Chapter 11 - Penantian Seorang Ibu

Kali ini saya kembali membawa tema fanfic naruto, om masashi kishimoto pinjam karakternya ya, silahkan baca bagi yang suka orochimaru/chimaxtoneri bagi yang tidak suka, tidak usah membaca, maaf melenceng dari cerita sesungguhnya, namanya juga fiksi penggemar, ya sesuai khayalan saya. Peringatan ada vulgarnya di harap sudah dewasa jika ingin membaca cerita ini, terimakasih.

Semenjak kandunganku nyaris keguguran, keadaanku semakin menburuk, setiap hari aku harus memfokuskan cakraku ke perut, agar kandunganku bertahan. Semua ku lakukan agar anakku selamat.

"Nyonya, anda bisa menghisap cakraku"ujar Karin menawarkan diri, aku menolak, gadis itu pasti juga lelah karena dua hari lalu aku menghisap cakranya berlebihan. "Tidak usah Karin, terimakasih, aku bisa menjaga diriku sendiri"ujarku.

"Nyonya... anda sungguh berubah"ujar Karin menangis memelukku. "Anda begitu baik hati sekarang"ujarnya lagi. "Aku mengelus puncak rambutnya, semua orang bisa berubah, aku salah dahulu berbuat jahat, maafkan perlakuanku kepada kalian dahulu"ujarku. Karin tersenyum.

"Nyonya minumlah ramuan ini dahulu"ujar Kabuto memberikan ramuan penguat kandungan. "Terimakasih"ucapku lemah. "Nyonya tidakkah ini menyiksa diri anda, jika anda tetap mempertahankan bayi itu?"tanya Kabuto, "Tidak, aku tidak merasa tersiksa"ujarku, "Tidak mungkin Nyonya, ini sudah sebulan anda setiap harinya meminum ramuan penguat kandungan dan selalu memusatkan cakra ke rahim anda, sehingga cakra anda terkuras habis untuk bayi itu"ujar Kabuto, "Ini membahayakan nyawa anda, aku tidak bisa membangkitkan nyawa anda lagi jika anda meninggal karena mempertaruhkan kehidupan untuk bayi itu"ujar Kabuto.

"Tidak apa Kabuto, mungkin ini saat nya aku pergi, aku sudah beberapa kali mencurangi kematian , jika memang sudah takdirku dari Kamisama untuk mati, aku akn menerimanya, setidaknya hingga saat bayi ini terlahir kelak"ujarku tegas.

"Tuan Orochimaru, anda berubah, apakah tubuh wanita ini begitu mempengaruhi diri anda?"tanya Kabuto, mata Kabuto berkaca-kaca dan mulai menangis. "Entahlah Kabuto, aku merasa menjadi lebih baik selama aku menjadi wanita, Orochimaru, aku sudah lama tidak mendengar nama itu, aku lebih senang jika di panggil Chima saat ini"ujarku tersenyum. "Aku senang dengan perubahan anda"ujarnya. "Ya aku juga senang dengan perubahan ini, hidupku terasa lebih tenang"ujarku.

"Kabuto jadilah orang yang lebih baik dariku"ujarku, Kabuto mengangguk. "Kabuto, jika sesuatu terjadi ketika aku melahirkan kelak, tolong jaga anak ini, anak ini akan memiliki kekuatan yang besar karena dirinya berasal dari genku dan gen ayahnya yang kuat"ujarku. "Nyonya Chima, bolehkah aku tahu siapa pria yang menanam benih di rahimmu?"tanya Kabuto.

Aku mengajak kabuto memandang bulan yang tampak berbentuk sabit, "Kau ingat aku pernah mengatakan aku pergi ke bulan bukan?"tanyaku, Kabuto mengangguk, "Pria Otsustsuki penjaga bulanlah ayah anak yang kukandung ini"ujarku. "Maksud Nyonya? Toneri Otsutsuki, pria dari bulan yang beberapa tahun lalu berusaha menghancurkan bumi?"serunya terkejut. "Benar"ujarku. "Nyonya, bagaimana itu bisa terjadi?"tanyanya, "Cukuplah itu menjadi rahasia di antaraku dengannya"ujarku. "Apakah anda menaruh hati dengan pria itu?"tanya Kabuto. "Entahlah, tapi aku nyaman dengannya"ujarku.

"Apakah pria itu tahu bahwa anda tengah mengandung anaknya?"tanya Kabuto lagi, aku menggeleng, "Aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan dia"ujarku. Bagaimanapun jarak bumi dan bulan itu sangat jauh, dan hanya dialah sang otsutsuki yang dapat berteleport ke bumi. "Biarlah , suatu saat kelak dia pasti akan mengetahui bahwa dia memiliki anak"ujarku tersenyum

Dua minggu lagi aku melahirkan, perutku sudah sangat besar, siang itu aku menyusun perlengkapan bayi di lemari kecil, lemari yang di buatkan Juugo dan Suigetsu, ternyata mereka peduli juga dengan bayi ini. "Nyonya, lihatlah kami membuatkan tempat tidur untuk si bayi"ujar Suigetsu mendorong tempat tidur kecil berwarna biru yang terbuat dari kayu ke kamarku. "Suigetsu kau terlalu cepat membawa tempat tidur itu ke sini , padahal belum ku berikan mainan ini di atasnya"ujar Juugo , meletakkan mainan berbentuk bulatan dengan berbagai ukiran bentuk hewan di sana.

"Terimakasih Juugo, Suigetsu" ujarku terharu. "Sama-sama Nyonya, kami senang akan memiliki adik bayi"ujar Juugo. "Benar, kami senang, walaupun kelak bayi itu akan merepotkan kami semua dengan tangisannya di malam hari, dan bau buang air besarnya"ujar Suigetsu, Juugo menjitak kepala Suigetsu, "Sakit"ujar Suigetsu memegang kepalanya.

"Hei kalian meninggalkanku"ujar Karin berlari ke kamarku, "Bayi itu kelak harus memakai selimut dariku ini, selimut ini sangat nyaman"ujar Karin memberikan bingkisan plastik yang berisi selimut berwarna biru muda.

"Terimakasih kalian semua"ujarku terharu, aku memeluk mereka semua, "Tuan Orochimaru eh maksudku Nyonya Chima anda memelukku sangat erat"ujar Suigetsu protes. Aku melepas pelukan pada mereka, dan mereka tertawa. Sungguh kehidupan tenang dan hangat seperti ini sangat aku impikan sejak dahulu.

Tiba-tiba saja perutku terasa mulas, sangat mulas, "Anda kenapa Nyonya?"tanya Karin memperhatikanku yang tiba-tiba terdiam. "Perutku mulas"ujarku, "Apakah anda akan melahirkan?"tanyanya. Juugo dan Suigetsu tampak panik mereka menggendongku ke ruangan Kabuto.

"Kabuto, Nyonya Chima akan melahirkan"ujar Juugo, berteriak di depan pintu ruangan Kabuto. Kabuto terkejut, "Bagaimana mungkin, menurut perhitunganku masih dua minggu lagi"ujarnya, "Entahlah tapi perut Nyonya Chima terasa mulas"ujar Karin.

Juugo dan Suigetsu membaringkanku di ranjang, mereka berbagi tugas, Karin menyiapkan air hangat untukku, Juugo mengambil pakaian bayi untuk bayi ini. Sedangkan Suigetsu hanya mondar-mandir tidak jelas.

"Nyonya Chima apakah anda merasa mulas yang terus-terusan?"tanya Kabuto, aku mengangguk, perutku terus merasa mulas dan keram, bayi ini menendang- nendang hebat, aku merasa dirinya berputar di perutku, ku rasa dia mencari jalan merasakan mulas hingga tengah malam, bayi ini belum juga di lahirkan.

Bayi ini benar-benar menyerap cakraku, sehingga aku tidak mempunyai tenaga. Sehingga berkali-kali aku kehilangan kesadaran, Karin mengalirkan cakranya untukku namun tidak cukup, hingga aku kembali tak sadarkan diri, "Nyonya bertahanlah"ujarnya. "Bertahanlah demi anakmu"ujarnya lagi, dengan sisa tenaga aku terbangun,hingga aku rasakan ada air yang mengalir dari kemaluanku.

"Nyonya, ketubannya telah pecah, mengejanlah perlahan Nyonya, bayi anda akan segera lahir"ujar Kabuto, aku mengejan perlahan, keringat membasahi dahiku. "Kepalanya telah terlihat Nyonya, ya sedikit lagi"ujar Kabuto lagi, aku mengejan lagi, ku rasakan sesuatu keluar dari rahimku.

"Oek.. oek..."suara tangis bayi memecahkan keheningan, hatiku lega anakku telah lahir. "Lelaki, anak anda lelaki Nyonya"ujar Kabuto, aku tersenyum dan mendekap tubuh anakku. "Selamat datang anakku"ujarku mengecup dahinya, "Toneri, anakmu telah lahir"ujarku lagi lemah,

kemudian aku memejamkan mata, tubuhku begitu lemas, aku rela jika Kamisama akan mengambil nyawaku.

"Nyonya..."teriak panik Karin, Suigetsu, Juugo dan Kabuto diiringi oleh jerit tangis bayi.

*** Bersambung***

Terimakasih bagi yang sudi membaca fanfic absurd ini, bagi yang suka silahkan Fav dan Review yang baik ya, terimakasih