Chapter 5 - Dibawah Rintikan Hujan
Kali ini saya kembali membawa tema fanfic naruto, om masashi kishimoto pinjam karakternya ya, silahkan baca bagi yang suka orochimaru/chimaxtoneri bagi yang tidak suka, tidak usah membaca, maaf melenceng dari cerita sesungguhnya, namanya juga fiksi penggemar, ya sesuai khayalan saya. Peringatan ada vulgarnya di harap sudah dewasa jika ingin membaca cerita ini, terimakasih.
"Hentikan"jeritku, namun pria itu membekapku dengan ciumannya, lidahnya melesak di dalam mulutku, aku menggigit lidahnya, dia marah dan menamparku lagi "Benar- benar jalang"ujarnya marah, tubuhku di dorong olehnya hingga ke tanah, di tariknya celana dalamku, dia mengelus kemaluanku, oh kamisama tolong aku, hujan mulai membasahi hutan, rintik-rintik hujan membasahiku. Kamisama dengarkan pintaku, ku mohon tolong diriku, satu nama yang ku ingat dalam hati Toneri tolong aku.
Pria-pria itu masih melecehkanku, kemaluanku di elusnya berulang kali, aku merasakan jari pria itu bermain di lubangku, hingga kemaluanku basah , aku berdoa jangan sampai diriku terangsang karena perbuatan mereka, pria tinggi itu masih mendominasi, dia mencium bibirku lagi, mulutku di pegangnya sehingga aku tidak berkutik, lumatan mulutnya berpindah ke payudaraku, menjijikkan sungguh menjijikkan, aku merasa diriku kotor, apakah ini hukuman dari kamisama karena perbuatanku di masalalu.
Kamisama aku berjanji, jika aku selamat dari penjahat-penjahat ini, aku akan berubah, aku akan tobat menjadi orang baik. Airmataku mengalir diiringi rintikan hujan, betapa hinanya diriku saat ini, aku menjadi wanita yng tak berdaya dan kotor. Aku memejamkan mataku, berharap semua ini hanyalah mimpi.
"Kau menangis?"tanya pria itu, "Semakin kau menangis, semakin ingin aku menikmati tubuhmu, bersiaplah"ujarnya, aku mendengar suara retsleting celana terbuka, aku membuka mataku , "Jangan"ujarku memohon, "Tidak ada kata ampun, bersiaplah" pria itu menarik kedua kakiku dan hendak memasukkan kemaluannya, teman- temannya yang lain tertawa melihatku menderita.
Aku sudah pasrah, mungkin inilah karma bagiku, aku memejamkan mataku erat, dan berdoa semoga ada keajaiban, pria itu mengeluskan kemaluannya di punyaku, aku berusaha menutup rapat kakiku, tapi pria itu mencengkram kakiku kuat. Mataku menatap lurus ke atas, tepatnya ke bulan , berharap pria bulan itu dapat menolongku kemudian aku kembali menutup mataku.
"Aaaa..."teriak seseorang di susul suara pukulan , dan suara ledakkan. aku memberanikan membuka mataku. Ku lihat pria tinggi yang tadi mencoba menodaiku telah mati terpenggal, di ikuti oleh teman-temannya yang lain, mati dengan cara yang sama tragisnya.
Aku mencoba untuk duduk, air mataku masih berlinang, kurapihkan yukataku yang sudah robek di berbagai sisi. "Kau tak apa Chima?"ujar seorang pria, aku menajamkan penglihatanku, takut jikalau semua ini hanyalah mimpi, "Kau tak apa Chima?"tanyanya lagi di sampingku.
"Toneri..."ujarku, aku memeluknya, "Terimakasih"ujarku lagi dengan isakan tangis, "Sudahlah, jangan menangis kau aman sekarang"ujar Toneri membalas pelukanku. "Kau bisa berjalan?"tanyanya, aku mengangguk, aku berusaha berdiri walaupun hati dan ragaku terasa hancur. "Sebaiknya kita cari penginapan dahulu di sini, sebaiknya besok pagi kau baru melanjutkan perjalananmu ke konoha"ujarnya.
Dengan di antar Toneri, aku memesan sebuah kamar di penginapan pinggir desa, penginapan ini kecil namun tampak nyaman. "Chima, hentikan tangisanmu, bukankah penjahat itu telah berhasil ku bunuh "ujarnya.
Memang diriku sekarang sudah aman, tapi sisi wanitaku menjerit kesakitan, aku kotor, masih ingat di kepalaku ketika pria-pria itu menjamahku paksa. "Aku kotor toneri, kotor"ujarku kembali menangis.
"Mereka menjamah setiap inchi tubuhku"ujarku frustasi. Entah mengapa diriku sangat terluka, ini hanyalah tubuh sementara, seharusnya aku tak terlalu terluka sedalam ini. Dan mengapa tadi aku begitu lemah, aku benci semua ini, aku benci sifat kewanitaan ini.
"Sssstttt,sudahlah jangan menangis lagi, hatiku juga ikut terluka mendengar tangisanmu"ujar Toneri memelukku, aku membalas pelukan itu dengan erat, aku menangis di bahunya.
Dikecupnya kepalaku, "Bagiku kau tidak kotor"ujar Toneri, aku menatap wajahnya, lagi-lagi dia tersenyum, senyumn itu tampak tulus, aku menggenggam tangan Toneri dan menatapnya tajam. "Berapa lama lagi gerhana bulan terjadi?"tanyaku. "Sekitar satu jam lagi" ujar Toneri.
"Bisakah selama satu jam ini kau bersamaku?"tanyaku, "Tentu bisa, ada apa Chima?"tanyanya. "Toneri, tolong aku, hapuskan tanda yang di buat pria-pria tadi"ujarku, mungkin inilah cara agar aku melupakan jamahan pria tadi. "Maksudmu?"tanyanya, "Tiduri aku Toneri, berikan aku tandamu, aku ingin mengganti kenangan menyakitkan tadi, aku mohon"ujarku. "Kau yakin Chima?"tanyanya, "Aku yakin" ujarku sebelum aku memberanikan diri mengecup bibir Toneri.
*** Bersambung***
Terimakasih bagi yang sudi membaca fanfic absurd ini, bagi yang suka silahkan fav dan review yang baik ya, terimakasih
