Chapter 8 - Janin yang Kuat

Kali ini saya kembali membawa tema fanfic naruto, om masashi kishimoto pinjam karakternya ya, silahkan baca bagi yang suka orochimaru/chimaxtoneri bagi yang tidak suka, tidak usah membaca, maaf melenceng dari cerita sesungguhnya, namanya juga fiksi penggemar, ya sesuai khayalan saya. Peringatan ada vulgarnya di harap sudah dewasa jika ingin membaca cerita ini, terimakasih.

"Janin?"seru Karin dan Juugo serta Suigetsu yang baru masuk, tak lama akutersadar dari pingsanku. "Apa yang terjadi padaku?"tanyaku, "Katakan benih siapa yang tumbuh di rahim anda Nyonya? apa yang terjadi padamu?"tanya Kabuto.

"Maksudmu aku hamil?"tanyaku, Kabuto mengangguk, "Ya menurut pemeriksaan, anda tengah mengandung enam minggu"ujar Kabuto, aku terkejut bukan main, aku dan Toneri hanya melakukannya dua kali, dan benih pria bulan itu tumbuh di rahimku, usia janin ini sudah enam minggu berarti janin ini tercipta saat malam festival bulan, aku tidak bisa menerima ini.

"Nyonya... benih siapa?, mangapa bisa terjadi dengan anda?"tanya Kabuto menyelidik, "Kau tidak perlu tahu"ujarku. "Bagaimana selanjutnya Nyonya?apakah anda akan bertahan di tubuh wanita ini atau anda akan memakai tubuh pria? Selama anda pergi , aku berhasil mempercepat pertumbuhan tubuh anda yang baru, dua bulan lagi tubuh anda baru anda siap"ujar Kabuto.

"Bisakah kau membuat obat penggugur kandungan?aku tidak mau janin ini"ujarku mantap. "Baik Nyonya, beri aku waktu tiga hari untuk menyiapkan obat itu"ujar Kabuto lagi.

Kamisama, masalah apa lagi ini, mengapa di saat-saat seerti ini aku mengandung, ini tida boleh terjadi, cukup sudah kebodohanku melakukan seks dengan Toneri, jangan di tambahkan lagi kata mengandung apalagi melahirkan, sungguh ku tidak mau, ku akan menjadi pria kembali, begitulah tekadku.

"Tok..Tok..Tok..."suara ketukan membuyarkan lamunanku, "Nyonya, aakah anda baik saja?"tanya Karin mendekatiku, semenjak aku menjadi wnita, anak itu menjadi akrab denganku.

"Ya aku tidak apa"ujarku padanya, "Namun Nyonya tampak pucat, apakah Nyonya sudah makan?"tanyanya lagi. "Sudah Karin, tapi aku memuntahkannya lagi"ujarku. "Apakah Nyonya benar-benar akan membunuh janin ini?"tanyanya. Membunuh?kata itu terngiang di kepalaku, tidak aku tidak membunuh, bukankah jika masih berusia enam minggu dia belum mempunyai nyawa. "Ya Karin aku harus melakukannya, aku ingin kembali menjadi pria"ujarku.

"Sejujurnya aku menyukai anda menjadi wanita , ku merasa tidak kesepian karena menganggap anda sebagai kakak perempuan yang tak ku punya, aku cukup menikmati kebersamaan kita bermandi di onsen, dan berbelanja baju, serta mengajarimu memakai bra maupun pembalut, atau menyanggul rambutmu yang panjang"ujar Karin menangis. "Untuk sementara ini sebelum aku menjadi pria kembali, kau boleh menganggapku kakak perempuanmu Karin, aku juga senang memiliki adik sepertimu"ujarku. Karin tersenyum dan memelukku.

Tiga hari berlalu, Kabuto berhasil membuat obat penggugur kandungan, "Anda yakin akan meminum obat ini?"tanya Kabuto, aku mengangguk dan menenggak minuman itu hingga habis. Satu jam setelah meminum obat itu, tidak ada reaksi yang terjadi di tubuhku, baik itu rasa mulas atau perdarahan.

"Kabuto mengapa obat itu belum bekerja? apakah janin ini masih ada di perutku?"tanyaku. Kabuto menempelkn alat lagi dan tampaklah gumpalan hitam kecil yang masih berada di rahimku. "Janin anda kuat sekali Nyonya, sepertinya cakra bayi itu melindunginya dari pengaruh obat tersebut"ujar Kabuto.

Tentu saja janin ini kuat karena benih otsutsuki penguasa bulan yng berada di rahimku. "Jadi aku harus apa? aku ingin kembali menjadi pria"ujar ku frustasi. "Bagaimana janin itu kita angkat dengan cara di operasi"ujar Kabuto.

"Apa kau bisa melakukannya?"tanyaku."Berikan aku waktu dua bulan untuk mempelajari teknik pengangakatan janin , lagi pula kita tidak mempunyai alat yang mendukung, aku harus ke otogakure untuk mempelajari teknik operasi tersebut"ujar Kabuto.

"Dua bulan? Apa tidak begitu lama?"tanyaku. "Itu sudah prediksi tercepatku Nyonya, setelah janin itu keluar kelak, aku akan mempersiapkan tubuh baru mu sehingga kau terbebas dari tubuh wanita ini"ujar Kabuto. Aku mengangguk, menyetujui perkataannya.

"Ibu, aku berhasil menguasai jutsu ini, lihatlah"ujar seorng anak kecil berambut putih kebiruan dan bermata seperti ku, dia menujukkan ular putih di tangannya, jutsu yang sama denganku. "Pintar sekali"pujiku keadanya, dan mengendongnya. "Ibu, kapan ayah mengunjungi kita? kata ibu ayah berada di sana"ujar anak itu lagi menunjuk bulan yang bersinar. "Bersabarlah, jika kau rajin belajar, pada gerhana bulan kelak ayahmu akan datang menemui kita"ujarku. "Benarkah itu Ibu?"ujarnya bahagia dan memeluk erat tubuh.

Hah..Hah..Hah.. Mimpi apa itu barusan, mengapa terasa begitu nyata. Anak itu sngat mirip dirinya dan bermata sepertiku, apakah itu anakku yang ku kandung ini?, tidak, aku harus segera mengugurkan janin ini, sebelum semunya terlambat.

Dua bulan berlalu Kabuto berhasil mempelajari teknik pengankatan janin, saat ini aku bersiap di meja operasi laboratoriumku untuk mengangkat janin ini. "Untuk yang terkhir kali anda yakin?"tanya Kabuto. "Ya aku yakin"ujarku mantap.

Kabuto menyuntikkan cairan penhilng rasa nyeri di punggungku, agar perut dan bagian bawah tidak sakit, saat Kabuto mengangkat janin ini. Berbagai peralatan di tempelkan di dada dan perutku, sehingga tampak bayangan janin kecil yang mulai membesar sejak terakhir kulihat. Janin itu mulai berbentuk manusia walau masih berbentuk aneh.

Kabuto menyiapkan alat berupa besi yang akan masuk ke rahimku dan mengambil janin itu. Aku mengamati gerakan janinku di monitor, air mataku mengalir, adakah Ibu yang menbunuh darah daginngnya sendiri karena keegoisan dirinya, ujarku dalam hati.

Tepat sebelum Kabuto memasukkan alat itu di rahimku, terdengar suara detakkan yang lemah, detakkan jantung seorang janin, di monitor tampak janinku berdetak dengan dadanya yang mengembang kempis. Kamisama anakku berdetak dia mengalir deras.

"Anda masih ingin melanjutkan ini?"tanya kabuto di balik maskernya, aku menggeleng, aku tidak sanggup membunuh janinku "yang telah bernyawa tersebut. "Tidak, biarkan dia hidup"ujarku disela isak tangisku, aku mengelus perlahan perutku yang sedikit membesar ,anakku maafkan ibumu yang egois ini.

*** Bersambung***

Terimakasih bagi yang sudi membaca fanfic absurd ini, bagi yang suka silahkan fav dan Review yang baik ya, terimakasih