Chapter 12 - Mitsuki Putra Bulan (End)
Kali ini saya kembali membawa tema fanfic naruto, om masashi kishimoto pinjam karakternya ya, silahkan baca bagi yang suka orochimaru/chimaxtoneri bagi yang tidak suka, tidak usah membaca, maaf melenceng dari cerita sesungguhnya, namanya juga fiksi penggemar, ya sesuai khayalan saya. Peringatan ada vulgarnya di harap sudah dewasa jika ingin membaca cerita ini, terimakasih.
Sudah hampir delapan bulan aku tidak bertemu dengannya, apakah dia telah menjadi pria kembali atau tetap menjadi wanita. Sesungguhnya aku ingin bertemu dengannya, tapi aku takut kecewa jika bertemunya kelak, bagaimana jika yang ku temui Chima yang telah kembali menjadi Orochimaru.
Jika dia telah menjadi pria kembali, tentu tidak bisa aku berhubungan dengannya, ya walauoun dia menganggapku teman, namun hatiku pasti mengelaknya, karena aku merasa mencintai Chima, wanita yang hadir di dalam hidup, wanita pertama yang ku sentuh, wanita yang memporak-porandakan hatiku.
Ku amati bumi dari kejauhan, akhirnya setelah beberapa bulan ini, terjadi juga gerhana bulan di suatu desa tersembunyi, desa otogakure. Ada suatu rasa yang menarikku untuk berkunjung ke bumi malam ini, walau ku tahu aku tak akan bertemu Chima di desa itu, karena desanya terletak di konoha dan itu jauh dari otogakure.
Dan disinilah aku, tepatnya berada di hutan otogakure, hutan ini gelap dan di tutupi salju, untuk pertama kalinya aku merasakan salju. Angin bertiup lembut di selingi salju yang turun perlahan, kurasakan salju meleleh di tanganku, dingin dan menyejukkan.
Aku berjalan perlahan menyusuri hutan ini, tampak beberapa rusa dan tupai yang berlarian masuk ke sarangnya. Kakiku tak sengaja menginjak sesuatu, aku lihat apa yang ku injak tersebut, ternyata sebatang bunga mawar putih, mawar ini mengingatkanku akan aroma Chima, aroma yang ku hirup dalam ketika pertama kali aku menyentuhnya.
Ku ambil batang mawar yang telah rusak karena injakkanku tadi, aku menggali tanah dan menanam kembali bunga mawar putih tersebut serta ku berikan sedikit cakra, agar mawar itu dapat tumbuh selama musim salju. "Bertahanlah bunga cantik, bertahanlah hingga musim dingin berakhir, ku yakin kau kuat"ujarku kepada bunga mawar putih yang telah ku berikan cakra itu.
Aku menyusuri kembali hutan ini, ku lihat sungai-sungainya yang telah membeku. Aku menghirup dalam udara sekitar, udara yang begitu sejuk. Selain itu aku dapat merasakan cakra di sekitar diriku, entah itu cakra penduduk sekitar maupun cakra monster bijuu. "Deg" perasaan macam apa ini?, hatiku terasa seperti di remas, aku merasakan suatu cakra yang khas, cakra yang besar dengan ciri khas cakra keterununan seorang Otsutsuki.
Dengan hati bergetar aku mengikuti asala cakra ini, di kepalaku berputar semua kemungkinan, apa yang terjadi, bagaimana mungkin di bumi ada seorang Otsutsuki, dia adalah Otsutsuki terakhir yang berada di dunia.
TenseIgan dia aktifkan untuk mendeteksi asal cakra, dapat, cakra itu berasal dari suatu tempat di balik hutan ini, tepatnya di pinggiran desa. Aku berlari, secepat yang ku bisa, gedung itu tanpa penjagaan, ku mendeteksi ada enam cakra di tempat itu, satu di ntaranya cakra yang sangat aku kenal, namun cakra itu sangat lemah nyaris tak tersisa, sedangkan satu lagi cakra yang sangat besar, cakra yng sama dengan yang ku punya.
"Brak" aku membuka pintu ruangan yang ku anggap asal cakra itu berasal. Tampak empat orang mengelilingi ranjng yang berisi satu orang wanita dan seorang bayi. Tunggu itu adalah Chima, ya dia adalah Chima, wanitaku ,wanita yang telah ku sentuh.
"Apa yang terjadi "tanyaku, mereka yang melihatku tampak terkejut. "Siapa ku , mengapa ku masuk ke markas kami?"tanya gadis berambut merah itu. "Aku Toneri Otsutsuki"ujarku, aku mendekati tubuh Chima , tubuh itu begitu pucat, lebih pucat dari biasanya. Aku meraba nadi Chima, nyaris tak teraba.
"Benarkah kau Toneri Otsutsuki, pria yang berasal dari bulan?"tanya pria yang berambut abu dan memakai kacamat itu."Benar, apa yang terjadi padanya"tanyaku menggenggam tangan Chima, "Nyonya Chima baru saja melahirkan, dia mempertaruhkan nayawanya untuk bayi ini"ujar wanita berambut merah itu dengan tersedu-sedu.
Aku melihat bayi yang menggeliat di samping Chima, bayi itu sungguh mirip denganku, "Apakah dia anakku?"tanyaku, "Benar tuan, jika kau pria bulan itu maka kau adalah ayah dari bayi ini"ujar pria berkacamata itu lagi.
Hatiku menghangat, aku memiliki anak, telebih aku memiliki anak dengan Chima, wanita yang telah mengisi hatiku. Ku kecup dahi Chima, tubuhnya begitu dingin,detak jantungnya nyaris tidak terasa, cakranya mulai menipis, segera aku mentransfer cakraku padanya berharap tubuhnya kembali menghangat.
Bayi yang berada di sampingnya menangis kencang, tubuh Chima menegang karena menerima cakraku, sedikit demi sedikit aku kembali merasakan detak jantung Chima , tubuhnya juga mulai menghangat, perlahan mata Chima mukai terbuka, "Anakku..."itu kalimat pertama yang berhasil keluar dari mulutnya.
Wanita berambut merah itu memberikan bayi itu ke dekapan Chima, Chima mendekap bayi itu, bayi yang semula menangis kencang, perlahan mulai tenang. "Cup..cup.. cup.. Ibu berada di sini nak"ujarnya.
Air mataku mengalir keluar meluhat pemandangan itu, aju menjadi seorang ayah, tidk ku sangka hal ini akan terjadi, kesalahn semalam yang ju oerbuat bersamanya menghasilkan bayi lucu seperti itu.
"Toneri kau kah itu?"ujarnya lemah, aku menghampiri dirinya dan mengecup singkat bibirnya, "Ya sayang ini diriku"ujarku, sebelah tangan Chima menarikku, aku memeluknya, "terimakasih telah melahirkannya"ujarku lagi, Chima menangis, "Apakah aku mimpi kau berada disini"ujarnya, aku menghapus air mata Chima, "Tidak sayang aku sungguh berada di sini bersamamu"ujarku.
"Aku merindukanmu"ujarnya, "Aku merindukanmu juga"ujarku kemudian mengecup bibirnya, bibir pucat yang selalu menjadi canduku. Gadis berambut merah , dan pria berambut putih dengan gigi hiu itu tampak menangis.
"Sebaiknya kita berikan privasi kepada keluarga kecil ini, ayo Karin, Juugo, Suigetsu kita keluar"ucap pria berkacamata itu, meninggalkan kami.
Aku duduk di samping Chima, dia masih mendekap bayi mungil kami, "Maafkan aku baru mengetahui keadaanmu"ujarku, Chima tersenyum, "Kau tidak bersalah Toneri, aku yang menyembunyikan kehamilan ini, lagi pula aku tidak bisa mengabarimu"ujarnya.
Aku kembali mengecup dahi Chima, "Aku terlalu takut kembali ke bumi, aku takut jika kau kembali menjadi pria, aku takut patah hati jika bertemu denganmu lagi"ujarku. Chima tersenyum, "Awalnya aku ingin menjadi pria kembali, namun aku rasa ini sudahlah takdir dari kamisama, mungkin ini kehidupan baru yang kamisama gariskan untukku, jika aku tidak menjadi wanita, belum tentu akj akan bertemu denganmu, dan memiliki seorang putra seperti ini"ujarnya.
"Jadi kau..."ujarku, "Ya aku memutuskan menjadi wanita, anak ini menbutuhkan figur Ibu, aku tidak mungkin menjadi ayah baginya, karena kau adalah ayahnya, dan aku ibunya, selamanya akn menjadi seperti itu"ujarnya lagi, "Oh Chima ..aku mencintaimu."ujarku terharu dan mengecup mesra bibirnya, "Aku juga mencintaimu Toneri, sekeras apapun aku menyangkal perasaan ini, hatiku telah terikat padamu, apa kau mau menerima diriku yang dahulunya adalah pria" tanyanya.
"Aku mencintaimu dengan wujudmu sekarang, aku tak mempersalahkan masa lalu mu, yang terpenting sekarang, adalah kita dan masa depan anak kita" jawabku dan kembali mengecup bibirnya, ciuman itu awalnya biasa saja, nmun aju terlku terbawa suasana dan melumat mukutnya, hingga ku lidahku mengabsen setiap bagian mukutnya "oek .oek..."suara tangis menghentikan kegiatan kami, aku melepas ciuman itu, tali skiva terjalin di antara mulut kami, wajah kami memerah, mungkin ini yang di namakan hasrat kerinduan.
"Sepertinya dia lapar"ujar Chima, dia menbuka yukatanya, dn terlihatlah payudara yang sudah lama tak kulihat itu, ukurannya membesar, mungkin karena terisi oleh ASI, aku membantu Chima meletakkan puting payudaranya ke mulut anakku. Tampak anakku melahapnya dengan sedikit rakus, mungkin dia sudah Chima tampak menahan sakit karena anakku terlalu menyedot ASI nya.
"Tampaknya dia sangat rakus, hingga kau kesakitan seperti itu"ujarku, "Tidak seberapa, kau tahu, kau itu lebih rakus lagi daripada anak ini, ketika kau melumat payudaraku"ujar Chima yang membuat diriku malu. Chima tertawa hingga memperlihatkan senyumnya yang manis itu.
Aku memandang bulan, Toneri telah kembali ke asalnya, pria itu memberikan nama bayi ini Mitsuki, Mi berasal dari kata ular seperti kekuatanku, dan Tsuki yang berarti bulan, di mana Toneri berada, di mana Klan Otsutsuki berasal, dan terutama di bulanlah tempat kami membuat Mitsuki.
"Nah Mitsuki sayang, kami akan selalu mencintaimu, Ibu akan selalu berada di sampingmu apapun yang terjadi, terimalah Ibumu ini apa adanya, walaupun orang-orang kelak akan memandangmu aneh karena mempunyai Ibu sepertiku, namun satu hal kau perlu tahu, Ibu selalu mencintaimu, begitu juga ayahmu, sang pria bulan"ujarku kepada Mitsuki dengan menghadapkannya ke bulan, seolah-olah aku menghadapkannya kepada ayahnya.
"Nah nak , jika kau rindu ayahmu maka pandanglah bulan, kau tidak boleh iri dengan teman-temanmu kelak jika mereka selalu bersama ayahnya, kau harus membesarkan hatimu, karena hanya setiap gerhana bulanlah ayahmu akan mengunjungi kita"ucapku lagi kepadanya, Mitsuki tersenyum seolah-olah mengerti apa yang sedang ku bicarakan.
Kamisama terimakasih atas semua yang kau berikan padaku, terimakasih atas kehidupan kedua yang kau berikan padaku. Aku bersyukur menjadi wanita, karena ini, aku memiliki anak seperti Mitsuki, dan karena ini aku memiliki perasaan cinta dan dicintai.
*** Tamat***
Terimakasih bagi yang sudi membaca fanfic absurd ini, bagi yang suka silahkan Fav dan Review yang baik ya, terimakasih bagi yang dari awal mengikuti fic gaje ini, author update sesuka hati, sudah kebiasaan, maaf bagibyang review banyakin word, sudah kelanjur buat secuil seperti ini hehe... Tunggu Epilog dari ff ini ya~ entah kapan author buat, mungkin sekarang atau lusa atau beberapa gerhana bulan lagi *plak boong
