Honesty x and x Constancy

A Hunter x Hunter Fanfiction

By Yours Truly


Genre:

- Friendship

- Romance (?)—di chapter-chapter berikut, tapi bukan hal yang mendominasi FF ini.

Warnings:

- Bahasan mature (nggak selalu seksual, sih, tapi kurang bagus kalau saya kasih T buat rating, mungkin saya akan ganti ratingnya jadi M kalau sudah ada beberapa chapter).

- Pemilihan kata yang susah dicerna dan padat.

- OOC di karakter canon.

- Cerita yang terlalu maksa untuk nyempil di timeline canon.

- Pairing Canon x OC.

- OC (yang mungkin, semoga tidak) Mary-Sue.

- Perbedaan sudut pandang tiap tokoh sentral yang terlibat, ditandai lewat nama mereka di awal tulisan. Sudut pandang yang dipakai tetap orang ketiga pelaku utama atau orang ketiga serbatahu.

Harap diperhatikan!:

- Latar chapter 1 = jeda sebelum Arc Yorkshin. Sekitar waktu itu, tapi di sini Leorio sudah sedikit belajar Nen (gurunya tidak diceritakan, karena menurut saya dia belajar dari buku atau ada masalah dengan gurunya sehingga hanya diajari sampai Ten saja) karena sudah berkuliah.


HxH hanya milik Bapak Hiatus Kita.

Yuinna Cranniche (OC) hanya milik saya.


Ringkasan:

Kisah-kasih Leorio selama tidak bersama ketiga teman karibnya atau menjadi Hunter. Bersekolah, berpesta dengan wanita, melakukan "sesuanu" di depan layar komputer—atau mungkin juga selain semua itu. Leorio x OC centric.


Bagian 1: Relativity x of x Personal Motivations

LEORIO

Ada kelas pagi ini dan pria yang sering disangka lima sampai sepuluh tahun lebih tua itu menyaksikan pemandangan yang sudah biasa ia temui tiap masuk kelas. Semua orang di dalam ruangan ia kenali meski tidak semua namanya dihapal. Dari jajaran mahasiswa rajin yang setia dengan buku catatan mereka di bangku deretan paling depan, si Kaya yang dari kejauhan tampak perlente (Leorio tidak dekat dengan yang sejenis itu), si Pejuang Keras yang sering tertinggal dan bingung akan materi ajar, para Pemalas yang lebih suka tidur di deret belakang, hingga mahasiswa eksentrik yang jarang belajar tapi nilainya lebih tinggi daripada penghuni deret depan.

Ia sendiri lebih suka dan ingin duduk bersama para mahasiswi. Tidak diragukan lagi kalau mereka menarik. Sayang sekali mereka agak susah didekati. Bicara saja jarang digubris. Tidak mungkin juga ia dibolehkan duduk di dekat mereka, kalau begitu. Jadi ia mengambil posisi di deretan tengah agak belakang dan menunggu pengajar datang.

Kelas semakin ramai, dan ketika hendak dimulai, seseorang datang dan memutuskan untuk duduk di dekatnya. "Permisi, Om," tuturnya sopan, memposisikan diri pada dua kursi di sebelah kanan Leorio.

Hm, suara perempuan … tetapi kok mengesalkan?! Ia bukan om-om. Usianya masih muda, tahu.

Leorio menoleh, "Aku bukan om-o—m, … malah mungkin seusiamu." Ucapannya meninggi di awal, tapi sedikit mereda kala melihat sosok yang memanggilnya om tadi. Ah, dia.

Ia melihatnya di beberapa kelas, tapi tidak terlalu memerhatikan karena terkadang ia membaur dengan yang lain, mungkin dengan para mahasiswi. Kalaupun gadis itu sedang sendiri juga sepertinya mereka hampir tidak pernah bicara kecuali saling sapa atau bertanya soal materi. Namanya juga tidak terlalu ia perhatikan. Di pesta-pesta yang diadakan mahasiswa jurusannya pun, ia tak pernah melihat gadis ini terlibat sepertinya.

Mata kekuningan gadis di sebelah kanannya itu menyipit, ujung bibirnya sedikit melekuk. "Benarkah?"

"Apa 20 tahun usia Om-om!? Kalau mau hormat, panggil Kak saja," tukas Leorio. Bukannya sekali ia mendapat pertanyaan begini. Agak menghina, sih. Padahal ia masih muda.

"Siapapun di sini juga sudah kupanggil Kak karena mereka lebih tua, kok," jawab gadis itu, menghadap ke depan. Arah matanya tertuju pada … pengajar yang datang. Singkatnya, kelas dimulai dan pembicaraan mereka sampai di sana saja walau Leorio mengira jika gadis ini usianya lebih muda darinya.


Ia berjalan menyusuri jalanan sepi yang hanya diterangi lampu. Waktu sudah mendekati tengah malam dan barangkali tidak ada orang lain di sekitarnya. Dua kantung plastik berisi makanan dan kebutuhan pokok lain dijinjing. Leorio habis berbelanja bulanan. Dilewatinya taman bermain yang berada di dekat kediamannya. Malam begini tentu saja tidak ada anak yang bermain di sana. Kalaupun ada …

… seperti sekarang … bukan anak-anak tentunya.

Sudah berbulan-bulan lalu sejak ia terakhir berbicara dengan gadis yang kini bergelantungan di salah satu jungle gym. Memutar tubuhnya naik-turun, fleksibel sekali. Tidak ia sadari, langkahnya terhenti dan ia malah mengamati. Gadis itu turun, kemudian kembali memanjat hingga ia mendudukkan diri pada salah satu ruas di jungle gym. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Leorio.

…. Gadis itu sedang … apa?

"Oi! Sedang apa di situ?!" panggilnya, refleks.

Gadis itu dengan tenang melihat ke arah Leorio dari puncak jungle gym. Ia menempatkan telunjuk di depan bibirnya, tanpa bicara sepatah kata pun.

Tapi kenapa…?

Leorio memutuskan untuk melangkah ke dalam taman bermain, kemudian duduk di ayunan sementara gadis itu melakukan serangkaian gerak yang mungkin hanya bisa dilihat Leorio di … sirkus, "Kau tadi ngapain … ?"

Mata kekuningan si gadis terarah langsung pada Leorio, "Hm, karena Kakak sepertinya pernah kulihat di siaran Ujian ke-287 di situs, aku bilang saja, deh." Dia tersenyum, duduk di ayunan kosong yang berada di sebelah Leorio.

Ujian ke-287 …? Situs?

"... Kau ... Hunter?!"

"... Ya….."

"... Hah?!" Semuda itu (Leorio tiba-tiba teringat bagaimana teman-teman di kelasnya seringkali menganggap gadis ini sebagai 'adik kecil' mereka, meski ia tidak tahu umur gadis itu sebenarnya berapa. Mungkin setidaknya 17 atau 18 tahun.)?

"Kebetulan saja lulusnya." Gadis itu menjawab, mengayunkan ayunannya pelan. Matanya terarah pada kedua kaki.

"... Lantas, mengapa kau, ... kuliah?" tanya Leorio, "maksudku, kau dapat mengambil pekerjaan atau mulai memburu sesuai keahlian."

"Bukan untuk jadi Hunter Medis atau Dokter, jelasnya." Si gadis mengembuskan napas panjang, menoleh pada Leorio dan bertanya kembali, "Sudah malam, Kak. Tidak ingin kembali?"

"Pasti lebih dari itu," tanggap Leorio, "kau tadi menjawab seakan-akan berkuliah hanya untuk menikmati keuntungan jadi Hunter saja. Lagipula, yang harus kembali bukannya—kau?! Perempuan sendirian malam-malam. Habis ini kuantar. Orang di rumahmu pasti mencari!"

"Tidak perlu, Kak. Biar aku pulang sendiri." Gadis itu berdiri, "duluan, ya, Kak Leorio." Kemudian ia mengambil langkah. Leorio, dengan buru-buru mengambil dua jinjingan belanjaannya, kemudian bangkit dari ayunan seraya memindahkan semua barang bawaannya hingga hanya dapat dibawa oleh satu lengan saja. Ia berjalan cepat, dan menangkap satu pergelangan tangan gadis yang hanya setinggi dadanya itu.

"Yuinna! Oi!" panggilnya dengan nama, "bahaya bagi perempuan jika sendirian malam-malam begini. Sekarang sudah larut, tahu!"

Yuinna menghentikan langkah dan melepas pergelangannya dari sentuhan si lelaki, ia membalas selagi melirik, "Aku mengerti, tapi tidak semua perempuan butuh dilindungi kalau mereka tahu cara membela diri." Ekspresi wajahnya mengeruh—untuk sesaat saja. Kemudian kembali normal.

" … tapi aku juga menghargai kebaikan dan kekhawatiran Kakak. Terima kasih. Rumahku ke arah sana," tunjuk Yuinna pada daerah di sebelah kiri taman.

" … ya sudah, ayo kuantar. Arah kita sama." Leorio berjalan mendahului gadis itu, masih membawa segala belanjaannya pada satu lengan. Gadis itu mengikuti di belakang, kemudian menyusul dan berjalan menyejajari sang pemuda.

Jalanan malam itu hanya memantulkan binar kuning dari sorotan lampu-lampu jalan yang letaknya berselang-seling pada kiri kanan pundak mereka yang meniti pinggiran jalan di sisi kiri. Selain lampu, sorot warna oranye dari dalam jendela-jendela bangunan juga mendukung sumber penerangan malam ini. Walau begitu, mereka berdua masih dapat tidak terlihat sama sekali apabila berjalan di bawah bayangan pohon atau sisi jalan yang tak mendapat sorot cahaya lampu. Mereka hanya diam.

Dalam satu waktu Leorio melirik sesaat pada gadis yang berjalan di sebelah kanannya. Ada banyak gadis cantik di tempatnya bersekolah, dan … ya, mereka cantik dengan segala macam bentuk riasan di wajah mereka. Tidak terkecuali Yuinna, tetapi Leorio sendiri hampir tidak pernah memerhatikan atau berinteraksi dengan gadis itu. Mungkin karena gadis itu juga lebih sering berkumpul dengan beberapa mahasiswa lain, dan jika tidak terlihat di antara mereka, Leorio tidak mencari.

Rambutnya biru tua kehitaman, diikat hingga ada gundukan kecil di puncak belakang kepalanya, dengan poni belah tengah sehingga dahinya terlihat. Ia berkulit cerah sekali. Matanya kuning dan berujung runcing serta tertarik ke atas, hidungnya mencuat, bibirnya kecil dan tipis. Ada tahi lalat kecil pada sisi kanan batang hidungnya. Pandangan Leorio turun dari dagu gadis itu ke leher, kemudian …

Hei. HEI. Kau tadi yang bilang hendak antar dia pulang. FOKUS! Meski pakaiannya tidak longgar walau tertutup. FOKUS! Bukan saatnya untuk berpikiran begitu.

Ia berdeham, kembali menatap lurus. Satu hal yang masih ia yakini, bahwa gadis itu memang tidak pernah muncul di pesta antarmahasiswa.

"Hei."

"Ya, Kak?" jawab gadis itu, tanpa sekalipun melirik atau menoleh. "Kau tidak pernah datang ke pesta, ya?"

Jeda sesaat. Yuinna diam beberapa detik. "Aku tidak minum atau berbuat hal yang kurang senonoh. Belum cukup umur."

"Memang berapa usiamu? 19?"

" … lebih muda." Gadis itu menjawab.

"18?" Yuinna menggeleng.

"Oke, 17?" tanya Leorio lagi. Kali ini disambut anggukan. "Di negara asalku, 16 tahun sudah dianggap dewasa."

"Mungkin asal kita berbeda."

Jawaban terakhir yang dilontarkan Yuinna membuat Leorio tidak memiliki inisiatif apapun untuk memulai percakapan baru dengan topik lain. Ia kembali diam, berjalan bersisian dengan gadis itu hingga Yuinna mengacungkan telunjuk pada salah satu bangunan tingkat bercat gelap di kiri jalan.

"Aku tinggal di sana. Kakak bisa mengantarku sampai sini saja." Jarak dari tempat mereka berdiri hingga gedung yang ditunjuk hanya tinggal beberapa meter.

Ada banyak pertanyaan yang belum dijawab sedaritadi (dan gadis itu terus-terusan mengabaikan beberapa pertanyaan), tetapi Leorio sendiri tidak dapat melakukan apapun kecuali menjawab, "O-oke."

Yuinna berlari kecil menuju pagar hitam yang berada di depan kediamannya. Sebelum membuka gerbang, dia menyempatkan diri untuk menghadap Leorio, "Terima kasih karena sudah mau repot-repot, Kak." Gadis itu tersenyum tipis.

Leorio pun ingat, jika alasan gadis itu dapat mengkonjurasikan sesuatu adalah satu dari pertanyaan yang belum dijawab. Selain itu… juga… alasannya berkuliah. Tidak terlalu penting sebenarnya, dan mungkin Yuinna juga tidak ingin menjawab.

Masalahnya, tadi ia bilang akan menjawab.

"... Ah. Tapi kau belum menjawab, soal apa yang kau lakukan di taman." Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali, ... dan hanya memberi senyum tipis.

"Selamat malam. Sampai jumpa besok di perkuliahan, Kak.

Aneh sekali. Semakin ia berinteraksi dengan si gadis, rasanya ia semakin tidak mengenalnya.


Sekitar seminggu setelah pertemuan malam-malam kemarin, Leorio bertemu lagi dengan Yuinna di sebuah gerai berpenjahit khusus pakaian formal pada suatu sore. Pria itu hendak menyerahkan salah satu jasnya yang robek di bagian lengan. Sekalian melihat-lihat model jas dan stelan. Sudah waktunya ia membeli yang baru, pula.

"Kenapa kau di sini?" tanyanya, pada si gadis yang baru saja keluar dari kamar pas dengan membawa sebuah stelan berwarna hitam dengan dasi pita warna gelap. Yuinna tersenyum saja.

"... Berbelanja…" jawab gadis itu kasual. Nada bicaranya, ya, biasa saja. "Orang-orang pasti mencariku di perkuliahan hari ini karena aku tidak masuk, ya."

"... ya," Leorio menjawab, teringat jika beberapa orang sempat menyinggung itu, "tapi, … bukankah kalau begini kau seperti menyia-nyiakan kuliah medis?!"

"Tidak begitu, Kak. Bukan seperti yang Kakak pikirkan." Yuinna menjauh, berjalan ke arah meja kasir dan menghentikan langkahnya di tengah proses, "apa Kak Leorio ingin tahu sekali?"

Gadis itu kembali menekuk ujung-ujung bibirnya sambil menyipitkan mata. Entah mengapa reaksinya yang seperti itu, malah menimbulkan sedikit perasaan kesal di benak Leorio. Bolos kuliah demi belanja?! Ia sendiri saja berjuang mati-matian agar dapat berkuliah dan menjadi dokter! Kenapa gadis itu, yang lebih muda (dan sepertinya pintar juga karena masuk kedokteran), malah seakan menganggap enteng?

Leorio tidak menjawab, malah menarik napas pendek dan mengembuskannya. Sekarang dilemparkannya tatapan kesal pada gadis itu.

"Kujelaskan di luar." Kemudian Yuinna melenggang menuju meja kasir, diiringi bunyi sol sepatu tinggi yang ia kenakan.

Dengan kantung berisi satu jas baru dan jas lama yang sudah diperbaiki, Leorio keluar dari gerai. Yuinna sudah menunggu di depan pintu gerai.

"Waktuku tidak banyak, Kak." Ia bergeser menuju depan etalase gerai, kemudian menyandarkan punggungnya di sana.

"Jadi, kau bolos kuliah demi belanja?" sambar Leorio. Nada bicaranya agak meninggi.

"Ya."

Leorio sudah hendak melontarkan sesuatu dengan sengit, tetapi gadis itu melanjutkan, "Belanja untuk melakukan pekerjaan sampingan. Aku harus memakai pakaian rapi, menemui orang tertentu demi mendapat suatu hal yang bisa kuperjualbelikan lagi, seperti itu."

"... Begitu. " Diterangkan demikian, malah membuat Leorio semakin tidak paham. Akan tetapi, jika ditanyakan… ia tak ingin dapat jawaban yang lebih tidak jelas lagi. Meski begitu, jawaban Yuinna juga memberi kejelasan kalau tujuan mereka berdua untuk kuliah jelas ... berbeda.

"Ada pertanyaan lagi? Kalau ada…, kemarikan HP Kakak. Aku beri nomorku, deh."


Leorio tahu, jika penyandang lisensi Hunter pastinya adalah orang yang sibuk. Seperti dirinya yang sibuk belajar hingga larut hingga tertidur di kelas, atau hanya sesekali mengiyakan ajakan untuk datang ke pesta atau kencan buta di kota. Begitu pula Yuinna yang juga baru membalas pesannya dua hari setelah dia menambahkan nomor ke ponsel Leorio. Mereka bertukar pesan singkat mengenai tugas dari salah satu matakuliah. Dari situ, disepakatilah pertemuan di sebuah kafe yang tak jauh dari gedung universitas.

"Kenapa mengajakku saja, Kak?" Yuinna bertanya, selagi memiringkan kepalanya yang ditumpu telapak tangan. Sikunya menempel di meja. Leorio melihat salah satu alis gadis itu terangkat. "Kukira ini ramai-ramai."

"Selama dirimu tidak masuk, ada kerja kelompok dan kau … ditugaskan denganku. Aku belum bilang ya. Maaf." Pria itu mengeluarkan salah satu buku teks mengenai nutrisi, dan mulai membuka halaman tertentu.

"Jujur, soal topik ini aku tidak … berminat, tapi akan kuusahakan agar kerjaku seimbang dengan Kakak." Manik kekuningan Yuinna bergulir dari yang semula tertuju pada Leorio dan buku teksnya, menjadi sosok wanita berseragam pelayan yang membawa makanan dan minuman pesanan mereka; dua buah sandwich, secangkir kopi susu dan secangkir teh panas.

Leorio mengentakkan telapak di permukaan meja hingga cairan di cangkir minuman mereka berdua bergoyang.

"Tapi kau kuliah medis, 'kan? Ini harus dipelajari. Lagipula, kau pernah bilang tidak ingin jadi dokter atau hunter medis. Sebenarnya tujuanmu apa, sih?"

Air muka Yuinna perlahan berubah. Selama Leorio bertemu, biasanya gadis itu memasang tampang biasa-biasa saja—tidak ada ekspresi berarti dan malah memancarkan kesan santai. Namun, baru kali ini pria itu melihat Yuinna … berwajah serius.

"Kakak juga pasti punya tujuan, bukan? Katakan lebih dulu, baru kukatakan sebenar-benarnya walau sebenarnya aku enggan." Gadis itu tidak tersenyum.

"Aku menjadi Hunter, … karena ingin uang," tutur Leorio, dengan air muka yang sama seriusnya, "setelah uang itu kudapat, aku sebetulnya menggunakannya untuk kuliah seperti sekarang, meski ternyata lisensi memberi keuntungan hingga aku dapat berkuliah gratis seperti sekarang. Karena…,"

Ucapannya terputus. Ia menelan ludah dan menarik napas panjang, karena ingatan tak mengenakkan yang muncul.

"... karena dulu, aku pernah kehilangan teman," ucapnya, kembali menelan ludah. Bawah mata Leorio sedikit menghangat, tapi ia tentu tidak boleh menangis di sini. Jadi ia berusaha tetap melanjutkan dengan wajah serius, "karena penyakit. Kalau aku dulu sudah punya uang, ia akan sembuh."

"Oleh karena itu aku memutuskan untuk jadi Dokter. Kuharap aku bisa menyediakan pengobatan gratis agar tidak ada yang bernasib sama seperti temanku."

"Tujuanku jelas tidak semulia itu," balas Yuinna, menyesap tehnya, "aku kuliah medis… karena hal yang pernah kulakukan dulu, dan keputusanku ketika berlatih Nen."

"Sehabis ujian dan lulus walau tidak layak, aku berlatih Nen sambil lanjut menekuni hal yang sudah dipaksakan keluargaku—menjadi pesenam ritmik. Guru Nen-ku bilang, seperti halnya orang-orang banyak, jika aku harus berhenti melakukan itu saat usiaku menginjak kepala dua karena akan merusak tubuhku yang dibiasakan untuk melakukan gerakan yang fleksibel."

Leorio menyimak sambil menggigit sandwich.

"Itu setelah aku memutuskan kemampuan Nen-ku menjadi seperti apa. Fatal sekali. Jadi kurasa, jika aku berkuliah medis, aku akan lebih hati-hati terhadap tubuhku. Sebetulnya ada keuntungan lain juga, jika kau adu Nen dengan orang, maka ada hal-hal yang lebih bisa dipahami mengenai tubuh mereka."

Kalimat terakhir yang ia lontarkan memang masuk akal, dan Leorio diam-diam menyetujui hal itu. "Kenapa kau dulu tidak layak lulus?" tanyanya. Menjadi Hunter di usia muda bukannya sudah membuktikan kepiawaian gadis itu? Pastinya dia tidak lemah, dong?

"Usiaku dulu masih 14 tahun," ujar Yuinna, meletakkan cangkirnya ke tatakan, "dan jelas lemah dibanding banyak peserta. Tahap akhir di ujianku adalah permainan yang mengandalkan peluang. Dan aku … lulus karena seseorang membuatku lolos."

Sekarang makanannya sudah habis, dan Leorio terpikir sesuatu usai mendengar paparan gadis itu. "Kalau kau memang lemah, Yuinna, seperti yang kau katakan,..."

Leorio menghabiskan kopinya dalam beberapa teguk. Kemudian ia tersenyum lebar selagi memandang Yuinna dari sepasang lensa hitamnya. "Kebetulan aku juga sudah mempelajari Nen—katanya, itu adalah tes terakhir dari ujian—walau sempat ada masalah kecil ketika aku berguru dengan seseorang. Bagaimana kalau kita…"

Pria itu menyaksikan gadis di seberang mejanya itu melebarkan mata, terdiam dan mungkin agak ragu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.

"... bo… leh," jawab si gadis. Leorio pikir, kalau gadis itu punya gerakan yang fleksibel, barangkali dia dapat menghindari serangannya nanti. Lagipula ia belum tahu kemampuan gadis itu bagaimana dan seperti apa. Kalau ternyata ia lebih hebat, mungkin saja ia dapat menjadikan Yuinna guru pengganti.

"Sekarang, coba pahami topik dalam buku ini," ucap Leorio kemudian, menyodorkan buku teksnya ke hadapan gadis itu, "masih ada yang harus kita kerjakan lebih dulu." Selang beberapa detik, Yuinna menyambut buku tersebut selagi berucap, "... Oke, maaf kalau lama. Aku jelas akan butuh waktu."


Akhirnya selesai. Jangan lupa review ya. :D

Sebelumnya mohon maaf apabila ceritanya kurang jelas, atau Leorio-nya OOC dan mungkin OC-nya masih kabur penokohannya. Kalau soal penokohan yang masih kabur, alasannya mungkin karena Leorio masih belum benar-benar kenal dan memang Yuinna agak-agak susah dibaca. Saya nulis ini karena lihat pairing begini ada jarang dan lebih banyak Killua dan Kurapika atau Hisoka. Di ffn HxH yang berbahasa Indonesia pun belum ada yang pakai pairing ini. So... here it is. Please enjoy ,)

Tunggu chapter selanjutnya, ya.