MinYoon : Beginning

.

.

.

.

.

.

"Im Taehyung, berhenti mengunyah sarapanmu dan cepat pakai sepatumu. Astaga, aku benar-benar akan terlambat hari ini."

"Tapi hyung, jadwal kuliahku masih tiga jam lagi. Kenapa kau tidak pergi sendiri dan malah menyeretku untuk ikut bersamamu? Lagipula aku tidak suka menunggu sendirian disana."

Pemuda kurus yang masih duduk diruang makan sambil mengunyah sarapannya itu merengek sebal kala kakaknya terus saja memaksanya untuk pergi kekampus bersama. Seharusnya dia masih punya sedikit waktu untuk tidur tapi dia tidak bisa menolak perintah kakaknya yang manis itu. Bisa habis dia jika menolak.

"Berhenti merengek, Tae. Aku hanya tidak suka berangkat sendirian. Cepatlah aku akan menunggumu dilu–"

Tepat saat Yoongi membuka pintu utama kediaman mereka, nampaklah sosok pria dengan paras tampan dengan tangan yang tergantung, seperti hendak mengetuk pintu. Saat sadar dari keterkejutannya, pria itu berdehem pelan sebelum beralih menatap Yoongi yang mengerutkan keningnya heran melihat keberadaannya.

"Oh, selamat pagi, Yoongi hyung. Hendak berangkat kekampus?"

"Ya, hanya tinggal menunggu adikku saja yang masih terus merengek diruang makan."

Yoongi menunduk untuk membenahi tali sepatunya yang tidak terikat benar, tidak tertarik dengan Jimin yang masih memperhatikannya dengan seksama.

"Adikmu? Apa Taehyung?"

"Ya, kau kenal dengannya?"

Jimin menganggukkan kepalanya membenarkan dan mengatakan bahwa dia dan Taehyung sempat berteman dekat dulu yang dijawab dengan anggukkan Yoongi tanda dia mengerti. Pemuda berparas manis itu melirik pada jam tangan ditangannya dan sedikit panik melihat dirinya yang sudah terlambat sekarang. Berteriak pada Taehyung untuk bergerak lebih cepat namun tidak mendapatkan respon apapun.

"Uh, kita bisa berangkat bersama jika kau mau. Akan lebih cepat jika menggunakan motor, lagipula sepertinya kau sudah terlambat."

Tawaran Jimin yang membuat Yoongi tanpa sadar menatap penuh harap pada pria tampan itu, membuat sang empunya mati-matian untuk tidak menarik Yoongi kedalam pelukannya dan meremasnya karena gemas. Kembali berdehem untuk membersihkan tenggorokkannya untuk menetralkan degupan jantungnya dan memasang senyum terbaiknya.

"Jadi, kau mau?"

"Tentu sa– maksudku, dengan senang hati jika itu tidak merepotkanmu karena adikku benar-benar tidak bisa diandalkan. Dimana motormu? Aku benar-benar sudah terlambat."

Pria yang lebih kecil itu berjinjit untuk melihat dibalik tubuh Jimin dan berbinar penuh rasa syukur kala matanya menemukan motor besar milik pemuda Kim itu. Terkekeh pelan sebelum berbalik dan berjalan menuju motornya dengan Yoongi yang mengekor dibelakang.

"Pakai helm mu dan naiklah. Aku akan berusaha untuk membuatmu tidak terlalu terlambat."

Yoongi mendengus kala mendengarnya namun tetap mengambil helm yang Jimin sodorkan dan memakainya. Segera menaiki motor Jimin sesaat setelah dia selesai memasangnya.

"Aku sudah terlambat, tapi setidaknya dengan naik motor akan memperingan keadaan dibanding harus berlari ke halte."

Jimin hanya tertawa kecil sebelum menjalankan motornya menuju kampus mereka yang memang sama.

.

.

Yoongi bergegas turun dari motor milik tetangganya sesaat mereka sampai dikampus. Melepaskan helmnya dengan begitu terburu meskipun dirinya merasa sedikit lemas setelah dibawa mengebut oleh Jimin selama perjalanan tadi dan menyerahkan pada sang empunya.

"Terimakasih atas tumpangannya, Jimin. Aku pergi duluan."

"Hyung, tunggu!"

"Astaga, apalagi? Aku benar-benar harus pergi secepatnya, Jimin."

Terkekeh pelan yang justru membuat Yoongi menjadi kesal. Bisa saja dia memukul pria dihadapannya karena sudah dengan seenaknya menahan Yoongi yang sudah terlambat. Tapi mengingat Jimin telah membantunya, dia mengurungkan hal itu.

"Kau mau pulang bersamaku nanti?"

"Tidak tahu, mungkin aku akan pulang bersama Taehyung nanti. Sudah kujawab jadi aku pergi dulu. Terimakasih, Jim."

Belum sempat Jimin menanggapinya, Yoongi sudah berbalik dan berlari menuju kelasnya. Meninggalkan Jimin yang menghela nafasnya berat merasa sedikit kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Namun kembali tersenyum lebar kala mengingat bahwa dirinya bisa meminta bantuan Taehyung untuk hal yang satu ini. Memarkirkan motornya dengan benar, sebelum berjalan menuju kafetaria karena kebetulan kelasnya diundur hari ini sekalian membuat rencana supaya dirinya bisa pulang bersama Yoongi hari ini.

.

.

.

.

"Yo, Jim! Ada apa memanggilku kemari?"

Pemuda yang dipanggil Jim barusan menolehkan kepalanya untuk menemukan sahabat lamanya yang sudah menempatkan diri tepat disebelahnya. Jadwal kuliahnya baru saja selesai dan dia memutuskan untuk menghubungi Taehyung dan menyuruhnya datang menemuinya dihalaman kampus.

"Oh, hey, buddy. Kau bolos pelajaran hanya untuk menemuiku?"

"Hey, aku tidak bolos, bodoh. Kelasku baru saja berakhir. Mana mungkin aku membolos hanya untuk makhluk sepertimu."

"Come on, mate, jangan seperti itu. Kau menyakiti hatiku, kau tahu."

"Persetan, Jimin. Jadi, ada apa kau memanggilku?"

Taehyung menoleh pada sahabatnya dengan wajah penasarannya karena tidak biasanya pemuda itu menelponnya hanya untuk bertemu. Ayolah, mereka bertetangga.

"Im Yoongi, kakakmu. Sepertinya aku tertarik padanya."

Jawaban yang straight to the point itu berhasil membuat Taehyung menatap Jimin dengan pandangan blank nya. Apa katanya barusan? Tertarik dengan kakaknya?

"Kau? Tertarik dengan Im Yoongi?! Kakakku yang sadis itu??! Hey, kau baik-baik saja, kawan?"

Jimin hanya memutar bola matanya dengan malas melihat reaksi Taehyung yang dinilainya berlebihan dan menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"I'm fine, butthead. Dan aku serius benar-benar tertarik dengannya."

"No, Jim. You dont. Trust me. Yoongi hyung itu galak dan menyeramkan. Jika boleh aku sarankan, mundurlah sekarang juga sebelum kau menyesal."

Pemuda kurus itu menepuk pundak Jimin beberapa kali merasa simpati pada sahabat lamanya itu. Dia tahu kakaknya memang manis dan menggemaskan, tapi kepribadiannya berbanding terbalik dengan penampilannya. Pepatah mengenai dont judge the book by its cover memang benar adanya.

"Aku tahu itu, Taehyung. Itulah yang membuatnya begitu menarik bagiku. Aku tidak akan mundur sebelum mendapatkannya, jadi kau harus membantuku."

"Dan membuatku jadi target amukannya? Tidak, terimakasih, kawan."

"Ayolah, Tae. Apa salahnya membantu temanmu?"

Melihat raut serius diwajah Jimin, dia akhirnya membuang nafasnya berat. Well, sebenarnya dia hanya sedikit melebih-lebihkan saja. Tapi tentang Yoongi yang galak itu memang benar adanya. Bahkan adik-adiknya yang lain tidak berani membantahnya.

"Baiklah, aku akan membantumu sebisaku. Jadi apa yang akan kau lakukan?"

"Mengajaknya pulang bersamaku."

"Tapi aku sudah berjanji untuk pulang bersama dengannya hari ini."

"Buatlah alasan, Taehyung. Aku tahu kau sangat lihat membuat alasan."

Menatap penuh harap pada sahabatnya, membuat Taehyung mau tidak mau mengiyakan permintaan sahabatnya itu.

"Baiklah, baiklah. Yoongi hyung mungkin akan membunuhku saat sampai dirumah nanti tapi akan aku lakukan apapun untuk membantu sahabatku ini."

Jimin menunjukkan cengiran lebarnya sebelum merangkul sahabatnya dengan erat merasa begitu puas dengan jawaban pemuda kurus itu.

"Kau memang yang terbaik, taetae."

"Berhenti memanggilku taetae, atau aku akan berubah pikiran."

"Nah, you wont."

Taehyung hanya mencibir sebal karena perkataan Jimin benar adanya. Dia sudah berjanji untuk membantunya untuk mendekati sang kakak dan dia tidak akan mengingkarinya.

Setelahnya, Taehyung berjalan pergi meninggalkan Jimin karena masih memiliki beberapa keperluan lain yang harus dia lakukan. Mengatakan bahwa dia akan mengabari Jimin saat kakaknya telah selesai dan saat itulah Jimin akan bertindak.

.

.

.

"Hai, hyung. Menunggu Taehyung?"

"Ya, tadinya. Tapi bocah itu mengatakan bahwa dia sudah pulang duluan sejak tadi karena terlalu lama menungguku. Astaga, kenapa anak itu begitu menyebalkan hari ini?"

Jimin mengulas senyum lebar diwajahnya, sahabatnya yang satu itu memang tidak pernah mengecewakan. Melirik pada Yoongi yang masih menggerutu akan kelakuan adiknya sebelum memasang ekspresi setenang mungkin.

"Kalau begitu lebih baik kita pulang bersama, hyung. Rumah kita bersebelahan dan sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Memangnya kau membawa payung?"

Pria manis itu refleks mendongak hanya untuk menemukan awan gelap yang mulai menggumpal dan semakin berat. Kembali menggerutu kala dia ingat bahwa dia memang tidak membawa payung yang biasanya selalu ada ditasnya dan kebetulan dia mengganti tas hari ini. Oh, benar-benar hari baik untuk marah-marah.

"Kau benar, sepertinya itu pilihan terbaik."

Jimin tersenyum lebar mendengar jawaban itu dan segera menarik tangan Yoongi menuju parkiran dimana motornya berada. Sementara pemilik tangannya itu hanya menatap heran pada Jimin namun hanya membiarkannya saja. Dia sedang lelah setelah dikerjai dosen habis-habisan hari ini. Ingatkan dia untuk menghukum Taehyung karena terus mengulur waktu dipagi hari membuatnya terlambat.

"Pakailah hyung, kita harus bergegas sebelum hujan turun."

Pria bertubuh mungil itu menganggukkan kepalanya sebelum memakai helm yang diulurkan Jimin dan segera naik. Secara tidak sadar meremas jaket yang dipakai Jimin merasa sedikit trauma setelah dibawa mengebut pagi tadi membuat Jimin semakin melebarkan senyumnya.

"Berhati-hatilah, Jimin. Jangan terlalu cepat."

Yang hanya dijawab dengan anggukkan oleh Jimin dan mengendarai motornya menuju rumah mereka yang memang bersebelahan. Yah, bisa dibilang ini merupakan awal yang bagus untuk semakin dekat pada Yoongi. Dia pasti akan mendapatkan Yoongi. Pasti.

.

.

.

.

.

.

.

to be continue..