.
.
.
.
.
.
.
Suasana ditaman pagi itu terlihat tenang meskipun cukup banyak orang yang juga berolahraga disana. Tampak disalah satu kursi panjang yang terdapat ditaman tersebut, seorang pemuda berkulit putih menyeka keringatnya yang terus menetes setelah melakukan jogging bersama pria tinggi yang nyatanya adalah teman sekelasnya juga tetangga barunya. Lantas, mengapa dia sendirian disana? Jawabannya adalah karena pria Kim itu sedang membeli air mineral untuk mereka berdua. Sebenarnya Yugyeom tidak perlu melakukan itu, dia jadi merasa tidak enak setelah beberapa hari lalu dia dan Jungkook juga membantunya dari siswa-siswa yang hendak membullynya.
"Maaf jika lama, vending machinenya sedikit jauh dari sini."
"Ah, thats okay. Terimakasih, Yugyeom."
Pria tinggi itu menganggukkan kepalanya sambil kemudian mendudukkan dirinya tepat disebelah Youngjae yang mau tidak mau membuat pemuda manis itu sedikit gugup. Tidak, dia bukannya takut pada Yugyeom. Dia tahu bahwa Yugyeom bukanlah tipikal orang yang akan membullynya. Tapi dia hanya tidak terbiasa untuk terlalu dekat dengan orang yang baru saja dikenalnya. Seakan belum cukup, pemuda Kim itu semakin membuat Youngjae merasa gugup kala dia yang tidak pernah melepaskan pandangannya dari pemuda manis yang sedang meneguk minumannya menahan gugup dengan keringat yang terus mengucur deras.
"Kau berkeringat banyak sekali. Gunakan ini, aku yakin bagian lengan jaketmu sudah basah oleh keringat. Aku belum memakainya, tenang saja."
Dia mengulurkan sebuah handuk kecil yang dia pegang sedari tadi. Hal itu terang membuat Youngjae gelagapan saat ingin menjawabnya.
"T-tidak usah, aku tidak apa-apa. Sudah cukup sering aku merepotkanmu."
"Kalau kau merasa seperti itu, maka terimalah ini. Lagipula kau benar-benar berkeringat, Youngjae. Ambilah."
Dengan ragu, Youngjae mengambil handuk yang sedari tadi disodorkan oleh Yugyeom dan menggumamkan kata seperti terimakasih, aku akan mengembalikannya setelah dicuci. Yang hanya dijawab oleh anggukkan oleh Yugyeom sebelum kemudian kembali pada aktifitasnya memperhatikan Youngjae secara terang-terangan. Yang mau tidak mau membuat pemuda manis itu merasa sangat risih karena terus diperhatikan.
"Uh, bisakah kau berhenti melihatku seperti itu, Yugyeom?"
"Tidak."
"T-tapi, kau membuatku merasa tidak nyaman."
Pemuda berkulit putih itu mencicit pelan sembari menundukkan kepalanya. Jangan lupakan kedua tangannya yang meremas handuk yang malang itu kuat-kuat karena menahan rasa gugupnya itu. Sementara Yugyeom seakan tidak merasa bersalah, tetap saja memfokuskan pandangannya pada Youngjae dengan kedua matanya yang tegas dan tajam. The Kim's brothers memang memiliki tatapan yang tajam dan menusuk yang membuat korbannya merasa terintimidasi berterimakasihlah pada sang ayah yang mewariskannya.
"Itu salahmu sendiri, Youngjae."
"Ap–"
"Aku akan berhenti menatapmu saat kau berhenti untuk mencuri perhatianku."
Pria bertubuh jangkung itu mengatakannya dengan sangat lugas sambil tetap menatap Youngjae yang kontan saja membuat pria manis itu memerah hingga telinga. Jangan lupakan degupan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia terdengar seperti wanita yang sedang tersipu sekarang.
Sedangkan Yugyeom hanya menampakkan seringaiannya melihat wajah memerah Youngjae yang sangat kontras dengan kulit pucatnya itu. Diam-diam menyimpan gambaran itu dalam ingatannya tentang betapa menggemaskannya seorang Im Youngjae.
Pria berkulit pucat itu berdehem berusaha menetralkan rasa gugupnya dan kembali menegakkan posisi duduknya setelah beberapa waktu lalu dia menunduk dalam menahan malu.
"Tapi aku tidak melakukan apapun."
"Ya, kau memang tidak melakukan apapun. Well, kau tidak perlu melakukan apapun untuk menarik perhatianku. Kau memang menarik."
Oh, terkutuklah Kim Yugyeom dan mulut menyebalkannya. Apa-apaan itu tadi, apa Yugyeom sedang berusaha merayunya sekarang? Tidak, apa yang kau pikirkan Youngjae. Yugyeom pasti hanya bercanda sekarang. Ya, dia hanya bercanda, pikirnya.
"H-hey, ini masih terlalu pagi untuk merayu, Yugyeom-ah. Kau pasti mengantuk."
"Merayu? Apa maksudmu? I mean it, every single words I said before. I did really mean it."
Mendengar itu, mau tidak mau membuat Youngjae kembali memerah meskipun dirinya benar-benar tidak menginginkannya. Lagipula kenapa dia bisa memerah seperti ini? Ini sangat tidak biasa. Oh, dia merasa sangat malu sekarang. Maka dari itu, dia cepat-cepat berdiri tegap tanpa menatap pada Yugyeom dan menggigit bibirnya kuat-kuat.
"A-aku baru ingat kalau aku harus menemani ibuku ke suatu tempat hari ini. Terimakasih sudah menemaniku berolahraga dan aku akan mengembalikan handukmu secepatnya. Sampai bertemu lagi."
Pria manis itu berlari cepat masih dengan wajahnya yang memerah padam meninggalkan Yugyeom yang terduduk melongo memperhatikan Youngjae yang seperti terburu-buru pergi. Yah, dia memang sengaja untuk buru-buru pergi sebenarnya. Namun tersenyum lebar setelah berhasil mencerna perkataan Youngjae barusan.
"Sampai bertemu lagi, ya. Well, kita memang akan bertemu lagi. Definitely."
"Berhenti tersenyum seperti orang bodoh, kau membuatku semakin malu untuk mengakui bahwa kau adalah saudara kembarku. Demi Tuhan, Yugyeom kau benar-benar jatuh cinta padanya."
Pemuda yang dipanggil Yugyeom itu mengalihkan pandangannya pada saudara kembarnya yang berdiri tegap dihadapannya sembari berkacak pinggang. Melihat itu, dia hanya menyengir lebar tanpa berniat untuk membalas apapun perkataan Jungkook yang mana hal itu benar-benar tidak biasa dan diluar dugaan. Dirinya kemudian bangkit dan merangkul Jungkook untuk berjalan pulang menuju rumah mereka dengan Jungkook yang masih melemparkan tatapan jijik sekaligus horror pada Yugyeom.
"Kau sudah selesai? Ayo kita pulang. Aku merasa sangat, sangat lapar sekarang. Dan kau beruntung karena aku akan berbuat baik hari ini."
"Holy–crap, kau menjijikkan Yugyeom. Menjauh dariku, kau bukan saudaraku lagi."
"Jangan seperti itu, Jungkook. Aku tahu kau sangat mencintai saudara kembarmu yang tampan ini, bukan."
"Fuck, you're disgusting. I'm going to hit your fuckin' head with a golf stick once we got home. Seriously."
to be continue..
