Chapter 9 - Kembali ke Otogakure
Kali ini saya kembali membawa tema fanfic naruto, om masashi kishimoto pinjam karakternya ya, silahkan baca bagi yang suka orochimaru/chimaxtoneri bagi yang tidak suka, tidak usah membaca, maaf melenceng dari cerita sesungguhnya, namanya juga fiksi penggemar, ya sesuai khayalan saya. Peringatan ada vulgarnya di harap sudah dewasa jika ingin membaca cerita ini, terimakasih.
Tepat sebelum Kabuto memasukkan alat itu di rahimku, terdengar suara detakkan yang lemah, detakkan jantung seorang janin, di monitor tampak janinku berdetak dengan dadanya yang mengembang kempis. Kamisama anakku berdetak dia mengalir deras.
"Anda masih ingin melanjutkan ini?"tanya kabuto di balik maskernya, aku menggeleng, aku tidak sanggup membunuh janinku "yang telah bernyawa tersebut. "Tidak, biarkan dia hidup"ujarku disela isak tangisku, aku mengelus perlahan perutku yang sedikit membesar ,anakku maafkan ibumu yang egois ini.
Ibu? apakah pantas aku di panggil ibu jika aku tadi berniat membunuh anakku sendiri?. Aku memandang bulan dari jendela kamarku. "Toneri apakah kau merasakan kehadirannya?, ada bayimu di sini, di rahimku"ujarku seraya mengelus perutku sendiri.
"Nyonya bagaimana langkah anda selanjutnya?"tanya Kabuto, saat ini kami berkumpul untuk membahas rencanaku selanjutnya. "Aku rasa aku akan terus di tubuh wanita seperti ini sampai aku melahirkan kelak"ujarku, "Maksud anda, anda mempertahankan bayi itu?"tanya Karin, tampak Juugo dan Suigetsu terkejut.
"Benar, aku akan bertahan setidaknya hingga dia lahir kelak, setelahnya aku tetap akan kembali menjadi pria"ujarku. "Apakah benar keputusan anda demikian?"tanya Kabuto meyakinkan, aku mengangguk.
"Sebaiknya, hingga saat aku melahirkan kelak, kita kembali ke otogakure, bagaimanapun di sana desa buatanku, dan laboratoriumnya lebih besar, dari pada di pinggir konoha ini, aku butuh ketenangan"ujarku, mereka mengangguk setuju.
Dan di sinilah aku, kembali ke laboratorium lamaku di otogakure, aku membersihkan kamarku yang sudah lama ku tinggalkan, bnyak kenangan buruk di sini, di kamar inilah sasuke mencoba membunuhku. Kejadian yang sudah sangat lama.
"Apakah Nyonya butuh bantuan?"tanya Karin di depan pintu kamarku. Aku tersenyum "Jika kau tak keberatan, bisa kau membantuku meletakkan barang-barang ini?"tanyaku, Karin mengangguk dan membantuku .
"Apakah mengandung itu menyakitkan Nyonya?"tanya Karin di sela membantuku membersihkan kamar, "Tidak"jawabku, penderitaan lebih dari mengandung pernah ku jalani jadi ku pikir mengandung tidak seberat itu.
"Siapakah pria yang berani menyentuhmu Nyonya?"tanya Karin lagi. Aku meletakkan yukata terakhirku di lemari dan duduk di atas ranjang, "Seorang pria yang tak sengaja bertemu denganku di festival bulan"jawabku. "Apakah pria itu memaksamu melakukannya Nyonya?"tanyanya lagi, "Tidak" tentu tidak karena kami saat itu mabuk, wajar saja terjadi kesalahan ,terlebih dia memandangku sebagai seorang wanita.
"Apakah anda menyukainya?"tanya Karin, "Menyukai?"tanyaku balik, "Iya, mencintai"ujarnya. "Tidak, aku tidak mencintainya" jawabku, namun di relung hatiku berkata maksudku aku belum mencintainya, entahlah masa-masa di bulan lalu benar-benar memberikan kenangan tersendiri di hatiku, bagaimana dia memperhatikanku, terlebih perlakuannya menyelamatkan ku saat di amegakure.
"Dia spesial bagiku"ujarku, "Ku rasa benar itu, pria itu pasti sangat spesial di hati anda, hingga anda mau mempertahankan bayinya"ujar Karin, aku hanya tersenyum. Entahlah perasaanku padanya bagaimana, aku harap aku tidak mempunyai perasaan lebih, itu tidak boleh, karena aku akan menjadi pria kembali, tidak mungkin aku menyukai sesama pria.
Saat ini usia kandunganku sudah mencapai enam bulan, tubuhku begitu kurus berbanding terbalik dengan perutku yang membesar. Bayi ini berasal dari pria yang memiliki cakra besar, lebih besar dari punyaku maka wajar saja dia menyerap cakraku, terlebih saat ini dia sedang aktif-aktifnya menendang di rahimku.
"Duk..."tendangan kecil itu kembal aku rasakan, aku mengelus perutku, "Sehat-sehat ya nak, hingga saatnya kau lahir kelak"ujarku. Aku benci mempunyai perasaan wanita seperti ini, aku menangis tanpa sebab, ini pasti hormon kehamilan.
"Duk"kembali tendangan ku rasakan, tendangan itu sama sekali tidak menyakitkan namun justru menghangatkan hatiku. Aku kembali memandang bulan, "Toneri, hari ini anakmu menendang sangat aktif, bukan maksudku mengeluh, namun...hiks..."air mataku mengalir deras, sungguh hormon kehamilan begitu menyiksaku, aku menjadi melankolis seperti ini, " namun... Aku.. Aku rasa ,aku merindukanmu"ujarku menatap bulan yang bersinar sedikit redup malam ini.
Aku membuka lemari dan mengambil pakaian Toneri yang pernah kupakai saat di amegakure, ku hirup baju itu, masih menyisakan aroma Toneri, ku peluk baju itu di ranjangju, seakan-akan ada Toneri yang memelukku. Tendangan di perutku mulai mereda, "Apakah kau merindukan Ayahmu? Ibu juga nak, Ibu bahkan tak tahu caranya memberi tahukan pada Ayahmu, bahwa kau ada di rahim Ibu"ujarku.
*** Bersambung***
Terimakasih bagi yang sudi membaca fanfic absurd ini, bagi yang suka silahkan Fav dan Review yang baik ya, terimakasih
