Chapter 6 - Kehangatan Satu Jam
Kali ini saya kembali membawa tema fanfic naruto, om masashi kishimoto pinjam karakternya ya, silahkan baca bagi yang suka orochimaru/chimaxtoneri bagi yang tidak suka, tidak usah membaca, maaf melenceng dari cerita sesungguhnya, namanya juga fiksi penggemar, ya sesuai khayalan saya. Peringatan ada vulgarnya di harap sudah dewasa jika ingin membaca cerita ini, terimakasih. Part ++
Aku mengantarkannya ke amegakure, sebenarnya aku tidak rela melepasnya, tapi apa dayaku, aku bukanlah siapa-siapa baginya, cukuplah sebulan bersamanya menjadi kenangan indah bagiku. Sebenarnya aku masih tidak mempercayai bahwa dahulunya dia adalah pria, karena dia yang kulihat saat ini sangat feminim, wajahnya cantik, dan ayu, aroma tubuhnya pun sangat wangi khas bunga mawar putih.
"Terimakasih sudah mengantarkanku"ujarnya kepadaku karen mengembalikannya ke bumi. Aku mengangguk dan terdiam karena aku merasa semakin lama aku disini, semakin aku sukit melepaskanmu. "Jika kau berkunjung ke bumi, datanglah ketempatku, aku pasti akan menjamumu, kita mungkin tidak bisa menjadi kekasih, namun bisa menjadi teman bukan?"ujarnya kepadaku, aku tersenyum dan segera kembali ke bulan.
Baru beberapa saat aku meninggalkannya namun hatiku terasa gundah, entahlah perasaan apa ini. Apakah dia dalam bahaya?, jika benar itu terjadi ku harus bergegas membantunya, sebekum gerhana bulan berakhir.
Benar dugaanku, aku melihat dirinya di lecehkan oleh beberapa pria. Dia terlihat sangat tak berdaya, aku mengaktifkan tenseigan dan membunuh para pria itu.
"Kau tak apa Chima?"tanyaku di sampingnya, kondisi dia sangat mengenaskan, yukatanya robek, payudaranya sedikit terekspose dan tampak banyak bercak merah, pria-pria itu benar-benar melecehkannya. "Toneri..."ujarnya kemudian memelukku,"Terimakasih"ujarnya lagi dengan isakan tangis, "Sudahlah, jangan menangis kau aman sekarang"ujarku membalas pelukanku.
"Kau bisa berjalan?"tanyaku, dia mengangguk, aku lihat dia berjalan sedikit terseok-seok, aku menarika lengannya dan mengalungkannya di leherku, ada baiknya jik aku berjaln dengan memapah dirinya. "Sebaiknya kita cari penginapan dahulu di sini, dan besok pagi kau baru melanjutkan perjalananmu ke konoha"ujarku, dia hanya mengangguk.
Kami memesan kamar di penginapan pinggiran desa, ku lihat dia masih menangis dan mengatakan dirinya kotor, aku mendekatinya, pasti saat ini hatinya terluka, ku kecup pucuk kepalanya. "Bagiku kau tidak kotor"ujarku dengan penuh kesungguhan.
Dia menatapkku dn menggenggam tanganku. "Berapa lama lagi gerhana bulan terjadi?"tanyanya. "Sekitar satu jam lagi" jawabku."Bisakah selama satu jam ini kau bersamaku?"pintanya.
"Tentu bisa, ada apa Chima?"tanyaku, "Toneri, tolong aku, hapuskan tanda yang di buat pria-pria tadi"ujarnya sembari mengeluarkan air mata, "Maksudmu?"tanyaku, "Tiduri aku Toneri, berikan aku tandamu, aku ingin mengganti kenangan menyakitkan tadi, aku mohon"ujarnya. "Kau yakin Chima?"tanyaku memastikan ucapannya. "Aku yakin" ujarnya kemudian mengecup bibirku.
Kecupan itu berubah menjadi lumatan, aku merebahkan dirinya di futon, dan melepaskan yukatanya, dia juga membantu membuka pakaianku, kami sudah sama-sama polos, aku mengecup lehernya dan terus turun ke payudaranya, tampak bekas kemerahan di sana, aku mengecup dan mengulum payudaranya lembut, akan ku ganti bekas itu dengan punyaku.
Tanganku mengelus kemaluannya, dia mengerang, aku menggenggam tangannya dan membawanya ke milikku, dia tampak terkejut. "Ada apa?"tanyaku, ketika dia melepaskan milikku dari tangannya, "Aku merasa aneh, dahulu aku memiliki itu, sekarang aku memegang punyamu"ujarnya, aku tertawa, ku ambil lagi tangannya dan ku letakkan di milikku, "puaskan aku"ujarku.
Ini terasa aneh Toneri menuntun tanganku ke miliknya dan minta di puaskan, aku memegang punyanya, tak ku sangka punyanya lebih besar daripada punyaku dahulu, pantas saja kemaluanku sakit saat pertama dia memasukiku.
Dengan tangan bergetar aku mencoba memuaskannya, aku mengelus-elus miliknya, sedangkan Toneri masih setia memberikan tanda di payudaraku, aku sedikit malu, payudaraku tidak seberapa besar dengan wanita dewasa lainnya, apalagi tidak sebesar punya Tsunade.
Kemaluanku terasa basah karena perlakuan Toneri, milik Toneri juga sudah mengeluarkan cairannya karena sentuhanku. "Kau siap Chima?"tanyanya, aku mengangguk, kemudian Toneri memasukiku. Dan menyiramkan spermanya ke rahimku.
"Sakit"ujarku, selain sakit di kemaluanku, perutku juga terasa sakit, "Kau kenapa Chima?"tanya Toneri menghentikan memasukiku. Aku terduduk, perutku terasa sakit, aku melingkarkan tangan ke perutku. "Apa aku menyakitimu?" tanya Toneri, aku menggeleng, aku merasa aneh, sudah dua kali perutku keram seperti ini.
"Sebaiknya kita hentikan, kau beristirahatlah"ujarnya mengecup dahiku dan merebahkanku ke futon serta menyelimutiku. "Terimakasih"ucapku kepadanya sebelum aku terlelap.
*** Bersambung***
Terimakasih bagi yang sudi membaca fanfic absurd ini, bagi yang suka silahkan fav dan review yang baik ya, terimakasih
