KookV : Unexpected (feat YugJae)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Taehyung masih bergelung dengan nyaman kala sang adik, Youngjae membuka pintu kamarnya dengan sebuah kunci cadangan yang memang sengaja dia buat supaya bisa keluar masuk kamar kakaknya itu dengan mudah. Pria dengan pipi chubbynya itu berjalan mendekati ranjang milik kakaknya dengan maksud membangunkannya supaya mereka bisa olahraga pagi bersama. Memang benar jika cuaca dihari minggu pagi ini terlihat sangat cerah diluar sana.

"Hyung, bangunlah. Ini pagi hari yang tepat untuk berjalan-jalan ditaman."

Youngjae sedikit mengguncangkan tubuh kakaknya sambil menatapnya dengan antusias. Namun saat dilihatnya tidak ada pergerakan pasti bahwa kakaknya akan segera bangun, dia mengerucutkan bibirnya merasa kesal. Dia lupa bahwa Taehyung merupakan orang yang sangat sulit dibangunkan jika sudah tidur. Mencoba cara lain, Youngjae menepuk pipi Taehyung beberapa kali dari yang awalnya pelan hingga tidak dapat dikategorikan dengan pelan lagi mendengar suara yang dikeluarkan dari tepukan dari tangannya dipipi sang kakak itu. Tapi seakan tidak kehabisan akal, Youngjae mendekatkan bibirnya pada telinga Taehyung.

"Hyung, jika kau tidak bangun dengan cepat, aku akan menyalakan komputermu dan memainkan game yang selama ini kau bangga-banggakan itu."

Dan dengan itu, Taehyung langsung terduduk bangun dan menatap adiknya itu dengan mata membelalak terbuka. Seakan dirinya baru saja mendengar hal terhorror sepanjang sejarah hidupnya.

"No, you don't, Youngjae. Dont you ever."

"Kalau begitu bangunlah dan temani aku berjalan-jalan ditaman pagi ini. Aku tidak ingin menyia-nyiakan pagi yang cerah ini."

Memasang wajah memelas pada adiknya supaya dia bisa lolos dari permintaannya itu. Ayolah, ini hari minggu. Hari untuk bermalas-malasan. Mengapa menggunakannya untuk melakukan hal yang membuatmu berkeringat. Namun saat melihat sang adik yang menggeleng pasti, dia tahu bahwa dia sudah kalah. Sejujurnya dia tidak pernah bisa menolak permintaan adiknya yang satu ini.

"Baiklah, baiklah, kau menang. Tunggulah dibawah, aku akan menyusulmu."

"Kau tidak sedang membohongiku kan hyung?"

"Tentu saja tidak, Youngjae. Tunggu aku sebentar saja, okay?"

Pria berkulit putih pucat itupun mengangguk dan menuruti perkataan sang kakak dengan bangkit dan berjalan keluar dari kamar Taehyung untuk kemudian menunggunya dibawah. Melihat hal tersebut, Taehyung tersenyum senang dan berbaring kembali berencana untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda sebelum teriakan Youngjae yang mengatakan bahwa dia benar-benar akan melakukan hal yang dia katakan tadi jika Taehyung membohonginya itu membuatnya langsung bergegas kedalam kamar mandi untuk bersiap-siap.

.

.

.

.

.

"Astaga Youngjae, kau benar-benar merusak agenda hari mingguku yang menyenangkan."

Taehyung menggerutu sebal tepat disamping Youngjae yang sedang berlari kecil dengan senyum lebar senantiasa menghiasi wajah putihnya mengingat dirinya berhasil menyeret kakaknya untuk berolahraga bersama.

"Ayolah, hyung, agendamu dihari minggu selalu sama. Mendekam didalam kamar untuk tidur seharian. Kau butuh udara segar dipagi hari, kau tahu."

Pria dengan kulit yang sedikit lebih gelap dari Youngjae itu berdecak kesal mendengar jawaban dari sang adik sambil ikut berlari kecil seadanya disamping sang adik.

"Lebih baik kau menyeret Yoongi hyung keluar dari kamarnya karena dia benar-benar butuh sinar matahari, dia terlalu putih hingga aku ragu dia benar-benar manusia atau seorang vampire."

Mendengar gerutuan sang kakak, berhasil mengundang gelak tawa dari pemuda yang lebih pendek itu. Sungguh, suasana hatinya sedang sangat bagus hari ini. Dia hanya ingin menikmatinya.

"Tidak. Yoongi hyung terlalu menakutkan jika dipagi hari, aku tidak berani membangunkannya. Aku yakin kaupun begitu, hyung."

"Well, kau benar. Yoongi hyung benar-benar menakutkan jika menyangkut waktu tidurnya."

Dengan itu, mereka melanjutkan maraton mereka menuju taman yang ada tidak jauh didepan sana sambil terus bercengkrama. Namun saat beberapa langkah lagi sampai ditaman, Taehyung menghentikan langkahnya secara tiba-tiba dengan mata yang tidak berkedip.

"Hyung, ada apa? kenapa berhenti? sebentar lagi kita sampai."

Tidak ada jawaban. Taehyung masih memusatkan pandangannya kedepan dengan wajah yang perlahan-lahan mulai memerah, dan itu cukup membuat Youngjae panik. Belum sempat Youngjae melontarkan pertanyaannya, sebuah suara mengunterupsi dari arah depan.

"We met again, what a coincidence."

Seorang laki-laki bertubuh atletis berjalan menghampiri mereka, atau lebih tepatnya menghampiri Taehyung dengan senyum terpatri diwajahnya.

"Y-yeah, we live next to each other, remember?"

Berkata dengan terbata, Taehyung mengalihkan pandangannya berusaha mengindari tatapan dari pria dihadapannya. Sedangkan Youngjae sendiri hanya mengernyit heran melihat interaksi yang terjadi dihadapannya. well, dia mengenali pria itu tentu saja. Dia Jungkook, teman sekelasnya yang juga tetangganya. Tapi bagaimana dia bisa kenal dengan kakaknya.

"Oh, dan kau, Im youngjae, benar? Kau kenal dia?"

Jungkook mengalihkan pandangannya pada Youngjae dan serta merta menunjuk Taehyung dengan dagunya.

"Ya, dia kakakku."

"A siblings? I've never expect that."

"Kami memang tidak mi–"

"Hei, bodoh, aku mencarimu diseluruh pelosok taman setelah berhasil membelikanmu minuman sialan ini dan kau malah asik mengobrol disini. Kau memang keparat sialan, Jungkook."

Seorang pria jangkung datang dan langsung memukul kepala Jungkook dengan botol minuman yang dia bawa. Sementara Jungkook sendiri hanya tertawa kecil sambil menerima minuman yang diberikan Yugyeom dan menggumamkan kata seperti thanks, man.

"Jadi, ada apa? Tunggu, kau Im Youngjae, kan? Murid pindahan itu?"

Memusatkan pandangannya pada Youngjae, pria jangkung itu cukup membuatnya menunduk malu karena tidak biasa dengan keberadaannya. Youngjae menganggukkan kepalanya membenarkan yang mau tidak mau, itu membuat Yugyeom menggigit pipi bagian dalamnya merasa gemas dengan pria pendek dihadapannya.

"Berhenti menatapinya, Yugyeom. Aku tahu apa yang ada dikepalamu, percayalah. Tapi apapun itu, kau membuatnya takut. You are indeed a monster with just your height."

Jungkook menyeringai menang melihat saudara kembarnya yang seperti ingin memakan makhluk malang dihadapannya. Dalam hati dia merasa kasihan pada Youngjae yang harus berhadapan dengan raksasa seperti Yugyeom. Mengesampingkan hal itu, Jungkook mengalihkan perhatiannya pada pria yang lebih kecil darinya yang masih saja membuang pandangan seakan sedang menghindarinya. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan untuk sepersekian lamanya dan hal itu cukup membuat telinga Taehyung memerah menahan malu.

"Kau masih berhutang padaku, remember? Luka akibat kejadian beberapa hari lalu masih berdenyut sakit, kau tahu."

Taehyung beralih menatap Jungkook dengan mata yang membulat lucu membuat Jungkook mau tidak mau memasang senyum kecil diwajahnya.

"Maafkan aku. T-tapi aku sudah bilang jika aku tidak sengaja."

"Akhirnya kau menatapku dengan benar."

Mendengarnya, Taehyung kembali mengalihkan pandangannya kearah lain. Kemanapun asal bukan pria dihadapannya. Satu hal yang dia tahu, bahwa Jungkook itu berbahaya. Benar-benar berbahaya.

"Kalau begitu sekarang kau ikut aku."

Pria dengan tubuh atletis itu mengambil sebelah tangan kurus Taehyung bermaksud untuk membawanya pergi. Melupakan fakta bahwa saudara kembarnya dan murid pindahan itu masih menatap mereka berdua dengan tatapan masing-masing.

"Ap– Kau mau membawaku kemana?"

"Berolahraga, tentu saja. Untuk apa aku keluar dipagi hari hanya untuk berjalan kesana-sini tanpa alasan yang jelas. Ayo, kau bisa membayar sedikit hutangmu dengan menemaniku berolahraga, kau tahu."

"Aku tidak bisa, Youngjae–"

"Ah, untuk hal itu, saudara kembarku ini yang akan mengurusnya. Dia memang brengsek tapi dia anak yang baik, percaya padaku. Come on, the sun is getting high.

Taehyung hampir saja mengeluarkan protesannya sebelum Jungkook menariknya dengan cekatan untuk berlari menjauhi Yugyeom dan Youngjae yang masih melongo menatap mereka berdua dan Yugyeom lah yang pertama sadar dari lamunannya.

"So, guess we had no choice, right? Lets go."

Yugyeom berjalan mendahului Youngjae menuju taman yang kemudian perlahan namun pasti diikuti oleh pria berkulit putih itu dibelakangnya. Diam-diam kembali memuji betapa menggemaskan makhluk yang ada dibelakangnya itu.

.

.

.

"Jungkook, tunggu sebentar. Kau berlari terlalu cepat."

Taehyung menumpukan kedua telapak tangannya diatas lutut sambil berusaha mengais udara setelah berlari dengan jarak yang cukup jauh. Sebenarnya dia akan baik-baik saja jika mereka hanya berlari kecil seperti dirinya dan Youngjae tadi. Tapi langkah Jungkook sama sekali tidak bisa dibilang kecil. Belum lagi dengan kecepatan yang menurutnya agak terlalu cepat itu. Sebenarnya Jungkook ingin mengajaknya jogging atau sprinting, sih?

Merasa pria dibelakangnya tidak lagi mengikutinya, Jungkook berhenti berlari dan memutar tubuhnya memperhatikan Taehyung yang masih berusaha mengatur nafasnya.

"Hey, itu belum seberapa, kau tahu?"

Taehyung melemparkan tatapan tajam secara tidak sadar pada Jungkook dan memutuskan untuk mendudukkan dirinya ditrotoar jalanan kompleks itu. Persetan dengan hutang, dia lelah sekali sekarang. Dia mengalihkan pandangannya pada Jungkook yang masih berdiri tegap didepan sana sebelum akhirnya berbalik pergi entah kemana. Masa bodo, Taehyung tidak mau peduli.

"Memang seharusnya aku tinggal dirumah dan tidur seharian saja hari ini. Bisa-bisa besok tubuhku jadi sakit semua."

"Aku tidak melakukan apapun padamu, tubuhmu akan baik-baik saja besok."

Pemuda kurus itu refleks mengalihkan pandangannya kesamping dimana dia mendapati Jungkook dengan dua botol air mineral ditangannya.

"Minum ini."

Taehyung menerima botol yang diulurkan oleh Jungkook dan secara tidak sadar merengek saat dia tidak mendapatkan air dingin yang menyegarkan.

"Air dingin tidak baik jika kau minum setelah berolahraga. Minumlah."

Yang mau tidak mau membuat Taehyung meminumnya. Dirinya sedikit terkesiap saat Jungkook menempatkan diri tepat disamping kirinya dan secara acuh meminum air mineral miliknya sendiri.

"Uh, terimakasih, I guess."

"Kau harus rutin berolahraga, Taehyung. Aku yakin pola hidupmu sangat jelek selama ini."

Taehyung menatap Jungkook dengan mata yang membulat menggemaskan seakan menjawab bahwa hal itu benar adanya.

"Jadi memang benar. Kau memang parah sekali Taehyung. Mulai sekarang, kau harus berolahraga pagi denganku disetiap hari minggu. Jangan khawatir, aku akan menjemputmu."

"What– tidak, terimakasih. Aku tahu maksudmu baik, tapi aku tidak ingin mengganggu waktu olahragamu."

"Kau tahu Taehyung–"

Pria yang lebih besar bangun dari posisi duduknya dan menepuk kain dibagian bokongnya untuk menyingkirkan debu yang menempel.

"Aku tidak menerima penolakan, dan aku sangat, sangat serius dengan ucapanku. Jadi, ingat itu baik-baik. Now, get up and lets running again."

Pria kurus itu melongo memperhatikan Jungkook yang sudah berlari terlebih dahulu dihadapannya. Oh, dia tahu hari minggunya tidak akan sama lagi mulai sekarang. Dia benar-benar merutukki adiknya yang telah berhasil menyeretnya keluar dan membuatnya bertemu dengan takdir buruknya itu. Atau mungkin baik? Entahlah, tidak ada yang tahu mengenai hal itu.

.

.

.

.

.

to be continue..