dalam hati. Satu kali pun aku tidak akan pernah memperlihatkan sikap lemahku kepadamu. Dan jika karena alasan membenciku yang membuatmu berlaku kejam kepadaku, maka...

"Baiklah. Aku terima tawaran pernikahan darimu."

Aku akan balik berlaku kejam kepadamu karena aku juga membencimu. Aku akan menjadi istri pembangkang, yang selalu membantahmu dan tidak akan pernah menuruti apa pun yang kau katakan. Kau takkan pernah bisa mengharapkan sesuatu dariku, Athrun.

Takkan pernah.


TBC


A/N : Hmmm ini bakalan susah sih kedepannya nyatuin dua orang yg saling benci xD Awkwokwokwok nekat banget gak sih gua publish fic beginian *ngomong sama diri sendiri*

Santuy mulai bab depan pendeskripsiannya lewat sudut pandang Athrun. Nanti saya jelaskan kok kenapa dia bisa jadi jahat banget.

Btw halo, semua! Nggak terasa saya setahunan hiatus, soalnya saya sibuk nyate dan sempat lupa password FFN :')

Makasih ya sudah sempatkan baca! silahkan flame nya Kakak :))

Ttd; Ang, 17-06-2020.

Edit; 18/01/2023