Thousand of Tears

Chapter 67 Munculnya Jogen Nomor 3

Masinis yang tadi melukai Tanjiro, kini dibuat pingsan olehnya. Semua isi kereta itu adalah pion, masinisnya pun tak terkecuali.

Sambil menahan lukanya agar tak semakin banyak mengeluarkan darah, Tanjiro memberikan intruksi pada Inosuke untuk membuka kembali bagian bawah gerbong kereta yang tadi sempat beregenerasi. Dengan beberapa tebasan, kini terlihat kembali tulang leher yang berukuran besar itu. Tanpa basa basi, Tanjiro mengerahkan kekuatannya untuk menebas 'leher' itu.

Bersamaan dengan teriakan kesakitan dari Enmu, seluruh gerbong kereta kehilangan keseimbangannya karena terputus dari kepala kereta dan keluar dari jalurnya. Tanjiro yang sudah kehabisan tenaga dan tak bisa berpegangan untuk menahan dirinya sendiri dari guncangan, ikut terlempar keluar saat kereta berguling. Shirazumi segera bergerak melompat dan menangkap adik laki-lakinya itu agar tak jatuh membentur tanah. mereka berdua mendarat dengan selamat.

Shirazumi membaringkan adiknbya terluka dengan perlahan. darah masih keluar dari luka di perutnya. Shirazumi menahan mati-matian hasrat untuk 'mencicipi' darah itu.

Kali ini suara yang sangat keras yang berasal dari Inosuke yang terdengar. dia menghampiri tanjiro dan Shirazumi. walaupun suara dan bahasanya kasar seperti biasanya, tapi sangat terasa kalau dia sangat mengkhawatirkan Tanjiro.

Bagaikan andrenalin yang habis, kini aroma darah sangat tercium oleh Shirazumi. dia perlahan berdiri dan mundur menjauhi Adiknya. Selain bau darah dari Tanjiro, seluruh isi gerbong kereta mengeluarkan bau darah. Dengan gerbong kereta yang terguling tersebut, bukan hal yang tak mungkin kalau beberapa penumpang yang sedang tak sadarkan diri di dalamnya itu ada yang terluka. Salah satunya yang paling dekat adalah Masinis yang tadi melukai tanjiro. Kini masinis itu tak bisa bergerak karena salah satu kakinya tertindih gerbong kereta.

Shirazumi ingin sekali membunuh masinis itu yang telah melukai Adiknya. tapi tentu saja tanjiro tak akan menyukai hal itu.

'Tunggu dulu... sejak kapan aku sangat bernafsu untuk membunuh orang...?' Shirazumi berkata di dalam hatinya.

Tanjiro yang baru menyadari kakanya yang tadi ada di sampingnya kini menghilang, melihat kesegala arah yang dia bisa mencari kakaknya. Dengan suara yang hampir tak bisa dikeluarkan karena kelelahan dan kekurangan darah, Tanjiro tidak bisa memanggil kakaknya.

Di saat dia berusaha mencari posisi kakaknya, yang terlihat olehnya adalah Rengoku sang Hashira Api. Rengoku memuji Tanjiro yang sudah bisa melakukan pernafasan konsentrasi penuh, dan juga mengajari tanjiro cara untuk menghentikan pendarahan di perutnya.

Walaupun sudah melindungi lebih banyak orang di dalam gerbong dibandingkan yang lainnya, Rengoku sama sekali tak terlihat kelelahan. Semangat penuh masih terlihat membara di matanya.

Begitu pendarahan di perutnya berhenti, Tanjiro kembali mencari wujud kakaknya dengan tubuhnya yang masih sangat lelah. Rengoku yang menyadari tingkah juniornya itu menyadari apa yang dicarinya.

"Kau mencari Kakak perempuanmu? Dia ada disana. Sepertinya insting haus darahnya bangkit, jadi dia menjauh. Sungguh kakak yang perhatian ya" Ucap Rengoku sambil menunjuk ke arah Shirajumi yang sedang bersembunyi di balik pohon agak jauh dari tempat mereka berada. Kalimat terakhirnya bernada sedikit lebih serius.

Walaupun disebut bersembunyi, tubuh shirazumi hanya tertutup sedikit oleh batang pohon. Tangannya memegang batang pohon itu hingga berbekas. Wajahnya terlihat sedikit berkeringat. Hanya dengan melihat itu, Tanjiro melihat ke arah lukanya yang kini sudah tak lagi mengeluarkan darah dan tahu apa yang sedang dialami kakaknya sekarang. Shirazumi sedang menahan keinginannya keinginannya untuk memakan manusia.

.

.

.

Rupanya ketenangan yang ada hanya sesaat. Tiba-tiba muncul lagi Oni yang lain. Berbeda dengan Enmu yang bertubuh kurus (sebelum jadi kereta), Oni yang baru muncul ini memiliki tubuh yang berotot. Hanya memakai celana panjang dan sebuah rompi, menunjukkan tubuhnya yang memiliki beberapa garis biru di beberapa tempat. Saat melihatnya, walaupun tubuh Oni itu tertutup debu karena caranya yang datang langsung melompat entah dari mana, namun bulu kuduk Shirazumi mendadak berdiri. Gadis itu belum pernah melihat Oni yang yang baru muncul itu, tapi entah kenapa dia merasa takut. Saat kepulan debu itu hilang dan Oni itu membuka matanya, barulah Shirazumi tahu sumber rasa takutnya. Di kedua bola matanya, terukir huruf yang menyatakan kalau dia adalah salah satu dari jogen dan nomor 3 pula.

Tiba-tiba Oni itu bergerak ke arah Tanjiro yang masih tak bisa menggerakkan tubuhnya. Menyadari itu, tentu saja Shirazumi berherak dengan cepat guna menghalaunya agar tak melukai tanjiro. Shirazumi berhasil menghentikannya dari menonjok wajah Tanjiro, namun dia dilempar oleh Oni itu hingga beberapa meter jauhnya. Saat itulah Rengoku meggunakan Nichirin miliknya dan melukai tangan Oni itu.

Serangan yang diberikan Rengoku sama sekali tak berpengaruh. tangannya yang terluka langsung beregenerasi dalam waktu sepersekian detik.

Shirazumi langsung bangkit dan mendekati adiknya guna melindunginya. Namun sepertinya kali ini Oni itu tak tertarik lagi dengan Tanjiro. Oni yang memperkenalkan dirinya sebagai Akaza itu terus fokus pada Rengoku, bahkan sampai menawari sang Hashira Api itu untuk menjadi oni. Tentu saja tanpa berpikir dua kali Rengoku langsung menolaknya.

"Manusia itu makhluk yang akan menua dan mati. Kalau kau menjadi Oni, kalu bisa hidup beratus-ratus tahun lagi dan menjadi lebih kuat. Karena itu kau lebih baik menjadi Oni". Ucap Akaza mengajak Rengoku untuk menjadi Oni.

Di belakang Shirazumi yang sedikit gemetar, Tanjiro berusaha bangkit dan mencari nichirin miliknya yang tadi sempat terhempas entah kemana. Shirazumi yang menyadari pergerakan adiknya berniat menahannya untuk tak banyak bergerak. Pendrahannya sudah berhenti, tapi bukan berarti lukanya sudah sembuh.

Tiba-tiba, terasa hempasan angin dan debu yang sangat kuat yang berasal dari Rengoku dan Akaza. mereka berdua bertarung dengan gerakan yang sangat cepat. baik Tanjiro maupun Shirazumi, tak ada yang bisa melihat pergerakan mereka yang sangat cepat. Pertarungan itu benar-benar berada di level yang berbeda dari yang pernah dilihat oleh adik kakak itu.

Tawaran akan keabadian mungkin terdengar menggiurkan.

Tak akan menua. Tak akan sakit. Tak dibayangi kematian.

Namun dibalik keabadian, ada harga yang harus dibayarkan.

Ada penderitaan yang tak terbayangkan.

TBC

Ada kritik & saran?

Aku tunggu ^_^