.
Summary : Athrun Zala meyakini tunangannya, Lacus, telah meninggal dan ia mengira kematian Lacus disebabkan Keluarga Hibiki. Demi membalas dendam, Athrun menyusun rencana dengan menikahi Cagalli, putri tunggal di Keluarga Hibiki, berniat memperlakukannya dengan buruk.
Seiring berjalannya waktu, Athrun menyadari Cagalli bukanlah wanita biasa, wanita itu memesona dengan sifatnya yang keras kepala dan pantang mengalah. Hari demi hari Athrun dilingkupi perasaan kontradiksi. Ia benci pada Cagalli, tetapi juga cinta pada wanita itu.
Kontradiksi oleh Ang
Gundam Seed/SD oleh Bandai, Sunrise
AU. OOC. AsuCaga. Drama. Family. Hurt/Comfort. Typo.
A/N : Halo! aku kombek nih setelah 2 tahun lebih. Semoga pada sehat semua ya! Aku nggak yakin sih bakal ada yg baca ini tapi nggak tau kenapa rasanya aku pengen banget tamatin fic ini :3
isi cerita di setiap bab nggak ada yang aku ubah sedikitpun, hanya summary dan sedikit catatan aku di A/N yang aku revisi :)
Bab 4: Pembalasan Terakhir
Cagalli tersentak dari lamunan karena mendengar suara pintu digedor dari arah luar kamar tamu. Sebelumnya ia tengah duduk di kursi kayu di dekat jendela kamar, menikmati pemandangan pagi halaman mansion yang terlihat dari balik jendela. Kini, dengan sedikit tergesa ia bangkit berdiri lalu menghampiri pintu.
Ia membuka pintu kamar, lalu setelah pintu terbuka yang didapati dirinya adalah sosok laki-laki tampan berambut biru gelap telah berdiri di hadapannya. Walaupun wajah laki-laki itu tampan, tapi ekspresi laki-laki itu tampak dingin dan keras ketika memandang wajah Cagalli. Laki-laki itu adalah Athrun Zala, suami Cagalli.
"Lunamaria ingin minum teh," seketika Athrun berkata. "Cepat buatkan lalu bawa ke kamarku."
Setelah mengucapkan kalimat memerintah tersebut, Athrun segera membalikkan tubuh lalu pergi dari hadapan Cagalli.
Cagalli jelas memahami instruksi itu; Athrun ingin Cagalli memenuhi permintaan dari wanita yang mengaku-ngaku sebagai kekasih suaminya itu.
Tetapi Cagalli belum menyetujuinya, ia tidak menunjukkan respons apa pun terhadap perintah Athrun. Belum, ia hanya menunggu sampai jarak di antara dirinya dengan Athrun terpaut beberapa langkah.
Ketika merasa Athrun telah berada cukup jauh dari tempatnya kini berdiri, Cagalli langsung mengambil langkah yang berlawanan dengan arah dapur. Cagalli mempercepat jalannya, dan ketika mata amber-nya melihat vas bunga kaca di meja telepon dekat dinding, tanpa berpikir panjang Cagalli langsung meraih vas tersebut lalu dengan sekuat tenaga membantingnya ke lantai.
Inilah respons yang Cagalli pilih untuk menjawab perintah Athrun; Ia menolak keras perintah itu.
Setelah membanting vas ke lantai, pandangan Cagalli segera beralih kepada Athrun. Ia melihat laki-laki itu menghentikan langkah, menatap sejenak pecahan kaca vas di lantai, lalu menatap wajah Cagalli dengan sorot mata sedingin es.
Melihat sorot mata itu, Cagalli merasa yakin saat ini adalah waktu yang tepat untuk memprovokasi Athrun.
"Langkahi mayatku dulu bila wanita pelacur itu ingin dilayani seperti ratu," ucap Cagalli, yang disetiap kata-katanya penuh penekanan dan terdengar menusuk.
"CAGALLIII!"
Oke. Cagalli sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada dirinya setelah mendengar teriakan geram Athrun yang baru saja menyebut namanya. Laki-laki itu pasti murka terhadap sikap pembangkangan Cagalli, tetapi Cagalli sudah tidak peduli lagi. Entah bentakan, tamparan keras, atau bahkan cambukan... Cagalli sudah siap menghadapi segala konsekuensinya, seperti yang sudah sering ia terima selama ini.
Ya. Sekarang sudah delapan bulan berlalu sejak Cagalli menikah dengan Athrun, dan Cagalli sudah paham betul seperti apa kehidupannya berjalan. Ia tinggal dengan laki-laki yang nyaris setiap hari menyiksanya, yang menuntut dirinya agar selalu mematuhi 'perintah'.
Selama delapan bulan terakhir Athrun telah membuat Cagalli menjadi seperti seorang pelayan di mansion, melarangnya keluar atau bersosialisasi dengan siapapun di sekitaran mansion, Athrun bahkan terlampau sering memperlakukan Cagalli dengan kasar bila keinginannya tidak dipatuhi.
Padahal seiring dengan waktu yang telah mereka lalui, kehamilan Cagalli juga ikut menampakkan perubahan. Perut Cagalli sudah terlihat membesar sekarang. Tapi walau tubuh Cagalli mengalami perubahan, hal itu tak memengaruhi Athrun dan terus bersikap buruk terhadap Cagalli. Athrun seolah tak peduli sekalipun istrinya itu merasakan sakit.
Bagi Cagalli sekarang... sudah tidak ada lagi alasan untuk dirinya mempertahankan ketakutannya. Satu-satunya yang teguh ia pertahankan saat ini adalah harga dirinya. Ya, harga diri Cagalli akan selalu menolak mematuhi perintah Athrun. Cagalli tidak takut. Karena Cagalli percaya... walaupun Athrun bisa melakukan segala tindakan buruk kepadanya, yaitu seperti menyiksanya secara fisik atau batin, tetapi pria itu tidak bisa membunuhnya. Ya, itu terbukti setelah delapan bulan berlalu. Cagalli menyimpulkan; sebenci-bencinya Athrun pada dirinya, pria itu tidak pernah berniatan untuk membunuhnya. Dan selama pria itu tidak membunuhnya, selama itu pula Cagalli tidak akan pernah membiarkan harga dirinya terinjak.
Kini Cagalli melihat Athrun berjalan ke arahnya. Cagalli bergeming, tetap berada di tempatnya berdiri, menunggu laki-laki itu datang menghampirinya. Dengan tangan terlipat di depan dada serta tatapan menantang, Cagalli siap menghadapi Athrun. Ia tidak akan pernah lari lagi.
"Apa yang kau lakukan?" Athrun meraih pundak Cagalli lalu mendorong kasar tubuh wanita itu, sampai punggung Cagalli membentur tembok. "Kau ingin membangkang padaku?"
"Ya." Cagalli menjawab dengan dengusan amarah. Ia tidak terima Athrun mendorongnya kasar. "Aku akan membangkang padamu! Selalu dan selalu membangkang padamu! Aku tidak akan menuruti semua keinginanmu, perintahmu, termasuk pada wanita pelacur itu!"
"Memangnya kau siapa, hah?!" Athrun membentak Cagalli tepat di depan wajahnya. Ia menempelkan kedua tangannya ke tembok di samping kanan dan kiri tubuh Cagalli, memerangkap wanita itu. "Kau bahkan tidak lebih baik darinya!"
"Tidak lebih baik?" Cagalli menatap tajam Athrun. "Dengar! Aku Cagalli Hibiki. Aku berasal dari keluarga baik-baik dan terhormat di Orb. Aku adalah istri sah dirimu, Athrun Zala! Jadi sudah jelas aku nyonya rumahnya di sini. Martabat wanita itu tidak akan pernah sederajat denganku!"
"Aku tidak peduli siapa kau dan dari mana dirimu berasal!" bentak Athrun untuk yang kesekian kalinya. "Sekarang patuhi perintahku atau aku akan—"
"Akan apa?" potong Cagalli dengan tanpa rasa takut sedikitpun. Ia mengangkat dagunya angkuh. "Akan apa?!"
Dengan geram Athrun melepas cengkeraman tangan kanannya dari tembok, mencoba menjawab ucapan Cagalli dengan tindakan. Ia mengarahkan tangannya ke leher Cagalli, namun ketika telah menyentuh kulit leher wanita itu, ia bergeming ragu.
Cagalli seketika terkekeh, jelas meremehkan tindakan Athrun. "Jadi kau akan membunuhku?" tawa kecil wanita itu berubah menjadi senyum. Cagalli memajukan tubuhnya, ia sengaja melakukannya agar tangan Athrun semakin menempel erat pada lehernya. "Ayo coba bunuh Aku!" tantang Cagalli. "Bunuh aku beserta anak yang ada di dalam perutku—"
Ucapan Cagalli tiba-tiba saja terhenti karena pada akhirnya tangan Athrun menampar keras pipinya, membuatnya terpaksa mengalihkan pandangan ke lantai.
Senyum di wajah Cagalli memudar seketika. Tindakan kasar Athrun barusan benar-benar ber-impact padanya. Ia dapat merasakan giginya bergemeretak disaat tadi mendapat tamparan itu, dan sekarang, ia merasakan rasa darah di dalam mulutnya. Yang ia sadari kalau tamparan Athrun benar-benar kuat dan keterlaluan.
"Brengsek!"
Setelah mengucapkan satu kata itu Cagalli langsung mengangkat wajahnya. Dengan amarah ia menggerakkan sebelah tangannya, berniat membalas tindakan kasar Athrun dengan tamparan juga. Tetapi balasan itu tak berhasil dilayangkannya, karena dengan cekatan Athrun lebih dulu menangkap pergelangan tangannya. Tapi Cagalli tak kehabisan akal, kali ini ia mengangkat sebelah kaki lalu menginjak sekuat tenaga kaki Athrun. Disaat Athrun mengaduh kesakitan dan menurunkan tubuh untuk meraih kakinya yang telah diinjak, Cagalli memanfaatkan kesempatan tersebut dengan langsung melepas paksa cengkeraman tangan Athrun di pergelangan tangannya. Ia berjalan ke meja di dekat dinding, meraih perangkat telepon kabel dari meja, mengangkatnya, lalu dengan sekuat tenaga ia membenturkan pesawat telepon tersebut ke kepala Athrun. Ia melihat suaminya kembali mengaduh kesakitan, tetapi kali ini dibarengi dengan memegang kepala.
Setelah merasa cukup puas dengan tindakan balas dendam tersebut, Cagalli dengan tanpa berpikir panjang langsung mengambil langkah meninggalkan Athrun. Ia berjalan cepat melewati ruang tengah dan ruang tamu mansion, tak mau menoleh sedikitpun ke arah belakang tubuhnya karena tahu hal itu dapat memperlambat laju langkahnya.
"CAGALLIII!"
Cagalli telah berada di depan pintu ganda utama mansion ketika kembali mendengar teriakan geram Athrun. Ia melangkah perlahan menuruni undakan, berniat kabur menuju halaman. Tapi belum sampai menuruni tangga terakhir, tiba-tiba saja Cagalli terkesiap dan refleks menghentikan pergerakan tubuhnya. Ia tersentak ketika melihat sosok yang kini ada di hadapannya.
"Kau mau kemana, Nak?"
Cagalli mendapati sosok yang kini berada di hadapannya adalah Patrick Zala. Laki-laki itu memandangnya sembari mengernyit, yang ia sangka ayah mertuanya tersebut merasa aneh karena telah melihat dirinya berjalan terburu-buru dan menuruni tangga.
Cagalli cepat-cepat menghilangkan ekspresi terkejut dari wajahnya. Seketika ia tersenyum ramah kepada ayah mertuanya, mencoba mengubah dan menghilangkan sikap canggungnya secepat mungkin. "Ayah, aku—"
"Cagalli! Sialan kau..."
Ucapan Cagalli terhenti karena mendapat selaan dari suara Athrun. Cagalli melihat Patrick memalingkan pandangan ke belakang tubuhnya, dan Cagalli pun sontak mengikuti arah pandangan Patrick. Cagalli melihat sosok Athrun sedang berdiri membisu di dekat pintu ganda, yang ia yakini Athrun juga terkejut karena melihat kehadiran ayahnya yang tiba-tiba di mansion.
"Apa-apaan kau, Athrun? Kenapa kau membiarkan istrimu berlarian dan menuruni tangga sendirian?" Patrick terlihat marah ketika mengatakan kalimat pertanyaan itu kepada Athrun. "Apa kau tidak peduli pada kondisi tubuh istrimu?"
"Ayah, aku bisa jelaskan—"
"Ayah, ini hanya salah paham." Kali ini Cagalli yang menyela ucapan Athrun. "Ini kesalahanku sendiri. Athrun sudah berkali-kali memperingatkanku agar tidak menuruni tangga, tetapi aku tidak mendengarkan ucapannya dan malah bertindak sesukaku."
"Tidak, sayang." Cagalli melihat Athrun berjalan perlahan mendekati dirinya. Laki-laki itu meraih telapak tangan Cagalli, lalu menggenggamnya dengan lembut. "Aku yang salah. Kau pasti jenuh berada di dalam mansion sehingga tidak tahan ingin menikmati udara segar di halaman. Harusnya aku lebih peka memahami keinginanmu, sehingga kau tidak perlu pergi ke halaman sendirian."
Tiba-tiba saja Cagalli kembali tersenyum. Bukan karena takjub menyaksikan sandiwara Athrun, tetapi karena sebuah ide cemerlang tiba-tiba saja melintas di pikirannya. Ia balas menggenggam tangan Athrun, pura-pura menatap mesra suaminya. "Kau benar, sayang. Tadi aku benar-benar jenuh berada di dalam. Tapi sekarang aku sudah tidak jenuh lagi. Aku merasa lelah." seketika Cagalli memalingkan pandangan ke arah Patrick. "Ayah, maukah kau mengantarku ke kamar? Aku ingin istirahat."
"Tentu saja, Nak." Patrick mengangguk menyanggupi. "Ayo kita ke dalam."
Sekilas Cagalli dapat melihat perubahan ekspresi pada wajah Athrun. Laki-laki itu sempat terbelalak ketika tadi mendengar permintaan Cagalli pada Patrick. Cagalli senang melihat Athrun gelisah, yang sudah pasti karena memikirkan Lunamaria yang berada di kamarnya. Oh saat ini Cagalli berharap; semoga wanita itu tengah tertidur pulas di ranjang kamar Athrun dalam keadaan telanjang. Cagalli benar-benar tidak sabar mendapati Patrick terkejut melihat kelakuan amoral putranya selama ini.
"Ayah, biar aku saja yang mengantar Cagalli." Athrun melangkah ke tengah-tengah pintu ganda, mencoba menghadang Cagalli dan Patrick. "Ayah baru saja tiba di mansion, lebih baik istirahat dahulu di ruang tamu." Ia mengalihkan pandangan kepada Cagalli. "Sayang, kau dengan aku saja ya? Bila perlu aku menggendongmu sampai ke kamar kalau kau benar-benar merasa lelah."
Cagalli menggeleng. "Aku ingin Ayah menemaniku berjalan sampai kamar," tolaknya. "Aku masih ingin bercakap-cakap dengan Ayah."
"Ayah tidak capek dan juga tidak keberatan mengantar Cagalli." Patrick juga tak kalah kukuh. "Ayo, Nak."
Tapi Athrun masih tak mau menyerah, lagi-lagi ia menghadang langkah Cagalli dan Patrick. Kali ini Athrun mengarahkan sebelah tangannya ke pinggang belakang Cagalli, ke bagian tubuh Cagalli yang tak bisa dijangkau pengelihatan Patrick. Tindakan mendekati Cagalli yang dilakukan Athrun saat ini mungkin dilihat Patrick hanya sebagai interaksi mesra Athrun terhadap istrinya, tapi sebenarnya diam-diam Athrun tengah mencubit kuat pinggang Cagalli. "Tapi, sayang, tadi kita sedang memasak air di dapur. Kau berniat membuatkanku kopi 'kan, tadi?" Ia berbohong. "Bagaimana sebelum ke kamar kita menyuguhi minuman dulu untuk ayah?"
Cagalli nyaris terbelalak saat ini juga. Ia benar-benar tidak habis pikir, disaat ia sedang bersama ayah mertuanya saja suaminya itu masih berani memperlakukannya dengan buruk. Yang bisa dilakukan Cagalli saat ini adalah menahan diri agar tidak menangis, karena yang ia rasakan sekarang adalah rasa kesakitan yang teramat sangat di pinggangnya. Dan entah kenapa, semakin lama ia terdiam, semakin bertambah kuat pula cubitan tangan Athrun di pinggangnya. Cagalli cepat-cepat menghadap Patrick. "Ah, ya, Athrun benar, Ayah. Lebih baik kami menyuguhkan minuman dulu untuk Ayah."
Untuk kali ini, Cagalli memutuskan mengalah pada Athrun.
"Tapi, Nak—"
"Tidak apa-apa." Cagalli menggeleng dengan sedikit kikuk. "Aku masih kuat kalau hanya membuat kopi untuk Ayah."
"Kalau begitu ayo kita ke dapur, sayang." Athrun memindahkan tangannya ke punggung dan belakang lutut Cagalli. Ia mengangkat tubuh wanita itu, lalu memandang sejenak wajah Patrick. "Ayah, silahkan menunggu di sofa. Kami tidak akan lama di dapur."
Patrick tidak berbicara, ia hanya mengangguk menyetujui.
Ketika Athrun memulai langkahnya menuju dapur mansion, Cagalli cepat-cepat mendekatkan wajahnya ke telinga Athrun lalu berbisik, "Aku akan tetap membawa Ayah ke kamarmu."
"Jangan coba-coba," balas Athrun yang juga berbisik. "Atau aku akan melakukan sesuatu yang buruk padamu. Sangat buruk sehingga kau akan menyesalinya seumur hidupmu."
"Menyesal?" Cagalli tersenyum meremehkan dari dalam gendongan Athrun. "Sebelum kau melakukan hal buruk itu padaku, mungkin Ayahmu sudah lebih dulu melakukannya padamu."
Tiba-tiba saja Athrun menghentikan laju jalannya, di dekat lemari pendingin di dalam ruangan dapur. "Apa maumu?" tanyanya.
Cagalli mengeratkan lingkaran tangannya pada leher Athrun. Ia memandang wajah suaminya dengan serius. "Pertama aku tidak ingin wanita pelacur itu menginjakkan kaki lagi di rumah ini. Kedua, aku ingin kedua pelayanku dari rumah Hibiki didatangkan ke sini."
"Aku hanya menyetujui yang pertama, selebihnya tidak akan—"
"Setuju keduanya atau aku akan tetap membawa Ayah ke kamarmu."
Athrun menghela napas. Ia balas memandang wajah Cagalli lalu mengangguk. "Baiklah, tapi hanya pelayan wanitamu yang boleh ada di mansion ini. Aku tidak akan memenuhi permintaanmu yang lainnya. Negosiasi selesai."
Tanpa memedulikan tanggapan Cagalli setelahnya, Athrun menurunkan tubuh wanita itu ke kursi terdekat. Ia lalu berbalik menghadap meja dapur, menghidupkan kompor, menaruh panci ke atas kompor lalu menuangkan air ke dalamnya. Setelah air di dalam panci mendidih, dengan cekatan Athrun menuangkan air panas tersebut ke dalam gelas yang telah ia isi dengan bubuk kopi dan gula.
Athrun kembali menghadap Cagalli. "Melihat dirimu sangat lincah ketika kabur dari kejaranku tadi," katanya. "Sepertinya kau bisa berjalan sendiri ke ruang tamu."
Cagalli memutar bola mata. "Dan sepertinya aku tidak pernah memintamu untuk menggendongku," balasnya sinis.
Tidak sampai lima menit ketika Athrun dan Cagalli telah kembali ke ruang tamu dan duduk bersama di sofa di hadapan Patrick.
"Ayah sedang ada urusan di October City?" Athrun yang pertama kali memulai pembicaraan.
"Tidak ada," balas Patrick, sembari menaruh gelas berisi kopi yang telah ia minum separuhnya ke meja. "Ayah hanya ingin mengunjungi kalian, terutama Cagalli. Bagaimana keadaanmu, Nak?"
"Aku baik-baik saja, Ayah," jawab Cagalli.
"Dan kandungannya juga baik-baik saja," Athrun menambahkan sembari mencium kening dan mengelus perut buncit Cagalli.
"Apakah waktu persalinannya sudah dekat?"
Cagalli mengangguk. "Ya, Ayah. Usia kandunganku sudah lebih dari delapan bulan."
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Patrick pada Cagalli.
Cagalli langsung menoleh menghadap Athrun. Ia butuh sokongan jawaban dari Athrun. Cagalli bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Patrick, karena selama ini Athrun tidak pernah membawanya ke dokter atau pun rumah sakit bahkan hanya untuk sekadar memeriksakan kandungannya. Ia benar-benar tidak tahu jenis kelamin bayi yang tengah dikandungnya. Cagalli bisa saja menjawab bayinya adalah laki-laki, tapi bila kenyataannya nanti yang terlahir adalah anak perempuan, Cagalli akan merasa tidak enak pada Patrick. Ia tidak mau membohongi ayah mertuanya.
"Sepertinya laki-laki dan perempuan," akhirnya Athrun yang menjawab, yang Cagalli pikir jawaban itu terdengar ambigu.
Tapi tiba-tiba saja Patrick tersenyum. "Jadi cucuku kembar?"
Athrun mengangguk seolah-olah tanpa beban. "Ya. Kembar. Laki-laki dan perempuan." Ia memalingkan wajah ke arah Cagalli lalu tersenyum kepada wanita itu. "Istriku bahkan sudah menyiapkan nama untuk mereka."
Cagalli sedikit tersentak. "Eh?"
"Ayah ingin mengetahui nama-nama untuk mereka."
Kali ini tatapan mata Cagalli menajam memandang Athrun. Ia benar-benar merasa geram karena suaminya telah berbicara seenaknya kepada Patrick. Menyiapkan nama untuk anaknya? Astaga, sebelum ini hal itu bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya. Tapi sekarang Athrun telah melimpahkan tugas menjawab keingintahuan Patrick kepadanya, dan Cagalli mau tidak mau mesti mencari jawaban itu.
Dalam benak Cagalli saat ini, jika anak yang dilahirkannya kelak laki-laki, yang diharapkannya adalah seorang anak yang memiliki sifat berkebalikan seratus depalan puluh derajat dengan sifat Athrun, yaitu sosok santun yang senantiasa menghargai, membela, melindungi dan tidak kasar terhadap perempuan atau pun keluarganya. Akhirnya ia mendapatkan satu nama yang cocok untuk putranya.
Jika anak yang dilahirkannya kelak perempuan, yang diharapkan Cagalli adalah seorang anak yang memiliki sifat yang melebihi dirinya. Yaitu yang selalu kuat, tegar, tidak pernah putus asa dan tidak takut dalam menghadapi setiap permasalahan hidup. Kini satu nama untuk putrinya telah terpikirkan di dalam benaknya.
"Mereka akan kuberi nama Oliv dan Alex."
"Alex untuk cucu laki-lakiku dan Oliv untuk cucu perempuanku?"
"Sepertinya Ayah keliru memahami nama-nama yang akan kuberikan untuk anak-anakku," kata Cagalli sembari menegakkan duduknya di sofa dan sedikit mengangkat dagu. Cagalli mengangkat dagunya bukan karena merasa angkuh di hadapan Patrick, tetapi karena kebanggaan yang menyebar di dalam dirinya ketika ia akan menyebut lagi nama yang ia berikan untuk kedua anaknya.
"Oliv untuk anak laki-lakiku dan Alex untuk anak perempuanku," Cagalli melanjutkan sembari tersenyum lembut. Di dalam hatinya ia berdoa semoga anak-anak yang dilahirkannya kelak akan sama seperti yang diharapkannya. "Atau lebih jelasnya, nama untuk putraku adalah Oliverio dan untuk putriku adalah Alexandra."
"Nama-nama yang bagus, Nak," puji Patrick pada Cagalli. "Ayah setuju kau memberi nama-nama itu kepada mereka."
"Terimakasih, Ayah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Patrick Zala, ayah mertua Cagalli, akhirnya meninggalkan mansion pada pukul sepuluh pagi tadi. Dan tanpa berlama-lama sejak kepergian Patrick, Cagalli segera menagih janji Athrun padanya. Cagalli bersyukur Athrun tidak mengelak dan langsung memenuhi janjinya. Pertama-tama Athrun menyuruh Lunamaria pergi dari mansion, kemudian pria itu mengijinkan Cagalli menghubungi kediaman Hibiki di Orb untuk meminta Meyrin datang ke mansion Zala di October City.
Dengan menggunakan moda transportasi udara cepat, hanya dalam hitungan waktu beberapa jam akhirnya Meyrin tiba di mansion Zala.
"Nona Cagalli, syukurlah keadaan Anda baik-baik saja!" Itulah yang diucapkan Meyrin ketika bertemu lagi dengan Cagalli. Mereka kini sedang berada di dalam kamar tamu, duduk bersebelahan di ranjang. Meyrin memeluk Cagalli lalu melanjutkan, "Saya benar-benar merasa senang bisa menemani Anda lagi!"
"Aku juga." Cagalli membalas pelukan Meyrin dengan perasaan lega. Dengan kehadiran Meyrin di mansion, ia berharap dapat meminimalisir perlakuan buruk Athrun terhadapnya. "Aku juga senang dengan kehadiranmu di sini, Mey."
"Jadi, kamar ini adalah kamar saya?"
Tiba-tiba saja Cagalli tertegun di dalam pelukan Meyrin. Ia terdiam mendengar pertanyaan Meyrin barusan. Sebenarnya kamar tempat mereka berada saat ini adalah kamar yang sama dengan yang telah Cagalli tempati selama delapan bulan terakhir ini, jadi sudah pasti kamar ini bukanlah kamar Meyrin, melainkan kamar Cagalli. Sebelumnya tidak terpikirkan dalam benak Cagalli akan menyiapkan kamar untuk Meyrin, bahkan sesampainya Meyrin di mansion beberapa saat yang lalu tadi pun ia masih belum memikirkannya, dan hanya langsung membawa Meyrin ke kamarnya. Kini Cagalli hendak memberitahukan Meyrin bahwa ini adalah kamarnya, walaupun ia menduga Meyrin pasti akan merasa khawatir jika tahu Cagalli tidak tidur sekamar dengan Athrun, suaminya.
"Kamar ini adalah kamar—"
"Benar, kamar ini adalah kamarmu."
Cagalli melepas paksa pelukan Meyrin dari tubuhnya, lalu cepat-cepat menoleh ke arah suara yang baru saja menginterupsi ucapannya. Cagalli langsung menyipitkan mata ketika mendapati Athrun sedang berdiri di ambang pintu kamar tamu.
"Kalau begitu," seketika Meyrin bangkit berdiri dari duduknya lalu membungkuk hormat kepada Athrun dan Cagalli. "Terimakasih karena Anda dan Nona Cagalli sudah repot-repot menyiapkan kamar ini untuk saya."
"Ya," balas Athrun dengan mengangguk.
Kemudian Cagalli melihat Athrun menggerakkan tubuhnya. Pria itu berjalan ke arah ranjang, lalu berhenti tepat di hadapan Cagalli.
"Ada apa?" tanya Cagalli pada Athrun.
"Ini sudah malam. Bukankah sebaiknya kita kembali ke kamar kita, sayang?" Athrun malah balik bertanya. "Setelah menempuh perjalanan jauh, Meyrin pasti merasa lelah. Lebih baik kita biarkan dia istirahat."
"Tapi ini kamar—"
Seolah-olah tidak memedulikan sanggahan Cagalli, Athrun langsung mencium sekilas bibir Cagalli, membuat wanita itu menghentikan ucapannya seketika. Kemudian Athrun mengarahkan kedua tangannya ke punggung dan belakang lutut Cagalli, mengangkat tubuh wanita itu.
Meyrin hanya tertawa kecil melihat interaksi Athrun pada Cagalli.
"Saya tidak apa-apa, Tuan, Nona," kata Meyrin. "Saya tidak merasa lelah, tapi saya juga tidak mau mengganggu waktu kebersamaan kalian."
"Baguslah kalau kau mengerti," balas Athrun.
Cagalli hanya bisa merengut di dalam gendongan Athrun. Sebenarnya ia masih ingin bercakap-cakap dengan Meyrin, tapi disisi lain ia juga tidak ingin mengganggu waktu istirahat Meyrin. Dengan pasrah Cagalli membiarkan Athrun menggendongnya, membawanya keluar dari dalam kamar tamu.
Setelah berada di luar kamar tamu Cagalli tidak tahan terus bungkam. Ia melayangkan pertanyaan pada Athrun, "Apa kau akan membawaku ke kamarmu lagi?"
Cagalli melihat Athrun tersenyum menanggapi pertanyaannya.
"Dengar, Athrun," lanjut Cagalli. "Kau tidak akan bisa memperlakukan aku dengan buruk lagi! Jika aku berteriak, Meyrin pasti akan langsung datang menolongku."
Cagalli menunggu sejenak sampai Athrun membalas ucapannya, tetapi lagi-lagi respons yang ditunjukkan Athrun hanya tersenyum. Pria itu terus melangkah, tetap tidak berbicara bahkan setelah mereka melewati tangga dan sekarang ketika mereka telah berada tepat di depan pintu kamar Athrun.
Cagalli melihat Athrun memutar kenop, lalu setelah pintu terbuka, pria itu mendorong daun pintu kemudian berjalan masuk ke dalam kamar. Setelah menutup kembali pintu, Athrun segera melanjutkan langkahnya. Athrun berjalan mendekati ranjang lalu mendudukkan Cagalli dengan perlahan ke atasnya.
Cagalli langsung merasa waspada ketika Athrun mengambil posisi duduk di pinggir ranjang di sampingnya. Di dalam kamar hanya ada Athrun dan dirinya, ia takut Athrun berniat melakukan sesuatu hal yang buruk lagi kepadanya. Seperti yang sudah sering ia alami di waktu-waktu sebelumnya.
Tapi tiba-tiba saja Athrun menunjukkan sikap yang tak seperti biasanya kepada Cagalli.
Cagalli membelalakkan mata ketika melihat Athrun tiba-tiba saja mendekap tubuhnya dengan pelukan lembut.
"Cagalli," lirih Athrun di telinga Cagalli. "Mulai sekarang kuharap hubungan diantara kita menjadi lebih baik."
"Kenapa?" hanya satu kata itu yang mampu diucapkan Cagalli di tengah keterkejutannya.
Athrun memundurkan tubuhnya, lalu memandang wajah Cagalli dengan sorot mata serius. "Sebentar lagi kau akan melahirkan. Aku tidak ingin segala sikap burukku membawa pengaruh pada anak kita." Athrun menghentikan ucapannya sejenak untuk meraih tangan kanan Cagalli lalu mencium sekilas punggung tangan wanita itu. "Dan juga, aku tidak ingin lagi menjadi suami yang buruk bagimu. Kau mau memaafkanku, 'kan?"
"A-aku—"
Cagalli hendak berbicara, tetapi ia bingung harus bagaimana menanggapi ucapan Athrun, sehingga ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lantai. Selama delapan bulan lebih mendapat perlakuan buruk, Cagalli selalu meyakini bahwa Athrun adalah pria terkejam yang pernah ia temui selama hidupnya. Perubahan sikap Athrun menjadi baik seperti sekarang ini tidak pernah diantisipasi oleh Cagalli sebelumnya.
"Cagalli."
Cagalli menyadari kedua tangan Athrun meraih wajahnya. Athrun menangkup pipi Cagalli dengan lembut, memaksa wajah Cagalli agar menghadap lurus ke wajah pria itu.
"Aku sungguh-sungguh menyesal telah memperlakukanmu dengan buruk." Athrun melanjutkan ucapannya. "Maafkan aku, ya?"
Wajah Athrun begitu dekat dan tampan di hadapan Cagalli. Bagi Cagalli mata emerald pria itu serasa menghipnotis, dan seperti sarat dengan manipulasi. Tapi akhirnya Cagalli malah mengangguk.
"Terimakasih, sayang."
Setelah mengucapkan dua kata itu Athrun langsung menempelkan bibirnya pada bibir Cagalli—mencium wanita itu. Tangan Athrun yang sedari tadi berada di pipi Cagalli perlahan mulai bergerak turun dan menyentuh gaun tidur Cagalli, lalu melepas satu-persatu kancing atas gaun tidur wanita itu.
Cagalli yang menyadari aktivitas tangan Athrun di bajunya, secara refleks menghentikan pergerakan tangan Athrun dengan tangannya.
"A-Athrun," lirih Cagalli di tengah ciuman mereka.
Athrun menjauhkan bibirnya dari bibir Cagalli, lalu setelahnya ia menempelkan keningnya ke kening Cagalli. Mata mereka kini saling menatap, bahkan mereka bisa saling merasakan deru napas mereka satu sama lain.
"Jangan takut," kata Athrun. "Aku janji tidak akan menyakitimu. Kau percaya padaku, 'kan?"
Walaupun akal sehat Cagalli saat ini mempertanyakan perubahan sikap lembut Athrun, tapi tubuh fisik Cagalli seolah-olah tidak peduli pada pertanyaan apa pun yang melintas di benaknya. Untuk yang kesekian kalinya akhirnya Cagalli mengangguk.
Karena pada waktu ini, jauh di dalam lubuk hati Cagalli, walau sedikit... ia percaya Athrun telah berubah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ketika bangun tidur pada keesokan paginya, Athrun tidak mendapati Cagalli berbaring di sisinya. Tapi ia melihat pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon sedang terbuka, jadi ia meyakini Cagalli pasti sedang berada di balkon.
Athrun bangkit dari posisi tidur. Ia beringsut ke pinggir ranjang lalu mengambil jubah tidur untuk ia kenakan ke tubuhnya. Sebelum menghampiri Cagalli di balkon, Athrun menyempatkan diri membuka laci yang berada di bagian bawah lemari baju. Ia mengambil sebuah pistol dari dalamnya, lalu memasukkan pistol tersebut ke dalam saku jubah tidurnya.
Sesaat kemudian Athrun kembali memulai langkah. Ketika telah melewati ambang pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon, ia melihat Cagalli sedang berdiri di dekat pagar pembatas balkon.
Athrun langsung mendekap tubuh Cagalli dari belakang ketika telah berada di dekat wanita itu. Ia menempelkan pipinya pada pipi Cagalli.
"Kau sedang melihat apa pagi-pagi begini, sayang?" tanya Athrun pada Cagalli.
Tanpa mengalihkan penglihatan dari pemandangan halaman mansion yang ada di bawah lantai dua, Cagalli menangkupkan kedua tangannya ke tangan Athrun yang melingkari perutnya. "Aku hanya sedang berpikir," jawab Cagalli.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tentang semalam dan saat ini, apakah pelukan darimu ini kenyataan atau mimpi."
Athrun semakin mengeratkan dekapan di tubuh Cagalli, tapi tidak sampai membuat wanita itu merasa tidak nyaman. "Kau bisa merasakannya, 'kan, sekarang?" tanya Athrun. "Kalau pelukan ini memang nyata."
"Hn," gumam Cagalli sambil mengangguk.
"Cagalli, aku tidak ingin kau memikirkannya lagi." Athrun mencium sekilas pipi sebelah kanan Cagalli, lalu ia melepaskan pelukannya. Athrun membalikkan tubuh Cagalli agar menghadap ke tubuhnya. Dengan mengarahkan kedua tangan ke pundak Cagalli, ia melanjutkan, "Aku benar-benar sudah berubah, sayang. Kau tidak perlu meragukan aku lagi. Lebih baik sekarang kita sarapan. Ini sudah pukul delapan. Anak kita pasti sudah kelaparan."
Walaupun Cagalli kini mengangguk, tapi Athrun dapat melihat sorot keraguan terpancar dari mata amber wanita itu.
"Baiklah, aku percaya padamu." Sebuah senyuman seketika terukir di wajah Cagalli. "Jadi, suamiku, kau ingin sarapan apa? Aku akan meminta Meyrin membuatkannya."
"Apa saja boleh," kata Athrun. "Dan juga, aku ingin kita sarapan di teras balkon ini saja. Sambil menikmati pemandangan tidak ada salahnya, 'kan?"
"Ide yang bagus," setuju Cagalli. "Kalau begitu aku akan menyuruh Meyrin menyiapkan segalanya."
"Tentu saja, sayang."
Athrun menurunkan kedua tangannya dari pundak Cagalli, lalu membiarkan wanita itu berjalan meninggalkan balkon.
"Ah, iya, Athrun?"
Athrun berbalik menghadap Cagalli. "Ada apa?"
"Kulihat di halaman mansion ada banyak bunga lili bermekaran. Bolehkah aku memetik bunga-bunga itu? Aku ingin menaruhnya di dalam vas yang ada di kamarmu."
Athrun mengangguk sembari tersenyum. "Boleh, sayang. Mulai hari ini, semua yang ada di mansion ini adalah milikmu juga. Kau boleh mengambil apa pun yang kau mau."
Cagalli balas tersenyum. "Baiklah. Terimakasih."
Athrun memerhatikan Cagalli memutar tubuh lalu berjalan meninggalkan balkon. Setelah wanita itu membuka pintu kamar lalu menghilang ke baliknya, Athrun kembali menghadap ke pemandangan halaman mansion di bawah.
Tiga menit kemudian Athrun mendengar suara pintu kamarnya di ketuk dari luar. Ia menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu kamarnya, lalu tak lama setelah itu pintu kamar Athrun terbuka dan sosok Meyrin pun terlihat dari baliknya.
Athrun melihat Meyrin berjalan melewati ruangan kamar dan kini menghampiri dirinya di balkon. Pelayan itu membungkuk hormat sejenak ketika telah berdiri di hadapan Athrun.
"Permisi, Tuan Athrun," Meyrin berkata. Peralatan makan seperti piring, gelas dan sendok kini tertata rapih di pegangan kedua tangannya. "Saya hendak menyiapkan sarapan untuk Anda dan Nona Cagalli. Saya akan meletakkan peralatan makan ini di meja."
"Silahkan."
Setelahnya Athrun bergeming memerhatikan Meyrin melakukan pekerjaannya. Athrun melihat dengan saksama saat pelayan itu menaruh dan menata piring, gelas beserta sendok bersih ke meja besi yang terdapat di balkon.
"Saya permisi untuk mengambil makanannya dahulu, Tuan."
Ketika Meyrin berbalik hendak meninggalkan balkon, tiba-tiba saja Athrun menggerakkan tubuhnya lalu mencengkeram salah satu pergelangan tangan Meyrin.
Athrun mengeluarkan pistol dari dalam saku jubah tidurnya, lalu menodongkan senjata api berlaras pendek tersebut ke depan tubuh Meyrin—sontak membuat gadis itu membelalakkan mata dan melepas paksa cengkeraman tangan Athrun di pergelangan tangannya.
"Apa yang Anda lakukan, Tuan Athrun?" Meyrin mundur satu langkah ke belakang tubuhnya.
"Masuk ke kamarku lalu lepas seluruh pakaianmu!" Tanpa berbasa-basi Athrun langsung memberi perintah pada Meyrin. "Aku ingin kau berbaring di atas tempat tidurku."
Tapi Meyrin tidak mengindahkan perintah Athrun. Tiba-tiba saja ekspresi terkejut di wajah gadis itu berubah menjadi datar. Dan seakan tanpa rasa takut sedikitpun, Meyrin melangkah maju kembali ke hadapan Athrun. "Silahkan, Tuan," Meyrin berkata dengan tenang. "Silahkan tembak saya. Saya lebih memilih mati daripada harus mengkhianati majikan saya, Nona Cagalli."
Athrun sedikit terkesan melihat keteguhan Meyrin yang senantiasa setia pada Cagalli sekalipun mara bahaya ada di depan mata gadis itu.
Tapi, apakah sebentar lagi kau masih akan tetap teguh pada pendirianmu? Athrun membatin.
"Aku akan memberimu pilihan," tawar Athrun. "Kau menyerahkan tubuhmu padaku," Athrun menjeda ucapannya sejenak untuk mengarahkan ujung pistol di tangannya ke sosok Cagalli yang kini terlihat dan sedang memetik bunga lili di halaman mansion di bawah. "Atau aku menembak majikanmu saat ini juga?"
Meyrin terkesiap dari tempatnya berdiri. Ekspresi datar yang sedari tadi dipertahankan wajahnya kini mulai berubah menjadi tegang.
"Dari awal melihat Anda, saya memang sudah menduga kalau Anda bukanlah laki-laki yang baik untuk Nona Cagalli." Meyrin mencoba memberi cibiran pada Athrun, tapi di detik berikutnya ia memutar tubuh lalu berjalan ke dalam kamar. "Saya akan memenuhi permintaan Anda, tapi tolong jangan menembak Nona Cagalli."
Athrun tidak menggubris perkataan Meyrin. Ia hanya langsung mengikuti Meyrin masuk ke dalam kamar—dengan sekilas melirik ke arah Cagalli yang berada di kejauhan halaman mansion.
Tadi malam aku bisa membuaimu, Cagalli. Athrun membatin. Dan sebentar lagi aku juga bisa menjatuhkan dirimu ke jurang kekecewaan.
Athrun meyakini Cagalli pasti akan merasa kecewa dan terkhianati jika memergoki suami yang mulai dipercayainya dan pelayan yang sangat dipercayainya tengah bercinta di depan matanya.
Memberikan pelajaran dan rasa sakit hati yang telak pada Cagalli, adalah rencana Athrun saat ini. Supaya Cagalli tidak berani lagi membantah ucapannya, menolak perintahnya dan juga membangkang kepadanya.
Itulah pembalasan terakhir Athrun untuk Cagalli.
TBC
A/N : bukan kalian aja, aku juga muak kok sama sikap Athrun di fic ini. makanya dlu aku hiatus aja, batin aku sendiri bergelud buat bikin Athrun jd sejahat ini. tapi aku janji deh, aku janji bakal jadiin Cagalli org yg paling berpengaruh dan bisa sesuka hati dia di fic ini. Tapi nanti yah, setelah Cagalli ngadepin dan ngalahin dulu si impostornya. wkwk
Seenggaknya Cagalli udah mulai berani melawan Athrun di bab ini :) dan akhirnya kita bakal sampai di penghujung kejahatan Athrun. bab 5 bakal ngebuka sebagian dari seluruh teka-teki di fic ini ;)
Tapi beneran nih ya, kalau perlu pegang kata-kataku ini; di bab 5 si Athrun bakal kubikin jd kena mental. biarlah aku spoiler, aku udh muak ;)
Btw makasih banyak buat yang udah baca sampai saat ini dan makasih juga buat kaka-kaka yg udh review di bab-bab sebelumnya. terkhusus buat kaka alyazala; aku gk ada niatan atau kepikiran buat mengomersilkan tulisan2 aku di ffn, apa yg udh aku tulis silahkan dibaca dan dinikmati saja :) dengan dibaca dan dikasih bonus review aja itu udh suatu apresiasi buat aku. makasih ya.
.
.
Bab 5 udh aku konsep dari jauh hari, tp aku bakal sibuk sampe banner fase pertama patch 3.4 di game GI habis(7 Februari 2023) karena aku bakal all in genshin impact buat ngejer maksimal konstelasi Xiao. Kalau itu udh kelar, aku bakal fokus lanjutin fic ini lg. Moga aja aku bisa update fic secepatnya :) dah ya!
Sampai ketemu di Bab 5: Menjadi Keluarga Zala Sesungguhnya !
Ang, 19-1-23
