Ketua kelas memberi instruksi. "Berdiri! Beri salam!"

"Selamat pagi bu!" Seluruh siswa berdiri dan memberi salam bersamaan.

"Selamat pagi anak-anak. Hari ini kalian akan punya teman baru." Jawab Bu Wali Kelas seraya memberi pengumuman. Ia menoleh dan mempersilahkan si murid baru masuk.

Murid baru itu cowok, bertubuh tinggi, bermata sipit, berambut coklat gelap agak gondrong dan ditata miring ke sisi kanan. Ia memakai beberapa gelang di lengan kanannya. Kemejanya terlihat tidak rapi dan ujungnya keluar dari celananya. Tas punggungnya menggantung hanya di sebelah bahu.

"Yo, what's up? Name's Younghyun Kang. You can call me Brian."

Seluruh siswa melongo. "Hah, apa? Whatsapp? Bra apa?" gumam para siswa.

"Ehm, Kang Younghyun, tolong diulang perkenalannya dengan bahasa yang bisa dimengerti anak-anak." Ujar Bu Wali Kelas.

"Ok. Halo semuanya. Namaku Kang Younghyun. Aku baru saja pindah dari Toronto, Kanada. Di sana, aku dipanggil Brian. Kalian bisa memanggilku Younghyun atau Brian, terserah kalian."

Para siswi mulai kasak-kusuk. "Waah, dia bisa bahasa Inggris. Keren sekali…Dia tinggi ya…"

Bu Wali Kelas melanjutkan. "Baik, Kang Younghyun, kamu bisa duduk di…" ia memandang sekeliling kelas mencari tempat duduk yang kosong. "…itu, di baris kanan, sebelah Park Sungjin. Park Sungjin, sebelahmu kosong kan?" tanya Bu Wali Kelas pada Sungjin.

"Ah, iya, si…lahkan." Jawab Sungjin sambil bergeser untuk memberi tempat bagi Brian.

Brian melangkah mantap dengan kedua kaki jenjangnya menuju kursi kosong di sebelah Sungjin. Setelah meletakkan tasnya, ia mengangkat tangannya untuk melakukan high-five—yang tidak dimengerti oleh Sungjin. Namun ia berusaha menirukan gaya Brian dan langsung dibalas dengan fist bump.

"Younghyun Kang."

"Sung…Sungjin Park." Jawab Sungjin terbata-bata sambil menirukan Brian. Dalam batinnya, ia mulai mengomel sendiri.

"Aduh, kenapa dia harus duduk di sini…aku sama sekali tidak bisa bahasa Inggris, kalau dia bicara bahasa Inggris terus nanti aku bagaimanaApa nggak ada tempat lain ya."

Brian tertawa kecil. "Tenang saja, aku bisa bahasa Korea kok." Ujar Brian seolah bisa mendengar pikiran Sungjin. "Tinggal di Toronto cuma 4 tahun, aku lahir dan besar di Korea."

Sungjin mengangguk-angguk. "Ah, begitu…"

Pembicaraan mereka terpotong karena Bu Wali Kelas sudah keluar dan digantikan oleh guru jam pertama untuk memulai pelajaran. Pelajaran pertama adalah sejarah yang sangat membosankan. Sungjin mulai mengantuk, namun ia ragu mengajak Brian bicara karena masih merasa canggung. Sebaliknya, ia hanya mengamat-amati teman sebangkunya yang agak unik itu yang terlihat asyik mencatat pelajaran…atau tidak?

"Hei, hei, apa yang kamu lihat?" sahut Brian.

Sungjin merengutkan dahinya. "Itu tidak terlihat seperti kisah perang Korea…apa yang kamu tulis? Berikan padaku." Perintahnya sebelum mengintip isi 'catatan' Brian. "Every day I'm walking on the street thinking 'bout many different things that make me wanna sing…Apa itu? Lirik lagu?"

"Bukan sembarang lirik lagu. Ini lirik lagu yang kubuat sendiri." Sombong Brian.

Kedua mata Sungjin langsung berbinar. "Kamu menulis lagu sendiri?"

"Music is my life, bro! You know Coldplay, The Script, One Republic? Whooo!"

"Apa?" Seketika Sungjin bersemangat. "Kamu suka mereka? A, aku juga!"

"Benarkah? Wow, man you got a good taste. From now on, we're brothers." Seru Brian sambil merangkul bahu Sungjin. Mereka kemudian tertawa bersamaan.

Memanfaatkan kesempatan yang ada, Sungjin langsung menanyakan hal yang saat ini sangat penting baginya. "Apa kamu bisa main musik?"

"Of course! Dulu aku punya band di Kanada. Aku main gitar, bas, dan aku juga sudah membuat beberapa lagu lain. Mau lihat?" Seru Brian bersemangat sambil membolak-balik halaman bukunya yang ternyata sudah penuh terisi oleh lirik lagu.

"Waaah…" Ini benar-benar kesempatan emas yang benar-benar tidak disangka oleh Sungjin. Siapa sangka si murid pindahan ternyata bisa bermain musik dan sudah membuat beberapa lagu?

-Jam istirahat-

"Hei, hei, hei apa yang kamu lakukan—" Brian terkejut ketika Sungjin tiba-tiba berdiri lalu menarik belakang kerah seragamnya.

"Sudah, ayo ikut saja." tukas Sungjin. Ia menarik Brian menuju papan pengumuman depan kelas lalu menunjukkan poster kompetisi band festival musim panas ke Brian. Brian membacanya dengan teliti, lalu matanya mulai berbinar.

"Jadi, kamu mengajakku membentuk band untuk festival ini?" ucap Brian, mulai mengerti.

Sungjin mengangguk bersemangat. "Benar sekali! Ayo kita mendaftar!"

Next track: Hunt