The Commitment
Genre : Drama/Romance/Family
Chapter 21 : Kita Sudahi Saja?
WARNING : Super OOC, AU, Kemungkinan OC, Kata-kata Kasar, Kemungkinan NFSW, Ga Jelas, Ribet.
Setelah sampai di depan lobi rumah sakit, Cagalli langsung membayar tarif sesuai dengan argo yang tertera di dasbor mobil, lalu secepat kilat ia pun keluar dari taksi yang ditumpanginya. Cagalli masuk melalui pintu otomatis di lobi utama, tidak banyak membuang waktu, ia langsung menuju lift pengunjung yang letaknya di dekat loket resepsionis. Ia sudah cukup familiar dengan lokasi lift karena memang pernah mengunjungi rumah sakit itu sebelumnya. Saat itu rumah sakit sedang sepi, jadi ia tidak perlu menunggu lama untuk menaiki lift. Cagalli menekan tombol lantai tiga tak lama setelah masuk. Sendirian di dalam lift, wanita itu menyandarkan badannya ke salah satu sisi lift, ia mencoba menenangkan pikirannya yang masih menerka-nerka tentang situasi apa yang akan dihadapinya nanti.
Saat di bandara tadi, Athrun menelponnya melalui ponsel Patrick. Suaranya parau terdengar lesu, ia meminta Cagalli untuk segera datang ke rumah sakit tanpa banyak memberi banyak penjelasan. Hanya nama rumah sakit dan nomor ruangannya. Setelah itu Athrun langsung mematikan sambungan telepon. Rumah sakit Olofath, rumah sakit yang sama dengan tempat ibu mertuanya dirawat kemarin. Rumah sakit yang menjadi rujukan utama Lenore selama masa perawatan di ORB. Itulah sebabnya ketika Athrun memberi tahu nama rumah sakit yang harus ditujunya, pikiran Cagalli mau tidak mau langsung tertuju pada Lenore. Cagalli tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia punya firasat bahwa ini bukan berita yang baik. Cagalli ingat bahwa sebelumnya Athrun pernah mengatakan jika kondisi ibunya memburuk lagi, maka akan sulit bagi dokter untuk menanganinya, karena itulah Athrun sangat berharap agar Lenore mendapatkan donor secepat mungkin. Sebenarnya tidak hanya Athrun yang berharap seperti itu, Cagalli juga mengharapkan Lenore segera sehat. Baginya, Lenore bukan hanya sekedar mertua palsu. Selama ini Lenore selalu memperlakukannya dengan sangat hangat, sehingga sangat tidak mungkin baginya untuk menganggap Lenore bukan siapa-siapa. Dada Cagalli tiba-tiba terasa sesak, ia sama sekali tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk. Ia sangat berharap dugaannya salah dan kedatangan Lenore ke rumah sakit ini dikarenakan sudah ada donor jantung yang cocok untuk Lenore. Itu pikiran positif yang Cagalli coba jejakkan di kepalanya, namun itu cukup sulit, jika mengingat nada bicara Athrun di telepon tadi.
Hanya butuh waktu tiga menit sampai Cagalli menemukan ruangan yang menjadi tujuannya setelah meninggalkan lift. Cagalli menghela nafas pendek, mencoba menyiapkan diri dengan situasi apapun yang akan dihadapinya dibalik ruangan itu. Ia menggeser perlahan pintu kamar rawat yang sudah diberitahu Athrun tadi dan ia pun masuk. Keadaan ruangan hampir senyap, hanya ada sedikit suara berisik yang berasal dari dua orang perawat yang terlihat sedang berkutat dengan alat-alat medis di sekitar tempat tidur di tengah ruangan rawat itu. Cagalli melihat sosok Athrun sedang duduk menunduk di samping ranjang. Tangan pria itu sedang menggenggam erat salah satu tangan ibu mertuanya yang sedang terbaring diam di hadapannya. Ayah mertuanya tidak jauh berbeda, pria paruh baya itu ada di posisi yang hampir mirip dengan Athrun, bedanya Patrick ada di sisi seberang Athrun. Cagalli tidak bisa melihat wajah Athrun yang sedang menunduk, sedangkan Patrick terlihat memandang kosong ke arah wajah istrinya. Lenore sendiri terlihat sedang memejamkan matanya.
"Mohon maaf pak, saya hanya ingin menginfokan, untuk administrasi perpindahannya bisa segera diurus di loket administrasi." Pandangan Cagalli kini mengarah pada sumber suara, salah satu dari dua perawat yang sedang berurusan dengan alat medis tadi terlihat sungkan mengusik Patrick, tapi sepertinya mau tak mau ia harus mengatakan hal itu.
Cagalli sedikit mengerutkan keningnya, melihat tidak ada respon dari Ayah mertuanya, ia jadi tidak yakin Patrick mendengar apa yang dikatakan sang perawat. Namun ia jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah yang dimaksud perawat itu artinya Lenore akan dipindahkan ke rumah sakit lain atau mungkin kamar lain? Melihat Patrick dan Athrun masih tidak merespon, Cagalli mengambil kesimpulan, bahwa mungkin kondisi Lenore memang sedang tidak baik. Cagalli berjalan mendekat ke arah tempat tidur, ia memandang ke arah Patrick sekali lagi, kini wajah mertuanya yang sedikit pucat itu terlihat lebih jelas. "Biar aku saja yang mengurusnya." Cagalli berinisiatif, ia menjawab perawat yang memberitahu Patrick tadi. Rasanya tidak etis jika mereka harus mengurus administrasi atau apapun itu, di saat seperti ini. Lagipula pasti Lenore ingin Patrick dan Athrun tetap berada di sisinya.
"Tidak apa, biar aku saja." Mendengar jawaban Cagalli, Patrick seperti tersadar lalu seketika ia berdiri dari tempatnya. Patrick menatap ke arah Cagalli sesaat, tatapan yang sulit Cagalli artikan. "Kau urus dia saja ya." ucap ayah mertuanya pelan sambil mengisyaratkan matanya ke arah Athrun, setelah itu Patrick pergi ke luar ruangan bersama kedua perawat tadi.
Cagalli berjalan mendekati Athrun di samping ranjang. Ketika tangan Cagalli bersentuhan dengan tempat tidur pasien, di saat itulah ia sadar. Alasan mengapa Athrun tetap diam tak bergerak di tempatnya, alasan mengapa pandangan Patrick terlihat kosong. Kaki Cagalli terasa lemas, ia berusaha agar kakinya tetap tegak, tidak menjatuhkan badannya ke lantai. Cagalli menahan nafasnya, memandangi Lenore yang wajahnya terlihat sangat pucat dan kering. Ibu mertuanya kini tidak lagi memakai peralatan medis di sekujur tubuhnya. Tidak ada sungkup oksigen untuk membantu pernapasannya, tidak juga ada lilitan kabel-kabel elektrokardiogram tipis yang selalu tersambung ke dadanya untuk mengecek kondisi jantung seperti saat ia dirawat sebelumnya. Bahkan tidak ada satu jarum infus pun yang tersambung ke tangannya.
"Ath.." Cagalli meletakkan satu tangannya di pundak Athrun, ia ingin bertanya, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia takut untuk memastikannya. Jarak mereka yang dekat menyadarkan Cagalli bahwa Athrun sedang menangis, walau tanpa isakan. Kalau bukan karena melihat lengan piyama rumah sakit Lenore yang basah, ia tidak akan tahu suami kontraknya itu sedang menangis. Cagalli meremas pundak Athrun dengan kencang. Athrun diam perlahan membalikkan badannya ke arah Cagalli, matanya menatap Cagalli dengan air mata bercucuran di pipinya. Cagalli merasakan kembali kesesakan yang tadi ia rasakan saat berada di lift, ia ikut merasakan emosi yang sedang ditahan oleh Athrun. Meraih wajah Athrun, ia mencoba menghapus air mata suaminya itu. Namun sia-sia saja karena air mata itu terus mengalir. Bibir Cagalli bergetar, menahan isakan tangisnya yang sudah hampir keluar. Menyejajarkan posisinya dengan Athrun, tanpa pikir panjang Cagalli pun memeluk pria di hadapannya itu dengan lembut. "Jangan ditahan, aku akan menemanimu menangis disini, jadi tidak perlu ditahan."
Air mata Cagalli tidak terbendung lagi. Ia menangis sambil memeluk Athrun, hatinya ikut perih dengan kenyataan bahwa ibu mertuanya sudah tidak ada bersama mereka lagi. Awalnya Cagalli merasakan keragu-raguan Athrun, tapi pada akhirnya pria yang dipeluknya itu pun membalas dekapan Cagalli dengan erat dan membenamkan wajahnya di pundak Cagalli. Cagalli tidak bisa melihat langsung wajah Athrun, namun isakan yang terdengar dan pelukan Athrun yang sangat kuat sudah cukup menggambarkan betapa terpukulnya Athrun karena kehilangan Lenore. Athrun kehilangan orang yang sangat penting baginya, Cagalli bisa membayangkan seberat apa hal itu untuknya. Kehilangan Halsten yang hanya beberapa tahun ia kenal saja sudah sangat menyakitkan, apalagi kehilangan seorang Ibu yang sangat disayanginya sejak kecil. Tangis Cagalli semakin menjadi ketika mengingat kembali semua kebaikan Lenore padanya. Tidak akan ada lagi senyum hangat dan sapaan ramah dari ibu mertuanya. Tidak ada lagi ibu mertua yang akan selalu menelponnya setiap minggu untuk menanyakan kabarnya. Tidak ada lagi yang akan mengirimkan buah-buahan atau makanan sehat setiap bulan ke rumah mereka. Jika dirinya dan Athrun menolak, Lenore selalu berkata bahwa ia tidak ingin anak-anaknya tidak menjaga makanan hanya karena sibuk bekerja. Lenore tidak seperti ibunya yang selalu menuntut banyak hal, tidak pernah. Ia bahkan pernah berpikir bahwa Lenore lebih menyayanginya dibanding ibu kandungnya sendiri. Lenore tidak pernah mengeluhkan sikapnya, ia selalu tersenyum dan berbicara hal-hal yang menyenangkan kepadanya. Ia merasa Lenore menerimanya dengan segala kekurangannya, hal yang sudah lama tidak ia rasakan terhadap ibunya sendiri. Padahal ia belum lama mengenal Lenore, tapi Cagalli merasakan perhatian mertuanya yang sangat tulus. Cagalli merasakan bajunya mulai basah karena air mata Athrun, pria itu masih memeluknya dengan sangat erat selaras dengan isak tangisnya yang kini tak lagi ditahannya. Namun saat ini ia sama sekali tidak peduli tentang hal itu, Cagalli tahu betapa terpuruknya Athrun saat ini dan jika pelukannya bisa membuat Athrun merasa lebih baik, ia akan melakukan itu. Tidak peduli seberapa kuyup pakaiannya nanti.
Lenore akan dimakamkan di Plants besok pagi. Setelah pengurusan administrasi selesai, perpindahan jenazah akan segera diproses. Penyelesaian administrasi membutuhkan waktu sekitar beberapa jam, maka pada jeda waktu itulah Patrick dan Athrun pun ikut bersiap untuk pulang ke Plants. Mereka akan ikut pulang bersama jenazah Lenore sekitar pukul 11 malam. Athrun memberitahu Cagalli bahwa dirinya tidak perlu langsung ikut ke Plants dan menyusul besok saja, alasannya pasti akan melelahkan karena banyak yang akan dipersiapkan untuk pemakaman di Plants. Namun Cagalli menolak mentah-mentah, ia berkata tidak mungkin ia tidak ikut langsung. Sebagai "istri" Athrun, tentunya sudah kewajibannya untuk ikut, lagipula, kebetulan ia sudah cuti. Mendengar jawaban Cagalli, Athrun hanya menatapnya dalam, tapi akhirnya ia pun tidak berkata apa-apa lagi.
Sesampainya di Plants, tidak seperti yang Athrun katakan, tidak banyak yang harus dipersiapkan sebelum pemakaman. Ternyata tak lama setelah Lenore dinyatakan meninggal, Patrick sudah meminta beberapa pegawai rumah mereka di Plants mempersiapkan semua hal untuk prosesi pemakaman. Namun bukan berarti mereka tidak sibuk. Sesampainya di rumah Athrun, sudah cukup banyak tamu yang berdatangan, kebanyakan mereka adalah keluarga dan kerabat dari pihak ibu ataupun ayah Athrun. Beberapa dari mereka Cagalli kenali karena pernah menghadiri pernikahannya dengan Athrun. Namun banyak juga yang tidak Cagalli kenal, karena memang tidak semua orang mereka undang ke pernikahan mereka. Setelah meletakkan koper di kamar dan istirahat sebentar, Cagalli, Athrun dan Patrick kini sudah berpakaian serba hitam, mereka berdiri sejajar sambil menyambut tamu-tamu yang datang menyampaikan belasungkawanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi ketika kerabat yang berkumpul di rumah Athrun mulai beristirahat di kamar yang sudah disediakan untuk menghadiri pemakaman pukul 10.00 nanti. Patrick beranjak pamit untuk istirahat sebentar. Cagalli juga mengajak Athrun untuk beristirahat, menawarkannya makan dan minum karena sejak berita kematian Lenore kemarin, Athrun menolak memejamkan mata atau meneguk apapun. Cagalli memperhatikan Athrun yang sedang terduduk diam di samping jenazah sang ibu sampai saat ini. Ia ingin menghibur Athrun, tapi ia tidak tahu harus mengatakan apa, karena ia sangat mengerti, apa yang sedang dirasakan Athrun saat ini. Kekecewaan, kesedihan, kehilangan, kemarahan, semua bercampur aduk menjadi satu. Cagalli tahu benar, betapa besar rasa sayang Athrun pada ibunya. Saking besarnya Athrun sampai memaksanya menikah kontrak hanya untuk menyenangkan hati sang ibu. Namun apa daya, ini sepertinya sudah menjadi takdir dari yang Maha Kuasa, karena setelah perjuangan yang panjang pada akhirnya Lenore harus pergi juga.
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Pada akhirnya Athrun tidak beristirahat sedikit pun. Orang-orang semakin banyak berkumpul. Kini tidak hanya kerabat, tapi juga rekan kerja serta teman-teman Patrick dan Lenore juga datang. Via dan Uzumi, begitu juga Kira dengan keluarga kecilnya ikut hadir. Beberapa teman Athrun juga kelihatan ikut hadir, Cagalli sama sekali tidak mengenal mereka tapi dari cara mereka menyapa Athrun, Cagalli yakin mereka teman-teman Athrun. Mereka sepertinya teman-teman sekolah Athrun, karena memang Athrun sejak kecil sudah tinggal di Plants, jadi bukan hal yang aneh jika beberapa dari mereka ada yang datang. Mungkin sebagian dari mereka sebenarnya bertanya-tanya siapa dirinya yang berdiri di tengah-tengah keluarga yang berduka, namun di situasi seperti ini sudah pasti tidak ada yang berani bertanya secara langsung dan hal itu cukup melegakan Cagalli. Dearka dan Nicol juga hadir, mereka terlihat terpukul, ia yakin Lenore juga sangat dekat dengan mereka. Shiho bilang ia ingin sekali datang tapi karena dia sudah hamil besar, sulit untuknya berpergian jauh, jadi Shiho meminta maaf dan menyampaikan belasungkawanya lewat telepon karena ia tidak bisa hadir di Plants.
Ketika prosesi pemakaman benar-benar selesai, para tamu pun satu persatu berpamitan untuk pulang. Patrick yang sudah terlihat sangat kelelahan terlihat masih enggan meninggalkan makam istrinya. Begitupun dengan Athrun, yang ekspresi wajahnya saat ini sulit dimengerti Cagalli. Athrun tidak menangis lagi seperti kemarin malam, dia lebih banyak diam, namun wajahnya terlihat sangat pucat. Ketika sudah hampir tidak ada lagi tamu di area makam, Patrick akhirnya mengajak mereka pulang, selain mereka, masih keluarga Cagalli yang paling terakhir pamit. Walau akhirnya Cagalli dan Via bertemu lagi setelah sekian lama, ibunya tidak mengatakan apa-apa padanya. Namun, dari matanya yang terlihat sembab, Cagalli menduga bahwa ibunya juga benar-benar sedih dengan kepergian Lenore.
Brak!
Sebelum mereka semua berhasil beranjak dari makam Lenore, Athrun jatuh tersungkur tak sadarkan diri di sebelah makam ibunya.
Dokter mengatakan bahwa Athrun mengalami depresi ringan. Ditambah lagi ia belum makan dan minum sejak kemarin, tentu saja dia ambruk. Mendengar penjelasan dokter, Cagalli segera meminta Patrick untuk beristirahat. Ia tidak ingin Patrick ikut tumbang, karena sejak saat Athrun pingsan, Patrick terlihat sangat cemas bahkan ia terus ikut menemani Athrun di kamarnya. Walaupun Patrick hanya diam, namun kenyataan bahwa Patrick tetap berada di kamar AThrun, menjelaskan ia sangat khawatir terhadap anak semata wayangnya itu. Menenangkan Patrick, Cagalli berjanji dia akan merawat Athrun, dan akan mengabarkan Patrick jika Athrun sudah juga mengatakan bahwa ia tidak ingin Patrick ikut sakit, karena akan sangat repot jika ia harus mengurus dua orang. Patrick pun tersenyum menyerah dan meninggalkan mereka berdua di kamar. Ketika Athrun dinyatakan baik-baik saja oleh dokter, Uzumi, Via juga Kira dan keluarganya pamit untuk pulang. Via sempat memandang lama ke arah Cagalli, namun pada akhirnya ia tidak mengatakan apa-apa.
Cagalli duduk di samping tempat tidur. Kamar Athrun ini tidak jauh berbeda dengan kamarnya pada rumah tinggal mereka d ORB. Kamar Athrun terlihat rapi dan tidak banyak barang disana. Yang berbeda mungkin hanya ukuran tempat tidur dan kamar yang besar. Cagalli menatap wajah Athrun, mau tidak mau ia menghela nafas panjang. Sebenarnya Apa yang dialami Athrun sekarang sudah pernah diprediksi oleh Lenore.
"Cagalli, maaf ya, aku ingin meminta sesuatu yang egois padamu..."
Cagalli mencoba menelan ludah tanpa ketahuan, pasalnya ia tidak bisa memprediksi permintaan apa yang akan mertuanya itu sampaikan.
"Kau lihat kan, aku sudah tidak sehat lagi. Aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan." Lenore menatap Cagalli lekat-lekat, satu tangannya meraih tangan Cagalli dan menggenggamnya. "Jika terjadi sesuatu padaku, bisakah kau terus berada di sisi Athrun? Aku tahu sekali sifatnya. Ia akan bersikap seolah semuanya baik-baik saja padahal tidak. Aku tidak ingin dia bersedih terlalu lama karena-"
"Ibu.. Sebentar." memahami arah pembicaraan mereka, Cagalli memotong kalimat Lenore. "Ibu, maafkan aku yang lancang, tapi aku tidak ingin mendengarnya. Aku yakin ibu akan sembuh, aku yakin akan segera ada donor untuk Ibu. Jadi kumohon jangan berkata seperti ini." Pembicaraan ini terlalu berat untuknya. Bagaimana bisa ia menerima permintaan Lenore jika ia sebenarnya hanya istri kontrak Athrun. Lenore begitu tulus menganggapnya sebagai istri dari anak kesayangannya, ia merasa ia tidak bisa mendengar permintaan ini lebih lanjut.
"Cagalli.." Lenore tersenyum lembut ke arahnya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku sangat senang bisa bertemu Cagalli. Sesungguhnya aku selalu takut aku akan meninggalkan Athrun tanpa seseorang di sisinya. Kau tahu betapa leganya aku ketika ia meminta menikah denganmu? Awalnya aku hanya menganggapnya tidak serius, tapi aku tidak menyangka kalian benar-benar menikah. Kau tahu aku benar-benar lega…"
"Bu.. aku.."
"Cagalli, aku sangat tahu Athrun. Jika aku pergi, dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri, dia akan memendam semuanya sendiri, merasa bertanggung jawab akan semua yang terjadi, padahal jika memang takdirku, itu sudah kehendak yang Maha Kuasa, bukan kesalahannya."
Cagalli hanya diam, ia tidak ingin Lenore meneruskan pembicaraan ini tapi Lenore tidak bisa dihentikan.
"Jika permintaan ini terlalu berat, setidaknya jika aku pergi nanti, berjanjilah padaku untuk selalu bersamanya sampai ia kembali menjadi dirinya sendiri."
Kata-kata Lenore terdengar aneh bagi Cagalli, Lenore seperti tahu bahwa mereka tidak akan selamanya bersama, namun hal itu tidak mungkin. Mana mungkin Lenore tahu tapi tidak berkata apa-apa?
"Aku tahu Athrun sangat menyukaimu, tapi aku selalu merasa hal itu berat sebelah." Lenore menyunggingkan senyumnya. "Aku tidak tahu cara apa yang Athrun gunakan hingga membuatmu setuju menikahinya, tapi Cagalli, saat ini kau satu-satunya yang bisa kuandalkan. Aku tahu ini permintaan yang berat, tapi aku mohon Cagalli… Setidaknya, setidaknya jika aku benar-benar pergi, tetaplah bersamanya sampai dia bisa menjalani hidupnya lagi."
"Tapi Bu, Ibu akan sembuh. Aku sangat yakin.." Cagalli memejamkan matanya, bagaimana bisa Lenore mengatakan Athrun menyukainya jika ia saja mengancam Cagalli menikah kontrak dengannya seperti ini. Athrun hanya sangat pandai berakting.
"Aku hanya ingin mempersiapkan skenario terburuk. Aku juga berharap aku bisa bertahan selama mungkin." Mata Lenore memancarkan kesedihan, namun wajahnya tetap tersenyum. Cagalli sangat merasa bersalah, tidak seharusnya dia membohongi Lenore seperti ini. Lenore menggenggam tangan Cagalli dengan kedua tangannya, benar-benar memohon.
Cagalli kini meletakkan tangannya di atas tangan Lenore. "Tapi berjanjilah padaku Bu, kau harus berusaha sekuat tenaga untuk sehat lagi."
"Aku janji." Lenore menampilkan senyum lemahnya.
Cagalli meneteskan air mata lagi. Lenore begitu mempercayainya. Namun ia tidak tahu apa dia sanggup menepati janjinya. Saat itu, Cagalli sangat yakin bahwa Lenore akan sembuh, tidak ada sedikitpun firasatnya yang mengatakan bahwa Lenore akan pergi seperti ini. Ia selalu yakin bahwa Lenore akan baik-baik saja dan ia tidak perlu memenuhi janjinya. Namun sekarang? Tiba-tiba saja Cagalli melihat pergerakan kecil dari tangan Athrun, sepertinya pria itu mulai sadar. Cagalli pun buru buru menghapus air matanya.
"Kau sudah siuman? Kau harus makan sekarang." Cagalli langsung menjejalkan pertanyaan.
"Aku tidak lapar." Jawab Athrun parau. Mata Athrun sudah terbuka penuh, walau tubuhnya masih ia baringkan.
"Kau belum makan apapun sejak kemarin, bagaimana kau tidak lapar?" Cagalli memaksa.
"Aku akan istirahat lagi." Athrun malah mengabaikan pertanyaannya sambil membalikkan tubuh membelakangi Cagalli. Cagalli mengerti, apa yang dirasakan Athrun tidak mudah. Namun, jika dibiarkan, Athrun hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Cagalli tahu karena ia pernah mengalaminya. Cagalli beranjak dari tempat duduknya mengambil segelas air yang sudah disiapkan pelayan di dekat pintu kamar. Lalu berjalan menuju Athrun.
"Minum ini." Cagalli mendekati Athrun yang terbaring.
"Aku tidak apa Cags, kau juga harus istirahat."
"Minum ini." Melihat Cagalli yang tidak bergeming, akhirnya Athrun pun menenggak minuman di dalam gelas yang Cagalli berikan.
"Sudah. Sekarang kau bisa istirahat di kamarmu." Nada Athrun tidak terdengar marah, hanya tidak beremosi.
"Ah soal itu, apa kau lupa? Kita harus tidur satu kamar karena mereka mengira kita suami istri sungguhan. Tapi kau tidak usah khawatir, aku bisa tidur di lantai, untung saja lantai kamarmu beralas karpet."
Athrun yang dari tadi berbaring, tiba-tiba terbangun duduk di atas tempat tidurnya. "Aku benar-benar lupa!"
"Tidak masalah." Cagalli tersenyum.
"Tidak, aku yang akan tidur di lantai." Athrun menolak.
"Kau itu baru saja pingsan, bagaimana kau mau tidur di lantai? Apa kau mau masuk rumah sakit?"
"Aku tidak bisa membiarkanmu tidur di lantai. Kau juga butuh istirahat Cags. Aku tahu kau belum istirahat sejak kemarin. Lagipula sepertinya aku punya kasur lipat yang bisa digunakan di lemari. Jadi kau bisa tidur di kasur."
"Sebenarnya salah siapa ini? Jika saja kau mau kuajak istirahat sebentar kemarin, aku pasti sempat istirahat." Cagalli mencoba melontarkan candaan, berharap Athrun meresponnya dengan senyuman. Namun sayangnya tidak, "Aku minta maaf. Aku sangat egois. Aku memang tidak berguna." Cagalli sangat kesal karena tentu saja bukan respon seperti itu yang ia inginkan.
Menggelengkan kepalanya, Cagalli beranjak dari kursi duduknya, lalu mengambil tempat tepat di samping Athrun.
"Bagaimana kalau kita tidur berdua saja? Kasur ini cukup luas, kita bisa membuat batas dengan bantal-bantal ini, lagipula kau 'kan tidak mungkin berbuat macam-macam karena kau tidak tertarik pada wanita? Apalagi padaku. Hehehe.." Menyarankan hal ini, benak Cagalli sama sekali tidak berpikiran macam-macam. Athrun sedang sakit dan ia bersikeras tidur di lantai, tentu saja itu tidak akan baik untuk kesehatannya, karena itulah Cagalli memberikan saran untuk tidur bersama di atas kasur.
Athrun hanya diam. Padahal Cagalli berharap Athrun akan menyetujuinya dan berkata, "Tentu saja. Mana mungkin aku tertarik padamu." Namun sayang lagi-lagi yang ia harapkan tidak terjadi.
"Cags, bagaimana kalau kita hentikan saja semua ini?"
"Hmm.. maksudmu?" Cagalli tidak mengerti maksud kata-kata Athrun.
"Maksudku, bagaimana kalau kita sudahi saja kontrak pernikahan ini?"
