Family Gathering.

.

.

.

.

.

.

Suara pintu berderit terbuka yang berasal dari pintu utama kediaman keluarga Im itu cukup menarik perhatian pria dengan wajah tenang itu dari kegiatannya semula yang sedang menonton acara favoritnya. Sedikit tersenyum kala melihat pria yang berjalan masuk lebih dalam tepat kearah dirinya berada.

"Aku pulang, sayang. Bagaimana harimu, hm?"

Pria dengan wajah rupawan itu menunduk untuk memberi ciuman dikening istrinya selama beberapa saat sebelum beranjak duduk tepat disampingnya dan melonggarkan dasi yang seharian ini dipakainya.

"Baik. Youngjae dan Bambam berdebat seperti biasa. Bagaimana proyek dikantormu?"

"Yah, seperti yang kukatakan. Apabila berjalan lancar, maka proyek ini akan rampung dalam waktu kurang dari dua minggu. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa proyek kali ini benar-benar berjalan mulus. Kita sudah membuat kesepakatan kerjasama antar perusahaan dan aku tidak menyangka orang yang menjalin kerjasama denganku adalah tetanggaku sendiri."

Tampak senyum lebar menghiasi wajah tampan Jaebum meskipun terlihat gurat lelah disana. Memang dirinya merasa kurang istirahat selama beberapa hari terakhir karena harus terus lembur dikantor. Sementara Jinyoung hanya tersenyum lembut ikut senang karena suaminya yang ambisius itu sukses menjalankan proyek pentingnya kali ini.

"Kau sudah bekerja keras, tuan Im."

Jinyoung menepuk dada Jaebum beberapa kali merasa ikut bangga akan suaminya tersebut yang hanya dibalas dengan seringaian bangga dari sang empunya. Dia kemudian melihat sekeliling merasa suasana rumah jauh lebih sepi dari biasanya.

"Dimana anak-anak?"

"Yoongi dan Youngjae sedang berada dikamar, sepertinya sedang berusaha membuat beberapa lagu. Taehyung– entahlah, sepertinya sedang bermain game dengan Bambam. Mereka akan turun sebentar lagi. Seokjin masih harus mengerjakan sesuatu untuk skripsinya."

Jaebum menganggukkan kepalanya mengerti sebelum mengalihkan pandangannya keatas melihat Taehyung yang berjalan cepat menuju kelantai dasar. Dia tertawa kecil melihat kelakuan anaknya yang satu itu. Yah, Taehyung memang paling dekat dengannya sejak kecil dan sudah hampir seminggu mereka tidak benar-benar bertemu. Wajar saja anak itu merasa sedikit lebih bersemangat sekarang.

"Hey, careful, Taetae. You might fall."

"Dad, kau pulang lebih awal!"

Pemuda yang sudah berada ditahun keduanya didunia perkuliahan itu menubrukkan tubuh kurusnya ke tubuh sang ayah, membuat Jaebum mau tidak mau tertawa karenanya. Sedangkan Jinyoung hanya terkekeh geli melihat kelakuan anaknya yang begitu manja pada suaminya.

"Well, we got the jobs done sooner than we expected. Bagaimana kuliahmu?"

"Melelahkan seperti biasa tapi kupikir baik-baik saja sejauh ini. Teman lamaku juga berada dikampus yang sama denganku."

"Thats great, Tae. Lakukanlah yang terbaik."

Menganggukkan kepalanya sebagai jawaban membuatnya mendapat usakkan sayang dari sang ayah dirambutnya.

"Hyung, kau terlihat seperti balita, kau tahu?"

Bambam berjalan menuruni tangga dengan raut wajah mengejek seperti biasa kala kakaknya sedang bersama ayahnya. Tapi serius, Taehyung benar-benar terlihat seperti anak kecil jika seperti itu. Dia memposisikan dirinya diatas karpet lembut yang berada dilantai sebelum melanjutkan permainannya yang sempat tertunda tadi.

"Tidak ada yang salah dengan itu, Bam. Berhentilah mencoba bertingkah dewasa."

"Aku memang sudah dewasa, hyung."

"Kau bahkan tidak berani tidur sendiri setelah menonton film horror. Aku tidak bodoh dengan tidak menyadari kau yang pindah kekamar Youngjae dimalam hari."

Bambam menatap tajam pada Taehyung yang sudah duduk tepat disamping Jaebum dengan kedua tangan terlipat didada serta senyum kemenangan menghiasi wajahnya. Menggerutu sebal kala dirinya tidak bisa membantah apapun.

"Hey, enough of arguing. Dimana kakak kalian? Daddy ingin memberitahu kalian sesuatu."

Raut wajah kedua anak itu berubah tegang kala sang ayah berbicara dengan nada serius. Oh, nada suara itu terdengar begitu mengerikan. Bahkan Taehyung sendiri sudah melesat duduk tepat disamping Bambam, menghindari ayahnya.

"Akan kupanggilkan."

Jinyoung beranjak dari sofa dan segera berjalan menuju studio mini pribadi milik Yoongi yang berada dilantai atas. Meninggalkan suami dan kedua anaknya yang masih berada dalam situsi tegang. Sebenarnya dia mau tertawa melihatnya karena dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Jaebum. Tapi sepertinya suaminya itu ingin bermain-main sedikit dengan mereka jadi dia hanya mengikuti alurnya saja.

Sementara Jaebum sendiri sedang mati-matian menaha tawanya melihat Bambam dan Taehyung yang sedang gugup dibawah sana. Oh, lihatlah bagaimana keduanya memainkan kain pakaian mereka masing-masing. Dia bisa menyerah kapan saja jika sudah seperti ini.

"Ada apa, dad?"

Jaebum mengalihkan pandangannya pada Yoongi yang sudah berada dihadapannya bersama Youngjae dibelakangnya. Sedangkan Jinyoung kembali duduk ditempat semulanya.

"Ah, Yoongi. Duduklah, Daddy ingin mengatakan sesuatu?"

Yang segera dilakukan oleh kedua anaknya dan duduk tenang diatas karpet lembut.

"Oh, what is this situation? Kau pulang lebih awal, dad?"

keenam pasang mata itu mengalihkan fokusnya pada pria tampan dengan tas yang masih disampirkan disalah satu bahunya.

"Seokjin, kebetulan sekali. Kemarilah."

Putra sulung dari keluarga Im itu berjalan mendekat pada keluarganya. Melihat sekeliling dan mendapati ketiga adik termudanya seperti sedang merasa gugup sedangkan Yoongi hanya duduk santai tanpa ekspresi apapun seperti biasa. Menaikkan alisnya kala dia seperti mengenal situasi seperti ini. Apa adiknya mendapat masalah disekolah? pikirnya.

Namun tidak lama kemudian terdengar suara tawa yang jelas berasal dari ayahnya yang dihadiahi tatapan bingung dan penuh tanya dari anak-anaknya. Terutama Yoongi yang melemparkan tatapan are-you-kidding-me miliknya.

"Hey, tidak perlu setegang itu. Kalian tidak akan aku marahi, tenang saja."

"You freaked us out, dad!"

Itu Taehyung yang berteriak histeris.

Sementara sisanya, hanya meleparkan tatapan blank nya masih belum menangkap situasi.

"Dad, what the hell–"

"Yoongi, language."

"Alright, sorry."

Yoongi langsung membungkam mulutnya tidak ingin, sangat tidak ingin membuat ayahnya marah. Yah, Yoongi memang memiliki lidah tajam seperti ibunya omong-omong. Seokjin yang pertama sadar akan situasi, segera menatap pada ayahnya.

"Jadi, ada apa, dad?"

"Ah, ya– Karena proyek diperusahaan daddy sudah rampung, maka dalam rangka menyambung hubungan antar rekan kerja dan tetangga, aku dan Namjoon memutuskan untuk pergi berlibur bersama membawa keluarga masing-masing. Bagaimana?"

Youngjae dan Bambam yang mendengar kata berlibur keluar dari bibir sang ayah, segera saja menampilkan wajah sumringahnya. Oh, mereka jelas ingin sekali liburan.

"Tidak buruk. Lagipula sudah lama sejak kita berlibur bersama dan akan lebih menyenangkan jika ada lebih banyak anggota didalamnya. Ini juga waktu yang tepat untuk lebih dekat dengan tetangga kita."

"Yah, aku setuju dengan Seokjin hyung."

Yoongi menganggukkan kepalanya setuju sambil menatap pada ayahnya sebelum beranjak untuk mengambil snack yang berada tidak jauh darinya. Sementara Taehyung hanya terdiam seperti tenggelam pada pemikirannya.

'Berlibur bersama keluarga paman Kim berarti berlibur bersama Jungkook. Oh, sepertinya ini akan buruk. Pikirnya.

Jaebum sendiri sudah mengulaskan senyum diwajahnya ikut membenarkan perkataan Seokjin. Ya, memang sudah lama sejak mereka benar-benar menikmati liburan bersama dan itu cukup membuatnya merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dikantor.

"Baiklah kalau kalian setuju. Taetae, kau keberatan?"

Seperti tersadar dari lamunannya, Taehyung lantas menatap kearah ayahnya dan memoleskan senyuman diwajah rupawannya sebelum menganggukkan kepalanya antusias. Berusaha menyembunyikan pemikirannya.

"Tentu saja aku tidak keberatan, dad. Sudah lama aku menginginkan liburan bersama seperti ini. Jadi, kemana kita akan pergi?"

"Aku dan Namjoon mempertimbangkan Hawaii sebagai destinasi liburan ini. Atau mungkin kalian punya usul lain."

Jaebum mengedarkan pandangannya pada keluarga berharganya meminta pendapat maupun persetujuan dari mereka semua.

"Theres nothing better than Hawaii, dad. Really. Aku benar-benar ingin kesana."

"Taehyung benar, Hawaii adalah pilihan terbaik."

Tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengerti kala mendengarnya dari Taehyung dan Yoongi. Dia menolehkan kepalanya pada sang istri yang sedari tadi hanya mendengarkan, meminta persetujuan dari sang empunya. Seperti mengerti maksud Jaebum, Jinyoung menganggukkan kepalanya menyetujui. Dan Jaebum merasa tidak tahan untuk tidak mengecup bibir cherry milik istrinya yang tentu saja mendapatkan tatapan malas dari kelima pasang mata dihadapan mereka.

"Gosh." Itu Yoongi memutar bola matanya malas.

"Oh, please get a room, mom, dad." Itu Bambam menghela nafas jengah.

"Really, dad." Itu seokjin memijit keningnya dramatis.

"Youngjae, kau adik kecilku yang manis dan begitu polos. Aku tidak ingin kau melihatnya jadi aku akan menutup matamu." Itu Taehyung yang kini menutupi kedua mata Youngjae dengan telapak tangannya. Disisi lain, Youngjae hanya diam tidak melemparkan protes apapun.

Sementara Jaebum dan Jinyoung sendiri hanya tertawa melihat respon kelima anak mereka yang memang selalu seperti itu tiap kali dia dan istrinya melakukan hal cheesy dihadapan mereka. Biarlah, lagipula dia merindukan kehangatan keluarga kecilnya yang begitu berharga ini. Ya, rencananya bersama Namjoon untuk berlibur bersama memang bukan hal yang buruk.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

to be continue..